Filantropi

Filantropi

Categories:

Hari ini kita akan membahas satu pemikiran baru dari Calvin yang tidak tertulis banyak di Institutio, yang dia tulis pada waktu berumur 26 tahun ketika dia melayani Jenewa dan petinggi serta para penguasa pada saat itu dengan bahan katekisasi itu. Banyak para penafsir menggabungkan setiap eksposisi dia, dan menggabungkan pemikiran dia ketika harus menegakkan sistem Kekristenan yang memiliki kebenaran dan keadilan untuk kota Jenewa.

 

Lukas 10: 27. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Disini kita melihat bagaimana ada sebuah dialog, Tuhan memberikan suatu pernyataan tentang inti dan tentang suatu kebenaran dari Perjanjian Lama. Mereka sangat mengerti dan tahu tetapi mereka tidak mengerti bagaimana menghidupinya menjadi gaya hidup dalam nilai iman orang percaya. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu, dan dengan segenap akal budimu. Hal iitu mengajarkan kepada kita bahwa mengasihi Tuhan tidak boleh setengah-setengah, tidak boleh memberikan yang terjelek dari pikiran kita, tidak boleh yang sisa dari tenaga kita, melainkan semua yang terbaik dan yang termulia itu harus diberikan kepada Tuhan.

 

Yakobus 2: 8. 8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.

Satu definisi yang singkat dari Yakobus, orang yang berbuat baik bukan dilihat dari buah perbuatan baiknya, tetapi orang yang berbuat baik dikaitkan dengan perintah Tuhan yaitu dari bagian yang kedua, mengenai mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Apa artinya? Yang terbaik untuk diri sendiri, itu juga yang diberikan kepada orang lain, baru dinamakan kamu berbuat baik. Untuk dirimu kamu pakai baju baru, untuk orang lain kamu kasih pakaian bekas, itu tidak berbuat baik. Untuk dirimu pada saat makan engkau kasih yang terbaik, tetapi waktu engkau memberikan makanan kepada orang lain, memberikan yang terjelek itu namanya bukan berbuat baik. Jadi disini Yakobus memakai hukum standar equal dalam pengertian berbuat baik.

 

2 Petrus 1: 7. 7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

 

Pendahuluan

 

Di bulan Oktober ini kita akan mengenang 500 tahun gerakan reformasi yang ditegakkan dari tahun 1517, dan sekarang ini tahun 2017. Jadi 500 tahun gerakan reformasi diijinkan Tuhan berdiri di dunia ini untuk mengembalikan spirit kembali kepada Alkitab, dan spirit berdasarkan iman. Tanpa iman kita tidak mungkin berkenan kepada Tuhan dalam melakukan apapun juga, dan dengan iman kita dimampukan berbuat sesuatu di dalam pertolongan dan penyertaan Tuhan. Akhirnya kita disadarkan dengan spirit reformasi, bahwa segala sesuatu adalah anugerah. Keselamatan yang kita peroleh bukan karena ketaatan kita beragama, kebajikan kita, dan bukan karena kita mau diselamatkan, tetapi semata-mata karena anugerah seratus persen dari Kristus yang memilih kita, menyelamatkan kita. Jikalau anugerah itu tidak melawat kita maka kita tidak akan melihat anugerah itu sebagai satu anugerah yang mulia. From grace to grace, from faith to faith. Hal ini mengajarkan kepada kita bagaimana mata kita melihat anugerah karena kita sudah memperoleh anugerah. Sehingga di dalam spirit itulah reformed mematikan orang-orang untuk jangan sombong, jangan melihat dirimu bisa, jangan melihat dirimu pandai, jangan lihat dirimu sukses dalam bisnis, tetapi semua itu sebagai satu nilai tanggung jawab. Karena engkau sudah diselamatkan dalam anugerah maka engkau harus berbuat baik, engkau harus punya nilai tanggung jawab, bekerja keras, harus disiplin, harus rendah hati, dan harus menghemat.

 

Di situlah kita akan belajar bagaimana reformasi akhirnya mengajarkan kepada kita hidup harus punya nilai tanggung jawab, dan harus mengembalikan semua anugerah kepada kemuliaan Tuhan. Kita diingatkan lagi bagaimana kita harus sadar bahwa pusat gereja adalah Kristus, bukan organisasi kepausan. Raja diatas segala raja adalah Kristus bukan Paus. Ikatan gereja bukan diikat oleh organisasi, tetapi diikat oleh kasih sesama tubuh Kristus yang mempercayakan Kristus sebagai Tuhan dan kepala gereja. Jadi seluruh gereja dan umat percaya harus memusatkan Kristus di dalam hidup mereka dan di dalam kehidupan bergereja. Kita sudah mengerti tentang Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia, Solus Kristus, dan yang kelima adalah Soli Deo Gloria (Roma 11: 36). Jadi seluruh kehidupan kita dan apapun yang kita peroleh, baik yang mendatangkan kebaikan ataupun mungkin kesedihan, kekecewaan, semuanya kita kembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Mengapa demikian? Karena Tuhan selalu berdaulat. Di sinilah banyak orang tidak mengerti konsep anugerah, konsep Soli Deo Gloria. Kalau orang mengerti konsep Soli Deo Gloria dikaitkan dengan konsep kedaulatan Tuhan, itu baru reformed. Jadi di dalam ajaran reformed ketika poin yang kelima berbicara Soli Deo Gloria harus diikat dengan the sovereignty of God. Kedaulatan Tuhan akan terus bekerja membentuk kita sebagai anak-anak-Nya untuk masuk dalam pengudusan. Cara Tuhan menguduskan kita, bisa melalui penderitaan, kesulitan, kesengsaraan. Tuhan pun di dalam kedaulatan-Nya terus memimpin kita menjadi orang yang berlaku benar, bertingkah laku benar. Setelah itu dalam kedaulatan Tuhan, kita juga percaya akhirnya setiap kita hidup sampai kita mati memiliki nilai kemuliaan.

 

Hari ini kita akan melihat satu pemikiran yang unik yang jarang untuk dibicarakan bagi orang lain dalam konteks Calvin dan kita akan mendalami itu, tentang filantropi.

Saya pernah membahas akan bagian ini bahwa kasih dalam catatan Alkitab ada yang disebut kasih agape, yaitu kasih kepada Kristus, kasih yang dikembalikan untuk kemuliaan Kristus, dan kasih storge adalah kasih yang berkaitan dengan nilai kekeluargaan kita, kasih yang berkaitan dengan kita di dalam satu ikatan keluarga secara kecil karena kita punya ikatan daging, keluarga dalam nilai keluarga besar karena mungkin kita satu suku dan yang lain-lain. Kasih philadelpia, kasih terhadap sesama anak-anak Tuhan, dan kasih yang bersifat philadelpia juga bisa diberikan untuk orang-orang yang bukan anak Tuhan. Dan keempat kita melihat Alkitab juga mencatat kasih eros yaitu kasih yang mengandung aspek seksualitas, dan kasih eros hanya bisa dinikmati bagi mereka yang sudah disatukan dalam Tuhan, dalam pernikahan yang suci dan yang kudus, bukan untuk orang-orang pacaran, tetapi ini khusus satu intimasi yang diarahkan untuk orang-orang yang sudah menikah.

 

Apa artinya filantropi?

Filan, merupakan kata dasar kata Yunani yaitu philean. Philean itu berarti adalah seperti kasih. yang kedua kata tropi itu dari kata antropos yang artinya adalah manusia. Bagi Calvin, filantropi adalah sikap yang tepat dalam menolong orang yang membutuhkan, jadi bukan soal berbuat baik, bukan sekedar menolong, bukan sekedar membantu, tetapi bagi Calvin ketika Alkitab berbicara tentang filantropi adalah mengenai sikap kita yang tepat, mewakili Tuhan dalam kasih-Nya, didikan-Nya, keadilan-Nya, supaya orang disekitar kita yang sungguh-sungguh membutuhkan kasih Tuhan itu dalam bentuk firman, tenaga, uang dan pemikiran itu benar-benar tepat mereka mendapatkannya. Kadang-kadang kita tidak pernah memikirkan sikap yang tepat berdasarkan standard Tuhan. Kita hanya memikirkan kebaikan standar dalam nilai kemanusiaan kita. Di sinilah kita tahu kebaikan yang bersifat humanis dengan kebaikan yang bersifat Kristosentri. Kebaikan yang bersifat antroposentris baik berdasarkan penguasaan diri. Alkitab mencatat tentang orang Samaria yang baik hati, mengapa dia disebut baik? Orang Samaria yang dianggap statusnya tidak rohani tetapi bertingkah laku rohani, melalui berbuat baik dengan total, bukan hanya sekedar menolong orang itu dari luka-luka badannya, bukan saja membersihkan dan memberikan obat supaya sembuh, tetapi benar-benar total diberikan obat, diberikan dokter, diberikan perawat, diberikan akomodasi, dan itu semua dia yang membayar. Itu adalah pertolongan yang total, bukan hanya sekedar perasaan.

Maka di dalam cerita itu kita melihat bagaimana Tuhan Yesus menceritakan ahli-ahli taurat, orang farisi, orang lewi lewat, cuma melihat orang yang dirampok itu dan kasihan, cuma pakai perasaan saja, tidak ada gerakan iman, tidak ada gerakan kemanusiaan, Minimal pada waktu dia sudah terbaring, dengan teriakan kesakitan dan darah tercurah minimal dia punya aspek good will, dekati, gotong, angkat, minta orang lain juga untuk tolong, itu satu good will yang paling mendasar, bukan hanya sekedar melihat. Dan di dalam cerita itu kita melihat bagaimana dikatakan para imam dan para orang lewi itu mereka pulang dari beribadah. Pulang dari beribadah diuji sikapnya menolong orang lain, ternyata cuma lewat. Segala sesuatu Tuhan lihat, orang yang paling rohani itu yang terpenting itu sikapnya. Di situ kita melihat bagaimana orang Samaria yang baik hati dianggap tidak rohani justru di mata Tuhan rohani karena sikap perbuatannya mengandung hal-hal yang bersifat rohani yaitu kasih Tuhan.

Disini kita bisa melihat Calvin mengkaitkan filantropi dengan satu good will. Satu sikap dasar yang dikaitkan dengan nilai ketepatan dalam standard Tuhan, bukan standard perasaan, bukan standard kemanusiaan saja. Kalau kita pakai standard kemanusiaan saj,a semua orang miskin maunya kita kasih makan saja, itu standard umum, itu common ground, itu common sense yang sudah ditanamkan Tuhan di dalam hati  nurani manusia. Jikalau engkau sudah tidak memiliki hati itu maka engkau sudah kurang nilai kemanusiaanmu.

 

Jadi di dalam bagian inilah Calvin pada waktu dia berumur 26 tahun dia menulis institutio, dan pada tahun 1530 dia berani melawan Katolik di Perancis, dan dia mati muda ketika berumur 54 tahun. Beberapa tahun dia di panggil oleh William Farel untuk membangun Jenewa, karena William Farel merasa tidak mampu mempengaruhi dewan kota menjalankan satu nilai kebenaran diterapkan dalam sistem kemasyarakatan. Di situlah Calvin diminta oleh William Farel untuk membantu, dan dibuatlah aturan main berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Maka pada waktu ditetapkan satu nilai katekisasi berdasarkan pemikiran dari Calvin dan William Farel. Akhirnya mereka di usir dari dewan kota, Mengapa? Karena pada saat itu Calvin dan William Farel menetapkan standard bahwa orang yang mengambil perjamuan kudus harus hidupnya suci, punya ketaatan beribadah. Dan saat itulah dewan kota marah. Mengapa marah? Karena ternyata banyak orang tidak memenuhi syarat, akhirnya banyak orang tidak bisa mengambil perjamuan kudus, jangan-jangan termasuk dewan kota pada saat itu karena mereka hidup tidak suci. Maka dewan kota marah, akhirnya mengusir Calvin dan Farel. Mereka akhirnya pergi dan kembali ke Perancis. Setelah itu di panggil lagi oleh dewan kota dan Calvin kurang lebih selama 20 tahun lebih dia membangun Jenewa dengan prinsip-prinsipny. Saat itulah Swiss akhirnya maju dan dia membangun universitas, kemudian dari prinsip ini nanti baru keluar konsep filantropi.

 

Isu permasalahannya

 

Bagaimana kita tahu siapa yang benar-benar membutuhkannya?

Kita tidak mau terjebak membantu karena nilai perasaan, juga bukan mati rasa. Kita mau seperti orang Samaria yang baik hati. Pada faktanya kita ini membutuhkan pertolongan Tuhan supaya kita dengan tepat menolong orang yang benar-benar membutuhkannya. Kita harus tahu ini dengan tepat, karena jikalau kita salah membantu orang secara pikiran, tenaga, waktu, dan uang padahal orang itu sebenarnya bisa berjuang, orang itu seharusnya bisa melakukan pekerjaan lebih. Kenapa dia tidak bisa makan? Karena dia malas, dan dia gengsi untuk kerja menggunakan tenaga, akhirnya hidup dia hanya numpang tangan kiri kanan untuk jadi pengemis. Orang seperti ini bukan butuh untuk kita tolong, justru orang ini harus dididik. Kita harus peka akan bagian ini, nanti solusinya kita akan lihat, bagaimana Calvin memberikan kepada kita satu solusi supaya kita tidak salah melakukan filantropi.

 

Dan siapa yang benar-benar layak di tolong?

Adikmu lagi sakit, temanmu lagi sakit, ada jemaat gereja juga sakit. Disinilah pada waktu engkau dihadapkan study case seperti ini imanmu bermain dengan tepat supaya pada waktu kamu melakukan filantropi mungkin adikmu yang sakit hanya butuh engkau kunjungi, dia hanya butuh perhatian darimu, tetapi yang temanmu mungkin dia membutuhkan solusi, mungkin sakitnya karena stress, jadi engkau datang memberikan satu solusi yang tepat, dia tidak butuh uang, dia butuh teman untuk bertukar pikiran, dan sebaliknya mungkin ada jemaat yang sakit itu benar-benar butuh dana, disitulah baru engkau memberikan dana. Jadi di dalam bagian itulah setiap kita ini punya modal yang begitu hebat yang Tuhan kasih untuk kita bisa berbuat baik bagi orang lain, dan jangan kita berpikir bagaimana kita berbuat baik hanya dikotakkan dengan uang, jangan berbuat baik hanya dikotakkan dengan  pikiran juga, bisa juga engkau berbuat baik karena waktumu, karena kehadiranmu.

 

Bagaimana menolong tanpa mengurangi perjuangannya dan ketergantungannya kepada Tuhan?

Calvin mengajarkan kita untuk memikirkan hal ini. Jangan sampai kita menolong orang lain dengan uang akhirnya dia tidak berjuang. Kita diajarkan oleh Calvin bagaimana pada waktu kita menolong, kita juga mengangkat perjuangan hidupnya dan perjuangan imannya. Jadi pertolongan kita bukan hanya secara fisik bagi Calvin, tetapi pertolongan berkaitan dengan nilai  mentalnya. Dan yang kedua sangat menarik menurut pemikiran Calvin adalah waktu kita melakukan filantropi dalam bentuk tenaga, uang, waktu, dan lain-lain, buatlah orang itu tetap bergantung sama Tuhan, bukan bergantung dengan kita.

 

Pertanyaan kita, pelaksanaannya bagaimana? Di sini kita diajak berpikir. Bagaimana ketika Tuhan Yesus sudah mengajarkan kepada kita untuk kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita, segenap kekuatan kita, dan dengan segenap akal budi kita, berarti kita mengasihi Tuhan dengan total. Jangan kasih pikiran setengah-setengah untuk Tuhan, jangan kasih tenaga kita yang bukan terbaik untuk Tuhan, kasih yang paling total, dan yang paling terbaik. Disini kita melihat how-nya.

Standar pertama yang disebut standar baik, menyangkut masalah motivasi. Jangan engkau menolong orang lain supaya dilihat engkau baik, tetapi biarlah engkau punya kebaikan secara noumenal karena motivasi engkau mengasihi Tuhan. Di sini berarti kita diajarkan bagaimana kasih kita itu tulus dan tidak pura-pura. Bisa dikaitkan dengan Roma 12: 9, Matius 23: 8, dan Roma 12: 10. Itu adalah kasih yang sungguh punya relasi yang baik, kasih yang punya kehangatan. Motivasi kita adalah memang motivasi yang tulus. Jadi pada waktu engkau memberi jangan berpikir lagi take and give.

Yang kedua Calvin mengajarkan kepada kita, yaitu pada waktu kita melakukan aspek filantropi harus mengandung sesuatu yang benar, ada nilai keimanan yang menjadi standar. Sehingga orang beriman itu: orang yang pertama wajib untuk kita tolong, orang yang tidak beriman itu bagian yang kedua. Tetapi ketika from faith to faith melalui kebaikan, melalui kasihmu, melalui kemurahan hatimu menyangkut waktu, uang, dan pemikiranmu, di sinilah kita melihat bagaimana harus tepat sasaran, tidak memboroskan uang Tuhan. Apa artinya? Artinya adalah waktu engkau ingin melakukan filantropi engkau harus peka terhadap uangmu-kah, tenagamu-kah, waktumu-kah, atau pemikiranmu-kah. Mari kita gunakan kecerdasan iman kita sehingga ada from faith to faith, bagaimana kita menolong orang berdasarkan nilai uang, tenaga, pikiran, dan waktu kita orang itu akhirnya juga menambah dia punya iman, akhirnya orang itu bisa menaikan satu pujian, bukan hanya syukur, tetapi glory to God. Mengapa? Karena pertolongan Tuhan datang tepat waktunya.

 

Jadi dalam bagian inilah, jangan standar kita hanya sekedar baik, tetapi baiknya pun ada motivasi, dan sesuatu yang benar. Di situ baru kita melakukan filantropi yang menyatakan kemuliaan Tuhan, bukan menyatakan aku orang baik, tetapi benar-benar untuk kemuliaan Tuhan.

 

Mengapa filantropi itu penting?

Saya mengkaitkan dengan Lukas 10: 27 dengan Efesus 2: 10 bagaimana orang yang sudah di dalam Tuhan pasti harus berbuat baik, tetapi bukan berbuat baik untuk diselamatkan, melainkan berbuat baik untuk meluaskan kerajaan Tuhan. Di dalam bagian ini kita diajarkan bagaimana mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita, dengan segenap kekuatan kita, dengan segenap jiwa kita, dan saat itu kita diajar bagaimana mementingkan kasih persaudaraan di dalam kasih Tuhan. Mengapa? Karena kita anggota tubuh Kristus. Di sinilah kasih persaudaraan itu bisa nyata di dalam aspek filantropi. Tetapi

tujuannya apa? Tujuannya pasti kasih kita untuk membangun dan mempersatukan. Membangun iman orang lain dan mempersatukannya lagi untuk terhisap dalam anggota tubuh Kristus. Jadi jangan sampai pertolongan kita itu membuat orang jadi bergantung sama kita. Jikalau ada janda-janda miskin, anak yatim piatu yang sungguh-sungguh memang dia punya otak, perjuangan, dan kerohanian tetapi tidak punya uang untuk dia sekolah itu yang wajib kita tolong. Tapi jangan sembarangan kita kasih kepada orang yang memang tidak bisa memanfaatkan setiap pemberian kita dengan baik. Jangan sampai filantropi kita tidak mendidik orang itu untuk kerja keras, jangan sampai filantropi kita tidak mendidik orang itu untuk sungguh-sungguh belajar.

 

Di sini jarang sekali orang tahu pemikiran Calvin mengenai hal ini. Calvin mengkaitkan kasih yang mencerdaskan. Apa artinya? Konteks pada saat itu Calvin banyak menolong mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di Jenewa. Pada saat itu, dia menyeleksi setiap orang yang ingin kuliah di Jenewa dan siapa yang perlu dibantu. Konteks Calvin pada saat itu filantropi selalu dikaitkan dengan kecerdasan iman orang dan kecerdasan pemikiran orang, kecerdasan mental orang untuk orang itu berjuang. Di sinilah Calvin mengingatkan kita, filantropi kita untuk tepat sasaran, untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkannya.

 

Kelemahan Calvin memang tidak menonjol dalam kasih agape. Kenapa demikian? Karena semenjak Calvin menyatakan dirinya reformed, dia melawan Katholik yang pada saat itu tidak menegakkan Sola Scriptura, dan seluruh nilai Sola. Kemudian Calvin memikirkan TULIP, karena memang dia terus bergumul soal menegakan kebenaran. Jadi Martin Luther merubuhkan kebenaran yang palsu, menghancurkan kebenaran yang palsu, dan Calvin membangun menegakkan nilai gereja, nilai kemasyarakatan, nilai mandat budaya, nilai bisnis. Jadi kita tidak pernah melihat Calvin melakukan penginjilan, tetapi bukan berarti Calvin tidak punya nilai perjuangan iman untuk memenangkan orang kembali kepada Tuhan, konteksnya beda. Dia memenangkan orang-orang yang di Jenewa itu untuk hidup bagi Tuhan. Di sini kita harus belajar prinsip Calvin. Di dalam pola hidup dia mengajarkan prinsip mandat budaya, dia mengajarkan prinsip setiap orang Kristen harus menjadi pekerja keras, maka dia berkata dengan keras: Siapa yang tidak kerja tidak boleh makan dan bahkan jangan kasih makan.

 

Hidup ini memang banyak pergumulan, tetapi satu hal yang indah bagaimana kita bisa berbuat baik di saat kita kesulitan, bagaimana kita bisa menyatakan filantropi di saat hidup kita sedang banyak tantangan. Itulah filantropi berdasarkan iman, bukan karena kelebihanmu. Alkitab berkata berbahagialah kita yang memberi karena kita sedang kekurangan. Kita memberi dalam kelimpahan itu gampang sekali, tetapi orang yang berbahagia justru memberi di dalam kekurangan.

 

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami