Hidup Menurut Ukuran Iman

Hidup Menurut Ukuran Iman

Categories:

Bacaan alkitab: Roma 12:3 -8

 

Kalau kita pikir sama-sama kalau kita mendengar satu kata “mengukur” kita pikir pengukur itu satu hal  tentunya yang sangat penting, hampir seluruh aspek kehidupan kita berkaitan dengan ukuran, dan ukuran-ukuran yang ada dalam kehidupan kita itu semuanya sangat signifikan adanya. Misalnya berat. berat itu juga sangat penting sekali ya, khususnya toko perhiasan berat itu adalah segala-galanya, lebih satu gram saja sudah sanget berefek sekali, dan juga hal-hal yang lain misalnya tinggi, panjang, lebar ini juga sangat penting. Jadi di dalam kehidupan kita ukuran itu satu hal yang cukup penting adanya, dan kalau salah ukur, entah kebanyakan, entah kekurangan itu akan sangat berdampak. Begitu juga misalnya kontraktor bangunan, kalau kepanjangan ukurannya, kalau kekurangan, adukan semennya kebanyakan atau kekurangan bangunannya bisa ngeri juga. Jadi ternyata di dalam kehidupan kita banyak sekali pengukuran-pengukuran dan banyak sekali pengukuran-pengukuran tersebut ternyata adalah pengukuran yang sangat penting adanya, yang sangat mempengaruhi nanti keluarnya seperti apa, entah di dapur, entah di toko, entah di bangunan, entah di mana-mana banyak sekali pengukuran yang ada. yang hari ini kita boleh belajar sama-sama ternyata pengukuran juga sangat penting di dalam kehidupan orang Kristen, bagaimana kita mengukur diri itu juga sangat penting, entah kita mengukur diri ketinggian, entah kita mengukur diri kerendahan, itu sangat berdampak di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, dua-duanya itu sangat berdampak di dalam kehidupan kita.

 

  1. Pentingnya Mengukur Iman

 (3) Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Jadi pengukuran diri itu sangat penting di dalam kehidupan seorang Kristen, kita jangan kelebihan juga jangan kekurangan, ikut seturut dengan takaran yang Tuhan mau, Tuhan maunya seperti apa ukurannya, dan kiranya kita boleh mengukur diri seturut dengan standar yang Tuhan mau tersebut sehingga kita memiliki ukuran yang pas dan tepat seturut dengan apa yang Tuhan mau untuk diri kita masing-masing, dan dari situ kita boleh menjalani juga kehidupan kita juga dengan baik. coba kita bayangkan kalau kita menganggap diri kita itu terlalu luar biasa, merasa canggih dan merasa hebat pasti sangat berlainan dengan kalau kita berkata: saya tidak apa-apanya, saya lemah. Ini dua hal yang kontras sangat luar biasa, dan itu akan menghasilkan juga kehidupan yang sangat berbeda, entah kita o  atau entah kita di bawah, dua-duanya akan menghasilkan kehidupan yang berbeda. Di dalam bagian ini rasul Paulus mengajak kita dan mendorong kita untuk tidak seperti itu, untuk tidak muluk-muluk dan juga untuk tidak rendah seperti itu. yang rasul Paulus inginkan adalah seturut dengan takaran yang Tuhan berikan kepada kita. takarannya apa? standarnya apa? Standarnya di dalam bagian ini adalah sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

 

  1. Mengapa standard iman penting

Mengapa standard iman ini penting? Jawabannya ada di ayat beritkunya, dalam Roma 12 : 2. Ayat sebelumnya. (2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Ini maksud standar imannya. Ketika kita mengacu pada standar iman seperti ini kita bisa membedakan kehendak Allah dan hal-hal yang lain tersebut dari sanalah kita boleh menentukan posisi kita itu yang mana, standar kita yang mana, sekarang identitas kita itu yang seperti apa, karena kita akhirnya baru bisa mengerti posisi kita dimana kalau kita mengikuti standar yang Allah sudah buat tersebut. Semakin kita mengenal Allah kita semakin mengenal diri kita, dari poin referensi Allah itu kita akhirnya bisa tahu posisi kita di mana. Sehingga kita tidak kelebihan dan tidak kekurangan.

Dari bagian ini kita penting sekali untuk boleh mengenal posisi kita di mana, dan akhirnya bisa menjalani kehidupan kita sebagai orang Kristen dengan baik, karena kalau tidak pasti akan sangat susah sekali. tanpa kita belajar firman dengan baik, tanpa kita mengenal iman kita itu dengan baik kita akan susah untuk menentukan saya posisinya di mana, karena seseorang bisa punya pandangannya tersendiri akan dirinya sendiri. Kalau kita tidak punya standar dalam kehidupan kita khususnya standar iman, kita akan menjadi orang yang berubah-rubah, yang memandang diri kita juga berubah-rubah. Makanya rasul Paulus tidak aneh dalam bagian ini mengembalikan kita kepada takaran iman kepada ukuran iman yang sesungguhnya, yaitu kembali lagi kepada kebenaran firman Tuhan itu sendiri supaya kita akhirnya punya identitas, punya posisi yang tepat, tidak ketinggian dan tidak kekurangan.

 

  1. Mengukur Iman berarti menyadari dan melakukan tugas masing-masing sebagai jemaat

Kita lanjutkan pembahasan kita di ayat ke 4. (4) Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, (5) demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. disini kita mungkin berpikir saya itu adalah gambar dan rupa Allah, saya sama anggota yang lain sama, saya sama-sama manusia, sama-sama yang diciptakan mirip dan mewakili Allah sesama seluruh orang percaya, ya benar, tetapi di sisi yang lain ini bukan berarti sama-sama gambar dan rupa Allah itu fungsinya juga selalu sama, ternyata tidak, dan ternyata fungsinya itu juga berlainan, ternyata juga ada tugas-tugas yang berlainan yang harus dilakukan seseorang dan tidak usah dilakukan orang lain, setiap orang meskipun sama-sama gambar dan rupa Allah ternyata memiliki tugas-tugas yang berbeda, ini salah satunya posisi yang harus kita sadari sebagai orang Kristen, jadi tidak kelebihan dan juga tidak kekurangan.

Di sini justru yang menarik itu adalah meskipun berbeda-beda tetapi menjadi satu kesatuan. Terkadang kita pikir kesatuan itu lebih gampang di capai kalau semuanya sama, tetapi kalau kita pikir-pikir lagi kayanya justru tidak, justru ketika perbedaan itu di apresiasi ini akan menghasilkan satu harmoni yang bagus, sedangkan kalau perbedaan itu justru di sama ratakan, di tekan, di paksa supaya jadi sama rata bukankah ini jadinya kacau. Di sini kita boleh lihat sama-sama ternyata perbedaan itu adalah hal yang baik dan ternyata bisa sangat mendukung adanya harmonisasi ketika semuanya di apresiasi dengan baik. ini menyangkut tentang pembahasan kita kali ini. kalau setiap orang mengerti posisinya, mengerti posisi orang lain juga seperti apa, akhirnya semua orang bisa menjalankan perannya dengan baik-baik itu justru semuanya akan menghasilkan Gereja yang sangat maju, Gereja yang sangat bisa berkembang seturut dengan apa yang Tuhan mau. Kadang-kadang kita tidak tahu posisi kita, jemaat yang lain tidak tahu posisinya sehingga di Gereja itu kaya gado-gado yang isinya cuma timun. Kiranya kita boleh memahami posisi kita dengan posisi yang benar, dan semua posisi yang benar itu harus dibalikan kepada kebenaran firman Tuhan. ketika kita merenungkan firman kita jadi tahu posisi kita itu dimana, dan kita menjalankan posisi itu dengan sangat baik, ya kita adalah gambaran dan rupa Allah, anggota tubuh Kristus, kita bagian yang mana? Tugas kita yang mana di dalam tubuh Kristus ini? ini sangat penting sekali pemahanan ini di dalam kehidupan bergereja. Kalau semua mau memahami posisinya seperti apa dan kalau semua mau menjalankan tugasnya seperti apa dengan baik-baik pasti sangat indah sekali. dalam tubuh Kristus tidak semuanya tangan, dalam tubuh Kristus tidak semuanya kaki, kiranya kita boleh memahami apa tugas kita di dalam bagian daripada tubuh Kristus ini.

 

  1. Mengukur iman berarti menyadari dan mengembangkan karunia yang Tuhan berikan

Setelah itu dilanjutkan oleh rasul Paulus di bagian yang selanjutnya yaitu Roma 12: 6 – 8. Di sini ada 7 karunia. (6) Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. (7) Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; (8) jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita. Disini kita boleh lihat tadi bukan saja setiap orang memiliki tugas yang berbeda, yang selanjutnya kita boleh melihat setiap orang memiliki karunia-karunia yang berbeda, tidak semua orang memiliki karunia yang sama, ada seorang yang mempunyai karunia bernubuat (ini biasa di mengerti sebagai berkotbah), ada juga seseorang punya karunia melayani (melayani disini seperti penggembalaan), ada yang bisa mengajar, ada yang bisa menasehati (seperti konseling). Semua orang memiliki karunia yang berbeda. Dan ketika setiap orang juga tidak kembali kepada karuna yang Tuhan berikan atau dia tidak sadar karunianya apa, dan tidak mau menjalankan karunianya. Maka ini semua akan menghasilkan hal-hal yang tidak baik di dalam bergereja.

Hal seperti ini bagaimana kita boleh memahami karunia apa yang Tuhan berikan kepada kita, dan kita boleh pakai dengan sebaik-baiknya. Kalau kita mengukur iman kita maka kita baru tahu diri kita ini posisinya dimana, diri kita ini tugasnya apa, diri kita ini harus menjalankan apa dalam kehidupan bergereja. Ini yang rasul Paulus coba berikan, karena dari situ, dari orang-orang yang memahami dirinya seperti apa, tidak ketinggian, tidak kebawahan disitu baru Gereja bisa maju, disitu baru ada kedamaian bergereja. Kalau selama pemandangan kepada diri tidak benar, tidak pas, ketinggian, kerendahan gereja itu sangat susah sekali untuk maju dan mungkin juga ada kekacauan di dalam Gereja, bukannya kebaikan di dalam Gereja. Selama kita menganggap diri ketinggian atau kerendahan, tidak menganggap diri secara pas tidak seturut dengan yang Tuhan mau itu pasti berakibat buruk dalam kehidupan bergereja. Mari sama-sama kita boleh merenungkan firman Tuhan supaya kita bisa tahu apa itu kehendak Allah

 

Sebagai penutup khotbah saya ingin ingatkan satu kata “takaran”. Kata ini sangat di sukai oleh Tuhan, Tuhan itu memberikan segala sesuatu tidak pernah tanpa takaran dan langsung di obral, tidak seperti itu cara Tuhan. Tetapi Tuhan memberikan segala sesuatu itu dengan takaran-

takarannya dengan ukuran-ukuranya. Tugas kita sebagai anak-anaknya adalah boleh bercermin dari Alkitab, dan boleh melihat takaran kita apa, yang sudah Tuhan kasih apa, dan jalankan takaran kita baik-baik. dari sini kita boleh melihat Gereja yang maju, dari sini kita boleh melihat Gereja yang justru akan tumbuh ke depan. Mari sama-sama kita menjalani bagian kita. bukan masalah kelebihan atau kekurangannya, tetapi setiap orang memiliki karunianya masing-masing. Bukan melihat kalau Gereja kurang baru saya melayani, itu juga aneh. Kalau Gereja kelebihan, saya jadi tidak usah melayani, itu juga bukan pandangan yang benar. lihatnya diri itu setelah saya berkaca dari firman saya itu tugasnya dimana, saya itu posisinya dimana, karunia yang Tuhan kasih ke saya itu apa, apakah saya sudah kerjakan itu baik-baik, sudahkah kerjakan tugas yang sudah Tuhan percayakan kepada kita baik-baik. kiranya kita boleh sama-sama berkaca di dalam standar iman kita yaitu firman Tuhan kita itu sendiri dan kita boleh menemukan posisi kita dimana, tidak memandang ketinggian, tidak memandang kerendahan, tugas kita apa, karunia kita apa, kita boleh jalankan semua dengan sebaik-baiknya.

 

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-JT)

Bitnami