Bergaul dengan Allah (Henokh)

Bergaul dengan Allah (Henokh)

Categories:

Bacaan Alkitab: Kejadian 5:22, Ibrani 11:5, dan Yudas 1:14-15.

Pendahuluan

Henokh adalah generasi ke-7 dari Adam. Dia bukan keturunan Kain tetapi keturunan Set (Kejadian 5:18). Kain telah melakukan dosa di hadapan Tuhan. Dia mendapatkan pengampunan namun dia akan mengalami pemusnahan. Di bagian lain Tuhan memunculkan orang-orang pilihan dari keturunan Set (Kejadian 5). Setelah Set ada Enos. Dalam zamannya terjadi kerusakan karena melupakan Tuhan dan tidak beribadah kepada-Nya. Setelah turun beberapa generasi kita melihat Henokh. Di sini ada pemulihan, masa depan, dan mutiara iman setelah kesuraman iman. Ini bukanlah hal yang mudah karena Henokh dikelilingi orang-orang yang tidak beribadah dan hidup tidak benar. Namun Henokh dikatakan bergaul dengan Allah di tengah zaman yang bengkok hatinya. Dari zaman Enos, mulai terjadi degradasi iman sehingga mereka memiliki hati dan sikap yang rusak terhadap Tuhan.

Apa rahasia iman Henokh yang dapat hidup saleh di tengah-tengah zaman yang rusak itu? Hidup yang dijalaninya tidaklah mudah. Mengapa baru pada zaman Henokh ada pemulihan iman? Henokh menyatakan imannya yang memiliki kuasa. Imannya menghasilkan kesalehan dan pengenalan yang benar akan Tuhan. Ia juga mengutarakan suara kenabian dari Tuhan. Dia berani menyatakan penghakiman bagi orang fasik yang tidak mau bertobat. Orang-orang kudus bersama dengan Allah akan menghakimi orang fasik. Yudas 1:14-15 mencatat keberanian Henokh.

Apakah Henokh seorang nabi? Ia bukan nabi, raja maupun imam. Ia tidak punya satu status yang khusus, tetapi memiliki fungsi yang khusus. Itu adalah anugerah dari Tuhan. Henokh tidak punya panggilan sebagai nabi namun menjalankan fungsi nabi.

Pembahasan

Kita akan mempelajari rahasia kesalehan Henokh. Apa perbedaan dari kesalehan dan kerohanian? Alkitab menyatakan bahwa 2 hal ini berbeda. Orang rohani adalah orang yang bertingkah laku rohani. Di dalam konteks apapun, ia menyikapi segala hal dengan rohani atau tidak menggunakan emosi yang tidak kudus. Saat kecewa dia tidak mempertanyakan Tuhan tetapi mau mengerti mengapa semua itu terjadi. Kerohanian seseorang dinilai sikapnya, cara pandangnya, caranya berbicara, dan perbuatannya. Orang saleh adalah orang yang bisa mengaitkan seluruh hidupnya dengan nilai kesalehan, kesucian, dan waktu kekal Tuhan. Orang saleh adalah orang yang senantiasa bergaul akrab dengan Tuhan dan sering berbincang-bincang dengan Tuhan. Tuhan adalah sahabat bagi orang ini. Orang saleh, sesuai catatan Alkitab, dipelihara hidupnya oleh Tuhan. Mazmur 112:1 menyatakan bahwa orang saleh mencintai Tuhan dan perintah-Nya serta ia akan dipelihara oleh Tuhan. Tuhan menghendaki kita memiliki kerohanian dan kesalehan. Ada orang-orang yang bergelar rohani namun sikapnya tidak rohani, namun ada orang yang tidak bergelar rohani tetapi hidupnya rohani dan ini adalah orang saleh.

1) Kualitas pengenalan akan Allah

            Rahasia pertama dari kesalehan Henokh di tengah zamannya yang bengkok adalah kualitas pengenalannya akan Allah. Mengapa Ayub diizinkan mengalami penderitaan fisik, batin, dan emosi? Mengapa Allah mengizinkan kematian anak-anaknya (Ayub 1:18-19)? Mengapa hartanya diizinkan hilang (Ayub 1:14-17)? Penderitaan yang dialaminya sungguh luar biasa dan menyerang segala aspek hidup. Selain itu, istrinya tidak mengerti dirinya dan menyuruhnya menghujat Tuhan (Ayub 2:9). Melalui Ayub 42, kita mengerti Tuhan mengizinkan semua itu agar pengenalan Ayub akan Tuhan bukan berasal dari kata atau pengalaman orang lain tetapi berasal dari pengalaman pribadinya dengan Tuhan. Melalui seluruh penderitaannya dan perbincangan dengan Elihu (Ayub 32-37), seorang sahabatnya yang paling muda, Ayub diarahkan untuk melihat Tuhan dan bukan diri. Teman-temannya yang lain membawa Ayub untuk melihat diri dan menyalahkan Ayub dalam keberdosaannya. Namun Elihu mengarahkannya untuk melihat Tuhan. Inilah sahabat yang benar. Ketika berbincang dengan orang lain, jangan mengarahkan orang itu kepada dirinya sendiri karena kalau ia memiliki potensi, maka ia akan menjadi sombong dan kalau ia memiliki kelemahan, maka ia akan menjadi minder. Dialog kita harus bersifat teologis dan bernilai apologetika yang berkaitan dengan iman. Orang yang kita ajak bicara harus kita arahkan untuk melihat Tuhan dan membuka diri.

Ayub 42:5-6 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu. Setelah ini Ayub dipulihkan oleh Tuhan. Ia mendapatkan semuanya kembali karena satu kunci ini: pertobatan dari konsepnya yang salah tentang Tuhan. Mari kita jangan cepat puas dalam membangun kualitas pengenalan kita akan Allah. Jika pengenalan kita akan Allah itu benar, maka hidup kita akan semakin benar ke arah Yesus Kristus, hidup kita berbuah dalam studi dan pekerjaan, dan iman kita akan bertumbuh. Apa yang membuat spiritualitas ganda? Ada kesenjangan antara statusnya yang katanya rohani dengan kenyataan yaitu hidupnya yang masih menikmati dosa. Apa yang membuat kepribadian ganda? Ada orang yang namanya alkitabiah, namun sering menjadi batu sandungan bagi orang lain. Orang ini selalu merasa dirinya benar dan hanya mengaku salah ketika sudah terjadi benturan. Ia selalu menyalahkan kondisi atau orang lain dan tidak pernah introspeksi diri. Kerendahan hati tidak ada padanya dan kalaupun ia sadar bahwa dirinya telah bersalah, ia tidak mau mengakuinya. Di satu waktu ia bisa terlihat baik, namun di waktu lain ia bisa menjadi orang jahat. Ada dualisme ini dalam hidupnya. Mengapa demikian? Ini karena ia di dalam identitasnya belum mengalami pembaruan atau pertobatan yang sungguh-sungguh. Mungkin ia menjadi Kristen karena budaya atau pertimbangan yang remeh. Orang seperti ini belum sungguh-sungguh lahir baru dan mengalami pertobatan yang sejati. Ia belum mengenal Allah dengan benar sehingga hidupnya penuh dengan kekacauan dan tidak konsisten. Maka kita harus benar-benar memperhatikan pengenalan kita akan Allah. Jika pengenalan kita benar maka hidup, iman, perbuatan, dan buah iman kita akan benar.

Henokh bergaul dengan Allah (Kejadian 5:22). Dalam Ibrani 11:5 dicatat bahwa hidupnya selalu berkenan kepada Allah. Ia selalu menganggap Tuhan sebagai sahabatnya, maka dari itu ia tidak mau mengecewakan Tuhan. Seorang sahabat yang baik selalu menjaga relasi dalam nilai saling mengasihi, saling membangun, dan saling memajukan. Ketika dikatakan bahwa hidupnya selalu berkenan kepada Allah, ini berarti bahwa di tengah zaman yang bengkok itu Henokh selalu berusaha untuk tidak menyedihkan hati Tuhan. Pada saat itu Henokh siap menjadi garam dan terang, namun ada risiko ia dikucilkan, diancam, dan dirugikan. Orang yang hidupnya berkenan kepada Allah tidak mau mengecewakan Tuhan dalam cara berpikir, emosi, sikap, dan tingkah laku. Inilah yang dilakukan Henokh selama 365 tahun. Sebelum dan setelah punya anak, ia tetap hidup saleh. Mungkin ada dari kita yang hidup saleh sebelum memiliki anak namun berubah setelah memiliki anak. Seumur hidupnya ia terus bergaul dengan Tuhan, ini berarti ia tidak mau terjebak dalam keluarga. Dia tidak pernah mengutamakan anaknya lebih daripada Tuhan. Ia terus bergaul dengan Tuhan karena ia mengenal Allah yang disembahnya, yang terus memeliharanya dan senantiasa memberikan hikmat.

Henokh juga sungguh-sungguh mencari Allah (Ibrani 11:6). Di tengah situasi yang ada, hanya Henokh yang mencari Allah sedangkan yang lain mencari kenikmatan dunia. Ini berarti Henokh dan orang-orang pada saat itu mengalami benturan dalam segala hal. Apakah Allah telah hilang sehingga perlu dicari oleh Henokh? Allah tidak pernah hilang karena ia maha hadir, maha tahu, dan maha kuasa. Mencari Allah berarti sungguh-sungguh mau mengerti suara, kebenaran, dan hikmat Tuhan. Ia tidak mencari manusia di saat sulit tetapi ia mencari Allah. Mengerti kehendak Tuhan bukanlah hal yang mudah. Kunci pertama dalam Roma 12:1 adalah kita harus menyerahkan diri kita dulu. Setelah itu kita harus mengubah hidup kita agar tidak sama dengan dunia. Kemudian kita akan bisa mengetahui kehendak Allah yang benar, baik, dan mulia. Dalam mengerti kehendak Tuhan pun ada jenjang. Istilah ‘mencari kehendak Tuhan’ sebenarnya sulit dipertanggungjawabkan secara teologis karena kehendak Tuhan tidak pernah hilang. Kehendak Tuhan melalui Alkitab sudah dicatat. Kehendak Tuhan yang tidak dicatat adalah yang berkaitan dengan masing-masing pribadi. Kehendak Tuhan secara pribadi itu unik bagi setiap orang, namun setidaknya kita sudah memiliki kehendak Tuhan yang tercatat. Henokh senantiasa mengutamakan firman Tuhan dan mau beribadah. Di dalam waktu kita setiap hari, kita harus mengkhususkan waktu untuk mengerti kehendak Tuhan melalui pembacaan Alkitab. Itu adalah tanda kita mencari Allah. Orang yang saleh adalah orang yang terus membaca Alkitab. Di sanalah orang itu bergaul dengan Tuhan setiap waktu. Kita tidak mencari Tuhan di hari Minggu saja tetapi setiap hari. Henokh memiliki komitmen yang sungguh dalam mengutamakan Tuhan lebih daripada dirinya, keluarganya, dan hal lainnya. Ini semua karena Henokh memiliki kualitas pengenalan akan Allah.

2) Memiliki keberanian yang suci

            Rahasia kedua Henokh bisa bergaul akrab dengan Tuhan adalah dia memiliki keberanian yang suci. Apakah keberanian itu bakat, pemberian, atau bisa dilatih? Setiap kita memiliki keberanian, baik keberanian yang kita nyatakan dan tidak nyatakan. Setiap kita juga memiliki ketakutan, baik yang kita sembunyikan maupun yang kita ekspresikan. Setelah kita di dalam Tuhan, keberanian kita harus dikuduskan. Kain memiliki keberanian untuk membunuh Habel dan menunjukkan kehebatannya. Paulus memiliki keberanian dalam menganiaya gereja, namun setelah ia bertobat dan keberaniannya disucikan, ia menjadi berani untuk mati demi Tuhan. Henokh memiliki keberanian yang suci dalam hal berani menentang orang-orang yang hidup fasik. Selama 3000 tahun dari masa Enos sampai Henokh, manusia hidup tidak saleh. Hidup mereka penuh dengan kekerasan, kebiadaban, perbuatan asusila, dan tidak beribadah kepada Tuhan. Tuhan memunculkan Henokh yang memiliki kualitas iman, mutiara iman, keteguhan, dan keberanian yang suci. Yudas 1:14-15 mencatat nubuat Henokh bahwa Allah dengan orang-orang kudus akan menghakimi orang-orang fasik, penista, dan bebal. Henokh berani menegur dosa mereka dan memanggil mereka kembali kepada Tuhan.

Apakah Henokh tidak takut dengan orang-orang yang tidak menyukai khotbahnya? Apakah Henokh tidak takut bahwa keluarganya bisa terancam? Apakah Henokh tidak takut bahwa usahanya bisa digagalkan? Dia melihat Tuhan dan bukan manusia. Dia memiliki hati Tuhan yaitu ingin orang-orang bertobat. Di sini bisa dilihat bahwa kesalehan Henokh tidaklah pasif. Keberanian Henokh mendorongnya untuk menegakkan kebenaran dan menyatakan suara Tuhan. Henokh bukan nabi namun menyatakan suara kenabian. Tidak dicatat bahwa Henokh dipukul atau dianiaya setelah menyuarakan pertobatan. Kesalehannya bersifat aktif. Orang Kristen tidak cukup hanya menjadi baik. Agama-agama lain juga mengajarkan kebaikan. Kita juga harus menjadi orang yang benar. Orang yang benar pasti takut akan Tuhan dan mengejar kesalehan yang aktif dalam pimpinan Tuhan. Ada berita bahwa seorang pastor diserang dan dibacok. Mungkin orang-orang bertanya: dimanakah kuasa Allah? Mengapa Tuhan mengizinkannya masuk ke dalam tempat ibadah? Dimanakah orang saleh yang bisa mengalahkan kejahatan? Jika Tuhan mengizinkan hal demikian, maka kita harus mencoba mengevaluasi diri dan kesalehan kita. Orang yang saleh aktif bukanlah orang yang lugu, mudah dibodohi, dan tidak punya pendirian. Henokh peka akan pimpinan Tuhan sehingga ia menemukan waktu dan cara yang tepat dalam menegur orang-orang berdosa. Yeremia berani menegur kesesatan orang-orang di zamannya yang tidak lagi mau beribadah kepada Tuhan. Saat itu suaranya tidak didengar sampai ia mati. Setelah ia mati, suaranya baru didengar. Gereja membutuhkan keberanian yang suci ini. Gereja harus berani menegur dosa dan menetapkan disiplin gereja karena gereja tidak boleh berkompromi dengan dosa. Gereja menerima orang berdosa namun tidak akan berkompromi dengan dosanya. Gereja harus menegur dosanya sampai orang itu kembali kepada Tuhan. Sudahkah kita memiliki keberanian yang suci? Beranikah kita menolak dosa dan menegur pendosa? Apakah kita sudah memiliki keberanian yang suci?

Apakah benar Henokh diangkat ke surga? Kejadian 5:22 tidak mencacat ‘ke surga’. Namun dalam 2 Raja-Raja 2:11 dituliskan dengan jelas bahwa Elia diangkat ke surga. Apakah Henokh seperti Filipus? Allah mengutus Filipus dari Samaria ke jalan yang sepi untuk bertemu dengan sida-sida Etiopia (Kisah Para Rasul 8:26-27). Setelah ia dibaptis, dikatakan bahwa Filipus terangkat dan dibawa ke tempat lain dimana ia melanjutkan pemberitaan Injil (ayat 39 dan 40). Ketika Henokh terangkat, orang-orang tidak dapat menemukan jenazahnya. Henokh dan Elia tidak mengalami kematian secara fisik. Mereka tidak hanya dibawa ke tempat lain seperti Filipus. Kita tidak boleh memaksa Tuhan untuk memberikan kita pengalaman seperti mereka karena semuanya ada di dalam kehendak Tuhan. Yohanes 3:13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Ayat ini bisa menimbulkan pertanyaan: dimanakah orang-orang yang mati dalam nama Tuhan saat ini? Surga saat ini tidak bersifat fisik karena langit dan bumi yang baru belum direalisasikan secara sempurna (Wahyu 21). Tuhan belum memberikan tubuh kemuliaan yang tidak akan mengalami penyakit dan kematian. Surga saat ini bersifat substansi dimana Allah berdaulat. Jadi orang-orang yang telah mati dalam Tuhan saat ini berada di surga tetapi bukan yang bersifat fisik. Di sana mereka merasakan damai. Ini dipahami sebagai already but not yet. Surga yang mereka alami belumlah sempurna. Surga yang penuh dan tubuh kemuliaan baru diberikan saat Yesus datang untuk kedua kalinya. Di saat itu, sesuai kata Henokh, Allah akan datang bersama dengan banyak orang kudus. Maka dari itu Henokh meneriakkan pertobatan. Henokh dan Elia saat ini sedang berada di surga dan merasakan damai sedangkan orang yang mati di luar Tuhan sedang merasakan sengsara neraka dimana jiwanya merana meskipun belum sepenuhnya. Dua orang yang diangkat adalah Henokh dan Elia tetapi dua orang yang bergaul akrab dengan Tuhan adalah Henokh dan Daud. Henokh telah menjadi mercusuar iman di tengah zaman yang bengkok. Ia telah menjadi pemimpin iman dalam keluarganya dan mengarahkan mereka untuk beribadah kepada Tuhan. Ia juga mewakili suara Tuhan untuk menegur orang-orang agar kembali kepada Tuhan. Mari kita berdoa agar Tuhan memberikan kesalehan dan keberanian yang suci melalui pengenalan kita yang benar akan Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini sudah dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami