Persembahan yang Berkenan kepada Allah (Kain dan Habel)

Persembahan yang Berkenan kepada Allah (Kain dan Habel)

Categories:

Bacaan Alkitab: Kejadian 4:3-15

Pendahuluan

Apa peran emosi di dalam diri kita? Kita diberi satu kemampuan berpikir untuk bisa membedakan mana yang benar, bajik, adil serta memuliakan nama Tuhan dan mana yang salah, yang tidak memuliakan Tuhan. Manusia memiliki emosi dan respons emosi yang disebut afeksi agar kita dapat mengerti relasi kita dengan Tuhan, diri, orang lain, dan alam semesta. Tuhan memberikan kita perasaan agar kita dapat peka akan pimpinan Tuhan dan mengerti orang lain. Emosi kita perlu disucikan agar dapat merespons dengan benar.

Mengapa respons emosi (afeksi) seseorang dapat rusak atau kacau? Itu menjadi rusak setelah kejatuhan dalam dosa. Dosa yang pertama adalah karena Setan mempermainkan emosi, pikiran, dan tindakan Adam dan Hawa. Dosa yang kedua adalah ketika Kain gagal, iri hati, marah, bahkan sampai membunuh Habel. Di sini kita belajar bahwa emosi yang sudah jatuh dalam dosa berpusat pada diri. Manusia menjadi cepat tersinggung dan marah, bahkan sampai membunuh dan menyingkirkan orang yang dibenci. Ada seorang yang sangat kaya di Jakarta. Suatu kali dia pulang dari Bogor dengan mobil sedan yang bagus. Ketika sampai di pintu tol, ternyata ada mobil lain yang melaju cepat dan mereka berbalap-balapan namun dia kalah. Karena dia tidak mau kalah, dia menabrakkan mobilnya. Setelah itu mereka berdebat. Orang kaya itu merasa telah mengenal banyak orang penting di kepolisian sehingga ia berani. Ada banyak orang mempunyai emosi yang tak terkendali di sekitar kita, namun belum terlihat. Ketika titik lemahnya tersentuh, baru kita mengetahui emosi tak terkendali mereka. Setiap kita punya titik lemah yang berbeda. Titik kelemahan Kain adalah dia tidak mau mempunyai saingan. Mengapa? Karena ia adalah anak yang paling besar sehingga mau diutamakan.

Bolehkah orang Kristen marah? Boleh. Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata ‘berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi’ (Matius 5:5). Mazmur 37:11 ‘orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah’. Lembut berarti orang tersebut pernah marah dan pernah tidak marah. Ia berada di posisi tengah. Ketika ia marah, ia marah untuk kebenaran, itulah kesucian. Ketika ia mengatakan kebenaran, ia berkata-kata dengan bijak. Yesus marah di bait Allah namun kemarahan Yesus itu suci. Kita boleh marah namun semua ada waktunya dan cara yang baik.

Bagaimana kita dapat mengontrol afeksi (kemarahan, kekecewaan, kesenangan, dan lainnya) di dalam diri kita? Kita bisa kecewa ketika harapan kita tidak tercapai atau ada orang lain yang mengecewakan kita. Kita juga bisa senang ketika mendapatkan hadiah atau hal yang menyenangkan kita, namun bagaimana kita mengontrolnya? Hal yang positif maupun negatif, keduanya bisa membuat kita lupa atau kehilangan kendali. Seringkali manusia baru mencari Tuhan ketika ada pergumulan atau masalah dan melupakan Tuhan di saat-saat menyenangkan karena kesenangan menjadi tuhan yang baru.

Pembahasan

Apa yang menyebabkan persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan? Suatu kali seorang guru Sekolah Minggu mendapat pertanyaan ‘mengapa persembahan Kain tidak diterima sedangkan persembahan Habel diterima?’ Guru ini ternyata terlalu kreatif. Ia menjawab ‘aroma daun yang terbakar itu tidak enak, namun aroma daging yang dibakar itu enak.’ Aroma daging yang terbakar itu memang enak, bahkan orang yang kenyang pun bisa ingin makan lagi. Lalu guru itu melanjutkan ‘Tuhan suka dengan aroma yang menyenangkan hidung-Nya’. Apakah penjelasan ini benar? Salah. Ibrani 11:4 jelas mengatakan bahwa persembahan Habel diterima karena iman. Kain tidak mempersembahkan dengan iman melainkan karena kerutinan. Bukankah Adam dan Hawa mengajarkan anak-anaknya tentang memberikan persembahan? Pasti, namun mengapa Kain pada akhirnya tidak memberikan yang terbaik? Habel mempersembahkan yang terbaik karena iman. Ia mempersembahkan yang sulung dari kambing dombanya. Daging dan lemaknya dibakar dan ternyata Tuhan menyukai itu. Ini bukan berarti Tuhan menyukai daging, karena bagian ini berbicara tentang bagian yang terbaik. Mengapa Habel berani memberikan yang terbaik? Karena dia tidak perhitungan dalam memberikan bagi Tuhan.

Apa artinya memberikan persembahan karena iman?

1) Komitmen (bdk. Mazmur 50:5)

Mempersembahkan karena iman berarti bukan karena kerutinan dan bukan sekedar seperti Kain. Hosea 6:6 sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. Konteks dari kitab Hosea menceritakan tentang kesetiaan Tuhan dan ketidaksetiaan Israel. Israel selalu berubah ketaatannya kepada Tuhan, selalu menyakiti hati Tuhan, tidak memiliki komitmen dan pengorbanan yang sungguh-sungguh bagi Tuhan. Meskipun Israel selalu berubah, kesetiaan Tuhan tidak pernah berubah. Israel terlihat beribadah namun totalitas hidup mereka tidaklah sejalan dengan ibadah. Tuhan mengetahui bahwa pertobatan mereka bersifat pura-pura. Ketika mereka mengalami kesulitan, mereka datang kepada Tuhan, namun ketika semuanya lancar, mereka mempermainkan Tuhan dalam ibadah. Mereka seolah-olah berbakti dan memberikan persembahan padahal hati mereka jauh dari Tuhan. Dalam konteks inilah Hosea berteriak (6:6a) ‘Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan’. Pada saat kita memberikan persembahan kepada Tuhan, baik dalam bentuk dana, energi, waktu, talenta atau apapun juga, Tuhan paling menuntut komitmen kita. Tuhan menuntut janji kesetiaan kita bahwa kita akan terus mengutamakan Tuhan di atas segala hal lainnya dan bahwa kita tidak akan mengingkari janji kita atau mengkhianati Tuhan demi hal yang lain.

Di dalam pemberkatan pernikahan gerejawi, kita memakai simbol cincin dan tidak pernah memakai yang lain. Mengapa? Di dalam sejarah gereja, cincin adalah simbol yang menjelaskan bahwa tidak ada titik awal maupun akhir. Ini menggambarkan kasih setia yang tidak berkesudahan. Biasanya juga ada nama pasangan dan tanggal pernikahan di cincin tersebut. Itu hanya sebagai pengingat. Ini bukan berarti komitmen kita diikat oleh cincin itu tetapi oleh janji kita kepada Tuhan di hadapan jemaat-Nya. Maka dari itu, jangan berpacaran atau menikah dengan seorang yang tidak bisa berkomitmen dengan setia. Jika kita mempertahankan pacar hanya karena penampilannya yang elok namun ternyata ia tidak setia, maka kita adalah orang yang bodoh. Orang yang tidak setia jika tidak bertobat maka akan seperti Israel dalam konteks kitab Hosea, yaitu pertobatannya hanya pura-pura.

Setiap kita bisa berkomitmen demi diri kita sendiri atau orang yang kita sayangi, namun bagaimana komitmen kita untuk Tuhan? Habel tidak peduli jika ia harus mempersembahkan yang terbaik karena ia tahu bahwa persembahannya itu adalah untuk Tuhan, namun Kain tidak punya komitmen itu. Kain terlalu terbiasa dengan ibadah yang dipimpin oleh orang tuanya. Ia terjebak dalam kerutinan dan standar apa adanya. Kita tidak boleh demikian karena Tuhan sangat menyukai kasih setia.

2) Keinginan

Hosea 6:6b menyatakan Allah ingin kita mengenal Dia. Kita diberi kebebasan dan di dalam kebebasan ada ruang dan waktu. Di dalam itu ada pilihan. Setelah manusia jatuh di dalam dosa, keinginannya adalah mengenal tawaran dunia, mencicipi keindahan dunia, berpusat pada diri, dan bukan untuk mengenal Allah. Ini membuat kita tidak bisa mengutamakan Tuhan di dalam ruang, waktu, dan pilihan kita. Kebebasan kita diikat oleh waktu dan ruang dan kita harus mengingat bahwa pilihan kita diikat oleh keinginan kita. Jika keinginan kita berpusat pada diri maka keinginan kita bisa salah. Namun jika keinginan kita berkait dengan kemuliaan Tuhan, maka keinginan itu benar.

Pada waktu kita mempersembahkan karena iman, maka kita pasti mempersiapkan persembahan yang terbaik sebelum masuk ke ruang ibadah. Jangan sampai kita memberikan persembahan demi dilihat orang lain. Kita juga tidak boleh memberikan persembahan yang sekedarnya untuk Tuhan. Tuhan-lah yang menilai hati kita. Kita boleh mempersembahkan tenaga dan waktu kita, namun kita harus ingat bahwa persembahan kita harus dengan iman dan itulah yang membahagiakan kita. ‘…Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima’ (Kisah Para Rasul 20:35b). Mengapa kita berbahagia pada waktu memberi dalam kekurangan? Karena kita memberi dengan iman dan bukan perhitungan. Berilah persembahan dengan iman dan milikilah keinginan untuk mengenal Tuhan melalui pembacaan Alkitab pribadi dan segala sarana dalam gereja. Persembahan kita yang banyak tetap tidak ada artinya jika kita tidak ingin untuk mengenal Tuhan.

3) Totalitas seluruh hidup kita untuk dipakai Tuhan (bdk. Mazmur 50:14, 23)

Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Di dalam Perjanjian Lama, setiap binatang yang dipersembahkan akan dibakar sampai habis. Ketika kita sudah ditebus dan menjadi milik Tuhan Yesus, jangan berpikir bahwa persembahan waktu, tenaga, talenta, pengalaman, dan dana kita itu sudah cukup. Itu hanya sebagian dari diri kita. Roma 12:1 menjelaskan tentang persembahan tubuh. Bagian ini mengajarkan agar kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan sehingga kita bisa mengerti kehendak Tuhan yang sempurna. Ini mengajarkan totalitas seluruh hidup kita untuk dipakai Tuhan. Jangan sampai kita hanya memberikan sebagian bagi Tuhan. Tuhan tidak membutuhkan kita tetapi kitalah yang membutuhkan Tuhan. Ketika tubuh kita sudah ditebus, kembalikanlah itu agar dipakai bagi kemuliaan Tuhan dan bukan kemuliaan diri.

Mazmur 50, terutama pada ayat kelima, menjelaskan bahwa komitmen kita diikat dengan janji. Mazmur 50 menjelaskan tentang ibadah yang sejati. Mazmur 50:11-13 “Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya. Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum?” Tuhan berkata bahwa semua itu adalah milik-Nya (ayat 10). Hidup kita dan semua yang kita punya adalah milik Allah. Kita tidak mungkin membantu Tuhan dan berpikir bahwa gereja yang membutuhkan kita sehingga kita memberi dalam belas kasihan. Mazmur 50 menyatakan bahwa Tuhan-lah yang menciptakan dan memiliki segalanya termasuk hidup kita. Jika Tuhan ingin mengambil hidup kita, maka Ia bisa melakukannya. Maka kita tidak boleh sombong. Dalam surat Yakobus diceritakan tentang orang kaya yang sombong. Ia berpikir bahwa ia akan menjadi orang yang lebih besar lagi di masa depan (Yakobus 4:13), namun firman berkata tidak ada seorangpun manusia yang bisa mengetahui masa depannya dan bahwa hidup manusia itu seperti uap (ayat 14). Manusia bisa terus berkembang dalam kejayaannya dan bisa menuhankan kesuksesannya dan keberhasilannya di dalam kesombongannya. Namun ada orang yang terus menerus sengsara dan ia menuhankan kesengsaraannya. Ia bisa berpura-pura menjadi pengemis dan terus menceritakan kesusahannya. Setiap orang bisa sombong.

Kapankah kita mau berkomitmen, menyucikan keinginan, dan menyerahkan hidup dalam totalitas bagi Tuhan? Semua itu lebih penting daripada persembahan waktu, tenaga, dan dan uang karena semua itulah yang membuktikan bahwa hidup kita ada di dalam iman. Mazmur 50:14 persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! dan Mazmur 50:23 siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya. Kita bisa mempersembahkan syukur sebagai korban kepada Allah. Ucapan syukur kita bukanlah untuk menolong Tuhan karena kita kasihan pada gereja. Ingat bahwa komitmen, keinginan, dan totalitas hidupmu harus berkaitan dengan kemuliaan Tuhan, jangan hanya dengan organisasi dalam gereja atau hamba Tuhan tertentu. Pada waktu kita memberikan persembahan, isinya harus mengandung syukur bahwa Tuhan terus memelihara kita. Ada pasien-pasien ICU yang harus membayar sampai jutaan setiap hari demi tetap hidup, namun Tuhan sudah menganugerahkan kesehatan bagi kita, maka kita harus bersyukur kepada Tuhan. Kita harus bersyukur jika kita masih bisa membuka mata kita.

Kita jangan sampai berpikir bahwa Tuhan membutuhkan uang kita. Tuhan ingin melihat apakah kita percaya kepada pemeliharaan-Nya atau tidak, apakah kita mengandalkan Tuhan di dalam kesulitan atau tidak. Jika kita punya nazar atau janji iman, maka jangan lupa untuk memenuhinya. Banyak hamba Tuhan di GRII menggunakan sebagian besar gajinya untuk persembahan dan janji iman. Apakah janji iman itu menyusahkan kita? Tidak. Betul bahwa kita hidup dengan memakai uang tetapi uang bukanlah tuhan kita. Mengapa ada orang-orang yang berani mempersembahkan banyak bagi Tuhan? Karena ia mempersembahkan dengan iman dan rasa syukur. Persembahan syukur kita adalah korban syukur bagi Tuhan dan ketika ini kita berikan bagi Tuhan, kita sudah memuliakan Tuhan. Kita memuliakan Tuhan tidak hanya dengan nyanyian atau pelayanan. Persembahan syukur yang bersifat totalitas itu harus kita berikan bagi Tuhan dalam kejujuran terhadap diri, orang lain, dan Tuhan. Perlindungan Tuhan itu selalu tepat pada waktunya. Keselamatan itu nyata karena Tuhan itu hidup.

Maleakhi 3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Ketika kita memberikan perpuluhan, maka kita akan diberikan hikmat untuk mengatur sisa 90% itu. Dari sisa itu ada yang diberikan untuk janji iman, persembahan, dan pertolongan untuk orang lain, namun semua itu bisa cukup ketika Tuhan memberikan hikmat untuk mengatur semuanya. Kaitkanlah seluruh hidup kita untuk Tuhan. Mungkin para mahasiswa atau pegawai hari ini bisa menjadi pemimpin perusahaan di masa depan karena Tuhan itu hidup. Mengapa ada keluarga yang memiliki banyak materi tetapi tidak damai dan sukacita? Karena hidupnya dan seluruh miliknya tidak dikaitkan untuk Tuhan.

Penutup

Melalui kisah Kain dan Habel kita dapat belajar siapa Allah dan bagaimana seharusnya kita meresponi Dia. Allah menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. Ia ingin agar kita memberikan persembahan berdasarkan iman kepada-Nya. Persembahan dengan iman berarti suatu persembahan yang didasarkan pada komitmen untuk mempersembahkan yang terbaik, keinginan kita berkait dengan kemuliaan Tuhan dan merupakan totalitas seluruh hidup kita untuk dipakai Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini sudah dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami