Gengsi yang Membawa Kehancuran (Efraim)

Gengsi yang Membawa Kehancuran (Efraim)

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 12:1-7; Wahyu 7:6, 8.

 

Pendahuluan

Mengapa Efraim dan Manasye selalu berseberangan? Bukankah keduanya anak Yusuf? Mana kakak dan mana adik (Kejadian 48)? Efraim adalah adik Manasye adalah kakak. Mereka adalah anak-anak Yusuf. Namun saat Yakub sudah tua, Yusuf meminta agar anak-anaknya diberkati. Yakub memberkati Manasye dengan tangan kirinya dan memberkati Efraim dengan tangan kanannya sehingga tangannya menyilang (Kejadian 48:14). Hal itu dipandang tidak baik oleh Yusuf, oleh karena itu Yusuf memindahkan tangan Yakub dan menegur ayahnya (ayat 17 dan 18). Akan tetapi Yakub berkata: Aku tahu, anakku, aku tahu; ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa (Kejadian 48:19). Hal itu membuat Efraim menjadi sombong dan Manasye menjadi iri hati.

Sampai sejauh mana pentingnya mengenal diri atau menilai diri? Ini sangat penting dan sangat berkaitan dengan bagaimana kita berelasi dengan orang lain serta berelasi dengan Tuhan secara pribadi.

Mengapa ada orang yang tidak mengenal diri (tahu diri) dalam hal mengukur kemampuannya dan kekurangannya sehingga ia merasa hebat, bisa, dan menganggap dirinya penting? Inilah Efraim. Mungkin kita pernah melihat orang-orang di sekitar kita yang tidak tahu apa-apa namun berkata-kata seolah mereka tahu banyak hal. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa namun merasa bisa berbuat apapun juga. Ketika diuji dalam nilai tanggung jawab akan terbukti bahwa mereka tidak sehebat yang mereka katakan.

Mengapa Efraim marah kepada Yefta (Gilead)? Efraim memarahi Yefta setelah peperangan telah usai. Seharusnya Efraim marah kepada Yefta sebelum peperangan dimulai. Inilah gengsi atau kesombongan dan dosa adik yang menghina kakak. Gilead adalah bagian yang besar dari suku Manasye.

 

Pembahasan

1) Janji Berkat yang Berubah menjadi Kesombongan (Kejadian 48:17-22)

Yakub sebagai kakek diminta oleh Yusuf untuk memberkati kedua anaknya. Yakub menyilangkan tangannya ketika Yusuf sudah memosisikan kedua anaknya. Yakub memberkati Efraim sebagai adik dengan tangan kanan dan memberkati Manasye sebagai kakak dengan tangan kiri. Yusuf menegur ayahnya namun Yakub menyatakan bahwa Efraim akan menjadi lebih besar daripada kakaknya. Yakub sudah tua dan kesalahan itu menyebabkan Efraim menjadi orang yang paling sombong. Mengapa menjadi sombong? Karena ia merasa akan menjadi bangsa yang lebih besar daripada kakaknya. Sejak saat itu kedua suku ini selalu berseberangan. Memang berkat yang diberikan itu berseberangan. Di dalam masa pemerintahan Daud, kedua suku ini akrab karena ada Daud dari suku Yehuda yang memimpin. Namun setelah itu di dalam kitab Hosea, Efraim paling banyak mendapat kritik. Efraim jatuh ke dalam dosa kemunafikan dan kesombongan. Setelah itu Efraim tidak disebut lagi, bahkan sampai kitab Wahyu nama suku Efraim tidak disebut lagi. Di sini kita mengetahui bahwa orang-orang Efraim adalah orang-orang yang sombong. Ketika Daud memerintah, mereka takluk kepadanya. Namun ternyata hal ini tidak membuat mereka menjadi orang yang rendah hati. Mereka menjadi sombong, tidak mengutamakan Tuhan, dan merasa bahwa diri mereka lebih hebat dari siapapun juga. Ini membuat mereka menjadi orang yang terbuang.

 

2) Arogansi yang Tidak Tahu Diri

Pertama, Efraim memiliki arogansi yang tidak tahu diri karena merasa lebih hebat daripada Gilead (Manasye) yang telah mengalahkan bani Amon. Efraim sudah diajak untuk memerangi Amon bersama dengan Yefta namun mereka tidak peduli. Namun setelah Yefta menang atas Amon, tiba-tiba Efraim menjadi marah. Mereka mengancam akan membakar rumah Yefta. Di dalam komunikasi ini tidak ada relasi yang baik antara adik dan kakak atau sebagai saudara. Di sini kita melihat Efraim merasa lebih hebat dari Gilead (Manasye). Saat itu suku Efraim bisa memiliki banyak hal namun kaum Gilead tidak memiliki apa-apa. Orang-orang Gilead mengalami kesulitan di bawah bani Amon namun suku Efraim begitu bebas. Efraim menjadi sombong karena merasa dirinya lebih berprestasi daripada suku Manasye. Kedua, Efraim merasa lebih besar daripada Gilead (Manasye). Jumlah orang dalam suku Efraim memang lebih banyak. Hal ini membuat mereka merasa lebih hebat daripada suku Manasye. Mereka berpikir bahwa jika mereka berperang maka suku mereka pasti menang. Ini adalah adik yang menyombongkan diri di hadapan kakaknya. Ketiga, Efraim merasa lebih penting daripada Gilead (Manasye). Ini karena mereka melihat sejarah dan menyadari bahwa Yakub telah memberikan janji bagi Efraim bahwa suku Efraim akan menjadi suku yang lebih besar daripada suku Manasye. Suku Efraim merasa dirinya lebih penting. Ini adalah kesombongan karena masa lalu yang bisa membawa kehancuran di masa depan. kebanggaan karena masa lalu bisa membuat kita menjadi sampah di masa depan. Efraim adalah suku yang bangga dengan masa lalu namun tidak memiliki bukti dalam masa kekinian.

 

Efraim menghina Gilead (bandingkan Matius 7:3-5). Suku Efraim merasa bahwa suku Manasye selalu lari dari suku Efraim. Ini karena mereka berseberangan. Ketika orang-orang Gilead tidak mau menyelesaikan masalah secara fisik, mereka dianggap sebagai pengecut. Identitas dan karakter orang-orang Gilead dianggap tidak jelas oleh suku Efraim. Jadi suku Efraim datang kepada Yefta dengan kemarahan dan penghinaan. Ketika Yefta menghadapi bani Amon, ia mencoba terlebih dahulu pendekatan rasio dan iman melalui komunikasi yang baik. Mengapa Yefta langsung emosi ketika Efraim marah dan menghinanya? Apakah ini karena sejarah mereka yang selalu berseberangan? Yefta tidak bisa lagi menguasai dirinya sehingga ia langsung berperang dengan Efraim. Tuhan Yesus sudah mengingatkan dalam khotbah di bukit ketika Ia membicarakan tentang kemunafikan orang-orang yang belum mengeluarkan balok dari matanya sendiri (Matius 7:4-5). Yesus membicarakan orang-orang yang sangat peka terhadap kelemahan orang lain namun tidak bisa melihat kekurangannya sendiri. Ada orang-orang yang sombong karena merasa dirinya rohani padahal kerohaniannya sangat busuk. Celakanya adalah mereka tidak sadar bahwa kerohanian mereka begitu rusak. Itulah orang munafik. Orang-orang Efraim merasa telah mendapatkan berkat dari Tuhan padahal berkat itu sudah tidak mereka dapatkan lagi. Mereka merasa disertai oleh Tuhan padahal mereka sudah dibuang oleh Tuhan karena kesombongan. Di sini kita bisa melihat perbandingan antara mereka dan Yefta. Yefta dianggap berasal dari kaum yang tidak jelas karena ibunya memang bukan seorang perempuan yang baik-baik. Namun Yefta sangat mengenal diri di hadapan Tuhan Allah.

 

3) Yefta Sangat Mengenal Diri atau Tahu Diri

            Di dalam peperangan, Yefta sudah berusaha untuk bekerja sama dengan Efraim. Yefta sudah mengajak Efraim berperang bersama melawan bani Amon. Kendati demikian, Efraim tidak peduli. Kakak yang meminta tolong adiknya adalah hal yang wajar. Adik yang tahu diri seharusnya membantu kakaknya. Yefta sudah mendekati Efraim dengan aktif namun Efraim tetap pasif. Ketika tidak dipedulikan oleh Efraim, Yefta tetap bertempur dalam penyertaan Tuhan. Yefta berjuang begitu keras sampai ia menang. Ketika sudah menang, ia pun tidak marah atau menghina Efraim. Yefta layak untuk marah terhadap suku Efraim, namun ia tidak marah. Suku Efraim sudah sombong dan lupa diri. Peperangan itu terjadi berjam-jam, maka seharusnya suku Efraim tahu akan peperangan itu. kendati demikian, suku Efraim tidak peduli. Ini karena orang sombong selalu meremehkan orang lain. Ketika Gilead telah menang, suku Efraim merasa layak mendapatkan kehormatan itu. Ketika Yefta sudah menang, Efraim marah kepadanya. Apakah kejiwaan Efraim itu normal? Dari sudut pandang psikologi, suku Efraim ini sudah sakit jiwa. Di sekitar kita mungkin ada orang-orang yang tidak tahu diri. Efraim sudah diajak berperang namun tidak mau ikut. Setelah Yefta menang, mereka marah karena merasa tidak diajak berperang. Di sini jelas bahwa masalah terletak pada suku Efraim. Jadi Efraim itu gengsi, sombong, dan sakit mental. Jika Efraim masih memakai akal sehatnya, seharusnya mereka menyambut Yefta yang telah menang dan meminta maaf darinya. Seharusnya mereka mengakui ketakutan mereka untuk berperang dan meminta perdamaian. Adik yang sudah menghina kakaknya seharusnya sadar diri dan meminta maaf. Suku Efraim marah karena merasa harus selalu dihormati. Kehormatan menang atas bani Amon dianggap sebagai miliki suku Efraim. Yefta adalah orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati selalu pandai dalam menempatkan dirinya. Ini berbeda dengan Efraim yang marah dan mencari kesalahan Yefta. Sebelumnya Yefta tidak berpikir untuk memerangi Efraim, namun setelah dipancing dan dihina, ia memutuskan untuk berperang. Setiap dari kita memiliki titik emosi masing-masing yang paling lemah. penghinaan-penghinaan tertentu mungkin tidak kita pedulikan namun penghinaan-penghinaan yang lain mungkin akan membuat kita terpancing.

 

4) Gengsi yang Membawa Kehancuran

Peperangan itu terjadi dan 42 ribu orang dari suku Efraim mati. Dari sana timbul dendam. Orang Gilead menempati tempat-tempat penyeberangan sungai Yordan sehingga mereka tidak bisa lari. Setiap orang yang mau menyeberang akan ditanya kesukuannya. Orang yang menyatakan dirinya bukan Efraim akan diuji lewat pengucapan kata ‘syibolet’. Dengan cara ini Yefta dan orang-orang Gilead bisa mengetahui apakah orang yang menyeberang itu adalah suku Efraim atau bukan. Setiap orang yang tidak bisa menyebut kata itu langsung dibunuh. Korban dari suku Efraim jumlahnya sampai 42 ribu orang. Seandainya Yakub dan Yusuf melihat peristiwa itu, mereka pasti hancur hati. Di sini kita belajar untuk waspada dalam mendidik anak. Anak-anak yang dibanggakan oleh Yusuf akhirnya saling bertempur dan saling membunuh sampai menumpahkan darah 42 ribu orang. Tali persaudaraan kita harus diikat oleh iman dan bukan hanya hubungan darah. Tanpa ikatan iman, semua relasi akan jauh rasanya. Penghiburan kita adalah setelah kita percaya dan kita menjalin relasi dengan orang-orang seiman, kita merasa telah menemukan saudara-saudara yang baru. Hubungan seiman itu lebih indah daripada hubungan darah tanpa iman.

 

Penutup

Orang yang mengenal diri pandai menempatkan dirinya sesuai dengan situasi dan kondisinya. Siapakah Yefta? Ibunya seorang perempuan sundal. Ia hidup dalam latar belakang yang tidak baik namun ia tahu diri. Ia adalah orang Manasye yang selalu berseberangan dengan suku Efraim namun ia belajar mengenal diri. Itu jauh lebih penting karena itu adalah bagian penting dalam kita mengenal Tuhan. John Calvin menulis tentang pengenalan akan Tuhan dan pengenalan akan diri. Melalui pengenalan akan diri kita juga belajar mengenal Tuhan sehingga kita menjadi tidak sombong. Calvin mengajarkan agar kita tidak cepat puas dalam mengenal Tuhan. Setiap orang yang sudah puas mengenal Tuhan sehingga tidak lagi membaca Alkitab dan membaca buku-buku rohani sebenarnya sudah jatuh ke dalam kesombongan. Kesombongan kita akan terkikis melalui pengenalan akan diri dan perbaikan diri di dalam Tuhan. Kekurangan Yusuf adalah tidak mendidik Efraim setelah ia mendapatkan berkat dari Yakub. Seharusnya Yusuf mengingatkan agar Efraim tetap tahu diri. Yusuf seharursnya mengajar mereka untuk melihat Tuhan dan bukan melihat kebesaran diri. Kita menjadi sombong karena merasa diri kita lebih besar daripada Tuhan. Ketika kita merasa diri kita besar, kita akan merasa penyertaan Tuhan itu tidak penting dan kita akan menjadi sombong. Yefta diajar untuk melihat dirinya begitu rendah sehingga kemudian ia mendapatkan penyertaan Tuhan yang besar. Jadi Yefta pandai menempatkan dirinya. Ada orang-orang yang masih menyimpan masalah dan belum menuntaskannya sehingga mereka tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Jika kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki karakter Efraim maka kita pasti kesulitan. Efraim begitu cepat marah dan menyalahkan orang lain. Yefta begitu mengenal Tuhan dan ia tahu kebesaran Tuhan serta kerendahan dirinya. Ia tahu bahwa tanpa penyertaan Tuhan ia tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Orang yang rendah hati tidak bangga dengan masa lalunya dan tidak merasa lebih hebat dari orang lain. Efraim adalah adik dan Manasye adalah kakak namun karena tangan Yakub yang menyilang, Efraim merasa lebih hebat. Ia bangga dengan masa lalu tetapi tidak mengisi masa depan. Ia merasa diri penting namun tidak melakukan hal-hal yang penting bagi Tuhan di masa hidupnya sehingga akhirnya ia dibuang. Melalui teologi biblika kita melihat pemulihan Efraim di masa pemerintahan Daud. Di dalam kitab Tawarikh dituliskan bahwa suku Efraim mengakui pemerintahan Daud. Mereka mengakui otoritas Daud dan mau tunduk kepadanya. Namun kemudian di kitab-kitab nabi kecil Efraim sering disebut sebagai domba yang liar dan orang-orang yang tidak mengenal diri yang selalu melawan Tuhan. secara perlahan kemudian suku Efraim terhilang. Di dalam Perjanjian Baru suku Efraim tidak pernah disebutkan lagi. Di sini kita mempelajari bahwa orang-orang sombong adalah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka merasa diri mereka adalah Tuhan di dalam kesombongan mereka. Kehebatan mereka adalah ilah mereka. Seringkali orang-orang yang menuhankan kehebatannya ketika sudah tidak hebat lagi mereka menjadi orang-orang yang linglung dan stres. Efraim memiliki gangguan mental karena arogansi yang tidak tahu diri. Ada orang-orang yang menjadi arogan karena memiliki modal misalnya karena mereka memiliki jabatan yang tinggi. Efraim tidak memiliki modal apa-apa namun sifatnya arogan. Jadi orang yang rendah hati tidak membanggakan masa lalu. Orang-orang yang selalu membanggakan masa lalunya namun tidak pernah membicarakan masa depan adalah orang-orang yang mungkin secara fisik masih muda namun jiwanya sudah tua.

 

Kaki dian Tuhan bisa berubah bagi setiap anak-anak-Nya. Richard Pratt Jr. pernah mengatakan bahwa kaki dian Tuhan dahulu ada di Asia Kecil. Setelah misi Paulus yang ketiga, kaki dian Tuhan berpindah ke Eropa, Filipi, dan Korintus. Setelah itu kaki dian Tuhan ada di Amerika dan Eropa. Namun sekarang kaki dian Tuhan ada di Asia. Efesus sekarang sudah menjadi kota yang terhilang. Tujuh jemaat di Asia Kecil sudah terhilang. Ini karena kaki dian Tuhan bisa berubah. Tuhan tidak segan-segan membuang suku Efraim karena kesombongannya. Efraim sudah mendapatkan begitu banyak anugerah namun dari generasi ke generasi tidak ada orang-orang yang takut akan Tuhan. Oleh karena itu setiap dari kita harus memiliki jejak kaki iman di manapun kita berada. Kita bisa menjadi orang yang takut akan Tuhan namun lupa mendidik anak-anak kita untuk juga takut akan Tuhan. Kita bisa disiplin secara rohani namun lupa menanamkan itu pada diri anak-anak kita. Di zaman ini banyak orang sudah kecanduan gadget. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk bersenang-senang dengan gadget namun melupakan Tuhan. Di Cina kini sudah ada klinik-klinik khusus untuk menyembuhkan orang-orang yang sudah kecanduan gadget. Narkoba digital itu begitu merajalela dan berbahaya sehingga kita sebagai gereja harus berbicara keras mengenai hal ini. Jika tidak maka kita sudah berdosa dalam memboroskan waktu. Kita harus mendidik keluarga kita untuk takut akan Tuhan. 90% keturunan Jonathan Edwards menjadi orang-orang yang penting dan berhasil di Amerika karena ia menerapkan disiplin rohani Puritan di keluarganya. Sebagai orang-orang Reformed kita harus menghasilkan generasi-generasi yang takut akan Tuhan. Kita harus mendidik dengan keras di awal lalu setelah anak-anak kita mengenal Tuhan, kita mulai melepas mereka pelan-pelan. Banyak orang tua cenderung baru mendidik anak setelah masalah timbul. Ini adalah cara yang tidak benar. Kita sebagai orang tua harus keras dan disiplin di dalam Tuhan. Ini tidak berarti anak-anak kita harus disiksa. Jangan sampai kita atau anak-anak kita menjadi seperti Efraim tetapi kita harus menjadi seperti suku-suku yang dipelihara oleh Tuhan. Melalui Tuhan Yesus kita mengenal Allah Tritunggal dan kita membangun identitas kita sebagai tubuh Kristus yang berkarakter Kristus dalam kehidupan kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami