Karakter Yang Diubahkan Allah (Yakub)

Karakter Yang Diubahkan Allah (Yakub)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 32:22-32 dan Amsal 27:17.

 

Pendahuluan

Apa itu karakter? Dari mana asal mulanya karakter? Karakter adalah satu goresan hidup yang dimulai saat kita terlahir di dunia. Ini merupakan gabungan dari sifat, sikap, dan mindset kita. Karakter mula-mula itu diberikan kudus adanya. Manusia pada awalnya memiliki karakter Allah. Jadi karakter adalah anugerah Tuhan tetapi dosa menghancurkan karakter itu sehingg manusia hidup dengan keinginan yang liar. Mengapa karakter manusia dapat buruk atau jahat? Ini karena dosa. Dosa membutakan pikiran dari kemuliaan Tuhan. Dosa menghancurkan standar hati nurani sehingga kita tidak mengerti standar kesucian Tuhan. Dosa juga menghancurkan nilai kecukupan sehingga akhirnya kita dikuasai oleh nafsu dan kesombongan. Dapatkah karakter yang buruk diubahkan? Bisa. Namun siapa yang mengubah dan melalui cara apa? Ada orang yang berubah karakternya dalam 5-10 tahun namun kemudian memburuk kembali. Kunci perubahan yang sesungguhnya adalah lahir baru dalam Yesus Kristus. Tanpa Kristus, perubahan yang terjadi hanya bersifat situasional dan sementara. Mengapa ada perubahan karakter sesaat dan di kemudian hari timbul lagi? Ini karena orang tersebut berubah dengan kekuatan diri dan bukan kekuatan Firman atau di dalam Yesus Kristus. Bagaimana supaya mengalami perubahan karakter yang sejati di dalam Yesus Kristus? 14 tahun lebih ia tinggal dengan Laban dan sudah menikah dengan Lea dan Rahel namun karakternya tidak berubah. Ia masih seorang penipu dan penakut. Puncak seluruh perubahannya adalah pada saat ia sendirian ketika ia bergumul dengan Tuhan. kesendirian itu baik jika dipakai untuk mengevaluasi diri. Pergumulan dan kesulitan itu baik untuk kita mengecek diri kita sendiri. Kelancaran itu tidak selalu baik adanya. Pergumulan itu mendorong kita untuk lebih waspada dan bergantung kepada Tuhan. Jika kita tidak pernah diuji melalui kesulitan, maka kita tidak akan pernah tahu kualitas iman kita.

 

Pembahasan

Apa itu karakter? Apakah karakter itu ada pengaruh dari orang tua dan lingkungan? Ada. Kata Karakter berasal dari kata Yunani charasein yang artinya menggores, mencoret, menggaris. Karakter adalah goresan yang dilakukan berulang-ulang. Karakter itu dibentuk dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan lainnya selama hidup kita. Karakter itu sudah ada sejak lahir. Ketika seorang anak dilahirkan, dia sudah membawa “garis/coretan” tertentu di dalam jiwanya. Sejak lahir corak jiwa anak itu sudah ditentukan karakternya dalam garis-garis yang pokok. Karakter itu dapat berkembang dan bertumbuh tetapi corak dasarnya tetap. Itu artinya, karakter dapat dididik, dipimpin, diatur atau diolah dengan jalan pendidikan dari atau oleh orang lain atau juga dengan usaha pendidikan rohani kita sendiri (Ulangan 6:7). Dari mana karakter itu ada? Dari Tuhan. Mengapa Tuhan mengizinkan karakter kita rusak dalam dosa? Ini bukanlah program Tuhan. Karakter itu jika ingin dikembangkan maka harus dididik dan diisi serta diarahkan. Anak belajar mengembangkan karakternya dari orang tua. Jika karakter orang tua itu buruk maka anak akan mendapatkan pengaruh yang buruk. Ada yang menyatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Karakter anak memiliki kedekatan dengan karakter orang tua. Suami dan istri juga bisa saling memengaruhi di dalam pernikahan. Tentu yang kita harapkan adalah perkembangan positif di dalam pernikahan. Amsal 27:17 Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Ketika kita memilih pasangan, kita harus melihat perubahan karakternya menjadi lebih baik dulu. Tuhan mau kita mendidik anak agar memiliki karakter rohani. Tentara bisa dilatih untuk disiplin, namun disiplin itu belum tentu dikaitkan dengan Tuhan. ada orang yang memiliki semangat perjuangan, namun belum tentu itu dikaitkan dengan Tuhan. Kita harus mendidik karakter anak secara rohani. Apa bedanya dengan pembentukan karakter secara lahiriah? Dunia bisa mendidik dan mengubah apa yang di luar, namun tidak bisa mengubah yang di dalam. Kita menggarap bukan dari luar ke dalam tetapi dari dalam ke luar. Dunia bisa memberikan perubahan secara situasional namun tidak akan tahan uji dalam waktu. Kita harus mengetahui sumber pembentukan karakter sejak dini.

Anak merupakan perpaduan dari ayah dan ibu. Apa yang dialami ibunya selama kehamilan bisa dialami oleh anaknya. Karakter anak juga bisa dibentuk dari pola kebiasaan orang tua, lingkungan, budaya, pendidikan, dan agama. 5 bagian inilah yang paling memengaruhi pembentukan karakter anak. Agama tidak hanya membentuk kita menjadi orang baik dan bermoral. Semua agama bisa melakukan itu, namun Alkitab mengajarkan kita untuk memiliki hati yang takut akan Tuhan dan terdorong untuk beribadah dalam situasi apapun juga sampai kita memiliki karakter Kristus. Di dalam pernikahan harus ada perubahan karakter dari suami dan istri. Suami dan istri harus menikmati kesucian di dalam Tuhan dan melayani Tuhan bersama-sama. Pernikahan bukanlah untuk kebahagiaan karena itu merupakan bonus dan bukan tujuan utama. Orang tua Kristen harus memperhatikan hal-hal ini. Ada banyak orang tua yang tidak mendidik anak dalam iman sehingga mereka harus menuai air mata di masa tua. Banyak anak meninggalkan imannya karena tidak pernah mendapatkan pendidikan iman dari orang tua. Kita tidak boleh terlalu cepat mengirim anak ke luar negeri. Jika imannya belum siap maka ia bisa meninggalkan Tuhan. Orang tua bisa secara tidak sadar merusak karakter anak. Allah itu maha tahu dan kita akan melihat mengapa Allah diperkenalkan sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Kita akan mempelajari Allah yang maha hadir dan maha kuasa.

Karakter adalah pola kebiasaan atau pengalaman yang diulang-ulang di dalam proses hidupnya (Ulangan 6). Contoh: A) Kebiasaan bangun pagi dan bekerja, akan menghasilkan karakter pekerja keras, ulet, disiplin dan rajin dalam bekerja. B) Kebiasaan menipu atau mencuri akan membentuk karakter yang mau cari gampangnya saja, dengan jalan menipu atau mencuri. Orang tua harus berani memberikan disiplin pada anak. Orang tua boleh memukul anak bila sudah melanggar berkali-kali namun orang tua tidak boleh menyiksanya. Anak harus sadar bahwa apa yang dilakukannya berdosa dan menyakiti hati Tuhan. Anak tidak boleh dibesarkan dengan cara kipas yaitu mengalihkan semua kesalahan dari padanya kepada orang atau pihak lain. Pada akhirnya ketika ia dewasa ia akan menyalahkan orang tuanya. Anak-anak juga harus dipuji ketika ia sudah berbuat benar. Semuanya harus seimbang berdasarkan porsi dan konteksnya. Ulangan 6 mengingatkan kita untuk mengajarkan anak berulang-ulang tentang Allah di dalam waktu yang ada. Anak harus tahu bahwa di dalam hidupnya ia harus bertanggung jawab dan beribadah kepada Allah yang maha kuasa. Orang tua harus mengajarkan teologi hidup kepada anak-anaknya. Orang tua harus menabur Firman sejak dini di dalam hati anak-anak. Hati yang keras perlu digemburkan dengan pendidikan rohani. Inilah mengapa pendidikan di rumah itu sangat penting. Harta bukanlah yang utama dalam mendidik anak. Anak harus diajarkan sejak dini untuk terus bekerja dan mengembangkan diri. Mengapa ada anak yang suka mencuri? Mengapa ada anak yang suka menipu seperti Yakub? Esau dibesarkan oleh Ishak dan ia menjadi pemburu yang tangguh. Yakub dibesarkan oleh Ribka dan ternyata ia memiliki emosi yang egois. Orang tua harus mendidik anak dengan aspek maskulin dan feminim, jadi semuanya seimbang. Kerja keras adalah ibadah dan mengandalkan Tuhan juga adalah ibadah. Jangan sampai kita lupa bahwa pendidikan karakter dimulai di rumah. Dalam masa Perjanjian Lama, orang tua mendidik anak-anaknya di rumah. Pada masa sekarang, kita harus melihat sisi keuntungan dan kerugian dari homeschooling. Jika kita tidak siap untuk mengajarkan anak-anak di rumah, maka kita sebaiknya jangan memaksakan.

Lebih dalam lagi, pengertian karakter adalah gabungan keseluruhan dari sisi positif dan negatif dalam kehidupan seseorang yang diwakilli oleh: pemikiran, konsep nilai, motivasi, sikap, perasaan, dan tindakan. Karakter merupakan gabungan dari “pembawaan lahir” yang kita dapatkan dari orang tua dan lingkungan kita; yang secara tidak sadar dapat memengaruhi seluruh perbuatan, perasaan, dan pikiran kita (Total Depravity). Karakter kita menentukan siapa diri kita yang sesungguhnya, dan siapa diri kita yang sesungguhnya menentukan apa yang kita lihat. Dan apa yang kita lihat menentukan apa yang kita perbuat. Kita akan melihat karakter Yakub. Ia memiliki karakter pembohong atau penipu. Apakah Ribka tahu bahwa ia akan memiliki anak yang seperti ini? Apakah dia tahu bahwa kemanjaan yang diberikannya membuat Yakub seperti ini? Kita harus berhati-hati agar jangan sampai memanjakan anak. Yakub mengambil hak sulung Esau dengan cara ditukar dengan semangkuk sup kacang merah (Kejadian 25:29-34). Di sini Yakub menunjukkan kelicikannya. Ia melihat bahwa Esau sangat menginginkan makanan itu dan ia memanfaatkan situasi dengan menukarnya dengan hak kesulungan Esau. Mungkin hal ini diajarkan oleh Ribka sebelumnya. Yakub menipu Ishak dan Esau untuk mendapat berkat dari Ishak (Kejadian 27:1-33). Di sini Ribka mengajarkan Yakub untuk menipu ayahnya. Ribka bahkan rela menanggung kutukan yang mungkin diterima Yakub. Jadi Yakub menjadi penipu juga dengan bantuan Ribka. Kemudian Yakub melarikan diri ke Haran (Kejadian 29:23-27). Hal inipun terjadi karena usulan Ribka. Di sini kita bisa melihat bahwa kerusakan karakter Yakub dimulai dari Ribka. Kita harus berhati-hati karena karakter orang tua jika belum dikuduskan maka akan bisa memengaruhi karakter anak. Di sini ada hukum tabur tuai. Kemudian Yakub menipu Laban untuk mendapatkan domba dan kambing yang kuat-kuat (Kejadian 30:32-43). Ternyata setelah 14 tahun meninggalkan orang tuanya, karakter licik Yakub tidak berubah. Ini karena Laban tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Allah. Ia masih menyimpan terafim. Yakub masih mengandalkan kekuatan diri dengan menipu orang lain.

Yakub juga memiliki karakter penakut. Setiap kita pasti memiliki ketakutan masing-masing. Ketakutan yang suci adalah takut berbuat dosa dan takut dibuang oleh Tuhan. Ketakutan ini akan mendorong kita untuk taat dan hidup suci. Pertama, Yakub lari meninggalkan Laban dengan cara diam-diam (Kejadian 31). Sesungguhnya jika Yakub berbicara secara baik-baik kepada Laban, maka Laban pasti akan mengizinkan Yakub pergi dengan damai. Mengapa Yakub takut bercerita kepada Laban? Ia takut seluruh hartanya diambil, karena ia telah menipu Laban. Belum lagi Rahel telah mengambil terafim ayahnya. Namun ternyata setelah Yakub lari meninggalkannya, masalah malah bertambah. Laban kemudian mengejar Yakub dan keluarganya dan bertemu dengan mereka. Di sana Tuhan melindungi Yakub dengan berbicara kepada Laban sebelum mereka bertemu (Kejadian 31:29). Setelah itu mereka membuat perjanjian lalu berpisah. Yakub mendapatkan sikap suka lari dari masalah dari orang tuanya. Kedua, Yakub mengalami ketakutan mendengar Esau mengirim 400 orang untuk menemui dirinya (Kejadian 32:7). Cara dia mengatasi ketakutan itu adalah Yakub memberikan persembahan kepada Esau (Kejadian 32:14-20). Dan mengirim 2 istrinya dan 2 budaknya perempuannya dan anak-anaknya menyeberangi sungai Yabok (Kejadian 32:22-23). Yakub sendiri tidak pergi (Kejadian 32:24a). Di sini Yakub masih menyimpan ketakutan yang besar terhadap Esau. Ia tidak lagi melihat Tuhan yang melindunginya tetapi melihat Esau yang bisa membunuhnya. Dia mencoba untuk menyogok Esau agar bisa selamat.

Ketika semuanya telah menyeberang, ia tinggal sendirian di belakang karena ketakutan. Dia mengorbankan orang lain terlebih dahulu untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Di sana ia berdoa dan melakukan retret pribadi. Di sana pula ia bergumul dan bergulat dengan Tuhan. Di sini ada pergulatan batin Yakub. Dia melihat Tuhan namun ia mendapatkan anugerah sehingga ia tidak mati. Di dalam retret itu dia melakukan evaluasi diri di hadapan Tuhan. Ketika kita mengalami pergumulan yang besar, jangan sampai kita langsung menyalahkan orang lain atau situasi. Kita harus mencoba melakukan retret terlebih dahulu seperti Yakub. Yakub bergulat dengan Allah dan manusia dan di bagian akhir dari pergulatannya, sendi pangkal pahanya dibuat terpelecok. Di sana Yakub tidak mau melepaskan Malaikat itu dan mau meminta berkat dari Allah. Di sana Yakub menang bukan secara fisik tetapi menang karena mengerti kehendak Tuhan. Di sana Yakub mengerti konsep tentang Allah, kehendak Allah, Allah yang maha kuasa yang bisa bekerja di tengah ketakutannya, Allah yang maha hadir yang beserta dengan Abraham, dan Allah yang maha tahu yang menyertai Ishak. Dari setiap tokoh, Allah memberikan penekanan pengenalan akan Allah yang berbeda-beda. Abraham berbohong sampai 2 kali karena berpikir Allah tidak maha hadir dan bersama dengannya. Ishak diajarkan bahwa Allah itu maha tahu sehingga tahu pasangan yang terbaik untuknya dan kapan harus melahirkan anak. Yakub diajarkan untuk mengandalkan kekuatan Allah di tengah ketakutannya. Yakub belajar untuk tidak melihat kelemahan diri dan mengorbankan orang lain tetapi sebagai pemimpin ia harus bersandar pada Tuhan. Di sana ia diberikan satu mental yang kuat agar berani menghadapi masalahnya. Masalah antara Yakub dan Esau terjadi karena Yakub dan Yakub sendiri yang harus menyelesaikannya. Pemimpin harus berdiri di depan dalam menyelesaikan masalah. Yakub belajar untuk melihat Esau sebagai manusia yang bisa diubahkan hatinya oleh Tuhan.

Nama Yakub diubah menjadi Israel. Israel berarti pejuang Tuhan (God’s fighter) yang siap bergumul dengan Tuhan. Israel juga berarti pangeran Allah. Ia adalah orang yang penting dan dikhususkan. Yakub menamai tempat itu Pniel (Kejadian 32:30) karena ia bertemu Tuhan berhadapan muka namun ia tidak mati. Di sana Yakub diubah menjadi pemenang bagi Allah, meskipun ia belum menang menghadapi Esau, ia sudah mengerti kehendak Allah dan mentalnya sudah diubahkan oleh Allah. Mental yang kuat tidak melihat kelemahan diri tetapi melihat Allah yang maha besar yang melindungi umat-Nya. Yakub telah menang secara iman sebelum ia menang menghadapi Esau dan itulah yang terpenting. Ia mau melakukan pergulatan itu hanya untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Di dalam kisah ini, Allah yang maha kuasa telah mengubah Yakub yang penakut dan penipu menjadi orang yang menang secara iman. Bagaimana kita tahu bahwa karakter Yakub sudah berubah? Perubahan Yakub tidak bersifat situasional. Alkitab menyatakan bahwa perubahan yang sejati adalah lahir baru dimana hati diubahkan dan tidak hanya penampilan luar yang diubah. Di sini Yakub mengalami perubahan yang sejati dan bukan tambal sulam atau situasional. Perubahan karakter Yakub ditandai dengan pertama kakinya yg pincang (pengorbanan untuk sebuah perubahan). Perubahan itu menuntut pengorbanan. Orang yang mau rajin belajar harus mengorbankan waktu santai dan bermain. Yesus Kristus adalah agen perubahan. Ia turun ke dunia dan mau menanggung segala derita sampai mati di atas kayu salib untuk perubahan kita. Status dan hati kita diubah oleh Tuhan. Karakter kita diubahkan sesuai dengan karakter Kristus melalui Firman-Nya. Apa pengorbanan terbesar yang pernah kita lakukan demi perubahan yang baik? Kita harus merenungkan pertanyaan ini secara pribadi. Perubahan yang hanya bersifat tambal sulam hanya akan bertahan sebentar saja. Kita tahu Yakub sudah berubah karena namanya diganti menjadi Israel. Bangsa Israel adalah bangsa yang khusus dipilih oleh Tuhan, namun ketika terjadi pemberontakan terhadap Tuhan, Tuhan tidak segan membuang mereka. Kita harus terus memiliki relasi dengan Tuhan. Kita tidak boleh takut berkorban demi perubahan yang baik. Kita tidak perlu mengubah nama kita karena yang terpenting adalah isi hidup kita apakah bergaul dengan Tuhan atau tidak. Setelah itu Yakub sendiri yang memimpin di depan untuk bertemu dengan Esau (Kejadian 33:3). Ia tidak lagi mengorbankan orang lain tetapi menghadapi masalah itu secara langsung. Ia siap menghadapi segala kemungkinkan. Ternyata ketika mereka sudah dekat, Esau memeluknya dan menangis. Apa yang ditakuti Yakub tidak terjadi. Tuhan bisa mengubah sikap hati Esau dan Yakub belajar untuk melihat dari kacamata Tuhan. Solusi dari Tuhan itu lebih indah daripada yang kita takuti. Karakter manusia itu nyata terlihat di hadapan salib Yesus. Karakter itu harus diubah agar menjadi sejati seperti karakter Kristus. Ia berkorban untuk mengubah status kita. Di dalam salib itu kita menemukan arti hidup.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami