Hidup dalam Belas Kasihan Tuhan (Bagian 2)

Hidup dalam Belas Kasihan Tuhan (Bagian 2)

Categories:

Khotbah Minggu 30 Agustus 2020

Hidup dalam Belas Kasihan Tuhan (2)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas ‘Hidup dalam Belas Kasihan Tuhan’ bagian yang kedua. Ayat yang kita akan pelajari adalah 2 Samuel 15:13-37 dan 2 Samuel 18:1-32. Orang-orang Yehuda setia mengikuti Daud, namun tentara Israel mengikuti Absalom.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Mengapa Daud sebagai raja yang saleh memiliki anak yang jahat dan mau mengudeta kerajaannya? Kita sering berpikir bahwa orang tua yang rohani pasti memiliki anak-anak yang rohani. Tumbuhan yang baik pasti menghasilkan buah yang baik. Dari buah yang baik ini akan tercipta generasi yang baik pula. Ternyata di sini tidak ada hukum tabur tuai yang terjadi secara harmonis. Kita tahu bahwa Daud memiliki banyak istri. Dikatakan bahwa ada 15 anak yang mengikuti Daud setelah pulang dari melawan Absalom. Daud memiliki banyak istri dan banyak anak namun belum tentu memiliki waktu untuk mendidik anak-anaknya. Jadi ini belum tentu merupakan program Tuhan. Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengizinkan ini terjadi. Kita harus belajar bagaimana mendidik anak dengan benar. Apakah hal ini berkaitan dengan nubuatan hukuman untuk dosa Daud (2 Samuel 12:10)? Setelah ia berzinah dengan Betsyeba, Daud membunuh Uria. Nabi Natan sudah menubuatkan bahwa pedang tidak akan terlepas dari keluarga Daud. Absalom mengambil istri-istri Daud dan berzinah dengan mereka semua di depan umum. Itu dilakukan oleh Absalom karena nasihat Ahitofel. Di sini kita bisa melihat nilai konsekuensi dan belas kasihan Tuhan. Karena dosanya membunuh Uria, Daud mendapatkan konsekuensi. Keluarga Daud menanggun hal itu. Jadi Tuhan berbelas kasihan namun tidak melepaskanna dari konsekuensi. Tuhan memakai Nabi Natan untuk menegur Daud dan menubuatkan hukuman bagi Daud.

 

            Mengapa Daud tidak berperang secara langsung di Yerusalem dan memilih untuk melarikan diri dari Absalom? Daud pasti mampu untuk hal ini, namun mengapa ia tidak mau berperang secara terbuka? Mengapa Daud dan intelijennya sangat lengah dengan siasat Absalom selama 2 tahun yang mau mengudeta kerajaannya? Mengapa rencana Absalom bisa tidak diketahui? Apakah Daud terlalu percaya bahwa tiga tahun di Gesur itu membuat Absalom bertobat? Bagaimana Daud bisa tahu bahwa Absalom sudah bertobat? Padahal Daud tidak pernah memanggil Absalom. Setelah Absalom pulang, Daud tidak pernah sekalipun menegur dosanya. Jadi kita harus berhati-hati ketika membangun kepercayaan. Kepercayaan kita bisa disalah-gunakan. Bagaimana sikap Daud menyelesaikan semua masalah ini? Ini bukan hal biasa yaitu seorang anak ingin membunuh ayahnya sendiri. Mata hati nuraninya seperti buta dan tidak peduli akan ayahnya serta masa depannya. Ia hanya memikirkan kekuasaan dan kenikmatan. Hal yang penting untuk kita perhatikan adalah sikap Daud dalam menghadapi semua ini. Kita harus mempelajari bagaimana Daud hidup dalam belas kasihan Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Arti hidup dalam belas kasihan Tuhan

            Kita sudah pernah membahas bagian ini. Hidup dalam belas kasihan Tuhan berarti memercayakan hidupnya 100% pada kedaulatan Tuhan, keadilan Tuhan, pertolongan Tuhan, dan lainnya dalam setiap langkah hidupnya. Saul pernah melemparkan tombak ke arah Daud namun Daud selalu lolos. Dua kali Daud mendapatkan kesempatan untuk membunuh Saul namun ia tidak melakukannya. Jadi Daud berbelas kasihan pada Saul. Ia selalu melibatkan Tuhan dalam setiap pergumulannya. Jadi cara Tuhan itu ternyata lebih adil. Daud tidak harus mencemarkan tangannya dan mengeluarkan tenaganya untuk mencari kepuasan dalam membunuh Saul. Ia menyerahkan semuanya ke dalam kedaulatan Tuhan.

 

2) Hidup dalam belas kasihan Tuhan bagian kedua

            Kerajaan Daud dikudeta oleh Absalom namun ia tetap berbelas kasihan kepada Absalom, anaknya (2 Samuel 18:1-33). Daud sangat sedih namun tidak marah kepada Absalom. mengapa ia justru menyatakan belas kasihannya? Mengapa Absalom ingin membunuh Daud? Apakah ini kelanjutan dari pembunuhannya terhadap Amnon? Mungkinkah Absalom dendam karena Daud tidak menghukum Amnon? Apakah ini merupakan Daud yaitu belas kasihannya terlalu besar dan keadilannya terlalu kecil dalam pendidikan anak? Apakah cintanya berlebihan dan ia kurang adil? Akhirnya Amnon dibunuh oleh Absalom dan kemudian ia kabur ke Gesur selama tiga tahun (2 Samuel 13:23-29). Setelah itu Daud merindukan Absalom. Yoab mengetahui hal itu dan kemudian ia mengatur agar Absalom bisa kembali pulang. Namun setelah Absalom pulang, Daud tidak pernah mendidik iman Absalom. Absalom tidak pernah menyatakan pertobatan. Di sini Absalom menjadi tinggi hati. Setelah ia pulang, selama dua tahun ia merasa terasing dan tidak pernah dipanggil untuk menghadap ayahnya. Di sana muncul ide-ide jahat. Selama 2 tahun itu ia mengatur strategi untuk mengudeta kerajaan ayahnya. Ia bahkan sudah rela untuk membunuh ayahnya (2 Samuel 15). Seluruh rencananya ini dibantu oleh Ahitofel. Di dalam bagian ini Daud dan intelijennya sangat lengah. Apakah ini karena Ahitofel mengerti kelemahan dalam kerajaan Daud? Jawabannya: ya.

 

            Mengapa Daud membiarkan anaknya selama dua tahun dan tidak mendidiknya? Ia percaya bahwa anaknya sudah bertobat, padahal kenyataannya tidak demikian. Jadi belas kasihan Daud dibalas dengan kemarahan. Daud memberikan kebebasan namun Absalom menyalahgunakan itu. inilah anak yang kurang ajar dan berdosa. Absalom sudah dikuasai oleh ambisinya. Jadi belas kasihan kita belum tentu dibalas dengan hal-hal baik. Orang yang tidak sungguh-sungguh bertobat akan membalas dengan hal-hal jahat. Daud sungguh terbuka di hadapan Tuhan dan ia mau ditegur, namun anak-anaknya tidak demikian. Ini karena ia memiliki banyak istri dan anak. Daud memiliki empat anak laki-laki: Amnon, Absalom, Adonia, dan Salomo. Amnon dibunuh oleh Absalom dan Absalom dibunuh oleh Yoab. Setelah itu Adonia dibunuh karena Salomo. Yoab pun dibunuh oleh Salomo. Jadi tinggal Salomo pada akhirnya. Kita terkadang ingin memiliki banyak anak, namun kita harus mengerti bagaimana mendidik semua anak kita. Jadi kemauan harus diikuti dengan kemampuan, kebijakan, progres, dan pendampingan. Tanpa semua ini kita bisa gagal karena anak-anak yang kita didik adalah manusia berdosa. Mereka punya otonomi dalam kebebasannya. Di dalam semua itu ada dosa dan keinginan yang tidak suci. Inilah yang terjadi dalam keluarga Daud. Inilah mengapa Absalom bisa menjadi begitu jahat. Ibunya adalah Maakha yaitu anak raja di Gesur. Pasti Maakha tidak mendapatkan pendidikan iman dan tidak memberikan pendidikan iman kepada Absalom. Daud juga tidak memberikan pendidikan iman. Absalom begitu tampan dan baik perawakannya. Tamar, saudarinya, pasti juga cantik sampai Amnon jatuh cinta dan berani memerkosanya.

 

            Absalom, selain perawakannya begitu baik, pintar mengambil hati rakyat. Ia menjadi pemimpin yang selalu memberikan solusi bagi rakyat selama dua tahun. Dari hal ini Absalom menjadi terkenal. Ini membuat orang Israel percaya kepadanya. Jangan sampai kita ditipu oleh penampilan dan sikap yang kelihatannya baik. Kebaikannya selama dua tahun itu ternyata dibangun untuk melancarkan ambisinya. Orang-orang pasti yakin bahwa Absalom adalah orang baik. Selama dua tahun ia terus bangun pagi dan membantu rakyat menyelesaikan masalahnya. Namun manusia berdosa ternyata bisa menggunakan topeng dan terlihat baik selama itu. Jadi kita harus menguji setiap orang. Alkitab berkata: ujilah setiap roh (1 Yohanes 4:1). Inilah permainan politik Absalom. Banyak politikus pada masa kampanye bisa terlihat begitu baik, namun setelah tujuannya tercapai banyak janjinya tidak terpenuhi. Apakah rakyat Israel terlalu bodoh? Absalom terlalu pintar dan sanggup membodohi rakyat.

 

3) Sikap Daud dalam menghadapi Absalom dan pengikutnya

            Daud tidak marah terhadap Absalom dan pengikutnya. Hatinya sangat suci. Daud menyatakan belas kasihannya kepada Absalom. Inilah kelebihan sekaligus kelemahan Daud. Ia tidak berani menyatakan keadilan. Daud melarikan diri dari Absalom karena menghindari terjadinya perang saudara di kerajaannya (bandingkan 2 Samuel 12:10). Ia lari ketika Saul mau menombaknya dua kali seperti Yusuf lari dari pencobaan. Samson ditipu oleh Delila sampai tiga kali namun ia tetap mengasihi Delila. Jadi cintanya telah membutakan rasionya. Daud melarikan diri bukan karena takut. Ia tidak mau ada perang saudara di dalam kerajaannya. Ia sudah mendengar nubuat Nabi Natan bahwa pedang tidak akan terlepas dari keluarganya. Daud lari juga karena Daud mau menjaga kekudusan kota Yerusalem karena di sana ada tabut perjanjian Allah. ia tidak mau menodai kesucian dan mengorbankan rakyat. Ia memilih untuk mundur dan mencari pimpinan Tuhan.

 

            Sikap Daud yang kedua adalah Daud meminta belas kasihan Tuhan. Daud menyerahkan semua perkara kepada kedaulatan Tuhan (2 Samuel 15:25-26). Daud berkata kepada Zadok: Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya. Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya (ayat 25-26). Daud menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Jadi Daud menerima apapun keputusan Tuhan dan ia percaya bahwa Tuhan itu baik. Jadi Daud bukan lari sebagai seorang penakut tetapi ia lari dan menyerahkan semua perkara itu ke dalam tangan Tuhan. Semua hal itu dilihat oleh Daud dari kacamata Tuhan. Ia tidak menyalahkan istrinya yaitu Maakha. Ia juga tidak menyalahkan orang-orang Gesur. Sebagai orang Kristen, ketika kita melihat dari kedaulatan Tuhan, maka kita tidak akan mengungkit dan mempermasalahkan masa lalu. Yusuf tidak pernah mempermasalahkan kakak-kakaknya yang dahulu menjual dirinya. Ia melihat semua itu dalam kedaulatan Tuhan. Itulah sikap kita dalam menghidupi kedaulatan Tuhan. Orang yang terus menerus tidak bisa meninggalkan masa lalunya tidak akan maju hidupnya dan imannya. Ketika mengampuni, kita juga melupakan karena kita tahu akan nilai kedaulatan Tuhan. Jika kita bisa menyatakan hal-hal baik kepada orang-orang yang pernah merugikan kita, maka pasti mereka akan bingung. Namun di sana kita sudah menjadi berkat bagi mereka. Di sana kita menjadi saksi hidup yang memperkenalkan kasih Kristus. Kalau kita mengampuni namun tidak melupakan, maka kita telah gagal. Daud menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Ini bukanlah hal yang mudah.

 

            Kita yang sudah ditebus oleh Tuhan tidak akan ditinggalkan oleh Tuhan. Tuhan Yesus dikhianati oleh Yudas namun Ia tidak pernah memaki Yudas. Justru Tuhan Yesus mengizinkan Yudas melakukan apa yang direncanakannya. Kita hidup dalam belas kasihan Tuhan dan bukan kemarahan dan sakit hati kita. Zadok akhirnya pulang seperti arahan Daud. Sikap Daud dalam meminta belas kasihan Tuhan adalah berdukacita sambil berjalan/mendaki bukit Zaitun dan menangis (2 Samuel 15:30). Bukit itu mengarah ke sungai Yordan. Jadi Daud melewati beberapa bukit tanpa alas kaki. Itu pasti menyakiti kaki Daud karena jalan di sana berbatu-batu. Tenaga Daud pasti terkuras. Di zaman itu ketika orang-orang mau berdoa di tempat perbukitan itu, mereka harus punya tekad karena tenaga mereka pasti terkuras. Mengapa Daud menangis? Apakah ia menangisi Absalom atau kerajaannya? Daud menangis dalam pertobatan. Ia menangisi masa lalu dan kekurangannya dalam mendidik Absalom. Jadi ini adalah dukacita rohani. Ini dilakukan oleh Daud selama berjam-jam. Ketika Husai menjumpai Daud, ia melihat jubahnay terkoyak (ayat 32). Saat itu rakyat yang mengikuti Daud menutup kepalanya. Jadi ada pertobatan nasional di sini. Perjalanan ini pasti berat bagi Daud dan orang-orang yang mengikutinya. Namun Daud benar-benar menyatakan hatinya yang berduka.

 

            Dalam meminta belas kasihan Tuhan, Daud berdoa dan menyembah Allah (2 Samuel 15:31-32, bandingkan Mazmur 3). Ia menyembah Tuhan di puncak. Ia membawa semua perkara dalam doanya. Semua itu dicatat dalam Mazmur 3. Apa yang dilakukan oleh Daud bukanlah omong kosong. Daud tidak berhenti pada tangisan pribadi tetapi membawa semua itu ke dalam tangan Tuhan. Jadi Daud rendah hati dalam setiap aspek. Ia tidak rendah hati pada momen-momen tertentu saja. Masalah kita selesai bukan karena mental kita yang kuat atau kuasa kita yang kuat. Daud menyelesaikan masalahnya dengan menghadap Tuhan dan menyerahkan kepada Tuhan. Tuhan memiliki waktu dan hikmat-Nya sendiri dalam menyelesaikan setiap masalah. Ia memulai dengan diri Daud. Daud menyikapi semua itu dengan benar. Setelah itu Daud juga memakai strategi. Ia mendiskusikan strateginya dengan Husai. Akhirnya Allah memakai Husai untuk menggagalkan nasihat Ahitofel kepada Absalom. Pada akhirnya peperangan juga tidak terhindarkan dan Absalom mati (2 Samuel 18). Husai taat pada Daud dan melaksanakan perintahnya. Kepada Absalom, Ahitofel memberikan nasihat: Izinkanlah aku memilih dua belas ribu orang, maka aku akan bersiap dan mengejar Daud pada malam ini juga. Aku akan mendatangi dia, selagi ia lesu dan lemah semangatnya, dan mengejutkan dia; seluruh rakyat yang ada bersama-sama dengan dia akan melarikan diri, maka aku dapat menewaskan raja sendiri. Demikianlah aku akan membawa pulang seluruh rakyat itu kepadamu seperti seorang mempelai perempuan kembali kepada suaminya. Jadi, engkau mencari nyawa satu orang saja, sedang seluruh rakyat tetap selamat (1 Samuel 17:1-3).

 

            Namun Husai memberikan nasihat yang berbeda: Nasihat yang diberikan Ahitofel kali ini tidak baik. Engkau tahu, bahwa ayahmu dan orang-orangnya adalah pahlawan, dan bahwa mereka sakit hati seperti beruang yang kehilangan anak di padang. Lagipula ayahmu adalah seorang prajurit sejati; ia tidak akan membiarkan rakyat tidur. Tentulah ia sekarang bersembunyi dalam salah satu lobang atau di salah satu tempat. Apabila pada penyerangan pertama beberapa orang tewas dan ada orang mendengar hal itu, maka orang akan berkata: Rakyat yang telah mengikut Absalom sudah menderita kekalahan. Maka seorang gagah perkasa sekalipun yang hatinya seperti hati singa akan tawar hati sama sekali, sebab seluruh Israel tahu, bahwa ayahmu itu seorang pahlawan dan orang-orang yang bersama-sama dia adalah orang gagah perkasa. Sebab itu kunasihatkan: Suruhlah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba berkumpul kepadamu, seperti pasir di tepi laut banyaknya dan engkau sendiri juga harus turut bertempur. Apabila kita mendatangi dia di salah satu tempat, di mana ia terdapat, maka kita akan menyergapnya, seperti embun jatuh ke bumi, sehingga tidak ada yang lolos, baik dia maupun orang-orang yang menyertainya. Dan jika ia mengundurkan diri ke suatu kota, maka seluruh Israel akan mengikat kota itu dengan tali, dan kita akan menyeretnya sampai ke sungai, hingga batu kecilpun tidak terdapat lagi di sana (1 Samuel 17:7-13).

 

            Absalom merasa bahwa nasihat Husai lebih masuk akal, jadi ia mendengarkan Husai. Itu membuat Ahitofel pergi pulang ke rumahnya dan bunuh diri. Mengapa ia bunuh diri? Ahitofel memiliki ambisi untuk menjadi orang penting dalam kerajaan. Ia tahu bahwa ia bisa memanfaatkan Absalom agar ia diangkat menjadi orang penting. Ia juga tahu bahwa ketika nasihatnya tidak didengar, maka Absalom pasti gagal dan mati. Ahitofel sadar bahwa kalau Absalom mati, maka dirinya juga akan dibunuh. Jadi ia sudah tahu bahwa Absalom akan gagal. Daud dan tentaranya tidak mau berperang dengan tentara Absalom di padang gurun. Mereka memanfaatkan hutan sebagai tempat berperang yang menguntungkan mereka. Ternyata di hutan itu rambut Absalom tersangkut dan ia tidak bisa kabur. Ahitofel itu pintar namun ia tidak memakai kepintaran itu untuk kemuliaan Tuhan. Jadi ambisinya membunuh dirinya sendiri. Ia tidak takut akan Tuhan tetapi hanya takut gagal sehingga ia lebih memilih untuk bunuh diri daripada dibunuh. di dunia ini ada banyak orang pintar, namun orang pintar yang takut akan Tuhan itu jumlahnya sedikit. Di sini kita juga belajari dari Husai yang setia. Ia melaporkan hal-hal penting kepada Zadok (ayat 15-16). Ahimaas dan Yonatan menunggu kabar itu dan kemudian menyampaikannya kepada Daud (ayat 17). Akan tetapi mereka berdua ketahuan lalu kemudian mereka bersembunyi di dalam sumur (ayat 18). Jadi ada orang-orang yang simpati terhadap Daud.

 

            Tetapi ada pula orang-orang yang tidak simpati kepada Daud. Salah satunya adalah Simei (2 Samuel 16:5). Ia mengutuki dan melempari Daud dengan batu. Simei berasal dari keluarga Saul. Apa yang dilakukan Simei membuat Abisai menjadi marah dan ingin membunuhnya. Namun jawab Daud (ayat 10-12): Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian? Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian. Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini. Setelah semua itu selesai, Absalom mati, dan Daud pulang ke Yerusalem, Simei memohon ampun (2 Samuel 19:19-20). Di sini kita belajar untuk tidak melampiaskan emosi seperti Simei.

 

            Apa sikap Daud ketika Absalom mati? Daud menangisi kematian Absalom (2 Samuel 18:33 dan 19:1-8). Daud meminta belas kasihan Tuhan dan ia berbelas kasihan kepada Absalom, namun Absalom mati di tangan Yoab. Ketika Absalom tersangkut di pohon, Yoab melemparkan tiga tombak ke dadanya. Jadi ada dendam di dalam hatinya. Ketika Daud sebelumnya ingin ikut berperang, Yoab mencegahnya. Seluruh tentara diberitahu untuk tidak membunuh Absalom, namun Yoab mengabaikan perintah itu. Satu tombak ke dada Absalom saja sebenarnya sudah cukup untuk membunuh Absalom, namun Yoab menyimpan dendam kepadanya. Mayat Absalom langsung dikubur di sana. Ketika mendengar bahwa Absalom telah mati, Daud menangis. Karena itu tentaranya masuk ke kota secara diam-diam. Kemenangan yang diraih itu menjadi kemenangan yang mendatangkan perkabungan dan rasa malu (2 Samuel 19:1-3). Daud yang menangis kemudian ditegur oleh Yoab (2 Samuel 19:4-8). Teguran itu didengar oleh Daud dan ia mau tampil di hadapan rakyat.

 

 

KESIMPULAN

 

            Ini bukanlah hal yang mudah. Belas kasihan kita diuji dalam ruang dan waktu. Kesimpulan kita adalah:

 

1) Hidup dalam belas kasihan Tuhan membuat Daud tidak mau terjebak dengan mengandalkan kekuatan sendiri dan para pengikutnya untuk melawan Absalom di Yerusalem sebagai kota suci (Mazmur 3). Ia sanggup berperang di Yerusalem, namun ia tahu bahwa kota itu adalah kota suci. Di dalamnya ada tabut perjanjian dan rakyat yang tidak bersalah. Ia tahu bahwa tabut itu bukan jimat dan kehadiran Tuhan tidak dibatasi oleh tabut. Tuhan hadir dan menyertai Daud karena hati Daud mengandalkannya. Sebagai orang Reformed, kita tidak perlu berbakti di dalam ruang ibadah yang dihiasi dengan ornamen dan simbol-simbol kekristenan. Lokasi apapun kita bisa pakai untuk berbakti kepada Tuhan dan itu juga akan menyenangkan hati Tuhan. Gereja yang sesungguhnya bukanlah gedung tetapi orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Yesus berkata kepada perempuan Samaria: Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Jadi kita bukan melihat di mana kita beribadah tetapi bagaimana hati kita ketika beribadah. Daud tidak membawa tabut itu sebagai jimat. Kita tidak memakai simbol-simbol dan menganggap ada penyertaan Tuhan di sana.

 

2) Daud lari dari Absalom untuk meminta petunjuk Tuhan dan mengatur strategi. Daud bukan lari ke dukun untuk mencari petunjuk. Ia mencari Tuhan.

 

3) Walaupun dihina oleh Absalom dan Simei, Daud tetap mengampuni mereka. Jadi sikap Daud bukanlah berdosa. Jadi ia terus hidup dalam belas kasihan Tuhan.

 

            Nubuatan hukuman dari Natan itu benar-benar terjadi. Jadi raja tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan dalam dosa dan ambisi yang tidak suci.

1) Absalom membunuh Amnon karena memerkosa adiknya (Tamar, 2 Samuel 12:10 dan 13:19-39).

2) Absalom meniduri gundik-gundik Daud (2 Samuel 12:11b dan 16:20-23). Ini adalah cara yang begitu memalukan.

3) Absalom dibunuh oleh Yoab (2 Samuel 18:14).

4) Adonia mati terbunuh oleh Salomo (1 Raja-raja 2:13-46). Jadi hanya Salomo-lah anak laki-laki Daud yang tersisa.

 

            Jadi kita harus belajar untuk tidak menyalahgunakan kuasa yang dipercayakan kepada kita. Tuhan selalu memberikan belas kasihan dan pengampunan, namun jangan sampai kita mempermainkan anugerah Tuhan untuk pembenaran diri.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami