Daud: Hidup dalam Belas Kasihan Tuhan (1 Samuel 24:11-13)

Daud: Hidup dalam Belas Kasihan Tuhan (1 Samuel 24:11-13)

Categories:

Khotbah Minggu 23 Agustus 2020

Hidup dalam Belas Kasihan Tuhan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan melanjutkan pembahasan tentang Daud. Kita akan masuk dalam tema ‘Hidup dalam Belas Kasihan Tuhan’ bagian yang pertama. Kita melihat 1 Samuel 24:11-13. Saat itu Daud sedang berhadapan dengan Saul. Daud menyerahkan semua perkara ke dalam tangan Tuhan. Kita juga melihat Mazmur 57:1-2. Ini juga berbicara dalam konteks yang sama. Daud percaya bahwa cara manusia belum tentu dapat menyelesaikan masalah. Ia tahu bahwa cara Tuhan itulah yang paling indah.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apa arti belas kasihan Tuhan? Ketika kita percaya kepada Tuhan, kita mengalami perubahan hidup. Salah satu hal yang berubah adalah kita tidak lagi bersandar pada dunia dan diri sendiri. Kita sadar bahwa kita hidup dalam belas kasihan Tuhan. Mengapa kita harus hidup dalam belas kasihan Tuhan? Semakin bertumbuh kerohanian seseorang di dalam Tuhan, semakin sadar pula ia akan keberdosaannya. Kita akan semakin menyadari kesucian Tuhan yang luar biasa. Pertumbuhan kita menyadarkan kita bahwa kita ini lemah dan selalu membutuhkan Tuhan. Kita sadar bahwa kita begitu mudah gagal namun Tuhan selalu berhasil. Kita harus mencapai bagian itu. Bagaimana kita tahu bahwa seseorang sudah hidup dalam belas kasihan Tuhan? Apakah setiap orang yang sudah diselamatkan itu hidup dalam belas kasihan Tuhan? Belum tentu. Bisa saja ia hidup dalam belas kasihan dunia dan manusia. Jadi ia adalah pengemis yang tidak bersandar pada Tuhan. Mengapa Daud selalu hidup dalam belas kasihan Tuhan? Ia memiliki potensi, kapasitas, dan banyak kelebihan dibanding dengan orang-orang saat itu. Ia pandai bermain musik dan berperang, namun mengapa ia mengandalkan belas kasihan Tuhan? Itulah kualitas iman dan karakternya. Ia mengerti bahwa masalahnya itu bukan diselesaikan dengan cara dunia melainkan dengan cara Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Arti hidup dalam belas kasihan Tuhan

            Daud sendiri mengungkapkan apa arti hidup dalam belas kasihan Tuhan. Ini berarti mempercayakan hidup 100% kepada kedaulatan Tuhan, keadilan Tuhan, dan pertolongan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Di dalam setiap keberhasilan dan kegagalan, ia selalu percaya kepada Tuhan. Pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya. Kita mau agar hidup kita berjalan dalam jalur Tuhan. Ini merupakan jati diri kita. Mungkinkah kita kehilangan jati diri seperti Saul atau seperti Yudas karena uang? Daud dimusuhi oleh anaknya sendiri yaitu Absalom. Namun di dalam semua itu ia tidak terhanyut dalam kesulitan. Orang Kristen sejati tidak akan terhanyut karena kekuasaan, kenikmatan, dan uang. Anak Tuhan bisa kehilangan jati diri untuk sementara waktu seperti Petrus yang menyangkal Tuhan. Manusia menemukan jati dirinya ketika ia mengenal Tuhan dengan benar. Tanpa iman dan pengenalan akan Tuhan, manusia tidak akan menemukan jati diri dan tidak mungkin berubah berdasarkan nilai-nilai Kristus. Hidup dalam belas kasihan Tuhan itu tidak mudah jikalau kita mampu, pintar, berpengalaman, memiliki relasi dengan pemerintah, dan memiliki semuanya. Hidup dalam belas kasihan Tuhan itu mudah jika kita sadar bahwa diri kita lemah, bodoh, tidak berpengalaman, tidak memiliki relasi dengan pemerintah, dan lainnya. Orang yang rohani akan menyadari bahwa dirinya bukan apa-apa. Di sini kita semakin mengerti apa arti hidup dalam belas kasihan Tuhan.

 

2) Hidup dalam belas kasihan Tuhan

            Hidup Daud teruji ketika ia masih mau menghargai Saul (dalam relasi manusia) berdasarkan belas kasihan Tuhan (1 Samuel 24:11, 26:23-24). Saul itu mudah berubah emosinya dan terus dikuasai kemarahan yang terkadang tidak terkendalikan. Dalam kacamata psikologi modern, mungkin Saul mengalami bipolar disorder dan anxiety disorder. Jadi ia memiliki penyakit mental. Namun ia adalah pemimpin yang tidak diperkenan oleh Tuhan. Mengapa Tuhan mengizinkan ia menjadi pemimpin? Tuhan mau menyatakan perbandingan. Tuhan mau memperlihatkan Daud sebagai raja yang sejati. Saul itu tampan dan tinggi namun tidak punya iman. Daud memiliki mental yang baik dan jujur. Saul berkali-kali ingin membunuh Daud, namun Daud tetap menghargai Saul. Ia melihat Saul sebagai orang yang pernah diurapi oleh Samuel. Daud tetap menganggap Saul sebagai raja. Ia tidak mau melampaui status itu. Inilah sikap yang benar dari Daud.

 

            Saul memang tidak berubah, namun Daud tidak melihatnya sebagai orang yang harus dibunuh. Ia melihat Saul di dalam Tuhan. Jadi dalam hati Daud tidak ada benci atau dendam. Ketika Saul masuk ke dalam gua, Daud tidak membunuhnya tetapi hanya memotong punca jubahnya. Setelah itu Daud tidak membanggakan dirinya. Ia menyatakan bahwa semua itu adalah anugerah dan belas kasihan Tuhan. Di dalam kejadian lain (1 Samuel 26:23-24) di mana Saul tertidur lelap dalam kemahnya, Daud mengambil tombak dan kendi airnya. Ia tidak menyombongkan dirinya tetapi menyatakan belas kasihan Tuhan. Tuhan menyatakan kebesaran dan pertolongan-Nya di hadapan Daud. Ketika kita berhadapan dengan orang yang mau membunuh kita, kita tidak boleh menyimpan kemarahan yang tidak suci. Kita bukan pembalas dendam. Sebanyak 2x Saul mau membunuh Daud dengan tombaknya, namun Daud berhasil menghindar karena ia waspada. Ia tidak membalas perbuatan Saul. Orang yang hidup dalam belas kasihan Tuhan selalu membawa perkaranya ke hadapan Tuhan. Ia tidak mau dikuasai oleh emosi-emosi yang tidak suci.

 

            Akhirnya Daud melarikan diri dari Saul setelah ia berdiskusi dengan Yonatan. Ia lari bukan karena takut. Saat itu Daud sedang menghindari pencobaan. Bagi Daud, 2x percobaan pembunuhan itu sudah cukup. Saul tidak mengerti akan hati Yonatan yang sudah terikat dengan hati Daud. Ketika Daud lari, ia bukan menghindar dari masalah. Ia meminta Tuhan untuk menyelesaikan masalah itu. Ia pertama lari ke Nob (1 Samuel 21). Ia mencari imam Ahimelekh. Ia dan sekutunya sudah kekurangan makanan sehingga ia meminta makanan dari imam. Saat itu ia mendapatkan roti dari imam. Jadi ia memohon belas kasihan. Setelah itu Daud lari ke Gat (1 Samuel 21:10-15) untuk meminta perlindungan dari raja orang Filistin (Akhis). Namun karena identitasnya ketahuan, Daud berpura-pura menjadi gila. Akhis kemudian mengusirnya. Apakah Daud berbohong atau menerapkan strategi? Dari Mazmur 34, kita tahu bahwa itu adalah strategi, bukan penipuan. Ia tetap hidup sebagai orang benar. Setelah itu Daud pergi ke Zif (1 Samuel 23:14-28). Zif adalah tempat bagi orang-orang yang mencari perlindungan yang merasa tidak mendapatkan keadilan. Di sana tidak ada yang boleh membunuh atau berbuat jahat. Daud ke sana karena ia mencari ketenangan. Namun ada orang di Zif yang melaporkan keberadaan Daud ke Saul. Daud mengetahui hal itu dan kemudian ia bertanya kepada Tuhan. Tuhan kemudian menyuruhnya pergi.

 

            Akhirnya dia pergi untuk menemui Akhis, raja orang Filistin. Abimelekh adalah sebutan raja bagi orang Filistin. Ketika Daud pergi ke daerah Filistin, ia harus menghadapi risiko yang besar. Sebelumnya Daud berpura-pura gila, namun mengapa sekarang ia berani? Ada penafsir yang menyatakan bahwa Daud sudah dimusuhi oleh Saul sehingga ia mendapatkan belas kasihan Akhis. Setelah itu Saul tidak lagi mencari Daud untuk membunuhnya. Berapa lama Daud pergi dari Saul?

 

3) Studi kasus ketika Daud lari dari Saul selama 6-7 tahun

            Selama 6-7 tahun Daud harus pergi dari Saul karena Saul masih dendam. Seorang anak Tuhan tidak mungkin menyimpan dendam seperti ini. Tuhan Yesus sudah mengajarkan tentang kematangan karakter rohani dalam Matius 5-7. Di sana kita diajarkan untuk menjadi pembawa damai Tuhan. Jadi jelas bahwa Saul bukanlah orang beriman. Ia tidak takut akan Tuhan. Ia takut kehilangan kedudukan sampai ia menyimpan dendam itu selama 6-7 tahun. Selama itu pula ia tidak mendapatkan penyertaan Tuhan. Selama waktu itu, Daud menjadi pengembara rohani. Dalam bahasa perenungan, ia bisa disebut juga sebagai musafir rohani. Ia terus menerus berpindah tempat tinggal dan mengalami ancaman pembunuhan. Ia seperti orang yang ditinggalkan/dibuang oleh Tuhan. Tidak ada waktu yang damai baginya selama 6-7 tahun itu. Ia tidak mendapatkan kesempatan untuk menikmati sukacita di dalam Tuhan. Ia selalu berpindah tempat karena ancaman tidak pernah berhenti. Namun apakah Daud benar-benar dibuang oleh Tuhan? Tidak. mengapa Tuhan mengizinkan ini? Tuhan sedang menghukum Saul. Ia terus dibayang-bayangi oleh raja yang akan menggantikannya yaitu Daud. Alasan kedua adalah Tuhan sedang melatih Daud agar iman, mental, dan karakternya siap menjadi raja. Alasan ketiga adalah masa 6-7 tahun itu menguji para pengikut Daud yang sejati. Setelah tinggal di wilayah orang Filistin, akhirnya jenderal-jenderal Filistin mengusir Daud karena mereka mencurigai Daud. Selama 6-7 tahun itu Daud terus mengembara dan memohon belas kasihan Tuhan.

 

            Daud pasti sedih karena ia harus pergi dari tanah kelahirannya. Kita pasti sedih kalau harus meninggalkan tanah kelahiran kita. Yusuf pun mengalami hal yang sama. Ia harus ditarik dari tempat tinggalnya dan menjadi budak di Mesir. Ia mengerjakan semua pekerjaannya dengan rela. Daud melewati masa pengembaraannya dengan rela. Ia tetap taat dan setia kepada Tuhan serta hidup dalam belas kasihan Tuhan. Inilah kunci kemenangan imannya. Terkadang kita mau mendapatkan jabatan namun tidak mau mengalami kesulitan, tetapi Daud tidak demikian. Ketidakrelaan membuat kita gagal untuk naik kelas rohani di hadapan Tuhan. Daud menyikapi masa pengembaraannya dengan iman. Jadi ia mengalami kenaikan kelas. Tuhan sudah mengingatkan Kain untuk tidak menyimpan amarah dan membiarkan dosa menguasai dirinya (Kejadian 4). Namun bukannya ia mendengarkan Tuhan, ia malah membunuh adiknya dalam kemarahan.

 

            Jika hati kita itu terang, maka hidup kita juga akan terang. Daud tidak mau menjalani masa pengembaraannya dengan pemberontakan dan kemarahan. Ia tidak mau cara instan dengan langsung membunuh Saul ketika ada kesempatan. Ketika kita sedang mengalami pengembaraan rohani, itu pun terjadi dalam kedaulatan Tuhan. Yesus ketika hidup di dunia pasti mengalami pergumulan, namun Ia menjalani semua itu dengan rela. Ia taat sampai mati di kayu salib. Semuanya akan menjadi indah jika kita rela. Ketidakrelaan itu membuat kita gagal untuk meraih misi masa depan. Jadi masa 6-7 tahun itu merupakan masa sekolah iman Daud yang luar biasa. Di sisi lain, masa itu juga adalah murka Tuhan terhadap Saul. Jadi cara pembentukan Tuhan terhadap Daud itu keras luar biasa. Beranikah kita mendidik anak-anak kita dengan keras sebelum mereka menjadi pemimpin? Kita harus berani dalam pimpinan Tuhan. Banyak tokoh iman dalam Alkitab harus melewati ujian iman dalam kesulitan dan penderitaan. Jadi kita sebagai orang tua tidak boleh mengambil perjuangan anak-anak kita ketika mereka sedang mendapatkan tantangan. Kita tidak boleh memanjakan anak. ada waktunya di mana anak-anak kita harus mendemonstrasikan imannya. Ada masanya di mana anak-anak belajar mengandalkan belas kasihan Tuhan dan bukan belas kasihan orang tua.

 

            Di sini Tuhan seperti menjadi bapa yang kejam bagi Daud. Namun Ibrani 12 mengajarkan bahwa Tuhan bisa memberikan pukulan atau disiplin rohani agar buah kebenaran itu muncul dalam diri anak-anak-Nya. Jadi ketika kita menemukan saudara/saudari seiman yang sedang mengalami kesulitan, jangan sampai kita terlalu cepat bertindak. Kita harus melihat terlebih dahulu apakah memang Tuhan mengizinkan hal itu untuk membentuknya atau memang kita harus segera membantunya. Kita membutuhkan hikmat dalam hal ini. Dalam masa pandemi ini, negara kita mengalami banyak kesulitan. Menurut penelitian, ketahanan kesehatan negara kita masih sangat lemah. Dalam hal ini kita harus terus belajar dan memperbaiki diri. Ada Gereja-Gereja yang malah mengutip Mazmur 91 dan menganggap ini sebagai janji Tuhan untuk melindungi semua orang Kristen dari virus Covid-19. Padahal itu bukan maksud Tuhan. Jadi kita harus menafsir dengan benar. Mazmur 34 juga mengajarkan kesaksian Daud tentang bagaimana Tuhan melindunginya. Ini adalah ekspresi iman Daud setelah ia melewati kesulitan hidup. Pastinya tidak mudah bagi Daud untuk mengekspresikan iman yang hidup selama 6-7 tahun. Namun Daud bisa melewati semua itu dalam belas kasihan Tuhan. Sekolah iman itu membuat Daud naik kelas iman. Kita juga harus belajar untuk naik kelas dalam pembentukan Tuhan. Di dalam setiap perkara kita harus memohon belas kasihan Tuhan. Ketika melihat banyak jiwa yang terlantar, hati Yesus tergerak karena belas kasihan (Matius 9:36). Kita bisa hidup sampai saat ini karena belas kasihan Tuhan. Orang yang sudah melindungi dirinya pun bisa dengan mudah tertular Covid-19. Jadi kalau kita masih sehat saat ini dan bisa beribadah, maka itu adalah belas kasihan Tuhan. Masa pandemi ini juga merupakan sekolah iman. Kita masih terus diajarkan untuk bersandar pada belas kasihan Tuhan.

 

4) Sikap rohani Daud dalam menghadapi Saul

            Bagaimana kita tahu bahwa Daud sungguh-sungguh 100% hidup dalam belas kasihan Tuhan ketika menghadapi kesulitan dan tantangan? Sikap rohani Daud memimpin sikap hidupnya. Bukan sikap dunialah yang memengaruhi kita. Kata-kata dunia tidak boleh memengaruhi teologi kita. Kita menilai kerohanian seseorang dari sikap rohaninya. Daud tidak dendam kepada Saul dan dua kali ia memberikan belas kasihan. Ia terus mengampuni Saul. Ia tidak mau dipenuhi kebencian. Kita mungkin masih mengingat orang-orang yang pernah merugikan kita. Namun kita harus belajar mengampuni. Mengapa Daud itu penting di mata Tuhan? Karena Daud tidak menyimpan dendam atau iri. Setiap orang pentingnya Tuhan selalu memiliki kerohanian yang luar biasa. Daud adalah raja yang Tuhan inginkan. Kita bisa melihat kualitas emosi Daud yang tidak terpengaruh oleh emosi-emosi yang tidak suci. Ketika Natan menegurnya pun ia langsung bertobat. Sampai mati ia tidak lagi melakukan dosa perzinahan. Jadi hati kita harus terus menang. Hal yang terpenting bagi kita bukanlah pertahanan karena uang atau fisik tetapi ketahanan iman. Di dalam hal ini kita harus tetap bersandar pada Tuhan.

           

            Selama 6-7 tahun ia menghadapi hidup yang begitu sulit, namun Daud tidak kecewa kepada Tuhan tetapi sebaliknya ia semakin mengasihi Tuhan (Mazmur 18:2). Ia terus menghadapi ancaman kematian namun ia tetap beriman. Mengasihi Tuhan di masa yang menyenangkan itu mudah. Mengasihi pasangan di masa yang menenangkan itu juga mudah. Namun ketika kita bisa mengasihi Tuhan atau pasangan kita di saat yang sulit, maka kita memiliki terobosan iman. Kasih kita bukan bernilai antroposentris tetapi memiliki muatan iman. Ujian kesejatian iman kita dilihat dari kasih kita kepada Tuhan di masa yang sulit. Kita tidak bisa mengatakan bahwa diri kita beriman namun pada saat yang sama tidak memiliki kasih yang benar. Daud mengalami kesulitan namun semakin mengasihi Tuhan. Mengapa demikian? Mazmur 18:2 Ia berkata: “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku! Sebagai tentara rohani, Daud sadar bahwa sumber kekuatannya adalah Tuhan. Kita tidak boleh memakai teologi kemakmuran. Tuhan bukan Santa Claus yang rajin memberi hadiah yang kita mau. Terkadang Tuhan menguji iman kita melalui kehilangan usaha kita dan kehilangan orang yang kita kasihi. Daud tidak menyalahkan siapapun juga. Kasih kita bertumbuh di dalam kesulitan. Kesulitan bisa dipakai oleh Tuhan untuk memunculkan kebaikan yang kita tidak pernah duga.

 

            Sikap rohani Daud yang ketiga adalah selalu membawa perkaranya kepada Tuhan dan memohon keselamatan dan keadilan Tuhan (Mazmur 34, 54:3, 57:1-2, dan 59:1-2). Setiap kali ia menghadapi kesulitan, Daud selalu menyerahkan kepada Tuhan. Di dalam masa pengembaraannya, ia selalu berdoa kepada Tuhan. Ia tidak menyelesaikan masalah dengan kemampuan dirinya. Dalam kacamata rohani, kita tidak boleh selalu menyelesaikan masalah berdasarkan kemampuan kita. Daud tidak mau membunuh Saul tetapi menyerahkan itu kepada Tuhan. Ia mau tangannya tetap bersih. Sikap rohani ini menjadi tanda bahwa hidup Daud itu berjalan di dalam belas kasihan Tuhan.

 

 

KESIMPULAN

 

            Hidup dalam belas kasihan Tuhan dibuktikan Daud dengan sikap rela, taat, berjuang, tanggung jawab, dan lainnya. Inilah kunci kesuksesan iman Daud. Daud bisa saja melawan/memberontak terhadap Saul tetapi ia tidak melakukan itu karena ia menghargai Saul dalam relasinya dengan Tuhan (mengampuni). Daud membiarkan Tuhan yang bertindak dalam keadilan dan kedaulatan-Nya. Orang yang hidup dalam belas kasihan Tuhan sikapnya 100% bersandar pada Tuhan ketika menghadapi pergumulan/problem hidup dan lainnya. Masa pandemi ini menunjukkan kesejatian diri kita. Kita tetap bersandar pada Tuhan sambil tetap menjaga diri. Jadi kita tidak khawatir berlebihan. Kita mau hidup berkenan di mata Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami