Daud: Raja yang Rendah Hati (bagian 1)

Daud: Raja yang Rendah Hati (bagian 1)

Categories:

Khotbah Minggu 6 September 2020

Daud: Raja yang Rendah Hati (bagian 1)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Daud sudah rendah hati ketika ia diurapi oleh Samuel. Bagaimana kita tahu? Ia sudah diurapi menjadi raja dan sudah bekerja bagi Saul namun ketika pulang ia tetap mengemban tanggung jawab sebagai gembala. Jadi dari awal Daud tidak tinggi hati atau sombong. Ketika ia menjadi raja, ia tetap rendah hati. Kita akan melihat Mazmur 3:1-9.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Mengapa Daud tidak mengandalkan kekuatan militernya dan segala pengalamannya dalam menghadapi Absalom secara langsung? Mengapa Daud memilih untuk meninggalkan Yerusalem dengan berjalan dalam dukacita rohani (evaluasi dan refleksi diri)? Ia memilih untuk menghindari masalah itu. Seolah-olah ia mundur dan ia berjalan dalam dukacita. Ia menaiki bukit-bukit tanpa alas kaki dan pakaian duka. Perjalanan itu pasti melelahkan karena fisik dan hatinya diperas. Bagaimana kita mengetahui bahwa Daud adalah raja yang sungguh-sungguh rendah hati? Manusia bisa menjadi sombong ketika diberikan kekuasaan dan memiliki pengalaman serta harta. Kerendahan hati kita bisa diuji dalam berbagai situasi. Itu menyatakan kasih Tuhan kepada kita. Ini agar kita tidak berdosa karena kesombongan kita.

 

            Apakah setiap orang Kristen wajib rendah hati dan mengapa ada orang Kristen yang sombong? Kerendahan hati adalah jati diri kita. Namun ada orang Kristen yang masih sombong. Apakah itu karena ia belum lahir baru? Apakah itu karena ia belum sungguh-sungguh menuhankan Kristus? Apakah Firman Tuhan tidak ada di dalam hatinya? Ia mungkin hanya menjadi orang Kristen rutinitas. Jadi ia hidup sebagai orang Kristen tanpa Kristus atau tanpa Firman Tuhan. Inilah mengapa ia tidak mengalami perubahan. Tuhan mau hidup kita berubah. Kita berubah karena Firman Tuhan yang dikerjakan oleh Allah Roh Kudus. Mengapa Allah sangat menentang orang-orang yang tinggi hati? Tapeinos adalah kata Yunani untuk kerendahan hati. Ini berkaitan dengan kerohanian kita di dalam Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Ujian kerendahan hati Daud ketika kerajaannya sudah nyaman

            Dalam kedaulatan Tuhan, Daud menjadi pemimpin pada umur 30 tahun. Selama 40 tahun ia berkuasa di Israel. Selama ia menjabat, perlahan-lahan raja-raja lain mengakui otoritas Tuhan yang memakai Daud. Saat itu semuanya nyaman dan tenteram. Ini membuat Daud lupa mendidik anak-anaknya. Seharusnya ia memikirkan mengapa Amnon bisa sampai memerkosa Tamar. Ia juga seharusnya merenungkan mengapa Absalom bisa sampai membunuh Amnon. Saat itu situasinya sudah nyaman. Ia berpikir bahwa anak-anaknya sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Itulah titik kelemahan Daud dalam pendidikan anak. Tuhan melihat bahwa ini perlu dibereskan. Ia mengizinkan Absalom mengudeta kerajaan ayahnya. Mengapa Tuhan memberikan kenyamanan kepada Daud? Untuk menguji kerendahan hati Daud. Ujian Tuhan itu baik untuk kemurnian iman kita. Pencobaan Setan diizinkan oleh Tuhan untuk melatih kita agar kita menang. Ujian-ujian Tuhan akan terus ada sampai kita mati. Ini karena Tuhan sayang kepada kita. Tuhan tidak mau Daud hancur total karena tidak mengandalkan Tuhan dalam pendidikan anak. Tuhan tidak mau Daud menjadi terlalu nyaman dan tidak mengerjakan apa yang harus dikerjakannya. Tuhan mengizinkan Absalom melawan ayahnya. Setiap ayah yang melihat bahwa anaknya melawannya dan ingin membunuhnya pasti akan menjadi sedih.

 

            Anak yang sudah dikuasai dosa dan ambisi yang tidak suci memiliki kesombongannya sendiri. Absalom belum benar-benar tunduk di hadapan Tuhan dan ia tidak mengenal siapa Tuhan sesungguhnya yang memberikan otoritas kepada ayahnya. Saat itulah ia melawan otoritas Tuhan. Ia tidak mengenal Tuhan dan hanya punya ambisi. Ia menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya. Tuhan mengizinkan semua ini terjadi agar kerohanian Daud diuji. Kerendahan hati Daud terungkap ketika ia menghadapi masalah.

 

2) Daud mengakui kuasa Tuhan dan pertolongan Tuhan (ayat 1-3)

            Pemazmur memberikan kata ‘sela’ pada akhir ayat ke-3. Ketika Daud mencapai puncak bukit itu, ia beribadah kepada Tuhan. Ia tersungkur dan beribadah secara pribadi. Ia tidak hanya meminta belas kasihan. Ayat 1-3 menunjukkan kualitas teologinya yang mengerti Tuhan dan karya-Nya. Jadi Daud mengakui kuasa dan pertolongan Tuhan. Itulah iman Daud. Iman itu bukan sekadar tahu tetapi memahami apa yang kita tahu. Setelah memahami, kita mengakui apa yang kita tahu. Dalam pengakuan itu kita tunduk dan menjalankan apa yang kita percaya. Itulah iman. Bagian ini menunjukkan kualitas iman Daud. Ia ditopang oleh teologi yang benar. Ia tidak marah dan mempertanyakan Tuhan meskipun 20.000 tentara Absalom ingin membunuhnya.

 

            Mazmur 149:4 menyatakan bahwa Tuhan berkenan kepada orang yang rendah hati. Tuhan memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan. Daud menundukkan dirinya di bawah kuasa dan pertolongan Tuhan. Itulah sikap rohani yang rendah hati. Di tengah pencobaan dan ujian, Tuhan pasti memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan. Hidup kita adalah peperangan rohani. Tugas kita adalah untuk menang dalam setiap peperangan rohani dan menyatakan kemenangan di dalam nama Tuhan. Ini harus kita ingat selalu. Inilah ibadah pribadi Daud yang menunjukkan kerendahan hati. Daud percaya pada cara Tuhan dalam menyelesaikan masalahnya daripada memakai cara manusia. Mungkin saja saat itu ada orang-orang yang sudah siap untuk menyerang dan membunuh Absalom. Namun Daud tidak langsung memutuskan untuk membunuh Absalom. Ia mencari suara Tuhan dan mendahulukan itu. Cara manusia terkadang bisa terlihat menarik, namun ujungnya bisa membuat kekacauan. Jadi kita harus mencari suara Tuhan terlebih dahulu. Jadi bukan hanya sikap hidup Daud yang baik tetapi juga sikap rohaninya.

 

            Daud selalu belajar melihat rancangan musuh-musuhnya dari kacamata (pikiran) Tuhan. Orang yang rendah hati mengakui pikiran dan kehendak Tuhan. Itu dianggap lebih tinggi daripada pikiran dan kehendak manusia. Itulah tapeinos. Daud pasti cukup cerdas untuk mengalahkan Absalom dan sekutunya. Daud sangat berpengalaman dalam berperang dan ia memiliki tentara yang terlatih. Namun ia tidak mau mengandalkan itu karena ia melihat pikiran dan rancangan Tuhan dengan sikap yang rendah hati. Itulah panggilan kita sebagai orang Kristen. Kita boleh melihat cara manusia sebagai bahan pertimbangan namun memakai cara Tuhan dalam kerendahan hati itu jauh lebih penting. Kita harus menundukkan diri di bawah rancangan Tuhan. Ketika Yesus datang ke dunia, Ia sungguh merendahkan diri-Nya di bawah kehendak Bapa yang mengutus-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Ketika Ia menjadi manusia, Ia sepenuhnya taat. Ia sungguh menguasai diri-Nya agar tidak menyatakan keilahian-Nya dengan sembarangan. Setelah Yusuf meninggal, ia harus bekerja. Ia tidak memakai mukjizat untuk menyelesaikan semua pekerjaan Yusuf tetapi Ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Jadi kerendahan hati yang sempurna hanya ditemukan dalam pribadi Yesus. Di dalam Dia ada Kerajaan yang sempurna yang dipimpin oleh-Nya sendiri.

 

            Tuhan memilih Daud dan bukan Saul. Ia mengizinkan Daud mengalami kenyamanan dalam kerajaannya agar ia diuji. Kita harus berhati-hati terhadap kenyamanan, kestabilan, dan kelancaran. Semua itu bisa menjadi virus rohani yang membuat kita tidak bergantung pada Tuhan. Masa pandemi ini mengajarkan orang Kristen agar bergumul dengan Tuhan. Kesulitan hidup dan pekerjaan membuat orang Kristen bergumul dengan Tuhan. Jadi kita bukan menolak pandemi yang sudah terjadi ini. Daud melakukan seperti bagian yang kita baca dan ia mengungkapkan teologinya dan pengakuannya kepada Tuhan yang berkuasa dan memberikan pertolongan. Daud mempercayakan semuanya kepada Tuhan.

 

3) Daud mengakui jati diri Tuhan sebagai perisainya dan kemuliaannya yang menyelesaikan masalahnya dalam waktu Tuhan (ayat 4-5)

            Pengakuan ini berkaitan dengan peperangan rohaninya. Ia melihat Tuhan sebagai perisai dan kemuliaannya. Ia tahu bahwa Tuhan sanggup menyelesaikan semuanya dalam waktu Tuhan. Calvin mengajarkan kepada kita pentingnya mengenal Tuhan dengan tuntas. Itu akan membawa kita kepada pengenalan diri yang benar dan membawa kita kepada kemenangan iman ketika ujian kesulitan itu datang. Itulah yang diungkapkan Daud. Kita bisa mengenal Tuhan dari segi pengetahuan, namun itu bisa luntur jika kita tidak sungguh-sungguh beriman. Jadi pengetahuan itu tidak boleh berhenti di otak saja. Jadi kita tidak heran ketika melihat ada banyak orang Kristen yang sombong atau hidupnya tanpa Firman Tuhan. Mereka belum mengalami kelahiran baru. Orang yang dipenuhi Roh Kudus pasti memiliki kelemahlembutan dan kerendahan hati. Orang yang rendah hati itu mau selalu selaras dengan pimpinan Tuhan dalam pimpinan Allah Roh Kudus. Jadi kita harus evaluasi diri dalam masa pandemi ini. Kita harus memerika teologi kita dan menghidupinya secara benar. Masa pandemi ini menjadi seperti masa retret internasional. Semua orang harus belajar rendah hati dan menyelesaikan semuanya dalam pimpinan Tuhan tanpa kesombongan. Itu menunjukkan kerendahan hati kita.

 

            Yakobus 4:6 mengajarkan bahwa kasih karunia Tuhan itu selalu cukup bagi kita. Namun kasih karunia Tuhan bisa diberikan lebih daripada sebelumnya karena tangan Tuhan yang ajaib menolong orang-orang yang rendah hati. Tuhan menentang orang-orang yang tinggi hati. Dalam terjemahan lain, Tuhan tidak hanya menentang tetapi juga bisa melawan dan mengutuk orang-orang yang sombong. Namun Tuhan sangat berkenan kepada orang-orang yang rendah hati. Amsal 11:2 Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati. Kesombongan seseorang itu terlihat dari kata-katanya yang suka mencemooh dan merendahkan orang lain. Namun orang yang rendah hati itu melihat orang lain dengan hikmat. Orang yang kurang cerdas itu lebih cepat berbicara daripada berpikir. Orang yang kurang cerdas tidak mengkaji setiap masalah dengan komprehensif dalam konteksnya. Orang yang sombong itu tidak mendapatkan anugerah. Ketika Daud mengakui jati diri Tuhan sebagai perisai dan kemuliaan, ia menggumulkan semua itu dalam sikap berdoa (berseru kepada Tuhan) secara pribadi. Kita berdoa dalam relasi kita dengan Tuhan. Doa kita sangat dipengaruhi oleh pengenalan kita akan Tuhan. Orang yang rendah hati menyikapi setiap masalah dengan doa.

 

            Masa pandemi ini menguji kerendahan hati kita. Apa yang kita lakukan di rumah di masa ini? Apakah kita banyak berdoa? Dalam doa puasa kita melatih penguasaan diri kita. Di dalamnya kita berfokus untuk membaca Firman Tuhan dan berdoa untuk pekerjaan Tuhan. Jadi inti dari doa puasa bukanlah tidak makan tetapi berelasi dengan Tuhan melalui doa. Hal ini bisa kita lakukan di rumah maupun di tempat kerja. Kita tidak perlu memamerkan doa puasa kita. Kita melatih disiplin rohani dalam doa puasa. Selain itu, kita juga mau mengerti isi hati Tuhan. Inilah ciri orang yang rendah hati. Daud akan disakiti oleh Absalom dan orang-orang lain, namun Daud menghadapi semua itu dengan doa. Ia tidak membalas dendam. Namun dalam era digital ini banyak orang Kristen lebih suka mengeluarkan kata-kata yang buruk di media sosial. Mereka lebih membesarkan masalah dan tidak memuliakan Tuhan. Di sana mereka mempermalukan diri sendiri dan Tuhan. Mereka telah gagal menjadi orang Kristen. Kita tidak boleh memakai media sosial untuk mengemis belas kasihan orang lain. Tuhan adalah perisai dan kemuliaan kita. Dia tidak mungkin mengorbankan kita. Jadi kita harus menebus penggunaan media sosial dalam terang Firman Tuhan. Media sosial bukanlah tempat untuk mengumbar keluhan dan keburukan. Kita harus memakai media sosial untuk menyatakan Tuhan dan bukan diri. Ketika kita lebih menyatakan diri kita melalui media sosial, kita sebenarnya sudah menjadi orang sombong.

 

            Dalam bagian ini, Daud tidak merasa Tuhan sedang mengorbankan dirinya. Ia sedang dikorbankan oleh Absalom dan pengikut-pengikutnya, namun ia tidak merasa bahwa Tuhan meninggalkannya. Sebaliknya ia beribadah karena ia sadar bahwa Tuhan sedang melatihnya. Ia menyatakan dukacita rohaninya dan melatih kepekaannya akan kehendak Tuhan melalui doa. Daud percaya bahwa Tuhan akan menjawab doanya (terobosan iman). Ia belum memikirkan strategi dan belum berperang, namun ia yakin bahwa Tuhan akan menjawab doanya. Dia mempercayakan semuanya kepada Tuhan. Ia yakin takhtanya akan kembali kepadanya. Ia yakin bahwa Yerusalem akan kembali mendapatkan damai dan ketertiban. Ini menunjukkan terobosan iman Daud. Doa bukanlah mantra. Kita tidak mengucapkan kalimat-kalimat tertentu berulang-ulang. Doa Bapa Kami sudah mengajarkan tentang doa yang benar. Di dalamnya ada pengertian yang disusun secara sistematis. Tidak ada pengulangan di dalamnya. Kita harus berdoa dengan iman.

 

            Yakobus 5:16b Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Kuasanya besar karena ia memahami kehendak Tuhan. Terobosan iman itulah yang menenangkan hati kita. Itu karena semua beban kita sudah serahkan kepada Tuhan. Di sanalah kerendahan hati itu tampak. Terkadang kita bisa kurang beriman sehingga kita tidak menyerahkan semua masalah kita secara total kepada Tuhan. Jadi doa kita hanya menjadi doa yang mekanis. Akhirnya kita memilih untuk menyelesaikan masalah dengan cara dunia. Orang yang rendah hati mau menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan dalam sikap yang taat. Tuhan pasti akan menjadi perisai bagi kita dan menyelesaikan masalah itu dalam cara-Nya yang indah. Orang yang sering memaksa Tuhan dalam doa adalah orang yang teologinya salah atau sesat. Doanya diucapkan dalam kesombongan. Ia tidak menundukkan diri di bawah kehendak Tuhan. Daud mengasihi Absalom, namun sayangnya kasih Daud itu tidak mengandung nilai pendidikan. Tetapi dalam hal menghadapi masalah, ia mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

4) Daud menyerahkan semua masalah kepada Tuhan dan percaya bahwa semua akan selesai dalam cara dan kedaulatan Tuhan (ayat 6-9)

            Mazmur 37:11 mengajarkan bahwa orang yang rendah hati akan memiliki suatu kegembiraan karena pemeliharaan Tuhan. Hidupnya akan berlimpah-limpah dalam pemeliharaan Tuhan. Kita adalah domba dan Allah adalah gembala kita. Kita dituntut untuk menjadi rendah hati. Sebagai gembala, Tuhan tahu apa yang kita butuhkan di tengah kesulitan. Tuhan tahu bagaimana menjaga kita sehingga kita tetap sehat rohani. Ia tahu bagaimana memampukan kita dengan Firman Tuhan dan pekerjaan Allah Roh Kudus. Jadi kita harus mengerjakan apa yang kita bisa kerjakan dan menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Bagaimana kita tahu bahwa Daud bisa melewati semua ini? Daud tetap bisa tidur dengan tenang. Seringkali kita tidak bisa tidur dengan tenang karena masalah-masalah sepele. Banyak orang memerlukan obat tidur dan video-video agar mereka bisa tidur. Kita bisa terus merasa terikat dengan masalah-masalah hidup karena kita belum seperti Daud yang mau berdoa dengan iman. Daud itu begitu luar biasa. Kerajaannya diambil dan orang-orang mau membunuhnya, namun ia masih bisa tidur tenang. Daud telah menenangkan diri dalam iman. Inilah kemenangan iman Daud. Ada orang yang mengaku dirinya baik-baik saja padahal sebenarnya ia sangat frustrasi. Ini karena ia tidak menyerahkan semua masalahnya kepada Tuhan. Orang yang rendah hati menundukkan pikirannya di bawah pikiran Kristus. Inilah yang dilakukan oleh Daud. Daud tidur dengan tenang dan tidak terbawa oleh pikiran yang berisi masalah-masalah di masa lampau.

 

            Jadi fokus kita bukanlah masa lalu yang pahit tetapi pimpinan Tuhan di depan. Dalam berelasi pun prinsip ini harus dipegang. Salah satu hal yang membuat pasangan konflik adalah karena masih mengungkit-ungkit masalah di masa lalu. Pengaruh media sosial begitu kuat bahkan bisa sampai membuat kita lupa akan standar Tuhan sehingga kita mengambil standar dunia. Di sana kita akan menjadi hancur. Daud baru melakukan evaluasi setelah ada masalah dalam keluarganya. Namun kita seharusnya melakukan evaluasi sebelum ada masalah. Kita harus memeriksa untuk memastikan agar anak-anak kita tidak mendapatkan pengaruh dunia. Selain ia bisa tidur dengan tenang, Daud percaya akan finalisasi Tuhan atau turut campur tangan Tuhan. Ia tahu bahwa akhir yang Tuhan berikan itu indah. Ia yakin bahwa tangan Tuhan menyertainya. Semua yang diizinkan oleh Tuhan akan berakhir dalam kebaikan Tuhan. Mazmur 3 itu mengajarkan bahwa kerendahan hati kita tampak dalam sikap rohani kita dan mengajarkan kita untuk bergumul dengan Tuhan.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Kerendahan hati adalah jati diri orang Kristen dan itu terbukti melalui sikapnya ketika ia menghadapi kesuksesan, kegagalan, kesedihan, dan masalah-masalah. Orang yang rendah hati mengakui bahwa semuanya adalah karena anugerah Tuhan. Di dalam kesulitan pun orang rendah hati bisa melihat kedaulatan Tuhan dan bersyukur.

 

2) Kerendahan hati Tuhan Yesus adalah contoh yang paling sempurna dalam hal ketundukan-Nya pada kehendak Bapa, ketaatan-Nya, penguasaan diri-Nya, dan lainnya. Hidup-Nya begitu sempurna. Ia tidak pernah mengecewakan Allah Bapa. Kerendahan hati-Nya dinyatakan dalam ketaatan-Nya yang sempurna. Jadi tanggung jawab kita mencerminkan kerendahan hati kita. Kita harus menunjukkan semua itu. Kerendahan hati-Nya juga tampak dalam penguasaan diri-Nya. Ia menjalani hidup sebagai manusia dan tidak menyalahgunakan kuasa-Nya. Ia bersabar menghadapi Yudas dan menghadapi tentara Romawi. Ia tahu bahwa misi-Nya adalah untuk menyelamatkan manusia.

 

3) Kerendahan hati seseorang harus teruji ketika menghadapi masalah dan ketika diberikan kebebasan dan lainnya. Kita tidak boleh sombong karena apa yang kita miliki. Semua itu bukan untuk dipamerkan tetapi untuk dipakai demi kemuliaan Tuhan.

 

4) Kerendahan hati adalah kunci rahasia agar kita diperkenan oleh Tuhan setiap harinya. Ketika memulai hari, kita menunjukkan kerendahan hati dengan berdoa dan membaca Firman Tuhan. Ketika mengakhiri hari, kita juga melakukan itu. Dalam aktivitas sehari-hari, kita juga berdoa. Inilah orang yang rendah hati.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami