Hati yang Terbakar karena Hutang Injil

Hati yang Terbakar karena Hutang Injil

Categories:

Bacaan alkitab: Roma 1:1, 5, 14, 16.

 

Latar Belakang Masalah

 

Bila kekristenan kita adalah kekristenan tanpa panggilan dari Tuhan tetapi hanya karena panggilan budaya, sosial, atau keluarga. Kekristenan yang tidak benar-benar dihidupi oleh setiap pribadi karena panggilan Tuhan adalah sesuatu yang tidak bermakna. Kekristenan macam itu tidak akan membuat perubahan signifikan pada karakter di dalam Tuhan. Kekristenan tanpa panggilan Tuhan bisa membuat orang-orang menjadi lebih licik dan lebih jahat daripada orang-orang lain.

 

Jikalau kekristenan kita adalah kekristenan tanpa identitas, maka itu berarti kekristenan kita tidak punya nilai garam dan terang. Jadi orang itu menjadi orang Kristen tetapi tidak menjadi pengaruh, tidak membawa dampak, dan tidak punya peran. Ini berarti orang-orang di dalamnya hanya menumpang untuk mendapatkan gaji dan kuasa. Roda pemerintahan seperti ini di dalam visi misinya tidak akan berjalan dengan baik. Ini karena orang-orang di dalamnya hanya menumpang hidup namun tidak berkarya untuk bangsa dan negara. Di sini kita sebagai orang Kristen harus punya identitas. Kita adalah anak-anak Allah yang harus siap diutus untuk mendemonstrasikan Kristus yang hidup di dalam dan melalui kita pada waktu bekerja, pada waktu keluarga, dan pada waktu studi. Jadi identitas kita tidak boleh mengalami kekeroposan karena serangan filsafat, budaya, dan lainnya. Identitas kita tidak boleh dikompromikan karena sesuatu yang bernilai tidak kekal. Jadi kekristenan tanpa identitas adalah kekristenan yang munafik dan adalah kekristenan yang sama dengan orang-orang dunia.

 

Bila kekristenan kita adalah kekristenan tanpa sukacita ilahi. Di dalam surat Roma dikatakan bahwa hal Kerajaan Allah bukanlah soal makanan atau minuman tetapi soal kebenaran, damai, dan sukacita ilahi (Roma 14:17). Ini menunjukkan kepada kita bahwa keagungan yang paling tinggi bagi kita adalah ketika kita mengalami sukacita ilahi. Jadi kita tidak boleh berpikir bahwa rumah yang besar, uang yang banyak, dan kesempatan untuk menikmati apapun sebagai sukacita sejati. Semua itu adalah sukacita yang bersifat situasional. Sukacita yang sejati adalah sukacita yang bernilai kekal. Ini berarti bahwa pada waktu kita memiliki harta, kesempatan, dan apapun juga, semua itu harus kita lihat hanya sebagai alat atau jembatan. Seluruh jabatan, kekuasaan, dan uang kita adalah titipan Tuhan sebagai suatu alat atau jembatan bagi kita untuk mencapai sukacita surgawi yang kekal pada waktu kita memberitakan Injil dan dipakai Tuhan saat menabur atau menuai. Alkitab menyatakan bahwa baik penabur maupun penuai adalah sama di mata Tuhan. sudahkah kita memiliki sukacita itu? tanpa nilai sukacita ilahi, hidup kita tidak akan mengalami satu kepuasan dalam penyertaan Tuhan.

 

Bila kekristenan kita memiliki suatu panggilan, identitas, dan sukacita ilahi. Jika kita memiliki ketiga hal ini, maka orang-orang akan merasa takjub pada kualitas kekristenan kita. Jika seluruh kekristenan di Indonesia memiliki ketiga hal ini, maka orang-orang di Indonesia akan merasa takjub ketika melihat kekristenan. Mengapa kekristenan seringkali tidak berkembang di daerah-daerah yang pernah mendapatkan Injil? Di sini kita melihat bahwa jika kekristenan tidak lagi melihat kepada panggilan, identitas, dan sukacita ilahi, maka di saat itu kekristenan akan mengalami kekeroposan kualitas hidup. Pada akhirnya orang-orang di dalamnya akan sangat mudah kehilangan jati diri sehingga mereka tidak akan lagi memiliki kualitas hidup secara komprehensif. Banyak daerah pernah dikunjungi oleh para misionaris dan mendapatkan Injil, namun pertanyaannya adalah di mana panggilan, identitas, dan sukacita ilahi mereka? Mereka sudah tertidur dan tertindih oleh kenyamanan hidup yang baru. Mereka sudah tersapu oleh arus dunia.

 

Dalam Perjanjian Lama ‘api’ bisa diidentikkan dengan keadilan dan murka Tuhan. ‘Api’ juga bisa diidentikkan dengan karya Tuhan yang menghapus dosa dalam korban-korban bakaran (Imamat). Tuhan memimpin bangsa Israel dalam tiang api ketika mereka berjalan di padang gurun pada malam hari. Tuhan memimpin dalam tiang awan pada siang hari (Keluaran 13:21). ‘Api’ juga identik dengan kesucian Tuhan. Maka ketika Musa mendapatkan panggilan, ia melihat suatu api di semak belukar namun semak itu tidak terbakar (Keluaran 3:2). Di sana ada kehadiran Tuhan. di dalam kitab Wahyu, malaikat surga bisa memberikan penyertaan dalam bentuk api. Itu menandakan bahwa hidup kita bisa dipakai Tuhan melampaui batasan kita. Yesaya ketika akan dipanggil oleh Tuhan diberikan bara api pada bibirnya untuk menyucikannya (Yesaya 6:6-7). Jikalau hati kita terbakar untuk kita sinkron dengan program Tuhan dan untuk kita menggenapkan pekerjaan Tuhan, maka di sana kita bisa mengaminkan bahwa itu semua adalah pekerjaan Roh Kudus. Hati yang terbakar secara rohani itu bernilai kekal.

 

Hati yang Terbakar karena Hutang Injil

 

  1. Hutang Kasih: Memandang Keagungan Pengorbanan Tuhan Yesus Kristus (Lukas 7:41-42)

            Injil memiliki muatan kasih. Dalam Lukas 7:41-42, Tuhan Yesus menceritakan tentang orang yang lebih mengasihi Tuhan. Ada orang yang diampuni hutang 500 dinar dan ada orang yang diampuni hutang 50 dinar. Tuhan bertanya kepada murid-murid dan Simon yang menjawab. Simon menjawab bahwa orang yang lebih banyak hutangnya itu akan lebih mengasihi orang yang menghapuskan hutangnya. Di dalam bagian ini mengapa Tuhan memberikan kisah yang berbicara tentang hutang piutang? Ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mengasihi Tuhan karena kita memiliki hutang kasih terhadap Allah. Allah Bapa mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia untuk mati dan menebus dosa-dosa kita. Hutang kasih inilah yang diutarakan oleh Paulus dalam Roma 1:1. Paulus menyatakan bahwa dirinya dipanggil dan disucikan untuk memberitakan Injil Tuhan. Ini berarti di dalam makna kasih kita kepada Tuhan, kita akan mendapatkan satu makna hidup ketika kita dipanggil untuk memberitakan Injil. Kita dipanggil sekaligus disucikan. Ketika kita disucikan, kita memberitakan Injil di dalam kesucian. Injil itu suci dan berkuasa. Di sana kita mengerti bahwa itulah hidup kita, panggilan kita, dan identitas kita. Di dalam bagian ini sampai sejauh mana kita memandang keagungan pengorbanan Kristus yang mati menebus dosa-dosa kita? Sampai sejauh mana kita sadar bahwa kita sebenarnya adalah orang-orang yang tidak layak mendapatkan kasih Tuhan? Sampai sejauh mana kita memahami peristiwa salib di mana Allah Bapa memberikan satu keadilan dan Yesus meredam semua keadilan Allah karena kita adalah orang berdosa? Di atas kayu salib itu Yesus menyatakan 7 perkataan salib dan perkataan pertama itu adalah tentang pengampunan. Perkataan terakhir adalah doa penyerahan jiwa. Semua itu mewakili diri kita yang sebenarnya tidak layak mendapatkan kasih Tuhan. Namun Tuhan mengasihi kita melampaui seluruh keberadaan dan kondisi kita.

 

Di dalam buku “Penginjilan dan Kedaulatan Allah”, J. I. Packer mengatakan bahwa seseorang yang mengerti betapa besarnya nilai kedaulatan Tuhan atas hidupnya pasti merasa tidak layak mendapatkan belas kasihan Tuhan di dalam hidupnya. Jadi orang itu sadar akan ketidaklayakan dirinya. Di sana orang itu akan memiliki kesadaran akan hutang kasih. Hal ini sangat penting dan tidak boleh kita lupakan bahwa kita hutang kasih kepada Tuhan Yesus Kristus. Jadi kalau kita ditanya siapa pribadi yang paling besar pengorbanannya sehingga kita bisa berhasil dalam hidup, maka kita harus menjawab Tuhan Yesus Kristus. Jawaban kedua adalah orang tua kita dan jawaban ketiga mungkin guru, saudara, atau sahabat kita. Jawaban keempat mungkin adalah kawan-kawan kita. Namun jawaban pertama harus tetap Tuhan Yesus dan jawaban kedua harus orang tua kita. Seketatnya disiplin orang tua kita, mereka menginginkan kebaikan kita. Kita harus berterima kasih kepada para pengajar kita, baik itu pengajar rohani, pengajar di sekolah, dan pengajar apapun juga yang mendidik kita. kita juga harus berterima kasih kepada teman-teman kita yang memotivasi kita dan yang menyakiti kita sehingga kita bisa hidup lebih baik lagi. Di sini kita melihat bahwa kita semua berhutang kasih. Maka yang mendorong kita untuk menyatakan kasih Tuhan kepada orang lain adalah karena kita sadar bahwa kita memiliki hutang kasih terhadap Tuhan Yesus. Kita seharusnya membalas kasih Tuhan dengan menyatakan kasih surgawi kepada orang-orang di sekitar kita.

 

  1. Hutang Jiwa: Injil adalah Kekuatan Allah yang Menyelamatkan (Roma 1:16)

           

Kita memiliki hutang jiwa. Dalam Roma 1:16 Paulus mengatakan bahwa dirinya tidak malu akan Injil, bukan ‘keyakinan yang kokoh dalam Injil’. Bagi Paulus, Injil adalah kekuatan Allah yang bukan hanya mengubah tetapi menyelamatkan. Apa buktinya? Penjahat yang disalib di sebelah Tuhan Yesus bertobat. Yesus menyatakan kepadanya bahwa pada hari itu ia akan bersama-sama dengan Yesus di Firdaus. Sebelumnya penjahat itu juga ikut mempermalukan dan mengejek Tuhan Yesus. Setelah ia mendengar segala perkataan Yesus di kayu salib dan melihat sikap-Nya yang begitu tenang, ia menjadi sangat yakin bahwa Yesus adalah Anak Allah atau Raja. Maka dari itu ia meminta Tuhan Yesus mengingat dirinya ketika Tuhan datang sebagai Raja. Iman penjahat itu nyata dalam apa yang dikatakannya. Setelah itu Tuhan Yesus menyatakan kepadanya janji keselamatan. Kalimat itu membuatnya merasa sejahtera, damai, dan siap menghadapi kematian. Kekuatannya bukan terletak pada uang, kekuasaan, atau jabatan. Kekuatannya adalah berita Tuhan Yesus yang mengandung pengampunan dan jaminan keselamatan. Jadi Injil adalah kekuatan Allah. penjahat di sebelah Tuhan Yesus itu akan segera mati. Ia tahu bahwa jiwanya berada di ujung tanduk. Waktu ia mencaci maki Yesus, itu adalah bentuk depresinya. Pada saat itu ia belum tahu akan nilai pengharapan, tujuan, dan jaminan hidup yang kekal. Ternyata melalui peristiwa di kayu salib ia bertemu dengan Pemilik jiwa dan Pencipta hidup yaitu Tuhan Yesus. Ia bertemu dengan Tuhan Yesus yang menyucikan orang-orang berdosa dan yang memberikan pengharapan yang sejati. Maka dari itu di saat-saat akhir ia memiliki iman. Tuhan kemudian langsung menyatakan janji keselamatan itu. Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa ia harus berbuat ini dan itu terlebih dahulu sebelum diselamatkan. Ini karena anugerah keselamatan itu melampaui nilai sakramen. Jadi baptisan itu tidak menyelamatkan. Di dalam situasi genting seperti situasi penjahat itu, berita Injil melampaui sakramen dan lainnya. Namun dalam situasi yang tidak genting, kita harus mengerti pentingnya nilai sakramen, pemulihan, dan lainnya. Jadi penjahat itu mendapatkan jaminan keselamatan bagi jiwanya.

 

Contoh yang kedua adalah pelacur yang akan dirajam dengan batu oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (Yohanes 8:2-11). Mereka ingin menjebak Yesus dengan menyalahgunakan hukum Musa. Menurut hukum Taurat, wanita yang berzinah harus dirajam dengan batu (Imamat 20:10). Perempuan pezinah itu diseret dan dibawa ke hadapan Yesus. Saat itu ia berpikir bahwa nyawanya akan hilang sebentar lagi. Ia berpikir bahwa batu-batu itu akan dilemparkan kepadanya dan ia akan mati. Jadi saat itu ia sudah memikirkan tentang kematian. Saat itu mungkin ia berpikir tentang penyesalan akan perzinahannya dan kesia-siaan uang yang didapatkannya. Jiwanya merasa hancur di dalam situasi yang mencekam itu. namun ternyata Yesus menulis dengan jari-Nya di tanah. Yesus kemudian menyuruh orang yang tidak berdosa untuk melempar batu terlebih dahulu. Ternyata satu per satu pergi meninggalkan Yesus dan perempuan itu. jadi orang berdosa yang menghakimi orang berdosa tidak akan menyelesaikan masalah. Penghakiman bukanlah cara untuk menyelesaikan dosa. Dosa diselesaikan dengan kasih Tuhan melalui berita pengampunan. Maka Tuhan berkata kepada perempuan itu “pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Di sana perempuan itu mengerti bahwa ia mendapatkan satu pengampunan dari Tuhan Yesus. Pasti dia melimpah dengan ucapan syukur. Di tengah hilangnya pengharapan perempuan itu, ia sudah berpikir bahwa ia pasti akan disiksa dan mati, namun ternyata ia mendapatkan kesempatan kedua bahkan mendapatkan jaminan hidup. Perempuan itu taat kepada Tuhan Yesus. Kemudian di betania, perempuan itu memberikan minyak narwastunya kepada Yesus (Yohanes 12:1).

 

Kita mungkin pernah merasakan hutang jiwa itu. Kita sadar bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Namun kita juga tahu bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan kita sehingga jiwa kita mendapatkan satu jaminan kekal di surga. Di sini kita harus mengerti bahwa ketika hati kita terbakar oleh hutang Injil, itu adalah karena kita sadar akan hutang kasih dan hutang nyawa kita. Di Amerika Selatan ada hewan burung pemakan bangkai. Ketika ia melihat seseorang yang ia kenal sedang berada di pantai, burung itu akan terbang ke arah orang itu dan seperti bersekutu dengannya. Ternyata dulu sayap burung itu pernah terluka dan pernah dirawat oleh orang itu. Burung itu mengingat siapa yang pernah menyembuhkan sayapnya. Jadi ia tidak melupakan pengorbanan orang itu. Dia memiliki hutang jiwa terhadap orang itu. Seekor buaya kecil di Amerika Selatan suatu kali pernah hampir mati. Seseorang melihatnya dan kemudian merawatnya sampai sembuh. Ketika sudah dikembalikan ke alam bebas, buaya itu selalu kembali untuk mencari orang yang menyembuhkannya. Akhirnya orang itu membuat satu kolam besar dan buaya itu tinggal di sana. Ia melatih buaya itu sampai buaya itu menjadi tua dan mati. Ketika buaya itu mati, banyak orang yang berduka. Jadi hewan pun bisa punya rasa terima kasih. Singa, harimau, dan penguin juga tidak melupakan kebaikan orang. Anjing juga adalah hewan yang tahu berterima kasih. Kita manusia itu lebih tinggi daripada hewan, maka dari itu seharusnya kita bisa bersikap lebih baik daripada hewan. Kita orang-orang yang sudah ditebus harus memiliki jiwa yang merana akan dosa. Kita sadar bahwa Tuhan Yesus Kristus sudah menebus kita sesuai dengan Injil yang kita baca atau dengar. Hal itu seharusnya membuat kita sadar akan hutang jiwa kita kepada Tuhan. Jika kita pernah berada dalam situasi hampir mati dan ada orang yang menolong kita sehingga kita bisa selamat, maka kita tidak mungkin melupakan orang itu. Sebenarnya kita semua sudah pernah terjatuh ke dalam satu lubang di mana kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri. Agama dan filsafat tidak bisa menyelamatkan kita. Hanya satu yang bisa menyelamatkan kita dari lubang itu yaitu tangan kasih Tuhan yang diulurkan bagi kita. Tangan itu menarik kita dari lumpur dosa, frustrasi hidup, dan kenyamanan dunia yang membuat kita kacau. Tangan Tuhan menarik kita keluar sehingga kita mendapatkan kesempatan hidup yang sekarang ini. Itulah anugerah Tuhan.

 

  1. Hutang Anugerah: Melihat Diri sebagai Pendosa Terbesar dan tidak layak (Roma 1:5, 1 Timotius 1:15-16, 1 Korintus 15:9)

            Kita punya hutang anugerah. Dalam Roma 1:5 Paulus menyatakan bahwa dirinya bisa menjadi rasul dan pemberita Injil karena anugerah Tuhan. Dalam pembahasan mengenai kesalehan dan spiritualitas, Calvin dan orang Puritan menyatakan bahwa kesalehan adalah fondasi iman. Iman itu menjadi dasar bagi seluruh nilai internal dalam pribadinya. Maka menurut Perjanjian Lama, orang yang saleh adalah orang yang punya rasa takut akan Tuhan. orang itu tidak akan berani berbuat dosa karena ia menyadari bahwa Allah itu maha tahu. Ia sadar bahwa Allah sudah menebus dan mengampuni dirinya. Di dalam takut akan Allah, orang-orang saleh mengekspresikan imannya dengan memberikan persembahan korban kepada Allah dengan korban ucapan syukur. Dalam Perjanjian Baru, orang yang saleh adalah orang yang selalu menyadari nilai Kerajaan Allah. Ia sadar bahwa dirinya sudah ditebus dan ia memiliki nilai etis di dalam dirinya dan tindakan etis di luar dirinya. Jadi di dalam ia akan mengalami perubahan karakter dalam Yesus Kristus. Itulah inti khotbah Yesus di bukit (Matius 5-7) yaitu perubahan karakter secara spiritual. Ketika ia punya nilai ekspresi spiritual, ia akan punya disiplin rohani dalam membaca Alkitab, berdoa, dan melalukan banyak pekerjaan Tuhan. Ini merupakan bagian dari konsep Calvin. Sejauh mana kita mengerti anugerah, sejauh itu pula kita akan ingin membalas anugerah itu dalam kualitas hidup kita. Tuhan sudah memberikan anugerah keselamatan, penebusan, pemeliharaan, dan penjagaan kepada kita. Jika kita menyadari semua hal itu, maka kita akan mengerti hutang anugerah dan hidup kita akan berubah. Karya di dalam dan di luar diri kita akan terpancar karena kita mengerti akan hutang anugerah itu.

 

Paulus adalah warga kerajaan Roma. Ia adalah seorang Sanhedrin dan hidup menurut adat istiadat Yahudi dengan sempurna. Namun karena ia menyadari hutang kasih, hutang jiwa, dan hutang anugerah kepada Tuhan, ia ingin memberikan seluruh hidupnya yang terbaik kepada Tuhan. Ia berkata bahwa di antara semua rasul, ia adalah orang paling berdosa (1 Korintus 15:9). Paulus menyatakan bahwa dirinya pernah menganiaya jemaat dan bahwa sebenarnya dirinya itu tidak layak, namun ia sadar bahwa ia bisa dipakai untuk melayani Tuhan karena anugerah-Nya. Kita tidak bisa berkata bahwa kita diselamatkan karena kita lebih baik daripada orang lain. Kita semua sebenarnya tidak layak mendapatkan keselamatan Tuhan. ketika kita diselamatkan, itu semua karena anugerah (Efesus 2:8-10). Keselamatan itu bukanlah karena kebaikan kita, kekuatan kita, kekayaan kita, kepintaran kita, nenek moyang kita, atau penampilan kita. kita tidak bisa memenuhi syarat keselamatan karena kita adalah orang berdosa. Paulus menyatakan bahwa jabatan kerasulannya adalah anugerah Tuhan dan bukan karena ia layak menerimanya. Jadi seluruh nilai hidup kita sekarang adalah anugerah. Kita bisa menghasilkan segala karya di dalam hidup kita juga karena anugerah Tuhan. Anugerah itu tidak murahan dan harus punya nilai penebusan. Bagaimana kita menebus anugerah itu? Dengan menyatakan ‘dari anugerah ke anugerah’ (from grace to grace) dalam hidup kita. Apa artinya ini? keselamatan yang kita dapatkan adalah anugerah Tuhan. Sekarang tugas kita adalah menyatakan anugerah itu kepada orang lain yang belum pernah merasaka anugerah itu. Itulah gerakan yang harus kita miliki. Kita juga mengerti konsep ‘dari iman ke iman’ (from faith to faith). Jadi anugerah itu tidak murahan. Anugerah itu harus punya makna, karya, dan buah yaitu hidup kita harus membuat orang lain mengenal Tuhan melalui mulut kita yang memberitakan Injil. Jadi jika kita diberikan kesempatan untuk ikut pelatihan penginjilan, maka kita harus ikut. Andreas membawa Simon kepada Tuhan Yesus melalui persahabatan (Yohanes 1:41). Lidia, seorang pengusaha yang bertobat, membawa keluarganya menjadi percaya setelah ia sendiri percaya (Kisah Para Rasul 16:14-15).

 

Kita semua memiliki hutang anugerah dan anugerah yang kita terima itu tidak boleh kita pandang secara murahan. Orang yang sudah menerima anugerah bukanlah orang yang bebas berbuat dosa. Jika kita masih bermain-main dalam dosa dan tidak mau taat setelah mengerti akan anugerah itu, maka kita sebenarnya sedang menganggap anugerah itu murahan. Jika hidup kita masih berada dalam dosa, maka itu sebenarnya membuktikan bahwa kita belum benar-benar mendapatkan anugerah itu. anugerah Tuhan bersifat ‘from grace to grace’. Anugerah itu memiliki makna yang mengubah hidup menjadi hidup yang sungguh berharga di mata Tuhan.

 

3) Penutup

 

Maka dari itu pertanyaan kita adalah: apakah kita memiliki beban untuk memberitakan Injil? Kita harus memiliki beban ini. Terkadang kita terlalu khawatir atau merasa masih memiliki banyak waktu untuk menginjili di lain waktu. Ada orang-orang yang baru mau memberitakan injil setelah semua masalah hidupnya sudah diselesaikan. Ini adalah konsep yang salah. Hidup kita tidak sempurna ketika kita melihat bahwa di sekeliling kita itu tidak sempurna. Hidup kita akan menjadi sempurna ketika kita melihat Tuhan Yesus yang sempurna yang mengatasi segala masalah di dunia dan kita hidup bersama dengan Tuhan. Kita tidak mencari kesempurnaan dunia misalnya kesempurnaan finansial dan lainnya. Segala kesempurnaan dunia akan hilang ketika kita meninggal. Kita menjadi sempurna ketika kita bergantung pada tuhan yang sempurna dalam menyatakan nama tuhan kepada dunia. Kita harus belajar untuk berdoa bagi jiwa-jiwa di sekitar kita. Tuhan menyatakan bahwa kita harus mengasihi dan berbuat baik, bukan hanya kepada orang-orang yang baik dan kasih kepada kita tetapi juga kepada orang-orang yang sudah merugikan kita (Matius 5:44). Dengan kita berbuat baik kepada musuh kita, kita sudah menumpukkan bara api di atas kepalanya (Roma 12:20). Kita tidak mungkin hidup dalam lingkungan yang baik sempurna karena dunia ini sudah berdosa. Kita harus memberikan warna di tengah lingkungan yang berdosa. Caranya adalah dengan mendoakan orang-orang di sekitar kita. Sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh Tuhan, kita harus mengikuti program pelayanan penginjilan (KKR Regional dan penginjilan rumah sakit). Kita juga harus ikut dalam pelatihan penginjilan sehingga kita semakin diperlengkapi. Kita bisa memberikan banyak alasan untuk tidak mengikuti semua ini, namun kita harus belajar untuk taat dan tunduk kepada Tuhan. Manusia hidup dari Firman Tuhan dan bukan makanan jasmani saja (Matius 4:4). Hidup kita bukan bergantung kepada dunia ini tetapi bergantung kepada Tuhan. Setelah semua ini, kita harus membangun komitmen. Komitmen di dalam seluruh hidup kita membuat kita konsisten. Tanpa komitmen, kita tidak akan bisa diharapkan dan diandalkan oleh siapapun juga.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami