Karya Kristus atas Hidup Kita

Efesus 2:13-22
Mengapa ada orang Kristen hidupnya tidak bermakna? Mengapa ada orang Kristen hidupnya tidak berfaedah dan tidak berkuasa? Contohnya mengapakah Nias ditinggalkan Tuhan? Saya sangat mengerti sekarang kenapa pada tahun 2005 Nias terkena tsunami dan dihancurkan dengan gempa tahun 2006.

Karya Kristus atas Hidup Kita

Categories:

Mengapa ada orang Kristen hidupnya tidak bermakna? Mengapa ada orang Kristen hidupnya tidak berfaedah dan tidak berkuasa? Contohnya mengapakah Nias ditinggalkan Tuhan? Saya sangat mengerti sekarang kenapa pada tahun 2005 Nias terkena tsunami dan dihancurkan dengan gempa tahun 2006. Hal ini karena dosa mereka sendiri. Beberapa kota di Nias bahkan dosanya melebihi Sodom dan Gomora. Hamba-hamba Tuhan tidak lagi menjadi contoh dalam kesucian. Dan banyak hamba Tuhan yang ikut partai politik haus kekuasaan dan uang. Di sana, para hamba Tuhan tidak lagi dihormati karena mereka hidup tidak berpusat kepada Kristus dan tidak meneladani Kristus. Mengapa hidup kita begitu jauh daripada Tuhan? 1. Karena kita tidak mendapat bagian dalam berkat penyertaan Tuhan yang diberikan pada umat pilihanNya (ayat 11). 2. Karena hidup tanpa Kristus (12). Kita hidup masih dalam manusia lama (1-3). 3. Karena hidup tanpa pengharapan sejati di dalam Tuhan. Jikalau hidup kita dekat dengan Tuhan maka hidup kita ada dalam penyertaan Tuhan. Jikalau hidup kita jauh daripada Tuhan maka kita akan hidup dibuang oleh Tuhan. Kita bukan hanya datang kepada Tuhan saat kita menghadapi suatu masalah. Artinya datang untuk memanfaatkan Tuhan. Ini adalah seperti pertobatan pura-pura. Demikian yang digambarkan mengenai bangsa Israel dalam Kitab Hosea. Yesaya 59:1-3 mengatakan Seungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu sehingga Ia tidak mendengar ialah segala dosamu. Sebaba tangnmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan.  Kita ada pergumulan dan kita meminta supaya Tuhan mencabut pergumulan kita tetapi kita tidak sadar akan keberdosaan kita. Jadi terkadang kita peka dengan yang di luar dan kita tidak peka dengan yang di dalam diri kita. Yang menjadi masalah adalah dosa kita di hadapan Tuhan. Tetapi melalui pengorbanan Kristus, kita yang jauh sekarang menjadi dekat dengan Allah. Bagaimana darah Kristus yang 2400 tahun lalu sudah dinubuatkan dan 2100 lalu digenapi bisa punya satu faidah sampai hari ini? Dalam bahasa grammar Yunani, kata penebusan menggunakan suatu grammar yang bermakna sekali untuk selamanya. Kata ini menunjukkan kekekalan dan kesempurnaan atas karya penebusan Tuhan Yesus Kristus. Di sini kita melihat ternyata kita menjadi dekat oleh karena darah Kristus. Ada penafsir yang menyatakan bahwa darah Kristus itu seperti lem abadi. Adakah lem abadi? Saya lebih memilih untuk mengatakan bahwa darah Kristus adalah darah yang berkuasa menyucikan dan merubah kita menjadi anak-anakNya. Maka saya lebih menekankan esensi darah Kristus dalam nilai fungsinya. saya tidak menekankan esensi darah Kristus dalam nilai simbol saja. Jikalau kita memperhatikan Efesus 2:4, ada kata penghubung tetapi yang digunakan. Artinya setelah kita dalam Kristus maka kita menjadi orang mengalami perubahan status. Kita akan konsentrasi ayat 13 & 18 dimana kita akan melihat karya Kristus atas hidup kita dan status kita yang baru (ayat 19-22). Pertama, Karya Kristus atas hidup kita. Hal ini dijelaskan dalam ayat 14, Tuhan Yesus sendiri aktif memberikan tubuh-Nya di kayu salib bagi kita. Maka biarlah kita mulai sadar bahwa keselamatan kita adalah anugerah bukan kemauan dan usaha kita (Efesus 2:8 & 10). Kristuslah yang bernisiatif mendamaikan kita dengan Tuhan Allah. Kita percaya bahwa kita di dalam Kristus telah menjadi satu karena kita mengalami union with Christ. Maka tidak ada lagi perbedaan secara sukam, ras dan lain-lain. Apa sebetulnya inti dari teologia salib? John Stott mengatakan bahwa intinya yaitu titik tengah dari salib itu. Titik tengah itu adalah titik pertemuan sebagai lambing pendamaian (propitiation). Allah melalui kematian Kristus meredam seluruh murkaNya atas manusia berdosa. Di sinilah pertemuan keadilan dan kasih sejati. Inti teologia salib adalah kasih dalam pengorbanan. Leon Morris lebih melihat suatu pertemuan keadilan dan kasih yang di dalamnya Tuhan mendemonstrasikan seluruh pengorbanNya berkaitan dengan perubahan dalam nilai kekal kita. Dalam teologia salib ada keadilan dan kasih yang bertemu. Maka pertemuan itulah yang merubah status kita. Di sinilah kita belajar bagaimana kita yang disebut seteru Tuhan setelah dalam Kristus semuanya sudah diperdamaikan dengan Tuhan Allah. Apa yang Tuhan Yesus kerjakan atas hidup kita? a. Membatalkan hukum taurat dan segala perintah-Nya (15a). Apa maksudnya? Bukankah dalam Matius 5:18-19 Yesus berkata: Sesungguhnya sebelum lenyap langit dan bumi ini satu titikpun tidak akan ditiadakan hukum taurat sebelum semuanya terjadi karena itu siapa yang meniadakan salah satu hukum taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan sorga, tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum taurat dia akan menduduki tempat yang tinggi dalam kerajaan surga? Artinya pada waktu Yesus berkata demikian yaitu jikalau kita tidak ajarkan maka kita akan menjadi orang yang direndahkan tetapi jikalau kita menaati taurat untuk menjalankannya maka kita akan mendapatkan tempat yang tertinggi. Dalam konteks Injil Matius, Tuhan Yesus berbicara tentang hukum moral yaitu hukum kebenaran sepuluh perintah Allah (Keluaran 20:1-17) yang perintah 1-4 mengenai hubungan secara vertikal dan perintah 5-10 secara horizontal. Berarti ini menunjukkan kepada kita jikalau kita sudah takut akan Tuhan (the fear of God) dan hidup kita suci di mata Tuhan maka pasti kita mencintai hidup yang bermoral tinggi. Maka wajarlah Matius 5:20 membandingkan: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Orang farisi berdoa puasa seminggu sekali, memberikan perpuluhan, dan beribadah 5x dalam satu hari jadi mereka adalah orang-orang yang begitu taat. Kehidupan secara lahiriah mereka begitu hebat namun ternyata mereka tidak menjalankan hukum kasih (Matius 22:37-40). Karena itulah Tuhan Yesus memberikan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:30-37). Untuk menyatakan bahwa orang-orang yang secara lahiriah kelihatan hebat belum tentu memiliki dan menjalankan hukum kasih yang dikehendaki Allah. Hukum kasih adalah tuntutan kesempurnaan mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Jikalau kita mempunyai hukum kasih maka pasti juga terdorong mempunyai hukum moral. Kita tidak ingin berbuat dosa terhadap Tuhan yang kita kasihi. Demikian pada waktu kita mengampuni dasarnya adalah karena kita lebih dahulu diampuni oleh Tuhan kita. Hukum kasih mengarah kepada hukum moral. Sedangkan dalam konteks Efesus 2:15, Paulus menyatakan suatu peniadaan terhadap hukum serimonial yang dibuat oleh orang-orang Yahudi. Kurang lebih ada 613 aturan yang dibuat sebagai perkembangan hukum taurat. Dan inilah yang kemudian diangkat menjadi standar pemisahan antara orang Yahudi dan Non-Yahudi. Dalam konteks inilah Kristus membatalkan hukum serimonial yang mengatur kehidupan masyarakat seperti aturan ibadah, sunat, soal makan-minum dan aturan sabat. Bagi Paulus hal-hal inilah yang dibatalkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Maka ketika Kristus bertemu dengan perempuan samaria jam 12 siang, sedangkan perempuan itu tahu bahwa Yesus adalah seorang Yahudi, maka ia menjadi terkejut (Yoh. 4:1-26). Hukum orang Yahudi menyatakan bahwa tidak boleh berbicara apalagi dekat dengan orang non Yahudi. Yang perlu kita garis bawahi adalah bukan karena kita memenuhi hukum moral maka kita diselamatkan tetapi karena kita terlebih dahulu sudah diselamatkan oleh Tuhan maka pasti kita punya hukum moral. Artinya keselamatan kita bukan karena upaya kita tetapi keselamatan dari Kristus itulah yang memampukan kita menghidupi buah keselamatan. Kita yang sudah diselamatkan akan didorong untuk hidup benar di hadapan Tuhan. Karena kita sudah bersatu dengan Kristus dan Roh Kudus memateraikan kita menjadi anak-anakNya sehingga oleh Roh Kudus kita diingatkan dan dimampukan untuk tidak melanggar hukum moral. Pada waktu kita melanggar, kita diberikan suatu rasa bersalah dan untuk bertobat kepada Tuhan. Pada waktu kita datang kepada Tuhan dengan meminta pengampunan dengan kejujuran dan hati hancur maka disitulah kita akan dipulihkan lagi dengan nilai damai sejahtera kita. Jikalau hidup kita ada damai, itulah kesejatian kita. Jikalau hidup kita tidak ada damai maka kita terhilang daripada kesejatian yang disebut anak-anak Tuhan. b. Menciptakan kita menjadi manusia yang baru (15b). Paulus menjelaskan kepada kita bahwa kita telah diciptakan menjadi manusia baru di dalam Kristus yaitu manusia yang tidak memiliki lagi pemisah dengan Allah dan sesama anak-anak Tuhan yang lainnya. Di sini menjelaskan kepada kita betapa hidup kita menjadi indah pada waktu kita menjadi manusia baru. Menjadi manusia baru dimulai dengan kelahiran baru. Kemudian kita menjadi orang yang mendapatkan tubuh yang baru ketika kita menghadapi kematian dan tempat yang baru yaitu surga. Tuhan ingin kita mempersembahkan hidup kita dari titik awal (alfa) sampai akhir (omega) hidup kita untuk menjadi bait Allah yang tersusun rapi (ayat 19-22). Kalau orang bertanya sekarang Allah diam dimana? Di bait sucinya yaitu tubuh kita. Artinya hidupilah keselamatan kita dengan memiliki satu buah-buah keselamatan yang kekal. Jemaat Efesus tinggal di pusat kota dan pusat kesenangan dunia, maka Paulus mengingatkan jemaat Efesus untuk mengerjakan keselamatan mereka dari titik awal (alfa) sampai akhir (omega). Karya Tuhan atas hidup kita sangat luar biasa karena Dia menciptakan kita menjadi manusia baru. Baru dalam cara berpikir kita, afeksi kita, sikap kita dan gaya hidup kita (manner of life) kita. Kita juga ditempatkan dalam komunitas yang baru dimana tidak ada lagi perbedaan suku, bahasa dan lain-lain (Kolose 3:11). Dan manusia baru itu tidak lagi tunduk pada keinginan-keinginan berdosa tapi menjalankan kehendak Allah (Galatia 2:20). c. Mengadakan damai sejahtera (16). Yesus mendamaikan kita. Yesus melenyapkan status kita yang lama yaitu perseturuan antara kita dengan Allah. Kita menjadi tidak lagi  dimurkai oleh Allah karena dosa-dosa kita. Kristus yang berinisiatif membangun nilai damai sejahtera dalam hidup kita. Berarti kalau hidup kita sudah didamaikan oleh Tuhan dan punya kuasa perdamaian maka kita tidak mungkin lagi menjadi pemberontak-pemberontak Allah dan terus hidup dalam dosa. Ketika kita bermain-main dengan dosa maka kita akan dihakimi Tuhan dan Tuhan menunggu sampai kita mengakui dosa kita seperti yang terjadi pada Daud (2 Samuel 11-12). Hidup dimurkai oleh Tuhan itu tidak enak, kacau, dibayang-bayangi dengan ketakutan dan kekuatiran. Kalau kita berdosa di hadapan Tuhan, maka datanglah kepada Tuhan karena jikalau kita sudah diperdamaikan oleh Tuhan di dalam Yesus Kristus maka kita akan mendapatkan lagi damai dan sukacita karena pengorbanan Kristus. Setelah Paulus menjelaskan makna karya Kristus di salib dengan tiga kata kerja: menggagalkan, menciptakan, dan mendamaikan. Melalui ayat 17-18 Paulus mengulang penekanannya bahwa Yesus Kristus datang untuk memberitakan kabar baik yaitu pendamaian dan keselamatan. Tuhan datang ke dunia untuk menyatakan karyaNya atas hidup kita. Pendamaian dan keselamatan daripada Tuhan itulah program besar Tuhan untuk seluruh hidup kita. Maka sebagai orang-orang yang sudah diperdamaikan wajib bagi kita untuk memaknai hidup ini dengan mencintai hidup dengan kasih agape. Dalam Matius 5:9 dikatakan Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Jikalau dimana kita hidup selalu ada masalah maka seharusnya kita sadar bahwa yang menjadi masalah adalah diri kita sendiri. Jikalau kita mencintai Tuhan dengan segenap hati dan mencintai sesama manusia, maka kita terdorong untuk mendamaikan manusia berdosa dengan penginjilan. Lihatlah Roma 5:1-2, Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena TUhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita harus memerangi gereja-gerja yang tidak mau menghancurkan dosa dan pendeta-pendeta yang tidak punya kasih kepada anak-anak. Ibrani 9:14-15, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama. Puji Tuhan kita bukan lagi jauh tetapi sekarang menjadi dekat karena Tuhan Yesus Kristus. Kristus sudah bekerja dalam kehidupan kita mendamaikan kita dengan Tuhan Allah maka sekarang tugas kita adalah menghidupi hidup kita dalam damai dan kasih sehingga kita memaknai hidup ini dengan kita berarti bagi Tuhan.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami