Hati yang Berpadu dengan Hati Tuhan

Hati yang Berpadu dengan Hati Tuhan

Categories:

Bacaan alkitab: Matius 9:35-38

 

Tuhan Yesus berkata “tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit” (ayat 37). Bisakah Tuhan mempertobatkan banyak orang tanpa pengikut-Nya? Bisa. Bisakah Tuhan membuat tuaian yang banyak itu datang sendiri kepada Tuhan? Bisa. Namun mengapa Tuhan mengatakan bahwa tuaian itu banyak namun pekerja itu sedikit? Ini kalimat yang menunjukkan bahwa untuk memunculkan umat pilihan, Tuhan menuntut agar umat pilihan itu sendiri harus taat untuk mengabarkan injil.

 

1) Latar Belakang Masalah

 

Kedatangan Tuhan Yesus pada saat itu tidak mudah diterima. Pada zaman intertestamental selama 400 tahun tidak ada imam, nabi, dan raja. Zaman ini dibiarkan oleh Tuhan sehingga terjadi kegelapan agama. Setelah itu Yesus hadir. Jadi tidak mudah bagi mereka untuk menerima Yesus yang memiliki kuasa dalam pengajaran, memberitakan Injil, dan penyembuhan. Tidak mudah bagi mereka untuk menerima kehadiran Mesias pada saat itu. Yesus ditolak oleh Israel. kelahiran Yesus tidak mendapatkan penyambutan. Tidak ada yang mencari tahu apa yang Yesus sedang nyatakan dan kerjakan. Di zaman itu ada kematian agama. Para ahli Taurat seolah-olah beragama tetapi tanpa nilai spiritual yang benar. Orang-orang Yudaisme berpolitik tanpa nilai mandat budaya dalam politik. Agama seperti terjebak dalam kerutinan tanpa nilai rohani dan spiritualitas yang benar. Para tokoh agama seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi serta orang-orang Yudaisme telah kehilangan kepekaan rohani bahwa Yesus sudah datang pada saat itu. Masalah terbesar dalam agama adalah ketika kita kehilangan kepekaan akan pimpinan Tuhan. Banyak orang berkata bahwa dirinya bergama namun mereka tidak mengerti akan pimpinan Tuhan dan tidak mengerti apa yang mereka harus kerjakan. Kita bisa saja ke gereja setiap minggu, namun secara pribadi kita harus peka akan apa yang Tuhan mau di dalam seluruh hidup kita berkaitan dengan keluarga kita, pekerjaan kita, bisnis kita, dan panggilan kita di dalam Kerajaan Allah dan masyakarat. Jika kematian agama itu terjadi, maka kita akan menjadi orang-orang jahat dengan topeng agama atau menjadi orang-orang yang memakai simbol-simbol agama namun sebenarnya jauh dari Tuhan. Dalam Matius 9:34 Yesus dituduh memakai kuasa Setan. Ini terjadi setelah Yesus menyembuhkan orang buta dan orang lumpuh. Orang Farisi kemudian menuduh-Nya memakai kuasa Setan. Di sini kita melihat bahwa orang-orang beragama pun teologinya bisa kacau dan tidak peka membedakan kuasa Tuhan dengan kuasa Setan. Inilah kematian agama. Agama seharusnya mengandung nilai ketuhanan dan seluruh kebenarannya seharusnya membawa kita takut kepada Tuhan. Takut akan Tuhan membawa kita untuk mengerjakan apa yang Tuhan mau kita kerjakan.

 

Di saat itu juga seperti tidak ada penyertaan Tuhan. Mengapa tidak ada penyertaan Tuhan? Mereka sedang dijajah oleh Roma. Mereka kehilangan kemerdekaan dalam nilai kemanusiaan mereka. Mereka dihimpit oleh aturan-aturan orang Romawi. Mereka tidak bebas sebagai orang-orang pilihan Tuhan pada saat itu. Mereka tidak mendapatkan jawaban doa mereka. Mereka beribadah namun tanpa rasa damai. Seolah saat itu Tuhan tidak ada dalam diri mereka dan dalam agama. Di sana hanya ada rutinitas semata. Di sini kita mengerti pentingnya kehadiran Allah atau Imanuel (Allah beserta kita). Ketika kita menerima Yesus, kita mendapatkan penyertaan yaitu ketika Allah Roh Kudus mengangkat kita sebagai anak-anak Allah. Malaikat di surga akan membentengi dan melindungi kita. Penyertaan Tuhan begitu ajaib setelah kita lahir baru karena ada Allah Roh Kudus di dalam hati kita. Malaikat diutus oleh Tuhan untuk melindungi kita. Tuhan memberikan kita penyertaan-Nya lewat Firman yang kita baca dan renungkan.

 

Merupakan hal yang tidak mudah diterima ketika Tuhan hadir sebagai manusia yang memiliki kuasa Tuhan. Ia masuk ke dalam proses namun menyatakan terobosan dan menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang hidup dan Mesias. Ini tidak mudah diterima. Bagi orang Israel, Mesias yang hadir seharusnya langsung menghancurkan kerajaan Romawi, menciptakan kesejahteraan, memerdekakan agama, dan menghadirkan Kerajaan Allah secara fisik. Namun saat itu Tuhan Yesus hadir dan tidak menyatakan anugerah secara murahan. Yesus datang bukan menggenapkan semua keinginan orang Israel. Hal ini karena kedatangan Yesus itu berhubungan dengan Injil Kerajaan Allah. Mengapa ada istilah ini? bukankah cukup istilah “Injil”? kabar baik itu menyatakan kemerdekaan kita. namun ketika istilah Injil itu ditambahkan Kerajaan Allah, itu berarti saat itu adalah tahun yang baru dari Kerajaan Allah. Tahun itu menjadi waktu pembebasan yang sejati. Kuasa Tuhan diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Jadi kuasa Tuhan tidak lagi dinyatakan melalui raja, imam, atau nabi tetapi melalui setiap kita yang percaya kepada nama Yesus. Maka dari itu Matius 4:23 menyebutkan istilah Injil Kerajaan Allah.

 

Orang-orang Yahudi yang beragama saat itu seperti kehilangan pengharapan. Mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saat itu mereka ingin sekali menikmati Yerusalem baru dan menikmati status sebagai umat pilihan Tuhan. ini karena saat itu mereka berpikir bahwa Tuhan tidak lagi menyertai mereka sehingga semua ritual pada saat itu hanya bersifat rutinitas. Jika kita hidup tanpa pengharapan, maka kita tidak akan bisa bersukacita. Jika pengharapan kita terus menerus gagal maka kita akan kehilangan sukacita. Dalam situasi ini Yesus hadir untuk menerobos semuanya ini. ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang berkuasa, hidup, dan siap menyertai umat-Nya.

 

2) Hati yang Berpadu dengan Hati Tuhan

 

            Bukan hal yang mudah untuk menyelaraskan hati kita dengan hati Tuhan. Hati kita seringkali masih menyimpan keinginan-keinginan yang lain. Bukan hal mudah untuk mendengar suara Tuhan dan mengutamakan-Nya di atas keinginan kita. Jika kita menjadi liar dan menempatkan suara tuhan di bawah keinginan kita, maka kita akan menjadi orang yang hidup dalam kedagingan. Hidup kita akan diperbudak oleh setiap keinginan kita. Untuk menaklukkan keliaran diri kita pun merupakan suatu proses. Namun semua ini menjadi mudah jika kita mau menghormati otoritas Tuhan dan penebusan Kristus. Tugas kita adalah mematikan semua keinginan daging dalam kebenaran Firman Tuhan. Di saat itu kita akan mudah mengikuti keinginan hati Tuhan. Apa yang harus kita kerjakan untuk memiliki hati yang berpadu dengan hati Tuhan?

 

  1. Kasih yang Aktif (Yohanes 4:7-26)

            Kasih kita harus aktif dan bukan pasif. Kasih yang aktif adalah kasih yang mengandung nilai kesucian. Ini karena kasih yang aktif adalah kasih yang ketika bertemu dengan dosa, dosa itu dihancurkan. Kita memberitakan kasih Kristus yang kekal dan kasih Kristus yang membarui. Jadi kasih yang aktif itu adalah kasih yang membarui. Kasih yang aktif adalah kasih yang memunculkan karakter manusia ketika pada mulanya diciptakan oleh Tuhan. Kasih yang aktif adalah kasih yang memberikan energi hidup sehingga kita hidup berani bagi Tuhan. Jadi ciri orang Kristen adalah kasih yang aktif. Menurut Yohanes 3:16, Yesus datang dengan kasih yang aktif. Ia datang dalam nilai kasih yang ilahi. Pengajaran-Nya pun berdasarkan kasih yang aktif dan ajaib dari Tuhan Yesus Kristus itu sendiri. Panggilan kita adalah menjalankan kasih yang aktif. Alkitab mencatat bahwa setelah Yesus melakukan banyak mukjizat, Yesus pergi ke semua kota dan desa. Pelayanan yang berpengaruh itu adalah pelayanan dari kota ke desa, bukan sebaliknya. Kita harus memenangkan kaum intelektual dan orang-orang yang berpengaruh di kota. Semua ini akan memudahkan pelayanan ke desa. Jadi kita menjangkau kota dan desa. Kita juga harus mendidik orang-orang yang dipersiapkan untuk menginjili baik di kota maupun desa. Jadi semuanya bisa dimenangkan untuk Kristus.

 

Yesus aktif berkeliling ke semua kota dan desa. Saat itu Ia harus berjalan kaki, bukan dengan kendaraan seperti kita pada masa ini. Kasih yang aktif adalah kasih yang siap berkorban dan bukan mengorbankan orang lain. Kasih yang aktif adalah kasih yang memiliki fokus. Yesus mengajar dan melenyapkan sakit-penyakit. Jadi kasih yang aktif adalah kasih yang mewakili karya kuasa Tuhan. Apa yang Tuhan kerjakan menandakan kehadiran Tuhan. Jadi kehadiran kita harus membawa Injil, pengajaran, dan kuasa Tuhan. Di sana kita mewakili kehadiran Tuhan. Kita adalah pengajar dan agen moral Tuhan. Kita adalah garam dan terang, maka dari itu kita harus mengajar. Jika kita memberitakan Injil dan ada yang mau menerima Injil itu, maka kita harus mendoakannya. Penyakit yang terbesar sekarang bukanlah penyakit fisik tetapi penyakit yang mengikat hati dan pikiran kita. Banyak orang saat ini telah menjadi budak dosa. Itu adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan dokter. Hanya kuasa Tuhan saja yang dapat menyembuhkan manusia dari penyakit dosa. Yesus menyembuhkan orang-orang yang sakit dan dirasuki Setan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita bisa dipakai untuk menyatakan kuasa Tuhan di dalam kedaulatan-Nya. Kita harus berani mendemonstrasikan kuasa Injil. Di dalam kasih yang aktif itu kita harus berani menyatakannya.

 

Dalam Yohanes 4, Yesus memberitakan Injil kepada perempuan di Samaria. Yesus aktif di siang hari pergi ke sumur. Saat itulah Tuhan Yesus bertemu dengan perempuan Samaria. Tuhan Yesus berbicara kepadanya dengan menggunakan air. Dari sana Yesus menjelaskan diri-Nya sebagai air hidup. Air itu memberikan kehidupan bagi manusia. Dari percakapan itu akhirnya perempuan itu tahu bahwa dirinya berdosa. Ketika Tuhan Yesus mau ia memanggil suaminya, ia mengaku tidak memiliki suami. Perempuan ini jujur menyatakan tidak memiliki suami, karena ia tinggal bersama pria yang bukan merupakan suaminya secara sah. Yesus pergi ke sumur bukan untuk mencari minum atau mencuci pakaian tetapi untuk melakukan misi. Inilah kasih yang aktif. Jadi perempuan itu menyatakan dosanya dan bertemu dengan penyelesai dosa yaitu Yesus sendiri. Setelah ia bertemu dengan Mesias, ia memberitakan kabar itu kepada seluruh penduduk di sana. Kasih yang aktif mau menjangkau manusia berdosa. Pendekatannya bukanlah pendekatan yang menghina atau mempermalukan tetapi pendekatan yang membarui orang itu karena kasih yang aktif itu membarui manusia di dalam nilai hakekatnya.

 

  1. Mengabarkan Injil Kerajaan Allah Serta Melenyapkan Penyakit Dan Kelemahan (Roma 1:16)

            Setelah kita memiliki kasih yang aktif, kita mengabarkan Injil Kerajaan Allah. Berita Injil harus menyatakan siapa Tuhan yang memiliki kasih itu. Tuhan disebut kasih dan disebut sebagai Juruselamat. Ia juga disebut sebagai Penebus dan Pengampun. Hanya di dalam Dia ada keselamatan dan hidup kekal. Injil Kerajaan Allah tidak hanya memberitakan Allah sebagai kasih. Injil itu juga menyatakan keadilan Allah. Manusia berdosa harus dihukum menurut keadilan Allah. Tuhan Yesus Kristus harus datang untuk mati dan menebus kita. Inilah Injil yang sejati dalam Perjanjian Baru. Kita harus membawa Injil itu sehingga orang-orang disadarkan dan menerima Tuhan. Dalam sharing iman kita, kita harus bisa menyatakan keberdosaan manusia dan keselamatan yang Tuhan janjikan di dalam Injil. Jika kita hanya berbicara mengenai kasih Allah namun tidak pernah berbicara mengenai keadilan Allah, maka kita belum memberitakan Injil secara lengkap. Tuhan Yesus berkeliling untuk mengajar dan melenyapkan penyakit serta kelemahan.

 

Dosa membuat manusia menjadi bodoh. Ketika Roh Allah memenuhi Bezaleel (Keluaran 31:2-5), ia menjadi orang yang memiliki pengertian dan keahlian untuk membangun Bait Suci serta perkakas-perkakasnya. Ia tidak pernah sekolah formal tetapi langsung mendapatkan pengajaran dari Tuhan. Ia langsung memiliki keahlian, pengertian, dan pengetahuan. Sekolah merupakan sarana ketaatan. Ada hal-hal yang bersifat melebihi pengertian kita yang diberikan oleh Tuhan. Bezaleel menjadi pekerja yang sangat ahli karena Tuhan memberkatinya. Jadi cara Tuhan begitu luar biasa dalam mencerdaskan manusia. Dosa membuat kita bodoh namun Allah membuat kita pintar. Kita diberikan oleh Allah agar kita dapat menjalankan tugas dan panggilan kita. Jika Injil itu sudah mengubah kita, maka kebodohan kita akan lenyap. Semua pikiran yang buruk dan emosi yang tidak suci juga akan lenyap. Firman memerdekakan kita di dalam Yesus Kristus. Jadi Yesus adalah pembaru hidup kita. Sekolah bisa memperbaiki karakter dan mental, namun itu bersifat situasional saja. Perubahan yang paling sejati adalah dari dalam ke luar. Perubahan yang sejati itu adalah ketika Tuhan menanamkan pengenalan akan Kristus di dalam hati kita. Ketika kita mengakui-Nya, kita memiliki kuasa hidup. Ini karena Tuhan tinggal di dalam diri kita. Di dalam Dia kita bertemu dengan kesucian Tuhan dan ketaatan serta perintah dan kehendak Tuhan. Di sana ada nilai progresif dan perubahan yang nyata.

 

Kita tidak boleh malu akan Injil yang adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan setiap orang (Roma 1:16). Kita punya keyakinan bahwa hidup kita berubah karena Injil. Melalui berita Injil itu kita juga dipakai untuk mengubah hidup orang lain dan mengubah dunia sehingga mereka melihat Tuhan. Firman Tuhan itu berkuasa untuk mengubah manusia sehingga masa depan dunia ini bergantung pada orang-orang yang mau mengabarkan Firman Tuhan, termasuk kepada para pemimpin. Di masa ini dalam sekolah-sekolah Kristen sudah banyak dosa berkembang. Ada sekolah-sekolah di mana siswanya sudah melakukan seks bebas karena orang tuanya tidak mendidik anak tetapi terlalu sibuk bekerja. Mungkinkah ini terjadi pada sekolah anak-anak kita? Mungkin, jika kita melupakan panggilan kita untuk memberitakan Injil Tuhan.

 

Oleh karena itu kita tidak boleh melupakan identitas kita sebagai garam. Kehadiran kita harus bisa mencegah kebusukan moral, kebusukan sosial, dan kebusukan apapun juga. Di tempat kita tinggal, kita harus bisa menegakkan kesucian lingkungan. Pendekatan sosial-moral harus kita pakai untuk bisa mengajak orang-orang di sekitar kita sehingga keteraturan bisa dicapai. Kita harus mencapai standar kesehatan relasi dalam komunitas. Rumah dan lingkungan kita tidak boleh menjadi sarang dosa. Jika ada dosa, maka kita harus segera bertindak tegas. Jangan sampai keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita menjadi korban. Kita harus punya kelembutan namun juga harus punya ketegasan. Hal yang menyedihkan adalah jika orang Kristen justru menjadi pendukung keberadaan dosa di lingkungan. Orang ini telah melupakan panggilannya sebagai garam dan terang. Jika demi uang kita menghalalkan dosa, maka sebenarnya kita tidak berbeda dengan dunia. Kita sebagai gereja Tuhan harus saling mengingatkan, saling mencerdaskan secara iman, dan saling mengajak untuk bekerja dengan kesucian. Pendekatan sosial-moral adalah langkah awal yang kita bisa pakai untuk menjangkau dan mengajar orang-orang di sekitar kita. Setiap gerakan yang bersifat dosa harus bisa kita redam dengan cara yang paling lembut dahulu supaya bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Kehadiran kita adalah untuk menyembuhkan setiap penyakit sosial: perzinahan, kemabukan, narkoba, dan lainnya. Mengapa demikian? Karena kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan oleh Injil. Kuasa hidup ada di dalam kita. kita hadir untuk membuat perubahan yang memuliakan nama Tuhan.

 

iii. Mata dan Hati yang Dipenuhi oleh Belas Kasihan Kristus (Matius 6:22-23 dan Yohanes 7:53-8:11)

            dalam Mazmur 119:105 dikatakan Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Waktu Yesus hadir, Yesus menegaskan konsep dalam Matius 6:22-23. Mata hati adalah pelita tubuh. Jikalau itu gelap, maka seluruh tubuh akan gelap. Jika itu terang, maka seluruh tubuh akan terang. Ini berbicara mengenai konsep pandang kita yang sama dengan konsep pandang Tuhan. ketika Tuhan melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan karena mereka lelah seperti domba yang tidak bergembala. Banyak orang memiliki mata bisnis untuk meraup keuntungan lebih banyak untuk diri sendiri. Banyak orang memiliki mata yang hanya melihat dan menikmati kecantikan atau ketampanan orang lain. Namun berapa banyak orang memiliki mata seperti mata Yesus? Di dalam zaman ini, moralitas semakin bengkok. Laki-laki bisa tertarik secara seksual dengan laki-laki lainnya, begitu pula perempuan dengan perempuan lainnya. Mata hati kita harus seperti Yesus yaitu penuh dengan belas kasihan. Mata yang seperti itu membuat kita memiliki kerinduan untuk menghancurkan dosa. Mata yang seperti itu membuat kita yang lebih kuat mau menopang yang lemah (Roma 15:1). Jika kita memiliki mata Tuhan, maka konsep pandang dan hati kita akan terang. Maka dari itu kita harus berhati-hati menggunakan mata kita. Yesus melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Ia bersedih karena orang banyak itu masih terikat dengan dosa dan lemah. Yesus mau memerdekakan orang itu dengan Injil.

 

            Ketika perempuan yang tertangkap sedang berzinah itu dibawa kepada Yesus, orang Yahudi dan para pemuka agama ingin membunuh perempuan itu dalam emosi mereka. Pertanyaannya adalah: Di mana laki-laki yang ikut berzinah itu? Mengapa hanya perempuan itu yang dijadikan korban? Ketika Yesus melihat perempuan ini, Ia memandang dengan cara pandang surgawi. Tuhan memberikan pengampunan kepada perempuan ini. Akhirnya perempuan itu bertobat dan sungguh-sungguh hidup untuk Tuhan. Mata rohani membuat kita menjadi pemberi solusi bagi masalah keberdosaan. Kita tidak boleh melihat masalah dengan kacamata masalah. Kita harus berpikir solusi. Ketika orang-orang mau melempari perempuan itu dengan batu, Yesus berkata: Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu (Yohanes 8:7). Mendengar kalimat itu dan melihat Yesus yang menulis dengan jari-Nya di tanah, satu per satu orang Yahudi pergi. Mereka sadar bahwa diri mereka sendiri pun adalah orang-orang bermasalah. Kita dipanggil untuk mengasihi dan mengampuni setiap orang berdosa.

 

  1. Siap Menjadi Pekerja bagi Tuhan Yesus Kristus (Yesaya 6:8)

            Tuhan berkata: Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Lukas 10:2). Yesaya berkata: Ini aku, utuslah aku! (Yesaya 6:8) Tuaian itu sudah ada dalam rumah kita, yaitu anak dan cucu kita. Tuaian itu juga sudah ada dalam masyarakat kita dan di sekitar kita. Tuaian itu ada dalam negara kita dan negara-negara lain. Kita harus memiliki hati juga untuk orang-orang di luar sana. Kita harus berani membayar harga untuk bisa menjangkau jiwa-jiwa. Ini bukanlah hal yang mudah. Menjangkau jiwa itu lebih penting daripada uang. Apakah kita bisa berpikir demikian? Oleh karena itu kita harus bisa memberikan pengaruh. Uang bukanlah kemuliaan kita. Uang hanyalah sarana bagi kita. Kemuliaan kita adalah ketika kita bisa menjadi rekan sekerja Allah dalam menjangkau jiwa-jiwa. Oleh karena itu gereja harus menggunakan sebagian besar persembahan untuk mengadakan kebaktian kebangunan rohani. Kita harus berdoa agar kita siap menjadi pekerja bagi Tuhan. Kita harus bisa menjawab: Ini aku, utuslah aku!

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami