Dosa Ambisius dan Akibatnya (Abimelekh)

Dosa Ambisius dan Akibatnya (Abimelekh)

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 9:1-57.

 

Pendahuluan

 

Dari mana timbulnya niat jahat seseorang? Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa sebelum Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa, manusia memiliki kebebasan yang netral. Ini berarti mereka bebas untuk memilih kehendak Tuhan atau kehendak diri serta kehendak Setan. Jadi manusia jatuh ke dalam dosa di dalam kebebasannya. Namun setelah manusia menjadi manusia berdosa, kebebasannya dalam memilih, memenuhi keinginan, dan memuaskan emosi dan pikirannya menjadi sumber kejahatan. Alkitab berkata bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang (1 Timotius 6:10). Manusia bisa mencintai karena memiliki keinginan. Kita harus berhati-hati terhadap keinginan yang adalah buah pikiran dan emosi kita. Alkitab mencatat seorang tokoh yang bejat, kejam, dan jahat luar biasa yaitu Abimelekh. Abimelekh memiliki dosa ambisius yang besar.

 

Mengapa Abimelekh memiliki dosa ambisius? Setiap orang memiliki ambisi, namun ketika kita memiliki jiwa yang ambisius, itu berarti kita rela memakai semua cara demi mencapai ambisi kita. Semua tantangan dan kesulitan akan kita lalui dengan segala cara bahkan termasuk menipu dan membunuh. Inilah dosa Abimelekh.

 

Jikalau Abimelekh begitu kejam, jahat, dan brutal, maka apakah Abimelekh masih memiliki hati nurani? Dia masih memiliki hati nurani namun fungsinya sudah hilang. Sejahat-jahatnya seseorang, ia masih memiliki hati nurani namun ia belum tentu masih memiliki fungsi hati nurani. Hati nurani membuat kita bisa membedakan mana yang boleh dan tidak, yang suci dan yang tidak, yang baik dan yang cela, serta yang adil dan tidak adil. Alkitab mencatat peristiwa Kain dan Habel (Kejadian 4). Sebelum Kain membunuh Habel, Tuhan menegur hati nuraninya. Bersukacita dan tersenyum itu lebih baik daripada membenci dan iri hati, namun Kain mengabaikan peringatan Tuhan sehingga pada akhirnya ia membunuh adiknya.

 

Mengapa sampai terjadi hal seperti ini? Manusia berdosa ketika mendapatkan teguran dari Tuhan tidak mau mendengarkan tetapi malah mengabaikan, menolak, bahkan mematikan suara hati nuraninya. Perlahan-lahan fungsi hati nurani akan mati. Hati nurani itu masih ada namun sudah tidak berfungsi lagi. Bagaimana dengan orang Kristen? Mungkinkah fungsi hati nurani orang Kristen mati? Tidak mungkin. Ibrani 9:14 mengatakan bahwa ketika kita sudah diselamatkan, hati nurani kita dikuduskan. Hati nurani kita akan dipenuhi oleh Allah Roh Kudus. Dikatakan bahwa Allah Roh Kudus itu lebih besar daripada roh apapun juga. Jika kita sudah ada di dalam tangan Tuhan maka tidak ada suatu kuasa apapun juga yang bisa merebut kita (Yohanes 10:28). Ini menunjukkan bahwa seluruh keinginan kita tidak akan mengalahkan fungsi hati nurani kita ketika iman bekerja. Saat kita jatuh dalam dosa, Allah Roh Kudus langsung menegur kita. Saat kita mencoba untuk melawan, Allah Roh Kudus kita memukul kita sehingga kita bertobat. Apa perbedaan Petrus dan Yudas? Petrus pernah menyangkal Tuhan namun ia mendapatkan anugerah pertobatan karena ia memang adalah umat pilihan. Yudas dari awal selalu menipu dan pada akhirnya ia menjual Yesus sehingga Yesus disalibkan. Yudas menyesal namun tidak bertobat. Jadi kita melihat di sini bahwa orang jahat pun bisa pulih hati nuraninya namun tidak ada pembersihan hati nurani. Saat kematian hampir merenggutnya, hati nuraninya bisa kembali pulih namun belum tentu disucikan kecuali ia bertobat dan kembali kepada Tuhan. Abimelekh mati karena dibunuh oleh seorang wanita, bukan oleh Gaal yaitu pemimpin Sikhem yang memberontak melawannya. Jadi bukan seorang laki-laki yang membunuhnya tetapi seorang perempuan. Cara pembunuhannya pun cukup sadis yaitu batu kilangan dijatuhkan ke atas kepalanya sampai batu kepalanya pecah. Ini adalah suatu penghinaan. Ia tidak rela mati karena hal itu, maka dari itu ia menyuruh bujangnya untuk membunuhnya.

 

Dosa-dosa apa saja yang dilakukan Abimelekh dan apa akibatnya? Ia membunuh 70 anak Gideon. 1 orang yang melarikan diri bernama Yotam. Kemungkinan besar Gideon memiliki anak-anak lain selain 70 orang ini. Mungkin saja ia memiliki 200 anak. Mungkin perbandingan antara jumlah anak perempuan dan anak laki-lakinya adalah 2:1 sesuai demografi secara umum. Secara biologis, kemungkinan mendapatkan anak perempuan dibanding anak laki-laki adalah 2:1. Sebagian anak-anaknya menjadi liar dan yang paling liar adalah Abimelekh, anak Gideon dari gundiknya yang adalah seorang Sikhem. Abimelekh tidak dibesarkan di Sikhem tetapi di jalanan. Ketika ia pergi ke Sikhem, ia memperkenalkan dirinya dari awal. Ia menceritakan silsilahnya. Ia bertumbuh di luar Sikhem di dalam lingkungan para penjahat dan para preman.

 

Pembahasan

Kita mungkin memiliki ambisi dan mungkin kita pernah menjadi ambisius sehingga kita menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan kita: nilai yang terbaik, tugas akhir, karier, dan lainnya. Kita mungkin pernah jatuh ke dalam dosa ini. Dimanakah batasan itu sampai Allah Roh Kudus menegur kita sehingga kita tidak jatuh ke dalam dosa yang lebih dalam? Tuhan tidak akan membiarkan kita tertidur dalam dosa. Tuhan tidak akan membiarkan kita menikmati dosa sehingga kita mempermalukan nama Tuhan. Allah Roh Kudus bisa mengizinkan kita jatuh ke dalam dosa seperti Daud. Namun Tuhan memakai nabi Nathan untuk menegur dosa yang Daud sembunyikan. Ini menunjukkan bahwa kita bisa kalah terhadap keinginan kita untuk sementara waktu. Kita harus mengingat bahwa kita sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Allah Roh Kudus berdiam di dalam hati kita. Kita bisa mencoba untuk meredam dan melawan suara-Nya namun Ia berkuasa untuk menyadarkan dan mempertobatkan kita. Kita tahu bahwa roh itu penurut tetapi daging itu lemah (Matius 26:41). Ketika kita sadar bahwa kita sudah masuk ke dalam dosa ambisius, kita harus kembali kepada Tuhan. Kita harus cepat-cepat bertobat supaya kita tidak dipukul oleh Tuhan.

 

Abimelekh melakukan dosa konspirasi. Ia berkata: Manakah yang lebih baik bagimu: tujuh puluh orang memerintah kamu, yaitu semua anak Yerubaal, atau satu orang? Dan ingat juga, bahwa aku darah dagingmu (ayat 2). Ia menghasut seluruh warga Sikhem dan saudara-saudara ibunya membantunya sehingga condonglah hati warga Sikhem untuk mengikuti Abimelekh. Mungkin saja warga Sikhem bisa bertanya tentang kualifikasi Abimelekh karena ada banyak anak Gideon yang lain, namun saat itu tidak ada yang berpikir kritis. Mereka tidak berpikir mendalam dan tidak bertanya karena ada dosa konspirasi. Ketika mereka memikirkan tujuan yang sama, mereka tidak lagi berpikir kritis dan tidak lagi bertanya selama tujuan itu bisa tercapai. Jika dosa konspirasi masuk ke dalam dunia politik, maka negara itu berada dalam bahaya. Jika beberapa pihak memiliki dosa ambisius untuk menjatuhkan satu pihak, maka mereka bisa memakai segala cara, bahkan menunggangi agama, untuk mencapai tujuan itu. Demi kepentingan mereka, mereka mau memakai cara apapun yang berdosa. Orang-orang yang mengaku beragama juga bisa menunggangi politik demi mencapai tujuan mereka. Mereka adalah orang-orang yang sudah mematikan fungsi hati nurani demi kedudukan, kenikmatan seksual, dan uang yang banyak. Banyak orang tidak sadar bahwa ketika mereka kompromi dengan hal-hal yang tidak suci, mereka sudah mulai mematikan fungsi hati nurani mereka. Abimelekh sungguh hebat dalam memakai pendekatan komunikasi dan kesukuan untuk meminta dukungan warga Sikhem. Padahal Gideon sudah berkata bahwa ia dan anak-anaknya tidak akan menjadi pemimpin atas Israel (Hakim-Hakim 8:23). Dosa konspirasi membuat orang-orang yang melakukannya menjadi tidak cerdas dan tidak kritis. Ini karena mereka terlalu berfokus pada tujuan licik mereka. Mereka mementingkan tujuan namun mematikan fungsi hati nurani. Orang yang berani melakukan dosa konspirasi itu sebenarnya tidak takut akan Tuhan. Ia hanya takut jika tujuannya tidak tercapai. Kesamaan tujuan yang licik bisa menghasilkan dosa konspirasi. Setelah semuanya telah sepakat, Abimelekh mendapatkan uang 70 keping perak dari kuil Baal-Berit (Hakim-Hakim 9:4). Ia memakai uang itu sebagai upah bagi para petualang dan orang-orang nekat supaya mereka mengikutinya. Kita bisa begitu mudah bekerja sama dengan preman karena mereka menginginkan uang. Bekerja sama dengan orang nekat itu lebih sulit karena mereka memiliki keberanian yang liar. Bekerja sama dengan orang gila itu jauh lebih sulit karena ia gila. Namun jika kita bermasalah dengan preman berkedok agama, maka kita akan mendapatkan kesulitan yang besar.

 

Abimelekh kemudian pergi ke Ofra, bukan untuk reuni tetapi untuk membunuh saudara-saudaranya sebanyak 70 orang (ayat 5). Pasti ada banyak darah saat itu karena ada banyak korban. Orang yang fungsi hati nuraninya sudah mati tidak peduli dengan banyak darah dan penderitaan orang lain. Jadi Abimelekh juga melakukan dosa pembunuhan. Setelah membunuh mereka semua, ia kemudian dinobatkan sebagai raja (ayat 6). Apakah semua ini membuatnya merasa puas? Tidak. Ia melanjutkan ambisinya dengan memperluas kekuasaannya. Di sini ada dosa takhta. Abimelekh adalah raja yang tidak layak karena ia tidak dipilih oleh Tuhan atau seluruh bangsa Israel. ia memilih dirinya sendiri melalui dosa konspirasi dan dosa pembunuhan. Ini adalah raja yang tidak baik. Kita boleh-boleh saja menjadi orang yang terkemuka, terkenal, berkuasa, dan berpengaruh. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita dipanggil untuk memelihara dan menguasai bumi dengan benar (Kejadian 1:28). Itu adalah semangat mandat budaya. Jiwa kepemimpinan itu diletakkan di dalam hati kita sebagai orang Kristen. Kepemimpinan kita adalah untuk menyatakan Tuhan dan bukan diri sendiri. Jadi kemajuan kita dalam bidang karier bukanlah untuk menyatakan kehebatan diri tetapi menyatakan kebesaran Tuhan. Kita semua diberikan benih untuk menjadi pemimpin karena kita akan menjadi bangsa yang besar. Itu juga janji Tuhan kepada Israel. Abimelekh ingin menjadi raja namun dengan cara yang salah. Kita harus berhati-hati saat kita ingin berkuasa karena jikalau keinginan itu tidak dikaitkan dengan Tuhan maka itu semua akan menjadi dosa ambisius. Oleh karena itu Tuhan mengizinkan pemerintahan Abimelekh hanya bertahan selama 3 tahun. Selama 3 tahun Abimelekh memerintah dengan kejam. Mungkin pada masa itu orang-orang bertanya ‘dimanakah Tuhan?’. Setelah mendengar bahwa Abimelekh sudah menjadi raja, Yotam bercerita tentang pohon zaitun, pohon ara, dan pohon anggur yang diminta menjadi raja namun mereka menolak demi menjalankan fungsinya (ayat 8-15). 3 pohon itu menolak namun semak duri bersedia menjadi raja. Yotam menyamakan semak duri itu dengan Abimelekh. Abimelekh dianggap tidak tahu diri sebagai semak duri yang tidak menghasilkan buah apapun. Yotam kemudian melarikan diri dan menjauh dari Abimelekh selama ia hidup (ayat 21). Orang-orang mungkin bertanya dimana Tuhan saat itu ketika ada raja yang tidak sah yang memimpin selama 3 tahun. Ketika Tuhan sedang berdiam, itu bukan berarti bahwa Tuhan itu mati atau tidak berkuasa.

 

            Dalam ayat 23 dikatakan bahwa Tuhan membangkitkan semangat jahat warga kota Sikhem sehingga mereka menjadi tidak setia kepada Abimelekh. Warga kota Sikhem menjadi lebih percaya kepada Gaal (ayat 26). Gaal kemudian menghasut warga Sikhem sehingga mereka mempertanyakan kepemimpinan Abimelekh (ayat 28-29). Zebul, penguasa kota itu, mendengar perkataan Gaal dan melaporkan hal itu kepada Abimelekh sehingga terjadi peperangan (ayat 30-39). Pasukan Gaal dikalahkan dan ia beserta saudara-saudaranya diusir dari Sikhem (ayat 40-41). Setelah pemberontakan Gaal digagalkan, apakah Abimelekh merasa puas? Tidak. Abimelekh kemudian menyerang orang-orang kota dan menghancurkan kota itu (ayat 42-45). Kendati demikian ia belum merasa puas. Ia melanjutkan dengan membakar kira-kira 1000 orang yang bersembunyi dalam liang di bawah kuil El-Berit (ayat 46-49). Pada saat itu mereka mungkin saja menyesal karena telah mendukung Abimelekh menjadi raja. Mungkin saja saat itu mereka juga menyesali dosa mereka. Mereka semua mungkin menyesal karena telah salah memilih pemimpin dan pada akhirnya mereka meninggal di tangan Abimelekh. Jadi Abimelekh melakukan dosa pembunuhan lagi. Abimelekh melanjutkan penyerangannya ke Tebes (ayat 50). Seluruh warga kota itu bersembunyi di dalam menara yang ada di tengah kota (ayat 51). Abimelekh kemudian menyerang menara itu namun seorang perempuan menjatuhkan batu kilangan ke atas kepalanya sehingga batu kepalanya pecah (ayat 52-53). Saat itu Abimelekh masih hidup dan pikirannya di saat-saat terakhir adalah menyuruh bujangnya untuk membunuhnya (ayat 54). Inilah kegilaan Abimelekh yang pada akhirnya mati dibunuh. Ia tidak ragu membunuh orang lain dan pada akhirnya ia juga meninggal karena dibunuh. orang yang menabur kematian akan menuai kematian. Pemerintahannya hanya bertahan selama 3 tahun. Semua yang cepat diraih dengan cara yang berdosa pada akhirnya akan cepat hilang. Orang yang ingin cepat sukses bisa jatuh karena ambisi itu. kita harus menunggu waktu Tuhan dan tidak boleh mendahului. Setan menawarkan kesuksesan instan namun Tuhan menawarkan keberhasilan dalam proses yang panjang. Proses itu indah dan di dalamnya kita dididik oleh Tuhan.

 

Penutup

Sebuah generasi terhilang karena tidak ada disiplin rohani. 70 anak Gideon mati dan hanya Yotam yang tersisa. Mereka dibunuh oleh Abimelekh. Mengapa ia bisa begitu kejam dan biadab? Gideon hanya memiliki kuantitas yaitu banyak anak, namun mereka tidak memiliki kualitas karena tidak ada disiplin rohani. Generasi kita bisa menjadi generasi yang terhilang jika kita tidak memiliki disiplin rohani. Kita sadar bahwa diri kita lemah, namun kita sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus dan Dia membentuk nilai perjuangan kita melalui setiap peperangan rohani. Kita akan terus menang jika kita memiliki disiplin rohani. Disiplin rohani dimulai dari membaca Firman Tuhan, berdoa, dan melakukan perintah Tuhan dalam ikatan tubuh Kristus misalnya penginjilan, ibadah, pelayanan, dan lainnya. Disiplin rohani mengajarkan kita tentang karakter anak-anak Tuhan. Gideon memang baik dalam hal tidak gila kekuasaan, namun ia banyak menikah dan mendapatkan banyak anak tanpa mementingkan kualitas. Ini bisa menjadi sangat berbahaya. Namun kita juga harus menjauhi ekstrem yang lain yaitu mementingkan kualitas dan sama sekali mengabaikan kuantitas. Kita harus mengingat perintah Tuhan tentang memenuhi bumi. Kita harus memiliki kualitas dan kuantitas. Alkitab juga mengatakan bahwa jiwa bisa tersesat karena pergaulan yang buruk (1 Korintus 15:33). Pada zaman ini banyak orang menjadi tidak produktif karena media sosial. Media sosial menjadi bagian yang mengisi hampir seluruh waktu manusia sehingga terjadi ikatan yang tidak sehat. Abimelekh menjadi orang yang rusak karena pergaulan sehingga ia melakukan banyak dosa. Maka dari itu kita harus waspada terhadap pergaulan. Kita harus berani menguji. Ada banyak pergaulan buruk di media sosial, maka dari itu kita harus bisa mengendalikan ini dan bukan dikendalikan.

 

Mengapa Abimelekh memiliki hati nurani yang mati? Karena ia selalu hidup dalam dosa. Ketika kita membiarkan diri tenggelam, tertidur, dan menikmati diri dalam dosa, maka perlahan-lahan fungsi hati nurani kita akan mati. Pada akhir hidupnya pun Abimelekh masih memikirkan cara kematiannya. Hati nurani kita dikuduskan oleh Tuhan dan kesuciannya harus kita jaga. Kita harus senantiasa membaca Firman Tuhan dan menghindari kejahatan. Ketika hati nurani kita berpaut dengan hati Tuhan, itu berarti kita memiliki kesalehan rohani dan kita bergaul akrab dengan Tuhan. jangan sampai hati nurani kita diracuni oleh media sosial, perkataan orang jahat, dan pergaulan yang salah. hati kita akan selalu suci jika kita terus bergaul dengan Firman Tuhan. Kematian yang memalukan dari Abimelekh harus kita lihat sebagai hukuman Tuhan. Seharusnya pada detik-detik akhir hidupnya Abimelekh memikirkan pertobatan, namun ia terus menunjukkan kesombongannya. Ia memang tidak punya iman, hanya kesombongan. Selama 3 tahun Tuhan seperti berdiam, namun Ia menyatakan keadilan-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan orang jahat dan Tuhan tidak akan terus berdiam ketika orang-orang menghina nama-Nya. Maka dari itu kita harus berhati-hati dan tidak bermain-main dengan dosa, baik dosa yang terlihat maupun tidak terlihat. Kita harus waspada terhadap segala kenikmatan. Allah kita begitu baik karena Ia telah memberikan Allah Roh Kudus dalam hati kita sehingga kita pasti ditegur ketika kita berdosa. Kita harus berhati-hati terhadap segala ambisi yang menjadi dosa ambisius. Setiap ambisi yang tidak suci akan didampingi oleh akibat yang melaluinya Tuhan menghentikan ambisi kita. Itu adalah salah satu cara Tuhan menegur kita. Mari kita terus menjaga fungsi hati nurani kita dalam pertolongan Allah Roh Kudus.

 

(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami