Berbohong untuk Kebaikan, Boleh Tidak?

Berbohong untuk Kebaikan, Boleh Tidak?

Categories:

Bacaan alkitab: Yosua 9:1-27

 

Pendahuluan

Pernahkah kita dibohongi oleh orang lain? Bagaimana perasaan kita? Kita pasti kecewa. Pernahkah kita berbohong demi kebaikan, pembelaan diri, kenyamanan diri, menyenangkan orang lain, atau keselamatan diri? Kita sendiri dan Tuhan yang mengetahuinya. Adakah konsekuensi dosa akibat berbohong putih (white lies)? Mengapa perlu konsekuensi? Karena semua alasan yang terlihat baik itu tetap merupakan dosa di mata Tuhan. Dosa tidak memiliki tempat di hadapan kesucian Tuhan dan kehendak Tuhan. Apa kata Alkitab tentang dosa menipu, berbohong, berdusta? Mengapa ada agama yang mengajarkan bahwa penipuan itu diperbolehkan tetapi dusta itu tidak diperbolehkan? Ini karena mereka menganggap penipuan itu masih lebih baik daripada dusta. Kita sebagai orang Kristen mengatakan bahwa semua itu tidak boleh. Ada yang menyatakan bahwa berbohong demi kebaikan itu diperbolehkan. Ia menyatakan bahwa berbohong demi mendapatkan kemenangan dalam peperangan itu dibolehkan. Ia juga menyatakan bahwa berbohong demi menyenangkan pasangan itu dibolehkan. Dalam bagian ini Alkitab mengatakan bahwa kebohongan seperti itu pun tidak dibolehkan. Tuhan Yesus Kristus sudah menebus kita dan membawa kita dari kegelapan kepada terang itu sehingga hati dan pikiran kita dicerahkan. Ini juga membuat kita takut akan Tuhan sehingga dalam aspek apapun juga kita tidak boleh berbohong. Banyak anak menjadi pembohong karena meniru dari orang tuanya. Teladan orang tua sangat diperhatikan oleh anak sehingga semua keburukan orang tua bisa merusak anak. Dengan berbohong mungkin orang tua merasa sudah menghindari masalah namun sebenarnya ini menciptakan masalah baru di depan nanti yaitu budaya bohong. Di sini anak belajar untuk tidak takut kepada Tuhan, padahal Tuhan tahu segala sesuatu. Allah akan menghakimi kita berdasarkan seluruh kata yang pernah kita ucapkan.

 

Pembahasan

Mengapa Gibeon berbohong kepada Yosua dan bangsa Israel? Dalam Yosua 9:3, 24 dikatakan alasannya karena mereka takut terbunuh. Mereka sudah mendengar tentang apa yang Allah dan bangsa Israel lakukan terhadap Yerikho dan Ai. Orang-orang Gibeon berbohong karena alasan fisik yaitu agar mereka tidak dibunuh. Raja-raja di sebelah barat sungai Yordan bersekutu dan mau memerangi Yosua dan bangsa Israel namun Gibeon ada di sebelah utara dan mereka menyerah kepada Yosua. Negeri Gibeon dihuni oleh orang Hewi dan dikatakan bahwa mereka memakai akal (Yosua 9:4). Ini dilakukan agar mereka tidak diperangi oleh Israel. Jadi kelompok Gibeon ini adalah orang-orang pintar. Mereka bisa mengukur dan menganalisa situasi yang ada. Yerikho sudah dikalahkan dan mereka berpikir bahwa mereka pasti kalah menghadapi Israel meskipun dibantu oleh raja-raja yang lain. Mereka kemudian mencari karung-karung dan kirbat-kirbat anggur yang buruk dan membawa roti-roti yang kering untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berasal dari tempat yang jauh. Di sini mereka pasti menyuruh orang-orang yang khusus sehingga tidak ketahuan. Jadi mereka menipu Yosua karena takut dibunuh. Mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang terlatih dalam peperangan namun mereka mengerti bahwa Israel mendapatkan pertolongan Allah. Di sana mereka memutuskan untuk menyelamatkan diri dengan cara berbohong. Bolehkah kita sebagai orang Kristen berbohong untuk menyelamatkan diri? Dulu di Ambon pernah ada peristiwa dimana anak-anak sekolah Minggu dibunuh karena mereka tidak mau menghujat Yesus. Mereka yang selamat karena menghujat Yesus kemudian hidup dalam bayang-bayang ingatan yang gelap dan penyesalan karena mereka tidak tetap mempertahankan iman seperti teman-teman mereka yang dibunuh. Iman anak-anak yang dibunuh itu sungguh luar biasa, namun mereka yang menghujat Yesus itu hanya mencari aman. Ini membuat jiwa mereka tersiksa dan merasa dihantui karena mereka telah berkhianat. Banyak orang Kristen demi cinta, karier, politik, dan lainnya terkadang berani menjual nama Yesus. Kita gagal dalam ujian iman ketika kita berkompromi demi meraih ambisi kita. Ketika kita berani berbohong untuk menyelamatkan diri kita, di sana kita mengerti bahwa iman kita tidak hidup dalam situasi yang sulit. Iman yang hidup hanya dalam situasi yang mudah dan lancar bukanlah iman yang berkualitas.

 

Orang-orang Gibeon selain memberikan alasan fisik juga memberikan alasan rohani. Mereka berkata: hamba-hambamu ini datang karena nama TUHAN, Allahmu, sebab kami telah mendengar kabar tentang Dia, yakni segala yang dilakukan-Nya di Mesir, dan segala yang dilakukan-Nya terhadap kedua raja orang Amori itu di seberang sungai Yordan, Sihon, raja Hesybon, dan Og, raja Basan, yang diam di Asytarot (ayat 9 dan 10) dan: Sebab telah dikabarkan dengan sungguh-sungguh kepada hamba-hambamu ini, bahwa TUHAN, Allahmu, memerintahkan kepada Musa hamba-Nya, memberikan seluruh negeri itu kepadamu dan memunahkan seluruh penduduk negeri itu dari depan kamu, maka sangatlah kami takut kehilangan nyawa, menghadapi kamu; itulah sebabnya kami melakukan yang demikian (Yosua 9:24). Jadi mereka takut karena nama Tuhan, Allah Israel. Dari mana orang-orang Gibeon tahu bahwa Allah beserta dengan Israel? Mereka pasti melihat Yerikho dan Ai dari jauh dan mendengar apa yang terjadi di sana dari mulut ke mulut. Mereka memakai nama Tuhan namun memberitakan kebohongan. Mereka percaya bahwa Allah itu sungguh hebat, namun apakah mereka percaya bahwa Allah memberikan keselamatan? Nebukadnezar sempat mengakui dan menyatakan mau memuliakan Allah, namun apakah itu dikatakannya dengan iman (Daniel 4:37)? Mereka memiliki pengetahuan namun hati mereka belum tentu menerima sepenuhnya dengan iman. Oleh karena itu ada yang bertanya apakah Gibeon diselamatkan atau tidak. Selama seumur hidup mereka menjadi pelayan bagi mezbah Tuhan, menjadi tukang kayu dan tukang timba air. Orang-orang Gibeon adalah orang-orang yang pintar maka pasti mereka bisa bekerja secara efektif. Apakah Gibeon pada akhirnya menjadi suku yang diadopsi dan masuk ke dalam kelompok yang diselamatkan? Saat bangsa Amori ingin menghabisi mereka, Tuhan membela mereka. Akhirnya Tuhan mengirim hujan batu, mengacaubalaukan, dan membuat bangsa Amori kalah (Yosua 10:10-11). Saat Saul membunuh orang-orang Gibeon, ia dinyatakan bersalah oleh Tuhan (2 Samuel 21:1). Ada yang menyatakan bahwa Gibeon diambil dan bergabung dengan suku Benyamin. Mungkin ini bukanlah adopsi secara lahiriah, hanya saja mereka dipimpin oleh suku Benyamin. Gibeon memang tidak menjadi suku yang penting dalam catatan Alkitab, namun ketika orang-orang Amori tahu bahwa mereka memihak pada Israel dan ingin memusnahkan mereka, Tuhan melindungi mereka. Saat Saul membunuh mereka, Tuhan marah kepada Saul. Ini karena Saul melanggar perjanjian yang dibuat oleh Yosua dan Gibeon. Dari catatan ini kita bisa menyimpulkan bahwa ada orang-orang Gibeon yang menjadi percaya kepada Tuhan. Mereka juga melayani mezbah Tuhan setiap hari, maka mereka pasti mendengar suara Tuhan. Mereka tinggal di Israel maka mereka juga pasti mengerti ibadah orang Israel.

 

Mengapa Yosua dan bangsa Israel mudah tertipu oleh Gibeon? Pertama, orang-orang Israel tidak meminta keputusan dari Tuhan (Yosua 9:14). Orang yang bisa menipu biasanya adalah orang yang pintar. Mereka memakai akal. Biasanya korban penipuan adalah orang-orang yang kurang pintar. Jadi kita tidak boleh meremehkan orang-orang penipu, namun otak mereka belum dikuduskan. Orang yang mudah ditipu itu kurang pintar karena terlalu cepat percaya kepada orang pintar yang belum dikuduskan pikirannya. Ketika orang-orang Gibeon mendekati perkemahan orang-orang Israel di Gilgal, mereka bertemu dengan para pemimpin Israel dan menyatakan bahwa mereka berasal dari negeri yang jauh (Yosua 9:6). Di sana mereka mengajak Israel untuk mengikat perjanjian dengan mereka. Sebenarnya kepekaan para pemimpin Israel itu ada karena mereka bertanya: Barangkali kamu ini diam di tengah-tengah kami, bagaimana mungkin kami mengikat perjanjian dengan kamu? (Yosua 9:7). Namun setelah pertanyaan itu mereka tidak mendalami lagi pertanyaan mereka. Bangsa Israel langsung percaya kepada orang-orang Gibeon setelah melihat penampilan mereka. Mereka merendahkan diri di hadapan Yosua dan menyebutkan diri mereka sendiri sebagai hamba-hamba Yosua (Yosua 9:8) dan menyatakan bahwa mereka berasal dari negeri yang jauh. Dikatakan bahwa bangsa Israel tidak meminta keputusan Tuhan atau tidak melibatkan Tuhan dalam menghadapi perkara itu (Yosua 9:14). Ini berarti Yosua dan para pemimpin bangsa Israel hanya mengandalkan mata mereka. Mereka tertipu oleh penampilan orang-orang Gibeon. Ternyata mata mereka bisa salah menilai karena mata tidak bisa melihat kedalaman hati. Kita pun bisa tertipu karena penampilan. Penampilan yang baik belum tentu mencerminkan isi hati yang baik. Mata yang belum dikuduskan bisa salah menilai. Seandainya Yosua dan bangsa Israel bertanya kepada Tuhan, pasti Tuhan akan menjawab mereka. Siasat Gibeon pasti terbongkar pada saat itu.

 

Kedua, Yosua terlalu mudah berbelas kasihan pada orang lain (Yosua 9:15). Setelah Yosua dan bangsa Israel memeriksa semua bawaan orang-orang Gibeon dengan mata mereka, Yosua berbelas kasihan dan mengadakan persahabatan dan mengikat perjanjian dengan mereka. Ini berarti Yosua makan bersama dengan mereka. Pada umumnya orang-orang Kristen sering berbelas kasihan, maka dari itu ketika pengemis pergi ke daerah orang Kristen, mereka pulang dengan banyak uang. Namun terkadang kita berbelas kasihan tetapi tanpa hikmat dan prinsip keadilan sehingga terjadi pemborosan. Orang yang mengemis bisa saja hanya berpura-pura untuk mencari untung dengan memanfaatkan kita. Kasih harus berbarengan dengan keadilan. Prinsip ini juga harus ada dalam mendidik anak. Kita memiliki bakat untuk menjadi orang baik namun belum tentu memiliki bakat untuk menjadi orang benar. Jika Yosua orang benar, maka ia tidak akan mudah mengadakan persahabatan dan mengikat perjanjian dengan orang-orang Gibeon. Perjanjian ini berlaku sampai selamanya. Ketika dua perusahaan besar akan membuat perjanjian kerja sama, mereka tidak akan langsung menandatangani perjanjian tetapi mempelajarinya dengan teliti terlebih dahulu. Dua partai politik yang akan berkoalisi pun juga demikian. Mereka akan benar-benar memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari koalisi tersebut. Yosua berbelas kasihan namun kurang berhikmat sehingga ia tertipu. Bagaimana agar kita tidak mudah tertipu? Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:5-6). Kita diciptakan dengan akal budi dan respons emosi untuk bisa mengetahui mana yang benar atau tidak benar dan yang suci atau tidak suci. Namun kita tahu bahwa kita sudah jatuh ke dalam dosa sehingga kita tidak bisa hanya mengandalkan otak kita. Di setiap keputusan kita, kita harus mengakui Tuhan dan bertanya kepada Tuhan. Kita bisa menganalisa dan meneliti untuk menentukan mana pilihan yang terbaik, namun bisa saja ketika kita bertanya kepada Tuhan, Tuhan menjawab bahwa waktunya belum tepat. Tuhan kita sempurna adanya. Tuhan merancang kita bukan untuk merugikan dan mempermalukan kita tetapi untuk memberikan kita damai sejahtera. Tuhan mau kita menjadi pemimpin yang memengaruhi bangsa-bangsa lain. Di sini kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Penasihat dan Guru kita yang terbaik. Jadi Israel bersalah dalam tidak mengandalkan Tuhan dan terlalu mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Setelah Gibeon berbohong kepada Yosua dan pada akhirnya ketahuan, Gibeon mendapatkan konsekuensi dosa kebohongannya. Dalam Yosua 9:22 kita bisa melihat bahwa Yosua langsung marah dan bertanya mengapa mereka menipu Israel. Di sana Gibeon kehilangan kepercayaan Yosua dan dinilai sebagai penipu. Mereka kehilangan martabat dan mendapatkan penghinaan. Pada ayat 23 Yosua mengutuk mereka. Mereka dibuat menjadi tukang kayu dan tukang air untuk umat dan mezbah Tuhan (Yosua 9:27). Bangsa Israel tidak bisa membunuh mereka karena mereka sudah diikat oleh perjanjian, tetapi orang Gibeon harus selamanya bekerja untuk Israel. Jadi dosa kebohongan Gibeon mendatangkan konsekuensi bagi diri mereka sendiri. Di sini keadilan Tuhan dinyatakan. Bangsa Israel seharusnya membunuh mereka karena perintah Tuhan bagi mereka adalah menumpas semua orang Kanaan. Di sini terjadi pro dan kontra. Orang Gibeon memang bisa dipekerjakan untuk pelayanan di mezbah Tuhan serta dipekerjakan sebagai tukang kayu untuk membantu pembangunan. Jadi dari segi fungsi orang-orang Gibeon ini sangat membantu, namun bangsa Israel sudah terlanjur berjanji kepada mereka dalam nama Allah sehingga Israel tidak bisa membunuh mereka. Ketika perjanjian ini didengar oleh bangsa Amori, mereka memutuskan untuk menghancurkan Gibeon namun kemudian Israel membela mereka dan orang-orang Amori dikalahkan. Ini berarti orang-orang Gibeon mendapatkan tempat dalam komunitas Israel. Orang-orang Gibeon selalu menjadi hamba yang taat dan tidak pernah ada catatan pemberontakan dari pihak mereka. Di sini ada pengudusan relasi. Daud mengambil Batsyeba dengan cara yang tidak benar yaitu perzinahan dan pembunuhan, namun setelah Daud bertobat ia mendapatkan pembaruan dari Tuhan dan mendapatkan satu relasi yang baru dengan Batsyeba. Pengudusan relasi itu terjadi dan dari mereka Salomo lahir. Salomo kemudian menjadi pengganti Daud. Jadi pertobatan adalah kunci pembaruan relasi, status, dan pemeliharaan Tuhan.

 

Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman (Yakobus 5:12, bandingkan Matius 5:37). Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa (Amsal 19:9). Jadi bohong putih untuk kebaikan dan keselamatan diri pasti tetap akan mendatangkan konsekuensi. Kita harus selalu memilih untuk tidak berdosa, bukan dosa yang terlihat lebih kecil. Di Papua pernah ada sekelompok misionaris yang ditangkap dan diminta untuk menginjak salib jika mereka mau selamat. Ketua kelompok itu kemudian menginjak-injak salib kecil yang dibawanya dan mereka dibebaskan. Ketika pengikut-pengikutnya bertanya mengapa ia melakukan hal itu, ia berkata bahwa salib yang diinjaknya adalah salib penjahat yang tidak bertobat dan bukan salib Tuhan Yesus. Ia mengatakan bahwa ini adalah kecerdikan, namun ini bukanlah hal yang boleh kita tiru. Kebohongan pasti mendatangkan konsekuensi, maka dari itu kita harus memiliki kepekaan hati dan hati yang terbuka terhadap suara Roh Kudus. Kita harus menerima teguran-Nya dan berubah agar tidak mendapatkan segala konsekuensi itu. Menurut ilmu psikologi, manusia berbohong demi kenyamanan diri, keamanan, dan kesenangan. Dengan demikian berbohong itu boleh selama mendatangkan kenyamanan jiwa. Namun alkitab tidak mengajarkan demikian. Kita harus membaca psikologi dengan kacamata Tuhan. Berbohong itu sebenarnya sulit dan lebih sulit lagi ketika kita harus menyimpannya. Beban itu bisa membuat kita sampai jatuh sakit. Ada orang-orang yang menyimpan dosa sampai frustrasi, bahkan ada yang sampai seperti menjadi gila. Dari antara mereka ada yang harus terus meminum obat-obatan agar bisa tidur. Melakukan dosa itu berat, namun menyimpan dosa itu lebih berat lagi. Itu bisa mengusik jiwa kita.

 

Bagaimana dengan kasus Rahab, Sifra, dan Pua yang berbohong? Rahab berbohong demi menyembunyikan kedua pengintai (Yosua 2:1-16). Sifra dan Pua menipu Firaun demi menyelamatkan bayi-bayi Israel (Keluaran 1:17-19). Mereka melakukan kebohongan secara pribadi dengan alasan karena mereka lebih takut kepada Yahweh daripada raja Yerikho dan raja Mesir (Ibrani 11:31 dan Yakobus 2:25). Ketika mereka berbohong, mereka belum sungguh-sungguh menjadi orang yang percaya. Mereka bukan berasal dari suku Israel namun mereka dikuduskan. Kita tahu bagaimana keturunan Rahab selanjutnya. Alkitab menyatakan bahwa mereka mengambil keputusan itu karena iman. Mereka melakukan itu karena mereka percaya kepada Allah yang maha besar. Di sana mereka bergabung dengan kelompok orang yang percaya. Alkitab tidak pernah mencatat tentang Gibeon yang dikuduskan statusnya dan mengalami pembaruan, namun kita tahu bahwa mereka mendapatkan perlindungan Tuhan. Bagaimana dengan Abraham yang berbohong mengenai Sara (Kejadian 12:10-20)? Bagaimana dengan Ishak yang berbohong tentang Ribka (Kejadian 26:9)? Bagaimana dengan Yakub yang mengambil hak sulung Esau (Kejadian 27:1-46)? Bagaimana dengan kasus Ananias dan Safira yang berbohong (Kisah Para Rasul 5:1-11)? Alkitab menyatakan bahwa semua itu dosa. Ananias dan Safira tidak diberikan kesempatan untuk bertobat, namun Abraham, Ishak, dan Yakub diberikan kesempatan itu. Di sini Tuhan memberikan kesempatan untuk pemulihan bagi mereka yang percaya dan mau mengakui dosa-dosanya.

 

Kesimpulan

Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu (Wahyu 21:27). Surga tidak memberikan tempat untuk orang-orang yang najis dan cemar. Surga hanya untuk mereka yang sudah dikuduskan dengan darah Yesus. Tempat itu hanyalah untuk orang-orang yang mau hidup suci yang sikapnya tidak ada kekejian dan mulutnya tidak ada dusta. Mereka yang namanya tertulis dalam kitab Anak Domba berhak untuk masuk ke surga. Kita yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus, yang sudah lahir baru, yang sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, boleh memasuki surga. Jadi sebagai warga Kerajaan Allah, kita harus berkomitmen untuk tidak menyakiti hati Allah dengan berdusta, berbohong, dan menipu. Kehidupan yang jujur dan terbuka akan diperkenan dan dipelihara oleh Tuhan. Kita tidak perlu takut dirugikan atau takut kehilangan keuntungan karena kita tahu bahwa Allah itu jauh lebih besar. Jika Rahab tidak mau menyembunyikan kedua pengintai itu maka Tuhan pasti memakai cara lain untuk menyembunyikan mereka. Jika Sifra dan Pua tidak mau menyelamatkan bayi-bayi Israel, maka Tuhan pasti punya cara untuk menyelamatkan mereka. Tangan Tuhan bekerja melampaui akal dan pikiran kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami