Hati Yang Berjuang

Hati Yang Berjuang

Categories:

Bacaan alkitab: 1 Petrus 5: 13 – 14.

 

Bagaimana kita tahu kalau kita berharga di mata Allah?

Di dalam bagian ini kita harus mengerti pada waktu kita menghargai penebusan Kristus atas hidup kita, pada waktu kita menghargai darah Kristus sudah dicurahkan untuk menebus akan dosa-dosa kita, dan penebusan itu nyata dalam seluruh kehidupan kita, maka kita tidak mau lagi bermain-main dengan dosa, kita tidak mau lagi hidup menyia-nyiakan waktu, kita tidak mau lagi hidup hanya untuk santai-santai saja, tetapi kita mengisi setiap waktu untuk bagaimana punya nilai dihadapan Tuhan, dan kita punya fungsi sebagai garam dan terang. Pada saat itulah kita tahu kita berharga di mata Tuhan karena kita menghargai penebusan Kristus.

Menjadi pertanyaan lanjutan darimana kita tahu bahwa seseorang tidak berharga di mata Allah? jikalau kita jatuh di dalam dosa tidak ada teguran daripada Tuhan, jikalau kita bermain-main dengan dunia tidak ada satu teguran daripada Tuhan, baik melalui suara hati nurani kita, baik melalui pukulan dalam setiap kehidupan kita, baik juga pukulan secara fisik untuk tubuh kita, disitulah kita baru tahu kita tidak berharga di mata Tuhan.

Kalau memang kita berharga dimata Tuhan dan jikalau kita perkakas yang penting dihadapan Tuhan seperti yang Paulus katakan makak  kita akan dijaga kebersihan kita, kita akan dilindungi tidak kena debu, kita akan dipelihara untuk tidak bisa mengalami satu nilai kehancuran dan lain-lain itu menunjukan kita berharga dimata Tuhan. Disini berarti mengajarkan kepada kita, bahwa yang paling tahu kita berharga di mata Tuhan adalah diri kita sendiri.

 

Bagaimana kita tahu bahwa kita juga berharga di mata sesama anak Tuhan?

Jikalau engkau baru sekali tidak datang ke Gereja, langsung ada orang yang kuatir, engkau kemana saja satu Minggu ini. tetapi kalau ada temanmu di Gereja bertanya kenapa engkau tidak datang ke Gereja, karena hari ini aku pulang harus naik angkot, berarti engkau berharga karena punya mobil untuk tebengan. Bukan karena engkau orang Kristen sejati.

Tetapi kalau kita berharga karena dikasih tahu tadi ada briefing sekolah Minggu, ada briefing pelayanan dalam tim ibadah dan Penginjilan kenapa engkau tidak datang, pikiranmu dinantikan, masukanmu dinantikan. Berarti kita harus sungguh berharga karena kita terhisap dalam satu misi pelayanan Tuhan. Ini baru berharga dimata sesama anak Tuhan yang baik dan benar.

Adalah suatu kesedihan yang paling dalam jikalau kita tidak pernah dianggap oleh orang lain, kesedihan yang paling dalam ketika kita tidak dianggap penting di dalam komunitas kita, dan dalam kehidupan Gereja pun tidak pernah dianggap penting. Kenapa? mungkin karena kita tidak pernah memasukan diri kita terlibat secara langsung masuk ke dalam satu pekerjaan Tuhan karena kita sering menjadi penonton, kita hanya menjadi orang Kristen yang pasif, kita menjadi orang Kristen yang tidak pernah peduli terhadap pekerjaan-pekerjaan Tuhan.

                  Pada bagian sebelumnya kita belajar bahwa diri kita sendiri yang mengetahui apakah diri kita berharga dimata Tuhan melalui menilai hidup kita. Namun Bagaimana caranya hidup kita diubah? Mungkinkah manusia tidak perlu lagi perubahan? Siapakah agen perubahan yang paling sejati? Tuhan Yesus sendiri. Siapakah agen perubahan selain Tuhan Yesus? firman-Nya. Siapa lagi agen perubahan? Roh Kudus. Siapa lagi agen perubahan? Dunia bisa membuat kita menjadi orang yang rusak. Siapa lagi agen perubahan? Setan dengan segala tawarannya yang begitu indah bisa merusak kita. Disini kita tahu agen perubahan yang paling sejati adalah Tuhan Yesus dan kuasa Firman-Nya yang mengubah hidup. Disitulah kita harus membuka diri jikalau Tuhan ingin merubah kita serupa dengan Dia setiap saat kita akan memiliki suatu keindahan hidup.

Jadi jikalau kita diubah oleh dunia kita sedih, jikalau kita diubah oleh setan dalam seluruh prilaku kita, keinginan kita, kita sedih. Tapi menjadi pertanyaan kita apakah setiap anak-anak Tuhan boleh sungguh-sungguh mau di ubah oleh Tuhan sebagai pencipta, penebus, pemelihara hidupnya? Apakah anak Tuhan pasti mau? Seharusnya harus mau. Tetapi adakah setiap anak Tuhan yang mengeraskan setiap kelemahan tubuhnya, mengeraskan sifat-sifat yang tidak produktif? Ada. Dan mungkinkah orang seperti ini perlu dibenturkan oleh Tuhan dengan keras supaya orang itu bertobat? Perlu. Kita tahu Markus pun punya potensi tidak baik, dia pernah meninggalkan ladang pelayanan pada waktu melayani bersama dengan Barnabas dan Paulus di Pamfilia. Dan kita tahu bagaimana hidupnya bisa menjadi orang yang punya perjuangan yang luar biasa karena diubahkan oleh Tuhan. Dan saya percaya salah satu instrument dunia sebagai alat perubah yang paling efektif adalah pendidikan. Pendidikan keimanan di Gereja itu paling efektif untuk merubah setiap manusia, pendidikan secara sekuler di dalam sekolah-sekolah itu pun bisa menjadi satu alat untuk merubah akan manusia. Dan kita percaya kita harus berubah ke arah Kristus dalam karakter kita dan dalam seluruh kehidupan kita. kita tidak boleh sama dengan dunia ini. Dengan demikian maka kita bisa memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan di akhir seluruh hidup kita.

 

Apa kebanggaan kita di akhir seluruh hidup kita?

                  Disini kita akan melihat Paulus mengakhiri hidupnya dengan indah, sampai mati martir di Roma. Petrus juga mengakhiri matinya martir di salib terbalik. Di dalam surat yang terakhir dia menulis satu nilai pujian untuk Silas, dia menulis satu pujian untuk istrinya sendiri yang juga mati martir, dia menulis pujian untuk Markus yang sudah menulis satu warisan yang sudah dia berikan, maka terciptalah buku yang disebut Injil Markus, Injil yang paling singkat dan paling lengkap, mendetail menceritakan peristiwa-peristiwa dimana Yesus dengan para rasul. Karena seluruh pengetahuan itu dia dapat pada waktu dia mendengarkan cerita daripada Petrus, dan Markus mencatat dengan baik dan dinyatakan dalam Injil Markus. Itulah kebanggaan yang di dapati oleh Petrus bahwa dia boleh meninggalkan satu warisan iman, dan buku itu boleh senantiasa kita baca yang disebut namanya Injil Markus. Demikian juga kita sebagai jemaat harus sungguh-sungguh hidup di dunia bagi Tuhan sehingga ada hal yang bisa kita banggakan untuk ditinggal di dunia ini.

 

Pelajaran dari Istri Petrus

                  Sekarang kita lihat kembali 1 Pet 5:13 “13 Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu  yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku.”

Siapakah yang disebut “kawanmu yang terpilih di Babilon” dalam ayat ini?

                  Di dalam terjemahan daripada LAI disebut seolah-olah orang yang tidak dikenal, hanya disebut kawanmu yang terpilih di Babilon. Jikalau kita menyelidiki daripada ESV, NIV, KJV, dan kita menyelidiki dari bahasa Yunaninya maka kita menemukan tulisannya diarahkan kepada “She who is in Babylon”,  kata ini Langsung ditunjukan kepada seorang wanita. Dan siapakah wanita yang ada di Babilon ini ? Di dalam bagian ini bapak-bapak Gereja kita dalam catatan sejarah akhirnya menunjukan itu adalah istri Petrus sendiri. menjadi pertanyaan kita, bagaimana Petrus bisa dekat dengan istrinya? Dikarenakan pada ayat 1 Kor 9:5 mengatakan bahwa Petrus senantiasa membawa istrinya di dalam ladang pelayanan. Satu kebahagiaan yang luar biasa jikalau suami istri boleh sungguh-sungguh melayani Tuhan. tetapi kesedihan jikalau suami melayani Tuhan tetapi istri tidak mau melayani Tuhan, begitu pun sebaliknya.

                  Tetapi dalam bagian ini yang bisa kita pelajari Petrus dengan istri sungguh-sungguh mengenal siapa Yesus. Pada waktu mereka sudah sukses menjadi seorang nelayan, dia punya rumah yang begitu baik, ternyata setelah dia menjadi pengikut Tuhan dia diubahkan menjadi penjala manusia, dan seluruh hartanya di jual untuk mengikuti Tuhan. apakah istrinya marah? Tidak. apakah istrinya protes? Tidak. Disitu kita belajar, kekompakan yang paling indah dalam kehidupan suami istri ketika satu visi, satu tujuan, satu hati dan satu kerelaan untuk hidup bagi Tuhan. dan yang kita tahu Petrus dan istrinya sama-sama mati martir.

                  Disini kalau kita mempelajari catatan sejarah maka kita akan mengalami satu sentuhan rohani yang luar biasa. pada waktu saya membaca akan manuscript-manuscript yang berkaitan dengan sejarah ini, baru saya menemukan ternyata kalau catatan manuscript itu benar menurut bapak-bapak Gereja, istri Petrus mati martir, sebelum mati Petrus memberikan kata-kata Tuhan beserta dengan engkau. Jadi mungkinkah istri Petrus dipukuli? Mungkinkah dia mati di pangkuan Petrus? Mungkinkah kematiannya dihadapan orang-orang lain? mungkin. Tetapi satu hal yang indah yang rasul Petrus lakukan. Dia memberikan kata-kata kekuatan kepada istrinya untuk boleh sungguh tetap bersama dengan Tuhan ketika dia mau mati. Di dalam surat yang terakhir dia masih teringat dengan istrinya, dengan sungguh-sungguh dia menyatakan sebagai rekan kerja yang baik, bukan dengan bahasa emosi, tetapi bahasa pernyataan bahwa istrinya itu adalah orang yang luar biasa. Disini kita belajar inilah contoh istri yang baik daripada Petrus, bersama-sama terus melayani Tuhan dan tidak pernah terpisahkan. Maka para istri juga harus demikian mau melayani dan setia  bersama suami.

 

Pelajaran dari Markus

                  Ayat tiga belas ini selain menyebut istri Petrus juga berbicara mengenai Markus. Kenapa Markus yang disebut Yohanes disebut anak rohani daripada Petrus. Apakah Petrus tidak punya anak? Dalam catatan-catatan yang kita pelajari, juga apa yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul yang mencatat perjalanan rasul-rasul mencatat bahwa tidak pernah  Petrus dan istrinya membawa anak-anaknya. Maka banyak penafsir mengatakan wajar kalau Petrus mengangkat anak rohani bernama Markus.

Ibunya disebut Maria, tetapi ayahnya tidak disebut. Jadi disini ada kemungkinan bahwa ayah daripada Markus sudah meninggal. Dan pamannya namanya Barnabas. Jadi disini kita melihat mereka ini adalah satu keluarga yang indah. Dan ternyata lagi dalam catatan sejarah Petrus istrinya bersaudara dengan Maria. Jadi ini adalah keluarga yang kompak dalam pelayanan.

Tetapi pada jalannya waktu kita tahu dalam proses waktu akhirnya Markus lari daripada pelayanan, dan disitu dalam proses waktu kita juga tahu akhirnya Barnabas memanggil dia kembali untuk melayani, tetapi Paulus tidak setuju. Kita akan mendalami bagian itu. Disini kita bisa melihat akibat daripada Markus yang disebut Yohanes labil imannya, tidak punya kekuatan mental, dia lari dari pelayanan di Pamfilia, saat itu Markus sebagai suatu pribadi yang masih muda. Paulus dan Barnabas melayani di Pamfilia dengan sungguh-sungguh ada kesulitan, ada tantangan, ada ancaman. Dan karena kesulitan itu semua Markus lari dari pelayanan.

Kenapa Markus lari? Dalam catatan sejarah dikatakan salah satunya karena dia belum punya kemantapan iman menghadapi kesulitan demi kesulitan bersama dengan Tuhan, dia belum punya mental yang kuat pada waktu mendapatkan ancaman dan keterbatasan itu, maka dia berpikir lebih baik dia meninggalkan Pamfilia dan dia lari ke Yerusalem. Disini kita melihat ternyata Markus yang disebut Yohanes juga di proses oleh waktu untuk dia punya iman yang kuat.

Menjadi pertanyaan kita lagi, mengapa Paulus menolak Markus? Paulus menolak Markus alasannya hanya karena satu, Markus adalah pribadi yang tidak bertanggung jawab. Bagi Paulus secara pribadi ini adalah sesuatu yang sangat serius. Maka di dalam diskusi itu Barnabas mengusulkan keponakannya yang disebut Markus ini untuk ikut. Paulus dengan tegas mengatakan tidak, sedangkan Barnabas mengatakan ya. Maka dalam catatan sejarah terjadilah satu perdebatan, atau terjadilah satu konflik. Maka pertanyaan saya, benarkan sikap Paulus menolak Markus? Dan benarkah sikap Barnabas mengajak Markus? Dua-duanya benar. kenapa benar? Paulus mewakili keadilan Tuhan, sedangkan Barnabas mewakili kasih Tuhan. Disini kita bersyukur karena Tuhan boleh sungguh tetap

memberikan satu nilai keseriusan iman yang diwakili oleh Paulus itu sendiri dalam nilai keadilan, dan Barnabas mewakili kasih Tuhan dalam nilai kasihnya untuk memberikan kesempatan untuk Markus mengalami pemulihan. Akhirnya Markus berubah menjadi orang yang disebut punya satu perjuangan, orang yang selalu berjuang. Dan akhirnya Paulus mendengar bagaimana pelayanan daripada Markus itu baik pada waktu pelayanan dengan Barnabas, dan dia mendengar kabar-kabar dimana Markus melayani jiwa-jiwa dengan sungguh luar biasa.

Akhirnya kita tahu Markus yang disebut Yohanes menjadi orang yang selalu bertanggung jawab dalam setiap pelayanannya yang diberikan kepada dia. Dia menjadi orang yang dihandalkan oleh Paulus itu sendiri dalam setiap pelayanan sampai Paulus mati di Roma, dia menjadi orang yang penting dan dihandalkan. Menjadi pertanyaan kita adalah apakah hidup kita sudah berarti untuk pekerjaan Tuhan? apakah hidup kita sudah dihandalkan oleh orang-orang yang disekitar kita dalam pekerjaan Tuhan seperti Markus?

Disini kita diingatkan bahwa kita harus  belajar dari  Petrus yang  berhasil membuat regenerasi hidupnya, dia punya anak rohani yang akhirnya melaluinya dia dapat meninggalkan satu warisan yang penting selain surat 1 dan 2 Petrus, dia akhirnya meninggalkan satu tulisan yang dicatat dengan detail oleh Markus, yang disebut Injil Markus itu sendiri. Maka Disini kita kembali diingatkan bahwa seluruh identitas kita, seluruh karakter kita, jikalau kita akhirnya bisa menunjukan identitas yang bertanggung jawab dihadapan Tuhan maka itu menunjukan kita sungguh-sungguh berharga di mata Tuhan. Dan melalui menjadi berharga di mata Tuhan kita juga  bisa meninggalkan hal yang berharga di dunia ini bagi orang Kristen lainnya seperti Petrus, Istrinya dan Markus. Amin. SOLI DEO GLORIA.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah—JT)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami