Iman Yang Teruji (Abraham)

Iman Yang Teruji (Abraham)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 22:1-19 dan Ibrani 12:11.

 

Pendahuluan

Iman tanpa pengujian tidak terbukti kualitasnya. Hal ini kita sungguh percaya dan kita bersyukur sebagai anak-anak Tuhan jika kita diizinkan untuk masuk ke dalam sekolah iman, pergumulan, tantangan, dan penderitaan. Melalui itu, kualitas iman dan buah iman akan nyata. Yakobus 2:17 Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Iman menjadi pendorong bagi sikap rohani kita untuk menyatakan kasih Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita. Iman adalah satu kekuatan yang mengontrol pikiran, perasaan, dan seluruh sikap kita agar orang-orang di sekitar dapat melihat kebesaran Tuhan. Jika ada orang yang mengaku Kristen namun tidak mengasihi orang di sekitarnya, tidak punya kepedulian dan tidak mau melayaniny agar ia kembali kepada Tuhan, maka imannya bisa dipertanyakan. Iman tanpa buah iman adalah iman yang semu atau tidak hidup. Buah iman yang sejati adalah penginjilan. Buah iman yang tidak bisa ditiru oleh Setan adalah ketika orang-orang kembali kepada Tuhan. Dalam surat Filipi, buah iman yang sejati adalah ketika orang itu memiliki kasih kepada Tuhan dan sesama sehingga mereka kembali kepada Tuhan. ini menghasilkan sukacita surgawi dimana para malaikat bersorak-sorai karena ada jiwa yang kembali kepada Tuhan. Ujian hidup adalah anugerah dari Allah karena kasih-Nya kepada kita. Jika kita dikasihi Tuhan, maka setiap hal yang tidak beres di dalam diri kita akan dibereskan salah satunya melalui ujian iman, pergumulan, tantangan, dan kesulitan.

Pembahasan

1) Perjalanan iman Abraham

            Dengan jelas dikatakan ‘setelah semuanya itu’ (ayat 1). Abraham menjalani sekolah iman selama 25 tahun. Setelah ia mendapatkan Ishak, Tuhan ingin menguji kualitas iman Abraham. Sebenarnya Tuhan bukan mau ‘mencoba’ (LAI) karena itu adalah terjemahan yang salah. Tuhan mau menguji. Ujian Allah dari atas ke bawah tidak lain bertujuan agar iman semakin murni dan bertumbuh kualitasnya semakin jelas. Pencobaan datang dari Setan dan dunia dengan tujuan untuk menghancurkan iman dan menjauhkan kita dari Tuhan. Setelah melewati perjalanan iman dari tahun ke tahun, kita mengetahui bahwa ia jatuh dalam dosa berbohong mengenai Sara ketika ia masuk ke Mesir. Setelah itu ia berpisah dengan Lot lalu mengalahkan raja-raja di Timur. Abraham jatuh kembali ketika ia mendengar Sara untuk mengambil Hagar. Di sana Abraham tidak bertanya kepada Tuhan apakah saran Sara tersebut berkenan kepada Tuhan atau tidak. Setelah itu ada perjanjian sunat dan berikutnya Abraham berdoa syafaat untuk Sodom dan Gomora. Kota itu dihancurkan dan kemudian Abraham pergi ke Negeb lalu mengalami ketakutan tanpa iman sekali lagi. Setelah semua proses ini selesai, baru Tuhan memberikan anak perjanjian itu.

2) Iman yang hidup

Tidak mudah bagi Abraham sebagai bapa orang beriman setelah memiliki anak perjanjian yaitu Ishak. Mengapa? Karena ia kemudian diminta untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal dan yang dikasihinya sebagai korban bakaran. Mungkinkah ini karena Abraham terlalu asyik dengan Ishak? Mungkinkah ini karena Abraham terlalu mengasihi Ishak sehingga kasihnya melebihi daripada kepada Tuhan? Kita tahu bahwa Allah itu Allah yang cemburu. Allah tidak mau dijadikan nomor 2 dan Tuhan bisa marah jika ada yang berbuat demikian. Semuanya ini mungkin. Abraham adalah seorang yang sudah sangat tua dan ia hanya memiliki anak ini. Abraham mungkin sudah tidak memiliki gigi yang kuat sehingga apa yang dimakan Ishak juga dimakan olehnya. Mungkin ini menjadikan mereka sungguh dekat sehingga ini bisa menyingkirkan Tuhan dari hatinya. Di sinilah Tuhan ingin melihat apakah imannya hidup dan berkemenangan atau tidak. Saat Abraham mendengar perintah Allah, pasti hatinya seperti mendapatkan halilintar. Ia pasti seperti mendapatkan teguran yang keras. Anak yang dikasihinya itu harus mati di tangannya sendiri. Mengapa Abraham tidak berdiskusi dengan Sara terlebih dahulu mengenai hal ini? Sebelumnya ia tidak berdiskusi dengan Tuhan mengenai Hagar, sekarang Abraham mendapatkan perintah Tuhan dan ia tidak berdiskusi dengan Sara. Bolehkah suami tidak berdiskusi dengan istri untuk keputusan yang penting? Apa akibatnya jika mereka berdiskusi dalam hal mempersembahkan Ishak? Jika Sara kekurangan iman, maka ia pasti tidak setuju dan marah pada Tuhan. Mungkin ia akan mendekap Ishak dan tidak membiarkannya pergi. Abraham tidak berdiskusi dengan Sara bukan karena ia kurang percaya pada Sara tetapi karena ia tahu bahwa dalam situasi itu ia tidak boleh melibatkan Sara. Ini adalah ujian yang berat dan serius.

Menariknya, Abraham tetap tidur dan kemudian ia bangun pagi-pagi (ayat 3). Ketika kita sebagai ayah diberikan perintah yang sama seperti ini, apakah kita akan bisa tidur? Maukah kita bangun pagi-pagi untuk melaksanakan perintah Tuhan ini? Dikatakan dengan jelas bahwa Abraham bangun pagi-pagi. Kata ‘bangun’ menjadi satu kunci. Dalam Mazmur 3 ketika Absalom memberontak terhadap Daud, Daud menyingkir darinya. Daud kemudian berdoa dengan iman karena ia percaya bahwa Tuhan adalah pelindungnya. Ia tidur dengan tenang dan dapat bangun kembali. Orang yang beriman bisa tidur meskipun ada masalah dan tidak dikuasai ketakutannya. Abraham tidur bukan karena ia lari dari pergumulannya tetapi karena ia percaya kepada Tuhan. ia tidak melibatkana Sara dan tidak berdebat dengan Tuhan tetapi menunjukkan sikap iman yang benar. Ia percaya kepada Allah dan ia berpikir bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati (Ibrani 11:19). Jika ia bersikap dengan emosi, maka ia akan histeris. Jika ia bersikap dengan rasio maka ia akan berdebat dengan Tuhan. jika ia tidak memakai iman, maka ia akan lari dari masalah itu. Di sini kita melihat bahwa ia menghadapi semua itu dengan iman. Di sini kita melihat bahwa 25 tahun sekolah iman itu akhirnya mematangkan iman Abraham dan melengkapinya dalam kondisi yang sulit. Ia menerima dan setuju sepenuhnya apa yang diminta Tuhan baginya. Ia mau bangun pagi-pagi dan dalam konteks Yahudi mungkin Abraham bangun pada jam 3 pagi. Ia bangun dan mempersiapkan semua hal untuk melakukan perintah Tuhan. Ia membangunkan kedua bujangnya dan juga Ishak. Apakah Abraham merasakan pergumulan saat itu? Ia melihat pisau yang diambilnya dan dia tahu bahwa pisau yang biasanya dipakai untuk menyembelih hewan itu akan ia pakai untuk menyembelih anaknya. Mungkin selama perjalanan itu ia merasakan pergumulan yang begitu berat. Ia harus berjalan semakin naik ke atas gunung itu. Semakin ke atas, langkahnya semakin berat, namun ia terus bisa konsisten karena ia rela. Itulah kuncinya. Tanpa kerelaan, jalan yang lurus pun akan terasa berat.

Mengapa beban yang berat dibawa oleh Ishak dan beban yang ringan dibawa oleh Abraham (ayat 6)? Ini adalah hal yang benar, yaitu anak dari sejak kecil harus diajarkan untuk memikul beban yang berat. Abraham pasti masih kuat, namun beban itu diberikan kepada anaknya karena anaknya sedang dilatih. Kayu yang dipikulnya pasti banyak sehingga berat namun Ishak tidak protes. Orang tua maupun anak ini rela dan mereka berjalan bersama. Ishak memakai rasionya. Ia bertanya dimana domba yang akan dikorbankan. Jika Abraham menjawab dengan emosi maka ia akan langsung menjawab ‘engkaulah korbannya’. Namun di sini Abraham menjawab dengan benar: Allah yang akan menyediakan (ayat 8). Ini adalah jawaban iman. Jawaban rasional adalah: kita akan mencari domba yang tersesat, namun ini bukan pilihan Abraham. Abraham taat pada pimpinan Tuhan. TAAT: Tuhan Allah berfirman, aku mendengar, aku melakukan apa yang aku bisa, dan Tuhan melakukan apa yang kita tidak bisa lakukan. Mungkin ia bertanya dimana domba itu berada. Sesampainya di puncak, ia menyiapkan segala sesuatu untuk pengorbanan. Ia kemudian mengikat Ishak dan di dalam hatinya mungkin ada pergumulan berat. Ishak tidak panik, protes, dan melawan. Mengapa? Karena ternyata ia adalah anak yang terdidik secara iman untuk tunduk kepada ayahnya. Pendidikan Abraham kepada Ishak membuatnya percaya bahwa apa yang dilakukan ayahnya itu seturut dengan kehendak Tuhan sehingga ia tetap diam. Jika ada anak yang suka melawan, maka anak itu mungkin belum melihat ayahnya hidup sesuai perintah Tuhan atau belum mengerti tentang ketaatan.

Ishak tetap diam dan kemudian Abraham mengangkat pisau itu. Di saat Abraham akan menusuk Ishak, terdengarlah suara dari surga: Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku (ayat 12). Sikap iman Abraham adalah sampai A yang kedua (aku melakukan apa yang aku bisa), lalu kemudian Tuhan melakukan apa yang aku tidak bisa lakukan. Puncak dari keajaiban Tuhan adalah di saat kita sudah melakukan apa yang kita bisa. Setelah melewati pergumulan iman itu, Tuhan baru memberikan solusi. Kita harus sabar melewati setiap pergumulan. Tuhan menuntut kita untuk taat secara total. Kita tidak boleh cepat mengeluh dan mempertanyakan Tuhan. sekolah iman Abraham adalah selama 25 tahun, jadi kita harus bersabar. Di dalam kesabaran itu kita harus mengutamakan Tuhan. Kita harus mempelajari yang Tuhan mau dan mengorbankan hal-hal yang perlu dikorbankan. Kita harus mengorbankan motivasi yang tidak benar. Ambisi yang tidak suci harus dihancurkan. Setelah itu Tuhan akan menjawab. Di sini Abraham menunjukkan bahwa dirinya tidak terikat dengan Ishak dan mau menjalankan perintah Tuhan. Allah maha tahu dan ujian ini diberikan untuk melatih iman Abraham. Di sini Abraham belajar bahwa Allah harus diutamakan di atas segala-galanya. Ia telah bersikap dengan benar. Sikap yang benar menjadi kunci untuk kita disertai oleh Tuhan. itu membuka pintu pengharapan. Sikap yang salah membuat doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan. 7 perkataan salib itu menunjukkan sikap yang benar dari Tuhan Yesus di atas kayu salib. Ia tidak marah tetapi justru memberikan kalimat pengampunan. Ia tidak memaki tetapi justru menyelamatkan penjahat di sebelah-Nya. Sikap kita menunjukkan kerohanian kita.

 

3) Apa inti dari Kitab Ayub?

            Ayub itu saleh tetapi kurang rohani. Saleh berarti menaati kerutinan agama. Rohani berarti bersikap dengan benar di saat yang sulit maupun senang. Ayub adalah seorang yang saleh namun bersikap salah dalam mendidik anak (Ayub 1:4-5). Anak-anaknya suka bersenang-senang sampai larut malam tetapi tidak beribadah. Mereka terus mencari kepuasan diri. Setiap pagi Ayub memberikan korban untuk menghapus dosa anak-anaknya yang suka mencari kesenangan. Di dalam Kitab Ayub tidak dicatat bahwa ia pernah menegur anak-anaknya. Ia terlalu sayang pada anak-anaknya. Ia punya uang dan kuasa yang besar namun anak-anaknya tidak saleh maupun rohani. Anak-anaknya menjadi orang-orang yang jahat dan mempermalukan Ayub. Di sana Tuhan mengizinkan Setan untuk mencobai Ayub. Setan boleh melukainya secara fisik tetapi tidak boleh mengambil jiwanya. Inti dari kitab Ayub adalah penderitaan Ayub. Di sana Ayub belajar tentang Tuhan melalui penderitaan. Jika Ayub terus belajar tentang Tuhan melalui kesuksesan maka ia tidak akan belajar tentang Tuhan yang bisa turut campur dalam setiap perkara sulit. Inti yang kedua adalah perdebatan teologis. Ia berdebat dengan teman-temannya mengenai penderitaan. Teologi mereka begitu sistematis namun mereka tidak mengerti teologi hidup. Pada akhirnya mereka hanya menyalahkan Ayub. Ayub sedang menderita dan teman-temannya hanya bisa menyalahkannya. Pasti Ayub sakit hati. Elihu muncul paling terakhir namun ia mengerti teologi hidup (Ayub 32-37). Sekali ia berbicara, Ayub langsung sadar. Kemudian Tuhan berbicara kepada Ayub dan Ayub memberikan respons hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (Ayub 42:5). Setelah itu ia berdoa untuk teman-temannya sehingga mereka diampuni. Kemudian hidup Ayub dipulihkan.

Kita di sini belajar tentang sikap yang benar dalam menghadapi penderitaan. Akhirnya Ayub mendapatkan hikmat dalam penderitaan. Pengkhotbah 7:2 Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Itulah mengapa kita harus mengajak anak-anak kita ke kebaktian kedukaan. Orang tua harus belajar dari Abraham dalam hal anak mau mengikuti otoritas. Kita mendidik anak-anak kita dengan harapan Tuhan akan membuat mereka menghasilkan buah kebenaran (Ibrani 12:11). Setelah Ayub bersikap dengan benar, semua hal yang pernah diambil darinya diberikan kembali kepadanya. Saya yakin setelah ini ia tidak lagi sembarangan mendidik anak yaitu dengan iman dan bukan uang, fasilitas serta kemanjaan. Apapun yang terjadi pada hidup kita, jika kita tahu bahwa Tuhan itu hidup, maha tahu, maha hadir, dan maha kuasa, maka kita akan sadar bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu. Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Allah turut bekerja dan tugas kita adalah mendemonstrasikan iman. Kita harus mengerjakan apa yang kita bisa dan kita meminta Tuhan untuk mengerjakan yang kita tidak bisa. Tuhan akan memberikan solusi yang terbaik.

Ujian iman akan menghasilkan buah iman yaitu sikap yang benar sebagai bukti mengasihi Allah. Kita pada akhirnya melihat bahwa Abraham itu taat dan menghargai perintah Tuhan. Jika ada orang yang mengaku mengenal Tuhan namun tidak mau taat, maka kita mengetahui bahwa orang itu tidak benar-benar rohani. Dalam tahapan iman itu ada: tahu, mengerti, setuju, taati, dan kerjakan. Orang yang banyak pengetahuan belum tentu berjalan sesuai kehendak Tuhan. Setan pun tahu bahwa Allah itu esa (Yakobus 2:19) dan ia tahu siapa Yesus. Setan tahu teologi waktu dan penghakiman. Ketika Yesus pergi ke Gadara, Ia disambut oleh 2 orang yang dirasuk oleh Setan (Matius 8:28-34). Setan itu bertanya: Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya? Jadi Setan tahu akan teologi waktu. Ternyata orang-orang di daerah itu bisa memiliki banyak babi karena pekerjaan Setan. Setelah Yesus mengusirnya, mereka merasuki babi-babi itu lalu mereka terjun ke dalam danau sehingga mati. Ketika kita hanya ‘tahu’, maka itu tahapan yang pertama. Berikutnya kita harus mengerti mengapa Yesus disebut Tuhan. setelah itu kita harus setuju. Ketika Abraham mendapatkan janji keturunan dari Allah, ia setuju akan hal yang dinyatakan Allah tersebut. Setelah itu kita harus menaati apa yang kita mengerti. Terakhir, kita harus mengerjakan apa yang diperintahkan. Roma 10:17 Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus. Ada banyak hamba Tuhan bukan memberitakan Firman Tuhan tetapi memberitakan perkataan manusia. Mereka melakukan eisegesis dan bukan eksegesis. Mereka membangun doktrin di atas pengalaman, emosi, dan rasio serta apa kata manusia dan bukan firman Tuhan. Di sini kita bersyukur akan kehadiran Reformed untuk menegakkan ajaran yang benar sesuai Alkitab. Kita harus mengobarkan api penginjilan. Hidup kita tidak boleh egois tetapi harus menjadi berkat bagi orang lain. Ibrani 12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Kita harus memohon agar kita dimasukkan ke dalam sekolah iman agar dilatih dalam ketaatan yang benar sehingga bisa bersikap dengan benar. Kita harus menyerahkan hidup kita untuk kemuliaan nama Tuhan. Kita tidak boleh puas hanya pada tahap teori. Kita harus mengerjakan apa yang kita bisa dan taat perintah-Nya.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami