Hati Yang Berjuang (2)

Hati Yang Berjuang (2)

Categories:

Apa yang mau kita capai dalam ziarah rohani kita?

Di dalam hidup ini setiap kita punya perjalanan waktu. Di dalam perjalanan waktu ada event-event yang terjadi, baik yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan, baik yang menimbulkan sukacita ataupun yang menimbulkan kesedihan. Seluruh ziarah itu menjadi satu ziarah rohani karena kita percaya tidak ada waktu yang kita lewatkan dimana Tuhan tidak menyertai kita. tidak ada disaat kita terpuruk dalam usaha, dalam bisnis, seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Jadi seluruh hidup kita dalam perubahan waktu, perubahan daripada tahun kita percaya semua bernilai punya ziarah rohani. itu artinya melalui waktu di dalamnya ada kandungan rohani yang kita belajar tentang Tuhan. jadi mungkinkah waktu yang kita lewati tanpa nilai ziarah rohani? Mungkin. Kenapa bisa tanpa nilai ziarah rohani? Karena kita tidak berusaha mengenal Tuhan di dalam kesulitan kita, kita tidak berusaha mengenal Tuhan di dalam seluruh daripada keberhasilan kita, kegagalan kita, mungkin juga kesedihan kita. Di dalam bagian ini kita akan belajar orang yang dewasa rohani adalah orang yang punya kepekaan hidup selalu berelasi dengan Tuhan dan selalu mau kembali kepada Tuhan jikalau jalannya itu serong.

 

Pada hari ini kita akan belajar ciri-ciri kedewasaan rohani dari pada Alkitab. Ada berapa sumber yang akan kita pakai. Kisah Ayub, Paulus, surat Ibrani dan surat Efesus.

  • Ayub: Orang dewasa rohani bertahan dalam penderitaan (Ayub 42:5-6)

Kita lihat contoh yang pertama untuk mengetahui apakah kita dewasa rohani atau tidak. Tuhan bisa mengijinkan untuk setiap orang bisa mengalami kedewasaan rohani caranya adalah melalui penderitaan. Ketika setan ditanya oleh Tuhan darimana saja engkau? Maka setan itu menjawab aku dari keliling-keliling melihat hamba-Mu yang saleh itu (Ayub). Dan Tuhan memberitahu bukan hanya saleh, dia juga menghindarkan hidupnya daripada hal-hal yang jahat. Setelah itu setan berkata kepada Tuhan: bolehkah aku mencobai daripada hamba-Mu itu, biar bisa diketahui apakah dia benar-benar saleh? Apakah dia hidupnya benar-benar menjauhi daripada kejahatan? Tuhan mengijinkan. Tetapi kata-Nya jiwanya tidak boleh engkau sentuh. Di dalam bagian itu kita akhirnya belajar kesalehan Ayub adalah kesalehan yang bersifat situasional. Tetapi ketika mulai dia mengalami kesesakan jiwa, kesakitan yang di dalam ruang dan waktu begitu sangat panjang, dan dia mendapatkan akan tekanan daripada sahabat-sahabatnya, disitulah mulai terbongkar akan konsep dia melihat diri lebih benar daripada Tuhan. dia merasa tidak layak untuk dilahirkan, dia merasa tidak layak untuk mendapatkan semuanya itu, karena dia sudah hidup saleh.

 Justru di dalam kenikmatan itulah Tuhan sedang membongkar satu kenikmatan Ayub, dan akhirnya kita tahu dalam cara dia mendidik anak pun dia salah. Itu menunjukan dia belum punya satu kedewasaan dalam kualitas pengenalan Tuhan yang benar dalam pendidikan anak, dia belum sungguh-sungguh punya kedewasaan rohani dalam pengenalan akan Tuhan yang benar untuk dia mengalami hal-hal yang sulit, tetapi dia tetap bisa melihat ada tangan Tuhan yang besar yang bekerja. Disini kita bisa melihat Tuhan bisa mengijinkan penderitaan melalui setiap anak-anak Tuhan untuk kedewasaan rohani umatnya.

 Padahal pada saat itu Tuhan justru berdiam, Tuhan tunggu waktu yang tepat untuk Ayub boleh sungguh minta pendapat Tuhan. dan saat itu konsep Ayub yang salah, dia merasa Tuhan itu seperti tidur, seolah-olah Tuhan itu berdiam di kala dia mendapatkan penderitaan, di kala dia menyatakan satu kesesakan jiwa seolah-olah Allah itu berdiam. Kenapa Allah itu berdiam? Karena Ayub yang banyak ngomong. Kenapa Allah berdiam? Karena Ayub melihat dirinya benar, dia merasa tidak layak mendapatkan penderitaan itu, kenapa Allah berdiam? Karena Ayub tidak berani membuka hati untuk di koreksi oleh Tuhan, saat itulah seolah-olah Allah itu berdiam.

Ketika kita merasakan Allah itu sunyi tidak berbicara di dalam hati kita bukan berarti Allah itu meninggalkan kita, seolah-olah kalau kita lagi senang kita rasa tidak ditinggalkan Tuhan, kenapa? karena kita menemukan Allah yang baru yaitu kesenangan kita. waktu kita menikmati segala sesuatu kita rasa kita tidak ditinggalkan Tuhan, kenapa? karena kita sedang ada dalam kenikmatan itu. maka ujian yang paling sejati adalah ketika hidup kita kehilangan kenikmatan, kenyamanan, kehilangan satu jaminan hidup, saat itulah baru kita tahu sampai sejauh mana kualitas pengenalanmu tentang Tuhan.

Dan yang kedua kita baru tahu melalui sahabatnya yang baik yang paling muda yaitu Elihu, maka kita bisa melihat Ayub dibukakan teologi tentang Allah yang baru, Ayub dibukakan tentang teologi manusia yang baru, Ayub dibukakan tentang teologi kedaulatan Tuhan, dan melalui itulah Ayub baru sadar betapa pentingnya setiap kita punya respon rohani yang suci dikala hidup kita ada kesulitan. maka Ayub tadi yang kita baca menarik seluruh perkataannya, dia menyesali seluruh sikapnya, kenapa? karena dia merasa lebih benar daripada yang lain. aku tidak layak mendapatkan ini, Tuhan seharusnya tidak kenakan ini kepadaku, seharusnya aku tidak dilahirkan. Mempertanyakan kedaulatan Tuhan itu suatu dosa yang sangat berat sekali. mempertanyakan Tuhan dalam kebaikannya seolah-olah kita tidak melihat Tuhan itu kuat dan Tuhan itu penuh kasih. tetapi melalui sahabat yang paling muda Elihu akhirnya kita bisa belajar Ayub mendapatkan seorang sahabat yang sungguh-sungguh punya ketulusan, punya kepekaan rohani, dan seluruh perkataannya seperti pisau yang tajam, membelah jiwa yang terdalam daripada Ayub, membongkar seluruh pikiran yang tidak beres tentang Tuhan.

Dan melalui itulah puncaknya akhirnya Ayub sadar, aku hanya kenal Tuhan dari orang lain saja, sekarang dengan mataku sendiri aku melihat engkau ya Tuhan. apa artinya? Artinya adalah sekarang Ayub lihat Tuhan secara pribadi di dalam kesulitan, dia sekarang merasakan kasih Tuhan yang luar biasa melalui akan pukulan demi pukulan hidupnya. Setelah itu dia bertobat, tanda abu di kepalanya, tanda dia tidak pakai pakaian yang layak itu menunjukan dia punya dukacita yang terdalam, tetapi dukacita yang terdalam sedang diikuti dengan dukacita rohani, ada penyesalan untuk dia melihat dirinya seolah-olah dia merasa lebih benar daripada Tuhan, disitulah dia mengakui dia orang berdosa.

Jadi ini kalimat yang penting dalam satu kalimat kunci daripada J. A. Packer kualitas pengenalan Ayub dulu adalah tahu siapa Tuhan, tetapi setelah mengerti tentang kehendak Tuhan dan melewati pergumulan itu, dia belajar tentang Tuhan yang baru, hidup yang baru maka dia sekarang mengenal Tuhan, aku sekarang langsung mengenal engkau Tuhan, dan ayat ke 6 itu tanda pertobatan dia, aku mencabut seluruh perkataanku. Dan divine being yang diberikan aku menyesal, aku duduk dalam debu dan abu. Melalui itulah baru kita tahu akhirnya Ayub setelah mendapatkan didikan yang begitu kuat, dia mengalami kedewasaan rohani, setelah itu dipulihkan keluarganya. Mendapatkan lagi anak, hartanya kembali lagi, mendapatkan kedudukannya kembali, kesehatannya dipulihkan, tetapi melalui pertobatan yang sejati. Disini saya percaya bahwa pada waktu Tuhan memberikan kepada kita satu kedewasaan rohani tidak lain Tuhan ingin menjadikan kita lebih cemerlang lagi untuk menjadi saluran berkat Tuhan. Ayub akhirnya lebih cemerlang lagi dalam menyaksikan nilai keluarganya, dalam menyaksikan nilai usahanya, dalam menyaksikan Tuhan yang sudah bekerja dalam hidup dia kepada orang-orang disekitarnya

 

  • Paulus: Orang dewasa rohani mengembangkan diri & melihat tantangan sebagai perjuangan

Disini maka kita belajar, Paulus punya satu pelayanan yang berkaitan dengan pengenalan dirinya. jadi dia bukan hanya sibuk melayani orang lain, tetapi dia juga punya pelayanan untuk diri, dia menggembalakan dirinya, dia mengembangkan setiap talentanya dengan baik, sehingga kehidupan dalam pelayanan Paulus dia tidak mengalami kekeroposan rohani, dia tidak mengalami kekeringan rohani, kenapa? karena seimbang antara sesuatu yang dia keluarkan dalam pelayanan aktivitasnya, dengan sesuatu yang dia berdiam dihadapan Tuhan. (1 Kor 3:6-9; 15:9).

Dan yang kedua kita melihat pada waktu dia menghadapi tantangan demi tantangan dalam pelayanan, menghadapi hambatan dalam pelayanan dia melihat sebagai satu nilai perjuangan. (1 Kor 9:24-27) Jadi artinya Paulus tidak pernah minta di dalam pelayanan semua harus lancar, dia tidak minta untuk dilayani, tetapi yang kita lihat padahal dia ada tantangan, ada satu hambatan, yang keluar adalah satu perjuangan, disinilah tandanya dia orang dewasa, dia tidak pernah meminta dirinya dilayani lebih penting dari yang lain, dia tidak meminta pelayanan itu lancar. Ketika ada perjuangan, ketika ada tantangan, ketika ada kesulitan dia justru mendemonstrasikan kualitas imannya. Ini hal yang baik.

 

  • Ibrani: Orang dewasa rohani tidak makan makanan bayi & doktrin berkembang

Kita bisa melihat tanda kedewasaan daripada surat Ibrani, dan melaluinya kita bisa tahu kenapa ada orang mengalami penurunan kedewasaan. Kita bisa melihat dalam Ibrani 5 : 13 – 14 dikatakan makanan rohani orang yang belum dewasa rohani adalah seperti anak-anak rohani yang masih kecil sukanya makanan yang bersifat mudah, yang empuk, yang lembut, dan surat Ibrani mengatakan yang dia makan itu bersifat susu, kalau di berikan makanan yang keras dia tidak punya kepekaan doktrinal, dia tidak bisa menyerapnya dan mengelolanya dan dia sangat mudah terjebak dengan ajaran-ajaran yang tidak beres.

Dan yang kedua kita bisa melihat dalam Ibrani 6 : 1 – 2 orang yang dewasa rohani memiliki cara pandang yang komprehensif tentang doktrin Kristen. Dia tidak mengalami kemandekan atau tidak berkembang. Di dalam bagian ini orang yang kekanak-kanakan tidak suka pengajaran, tidak suka doctrinal, sukanya yang ringan-ringan, yang mudah untuk di cerna. Disini maka kita harus belajar bagaimana doktrin yang benar akan mempengaruhi cara pandang kita, doktrin yang benar akan mempengaruhi cara emosi kita, doktrin yang benar akan mempengaruhi sikap tindak kita. jadi disini mari kita belajar untuk menjadi orang yang dewasa rohani.

 

  • Efesus: Orang dewasa rohani memiliki buah roh, satu tubuh Kristus, rajin melayani dengan karuniannya, dan setia kepada kebenaran murni.

Pertama, Buah “Kemurahan Kasih”: Kerendahan Hati, Lemah Lembut, Kesabaran dan Saling Membantu (Ef 4:2). Jadi kalau engkau melihat ada orang bermodel seperti ini, dia sungguh mau hidup dalam kasih Tuhan, bukan hidup dalam mengasihi diri, dan ketika dia belajar mengasihi orang lain bukan hanya bersifat antroposentis, tetapi bagaimana kasih Kristus terpancar karena karakter dia yang sudah di ubah oleh Tuhan, dan dia senantiasa mau dipenuhi oleh kasih Tuhan, dan itu terpancar dari model karakternya rendah hati, lemah lembut, punya kesabaran, mau saling membantu, tidak egois. Jikalau engkau melihat orang ini berarti model orang ini sudah dewasa rohani. kenapa dia sudah dewasa rohani? Dia tidak lagi mementingkan diri, dan sangat senang untuk berkorban, dan kita senang kalau hidup kita berfaedah untuk orang lain.

Diikat oleh “Damai Sejahtera” dengan tujuh kata “satu”: Tubuh, Roh, Pengharapan, Tuhan, Iman, Baptisan, Allah dan Bapa (Ef 4:3-6). Orang itu suka persatuan di dalam Tuhan dan untuk memuliakan Tuhan, bukan persatuannya waktu kumpul hanya karena olahraga dan yang lain-lain, bukan itu, itu satu persekutuan senasib dan hobby yang sama. Ketika kita berkumpul di Gereja ini karena ada yang mengikat yaitu damai sejahtera. Bukan yang mengikat soal hobby, bukan yang mengikat karena senasib, tetapi kita diikat karena kita sudah di damaikan oleh Tuhan, dan kita rindu persatuan kita bisa mendamaikan orang-orang lain yang belum bertemu dengan Tuhan. jadi disini kalau kita sudah damai dengan Tuhan, kita akan damai dengan diri, kita akan damai dengan orang lain, dan kita menyukakan orang-orang yang belum dengan Tuhan. Jadi di dalam bagian ini orang yang dewasa rohani dia tidak suka dengan hal-hal seperti percekcokan, keributan, dia sukanya bersatu dalam damai sejahtera, supaya damai itu terpancar seperti jemaat mula-mula, mereka bersekutu, mereka memberitakan Injil hingga satu persatu orang kembeli kepada Tuhan.

Melayani dengan perbedaan karunia (Ef 4:7, 11-12). Di dalam jemaat Efesus tandanya orang itu suka sekali melayani, dan menariknya melayani dalam aspek unity in diversity. Jadi melayani bukan untuk menonjolkan diri, tetapi melayani dalam keterpaduan. Jadi kalau kita punya sesuatu untuk saling melengkapi itu bagus, itu caranya memang masing-masing sudah di kuduskan untuk Tuhan. jadi yang ada ketika kita bersatu adalah potensi yang sudah di kuduskan, karakter yang sudah di kuduskan, Jadi kita bukan untuk menonjolkan diri, tetapi kita untuk menjadi tim bersama-sama. Disini orang yang dewasa rohani tidak lagi minta pelayanan diri, yang dia minta adalah dia lebih banyak melayani, dia lebih banyak berkorban, dia lebih banyak melakukan untuk orang lain bisa mengenal siapa Tuhan, bukan tahu siapa aku.

Setia kepada kebenaran yang murni sebagai dasar pertumbuhan imannya ke arah Tuhan Yesus Kristus (Ef 4:14-16). Di dalam model daripada jemaat Efesus kedewasaan rohani itu bisa kita lihat mereka setia sekali kepada kebenaran yang murni sebagai dasar pertumbuhan iman mereka ke arah

Kristus. Paulus mengambil filosofi kalau kita bertumbuh itu harus ke atas. Kenapa? karena makin kita bertumbuh ke atas kita makin melihat Tuhan, bukan melihat dunia. kalau engkau bertumbuh ke arah dunia maka engkau akan bertumbuh lihatnya perkara dunia. Jemaat Efesus bertumbuhnya ke atas, dia lihat Tuhan, cara pandangnya ke atas, maka dia tidak suka hal-hal perkara dunia, dia suka perkara-perkara Tuhan yang hadir di dunia. dengan kita bisa melihat Tuhan ke atas itu karena kebenaran yang kita dapati daripada firman Tuhan itu akan mengajarkan diri kita itu kecil dan mengajarkan Tuhan itu besar, mengajarkan apa yang kita hadapi ini tidak ada apa-apanya. Jadi orang yang dewasa akhirnya dengan kebenaran yang dia dapati untuk pertumbuhan imannya akhirnya dia selalu melihat Tuhan itu lebih besar, lebih kuat, dan sebaliknya dia melihat dirinya itu kecil tidak ada apa-apanya, dan dia akan mengutamakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan daripada untuk diri. ini yang terjadi untuk jemaat di Efesus.

 

Penutup

Kedewasaan Rohani seseorang , terlihat dari keinginannya dalam mengejar kesucian: pikiran, emosi dan tindakan. Engkau orang dewasa jangan hanya berpikir mengejar kekayaan,kepopuleran. Kedewasaan Rohani di tandai dengan “Self Control” yang total (baca 1 Pet 1:13-16). Setiap kita mungkin punya kelemahan dalam penguasaan diri dalam hal tertentu, tetapi Tuhan minta jikalau engkau orang dewasa penguasaan dirimu harus total dalam segala hal, bukan bersifat parsial. Mari kita baca 1 Petrus 1: 13 – 16. 13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.  14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,  15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,  16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Kekudusan itu bersifat total, tidak bisa kita mempermainkan kekudusan Tuhan. bagaimana kita bisa kudus? Siapkanlah akal budimu, berubahlah oleh pembaruan budimu supaya kamu tidak sama dengan dunia ini, sehingga kamu mengetahui mana kehendak Allah yang benar dan suci, yang sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan dan yang sempurna. SOLI DEO GLORIA, AMIN.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah—JT)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami