Gaya Kepemimpinan Salomo: Ketegasan dalam Keadilan

Gaya Kepemimpinan Salomo: Ketegasan dalam Keadilan

Categories:

Khotbah Minggu 11 Oktober 2020

Gaya Kepemimpinan Salomo “Ketegasan dalam Keadilan”

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang kepemimpinan Salomo. Salomo membangun kerajaannya dengan bijaksana. Ia berdoa kepada Tuhan dan meminta bijaksana. Ia tidak meminta kekayaan dan nama besar. Kita akan melihat kerendahan hati Salomo. Ia tegas dalam keadilan. Bagian Firman Tuhan yang kita akan perhatikan adalah 1 Raja-Raja 2:22-24, 26-27 dan 1 Raja-Raja 1:31-32.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apa perbedaan gaya kepemimpinan antara Daud dengan Salomo? Salomo memiliki ketegasan di depan, namun Daud memiliki kasih di depan. Mengapa Salomo harus bersikap tegas terhadap Adonia, Abyatar, Yoab, dan Simei? Kita akan mendalami ketegasan ini. Sampai sejauh mana Allah mengizinkan seorang pemimpin harus tegas dalam gaya kepemimpinan? Ada pemimpin yang tegas secara terbuka, namun ada juga yang tegas secara tertutup. Namun ketegasan itu harus nyata baik itu dalam keputusan atau ketentuan yang lain. Tetapi di tengah-tengah itu ada yang bersifat abu-abu. Ia bisa tegas secara terbuka namun juga bisa secara tertutup, tergantung pada situasi. Pemimpin yang lebih parah adalah dia yang tidak punya ketegasan. Bagaimana tegas dalam keadilan berkorelasi dengan kasih, kebenaran, dan masa depan? Saat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Tuhan langsung menyatakan keadilan. Tempat suci Tuhan tidak boleh ditempati oleh orang berdosa. Maka dari itu Adam dan Hawa langsung diusir oleh Tuhan. Mereka tidak lagi berstatus benar tetapi kotor dan berdosa. Mereka kehilangan damai karena alam tidak lagi bersahabat dengan mereka. Perjanjian Lama mengajarkan keadilan dan ketegasan untuk menegakkan kesucian dan supremasi Tuhan. Tuhan tidak kompromi dalam bagian ini. Ketika kita membaca Perjanjian Baru, kita melihat seolah kasih itu berada di depan. Namun ini tidak berarti keadilan itu hilang. Di dalam ketegasan dan kasih Tuhan, Tuhan tetap mengatakan bahwa upah dosa ialah maut. Orang-orang yang bermain-main dengan kesucian dan kebenaran Tuhan pasti mendapatkan hukuman Tuhan. Semua korelasi ini harus kita perhatikan sehingga kita tidak salah ketika menerapkan nilai keadilan, ketegasan, dan lainnya.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Tegas dalam keadilan: menegakkan supremasi hukum kerajaan Israel

            Salomo tegas dalam keadilan. Mengapa ia harus tegas? Kapan kita harus tegas? Kepada siapa kita harus tegas? Ketika Daud memimpin, ia tidak tegas menyatakan kebenaran dan kesucian sehingga ia tidak bisa memimpin orang lain kepada pertobatan. Daud tidak menegur Amnon yang memerkosa Tamar. Ia tidak menghardik Absalom yang membunuh Amnon. Ia tidak menegur Yoab yang sudah membunuh Abner dan Amasa. Jadi kasih Daud terlalu besar kepada setiap orang. Apa yang membuat seseorang tidak bisa tegas? Salah satunya adalah karena orang itu memiliki dosa yang sama. Alasan kedua adalah di dalam hatinya tidak ada keberanian. Alasan ketiga adalah orang itu selalu mencari keamanan. Ia tidak mau dibenci orang lain. Ia selalu menampilkan diri sebagai orang baik, namun di mata Tuhan ia bukan orang benar. Menjadi orang baik itu mudah, namun kita bisa bersikap baik terhadap orang lain dan pada saat yang sama kita sedang jauh dari Tuhan. Kitab Yehezkiel mengingatkan kita bahwa ada orang yang mati dalam dosa namun Tuhan kemudian menuntut orang yang tidak menegurnya (Yehezkiel 3:18). Ketika kita tidak menegur orang berdosa yang berada di sekitar kita, Tuhan akan menegur kita. Kematiannya dalam dosa merupakan tanggungan kita. Salomo berkata tentang Yoab “TUHAN akan menanggungkan darahnya kepadanya sendiri” (1 Raja-Raja 2:32). Ia sudah meminta ampun dengan memegang tanduk mezbah (ayat 28), namun ia tidak mendapatkan anugerah.

 

            Ada orang yang tidak tegas karena kompromi dalam nilai kekeluargaan, pertemanan, politik, dan lainnya. Tuhan pun pernah tidak tegas terhadap Yudas. Mengapa Tuhan tidak tegas? Ini adalah hal yang membuat kita paling takut. Tuhan tidak tegas terhadap Yudas yang setiap hari membohongi-Nya. Ini karena memang Yudas dipilih untuk dibiarkan mati dan menggenapkan keselamatan Tuhan. Ketika kita berdosa dan tidak ada yang menegur kita, maka mungkin saja kita memang dibiarkan dan diprogram oleh Tuhan untuk menggenapkan sesuatu. Jadi kita harus belajar untuk tegas dalam keadilan Tuhan. Kita memang seharusnya tegas. Mengapa Salomo tegas? Mengapa ia tegas dalam bagian yang kedua? Saat Salomo sudah diteguhkan dan diurapi sebagai raja, Adonia, Abyatar, dan Yoab menjadi takut. Mereka meminta belas kasihan dari raja. Adonia pergi ke rumah Tuhan dan memegang tanduk mezbah untuk meminta belas kasihan Tuhan (1 Raja-Raja 1:50). Saat itu Adonia dan semua orang yang mengikutinya mendapatkan belas kasihan dari Salomo dan mereka tidak dibunuh. Pada satu kesempatan Adonia bertemu dengan Batsyeba dan meminta agar Abisag diserahkan kepada Adonia untuk dijadikan istri. Ia memulai dengan berkata “Engkau sendiri tahu bahwa akulah yang berhak atas kedudukan raja, dan bahwa seluruh Israel mengharapkan, supaya aku menjadi raja; tetapi sebaliknya kedudukan raja jatuh kepada adikku, sebab dari Tuhanlah ia mendapatnya” (1 Raja-Raja 2:15). Ia memang adalah anak tertua. Setelah ia menyampaikan permintaannya kepada Batsyeba, Batsyeba kemudian menemui Salomo. Setelah mendengar permintaan itu, Salomo berkata “Mengapa engkau meminta hanya Abisag, gadis Sunem itu, untuk Adonia? Minta jugalah untuknya kedudukan raja! Bukankah dia saudaraku yang lebih tua, dan di pihaknya ada imam Abyatar dan Yoab, anak Zeruya?” (1 Raja-Raja 2:22). Salomo tersinggung karena permintaan itu. Di sana ia sadar bahwa ada suatu upaya untuk mengguncang kerajaannya. Salomo kemudian berkata “…pada hari ini juga Adonia harus dibunuh” (1 Raja-Raja 2:24). Ketegasan Salomo terhadap kakaknya ini merupakan upaya untuk menegakkan supremasi hukum kerajaan Israel.

 

            Supremasi hukum kerajaan Israel adalah takhta Tuhan, bukan manusia dalam kenikmatannya. Ia belajar bahwa takhta Tuhan tidak boleh dicampurkan dengan kenikmatan manusia. Namun pada masa tuanya Salomo jatuh dalam bagian ini. Di dalam kerajaan Israel, Tuhan-lah yang dipermuliakan. Kenikmatan dan kepuasan tidak boleh lebih diutamakan daripada kesucian Tuhan. Maka dari itu ia membunuh Adonia. Semua keputusan saat itu ada di tangan raja, bukan rakyat, ajudan, atau orang lain. Adonia sudah memutuskan terlebih dahulu baru kemudian meminta persetujuan. Seharusnya tidak seperti ini. Raja adalah penentu keputusan akhir. Adonia juga sebelumnya menyatakan bahwa seharusnya dialah yang menjadi raja dan bahwa rakyat memilih dirinya. Hal ini membuat Salomo marah. Di sini Salomo tahu bahwa supremasi kerajaannya harus ditegakkan. Pada hari itu juga Adonia dihukum mati. Tidak ada kesempatan lagi bagi Adonia. Ini karena ia melanggar kesucian takhta Tuhan. Salomo tidak bertindak buru-buru. Sebelumnya mungkin ia sudah bertanya kepada Benaya dan Zadok tentang apa yang dapat mengukuhkan kerajaannya. Ternyata Adonia, Yoab, dan Abyatar menjadi ancaman. Mereka untuk sementara dibiarkan hidup dan waktu menjadi penguji. Ternyata Adonia yang sudah diampuni msh terus berupaya untuk merebut kerajaan Salomo. Ancaman kedua itu dianggap serius oleh Salomo. Ini karena Adonia melanggar supremasi hukum kerajaan Israel.

 

            Kedua, Salomo pernah diberikan pesan oleh Daud tentang Simei. Ia pernah mempermalukan Daud ketika ia lari dari Absalom. Ia berpesan kepada Salomo “Sekarang janganlah bebaskan dia dari hukuman, sebab engkau seorang yang bijaksana dan tahu apa yang harus kaulakukan kepadanya untuk membuat yang ubanan itu turun dengan berdarah ke dalam dunia orang mati” (1 Raja-Raja 2:9). Saat Salomo sudah menjadi raja, ia memanggil Simei dan berkata “…Dirikanlah bagimu sebuah rumah di Yerusalem, diamlah di sana, dan janganlah keluar dari sana ke mana-manapun. Sebab ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa pada waktu engkau keluar dan menyeberangi sungai Kidron, pastilah engkau mati dibunuh dan darahmu akan ditanggungkan kepadamu sendiri” (1 Raja-Raja 2:36-37). Ini adalah penjara rumah. Itu adalah hukuman yang berat. Namun kemudian ternyata Simei keluar rumah. “Dan sesudah lewat tiga tahun, terjadilah bahwa dua orang hamba Simei lari kepada Akhis bin Maakha, raja Gat, lalu diberitahukan kepada Simei: ‘Ketahuilah, kedua orang hambamu ada di Gat.’ Maka berkemaslah Simei, dipelanainya keledainya, dan pergilah ia ke Gat, kepada Akhis, untuk mencari hambanya itu. Lalu Simei pulang dan membawa mereka dari Gat” (1 Raja-Raja 2:39-40). Hal itu dilaporkan kepada Salomo dan kemudian Simei dihukum. Jadi Adonia dan Simei mendapatkan anugerah pertama, namun kemudian mereka tidak menghargai anugerah itu dan tidak mendapatkan anugerah kedua. Hukum yang terbesar dalam hidup kita adalah hukum Tuhan. Dalam sepuluh perintah, perintah pertama sampai keempat berbicara tentang relasi kita dengan Tuhan. Perintah kelima sampai kesepuluh berbicara tentang relasi horizontal. Inti dari semua perintah itu adalah tentang kasih kepada Tuhan dan sesama. Ada pula perintah-perintah yang lain misalnya tentang ketaatan membaca Alkitab, doa, penginjilan, dan mempersembahkan seluruh diri kita dan milik kita untuk menyenangkan Tuhan. Kita harus menyadari besarnya anugerah Tuhan bagi kita.

 

            Kita menegakkan supremasi hukum Tuhan yang berkaitan dengan takhta Tuhan. Ini yang membedakan Salomo dengan Daud dan Saul. Saul berani menegakkan kerajaannya. Ia tahu bahwa Daud adalah ancaman baginya. Maka dari itu ia mau membunuh Daud. Namun semua itu gagal. Itu adalah ketegasan yang salah karena motivasinya adalah untuk pembenaran diri, kepuasan diri, dan kenyamanan diri. Jika ketegasan kita adalah untuk diri kita sendiri, maka kita sebenarnya sama dengan Saul. Orang tua bisa jatuh dalam dosa ini. Ketegasan yang antroposentris itu berdosa. Ada pemimpin yang tegas namun terlalu terbuka sehingga ia tidak cocok menjadi pemimpin negara. Namun ada pemimpin yang tegas tetapi tertutup sehingga ia bisa mengatur negara dengan baik. Ada pemimpin yang langsung membunuh sampah masyarakat seperti preman, kriminal, dan pengedar narkoba tanpa pengadilan terlebih dahulu. Ini membuat tingkat kejahatan menurun pesat, namun cara ini melanggar hak asasi manusia. Presiden Filipina menetapkan bahwa pengedar dan pemakai narkoba harus langsung dihukum mati. Ketetapan ini dianggap terlalu ekstrem bagi beberapa negara, namun bagi presiden Filipina narkoba benar-benar merusak generasi muda sehingga tindakan tegas diperlukan. Di dalam sejarah dunia, ada pemimpin-pemimpin yang tegas. Namun ketegasan yang memanipulasi adalah ketegasan yang salah. Sebagai orang Kristen kita harus tegas di dalam kebenaran Tuhan. Ada organisasi mahasiswa Kristen yang sudah menyimpang dari visi karena tidak mengikuti arahan Firman Tuhan. Organisasi tersebut menjalankan politik praktis dan anarkisme. Ini pasti salah di mata Tuhan. Mahasiswa Kristen seharusnya mengusahakan masa depan yang lebih baik, bukan merusak negara. Kita harus waspada agar tidak dimanfaatkan untuk kepentingan yang jahat.

 

            Di dalam keadilan harus ada keseimbangan. Kedua belah pihak harus diperhatikan, bukan hanya salah satu. Hak dan kewajiban harus dilihat bersama-sama, tidak hanya hak. Banyak orang menuntut hak namun melupakan kewajiban. Banyak orang menuntut gaji yang besar namun tidak meningkatkan kualitas dan kuantitas pekerjaannya. Di dalam keadilan harus ada keseimbangan. Ada pula pemilik usaha yang memeras pegawai dengan memberikan gaji yang sangat kecil untuk pekerjaan yang sangat banyak. Ada pula pemilik pabrik yang tidak memerhatikan kesehatan pegawainya sehingga usia mereka tidak panjang. Kita juga harus adil terhadap diri sendiri. Keseimbangan harus ada di dalam semua itu. Di dalam keadilan juga harus ada kebenaran. Keadilan tanpa hukum Tuhan dan hukum negara akan menjadi liar. Keadilan di negara kita harus berdasarkan Pancasila. Kita sebagai orang Kristen harus menjalankan keadilan berdasarkan Firman Tuhan. Ketegasan kita harus mengandung keadilan dalam kebenaran Tuhan. Ketika pada pedagang berdagang di bait Allah, Yesus bertindak tegas. “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: ‘Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.’” (Matius 21:12-13). Ketegasan Yesus di sini adalah untuk menyatakan hakikat kebenaran dan kesucian bait Allah. Bait Allah adalah untuk ibadah, bukan untuk keuntungan diri. Salomo juga tegas dalam kerajaannya.

 

2) Tegas dalam keadilan: menegakkan kesucian kerajaan (tidak boleh kompromi dengan kejahatan)

            Salomo berkata kepada Abyatar “Pergilah ke Anatot, ke tanah milikmu, sebab engkau patut dihukum mati, tetapi pada hari ini aku tidak akan membunuh engkau, oleh karena engkau telah mengangkat tabut Tuhan ALLAH di depan Daud, ayahku, dan oleh karena engkau telah turut menderita dalam segala sengsara yang diderita ayahku.” (1 Raja-Raja 2:26). Abyatar dipecat dari jabatannya. Hal itu menggenapkan Firman Tuhan yang telah dikatakan-Nya di Silo mengenai keluarga Eli (ayat 27). Ketika Imam menjabat, ia tidak boleh menyimpan motivasi politik dan keuntungan pribadi. Mereka sudah dipelihara oleh negara. Ketika mereka mulai ikut campur dalam hal-hal yang tidak seharusnya, maka takhta kesucian Tuhan itu menjadi ternoda. Salomo kemudian mengangkat Zadok menjadi Imam Besar (ayat 35). Pelayanan Gereja juga tidak boleh dipermainkan dalam dosa. Dosa Akhan tidak boleh ada dalam Gereja. Kita mau agar Tuhan menyertai kita senantiasa. Kita mau agar banyak jiwa bertobat melalui pelayanan Gereja. Disiplin Gereja harus ditegakkan agar dosa tidak berkembang. Dalam suatu kasus, Paulus menulis “orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan” (1 Korintus 5:5). Ini terdengar begitu ekstrem, namun Paulus mau agar roh orang itu diselamatkan. Jadi kita harus melayani dalam kesucian. Dalam masa pandemi ini kita jangan sampai berhenti melayani Tuhan karena ketakutan. Kita harus mengejar sukacita pelayanan kita yang sempat terhilang. Banyak orang berani keluar rumah demi nafkah namun tidak berani pergi untuk beribadah dan pelayanan. Jadi kita tidak boleh kehilangan iman dan ketaatan untuk mengejar sukacita pelayanan.

 

            Apa tindakan Salomo terhadap Yoab? Yoab pergi ke mezbah Tuhan dan memegang tanduk mezbah (1 Raja-Raja 2:28). Benaya diutus oleh Salomo untuk membunuhnya dalam kemah Tuhan sesuai permintaan Yoab. Yoab sebelumnya membunuh Amasa dan Abner demi kekuasaannya sendiri. Saat itu Daud tidak langsung menghukum karena pendekatan Daud adalah kasih. Namun Salomo memakai pendekatan keadilan sehingga Yoab langsung dipancung. Di dalam sejarah kita melihat ada banyak model kepemimpinan. Ada kepemimpinan yang otoriter, demokrasi, dan transaksional. Secara esensi, politik itu baik. Tujuannya adalah untuk mengatur roda pemerintahan, menegakkan keadilan, dan menyejahterakan rakyat. Namun ketika orang-orang yang menjalankannya itu tidak suci, politik itu akhirnya dijalankan dalam dosa. Sebagai rakyat dan anak-anak Tuhan, kita harus cerdas. Kita tidak mau untuk dipermainkan dalam kebohongan dan berita-berita dusta. Kita harus tegas dalam keadilan dan memakai pendekatan kasih serta edukasi agar mereka tidak jatuh dalam kesalahan yang sama.

 

3) Strategis dan futuris: membaca arah zaman untuk menyelesaikan masalah supaya tidak menjadi pengganggu di hari depan

            Salomo sadar bahwa kelompok Adonia, Abyatar, dan Yoab bisa menjadi ancaman bagi kerajaannya di masa depan. Jadi ia harus menyelesaikan masalah itu dengan tepat agar tidak ada lagi pengganggu. Risiko pasti ada, namun kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik juga ada. Selama 40 tahun Salomo menjadi raja, kemakmuran Israel mencapai puncaknya. Puncak keamanan dan kenyamanan juga diraih pada masa pemerintahan Salomo. Perdagangan internasional begitu berjaya dalam masanya. Puncak keagungan kerajaan Israel adalah pada masa pemerintahan Salomo. Pada masa pemerintahan Salomo tidak ada musuh dari luar. Namun ia lupa bahwa ada musuh di dalam dirinya yaitu keinginannya sendiri. Ia menikmati dan memperbanyak jumlah istrinya sampai akhirnya hatinya tidak lagi terarah kepada Tuhan. Kita harus waspada terhadap musuh dalam diri kita. Musuh itu bisa menyesatkan kita. Namun Salomo akhirnya bertobat pada masa tuanya. Kepemimpinan yang strategis itu berani menyelesaikan masalah. Setiap risiko dikurangi sebanyak mungkin. Semua masalah diselesaikan agar masa depan itu menjadi lebih baik. Semua ancaman diselesaikan sehingga satu bangsa bisa berlari menuju perkembangan yang lebih baik. Kita harus terus mendoakan pemimpin dan pemerintah kita agar mereka berkarisma, bervisi, dan berani dalam ketegasan untuk memunculkan transformasi dalam bangsa kita. Salomo berhasil dalam hal ini.

 

4) Strategis dan futuris: tujuan yang mau dicapai adalah agar masyarakat Israel menjadi lebih baik lagi

            Tujuan utama Salomo adalah kemuliaan Tuhan. Setelah itu ia mau agar seluruh rakyatnya menjadi lebih baik lagi. Keadilan dan kesejahteraan adalah pelajaran dari Alkitab. Ketika ada keadilan, kesejahteraan itu muncul. Kalau ada ketidaksejahteraan, maka itu berarti ada ketidakadilan. Kita harus membagikan kebenaran ini agar bangsa kita bisa menjadi lebih baik. Dosa pemimpin adalah mementingkan suatu agenda demi dirinya sendiri atau kelompok tertentu. Tuhan berpesan kepada bangsa Israel dalam pembuangan “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7). Jadi hidup kita harus bisa menjadi berkat bagi orang lain. Ketika kita menutup mata terhadap kesulitan orang-orang di sekitar kita, sebenarnya kita sudah berdosa. “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yakobus 4:17). Semua yang kita miliki adalah dari Tuhan. Ketika ada orang-orang yang lebih membutuhkan, kita harus membantu mereka. Kita harus punya kemurahan hati ketika kita mau menjadi saluran berkat. Ini juga merupakan bagian dari kepemimpinan kita.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Sikap yang tegas di dalam memimpin adalah untuk menyatakan keadilan Tuhan, menegakkan kebenaran, dan menegakkan kesucian Tuhan.

 

2) Sikap tegas yang salah adalah untuk membela diri demi kenyamanan diri dan kepuasan diri. Pada akhirnya kita mengorbankan orang lain (seperti Saul). Saul terus merasa diri menjadi korban dan terus mengorbankan orang lain.

 

3) Tegas di dalam keadilan dan kasih adalah korelasi yang tidak terpisahkan. Di dalam pelaksanaannya mana yang lebih dahulu tergantung pada konteks masalah yang harus diselesaikan. Sebelum Salomo tegas ia sudah menyatakan kasih dan pengampunan kepada Adonia. Ia juga mengampuni Simei. Namun ketika mereka melakukan kesalahan lagi, Salomo tidak memberikan pengampunan. Jadi kasih kita bukanlah kasih yang murahan. Ketegasan kita bisa kalah ketika kita kompromi demi diri, keluarga, atau kelompok. Kita bisa tidak tegas karena dosa, ketakutan, atau ingin aman. Setiap kasus harus dikaji dengan bijaksana. Di dalam penyelesaiannya kita harus melihat kepada Tuhan, bukan diri. Pada bagian berikutnya Salomo menikmati pujian orang-orang namun tidak mengembalikan semua itu kepada Tuhan. Itulah titik kesalahan Salomo. Ketika kita memiliki kemampuan, kepintaran, dan talenta kita harus mengingat bahwa semua itu adalah dari Tuhan. Kita harus tegas dalam keadilan dan mengaitkan semua kebaikan dengan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami