Bersinar dari Mimpi ke Mimpi (Yusuf)

Bersinar dari Mimpi ke Mimpi (Yusuf)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 40:8-16 dan 41:1-32.

 

Pendahuluan

Kebahagian hidup tercapai karena kita mengerti atau berjalan dalam kehendak Tuhan. Untuk mengerti kehendak Tuhan secara pribadi, ini bukan sesuatu yang mudah. Apalagi mau mengerti kehendak Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain atau bangsa lain. Mengapa ini sulit? Karena kualitas kerohanian kita dan ketidakkonsistenan kita dalam mengiring Tuhan. Kita kurang konsisten ketika berjalan bersama Tuhan dalam kebenaran, kesucian, dan terang. Kita lebih peka akan keinginan kita sendiri daripada keinginan Tuhan. Kita akan membahas bagaimana Yusuf dapat selalu bersinar di tengah kesulitan demi kesulitan melalui mimpi demi mimpi. Di tengah kesulitan itu Yusuf justru menyatakan yang baik, benar, dan menyatakan kemuliaan Tuhan.

 

Pembahasan

            Yusuf bersinar dari mimpi ke mimpi. Melalui mimpi yang pertama kita mempelajari bagaimana Tuhan memimpin Yusuf menjadi pemimpin. Ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi Yusuf karena saat itu usianya masih remaja-pemuda. Ia mendapatkan mimpi tentang berkas gandum (Kejadian 37:5-8) dimana kakak-kakaknya sujud menyembah kepadanya. Ia menceritakan mimpi itu dengan lugunya kepada semua kakaknya dan itu menimbulkan kemarahan mereka. Mereka berpikir bahwa Yusuf mau menjadi orang yang hebat dan berkuasa dengan sombong. Yusuf kemudian mendapatkan mimpi lagi tentang cakrawala yaitu matahari, bulan, dan sebelas bintang (Kejadian 37:9-11) yang berarti bahwa Yusuf disembah oleh orang tuanya dan semua kakaknya. Ia menceritakan mimpi ini dan kemudian semua kakaknya menjadi bertambah marah. Ayahnya pun menegurnya juga. Firaun juga bermimpi tentang bulir gandum. Di sini Yusuf mengerti bahwa akan ada kesulitan dalam hal ketersediaan makanan. Ia menjadi pemimpin yang memberikan solusi bagi masalah ini. dengan hikmat dari Tuhan, Yusuf mengumpulkan bahan makanan sebanyak-banyaknya pada tahun yang baik sehingga tahun-tahun kelaparan tersebut bisa dilewati dengan baik. Tuhan memimpin Yusuf untuk bersinar di tengah bangsa kafir dan menyatakan bahwa Allah itu hidup. Alkitab menyatakan bagaimana Yusuf melewati fase hidup yang bersinar itu. Ia selalu memiliki semangat perjuangan poin alfa. Kita pun haru memiliki semangat yang demikian. Kita baru berpikir tentang poin omega ketika kita sudah mendekati kematian. Di dalam konsep Reformed, kita tidak boleh berpikir ‘akhirnya’. Ini karena hidup kita belum berakhir dan masih ada banyak hal yang harus kita kerjakan ke depannya. Kita tidak boleh terlalu cepat puas dan kita harus selalu memiliki terobosan iman. Yusuf selalu berpikir poin alfa ketika ia menangkap visi Tuhan. Hidup kita sebagai orang Kristen bukanlah menangkap visi lahiriah. Kita mau menangkap apa yang Tuhan mau dalam keluarga, studi, dan pekerjaan kita. Yusuf yang masih muda itu berhasil menangkap visi Tuhan melalui mimpinya. Mimpi yang dialaminya itu bersifat visioner. Mimpi yang bersifat visioner itu harus diraih di dalam kenyataan. Segala hal yang kita ingin jangkau harus selalu dikaitkan dengan Tuhan. Yusuf menangkap visi itu untuk menjadi pemimpin bangsa yang besar. Ia melalui kesulitan demi kesulitan dan menyatakan kebesaran Tuhan dalam hidupnya. Ia menunjukkan bahwa hidup disertai Tuhan. Firaun bersaksi bahwa Yusuf dipenuhi dengan Roh Allah (Kejadian 41:38).

Di sini kita melihat bahwa hidup harus bersifat futuris karena kita mau mencapai satu visi dan kita adalah orang yang visioner. Orang visioner selalu mengerti apa yang harus dicapai di masa depan yang mengandung perubahan. Jadi Yusuf adalah seorang visioner dan seorang agen perubahan. Orang yang visioner harus punya nilai perjuangan, kesetiaan, pengorbanan, dan dedikasi penuh untuk bisa membuat terobosan iman. Jika Yusuf terus menerus hidup bersama Yakub di dalam kemanjaan, maka ia tidak akan pernah belajar bagaimana tetap beriman di tengah kesulitan. Cara Yakub mendidik anak akan merusak Yusuf, maka Tuhan mengizinkan kakak-kakaknya menjualnya kepada orang Ismael dan kemudian ia menjadi budak Potifar. Itulah cara yang paling bijaksana supaya ia bisa menjadi pemimpin visioner yang bisa diandalkan Tuhan. Tuhan melatih Yusuf menjadi pemimpin yang memiliki kapasitas dan pengalaman serta membuatnya tahu apa yang terbaik. Orang tua yang memanjakan anak tidak akan bisa melatih anaknya menjadi pemimpin. Anak yang dimanjakan tidak akan bisa menyatakan kualitas imannya di tengah kesulitan. Di sini Yusuf sudah menangkap visi Tuhan dan menjalankan visi Tuhan. Yusuf rela meninggalkan zona nyamannya. Ia bertahan dalam kesucian dan kebenaran di tengah proses menjalankan visi tersebut. Yusuf itu baik, benar, dan bijak. Ketiga kualitas ini dimatangkan oleh Tuhan melalui kesulitan. Kita melihat bahwa hidup kita adalah emas yang tidak perlu takut dengan api. Di tengah api itu kita menunjukkan kualitas emas kita. Tuhan memunculkan iman dan karakter kita melalui kesulitan dan tantangan. Di sinilah kita bersyukur jika memiliki orang tua yang mengerti disiplin. Jika orang tua kita memanjakan kita, maka kita harus menolak untuk dimanjakan. Kita mengucap syukur bahwa Yusuf mengalami perjalanan hidup yang seperti ini. Tentu tidak mudah bagi anak yang biasanya dimanja untuk bekerja sebagai budak. Di rumah Potifar ia harus siap bekerja 24 jam. Di sana ia rela dan rendah hati. Ia melewati dan mengerjakan semuanya dengan begitu baik. Apapun yang dikerjakannya selalu berhasil. Ini menunjukkan bahwa Yusuf sudah menjalankan visi Tuhan dalam kesulitan. Ia diperkenan oleh Tuhan. Ia menang menghadapi godaan istri Potifar sehingga ia dipenjara. Di penjara, kepala penjara merasa diberkati karena segala pekerjaan selesai di tangan Yusuf. Ia melewati kesulitan ini dengan baik. Manajemen Yusuf begitu baik sehingga hasilnya juga baik. Kehadiran Yusuf membuat semua pekerjaan itu beres. Sebelum Yusuf menjadi seorang pemimpin ia harus melewati setiap kesulitan ini. jika kita tidak pernah menghadapi kesulitan maka kita sebenarnya terlalu manja. Ini akan membuat kita tidak dapat meraih masa depan yang baik. Tuhan memunculkan mutiara iman dan karakter kita melalui sekolah penderitaan.

Pada tahap yang ketiga, Yusuf menyatakan visi Tuhan kepada orang lain. Pertama ia menyatakan kepada juru minuman. Juru minuman dan juru roti Firaun dimasukkan ke dalam penjara dan mereka tahu bahwa kesalahan terhadap Firaun bisa mendatangkan hukuman mati. Di tengah kecemasan mereka, juru minuman itu bermimpi dan menceritakannya kepada Yusuf: Dalam mimpiku itu tampak ada pohon anggur di depanku. Pohon anggur itu ada tiga carangnya dan baru saja pohon itu bertunas, bunganya sudah keluar dan tandan-tandannya penuh buah anggur yang ranum. Yusuf kemudian menyatakan arti mimpi tersebut (Kejadian 40:9-10). Yusuf kemudian menyatakan arti dari mimpinya: Beginilah arti mimpi itu: ketiga carang itu artinya tiga hari; dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau dan mengembalikan engkau ke dalam pangkatmu yang dahulu dan engkau akan menyampaikan piala ke tangan Firaun seperti dahulu kala, ketika engkau jadi juru minumannya (Kejadian 40:12-13). Yusuf kemudian melanjutkan: Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini (Kejadian 40:14-15). Namun juru minuman itu melupakan Yusuf selama 2 tahun. Mendengar arti mimpi yang baik itu, juru roti juga menceritakan mimpinya kepada Yusuf: Akupun bermimpi juga. Tampak aku menjunjung tiga bakul berisi penganan. Dalam bakul atas ada berbagai-bagai makanan untuk Firaun, buatan juru roti, tetapi burung-burung memakannya dari dalam bakul yang di atas kepalaku (Kejadian 40:16-17). Yusuf menjelaskan arti mimpi itu: Beginilah arti mimpi itu: ketiga bakul itu artinya tiga hari; dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau, tinggi ke atas, dan menggantung engkau pada sebuah tiang, dan burung-burung akan memakan dagingmu dari tubuhmu (Kejadian 40:18-19). Setelah mendengar ini mungkin juru roti tersebut menyesal telah bertanya kepada Yusuf. Kita melihat Yusuf sebagai orang yang baik, benar, dan bijak. Semua terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yusuf. Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya: kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun; tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka (Kejadian 40:20-22). Hal yang menarik adalah bahwa Yusuf bersaksi tentang Allah. Ia tidak mengatakan bahwa arti mimpi itu diketahuinya karena kepintarannya tetapi mengatakan bahwa Allah-lah yang menerangkan arti mimpi (Kejadian 40:8).

Setelah lewat waktu 2 tahun, Firaun bermimpi. Ia menceritakan mimpi itu kepada semua orang berilmunya namun tidak ada satupun yang dapat menafsirkannya. Setelah juru minuman menceritakan tentang Yusuf, Firaun memanggilnya ke hadapannya dan menceritakan mimpi itu kepadanya: Dalam mimpiku itu, aku berdiri di tepi sungai Nil; lalu tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang gemuk badannya dan indah bentuknya, dan makan rumput yang di tepi sungai itu. Tetapi kemudian tampaklah juga keluar tujuh ekor lembu yang lain, kulit pemalut tulang, sangat buruk bangunnya dan kurus badannya; tidak pernah kulihat yang seburuk itu di seluruh tanah Mesir. Lembu yang kurus dan buruk itu memakan ketujuh ekor lembu gemuk yang mula-mula. Lembu-lembu ini masuk ke dalam perutnya, tetapi walaupun telah masuk ke dalam perutnya, tidaklah kelihatan sedikitpun tandanya: bangunnya tetap sama buruknya seperti semula. Lalu terjagalah aku. Selanjutnya dalam mimpiku itu kulihat timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang berisi dan baik. Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir yang kering, kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu memakan ketujuh bulir yang baik tadi (Kejadian 41:17-24).

Yusuf kemudian menceritakan arti kedua mimpi itu: Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama. Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan. Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Firaun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir. Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini. Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu. Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya (Kejadian 41:25-32). Yusuf kemudian melanjutkan: Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir (Kejadian 41:33).

Hal yang menarik adalah ketika Yusuf menyatakan bahwa ia bisa menafsir mimpi Firaun karena Tuhan (Kejadian 41:16). Yusuf berbicara dengan menyatakan bahwa semua itu diketahui karena Allah. Di sini Yusuf berani menyatakan identitasnya. Ia menyatakan dirinya sebagai orang yang beribadah dan takut akan Tuhan. ia benar, baik, dan bijak. Di sini kita belajar bahwa Yusuf bisa bersinar karena Tuhan. Sinar kita tidak datang dari diri kita sendiri. Kita bersinar karena ada penyertaan Tuhan. Kita tidak boleh malu dalam menyatakan identitas kita kepada orang lain. Yusuf berani menyatakan visi Tuhan bagi hidupnya. Ketika kita sudah menangkap visi Tuhan bagi keluarga kita, maka kita harus menjalankannya dalam kebenaran dan kesucian. Kita harus menyatakan visi Tuhan melalui kesaksian hidup kita dan menyatakan bahwa semua itu bisa berhasil diraih karena Tuhan. Roma 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Hidup kita harus memegang prinsip soli Deo gloria. Yusuf dengan jelas menyatakan tentang Tuhan. Setelah itu Yusuf menjadi orang penting di Mesir. Ia diangkat oleh Firaun untuk memimpin pengaturan dalam masa-masa kelaparan itu. Di sana Yusuf menggenapkan visi Tuhan.

Yusuf menjadi orang yang bersinar sebagai budak, lalu sebagai tahanan, dan kemudian ia bersinar di istana Firaun. Ia dipersiapkan Tuhan menjadi seorang pemimpin dan Firaun sendiri bersaksi bahwa Yusuf dipenuhi oleh Roh Allah. Ia menjadi orang yang luar biasa dan tidak ada yang dapat menandinginya karena Allah menyertainya. Di sini kita belajar untuk menangkap visi Tuhan. visi Tuhan sudah dinyatakan di dalam Alkitab. Alkitab sudah dinyatakan bagi kita dan kita bisa mengetahui kehendak Tuhan melalui pembacaan Alkitab kita. Kita harus menangkap apa yang harus kita genapi dalam keluarga, studi, dan pekerjaan kita. Kita harus menggenapkan kehendak Tuhan yang Tuhan sudah letakkan di dalam hidup kita. Kehendak itu pastilah kehendak yang mulia dan kekal. Perjalanan iman Yusuf melewati sekolah kesulitan dan kita juga harus mengalami ini. Banyak orang ingin menjadi pemimpin namun tidak mau belajar melalui kesulitan. Ada banyak orang menginginkan jabatan namun dengan motivasi yang salah. Kita harus menyelidiki motivasi hati kita. Yusuf mendapatkan kuasa dari Firaun ketika berumur 30 tahun. Ia dilupakan oleh juru minuman karena biasanya manusia sering melupakan pertolongan orang lain ketika sudah menikmati hidupnya. Sebagai pemimpin di Mesir ia berhasil menjalankan segala tanggung jawabnya dengan baik. Yusuf telah membuktikan dirinya sebagai orang yang visioner dan agen perubahan. Ia berhasil mengumpulkan makanan yang tidak terhitung jumlahnya (Kejadian 41:49). Jika kita belum bersinar, maka kita harus berdoa memohon pertolongan Tuhan.

 

Penutup

Para pemuda harus mengisi hidup mereka dengan hal-hal yang berkualitas untuk mempersiapkan diri di masa depan. Kita dipanggil untuk bersinar di tengah bangsa yang kafir karena kita memang dipanggil sebagai terang dunia. Kita harus melewati ujian kesabaran seperti Yusuf. Ia selalu menanti waktu Tuhan di tengah kesulitan dan ia menjadi berkat lewat semua yang dikerjakannya. Kita dipanggil untuk menyelesaikan masalah dan menjadi berkat bagi banyak orang.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami