Bersyukur karena Ketidakmampuan (Nyanyian Debora)

Bersyukur karena Ketidakmampuan (Nyanyian Debora)

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 5:1-31.

 

Pendahuluan

Bersyukur kepada Tuhan atas apapun yang terjadi adalah sikap orang beriman. Kita tidak boleh bersyukur hanya karena kesehatan, kelancaran pekerjaan, dan kelancaran usaha. Ucapan syukur seperti itu tidak memiliki keunikan karena orang lain bisa melakukan hal yang sama. Kita juga bersyukur karena mendapatkan penderitaan, pergumulan, dan kesulitan namun kita tetap bisa berdiri dan taat karena Tuhan. Apa isi nyanyian Debora kepada Tuhan? Apakah nyanyiannya menunjukkan bahwa dirinya hebat atau menyatakan pertolongan Tuhan yang hebat? Mengapa ada perbedaan data antara pasal 4 dengan pasal 5? Bagaimana kita menyinkronkannya? Di dalam Hakim-hakim 4:10, 14 dikatakan bahwa ada 10.000 orang dari suku Zebulon dan Naftali, namun dalam Hakim-hakim 5:8 dikatakan 40.000 orang. Mengapa ada selisih 30.000 orang?

 

Pembahasan

            Kita bisa membuat sinkronisasi antara pasal ke-4 dan ke-5. Dalam 5:8 dikatakan bahwa ada 40.000 orang yang berperang melawan Sisera dan Yabin. Dalam 4:10 dan 14 hanya disebut 10.000 orang. Alkitab tidak bersalah karena jika kita memerhatikan secara teliti, 4:10 hanya menyebutkan 2 suku yaitu Zebulon dan Naftali. 2 suku inilah yang setuju Debora menjadi pemimpin dan hakim bagi bangsa Israel. Saat itu suku-suku lain seperti Efraim dan Ruben tidak setuju akan hal ini. Zebulon dan Naftali ketika mendengarkan suara Tuhan, mereka taat meskipun jumlah musuh jauh lebih banyak dan senjata mereka lebih baik. Mereka memiliki kualitas dan kesadaran iman sehingga mereka memiliki gerakan iman. 4 suku lainnya kemudian ikut berperang yaitu; Efraim, Benyamin, Makhir, dan Isakhar. Sebelumnya mereka tidak mendukung Debora sebagai hakim karena dirinya perempuan. Mereka menginginkan pemimpin laki-laki namun pada saat itu sudah terjadi krisis kepemimpinan laki-laki. Selama 20 tahun mereka dibiarkan oleh Tuhan ditekan dan dianiaya oleh raja Yabin. Pada saat itu mereka masih mendambakan pemimpin pria namun mereka tidak sadar akan krisis ini. Saat Yosua sudah meninggal, Tuhan tidak menunjuk pemimpin baru. Di sana Tuhan mau menguji dan menyatakan kepada mereka bahwa pemimpin Israel yang sesungguhnya adalah Allah sendiri. Tuhan membentuk Israel sebagai negara teokrasi namun mereka tidak mau taat. Mereka tidak sungguh-sungguh bersatu dan mengutamakan Tuhan tetapi malah mengutamakan diri sendiri. Di tengah situasi itu Tuhan mengangkat pemimpin perempuan. Setelah ada 2 suku yang mau berperang, kemudian ada 4 suku tambahan yang ikut sehingga jumlah mereka menjadi 40.000 orang.

 

Dalam Hakim-hakim 5:25-26 dikatakan bahwa Sisera dipukul dalam posisi berdiri, lalu setelah rebah baru dipukul pelipisnya dengan patok besi. Dalam Hakim-hakim 4:21 dikatakan bahwa Sisera dibunuh dalam posisi tertidur. Ia meminta air namun diberikan susu sehingga ia tidur nyenyak. Patok itu dipukul dan menembus pelipisnya sampai ke tanah. Bagaimana menjelaskan kedua hal ini? Ada yang menyatakan bahwa pada awalnya jendral Sisera berdiri karena ia tidak dalam posisi berbaring. Lalu secara pelan-pelan Yael masuk dan memukulnya sehingga jatuh rebah. Setelah itu ia memukul patok itu di pelipisnya. Penafsir yang kedua menyatakan bahwa Sisera sudah tertidur ketika Yael masuk ke tenda. Namun ia terbangun dan kemudian dibunuh oleh Yael dengan patok besi itu. Yael adalah seorang wanita namun ia begitu tangguh. Di dalam Perjanjian Lama, wanita mengurus segala urusan rumah tangga sehingga lengannya kuat. Pukulan Yael membuat patok besi itu menembus kepala Sisera sampai ke tanah. Jadi di dalam bagian ini tidak ada kontradiksi. Semua bagian harmonis satu sama lain.

 

Apa isi nyanyian Debora? Setiap orang dikaruniakan nyanyian dalam hati oleh Tuhan. Ayub bergumul ketika menghadapi 3 temannya. Hanya Elihu yang mendukungnya dan ia menunjukkan bahwa ada lagu dalam hatinya (Ayub 35:10). Ini berkaitan dengan Efesus 5:19 yang berisi perintah tentang nyanyian dan pujian. Jika orang-orang bertanya mengapa orang Kristen selalu bernyanyi maka kita bisa menjawab bahwa diri kita sudah mengalami keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus dan kita diajarkan untuk mengekspresikan rasa syukur itu melalui nyanyian. Nyanyian baru itu dinaikkan karena rahmat Tuhan selalu baru untuk kita. Puji-pujian adalah ekspresi iman kita yang menyadari pertolongan Tuhan. Manakah yang lebih baik: menangis atau berdoa? Lebih baik berdoa dan bernyanyi bagi Tuhan. Di sana kita menunjukkan ibadah kita di dalam iman. Yesus selalu berdoa di pagi hari (Markus 1:35). Ini adalah teladan bagi kita semua. Jika kita tidak mau berdoa maka kita sebenarnya tidak mengutamakan Tuhan dan lebih mengasihi diri sendiri. Ketika masalah datang, kita akan langsung bersedih. Nyanyian adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk kita dapat mengekspresikan iman kita dalam situasi apapun juga. Tuhan tidak melihat kualitas suara kita saja melainkan terutama kesungguhan hati kita.

 

Mengapa Debora menyanyi bagi Tuhan? Pertama, ia mengucap syukur atas pertolongan Tuhan (Hakim-Hakim 5:4-8). Hakim-Hakim 5:2-3 menyatakan prolog dan tujuan nyanyian itu. Debora mengucap syukur karena Tuhan mengacaukan pasukan Sisera (Hakim-Hakim 5:4). Pasukan Sisera banyak dan memiliki peralatan perang yang lebih baik, namun mereka dikacaukan oleh Tuhan. Jikalau Tuhan tidak ikut campur maka Israel pasti kalah. Tuhan memberikan pertolongan yang melampaui akal dan pikiran. Debora mengingatkan kasih setia Allah atas umat-Nya (Hakim-hakim 5:5). Debora menyampaikan tentang karya Tuhan Allah di masa lalu yaitu memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Janji penyertaan Tuhan dimulai dari Musa. Musa menjadi pemimpin yang membawa Israel menuju ke tanah Kanaan. Debora mengingatkan para pendengarnya bahwa kasih setia Tuhan tidak berubah. Manusia bisa berubah kasih setianya. Kasih setia Tuhan tidak pernah mundur. Ia selalu beserta dan memelihara kita. Ia selalu mengingat kita tetapi kita bisa melupakan Dia. Pertolongan Tuhan itu selalu siap pada waktunya, namun seringkali kita kurang percaya dan lebih mengandalkan yang lain. Debora mau menyatakan bahwa Allah tidak pernah tertidur dan penyertaan-Nya selalu ada bagi kita. Ia juga menyatakan bahwa Tuhan memampukan bangsa Israel yang lemah dan terbatas (Hakim-hakim 5:6-8). Sebelumnya Debora hanya didukung oleh 2 suku yaitu Zebulon dan Naftali. Naftali bukanlah suku yang ahli dalam peperangan. Namun hal ini tidak membuat Debora menjadi cemas atau kurang percaya. Debora tidak pernah mundur hanya karena memiliki sedikit kuantitas. Pertimbangannya tidak dibatasi hanya pada aspek fisik dan rasio. Ia melihat pimpinan Tuhan lalu memanggil Barak (Hakim-hakim 4:6). Barak mengalami keraguan setelah mempertimbangkan hanya dengan rasionya. Meskipun hanya mendapatkan 10.000 orang, Debora tidak ragu melainkan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Setelah 4 suku mau bergabung dengan mereka, ternyata pertolongan Tuhan bisa datang di luar pikiran manusia. Dalam Hakim-hakim 5:19-23 Debora menyanyikan tentang pertolongan Tuhan. Di saat banyak suku tidak mau menolong mereka, Tuhan memberikan pertolongan yang luar biasa. Tuhan bisa memakai alam, dan dalam bagian ini Tuhan memakai air yang membanjiri tentara Sisera sehingga mereka dikacaukan. Tuhan mau kita taat dan mau agar rasio dan hati kita dipimpin oleh iman. Terkadang kita membiarkan rasio yang belum disucikan memimpin kita namun semua itu terbatas dan bisa berubah. Iman harus memimpin segala sesuatu di dalam hidup kita sebagai orang percaya. Pertolongan Tuhan membuat kita tidak bisa menyombongkan diri. Oleh karena itu nyanyian ini juga bertujuan agar bangsa Israel tidak menjadi sombong. Semuanya harus dikaitkan dengan nilai ibadah. Nyanyian itu bukan untuk menyatakan kehebatan manusia melainkan kehebatan Tuhan. Tuhan harus menjadi pusat dan ditinggikan.

 

Kedua, Debora bersyukur karena dimampukan menjadi pemimpin bangsa Israel (Hakim-hakim 5:11-23). Pada mulanya ia hanya didukung oleh 2 suku. Zebulon dan Naftali bukanlah suku yang menonjol atau kuat. Apakah ini membuat Debora mundur? Tidak. Saat Tuhan memilih kita, Tuhan tidak mempermasalahkan jenis kelamin dan pekerjaan kita. Tuhan melihat apakah kita takut akan Dia atau tidak. Debora menyatakan karakter dan ketaatan yang baik. Ia juga menunjukkan sikap kepemimpinannya. Kekuatan Debora bukanlah otot atau pengalaman berperang melainkan ia memiliki takut akan Tuhan. Saat ia mendapatkan panggilan dari Tuhan, ia menghormatinya. Ia mengandalkan Tuhan di dalam panggilannya, maka ia tidak takut dan tidak mundur. Ketika Barak mau agar Debora ikut berperang, Debora tidak berdiskusi terlebih dulu dengan keluarganya. Pimpinan Tuhan itu begitu jelas bagi dirinya sehingga ia tidak perlu lagi meminta persetujuan suaminya. Di dalam bagian ini Debora mengucap syukur karena telah ditunjuk menjadi pemimpin bagi Israel. Dinyatakan bahwa walaupun tidak semua suku Israel mendukung dia, namun dia tetap dimampukan mengalahkan musuh (Hakim-hakim 5:14-15). Debora memimpin 40.000 orang untuk menghadapi ratusan ribu tentara Sisera dengan seluruh kereta kudanya. Ia tetap menang bukan karena ia ahli dalam berperang melainkan Tuhan memberikan kemenangan. Ketaatan kita akan Firman Tuhan menjadi kunci kita bisa melihat penyertaan dan pertolongan Tuhan yang melampaui pikiran kita. Ketaatan Debora membawa Israel melihat pertolongan Tuhan yang begitu luar biasa. Seandainya Israel menerapkan demokrasi, maka mereka tidak mungkin memilih Debora, padahal Tuhan memilih Debora. Kekuatan Debora bukan terletak pada ototnya (seperti Simson) tetapi pada hati, keteguhan, dan ketaatannya.

 

Hakim-hakim 5:16-18, Suku Israel yang lain hanya sekedar timbang-timbang dan asyik dengan kehidupan sukunya sendiri. Ketika Ruben tidak mau ikut, Debora tetap maju. Suku-suku lain yang lebih memilih untuk menikmati kenyamanannya sendiri juga tidak membuatnya mundur. Debora tidak menghina dan tidak kecewa pada suku-suku ini. Mengapa manusia bisa kecewa? Karena pengharapannya tidak tergenapi. Manusia bisa berharap karena memiliki standar dan mimpi. Ketika realitas itu tidak sesuai dengan pengharapannya, ia menjadi kecewa. Oleh karena itu kita tidak boleh menuhankan pengharapan. Pengharapan dan standar kita belum tentu sesuai dengan pikiran Tuhan. Yudas bersedih sampai membunuh diri karena ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan dari menjual Yesus. Ia berpikir bahwa Yesus akan mengalahkan orang-orang yang menangkapnya dan ia bisa menikmat uang tersebut. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam membangun pengharapan. Kita harus menyinkronkan pengharapan kita dengan pengharapan Tuhan. Hati kita harus dikaitkan dengan hati Tuhan. Semua harus kita serahkan kepada Tuhan agar kita tidak terkurung oleh rasa kecewa dan sakit hati. Debora tidak banyak berharap agar suku-suku lain terlibat. Ia mengucapkan syukurnya dengan benar. Ada orang-orang yang salah mengucap syukur, misalnya bersyukur di atas penderitaan orang lain. Rasa syukur kita adalah untuk kemuliaan Tuhan dan bukan agar orang lain menyaksikan diri kita. Di dalam ucapan syukur itu kita harus berpusat kepada Tuhan yang membuat kita bisa mengekspresikan rasa syukur itu. Debora dimampukan oleh Tuhan dan ia tidak menjadi sombong. Inilah sikap hati yang benar dalam menanggapi anugerah Tuhan.

 

Di dalam nyanyian itu Debora memberikan penyataan iman (Hakim-hakim 5:31). Ia mengatakan “Orang yang mengasihi Tuhan bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya.”  Ketika matahari terbit, tidak ada yang bisa menghalangi. Jika Tuhan sudah memimpin umat-Nya, maka tidak ada yang bisa membatalkan kemenangannya. Kemenangan iman kita tidak mungkin digagalkan karena Tuhan ada di pihak kita. Orang yang taat adalah orang yang mengasihi Tuhan. Orang yang mengasihi Tuhan pasti mau membaca Alkitab setiap hari dan menghidupi Firman Tuhan. Kita yang mengenal Tuhan pasti akan mengenal kesetiaan dan kebaikan Tuhan. Kita yang terus bertumbuh di dalam Tuhan akan muncul bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Kemenangan kita akan dinyatakan di dalam iman. Ketaatan itu mendahului pengertian, penyertaan, dan kemenangan dari Tuhan. Kita tidak boleh meminta penyertaan terlebih dahulu setelah itu taat. Hati kita harus diserahkan bagi Tuhan terlebih dahulu dan dinyatakan melalui ketaatan kita. Kebencian di dalam hati itu membuktikan bahwa hati kita belum sepenuhnya diserahkan bagi Tuhan. kita diajarkan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan pikiran kita. Kita juga diajarkan untuk mengasihi sesama manusia. Nyanyian Debora mengandung mutiara iman yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa ia sangat mengenal Tuhan. Ia mengandalkan Tuhan dan bukan manusia sehingga ia tidak perlu kecewa.

 

Kesimpulan

Apa yg dapat kita pelajari dari Debora? Pertama, nilai kerja sama tim lebih ditonjolkan. Debora mendapatkan visi untuk mengalahkan yabin dan ia mengajak Barak. Barak pada awalnya seperti ragu atau tidak berani. Ia mau ikut kalau Debora ikut. Debora adalah ibu rumah tangga yang berani sedangkan Barak adalah seorang panglima perang yang penakut. Dalam Hakim-hakim 5 diceritakan tentang Barak sebagai orang yang berani dalam medan peperangan. Barak maupun Debora tidak menyatakan dirinya hebat setelah peperangan itu. Mereka tahu bahwa ini adalah kerja sama tim. Debora memuji Tuhan karena beberapa suku menyerahkan dirinya dengan sukarela untuk ikut berperang. Pujian ini dinaikkan lebih dari sekali. Ia bersyukur melihat kesatuan dari 6 suku yang rela itu. Kerelaan itu membuat kita mau mengerjakan pekerjaan Tuhan. Kerelaan itu membuat kita mau melewati semua penderitaan demi Tuhan. Jika kerelaan itu ada, maka kita tidak akan bersungut-sungut. Jadi kerja sama tim itu membawa kemenangan. Ketika sebuah keluarga bisa sama-sama baik, maka itu bukanlah karena pekerjaan 1 orang tetapi seluruh anggota keluarga. Di sini ada kerja sama tim yang saling mendukung.

Kedua, kita mempelajari bahwa peran Tuhan lebih ditonjolkan di Hakim-hakim 5:19-21 dibandingkan dengan Hakim-hakim 4 dimana peran pedang Barak dan Yael terlihat lebih menonjol. Di dalam pujian itu Tuhan-lah yang ditonjolkan. Ia memuji Tuhan yang memakai kuasa alam di dalam peperangan itu. Di sini kita belajar untuk melihat segala sesuatu dengan kacamata Tuhan. Cara pandang manusia bisa membuat sombong namun cara pandang Tuhan membuat kita rendah hati. Nyanyian Debora merupakan nyanyian syukur karena Tuhan menyatakan pertolongan-Nya secara aktif dengan memakai Debora dan para suku Israel bersama-sama untuk mengalahkan musuh-musuh mereka.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami