Dosa Yang Disembunyikan

Dosa Yang Disembunyikan

Categories:

Bacaan alkitab: Yosua 7:1-26 dan Amsal 28:13.

 

Pendahuluan

Mengapa manusia bisa berubah kasih setianya kepada Tuhan? Mengapa karena dosa 1 orang yaitu Akhan Tuhan menyamakan dengan dosa 1 bangsa (Yosua 7:1)? Pada waktu Yudas berdosa, dosa itu tidak dikatakan sebagai dosa para murid. Pada saat Daud berdosa, itu tidak dikatakan sebagai dosa bangsa Israel. Jadi ada dosa yang bersifat pribadi yang tanggung jawabnya dipikul oleh pribadi dan ada dosa yang dilakukan 1 orang yang memengaruhi penyertaan Tuhan untuk seluruh komunitas atau bangsa. Akhan telah melakukan dosa dan itu disebut sebagai dosa 1 bangsa. Ini karena mereka dianggap sebagai kesatuan dalam seluruh misinya. Hal yang berbahaya adalah ketika ada pengurus atau diaken yang masih menyimpan suatu dosa dan itu memengaruhi pimpinan Tuhan dalam pelayanan gereja. Di dalam keluarga pun bisa ada dosa yang disembunyikan dan itu akan memengaruhi penyertaan Tuhan kepada seluruh anggota keluarga. Apa yang menyebabkan Akhan mencuri? Bukankah semua sudah tercukupi karena penyertaan Tuhan? Mengapa ia masih merasa kekurangan? Mengapa ia masih menginginkan yang lebih lagi? Mengapa ia masih menginginkan kemewahan barang-barang yang dicurinya? Ia mencuri jubah yang indah buatan Sinear dan emas serta perak. Mengapa akibat dosa Akhan, Israel dikalahkan oleh kota Ai yang sangat kecil? Ini adalah konsekuensi dari dosa Akhan. Apakah ada kemungkinan tentara Israel sudah terjebak dalam rutinitas sehingga tidak lagi bergantung pada Tuhan ketika sedang berperang? Mengapa karena dosa Akhan seluruh keluarganya turut dihukum? Keluarga dan seluruh hewan miliknya juga dihukum. Harta bendanya pun dimusnahkan. Seluruh bangsa Israel merajam mereka dengan batu tanpa peduli dengan teriakkan mereka. Di sini keadilan dan otoritas Tuhan dinyatakan.

 

Pembahasan

1) Hati yang Berubah

            Jikalau hati kita berubah secara positif, maka itu adalah hal yang baik. Jika kita yang dahulu adalah orang malas namun kemudian menjadi rajin karena Injil, maka itu sangat baik adanya. Jika ada orang yang tadinya sama sekali tidak memiliki hati untuk Tuhan namun kemudian berubah sehingga ia berani mengorbankan dirinya untuk Tuhan, maka ini adalah hal yang luar biasa. Ini adalah perubahan-perubahan yang sangat baik. Namun di dalam bagian yang kita baca, perubahan yang terjadi adalah perubahan yang negatif. Dalam ayat 1 dikatakan bahwa bangsa Israel berubah setia. Mungkinkah suami dan istri berubah setia meskipun sudah menyatakan janji nikah di hadapan Allah Tritunggal dan jemaat-Nya? Mungkin. Ini mungkin terjadi karena kita adalah manusia. Namun kita juga bisa terus memiliki kasih setia karena ada pertolongan dan anugerah Tuhan. Mereka yang serius menjalani pernikahan akan terus mempertahankan komitmen-komitmen yang ada di dalam pernikahan sehingga mereka bisa terus setia kepada Tuhan dan kepada pasangan. Sumber kesetiaan kita adalah Tuhan melalui kekuatan Firman.

 

Manusia bisa tergoda dengan keinginan diri yang belum disucikan. Filipi 3:13b-14 aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Paulus meninggalkan nama baiknya dalam kelompok Sanhedrin dan nama baiknya sebagai pengajar Taurat yang tidak bercacat cela. Ia adalah warga negara Roma yang memiliki hidup yang sejahtera. Namanya sudah terkenal dan orang-orang menghormatinya. Namun setelah ia bertobat, ia melupakan semua itu dan bahkan dianggap sebagai sampah karena Kristus Juruselamat (Filipi 3:8). Ini menunjukkan pertobatan Paulus yang total. Ia memiliki hidup yang baru di dalam Tuhan sehingga ia melihat semua yang lama itu sebagai sampah. Terkadang kita masih bisa jatuh karena belum tuntas dalam pertobatan kita. Kita masih perlu menyucikan keinginan-keinginan kita. Kita masih mudah untuk tergoda oleh dunia dan bujuk rayu Setan sehingga kita mudah jatuh. Inilah yang terjadi pada Akhan. Ia masih memiliki keinginan untuk menjadi kaya dengan cara yang tidak benar. Ia melihat jubah buatan Sinear itu dan menginginkannya. Maka dari itu ia mengambilnya dan menyembunyikannya. Akhan memiliki satu keinginan yang lebih, yaitu menginginkan jubah yang indah itu dan ingin menjadi orang yang berbeda. Ia juga mengambil emas dan perak itu untuk dirinya dan keluarganya. Setiap manusia memiliki keinginan dan adanya keinginan itu menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang hidup. Namun masalahnya adalah diri kita sudah jatuh di dalam dosa. Yakobus 1:14-15 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?

 

Akhan menginginkan kekayaan, kemegahan, dan kenikmatan hidup (ayat 21). Keinginan itu sendiri tidak salah selama tidak menjadi obsesi pribadi kita dan tidak menjadi ambisi utama yang membuat kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Akhan menghalalkan caranya yaitu mencuri. Ia tidak peduli dengan perkataan Yosua dan para imam yang sudah memberitahu bahwa emas dan perak itu harus dikhususkan untuk Tuhan. Ia hanya memikirkan keinginan pribadinya dan melihat itu sebagai kesempatan. Suara hati nurani seperti tidak menegurnya dan ia mengikuti keinginannya. Kita sudah memiliki Roh Kudus dalam hati kita. Roh Kudus sudah memateraikan hati kita dan Ia lebih besar daripada roh manapun juga. Ia menghakimi dan menegur kita sebelum kita jatuh dalam dosa. Jika kita masih bermain-main dalam dosa maka Ia akan mempertobatkan kita. Mengapa Yudas tidak ditegur? Mengapa Daud masih dikejar oleh bayang-bayang rasa bersalah? Pada akhirnya nabi Natan menegur dosanya. Mengapa Yudas dibiarkan oleh Tuhan Yesus? Mengapa Daud dan Petrus diizinkan bertobat sedangkan Akhan dan Yudas tidak? Saat keinginan kita masih menjadi obsesi yang utama dan kemutlakkan bagi diri kita, kita hanya akan menjadi Kristen secara lahiriah. Segala aktivitas dalam gereja yang kita ikuti hanya akan menjadi hal-hal sampingan yang biasa. Hati kita belum benar-benar dibongkar dan keinginan kita belum disucikan serta kita belum rela untuk disucikan. Di sini kita harus sadar bahwa Setan bisa memakai apapun yang kita inginkan untuk membawa kita kepada kesesatan sehingga hidup kita berakhir pada kematian dalam dosa. Orang yang sungguh dekat dengan Tuhan tidak hanya dekat dengan organisasi-organisasi rohani tetapi dekat dengan Firman dan menjalankan-Nya. Hal yang menyedihkan adalah ketika orang-orang yang kita kenal sebagai orang Kristen akhirnya melakukan dosa dan menerima konsekuensinya. Hidup ini misteri dan segala hal akan terungkap dalam waktu Tuhan. Tuhan tidak melihat jabatan atau paras kita. Jika hati kita belum beres, maka hidup kita akan terus berdiam di dalam dosa.

 

1 Timotius 2:9-10 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah. Setiap kita memiliki mahkota masing-masing. Mahkota laki-laki adalah Kristus dan mahkota perempuan adalah laki-laki (1 Korintus 11:3). Tuhan juga memberikan penudung bagi kepala wanita dan rambut panjang sebagai kehormatan (ayat 15). Tuhan sudah beranugerah bagi kita dan kita cukup hidup sederhana. Namun mengapa kita, terutama perempuan, masih terobsesi dengan tas bermerek? Hal ini bisa membuat kita jatuh dalam dosa kesombongan diri. Di Jakarta ada tempat penyewaan aksesoris-aksesoris mahal supaya pemakainya terlihat kaya dan bisa memamerkannya. Di sini ada dosa kesombongan dan ini bisa mendatangkan hukuman Tuhan. Hal yang sulit adalah ketika kita memiliki uang namun harus mengendalikan diri untuk tidak membeli barang-barang yang mewah demi kepuasan pribadi. Namun ada pula orang-orang yang tidak memiliki uang namun mau memakai aksesoris mahal. Inilah masalah keinginan yang belum disucikan. Kita seharusnya menyelaraskan keinginan hati kita dengan keinginan Tuhan. Segala dosa dan keinginan yang kita sembunyikan akan ketahuan. Pada saat kita tergoda dengan keinginan diri, kita harus mengingat bahwa diri kita adalah milik Kristus. Kita sudah dibeli dengan darah Kristus sehingga kita bukan lagi miliki kita sendiri dan Tuhan berhak penuh atas hidup kita. Hidup kita harus memancarkan Tuhan dan bukan memancarkan keinginan pribadi kita. Keinginan pribadi kita bisa mengandung dosa dan membawa kita kepada kehancuran.

 

            Jika keinginan diri yang berdosa itu terus kita pelihara, maka kita akan menuhankan diri kita. Di sini kita akan memakai uang, fasilitas, dan jabatan kita bukan untuk kemuliaan Kristus. Tuhan kita bukanlah Kristus tetapi aktualisasi diri, harga diri, dan reputasi diri. Ini juga membuat kita ingin menjadi lebih daripada orang lain sehingga kita selalu iri hati. Inilah bahaya dalam zaman ini. Ketika kita menuhankan diri, kita terus akan mengutamakan keinginan diri kita dan tidak peduli lagi akan kebenaran, kesucian, kemuliaan, dan keadilan. Agenda utama kita adalah mendapatkan semua barang yang kita inginkan, kepuasan kita, dan menyatakan diri lebih hebat daripada orang lain. Di sana kita sedang mematikan hati nurani kita. Ada banyak orang yang hidup secara fisik namun mati secara hati nurani. Hati nurani bisa mati karena mata telah dibutakan oleh ilah zaman ini (2 Korintus 4:4). Orang yang hati nuraninya mati tidak akan mengetahui kebenaran, kemuliaan, dan kesucian. Ia hanya bisa melihat kepada dirinya sendiri dan segala keinginannya. Tuhan pernah mengingatkan Kain “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kejadian 4:6-7). Kain menyimpan kemarahan dan kebencian kepada adiknya karena persembahan Habel diterima sedangkan persembahannya sendiri tidak. Kain tidak merendahkan diri dan tidak bertanya kepada Habel bagaimana agar diterima oleh Tuhan. Ia juga tidak bertanya kepada Tuhan. Kain tidak peduli dengan teguran Tuhan dan akhirnya membunuh saingannya yaitu Habel. Di sana Kain sudah mematikan hati nuraninya. Akhan juga tidak memiliki hati nurani. Akhan sudah mencelakakan Israel dan ia tidak peduli kepada Israel. Hal yang ia pedulikan adalah harta.

 

            Kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus maka kita harus menuhankan-Nya dalam seluruh aspek hidup kita. Tidak ada sedikitpun bagian yang boleh kita lepaskan dari Kristus. Penyembahan kita harus bersifat totalitas kepada Tuhan. Berhala dari Akhan adalah dirinya sendiri yaitu emosinya, jati dirinya, dan keinginannya. Kepuasan diri menjadi hal yang lebih penting baginya. Kain membunuh demi kepuasannya, juga Akhan mencuri demi kepuasannya. Yudas mencuri setiap hari dan berbohong kepada orang-orang demi kepuasannya. Ada orang-orang Kristen yang masih suka mencuri. Mereka adalah Kristen tetapi hanya lahiriah yaitu kekristenan tanpa Kristus. Di sini kita harus berhati-hati dengan keinginan dan kepuasan kita. Kita ingin dipuaskan dan kepuasan kita yang sudah ditebus adalah memuaskan keinginan hati Tuhan dalam setiap aspek hidup kita. Ketika kepuasan kita belum selaras dengan kepuasan hati Tuhan, kita akan menjadi seperti Akhan. Ia melihat, mengambil, dan menyembunyikan (ayat 21) demi kepuasan dirinya. Ia melakukan dosa itu secara sengaja dan terencana. Di sana ia sudah membayangkan dirinya sebagai orang yang memiliki jubah yang indah dan kekayaan yang bisa dipamerkan dan dipergunakan untuk kesejahteraan keluarganya. Ia tidak peduli dan berpikir bahwa Tuhan tidak mengetahuinya. Ia berpikir bahwa dirinya bisa lari dan tidak ketahuan. Di sini kita harus menyucikan mata kita. Yesus berkata: mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Matius 6:22-23). Tuhan Yesus menyuruh kita untuk berhati-hati dengan cara pandang kita. Jika kita sudah salah menilai anugerah Tuhan, maka itu akan menjebak kita. Maka dari itu Yesus juga berkata: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya (Matius 5:28).

 

            Pada zaman ini akses internet begitu mudah dan kita bisa mudah terjebak di dalamnya. Setan bisa menunggangi kita melalui mata kita dan kemudian menjatuhkan kita. Di sini kita harus melakukan peperangan rohani. Alkitab mengatakan bahwa lebih baik jika kita pergi ke rumah duka (Pengkhotbah 7:2 Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya). Di sana kita akan banyak merenung dan menyadari banyak hal tentang hidup ini. Banyak orang pada zaman ini terlalu mementingkan citra diri, reputasi, dan harga diri sehingga muncul penyakit-penyakit psikologis. Kita memang perlu mengaktualisasikan diri namun setiap dari itu harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Di setiap momen dalam hidup kita termasuk kegagalan, kita harus memikirkan pimpinan Tuhan. Ketika kita hanya memikirkan citra diri dan barang-barang mewah yang bisa mewujudkan citra diri kita, kita sudah terjebak. Setiap kita perlu aktualisasi diri namun harus berkaitan dengan kemuliaan Tuhan. Ketika aktualisasi diri kita hanya berkaitan dengan kemuliaan diri, di sana kita sudah menuhankan diri. Ada banyak orang yang menuhankan diri dan belum menyucikan keinginan hatinya. Mereka tidak memiliki modal untuk mendapatkan barang mewah namun mereka bisa memakai media sosial untuk menampilkan citra diri dan reputasi mereka. Di sana mereka mendapatkan aktualisasi diri namun tidak berhubungan dengan kemuliaan Tuhan. Orang yang seperti ini tidak peduli dengan orang lain. Ia tidak mau mendengar teguran orang lain. Akhan tidak peduli dengan apa yang mungkin terjadi setelah ia mencuri semuanya itu. Hati nuraninya sudah mati sehingga ia hanya peduli kepada kenyamanan dirinya sendiri. Hal apapun bisa membutakan kita jika kita tidak membiarkan Tuhan mengevaluasi diri kita.

 

Di dalam zaman ini ada banyak orang yang sudah kecanduan dengan narkoba digital. Mereka tidak peduli dengan orang-orang di sekitar mereka. Hal yang mereka pikirkan hanyalah kepuasan melalui internet. Ini membuat mereka menjadi orang-orang yang tidak memiliki pengendalian emosi dan kesabaran. Tuhan menebus kita dan membuka mata kita untuk melihat kehendak Tuhan. Kita harus menebus nilai relasi dan pekerjaan kita dan mengingat peran kita sebagai garam dan terang. Akhan dan seluruh keluarganya dibawa ke lembah Akhor untuk dihukum. Seluruh keluarganya dihukum karena mereka mengetahui akan barang curian Akhan dan tidak berkata apa-apa tentang itu. di sini mereka seolah setuju dengan Akhan. Dosa ini menjadi dosa keluarga karena dibiarkan berkembang. Kita sebagai garam dan terang harus mencegah kebusukan karena dosa. Yosua berkata: seperti engkau mencelakakan kami, maka TUHAN pun mencelakakan engkau pada hari ini (Yosua 7:25). Setelah itu mereka melempar batu sampai Akhan dan keluarganya mati. Di sana mereka mati dengan kesakitan dan kehabisan darah. Keadilan Tuhan dipuaskan dalam hukuman ini. Yudas berdosa dan ia menanggung itu sendiri. Daud berdosa namun kemudian ditegur oleh nabi Natan. Ia menyatakan pertobatannya dalam Mazmur 51. Pengakuan dosa itu memulihkan kita karena Tuhan menyembuhkan kita. Orang-orang yang masih menyimpan dosanya dan terus tidak peduli dengan orang lain sebenarnya sudah mengeraskan hatinya dan sudah menjadi hamba dari Setan. Kita sudah memiliki Roh Kudus sehingga kita akan dilindungi dari penyesatan zaman ini.

 

2) Akibat Dosa Akhan

Israel mengalami kekalahan yang pahit dengan Ai dan 36 orang meninggal (ayat 5-6). Dosa Yudas tidak memengaruhi pelayanan Yesus dan murid-murid yang lain serta dosa Daud tidak memengaruhi bangsa Israel. Tuhan memilih Yudas untuk menggenapkan penebusan. Daud melarikan diri dari tugas dan memanjakan diri sehingga ia menanggung dosa itu. dosanya bersifat pribadi. Dosa Akhan memengaruhi bangsa karena mereka adalah 1 bangsa yang diutus dalam 1 misi dan mereka mengetahui benar apa tuntutan Tuhan bagi mereka termasuk dalam barang-barang jarahan dari kota Yerikho. Tuhan murka karena Yosua dan yang lain kehilangan kepekaan rohani. Mereka tidak tahu siapa yang mencuri di tengah keramaian itu dan tidak memeriksa. Setelah para pengintai memberikan laporan kepada Yosua (ayat 2-3), ia langsung mengirim 3000 orang ke Ai (ayat 4). Ternyata 36 orang tewas dalam prosesnya (ayat 5). Mereka bisa mengalahkan Yerikho yang memiliki tembok 2 lapis yang tebal dan tinggi namun kalah dari kota Ai yang begitu kecil. Yosua tidak bertanya dan melibatkan imam karena mengandalkan laporan dari para pengintai. Mata manusia bisa salah dan Yosua tidak melibatkan para imam dalam doa. Mereka tidak mengevaluasi peperangan mereka di Yerikho yang kemenangannya adalah dari Tuhan dan bukan kekuatan Israel. Kekalahan ini karena mereka tidak mengandalkan Tuhan. Kekalahan ini membuat mereka tawar hati (ayat 5). Tawar hati itu terkadang baik untuk mendorong kita bertobat. Setelah itu rasa tawar itu menjadi manis. Setelah Yosua meratap dan merendahkan dirinya, Tuhan baru menyatakan bahwa ada dosa yang disembunyikan (ayat 11). Kita harus waspada pada dosa-dosa yang terlihat kecil karena itu dapat membuat kita kehilangan penyertaan Tuhan. Di sana kita akan mengalami kegagalan. Kesuksesan karena dosa itu menandakan bahwa kita adalah pengikut Setan. Jika kita milik Tuhan, maka Tuhan tidak akan membiarkan kita dihancurkan oleh Setan.

 

Israel juga kehilangan martabat diri (ayat 9). Yosua berdoa dengan hati yang hancur dan kesedihan yang mendalam (ayat 6-9). Ia khawatir bangsa-bangsa di sekitar mengetahui kekalahan Israel di Ai dan Israel menjadi kehilangan martabat diri. kita harus waspada karena dosa kecil bisa menghancurkan martabat dan reputasi keluarga. Kita sudah ditebus oleh Kristus sehingga martabat kita itu penting di mata Tuhan. Kita menjadi seperti biji mata Tuhan (Mazmur 17:8). Ini berarti kita sungguh dekat dengan Tuhan dan kita penting di mata Tuhan. kita akan melihat keindahan ketika kita dikenal sebagai anak-anak terang yang takut akan Tuhan. Itulah reputasi yang indah. Dosa Akhan membuat Israel kehilangan martabat diri. Konsekuensi yang begitu besar terjadi hanya karena Akhan menginginkan emas dan perak. Israel juga kehilangan penyertaan Tuhan (ayat 9). Tuhan tidak mau menyertai Israel jika dosa Akhan belum disingkirkan. Setelah semua itu dibereskan, Tuhan menyertai mereka dan Ai bisa dihancurkan. Harta dunia tidak menjamin apapun, namun kehadiran Tuhan itu sangat kita perlukan. Kehadiran Tuhan itu membawa damai sejahtera bagi kita (Yohanes 20:19). Tuhan telah berjanji kepada Yosua: seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau (Yosua 1:5). Penyertaan Tuhan membuat kita memiliki kuasa. Kita yang biasa bisa melakukan hal yang luar biasa karena ada penyertaan Tuhan.

 

3) Solusi Rohani

Pertama, merendahkan diri kepada Tuhan: berdoa, evaluasi diri, dan penyesalan diri (ayat 7-9, bandingkan 1 Yohanes 5:14, Mazmur 32, 51). Setiap doa kita yang dinaikkan dengan serius dan penuh kebergantungan kepada Tuhan akan dijawab. Mereka yang sungguh-sungguh bertobat dan meninggalkan dosanya akan mendapatkan hati yang baru dan penyertaan yang baru serta damai yang baru. Setelah Daud bertobat dosa perzinahannya, ia mendapatkan pemulihan. Dosa yang disembunyikan itu hanya akan merusak diri kita sendiri dan keluarga kita. Kita harus merendahkan diri kita di hadapan Tuhan untuk mendapatkan pemulihan. Di sana kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Di dalam kebaktian Minggu kita selalu menaikkan doa pengakuan dosa sebelum menaikkan doa syafaat. Hal ini penting karena kita harus selalu sadar akan kekudusan Tuhan.

 

Kedua, pengudusan (ayat 13, bandingkan Amsal 15:3, 28:13). Hidup kita sedang dikuduskan oleh Tuhan. Setelah dibenarkan, kita bertanggung jawab dalam mematikan keinginan-keinginan kita yang tidak suci. Kita mengalami progressive sanctification. Tuhan meminta agar seluruh bangsa itu dikuduskan karena dosa Akhan diperhitungkan sebagai dosa 1 bangsa. Yosua harus mempersiapkan tentara secara fisik dan mempersiapkan kerohanian bangsa Israel. Mata Tuhan melihat segala sesuatu, maka mengaku dosa itu jauh lebih baik. Allah penuh kasih dan belas kasihan sehingga mau mengampuni kita.

 

Ketiga, menyatakan keadilan Allah (ayat 13, 24-26, bandingkan Ibrani 4:13). Barang-barang yang dicuri Akhan harus dimusnahkan. Ketika kita berdosa, keadilan Allah juga harus dinyatakan namun Yesus Kristus sudah menanggung semua itu. Di sini kita tidak bisa menganggap enteng dosa. Allah memiliki kasih dan juga keadilan. Kita sebagai orang tua harus bisa menyatakan hal ini kepada anak-anak kita. Ketika anak berdosa, maka orang tua harus bertindak sebagai nabi yang menegur dosa. Yudas mengakui dosanya namun ia tidak sungguh-sungguh bertobat. Ia bukan umat pilihan. Kita yang adalah umat pilihan pasti memiliki kepekaan rohani dan hati yang hancur ketika melihat dosa.

 

Kesimpulan

Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, (1 Korintus 10:6). Di sini Paulus menceritakan kejatuhan dari Israel karena dosa keinginan. Kita harus waspada terhadap keinginan yang jahat agar tidak diperbudak. Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba. (1 Korintus 10:11). Kita harus memperingatkan diri kita sendiri sebelum memperingatkan orang lain. Kita diberikan benih iman yang menyelamatkan dan kita akan dipimpin menjadi orang yang beriman dan benar (Roma 1:17). Iman kita juga akan disempurnakan oleh Yesus (Ibrani 12:2). Iman itu memimpin kita hidup benar dan mencapai kesempurnaan. Tanggung jawab kita adalah membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Di sana kita juga akan menemukan pertolongan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami