Karya Kristus Mengubah Kita Menjadi Manusia Baru

Gereja jangan dilihat hanya secara komunitas, sosial, dan ekonomi. Di dalam gereja banyak perhimpunan orang-orang yang beragam baik suku, bangsa, ideologi, politik, status dan pendidikan. Orang-orang di dalam gereja adalah orang yang harus kita hargai karena mereka adalah orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus.

Karya Kristus Mengubah Kita Menjadi Manusia Baru

Categories:

Gereja jangan dilihat hanya secara komunitas, sosial, dan ekonomi. Di dalam gereja banyak perhimpunan orang-orang yang beragam baik suku, bangsa, ideologi, politik, status dan pendidikan. Orang-orang di dalam gereja adalah orang yang harus kita hargai karena mereka adalah orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus. Artinya gereja tidak boleh diikat dengan kesukuan, status ekonomi, ideology tertentu (misalnya partai tertentu) dan lainnya. Secara spiritual atau teologis, gereja disebut dengan trinitian yaitu tiga esensi yang dimiliki gereja: 1. Umat Perjanjian Allah, 2. Tubuh Kristus, 3. Bait Roh Kudus. Jikalau gereja tidak memusatkan seluruh hidupnya ke arah Firman Tuhan yang membuat kita mengikat perjanjian Allah untuk hidup bagi Dia maka gereja itu bukan lagi disebut gereja yang sehat. Mengapakah gereja harus berpusat kepada Firman Tuhan? Karena Firmanlah yang mendorong, merubah, membentuk dan melengkapi kita sebagai laskar-laskar Tuhan di dunia ini dan sebagai alat kemuliaanNya. Gereja sebagai tubuh Kristus artinya adalah kita perwakilan daripada keluarga Allah menyatakan kasih, persaudaraan, kerukunan dan kesatuan di dalam ikatan tubuh Kristus. Dan gereja sebagai bait Roh Kudus artinya gereja akan mendorong setiap kita untuk hidup kudus dan lebih lagi mencintai Tuhan sehingga kita tidak boleh bermain-main dengan dosa. Sekitar 90% anak remaja pemuda zaman rata-rata sudah terkena pornografi dan tidak sedikit juga porno aksi. Zaman sekarang adalah Zaman yang begitu rusak. Kita sudah dibodohi dengan teknologi dan banyak anak-anak kita yang tidak kuat imannya akhirnya hancur. Di sinilah gereja harus menekankan satu nilai kesucian. Jikalau hidup tidak suci, maka kita akan dibuang oleh Tuhan. Jikalau Roh Kudus tidak menyertai kita, maka sengsaralah hidup kita dan kita tidak lagi dipakai untuk memancarkan cahaya Tuhan dalam seluruh kehidupan kita. Dalam surat kepada jemaat Efesus dijelasan bahwa gereja adalah organisme ilahi (the very expression of God and the firstfruit of His World). Artinya kita adalah ekpresi dari Tuhan dan buah dari nilai pekerjaan Tuhan. Jikalau kita disebut orang yang sudah diselamatkan tetapi kita tidak bisa mengekspresikan Tuhan di dalam seluruh tingkah laku kita maka kita bukan gereja dan bukan umat percaya. Jikalau kita tidak bisa mengekpresikan Tuhan di dalam nilai kesulitan yang kita hadapi untuk memuliakan Tuhan maka seluruh iman kita juga dipertanyakan. Setiap kita mau tidak mau harus punya satu tujuan untuk melayani karena setiap kita harus punya buah iman di dalam pelayanan. Itulah yang menunjukkan kita sebagai gereja dan umat percaya. Bagaimana kita tahu kalau kita disebut orang yang sudah percaya dan diselamatkan? Lihat dari buah iman. Maka buah iman menjadi satu dorongan untuk kita hidup bagi Tuhan. Artinya kita ada karena dicipta oleh Tuhan dalam kuasa dan kehendakNya (God-created and Indwell entity). Seluruhnya ini menunjukkan kepada kita bahwa kita ada karena anugerah Tuhan. Gambaran inilah menyatakan bahwa gereja adalah komunitas missionary ilahi yang diutus menjadi tanda kerajaan Allah. Kita semua adalah utusan Tuhan di dunia. Kita bukan hanya sekedar membawa nama baik keluarga sehingga kita terus bekerja keras untuk membanggakan orang tua. Itu baik. Tapi pada waktu kita belajar, bekerja dan membangun keluarga, ingatlah bahwa kita adalah utusan Tuhan. Artinya kita memiliki nilai tanggung jawab di hadapan Tuhan. Dan kita juga ditugaskan untuk menyaksikan kasih-Nya. Jadi hidup kita tidak terlepas untuk bersaksi bagi Tuhan. Selain itu, kita dipanggil untuk mempertemukan manusia berdosa dengan Dia di dalam dunia ini. Kita harus membawa orang-orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan. Gereja yang sehat tidak membiarkan dosa berkembang di gereja. Gambaran ini menyatakan bahwa kita harus menghidupi nilai hidup sebagai tanda Kerajaan Allah yaitu menyaksikan kasih-Nya dan mempertemukan kembali manusia berdosa kepada Tuhan. Di sini kita akan membahas tiga hal yaitu status kita dalam tubuh Kristus. Pertama, Kita adalah warga kerajaan sorga (ayat 19a) yang punya nilai kekudusan. Dikatakan dalam Efesus 2:19a, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus … .” Paulus menjelaskan kepada kita bahwa status kita dalam Kristus adalah warga kerajaan sorga dengan menggunakan istilah politeia. Artinya kewargaan yang dimateraikan oleh Roh Kudus. Dia yang memateraikan kita menjadi anak Allah. Tetapi Allah Roh Kudus ketika memateraikan kita tidak ada tandanya secara fisik tetapi ada tandanya secara Rohani yaitu kita mencintai kekudusan dan hidup dalam progressive sanctification (proses pengudusan) yang terus menerus mengarah kepada kekudusan stadar dari Tuhan. Kita akan semakin serupa dengan Kristus. Kita adalah umat perjanjian Tuhan yang harus memancarkan Allah dalam kehidupan kita. Artinya kita harus mempunyai nilai ketaatan dan keharmonisan dengan Tuhan dalam pikiran, nilai rasa dan keseluruhan diri kita. Karena di dalam kerajaan sorga tidak ada lagi kekacauan, iri dan dendam. Kita mengerti sekali bagaimana status kita dalam Kristus adalah sebagai warga kerajaan sorga. Lawan daripada kerajaan sorga yaitu kerajaan setan. Dia akan membodohi setiap anak-anak Tuhan yang tidak sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan. Kalau kita harmonis dengan Tuhan maka hubungan kita dengan orang lain akan harmonis. Tetapi jikalau kita tidak harmonis dengan Tuhan maka kita tidak mudah untuk menerima keberadaan orang lain yang berbeda dalam hidup kita bahkan kita mungkin tidak bisa menerima diri kita sendiri. Kalau kita menerima anugerah Tuhan dalam kasih-Nya kepada kita maka kita akan belajar mengasihi orang lain. Kalau kita menerima pengampunan dari Tuhan maka kita juga akan belajar mengampuni orang lain. Kalau kita menerima seluruh karya Tuhan dalam pertolongan maka kita akan mampu mengerti dalam kesabaran untuk menolong orang lain. Jadi kuncinya adalah kita harus menghidupi seluruh hidup kita dalam status kita sebagai warga kerajaan sorga. Jadi kerajaan sorga bukan berbicara struktur atau wilayah melainkan berbicara mengenai organisme umat percaya dimana Kristus sebagai raja yang berotoritas. Maka sebagai orang Kristen, kita tunjukkan hidup yang takut akan Tuhan sehingga pada waktu kita bekerja memiliki nilai kinerja yang tinggi untuk tanggung jawab kepada Tuhan. Ibadah secara nilai hidup adalah seluruh kehidupan kita yang memuliakan nama Tuhan. Hak kita sebagai warga surga mendapatkan penyertaan dan perlindungan dari Tuhan. Kewajiban kita adalah mentaati seluruh perintah Kristus. Tuntut kewajiban terlebih dahulu. Maka seluruh nilai kerja kita harus membuktikan bahwa kita adalah warga kerajaan sorga. Kedua, Kita sebagai keluarga Allah (19b). Dikatakan dalam Efesus 2:19b, “… dan anggota-anggota keluarga Allah.” Di dalam Kristus kita terhisap masuk menjadi keluarga Allah yang melampaui suku, bangsa, bahasa, ekonomi dan lainnya. Dan terkadang keluarga baru dalam Tuhan memiliki kasih yang melebihi saudara kandung karena kita bukan diikat secara fisik tetapi kita diikat secara rohani di dalam Kristus. Keluarga Allah harus memiliki satu nilai karakteristik yaitu persaudaraan rohani yang kuat. Ada empat hal yang perlu ditekankan sebagai pendukung dari persaudaraan itu: (a) Kasih. Jikalau kita punya kasih maka kita punya aspek pengampunan kepada orang lain. Kita akan selalu punya pengertian kepada orang lain dan belajar sabar terhadap yang lain. Maka kasih bisa menutupi banyak dosa. Kasih juga bisa memperbaiki atau mengubah seseorang menjadi lebih baik. Jikalau persaudaraan tidak diikat dengan kasih maka semuanya tidak memiliki kekuatan yang utuh. (b) Perhatian. Dalam 1 Korintus 12:12-31 diingatkan bahwa kita adalah satu tubuh di dalam Kristus. Dan semua bagiannya saling berguna dalam Kerajaan Allah. Artinya di dalam tubuh tidak ada yang boleh dihina. Semuanya harus mendapatkan tempat yang baik dan diperhatikan tanpa terkecuali. (c) Kerukunan. Pada waktu bertemu dengan siapapun juga kita harus menjalin kerukunan karena kita adalah keluarga Allah. kerukunan itu bukan karena situasi atau kondisi tertentu tapi kerukunan ini diikat dengan nilai keluarga Allah. Orang yang tidak bisa rukun biasanya disebabkan karena egois. (d) Kesatuan. Di dalam nilai persaudaraan yang penting adalah unity in Christ karena kita keluarga Allah. Kita sudah bersatu dengan Kristus (union with Chirst). Maka kesatuan itu bukan karena punya keuntungan tetapi karena kita menjaga integritas sebagai keluarga kerajaan Allah. Ketiga, Kita adalah Bait Allah (ayat 20-22). Bagian terakhir Paulus katakan: “Yang dibangung di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Efesus 2:20-22). Banyak orang mengerti bagian ini tetapi mengertikah latar belakang mengapa kita disebut bait Allah? Waktu Kristus akhirnya menyatakan Dia mati dan menang atas kematian maka bait Allah tidak ada lagi pemisah antara ruang suci dan ruang maha suci. Bait Allah dibangun beberapa kali oleh Salomo, Zerobabel dan Herodes. Herodes membangun bait Allah dengan tujuan untuk mengambil hati bangsa Yahudi. Dia membangun bait Allah lebih luas dan lebih indah dari sebelumnya tetapi hidupnya tidak pernah memuliakan Tuhan. Puncak kehancuran Bait Allah adalah pada tahun 70 SM oleh Jenderal Titus. Kurang lebih selama 3 tahun Bait Allah dihancurkan dan dirampok. Kalau kita pergi ke Yerusalem, maka puing-puing Bait Allah tersebut berada di bawah tanah. Yang di atasnya dibangun perumahan umat muslim. Menurut penelitian arkeologi ada penemuan tiang-tiang Bait Allah yang tingginya kurang lebih 15 – 20 meter dengan berat 3 – 3.5 ton. Murni terbuat dari bahan marmer yang begitu indah dan kuat. Ketika digali ditemukan juga tempat-tempat penyucian untuk imam-imam tetapi sayang semuanya sudah dalam keadaan rusak dan hancur. Mengapa bait Allah secara fisik dihancurkan oleh Tuhan? karena Tuhan melihat bait Allah tidak lagi mewakili kekudusan, kehadiran dan kebenaran Tuhan. Imam-imam dan ahli-ahli taurat tidak lagi mengarah untuk kemuliaan Tuhan. Maka akhirnya dihancurkan. Maka sekarang bait Allah adalah diri kita. Kita harus mewakili Tuhan membawa kekudusan dan kebenaranNya. Ada tiga karakteristik kita yang disebut sebagai bait Allah: (1) Iman kita dibangun atas dasar oleh rasul-rasul Allah, nabi-nabiNya dan oleh Kristus sendiri. Oleh karena para rasul dan nabi mengenal siapa kristus. Dan Kristus adalah Mesias yang sejati yang membangun dasar iman kita. (2) Kita semua akan bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus. (3) Kita menjadi tempat kediaman Allah. Artinya kita bisa menjadi wakil Tuhan untuk memancarkan kemuliaanNya. Kalau kita sungguh-sungguh maka Tuhan akan menjaga dan memelihara kita. Biarlah kita terus menyadari bahwa kita, umat percaya, adalah warga kerajaan sorga, keluarga Allah dan bait Allah.

Soli Deo Gloria.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Leave a Reply

Bitnami