Keberdosaan karena Emosi (Kain dan Habel)

Keberdosaan karena Emosi (Kain dan Habel)

Categories:

Bacaan Alkitab: Kejadian 4:3-15

Pendahuluan

Bagaimana kita mengetahui kematangan emosi seseorang? Setiap kita merindukan pertumbuhan yang bukan hanya fisik dan pengetahuan tetapi juga iman. Iman seseorang bisa diukur dari kematangan emosi orang itu. Jika ada yang mengaku memiliki banyak pengetahuan tentang Tuhan namun emosinya seperti anak-anak, sering menghindari kesulitan, tidak tahan menerima kritik, emosi tak terkendali, dan tidak ada pengendalian diri, maka sebenarnya orang tersebut belum memiliki iman yang hidup yang mengubah hidupnya secara menyeluruh termasuk dalam hal emosi. Iman yang beres akan menghasilkan emosi yang beres.

Adakah keragaman afeksi seseorang? Ya. Respons emosi manusia sudah rusak karena dosa. Seseorang bisa rusak emosinya karena lingkungan yang berdosa. Bagaimana kita bisa memiliki afeksi yang benar di hadapan Allah?

Bagaimana supaya kita menang melawan emosi yg tidak suci? Seorang wanita memiliki peperangan di dalam dirinya karena emosinya dipengaruhi masa-masa subur dan tidak subur. Emosinya bisa menjadi tidak stabil dalam waktu-waktu tertentu sampai mengorbankan anggota keluarga lainnya. Bolehkan seorang wanita memakai alasan perubahan hormon agar orang di sekitar bisa memaklumi emosinya? Tidak boleh karena kita punya iman. Iman itu mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4) dan iman itu membuat kita tidak mudah terjebak di dalam keinginan dan perubahan hormon yang menjebak untuk berdosa. Iman harus mengontrol segala hal di dalam diri kita.

Adakah kaitannya antara kematangan emosi dengan kerendahan hati? Ada. Sebelumnya kita sudah membahas apa artinya memberikan persembahan karena iman (Hosea 6:6; Roma 12:1; Mazmur 50). Persembahan Habel diterima karena iman. Sebelum ia memberikan persembahan, ia sudah memberikan komitmen hidupnya dan kasih setianya untuk Tuhan (band. Mazmur 50:5). Habel juga memiliki kerinduan dalam mengenal Tuhan. Ia sudah mempersembahkan seluruh keinginannya. Ia mempersembahkan yang terbaik dari ternaknya untuk Tuhan. Orang yang sudah memiliki iman pasti akan mengaitkan seluruh studi, usaha, dan pekerjaannya dengan kemuliaan Tuhan. Habel disebut mempersembahkan dengan iman karena ia mau seluruh hidupnya menjadi instrumen yang indah yang dipakai untuk kemuliaan Tuhan. Dituliskan di dalam Roma 6:19 bahwa sebelum kita percaya, seluruh anggota tubuh, pikiran, dan emosi kita dipakai sebagai senjata kecemaran. Maka dari itu pikiran, emosi, dan tindakan kita dahulu diisi dengan kecemaran yang berpusat pada diri. Ini menunjukkan bahwa dulu kita adalah orang-orang yang bodoh. Namun sekarang di dalam Tuhan, kita tidak bisa lagi demikian. Tubuh kita harus dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan (Roma 12:1). Habel, ketika menjadi peternak, sadar bahwa semua miliknya adalah anugerah Tuhan. Ketika ternaknya melahirkan anak sulungnya, ia tahu bahwa itu adalah yang terbaik yang harus dipersembahkan untuk Tuhan. Memberikan waktu, tenaga, dan uang kita karena iman itulah yang terbaik bagi Tuhan. Tuhan bukan melihat jumlah uang yang diberikan tetapi melihat hati kita, maka kita harus memberikan yang terbaik bagi Tuhan yaitu totalitas seluruh hidup kita untuk dipakai Tuhan (Roma 12:1, band. Mazmur 50:14, 23).

Pembahasan

Pernahkah kita menjadi korban dari emosi orang lain yang tidak terkendali? Atau mengorbankan orang lain karena emosi kita yang tak terkendali? Karena dosa, pikiran dan emosi kita menjadi rusak. Dalam Kejadian 4:6, setelah persembahan Kain ditolak oleh Tuhan, Tuhan bertanya “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?” Ini menyatakan bahwa Tuhan sebenarnya maha tahu. Kain tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya karena Tuhan tahu. Kapan hati kita panas atau dingin? Setiap kita terpengaruh oleh situasi yang berbeda-beda. Muka seseorang mungkin bisa menipu kita, namun Tuhan tahu isi hatinya. Ketika kita sudah ada di dalam Allah, muka kita pasti melembut, namun ada orang yang bermuka lembut tetapi hatinya licik. Yudas bisa terlihat seperti orang baik, namun ia mau menjual Yesus (Markus 14:10). Kita mengucap syukur karena pergaulan kita dengan Tuhan bisa mengubah muka kita. Ketika Musa bergaul dengan Tuhan dalam waktu yang cukup lama di gunung Sinai, mukanya bersinar (Keluaran 34:29). Jika kita bergaul akrab dengan Tuhan, muka kita juga akan memancarkan cahaya kemuliaan Allah. Tuhan mengetahui isi hati Kain dan bertanya kepadanya. Tuhan sudah menegur Kain namun Kain tidak meresponi dengan tepat.

Apa perbedaan antara orang reaktif dan proaktif? Reaktif secara emosi berarti mudah tersinggung, bisa karena harga dirinya dan hal lainnya. Orang proaktif adalah orang yang berinisiatif dan kebanyakan dari mereka adalah positif. Jika proaktif untuk berpikir licik maka ini menjadi negatif. Di dalam nilai kerja, proaktif berarti orang itu mau mengerjakan segala hal dengan tekun. Orang seperti ini berpikir secara lincah dan cerdas. Anak kecil itu berkarakter “balon”. Rasa lapar saja bisa membuat mereka menangis. Ada orang yang terlihat sudah dewasa namun berkarakter balon seperti anak-anak. Setiap kita mungkin pernah mengalami hal ini, namun setelah kita ada di dalam Tuhan, kita tidak bisa seperti ini. Orang yang berkarakter balon, jika tidak mau bertobat, maka ia akan menjadi keras seperti batu. Orang yang seperti ini tidak mau menerima nasihat. Di dalam beberapa kasus, ada orang-orang seperti ini yang merasa dirinya paling benar (self-righteous). Mereka terus membenarkan diri sendiri dan selalu menyalahkan situasi atau orang-orang di sekitarnya. Tidak ada kerendahan hati dalam diri mereka sehingga tidak ada introspeksi diri.

Jika ia terus menerus menyimpan sifat “tidak rendah hati dan tidak mau introspeksi diri”, maka hati nuraninya akan menjadi seperti besi tumpul. Besi yang tajam masih memiliki fungsi, namun kalau hati nurani sudah menjadi seperti besi tumpul, maka orang itu akan menjadi kejam, keji, dan biadab. Ia hanya memikirkan kepuasan dari pelampiasan kemarahannya dan dendamnya sendiri. Orang seperti ini telah mengalami kerusakan emosi. Bisakah Yesus mengubah emosi yang rusak? Bisa, karena Dia menciptakan dan memperbarui kita. Emosi kita yang rusak karena dosa dan pembentukan yang salah dari orang tua dan lingkungan bisa dipulikan melalui firman Tuhan. Amsal 14:29 Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan. Kain mempersembahkan bukan karena iman dan ketika ia ditolak ia juga tidak menanggapi dengan iman tetapi dengan emosi yang tidak suci. Kesimpulannya adalah Kain tidak rendah hati (teachable) dan akibatnya ia kehilangan hati nurani.

Kita harus seperti karet atau spons yaitu ketika ditegur oleh orang lain, kita mendengar dan merenungkan dulu. Jika teguran tersebut benar, maka kita harus memuji Tuhan karena sudah diperingatkan. Orang yang rendah hati tidak cepat marah dan menghakimi orang lain. Setiap kita yang hatinya sudah disucikan oleh Tuhan seharusnya memiliki hati yang mau diajar. Tuhan sudah secara langsung menegur Kain namun ia tetap marah. Bagaimana seandainya Habel yang menegur? Pasti Kain juga marah. Orang yang mau diajar tidak akan melihat siapa yang menegurnya tetapi melihat substansi dari teguran itu dan melakukan introspeksi diri. Setelah Daud sadar telah melakukan dosa dengan Betsyeba (2 Samuel 12:13), ia menulis mazmur yang menggambarkan pertobatannya dan kebergantungannya pada Tuhan (Mazmur 51). Ia meminta agar Tuhan menyelidiki hatinya dan menyatakan kesalahannya. Daud, setelah jatuh, mencari solusi yang tepat karena hatinya teachable, tidak bersifat balon, batu, atau besi tumpul. Orang yang keras akan kehilangan hati nurani. Mungkin ketika Habel dipukul, ia berteriak kepada Kain agar berhenti namun Kain tidak menghiraukan. Suara Habel tidak dapat menggugah hati nurani Kain yang sudah mati dan Kain sudah menjadi orang yang kejam dan biadab.

Tuhan sudah tahu isi hati Kain yang sudah keras. Apa tindakan Tuhan melihat kemarahan Kain (ayat 6-7)? Tuhan sudah bertanya “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?” Inilah peringatan pertama dari Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, dituliskan bahwa peran Roh Kudus adalah mempertobatkan, menghakimi dunia, dan memimpin ke dalam kebenaran (Yohanes 16:8). Ia juga menghakimi hati nurari kita. Namun jika kita menolak hati nurani kita, maka Tuhan akan memukul kita dalam hal-hal tertentu misalnya studi, pekerjaan, atau keluarga. Namun jika kita masih mengabaikan peringatan Tuhan, maka Tuhan akan membiarkan kita. Kita kemudian akan menyembunyikan rasa bersalah dan menghibur diri. Jika kemudian kita dibuang oleh Tuhan, maka kita akan kehilangan hati nurani. Di sana kita tidak akan memiliki kepekaan rohani lagi yaitu kita tidak akan peka lagi mana yang benar dan mana yang berdosa tetapi hanya peka akan untung-rugi diri sendiri. Allah Roh Kudus begitu baik kepada kita. Sebelum kita jatuh ke dalam dosa, Roh Kudus bersuara dalam hati nurani kita (Roma 9:1). Namun suara Tuhan tidak ditanggapi Kain seolah Kain lebih berkuasa.

Peringatan Tuhan yang kedua adalah melalui ajakan untuk berbuat baik (ayat 7). Seharusnya Kain bertanya kepada Habel atau orang tuanya bagaimana agar persembahannya bisa diterima oleh Tuhan, namun Kain memilih untuk membunuh adiknya. Tuhan bisa membaca niat kita. Tuhan sudah menyatakan bahwa jika ia berbuat baik maka mukanya akan berseri. Jika kita rajin berbuat baik, maka muka kita akan berseri. Kita memiliki sifat kebaikan dari Tuhan. Jika kebaikan kita dikaitkan untuk Tuhan, maka itu lebih baik lagi. Berikutnya Tuhan memberikan solusi dan konsekuensi dengan kata “jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (ayat 7). Petrus menggambarkan dosa seperti singa lapar yang ingin menyantap kita (1 Petrus 5:8). Kuasa dosa sudah dihancurkan oleh Tuhan dan kita diberikan kuasa sebagai anak-anak Allah untuk mengalahkan dosa namun dosa masih ada di sekeliling kita. Dosa itu sudah dipagari Tuhan tetapi masih dapat memengaruhi kita ketika kita membuka hati terhadap dosa. Jadi Tuhan sudah mengajarkan tentang dosa kepada Kain. Tuhan juga sudah menyatakan bahwa Kain harus berkuasa atas dosa. Di sini kita melihat bahwa Tuhan tidak semena-mena membiarkan Kain berdosa. Tuhan juga menegur kita ketika mau melakukan dosa, namun jika kita mengeraskan hati dan tidak mau memerangi dosa, maka kita bisa jatuh ke dalam dosa yang fatal seperti Kain. Jika Roh Kudus mengingatkan kita, maka kita harus segera kembali kepada Tuhan sebelum kita dipukul dan dibuang oleh Tuhan.

Apa tindakah Kain setelah mendapatkan teguran dan ajaran dari Tuhan (band. Matius 5:21-22)? Kain terus mengeraskan hati. Ia telah mematikan hati nuraninya dan membunuh adiknya (ayat 8). Darah Habel berteriak kepada Tuhan dan ketika Tuhan bertanya kepada Kain, apa jawaban Kain? Ketika Adam ditanya oleh Tuhan, ia menyalahkan Hawa (Kejadian 3:12-13). Di sini bisa dilihat bahwa orang berdosa akan melakukan dosa lainnya. Kain menjawab Tuhan dengan kurang ajar “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (ayat 9). Inilah jawaban orang yang tidak takut akan Tuhan. Ia tidak menghormati Tuhan dan melawan-Nya. Seseorang menjadi kurang ajar karena kurang diajar oleh orang tuanya, gurunya, atau gerejanya. 2 Timotius 3:16 menyatakan bahwa firman itu mengajar, menyatakan kesalahan, mengoreksi, dan memimpin kita di dalam kebenaran. Guru kita adalah Tuhan, sarananya adalah firman, dan kurikulumnya adalah kitab Kejadian sampai Wahyu. Kita harus menyelesaikan pembacaan Alkitab kita. Jangan sampai kita mengabaikan dan mematikan hati nurani kita.

Akibatnya, Tuhan memberikan hukuman dan perlindungan bagi Kain. Kejadian 4:11-16, Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.” Kata Kain kepada TUHAN: “Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.” Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia. Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. Dosa Kain adalah pembunuhan. Matius 5:21-22, Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Dosa kemarahan dikaitkan dengan dosa membunuh dalam bagian ini karena kemarahan mematikan relasi persahabatan atau persaudaraan. Dalam kemarahan orang itu menuhankan emosi yang tidak kudus. Oleh karena itu kemarahan harus diselesaikan segera, sebelum matahari terbenam. Ini berarti kita harus menguasai emosi dan bukan memuaskannya. Jika kita marah, maka kita harus segera meminta ampun dan meminta kuasa dari Tuhan untuk mengalahkan kemarahan itu. Persembahan dan ibadah orang yang marah itu ditolak karena sudah mematikan relasinya. Kain membunuh Habel secara fisik dan jiwa.

Penutup

Mari kita berhati-hati dengan hati nurani dan membuat emosi kita matang dalam Kristus. Kita harus peka akan suara Roh Kudus dan menaati-Nya. Emosi yang tidak terkendali, jika ditambah dengan perkataan yang salah maka akan semakin menghancurkan suasana. Mazmur 4:5 Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. Kita boleh marah untuk kebenaran, kesucian, dan keadilan, namun jangan sampai terjadi perang kata-kata. Kiranya emosi kita semakin suci di hadapan Tuhan. Kerendahan hati membuat kita mendengarkan teguran dan mau berubah lebih baik. Tuhan bisa memakai siapapun untuk menegur kita dan itu adalah anugerah-Nya.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami