Dosa Seksualitas (Yehuda)

Dosa Seksualitas (Yehuda)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 38:1-30.

 

Pendahuluan

Sampai seberapa penting arti pergaulan atau perkawanan yang dapat memengaruhi hidup seseorang (1 Korintus 15:33)? Manusia adalah makhluk sosial yang harus berkomunikasi dan berelasi. Manusia yang satu bisa memengaruhi yang lainnya. 1 Korintus 15:33 mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap pergaulan yang buruk. Pergaulan yang buruk itu bisa merusak kebiasaan yang baik dan menjatuhkan kita ke dalam hal yang fatal. Kita sebagai orang tua harus mengontrol pergaulan anak-anak kita. Suami-istri juga harus saling mengontrol pergaulan. Memiliki pergaulan di gereja adalah satu hal yang sangat baik. Mengapa Yehuda justru dengan sengaja berpisah dengan keluarganya (Kejadian 37:26)? Apakah ia dengan inisiatifnya sendiri mau pergi? Yehuda adalah orang yang memprovokasi sehingga Yusuf dijual kepada orang Midian. Apa akibatnya jika salah memilih pasangan hidup? Ketika kita sudah menikah, kita tidak boleh sembarangan menceraikan. Ini karena Tuhan sudah memberikan perintah demikian. Kita harus memakai pendekatan rohani dan pertobatan agar diri kita dan pasangan kita boleh menyenangkan hati Tuhan dan sungguh mencintai Tuhan. Jika kita berani berkata salah memilih pasangan, maka kita harus menganalisa dari mana kita bisa mengetahui bahwa kita telah salah memilih. Mungkin kita bisa berkata salah memilih karena standar kita yang salah dan tidak terpenuhi. Jika kita merasa salah memilih karena pasangan kita tidak memberikan kekayaan, kebebasan, kebahagiaan, atau tidak memberikan anak, maka sebenarnya kita yang salah menentukan standar. Di sini kita harus meminta kekudusan dari Tuhan supaya ada cinta yang baru, yang kudus sebagai pasangan. Mengapa anak-anak Yehuda, yaitu Er dan Onan jahat di mata Tuhan? Mereka salah bergaul. Mereka bergaul dengan orang-orang Kanaan yang hidupnya tidak benar dan tidak suci. Mereka menyembah berhala. Mereka melakukan seks secara bebas. Di sini Er dan Onan dinyatakan jahat karena mempermainkan seks yang sebenarnya adalah anugerah yang suci. Mereka tidak mau memberikan keturunan. Mereka mempermainkan lembaga pernikahan sehingga pada akhirnya mereka dibunuh oleh Tuhan. Adakah anugerah untuk orang berdosa? Selalu ada. Mereka bisa dipulihkan oleh Tuhan.

 

Pembahasan

Pertama, kita akan membahas tentang kehidupan yang bebas (ayat 1, bandingkan Lukas 15:11-32). Yehuda memilih kehidupan macam ini. Sebelumnya, ia mengusulkan untuk menjual Yusuf (Kejadian 37:26-27). Ini membuat mereka harus berbohong kepada Yakub. Saat Yakub berpikir bahwa Yusuf sudah mati, ia begitu berduka dan tidak mau dihibur dalam waktu yang lama. Mungkin setelah itu terjadi, anak-anaknya saling menyalahkan dan di sana Yehuda mulai merasa tertekan. Mereka tidak mengakui kebohongan mereka tetapi menyimpannya terus. Di sini Yehuda kemudian mencari pelarian. Kita harus berhati-hati terhadap kebebasan. Di dalam perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:11-32), anak bungsu itu mau bebas dan ia pergi untuk menikmati segala kesenangan dan dosa. Ia meminta warisan dari ayahnya sebelum ayahnya meninggal. Ini adalah hal yang kurang ajar menurut budaya Yahudi. Kebebasan kita mula-mula adalah kebebasan dalam kesucian walaupun pada akhirnya Adam dan Hawa mengikuti suara Setan. Kebebasan dalam kesucian itu memberikan kedamaian dalam bersekutu dengan Tuhan. di saat itu tidak ada rasa bersalah. Setelah Adam dan Hawa bersalah dalam menggunakan kebebasannya, mereka dibayangi oleh ketakutan dan kemarahan Tuhan. setelah kejatuhan dalam dosa, kebebasan manusia diisi dengan kesenangan yang berfokus pada diri sendiri yaitu kebebasan yang sebebas-bebasnya. Adam dan Hawa memang bebas memakan semua buah dari pohon yang ada kecuali pohon pengetahuan itu. di sini Tuhan memberikan kebebasan yang terbatas. Manusia yang ingin bebas itu harus dibatasi oleh manusia lain yang juga ingin bebas. Ada manusia yang mau berdosa sesukanya tanpa peduli kepada orang lain. Roma 1:18-24 menjelaskan tentang orang-orang yang tahu tentang kebenaran tetapi tidak hidup dalam kebenaran. Mereka tahu tentang kemuliaan Tuhan namun tidak hidup memuliakan Tuhan. Mereka menindas kebenaran dan Tuhan menghukum mereka dengan menyerahkan rasio dan hati nurani mereka kepada kecemaran sehingga mereka tidak lagi bisa membedakan kebebasan dalam kesucian dan yang tidak dalam kesucian. Mereka hanya melihat kepada kesenangan mereka. Kaum LGBT melakukan seks yang mereka sukai dan menuduh orang-orang beragama sebagai orang-orang jahat yang membatasi mereka. Ini berbeda dengan kebebasan yang merupakan hasil kemerdekaan yang diberikan Tuhan untuk kita. Kebebasan di luar Kristus adalah kebebasan di dalam dosa. Di dalam Kristus, kita bebas dari dosa dan kutuk dari dunia ini. barangsiapa sudah dimerdekakan oleh Kristus harus mengisi kemerdekaannya dengan iman. Karakternya harus diubah untuk memuliakan Tuhan. Yehuda bukan menyelesaikan masalah tetapi lari dari masalah. Ia tidak mau terus dipersalahkan. Ketika anak mau bebas dengan alasan studi, kita sebagai orang tua harus berhati-hati. Setiap motivasi yang salah itu akan membawa kepada dosa.

Yehuda memilih menjauhkan diri dari keluarganya (Ibrani 10:25 dan 1 Korintus 15:33) yaitu tinggal di Kanaan. Keluarganya dipimpin oleh Yakub yang mengenal Tuhan, namun ia tidak mau lagi dipimpin oleh Yakub. Ia mencari kebebasan. Ia mau memberontak karena dipimpin oleh emosi yang tidak suci. Ibrani 10:25 menyatakan bahwa kita tidak boleh menjauhi pertemuan-pertemuan ibadah kita. Di saat kita tidak mau menaati ayat ini, kita akan mendapatkan risiko jatuh ke dalam dosa. Ketika kita menghindarkan diri dari hal-hal rohani, pada akhirnya kita bisa menyesal. Kita harus memiliki penyesalan rohani yang membuat kita menjauh dari dosa dan mau melayani Tuhan lebih lagi. Apakah Yehuda tidak tahu bahwa Kanaan itu tempat yang banyak dosanya? Apakah Yehuda tidak tahu bahwa pergaulan di Kanaan itu begitu bebas tanpa kesucian? Ia tahu, namun ia tetap ke sana karena dosanya. Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus berhati-hati terhadap pergaulan yang buruk karena semua itu bisa memengaruhi kita secara negatif. Kita adalah garam dan terang dunia, maka setelah kita ditebus, kita harus meredam dosa di masyarakat bahkan mematikan dosa. Kita diberikan kuasa sehingga kita bisa hadir sebagai terang yang menyingkirkan kegelapan itu. apakah Yehuda punya kuasa itu? Tidak. Ia pada akhirnya terhisap ke dalam pergaulan yang buruk dan menerima semua kebiasaan buruk mereka. Orang tua harus berani menguji kebebasan anak. Orang tua juga harus berani berkata tidak jika melihat iman, mental, dan karakter anak belum kuat. Seluruh anggota keluarga harus terus menggumulkan motivasi supaya setiap kebebasan itu disucikan agar tidak ada yang jatuh ke dalam dosa.

Karena Yehuda sudah berkompromi dengan dosa orang-orang itu, ia langsung menikahi Syua ketika melihatnya. Yehuda salah memilih pasangan hidup (ayat 2, bandingkan Kejadian 27:46). Ia menikahi orang yang berbeda iman. Yehuda memilih berdasarkan hal lahiriah (melihat, mengambil, seks) dan bukan berdasarkan standar rohani atau iman (2 Korintus 6:14-18). Ini tidak diperbolehkan karena suami dan istri harus memiliki tujuan yang sama yaitu memuliakan Tuhan. Esau menikahi perempuan-perempuan Kanaan dan itu membuat Ribka berduka. Pernikahan itu harus satu iman, satu tujuan, satu hakekat, dan satu substansi. Mengapa Yehuda tidak mengingat perkataan neneknya? Karena ia merasa pilihannya sudah benar. Matius 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Setiap kita mungkin bisa jatuh ke dalam dosa mata. Mata kita jika tidak dikuduskan bisa membawa kepada dosa dan keliaran. Istri Potifar melihat Yusuf dengan berahi (Kejadian 39:7). Di sini ada dosa mata. Kita harus berhati-hati dalam menggunakan mata kita. Ketika kita sudah memiliki pasangan, maka mata kita tidak boleh diarahkan kepada orang lain lagi. Kita juga harus berhati-hati terhadap cinta. Ada cinta yang muncul karena kondisi dan cinta seperti ini harus diuji. Mata Yehuda melihat hal-hal yang bersifat lahiriah. Mata kita tidak boleh berfokus pada kualitas-kualitas lahiriah seperti kecantikan dan ketampanan. Standar mata bisa menyesatkan. Ketika memilih pasangan, kita harus memilih yang beriman dan berkarakter rohani. Orang yang dipilih itu harus takut akan Tuhan, menghormati orang tua, mau melayani, dan lainnya. Kita harus memegang standar rohani atau iman. Mereka yang dipersatukan oleh Tuhan adalah kesatuan dalam iman, bukan fisik, rumah, dan fungsi. Apa yang dikatakan Ribka itu mewakili suara Tuhan. Yehuda tidak berhati-hati dalam memilih dan ia memakai standar yang salah sehingga salah memilih. Kita mungkin pernah jatuh cinta karena melihat, namun setelah itu kita harus melihat lebih dalam kepada hal-hal yang lebih penting yaitu karakter, iman, dan hatinya.

Apa akibatnya jika keluarga tidak memiliki standar kebenaran Firman Tuhan dan kesucian? Sudahkah kita mengaplikasikan kebebasan yang suci di dalam keluarga kita? Ada banyak keluarga mengaku Kristen namun tidak mengutamakan Firman dan tidak menuhankan Kristus. Kita harus melihat pentingnya ibadah keluarga dan mengingat bahwa Kristus harus menjadi Raja di dalam keluarga kita. Standar hidup kita harus sesuai dengan kebenaran dan kesucian Tuhan. Yehuda membangun keluarga tanpa standar kebenaran Firman Tuhan dan kesucian. Akibat dari hal ini adalah keluarga (anak) kehilangan jati diri dan citra diri. Di dalam zaman ini terdapat pikiran tanpa bentuk dan kebebasan yang liar. Hal yang dipikirkan zaman ini adalah aktualisasi diri, kenikmatan, dan kesenangan. Di sini ada kebebasan yang sebebas-bebasnya. Orang tua harus berhati-hati dalam memberikan kebebasan kepada anak di dalam zaman yang seperti ini. Firman Tuhan harus menjadi standar dalam rumah tangga kita. Kita harus melihat pentingnya keluarga yang beriman. Kekudusan keluarga dan kemuliaan Tuhan itu harus menjadi tujuan dalam setiap keluarga. Orang-orang Puritan memikirkan bagaimana keluarga itu bisa kudus di hadapan Tuhan. Kesalehan itu menjadi hal yang sangat penting bagi mereka karena ini berkaitan dengan iman. Yehuda memiliki 3 anak yaitu Er, Onan, dan Syela. Er itu jahat di mata Tuhan karena ia menikahi Tamar namun tidak mau memiliki anak dan tidak menjaga kesucian dalam seksualitas (Kejadian 38:6-7). Inilah gaya hidup orang Kanaan. Jika pernikahan itu hanya berfokus pada seks, suami-istri itu sudah berdosa. Er langsung dibunuh oleh Tuhan karena kejahatannya dalam dosa seksualitas. Anak adalah anugerah Tuhan dan seks itu suci dari Tuhan. Anak yang diberikan Tuhan harus kita didik dalam kesucian. Yehuda pasti kaget melihat Er yang mati muda. Kemudian ketika Onan tidur dengan Tamar, ia bersetubuh tetapi tidak mau mendapatkan anak (Kejadian 38:9). Ia dilihat jahat oleh Tuhan dan kemudian ia dibunuh. Jadi anak-anak Yehuda yaitu Er dan Onan rusak moralnya. Yehuda tidak mau memberikan Syela kepada Tamar karena takut Syela mati (Kejadian 38:11).

Setelah beberapa waktu, Syua, istri Yehuda meninggal. Ia kemudian mencari pelarian yang salah (ayat 12, bandingkan Ulangan 23:17-18). Ia mencari penghiburan dunia. Yehuda memilih mendekatkan diri dengan sahabat-sahabatnya yang sedang berpesta dan menggunting bulu domba. Di dalam pesta itu ada parade cinta. Di beberapa negara di Eropa dan Australia ada parade cinta. Kaum LGBT juga menunjukkan identitas mereka kepada masyarakat dalam parade cinta. Di sana mereka minum-minum dan melakukan seks. Yehuda ikut dalam pesta itu dan kemudian Tamar menyamar menjadi pelacur. Mereka berdua kemudian bersetubuh dan Tamar menjadi hamil. Hukum Taurat sudah menulis tentang dosa karena pelacuran, maka kita harus berhati-hati dalam bagian ini. Yehuda mencari kepuasan dan kesenangan sehingga ia melampiaskan nafsunya dengan pelacur yang ternyata adalah Tamar. Inilah dosa seksualitas Yehuda. Jika kita menikah karena seks, maka ketika pasangan kita meninggal kita bisa mencari pelampiasan dengan melakukan seks di luar nikah. Ini sangat berbahaya.

 

Penutup

Bagaimana kita dapat membangun keluarga yang beriman? Apa yang harus kita lakukan sebagai keluarga Kristen? Mari kita membangun ulang karakteristik keluarga kita menjadi keluarga yang beriman dan melayani Tuhan. Pasangan harus seiman dan anak-anak harus dididik dalam iman. Hati anak-anak harus dimenangkan dengan iman dan bukan janji. Hal-hal lahiriah tidak boleh menjadi yang diutamakan dalam mendidik anak. Banyak anak dimenangkan oleh orang tuanya dengan fasilitas dan uang. Pada akhirnya mereka salah mendidik anak. Mari kita belajar, jangan dengan sengaja menjauhkan diri dari persekutuan dengan anak-anak Tuhan dan ibadah. Setiap kali kita bertemu kesempatan untuk datang dalam pertemuan ibadah atau pelayanan, jangan sampai kita melewatkan itu. kita harus melihat ini sebagai anugerah Tuhan. Mari kita menjauhkan diri dari pencobaan dan berani memilih hidup benar dan suci dalam standar Tuhan untuk segala aspek hidup kita. Segala pencobaan harus kita jauhi dan kita harus berani memilih yang benar dan suci. Di sanalah Tuhan akan memberikan berkat.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami