Beribadah

Tujuan utama hidup orang Kristen itu adalah menyembah Tuhan, membawa kemuliaan pada Tuhan, BERIBADAH. Hal ini diajarkan dengan jelas baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa keselamatan bukanlah tujuan akhir orang Kristen, melainkan orang Kristen diselamatkan untuk beribadah kepada Tuhan. Umat Allah dalam Perjanjian Lama diselamatkan dari perbudakan Mesir untuk beribadah kepada Tuhan, demikian pula umat Tuhan pada Perjanjian Baru, termasuk kita, diselamatkan dari dosa juga untuk

Beribadah

Categories:

Pada suatu waktu, John Piper ketika masih muda berpikir seperti ini, kira-kira apa yang tujuan hidup seorang Kristen? Mencari jiwa kah? Tapi sesudah mencari jiwa, lalu apa? Apakah untuk mencari jiwa lagi, dan begitu seterusnya menjadi suatu rentetan tanpa akhir? Di sisi lain, pendapat yang populer dari orang Kristen jaman sekarang menyatakan sesungguhnya tujuan hidup orang Kristen adalah untuk diselamatkan, tapi pernahkan kita bertanya diselamatkan untuk apa? Apakah hanya untuk akhirnya menikmati berkat Tuhan semata dan bersenang-senang di sorga? Coba kita bandingkan dengan apa yang Alkitab katakan tentang apa yang menjadi tujuan utama orang Kristen? Apakah hanya untuk diselamatkan kah? Atau apakah masih ada tujuan lain setelah kita diselamatkan? Mari kita lihat dua bagian Alkitab: Keluaran 4:23 sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung. Ibrani 12:28 Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Tujuan utama hidup orang Kristen itu adalah menyembah Tuhan, membawa kemuliaan pada Tuhan, BERIBADAH. Hal ini diajarkan dengan jelas baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa keselamatan bukanlah tujuan akhir orang Kristen, melainkan orang Kristen diselamatkan untuk beribadah kepada Tuhan. Umat Allah dalam Perjanjian Lama diselamatkan dari perbudakan Mesir untuk beribadah kepada Tuhan, demikian pula umat Tuhan pada Perjanjian Baru, termasuk kita, diselamatkan dari dosa juga untuk beribadah kepada Tuhan. Ibadah adalah tujuan hidup kita. 1. Apa itu ibadah? Menurut bahasa aslinya,ibadah berarti bow down, tersungkur dihadapan objek penyembahan kita, menundukkan seluruh keberadaan diri dihadapan objek kita. Berikut ini satu kutipan dari Warren Wiersbe mengenai ibadah: ;Ibadah adalah respon orang percaya dari seluruh keberadaan dirinya (baik pikiran, emosi, kehendak dan tubuh) kepada Allah, baik keberadaanNya, perkataanNya maupun apa yang dilakukanNya. Mengapa tersungkur dalam perasaan hormat dan menyembah kepada Tuhan? Karena begitu kagum akan kebesaran dan kemuliaan Tuhan sendiri, apa yang difirmankanNya, dan apa yang dikerjakanNya. 2. Mengapa kita beribadah? Jika kita melihat dalam Alkitab, banyak alasan untuk kita menyembah Tuhan, misalnya: karena Allah mengasihi dan baik kepada kita, karena apa yang diperbuatNya untuk kita. Namun alasan utamanya adalah karena diri Allah itu sendiri layak untuk disembah. Hal ini juga dikatakan oleh John Owen, ;Alasan utama dan cukup untuk semua penyembahan kepada Allah ada di dalam diri Allah sendiri. Hal ini bisa kita lihat dari kisah tentang Ayub, bagaimana setelah dia kehilangan segalah harta miliknya, bahkan semua anak-anaknya, yang dia lakukan adalah beribadah (Ayub 1:20-21). Ketika Ayub sepertinya tidak mempunyai alasan lagi untuk beribadah, ketika Ayub tidak merasakan sedikitpun dari manisnya hidup, ia tetap mempunyai alasan untuk menyembah Tuhan, yaitu karena Tuhan itu pada diriNya sendiri layak untuk disembah. Kita akan melanjutkan pembahasan mengenai beberapa prinsip ibadah yang Alkitabiah dalamYohanes 4:20 ;Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah. Orang Samaria memiliki tempat ibadah yang berbeda dengan orang Yahudi. Orang Samaria beribadah di gunung Gerizim sedangkan orang Yahudi di Yerusalem. Mengapa bisa berbeda? Karena orang Samaria hanya percaya lima kitab Musa (Kejadian-Ulangan) saja, dan tidak percaya kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya, sehingga mereka berdasarkan perintah Musa untuk mencari dan pergi beribadah ke suatu tempat (Ul 12:5), menemukan bahwa gunung Gerizim adalah lokasi yang penting karena di dekat sanalah Abraham pertama kali mendirikan mezbah ketika ia sampai di kanaan, selain itu juga bangsa Israel ketika pertama kali masuk tanah kanaan, mereka mengucapkan berkat di Gunung Gerizim (Kej 12:6-7, Ul 11:29). Namun karena orang Yahudi percaya seluruh Perjanjian Lama, maka mereka mengikuti Daud dan sejarah israel yang beribadah di dalam Bait Allah di Yerusalem. Namun Tuhan Yesus tidak melanjutkan pembicaraan dengan perdebatan tempat, tapi langsung membahas natur dari ibadah itu sendiri, apa itu ibadah yang benar. Tuhan Yesus menekankan pentingnya ibadah yang benar jauh melampaui tempat semata. Yohanes 4:21-22 Kata Yesus kepadanya: Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 3. Kepada siapa kita beribadah? Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ibadah yang benar itu harus ditujukan kepada objek penyembahan yang benar. Tanpa ditujukan kepada objek yang benar, maka sebagus apapun kita mengerjakannya akan sia-sia belaka, malah menimbulkan kemarahan Tuhan (contoh: lembu emas, Keluaran 32). Objek penyembahan yang benar adalah Bapa yang kita kenal dalam Perjanjian Lama (sama dengan orang Yahudi bukan Samaria) dan kemudian dinyatakan dengan lebih sempurna oleh Tuhan Yesus di Perjanjian Baru. Pengenalan yang benar akan kepada siapa kita beribadah akan menghasilkan ibadah yang benar, bagitu juga sebaliknya tanpa mengenal kepada siapa kita beribadah maka kita juga tidak akan beribadah dengan benar. Zaman sekarang seringkali orang Kristen bersikap tidak hormat dalam ibadah (terlambat, tidak beribadah, dll) karena sebenarnya mereka kurang mengenal siapa Allah. Mereka lebih minta untuk dimengerti oleh Allah daripada mengerti Allah, padahal mengenal Allah yang benar itu merupada dasar dari ibadah yang benar. Contoh: tidak apa-apa kan kalau bolos ibadah, telat ibadah, Tuhan pasti mengerti saya banyak pekerjaan. Ibadah yang sebenarnya justru diawali dengan prinsip mau kenal Tuhan bukan terutama mengejar dimengerti oleh Tuhan. Pengenalan akan Tuhan yang benar penting sekali untuk akhirnya dapat beribadah dengan benar, namun timbul pertanyaan, ;bagaimana kita bisa kenal Tuhan?Cara kita bisa kenal Tuhan adalah melalui membaca dan merenungkan Firman Tuhan itu sendiri, karena di dalam Alkitab Allah memperkenalkan diriNya pada kita. Mari kita sama-sama lebih rajin lagi membaca dan merenungkan Firman, supaya semakin kenal Tuhan dan dapat beribadah kepadaNya dengan benar. Yohanes 4:23-24 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. 4. Siapa yang beribadah? Tuhan Yesus menyatakan bahwa yang beribadah adalah setiap orang yang menyembah dalam roh dan kebenaran. Hal ini menyatakan bahwa penyembah Tuhan adalah seluruh umat Tuhan yang sejati. Seringkali dalam gereja masa kini terdapat anggapan bahwa yang menyembah Tuhan adalah orang-orang yang berdiri di mimbar saja, baik itu song leader, pengkhotbah, liturgis, sedangkan jemaat yang hadir hanyalah penonton yang menyaksikan ibadah. Tapi melalui bagian ini kita disadarkan bahwa yang beribadah itu semua umat Tuhan, berarti semua jemaat juga beribadah kepada Tuhan, baik yang berdiri di depan maupun yang duduk semuanya beribadah. Seringkali kita mendengar ada yang berkata, ;ibadah kering yah di gereja. Ketika kita berpikir ibadah yang kering ini salah siapa? Salah bersama! Mungkin termasuk juga orang-orang yang komplain tersebut. Karena jemaat sendiri tidak mau berpartisipasi dalam ibadah, hanya menganggap diri sebagai penonton maka akhirnya ibadah juga mejadi kering (contoh: ketika diajak untuk sama-sama memuji Tuhan, jemaat diam saja, maka tidaklah aneh bukan, jika ibadah jadi terasa kering?) Tapi sebenarnya apa yang membuat suatu ibadah itu kering dan suatu ibadah itu hidup? Musik? Ramai? Lampu kerlap kerlip? Bukan! Melainkan relasi yang dekat dengan Allah, hati yang tertuju pada Allah! Coba bandingkan dengan ibadah agama lain, misal: islam atau Budha, apakah ada musik yang menarik dalam ibadah mereka? Ada lampu kerlap-kerlip? Ada keramaian? Tapi mereka bisa tetap semangat dan sungguh-sungguh dalam beribadah. Masalah sebenarnya ada di relasi, apakah relasi kita dekat dan baik dengan Allah atau tidak, apakah hati kita tertuju pada Allah atau tidak? Contoh: Kita pasti malas jika bertemu dengan musuh tapi semangat bertemu dengan teman atau kekasih, karena hubungan kita buruk dengan musuh dan baik dengan kekasih. Mari kita sama-sama cek dan perbaiki relasi kita dengan Tuhan. Mari kita buka saja check up tubuh, tapi juga penting untuk check up Rohani dalam terang Firman Tuhan, supaya tetap sehat relasi kita dengan Tuhan. Yoh 4:23-24Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. 5. Bagaimana beribadah dengan benar? Beribadah dengan benar dilakukan dalam Kristus serta menyembahNya dalam Roh dan kebenaran:

  • Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Dari bagian ini kita dapat belajar bahwa periode penyembahan yang baru ini, penyembahan tanpa dibatasi tempat-tempat tertentu ini dimulai dengan kedatangan Kristus sendiri. Karena Kristus merupakan Bait Allah itu sendiri, satu-satunya jalan masuk kepada Bapa (Yoh 14:6). Hanya melalui Kristus kita bisa sampai kepada Bapa, sehingga ibadah yang benar harus dilakukan melalui Kristus, dengan percaya kepadaNya sebagai satu-satunya juru selamat kita, sehingga kita bisa didamaikan dengan Allah dan memiliki relasi yang dekat dengan Allah.
  • Allah itu roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Karena Allah adalah roh, maka ibadah kepadaNya adalah masalah rohani bukan dibatasi oleh bangunan-bangunan atau kuil-kuil, bukan masalah yang diluar tapi lebih kearah masalah yang di dalam/rohani, yaitu hati, relasi dengan Allah. Menyembah dalam kebenaran berarti menyembahNya dalam pengetahuan yang benar sesuai apa yang diFirmankanNya, bukan pengetahuan yang salah. Jangan cuma ada hati tanpa pengetahuan yang benar (akan kacau dan tidak karuan), jangan juga dengan pengetahuan yang benar tapi tanpa hati (akan kering dan dingin seperti kuburan). Harus ada hati dan juga pengetahuan yang benar, baru menjadi ibadah yang benar.

Tidak terasa kita sudah membahas beberapa pertanyaan-pertanyaan yang penting tentang ibadah. Apa itu ibadah? Mengapa kita beribadah? Kepada siapa beribadah? Siapa saja yang beribadah? Bagaimana kita beribadah? Saya mengakhirinya dengan menjawab 2 pertanyaan terakhir sekaligus, yaitu: 6,7 Dimana dan kapan kita beribadah? Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Dari tadi saya menghubungkan pembahasan ibadah ini dengan ibadah kita di gereja pada hari minggu, tetapi sebenarnya ada jenis ibadah lain lagi selain ibadah umum di hari minggu. Kebaktian hari minggu adalah ibadah dalam arti sempit, sedangkan dalam arti luas, ibadah itu mencakup seluruh hidup kita. Bagaimana seluruh hidup kita menjadi persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah, itu adalah ibadah kita yang sejati. Bagaimana kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang berkenan kepada Tuhan? Sebenarnya tidak sulit untuk dimengerti, contoh: Bagaimana mempersembahkan mulut kepada Tuhan? Bisa memuji nama Tuhan, bisa berkata dengan sopan, bisa memberitakan Injil dan lainnya. Bagaimana mempersembahkan tangan kepada Tuhan? Dengan tidak mencuri, dengan membantu orang lain, dll. Melalui contoh-contoh tersebut kita dapat belajar bahwa kita beribadah di mana saja dan kapan saja. Ibadah kita tidak dibatasi pada waktu atau tempat tertentu, melainkan seluruh hidup kita adalah ibadah dihadapan Tuhan, dimanapun dan kapanpun. Mari sama-sama kita berlatih beribadah kepada Tuhan, karena bukankah nanti di sorga juga kita akan beribadah kepada Tuhan selama-lamanya? Jadikan ibadah sempit (di gereja) sebagai latihan dari ibadah luas (di seumur hidup), jadikan ibadah sempit dan luas sebagai persiapan untuk ibadah kekal dan sempurna di sorga nanti. Kiranya Tuhan yang menguatkan dan memampukan kita. Amin. Soli Deo Gloria

Bitnami