Iman Yang Bertumbuh Dalam Situasi Yang Sulit

Iman Yang Bertumbuh Dalam Situasi Yang Sulit

Categories:

Hari ini kita akan melihat bersama-sama pendahuluan bagian yang pertama untuk kita masuk dalam eksposisi surat 2 Petrus. Inti dari surat 2 Petrus adalah berbicara tentang iman yang bertumbuh dalam situasi yang sulit. Kita diajarkan bagaimana iman itu di uji dalam penderitaan, iman itu di uji dalam kesulitan demi kesulitan, tetapi akhirnya menghasilkan satu pertumbuhan yang sejati. Sub temanya adalah bagaimana sikap kita yang benar dalam menghadapi pengajar sesat. Jadi pengajar sesat ada di Gereja, dan kenapa pengajar sesat bisa efektif menghancurkan iman orang Kristen? Karena dia bisa menyerupai hamba Tuhan dan dia seperti hamba Tuhan, dan itu sudah dinubuatkan oleh kitab Wahyu bahwa ada satu rancangan daripada setan untuk menghancurkan iman orang Kristen. Bagaimana menghancurkan iman orang Kristen? Beri pendeta yang palsu, guru Injil yang palsu, nabi-nabi palsu dari dalam. Disitulah iman orang Kristen akan hancur. Di dalam bagian inilah kita akan sama-sama mendahului bagaimana di masa tua, sebelum Petrus mati martir, di salib terbalik, Petrus masih berkarya bagi Tuhan untuk menulis 2 Petrus. Karena dia rindu sekali jemaat di Asia Kecil bisa menghadapi pengajar-pengajar palsu dengan satu nilai benteng yang benar, tujuan yang benar, dan sikap yang benar, supaya mereka tidak kompromi dengan pengajar-pengajar palsu. Rasul Petrus tidak mengasihi diri, dia tidak memanjakan diri, dia mau terus produktif sampai dia mati martir untuk memuliakan nama Tuhan.

 

Pendahuluan.

 

  1. Kekristenan tanpa pertumbuhan iman, seperti mayat hidup yang berjalan.

Siapa yang tahu kalau kita seperti mayat hidup yang berjalan? Yaitu Tuhan. Seolah-olah kita bisa menipu manusia di Gereja, di kantor, di sekitar keluarga kita. Tetapi Tuhan tahu ada kebobrokan dosa di dalam hati kita, ada kesesatan dalam berpikir kita, ada kecemaran yang kita sembunyikan. Seolah-olah kita menjadi manusia yang hidup, sebetulnya kita berbau busuk dihadapan Tuhan karena hidup kita menjadi orang yang munafik, hidup kita menyimpan dosa, hidup kita bermain-main dengan dosa itu sendiri. Mungkin manusia tidak bisa mencium seluruh kecemaran hidup kita, mungkin manusia tidak mencium seluruh bangkai kita, tetapi Tuhan tidak mungkin bisa ditipu, dan Tuhan tahu sekali kita adalah mayat yang hidup, karena kerohanian kita sudah mati, dan tidak menyadari bahwa kita sudah tenggelam dalam kesesatan dunia, dalam kenikmatan dunia, dan hidup kita tidak ada lagi peperangan rohani. Di dalam konteks inilah rasul Petrus memperingati jemaat di Asia Kecil supaya jangan main-main dengan ajaran sesat, jangan main-main dengan doktrin yang salah, jangan main-main dengan Gereja yang salah, jangan main-main dengan orang yang berprilaku cemar. Tetapi jaga kemurnian, dan hidup menjadi bau yang harum untuk nama Kristus dipermuliakan melalui perilaku dan tingkah laku orang Kristen.

 

  1. Kekurangan apa yang paling fundamental untuk orang Kristen modern?

Orang Kristen modern jangan bilang sibuk dan terus sibuk, tidak ada waktu untuk baca Alkitab dan melayani Tuhan, tetapi bisa whatsapp-an, bisa twitter-an, bisa fecebook-an, bisa nonton film. Di dalam bagian ini kita lihat problem kita bukan masalah waktu, masalahnya adalah setiap kita tidak bisa lagi fokus. Orang modern kekurangan kefokusan, mana yang penting dan mana yang tidak penting. Disinilah penyakit orang modern tidak bisa menempatkan first think first, mana bagi Tuhan yang paling utama, mana bagi dunia yang paling utama dan mana yang paling utama untuk diri kita, tidak ada manajemen waktu, sehingga kita mengerjakan yang tidak penting menjadi penting, yang penting dianggap tidak penting. Inilah penyakit daripada orang modern, tidak punya satu fokus bagaimana dia mengatur waktu, bagaimana dia mengatur hidup, bagaimana dia mengatur kesempatan yang ada untuk hidup dia hidup bagi Tuhan. Orang modern kehilangan meditasi, kekurangan submissive di hadapan Tuhan, sikap surrender yang sungguh-sungguh berlutut di hadapan Tuhan tiap pagi, siang atau malam tidak ada lagi, karena kita sudah terjebak dengan kerutinan, seolah-olah kerutinan itu adalah bagian dari kesibukan hidup kita, padahal kerutinan itu menggerogoti kekosongan jiwa kita. Kita harus sadar bahwa teologi akan mempengaruhi perilaku kita, teologi akan mempengaruhi respon kita menghadapi seluruh tantangan dunia. Kekurangan orang modern adalah kekurangan menikmati aspek renungan, kekurangan orang modern tidak lagi merenungkan firman Tuhan secara khusus untuk dirinya dikoreksi dan diperbaharui, dan diubah oleh Tuhan. Kenapa bisa demikian? Karena kita menganggap firman Tuhan bukan lagi subjek, kita hanya menganggap firman Tuhan itu objek yang setiap saat, setiap waktu, setiap kondisi bisa aku baca dan aku renungkan, tergantung seleraku dan kondisiku. Padahal Alkitab itu sendiri adalah subjek dimana kita sendiri adalah objek. Jadi disitu kita diperjelas bagaimana seharusnya kita hidup dalam firman, karena manusia bukan daripada roti saja, tetapi daripada kebenaran firman Tuhan. Banyak orang-orang Kristen modern sekarang kadang-kadang mengalami split personalitas. Disini kita harus sadar betapa penting kita punya identitas rohani yang jelas. Setiap kita ini penting punya identitas personalitas kita dihadapan Tuhan, sehingga kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh arus ajaran jaman ini yang menyesatkan. Kita tidak boleh ikut-ikutan dengan mudah setiap tawaran-tawaran daripada gerakan-gerakan rohani yang bersifat fenomenal belum tentu mengandung sesuatu nomenal atau mengandung sesuatu kebenaran yang benar. Di sinilah kita harus kembali me-redeem budaya modern yang tidak lagi menyukai meditasi untuk kita punya identitas di dalam Tuhan. Jangan mencari identitas di dalam dunia, jangan cari identitas di dalam hal-hal yang bisa menyenangkan manusia disekitar kita, tetapi yang harus kita bangun adalah bangunlah identitas kita dengan jelas bahwa kita adalah anak Tuhan yang sejati, dan kita hidup sudah ditebus oleh darah Kristus, dan kita harus hidup dalam kebenaran. Kita diajarkan untuk tidak boleh kompromi dengan arus jaman. Pertanyaan saya kenapa surat pada bagian Alkitab selalu menyatakan kebesaran Tuhan, dan menyatakan manusia yang kecil, manusia yang lemah, manusia yang berdosa? Hal ini ada untuk menyadarkan kita bahwa kita butuh Tuhan, bukan Tuhan yang butuh kita.

 

  1. Mengapa Allah ijinkan ada pengajaran sesat di Gereja?

Bisakah Allah menjaga kekudusan Gereja dan menghancurkan orang-orang yang ingin menyesatkan Gereja? Bisa. Bisakah Allah menggagalkan rancangan-rancangan si jahat supaya anak-anak Tuhan tidak hancur imannya? Bisa. Menjadi pertanyaan, kenapa Allah ijinkan pengajaran sesat di Gereja? Disini kita akan mendalami bagaimana surat Petrus mengajarkan, ketika kita menghadapi pengajar-pengajar sesat, dari sana baru tahu sampai sejauh mana dan sampai sedalam mana kencintaanmu terhadap firman, dan yang kedua sampai sejauh mana kecintaanmu terhadap kebenaran. Jadi melalui Allah mengijinkan adanya pengajaran sesat tidak lain adalah untuk menguji kualitas keimanan kita, menguji kasih kita kepada Tuhan, dan menguji kecintaan kita terhadap Alkitab secara keseluruhan. Disitulah kita bersyukur Allah memberi kita kebebasan, dan Allah selalu menguji akan kualitas keimanan kita.

 

  1. Bagaimana seharusnya kita menghadapi pengajar-pengajar palsu atau sesat?

Di dalam surat Wahyu, Yesus Kristus mengecam jemaat di Efesus. Kenapa Dia mengecam jemaat di Efesus? Karena jemaat Efesus secara doktrinal begitu luar biasa, bisa menguji mana ajaran yang benar, mana ajaran yang palsu, dan ajaran palsu yang pada saat itu diketahui adalah Nikolaus. Disitu kita tahu semua pengajarannya salah. Tetapi kenapa di kecam oleh Tuhan Yesus? Karena pendekatannya terlalu menekankan keadilan, lupa menekankan kasih. Dengan keadilan kita bisa menghakimi pengajar-pengajar atau pengikut Nikolaus, tetapi lupa dalam nilai kasih mempertobatkan orang itu untuk kembali kepada firman. Akhirnya penghakimannya terlalu kuat, nilai encouragement spirituality tidak ada, kenapa? Karena mereka kehilangan kasih mula-mula. Disini kita harus belajar, kita tidak boleh kompromi dengan pengajaran palsu dan sesat, tetapi kita ingin merebut jiwa mereka kembali dalam cinta kasih kita melayani mereka untuk kembali kepada Tuhan. Bukankah Yesus Kristus pada waktu mengutus murid-murid-Nya Penginjilan dua dua diberikan satu pesan jikalau kamu ditolak kebaskanlah kakimu. Apakah ini artinya kita tidak boleh berdebat tentang Injil? Ya. Injil bukan untuk diperdebatkan. Bahkan di dalam Alkitab dikatakan jangan sembarangan memberitakan Injil, jangan kasih mutiara kepada babi. Itu berarti memberitahu kepada kita Injil itu berharga, Injil itu penting. Waktu orang itu masih mau terima silahkan engkau beritakan firman. Tetapi pada waktu orang itu hanya memanfaatkan setiap kata-kata dan mengajak kita berdebat, hati-hati, Injil adalah kebenaran. Tuhan bisa memakai satu berita Injil untuk mempertobatkan seseorang, tetapi kalau orang itu hanya mencari-cari satu kesalahan dan kita terus melayani berjam-jam, berhari-hari engkau hanya membuang-buang waktu. Ada orang lain yang rindu mendengarkan firman, karena itu kebaskanlah kakimu. Itu hanya satu simbol menunjukkan kepada kita, kita tidak bertanggung jawab untuk kematian orang itu, karena kita sudah memberitakan Injil pada orang itu. Seperti yang dikatakan Yehezkiel 3, jikalau kita tahu orang bersalah, jikalau kita tahu orang berdosa tetapi kita tidak pernah tegur kesalahan dan dosanya, waktu orang itu mati maka kita yang akan di tuntut Tuhan. Kenapa kita di tuntut? Karena kita tidak pernah menegur orang itu dalam keberdosaannya untuk mengakuinya di hadapan Tuhan. Disini setiap kita dipanggil untuk bagaimana menghambat supaya pengajaran-pengajaran sesat tidak berkembang, dan kita merebut jiwa mereka untuk kembalikan bagi Tuhan.

 

Pembahasan.

 

Apa tema pokok daripada surat 2 Petrus?

“IMAN Bertumbuh dalam Situasi yang Sulit”. Jadi jika hidup kita bisa bertumbuh dalam situasi yang sulit, puji Tuhan.Kalau kita di kasih pergumulan, kesulitan, tantangan hidup itu baru namanya puji Tuhan. Apa artinya? Sulit bukan karena kita berbuat dosa, sulit bukan karena kita berbuat salah, sulit bukan karena kita kurang hikmat, tetapi kesulitan ini diijinkan Tuhan untuk kita bertumbuh imannya. Disitulah kita bersyukur karena keimanan kita akhirnya bisa dilihat sampai sejauh mana kita bergantung sama Tuhan dalam situasi yang sulit. Sampai sejauh mana kita bergantung kepada Tuhan dalam seluruh dinamikan hidup kita yang semuanya sudah rutin. Disitulah kita belajar bagaimana surat 2 Petrus mengingatkan jemaat di Asia Kecil bersyukur jika ada gejolak iman, bersyukur jika Allah ijinkan untuk engkau bisa membedakan mana pengajaran yang benar, mana pengajaran yang salah. Disitulah baru ketahuan engkau mencintai iman sampai sejauh mana.

 

Situasi apa yang menyulitkan orang Kristen pada saat itu?

Dari dalam kita tahu Allah ijinkan jemaat Asia Kecil adanya guru-guru palsu, adanya nabi-nabi palsu, dalam konteks bahasa inggris disebut golongan heresy, penyesat-penyesat pada saat itu. Dari luar ada orang yang menghina kekristenan, orang Kristen terus dihina, di pojokan, di permalukan. Kita bersukur sekali ada orang-orang yang membenci kita. Karena dalam bagian inilah kita bisa melihat dalam kedaulatan Tuhan ternyata Tuhan justru didik jemaat yang dikasihi-Nya melalui kesulitan hidup. Dan surat rasul Petrus yang kedua ini memperingati jemaat di Asia Kecil untuk tidak boleh kompromi imannya dalam menghadapi kesesatan, dan juga tidak boleh memiliki sikap yang dendam dan marah untuk orang-orang yang menghina mereka, dan mereka juga harus memiliki sikap yang tegas melawan kesesatan di dalam Gereja. Disinilah kita baru tahu itulah konteks latar belakang daripada surat 2 Petrus ini di tulis.

 

Doktrin apa yang sesat pada saat itu?

Tidak percaya akan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya (band, Ul 13:1-3, 2 Yoh 1:7-11, 2 Tim 3:1-9). Jadi ternyata jikalau kita pernah baca Ulangan 13: 1 – 3, di dalam inti daripada 5 kitab Musa, intinya menyatakan siapa yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan, orang itu pasti mengasihi Tuhan, dan siapa yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, orang itu pasti mengasihi sesama manusia. Jadi bagaimana kita tahu orang itu diselamatkan dalam konteks Perjanjian Lama? Orang itu beribadah memberikan korban-korban bakaran kepada Tuhan. Di dalam 5 kitab pentateukh, Musa menulis bagian yang penting dalam Ulangan 13 : 1 – 3, akan ada nabi-nabi palsu, guru-guru palsu yang bahkan dapat mengadakan mujizat-mujizat. Dan dikatakan dengan jelas lagi, mengapa semua di ijinkan? Ayat 30 memberitahu kepada kita supaya kita teruji apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita, dengan segenap kekuatan kita, dengan segenap jiwa kita. Jadi jika engkau tidak mengasihi Tuhan engkau akan kompromi dengan gerakan yang bersifat fenomenal itu, engkau akan kompromi dengan gerakan-gerakan rohani yang hanya memuaskan emosi, memuaskan mata, memuaskan telinga, memuaskan secara motorik. Sedangkan dalam 2 Yohanes 1 : 7 – 11 mengingatkan kepada kita kualitas kita mengasihi Tuhan adalah ketika kita tidak mau kompromi dengan guru-guru palsu itu, dan kita mencintai kekudusan itulah bukti kalau kita anak Tuhan. jadi kalau engkau kompromi akan guru-guru palsu, engkau punya dosa dan hidupmu hidup dalam kecemaran, tetapi kalau engkau mencintai Tuhan, mencintai kebenaran, engkau tidak akan kompromi dengan pengajar-pengajar palsu, itulah yang mendorong kita akhirnya mau hidup dalam kesucian. Sedangkan dalam 2 Timotius 3 : 1 – 9 mengingatkan kepada kita ketika pengajar-pengajar palsu itu di ijinkan tidak lain adalah dia ingin menghancurkan iman kita. Dan bagaimana akhirnya Timotius diingatkan untuk kita bisa kuat menghadapi pengajar palsu itu kuncinya adalah ayat 10 – 17. Kita harus belajar bagaimana sesungguhnya hidup kita akan bisa ada satu kebahayaan karena adanya guru-guru palsu. Konteks pada saat itu orang tidak percaya konsep kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali untuk mengangkat untuk orang-orang yang akan diselamatkan untuk menikmati surga, dan tidak percaya konsep penghakiman untuk orang-orang berdosa pada saat itu, kenapa? karena mereka terlalu sering berdoa, minta dilepaskan daripada kesesakan hati mereka, mereka selalu berdoa minta dilepaskan daripada setiap kesulitan demi kesulitan yang mereka hadapi, dan mereka berkesimpulan Allah itu berdiam, Allah itu seperti tidak bekerja karena membiarkan orang yang jahat semakin jahat, orang yang menganiaya mereka semakin berani menganiaya mereka, akhirnya mereka tidak mempelajari akan Allah yang hidup dalam situasi yang sulit, dan iman mereka tidak bertumbuh dalam kesulitan, tetapi sebaliknya iman mereka hancur dalam kesulitan, dan akhirnya mereka mempercayai Allah tidak mungkin datang kedua kalinya untuk menjemput kita, melepaskan kita daripada sakit penyakit, melepaskan kita daripada penderitaan, Allah tidak mungkin datang karena kita dibiarkan tergeletak hancur oleh karena penganiayaan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Allah itu jauh, Allah itu tidak ada lagi, mari kita bebas berbuat dosa, mari kita menikmati seluruh tawaran dunia. Mereka hidup menjadi Kristen tapi tanpa Kristus, mereka menjadi orang Kristen namun hidup tanpa Alkitab, mereka hidup sebagai orang Kristen tanpa standart kesucian, mereka hidup menjadi orang Kristen tanpa sungguh-sungguh punya identitas rohani, itulah yang ditakuti oleh rasul Petrus terjadi. Maka dia menulis surat 2 Petrus ini supaya orang-orang Kristen tetap memiliki identitas rohani sebagai anak Tuhan, dan punya identitas rohani di dunia untuk menjadi terang dan garam dunia. Di dalam bagian inilah hati-hati dengan pengajaran-pengajaran sesat yang bisa membuat kita akhirnya imannya tidak murni, akhirnya kita berprilaku yang salah, kita berkonsep yang salah tentang Tuhan. Akibatnya apa? Akibat doktrin mereka yang salah, akhirnya mereka hidup di dalam keinginan nafsu dunia yang liar. Bolehkah setiap kita punya keinginan? Boleh. Tetapi sebelum kita membaca keinginan, kita harus membaca kebutuhan, apa yang paling pokok daripada seluruh need kita, apa yang paling primer, dan apa yang paling sekunder daripada need dan kebutuhan kita itu, baru seluruh keinginan kita yang bersifat penting dan tidak penting itu diatur. Masalah orang modern sekarang adalah menempatkan keinginan diatas daripada nilai kebutuhan. Jadi di dalam bagian inilah kita belajar etika Kristen mengajarkan kepada kita satu konsep kecukupan untuk kita tahu apakah yang kita inginkan itu punya nilai cukup atau tidak cukup. Jikalau ada nafsu yang berlebihan engkau dosa, jikalau engkau tidak punya standar kesucian engkau berdosa, dan di dalamnya ada standar lagi apakah semua itu sungguh-sungguh menjadi sesuatu kemuliaan Tuhan atau tidak. Hati-hati dengan keinginan kita yang liar. Menurut teologi Yakobus keinginan itu ditanamkan dari setan atau kita sendiri? Keinginan itu dari diri kita, jangan pernah mengatakan setiap keinginan itu datangnya dari setan. Disinilah teologi sukses prosperity gospel itu salah total. Kenapa salah total? Karena mereka selalu menekankan kalau orang yang berdosa yang disalahkan bukan orangnya, tetapi roh yang dari dalam dirinya yang menimbulkan keinginan. Jadi seolah-olah setan terus disalahkan. Akibat jemaat di Asia Kecil yang kompromi dengan ajaran sesat, akhirnya mereka terjebak dengan keinginan yang liar, dan mungkinkah melalui keinginan yang liar itu membuktikan mereka tidak punya iman? Mungkin. Mungkinkah terjadi dengan seperti apa yang dikatakan dalam Roma 1: 18 – 22 bahwa orang yang tidak sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan akan di hukum oleh Tuhan dalam dunia, yaitu diserahkan kepada kecemaran? Pada waktu mereka melakukan dosa tidak mungkin mereka punya rasa bersalah.

Hati-hati dengan keinginan, hati-hati dengan perilaku yang cemar, dan di dalam konteks surat Petrus dikatakan jangan bergaul dengan orang-orang yang cemar itu, apa artinya? Jangan terlalu bergaul akrab dengan orang yang cemar itu.

 

Apa bahayanya jika pengajar sesat dibiarkan?

Bagian yang pertama, dalam 2 Petrus 2 : 1 ditekankan jangan kompromi dengan ajaran sesat, jikalau kamu kompromi nanti kamu menganggap itu hal yang biasa. Ini penyakit yang berat jika kita menganggap ini penyakit yang sangat biasa, perjudian itu biasa, perzinahan itu biasa, korupsi itu biasa. Kenapa? Karena kita menganggap itu adalah sesuatu yang umum, dan itu akan menghancurkan kepekaan hati nurani kita. disini maka hati-hati dengan budaya yang mengandung dosa yang kita biarkan. Kita boleh menjadi orang yang berbudaya, tetapi berbudaya kita dengan identitas anak Tuhan. Kita boleh menghargai budaya tetapi kita jangan ditelan oleh budaya yang tidak punya nilai untuk memuliakan Tuhan. Disini kita belajar ketika kita tidak kompromi dengan ajaran yang sesat tidak lain untuk melatih kita punya kepekaan rohani supaya kita tidak bermain-main dengan kesesatan dan segala akibatnya. Apa bahayanya jikalau pengajar sesat kita biarkan? Hidup dalam kecemaran akan merusak moralitas orang itu. Ajaran sesat menghancurkan nilai standar kesucian, ajaran sesat akan menghancurkan standar konsep tentang cukup, konsep tentang hidup nilai tujuan untuk memuliakan Tuhan atau memuliakan diri atau mencari kenikmatan diri. Rasul Petrus mengingatkan kepada kita dalam 2 Petrus 2: 10 – 22 jangan kompromi dengan ajaran sesat, gunakan fungsi garammu untuk mematikan seluruh kecemaran itu. Rasul Petrus melihat keseriusan itu, dan jangan main-main dengan semuanya itu. Kenapa kita harus melihat semuanya ini suatu bahaya? Karena dikatakan kalau sampai kompromi orang itu hidup dalam kecemaran, orang itu tinggal tunggu waktu untuk menjadi murtad. 2 Petrus 2 : 20 – 22 sudah mencatat itu, kenapa ada orang rela sampai tidak percaya lagi Tuhan Yesus, rela menjual imannya demi mendapatkan kenikmatan dunia. Maka haruskah kita membiarkan pengajar sesat itu ada? Tidak. Reformed itu tegas, kita harus melawan, kita harus mematahkan setiap pikiran-pikiran yang sesat, kita merebut orang-orang itu untuk kembali kepada Tuhan, karena dengan jelas Alkitab mengajarkan itu kepada kita semua.

 

Mengapa Iman kita harus selalu bertumbuh dalam situasi yang sulit ini?

Ingat 2 Petrus 1: 21, karena ada kuasa Tuhan bekerja untuk setiap orang-orang pilihan-Nya. Ingat  Yohanes 1 : 12, jikalau kita sungguh-sungguh anak Allah, maka kuasa Tuhan akan diberikan kepada kita, kuasa dunia melalui penganiayaan, kuasa pemerintah membuat kita sulit, kuasa setan yang ingin merebut kita dari tangan Tuhan tidak mungkin bisa merebut daripada tangan kasih Tuhan. Ini berarti menunjukkan kepada kita sekali kita diberikan anugerah keselamatan, keselamatan itu kekal sampai selama-lamanya. Maka kita menghidupi keselamatan ini dengan damai, dengan kepastian, dengan satu jaminan bahwa Allah Tritungal akan pelihara iman kita. Jadi jangan buat alasan iman tidak bertumbuh karena ada kesulitan, tetapi sebaliknya kita bersyukur kalau kita ada kesulitan. Kenapa kita harus bertumbuh imannya dalam kesulitan? untuk melatih kepekaan iman kita untuk kita hidup bisa membedakan mana ajaran yang benar, mana ajaran yang palsu. Di dalam 2 Petrus 2 : 21 – 22 kita akan mempelajari itu semua. Bagaimana kita punya kepekaan rohani seperti ini? Bacalah Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Kenapa kita harus bertumbuh? Karena iman kita bertumbuh kita akan diberikan senjata-senjata rohani dan senjata rohani yang paling tertinggi yaitu pedang roh (firman Tuhan). Hal ini memberitahu, kita akan merubuhkan pemikiran-pemikiran pengajar-pengajar sesat, akan merebut akan ajaran-ajaran sesat itu kembali kepada Tuhan, kita membutuhkan pengetahuan tentang firman Tuhan yang komprehensif, kita membutuhkan ajaran firman Tuhan yang utuh. Itu yang dikatakan dalam 2 Petrus 3: 1 -38. Dalam bagian inilah kita akan melihat kualitas pertumbuhan iman kita, dan bagaimana sikap kita bisa membalikkan dan bisa memenangkan jiwa orang-orang itu kembali kepada Tuhan.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YF)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami