Hati Yang Tangguh

Hati Yang Tangguh

Categories:

Pada hari ini kita akan belajar sebuah pribadi dari dalam Firman Tuhan yang bernama dengan Silas. Seorang pribadi yang menonjol pada gereja di jamannya. Namun sebelum kita masuk ke sana, ada pertanyaan yang harus kita renungkan.Menjadi pertanyaan kita, salahkah kita jikalau kita punya ambisi menjadi nomor satu? Tidak. tetapi menjadi pertanyaan lagi, bisakah orang ingin menjadi nomor satu tetapi salah? Mungkin. kenapa bisa salah? Jikalau seluruh ambisi itu berubah menjadi ambisius. Apa artinya? Satu niat, satu motivasi yang bisa melampaui akan kemampuan kita sehingga kita ingin menjadi nomor satu menghalalkan segala cara, mengorbankan spiritual kita, mengorbankan segala sesuatu supaya kita menjadi nomor satu, supaya dilihat kita hebat, supaya seolah-olah kita ini punya sesuatu yang lebih daripada orang lain karena aspek kesombongan kita, itu salah.

                  Tetapi jikalau kita memang ingin nomor satu karena di dalamnya mengandung satu nilai tanggung jawab, berarti kita ingin mencerminkan Kristus di dalam kehidupan kita untuk menyatakan Kristus harus dipermuliakan dalam segala aspek hidup kita, maka itu adalah keinginan menjadi nomor satu yang benar.

                  Tetapi menjadi pertanyaan lagi bagaimana jika ada anak Tuhan tidak pernah punya niat menjadi nomor satu karena mentalnya menikmati hidup, karena mentalnya menikmati akan kepasrahan dalam menghadapi apa yang terjadi dalam hidup, dan tidak pernah berpikir untuk berjuang, sehingga dalam hidupnya tidak pernah menjadi nomor satu, dan lebih celaka lagi orang ini tidak pernah merasa bersalah. Bagaimana dengan orang Kristen seperti ini? Ini adalah orang Kristen yang salah. Kristen atau teologi yang benar akan mencerahkan hidup kita sehingga mau memaksimumkan tanggung jawab setiap waktu, setiap potensi, setiap kesempatan yang kita ambil untuk menjadi kesaksian Kristus bagi dunia, itu baru orang Kristen sejati. Berarti kalau ada orang Kristen yang tidak punya ambisi yang benar, berarti dia belum mengaitkan imannya dengan tanggung jawab untuk memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Disini kita harus belajar bagaimana panggilan kita sebagai orang reformed adalah kita harus tunjukan yang terbaik, yang termulia bagi Tuhan.

                  Jadi, salahkah kita jika kita mau menonjol di segala bidang? Tidak salah. Yang lebih salah kita tidak mau menonjol. Kenapa tidak mau menonjol? Karena rendah hati. Itu rendah hati  yang salah. Pada waktu kita mau menonjol tetap kita dikaitkan dengan cerminan Tuhan melalui studi kita, kuliah kita, usaha kita, itu boleh. Jadi ambisi kita harus dikaitkan dengan kehendak Tuhan itu namanya ambisi yang disucikan.

                  Mungkinkah di dalam Tuhan segala ambisi kita disucikan menjadi ambisi yang sesuai dengan kehendak Tuhan? mungkin. Tetapi pertanyaan lagi, mungkinkah ada anak Tuhan yang punya ambisi dan Tuhan biarkan orang itu terjatuh dalam ambisinya dalam bisnis, terjatuh dalam ambisi studinya, atau terjatuh dalam setiap keinginan ambisinya? Mungkin. Pertanyaan kita lebih jauh lagi, kenapa orang itu dibiarkan? Bukankah Alkitab mencatat ketika Allah Roh Kudus ada dalam hati kita Dia akan mencerahkan, menegur, memperingati kita supaya seluruh hidup kita tidak mempermalukan Tuhan? ini berarti menunjukkan kepada kita jikalau Tuhan sayang kepada kita maka Allah Roh Kudus akan bekerja jikalau Dia melihat kita ada ambisi yang berubah menjadi ambisius untuk mempopulerkan diri, untuk menonjolkan diri yang mengandung kesombongan, Allah Roh Kudus akan memperingati kita, Allah Roh Kudus akan menghajar kita, Allah Roh Kudus akan memukul kita supaya hidup kita tidak mempermalukan Tuhan.

                  Disini kita juga harus sadar bahwa peran Roh Kudus menyucikan setiap ambisi kita menjadi ambisi yang suci yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekarang sekali lagi saya tanya, bolehkah kita bermimpi menjadi orang kaya, orang populer, dan orang berkuasa? Boleh. Jikalau semua dikaitkan dengan keinginan Tuhan. Tetapi jikalau semua dikaitkan hanya untuk diri itu yang tidak boleh. Disinilah kita belajar bagaimana seharusnya kita menjadi orang Kristen yang punya ambisi, yang sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan diselaraskan dengan maksud kehendak Tuhan sehingga seluruh kepintaran kita, seluruh kehandalan kita, seluruh potensi pengalaman kita boleh sungguh dikembalikan untuk kemuliaan nama Tuhan.

                  Disinilah indahnya kita ketika kita akan belajar tentang Silas di dalam bahasa Grika, Silwanus dalam bahasa latin, ternyata dia adalah pribadi yang seorang cendekiawan. Tulisan dia dalam 1 Petrus yang mewakili dia daripada sekretaris daripada Petrus adalah tulisan di dalam grammar Grika dari 64 daripada semua hitungan waktu dalam perubahan daripada waktu dalam Grika semuanya tepat dan sempurna, pemilihan kosakata semuanya sangat menunjukan dia seorang cendekiawan, dan dia adalah seorang terpelajar, dan dipakai oleh rasul Petrus seperti sekretaris, Petrus mengucap dan Silas yang menulis, dan luar biasa lagi dia memiliki hati yang sungguh-sungguh murni dan tangguh untuk boleh sungguh dipakai oleh Tuhan ditengah-tengah kesulitan, dan hidupnya luar biasa tidak mau menonjolkan diri. Disinilah kita akan belajar pribadi daripada Silas. Ada beberapa karakter Silas yang harus kita tiru sebagai orang Kristen:

  1. Orang yang dipercaya. Aspek yang paling sulit dari seorang pekerja adalah kepercayaan. Pekerja yang handal berarti orang tersebut bisa dipercayai dalam pekerjaannya. Disini pertanyaan saya, hal apa yang paling indah dalam nilai hidup kita boleh dipercaya? Yang pertama jikalau kita boleh dipercaya Tuhan untuk melayani Dia, itulah yang paling indah. Satu hal yang paling menyedihkan bukan karena kita rugi, satu hal yang menyedihkan kita bukan karena kita jatuh sakit, hal yang paling menyedihkan jikalau kita tidak dipercaya untuk melayani Dia lagi. Disinilah kita melihat Silas yang disebut Silwanus mendapatkan satu nilai predikat dari Paulus, dari Petrus dia bisa dipercayai. Disini kita belajar bagaimana pentingnya setiap kita mari melihat dirimu apakah engkau sudah layak menjadi orang yang dipercayai oleh orang-orang disekitarmu, dan kenapa engkau tidak dipercayai oleh orang-orang disekitarmu.
  2. Terpandang. Sidang Gereja di Yerusalem memutuskan bagaimana memberikan satu nilai kaidah-kaidah Kristen, memberikan satu nilai etika-etika Kristen untuk jemaat Anthokia, maka mereka memilih dua orang yaitu Yudas dan Silas, ternyata salah satu pengukuran siapa yang akan diutus adalah apakah orang tersebut terpadang atau tidak. Kenapa silas dibilang orang terpandang? Ternyata di dalam kehidupan komunitas Gereja orang terpandang karena imannya teruji dalam ruang dan waktu. Disini kita mengucap syukur ternyata Yudas yang disebut juga Barsabas, disebut juga adalah Silas atau Silwanus orang terpandang, jadi dipercayai luar biasa, luar yang sungguh teruji imannya. Disini pertanyaan kita adalah kalau kita sudah menjadi orang yang teruji, tidak bermain-main dengan dosa, kita teruji selalu hidup fokus untuk Tuhan, kita teruji menjadi orang yang punya nilai tanggung jawab dalam pelayanan kita, dalam kerja kita, kita orang teruji dalam membangun keluarga kita dengan baik-baik, kita orang teruji untuk bagaimana disaat kita senang kita tetap hidup bagi Tuhan, disaat sulit kita juga hidup bagi Tuhan, ketika itu semua ada didalam hidup kita maka kita adalah orang Kristen yang terpandang. Maka kita menjadi orang terpandang bukan karena aspek lahiriah melainkan rohani.
  3. Rela berkorban bagi Kristus. Kenapa orang sampai rela berkorban? Salah satu aspeknya karena punya cinta. Maka hati-hati kitab Kidung Agung sudah mengatakan cinta kuat bagaikan maut. Cinta harus disucikan dalam cinta agape, karena jikalau kita mencintai seseorang hanya karena hal yang bersifat lahiriah itu tidak suci. Jikalau kita mencintai seseorang hanya karena aspek-aspek yang memuaskan kita itu tidak suci. Disini ternyata cinta bisa membuat orang punya nilai pengorbanan, tetapi yang kita pelajari dalam teologi puritan selalu dikatakan pengorbanan merupakan gaya hidup orang Kristen, dan pengorbanan tidak boleh ada aspek hitung-hitungan untuk Tuhan dan untuk Gereja, untuk orang lain, dan pengorbanan tidak boleh dirasa seperti engkau sedang berkorban. Berarti ini mengajarkan kepada kita ketika kita sungguh-sungguh cinta kepada Tuhan seperti Silas cinta kepada Tuhan Yesus yang sudah mati menebus dosa-dosa dia, dia sampai rela mati demi nama Tuhan Yesus. ini adalah satu pengorbanan yang luar biasa. jadi kalau kita berkorban tenaga, waktu, uang kita untuk pekerjaan Tuhan itu biasa, tetapi kalau sampai kita rela berkorban memberikan nyawa kita untuk nama Tuhan itu adalah pengorbanan yang paling besar. Disini kita belajar pribadi Silas punya pengorbanan sampai yang tertinggi, memberikan hidupnya bagi Tuhan, Dia rela mati demi nama Yesus Kristus. bagaimana dengan kita? apakah kita mau berkorban bagi Tuhan untuk tenaga kita, waktu kita, harta kita?
  4. Julukan Nabi = Keberanian Suci. Konteks pada saat itu Silas disebut nabi karena dia berani menegur dosa, dia berani menghancurkan dosa, dia tidak pernah kompromi dengan dosa, maka ia diutus oleh sidang jemaat di Yerusalem, pergi ke Antiokhia untuk menegur jemaat-jemaat di Antiokhia yang hidupnya tidak dalam kaidah daripada nilai Kristen. Disini kita belajar ternyata salah satu emosi kita yang harus disucikan adalah emosi keberanian kita untuk Tuhan. Jadi ketika keberanian kita disucikan hidup kita menjadi indah. Kita berani menyenangkan orang lain itu gampang, berani untuk memanjakan diri itu gampang, tetapi ketika keberanian kita disucikan, berani menegur dosa, berani menegur kebersalahan, berani untuk bagaimana menghancurkan setiap potensi-potensi dosa itulah kita anak Tuhan, karena kita dipanggil untuk punya fungsi imam, raja dan nabi. Itulah tiga jabatan yang dijabat oleh Yesus Kristus. Jadi dalam nilai kerja kita, dalam nilai rumah tangga kita tunjukan engkau bisa menjadi pemimpin atau raja, tunjukan engkau bisa menjadi imam menyembuhkan orang yang sakit, menjadi perantara orang itu kembali kepada Tuhan, dia mendapatkan pemulihan, tetapi ketika dalam suatu waktu engkau menjadi fungsi sebagai nabi, engkau harus berani menegur dosa dan tidak pernah kompromi. Disinilah kita belajar ternyata Silas dan Yudas diutus sebagai orang nabi karena berani menegur dosa. Maka sebagai orang Kristen kita juga harus berani menegur dosa.
  5. Memuji Tuhan di saat sulit. Ternyata dalam peristiwa dengan Paulus pada waktu Penginjilan di Filipi nama Tuhan dipermuliakan, banyak orang kembali percaya kepada Yesus Kristus, ternyata membuat satu pengusaha-pengusaha yang barbau mistik pada saat itu tidak laku lagi, kenapa? karena orang percaya yang disebut nama Tuhan Yesus Kristus, orang tidak datang lagi ke peramal, akhirnya orang itu membuat isu fitnah, dan akhirnya terjadilah kekacauan. Dan singkat cerita dilaporkan, dan singkat cerita dimasukan ke dalam penjara, dipukuli dan di rantai kakinya. Apa yang diperbuat Paulus dan Silas? dia tidak marah kepada Tuhan, dia tidak menggerutu, dia tidak minta bantuan orang-orang kuat dan tidak minta dilepaskan oleh orang-orang yang mereka kenal. Padahal kalau kita lihat di Alkitab Paulus dan Silas adalah warga Roma yang tidak boleh dihukum karena spesial. Tetapi yang kita lihat responnya luar biasa, ditengah-tengah mereka sudah dipukuli, dipenjarakan, dirantai, yang mereka perbuat adalah beribadah kepada Tuhan. dengan tepat dikatakan mereka berdoa dan memuji nama Tuhan. Disitu kita bisa melihat kenapa Silas menjadi orang yang penting dalam kehidupan Paulus? Kenapa Silas menjadi orang yang penting dalam kehidupan Petrus? Salah satunya ternyata dia memiliki hati yang tangguh, ditengah-tengah kesulitan dia tetap beribadah kepada Tuhan. jadi kalau engkau sedang ada kesulitan, engkau sedang ada pergumulan jangan lupa berdoa, baca firman, dan memuji nama Tuhan. Disini kita mesti belajar daripada Silas yang memiliki hati memuji Tuhan disaat sulit.
  6. Pemberita Injil. Ternyata Silas tercatat dalam 2 Korintus 1: 19 bahwa seluruh hidup mereka diakui oleh Paulus juga menjadi pemberita Injil. Ini berarti mengajarkan kepada kita bahwa Silas bukan saja dia setia melayani Paulus, dia juga setia melayani Tuhan dalam perintah yang paling mulia yaitu pemberitaan Injil. Demikian juga orang Kristen jaman sekarang harus menjadi pemberita Injil didalam kehidupan masing-masing.

Keenam sifat silas diatas harus ada didalam kehidupan kita. Itu yang membuatnya menjadi orang Kristen sejati dihadapan Tuhan. Kalau kita adalah orang Kristen sejati maka sudah sewajarnya 6 hal diatas juga

ada didalam kehidupan kita.

 

Dan disini kita bisa simpulkan pribadi Silas:

  1. Silas memiliki pribadi yang kuat tetapi rendah hati. Silas memiliki hati yang tangguh tetapi tdk mau menyombongkan kekuatannya. Silas memiliki pribadi yang kuat, dia seorang cendekiawan yang hebat pada saat itu, dia adalah warga negara Roma pada saat itu ternyata dia tetap rendah hati. Dia juga punya potensi untuk menyombongkan diri sebagai warga negara Roma, dia punya potensi untuk menunjukan siapa dirinya, tetapi ternyata dia tidak mau menonjolkannya.
  2. Silas memiliki modal untuk menonjolkan diri tetapi ia lebih menerima jadi second layer/lapis kedua untuk Paulus dan Petrus.Dia tidak mau berpikir bagaimana menjadi pemimpin yang hebat, dia jujur kepada Tuhan terhadap panggilannya, dia jujur untuk setiap apa yang dia kerjakan, semua motivasinya untuk Tuhan. Akhirnya namanya tercatat di dalam Alkitab. Maka disini setiap kita harus belajar, kalau panggilan kita memang mau jadi second layer/lapis kedua tidak apa apa, yang penting hidup kita dipakai oleh Tuhan. jangan kita berpikir diri kita mau menonjol tetapi akhirnya kita jatuh oleh karena ambisius kita yang tidak suci itu.

 

Disini kita harus belajar bagaimana kejujuran hati kita untuk meresponi setiap panggilan Tuhan seperti Silas itu akan membuat kita dipakai menjadi instrument yang indah, dan hidup kita akhirnya tercatat dalam buku kehidupan. Disini kita belajar Silas, orang yang menerima panggilan Tuhan, menerima semua tugas dengan baik, dia bukan orang yang penggerutu, dia bukan orang yang pemberontak, dia orang yang mengerjakan segala sesuatu dengan setia, yang penting Tuhan dipermuliakan. Jemaat, hidup kita juga harus demikiannya adanya. Amin. SOLI DEO GLORIA.

 

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah—JT)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami