Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah di dalam Tuhan

Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah di dalam Tuhan

Categories:

Bacaan alkitab: Kolose 2:7, Yohanes 15:5, 16

Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah di dalam Tuhan merupakan panggilan hidup kita. Namun apakah secara hakikat kita sudah benar-benar berakar di dalam seluruh kebenaran Tuhan? Apakah hidup kita sudah sungguh-sungguh bertumbuh dengan memiliki karakter, identitas, dan model Kristus? Apakah firman sudah memotong, membentuk, dan membarui kita sehingga seluruh hidup kita memiliki arah dan fokus untuk Tuhan? Di dalam hidup ini kita harus menyatakan kebesaran Tuhan sehingga Tuhan disenangkan. Melalui itu kita akan sungguh menikmati Tuhan dengan anugerah-Nya. Apakah kita sudah memiliki buah yang kekal melalui seluruh kehidupan kita? Buah yang kekal itulah yang dibicarakan oleh Yohanes 15:16, “bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”. Tuhan memilih kita secara utama bukan untuk menjadi pemimpin politik atau orang yang terkenal tetapi menjadi duta-duta Kristus. Tuhan memilih kita untuk memperluas Kerajaan Tuhan. Kita kagum kepada Tuhan yang memilih kita yang terbatas dan lemah ini. Ia membarui kita sehingga kita bisa melakukan pekerjaan Tuhan yang kekal.

Setiap tanaman memiliki karakter yang unik. Tanaman bambu ketika ditanam baru akan memunculkan akar setelah 2 bulan. Akar ini berfungsi untuk menguatkan dasarnya terlebih dahulu kemudian bertumbuh. Jika kita tidak sabar, maka kita akan merasa bahwa tanaman ini tidak berkembang. Ada tanaman yang ketika ditanam langsung memunculkan daun, namun jika akarnya tidak bertumbuh ia akan mati. Ada orang-orang yang sengaja menyuntikkan hormon ke pohon-pohonnya agar cepat berbunga dan berbuah, namun setelah beberapa waktu ia harus menebang pohon-pohon itu karena mengalami kebusukan akar dan tidak produktif lagi. Ini karena pohon-pohon itu dipaksa untuk berbuah sebelum waktunya. Segala hal yang dipaksakan dan tidak melalui proses pasti berakhir tidak baik. Segala hal yang alami itu lebih baik karena Tuhan sudah membuatnya demikian. Ini menyatakan kebesaran Tuhan dan kita tidak bisa mempermainkan karya-Nya.

Kolose 2:7, Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Oleh karena itu kita harus berakar. Seringkali kita harus berakar di tempat yang tidak baik dan kita tidak bisa memilih. Mungkin kita harus berakar di tempat yang kering, berbatu, dan tanah yang keras. Jika kita sungguh menuhankan Kristus dalam segala hal dan menghidupi firman-Nya, maka kita akan berakar. Terkadang di dalam situasi yang baik kita bisa berakar namun di dalam situasi yang buruk kita berhenti berakar. Ketika mengalami kebusukan akar, badai atau angin keras, pohon itu akan tumbang dengan sendirinya. Kita harus mengucap syukur jika dapat berakar dalam situasi yang sulit. Jika kita bertumbuh dalam Tuhan, maka kita akan bertumbuh dengan indah. Jadi mari kita mengoreksi dan mengevaluasi diri. Kapankah masa emas kita berakar, bergaul dalam Kristus, dan merenungkan firman-Nya serta menerapkannya dalam seluruh hidup kita? Ketika kita berakar di dalam Tuhan, itu pasti mengandung pengenalan sejati akan Allah. Ini karena ciri orang yang berakar dalam Tuhan adalah mengenal siapa Tuhan Allah yang sejati. Ketika kita mau berakar dalam Kristus, kita sedang menyatakan bahwa kita sedang membutuhkan Tuhan dan bukan sebaliknya. Kita butuh energi firman supaya kita bisa menjadi mercusuar iman, mengubah diri, dan mengubah orang-orang di sekitar kita. Semua itu bisa terjadi ketika kita berakar ke dalam firman Tuhan. Bagaimana supaya berakar di dalam firman Tuhan? Hal ini dapat dimulai dengan tekun membaca, menghafal dan merenungkan firman Tuhan. Ketika kita memaksimalkan kinerja otak kita melalui perenungan firman Tuhan sedikit demi sedikit firman Tuhan itu mengubah kita dan kita pun semakin berakar di dalam firman. Namun seringkali kita memakai otak kita hanya untuk keperluan diri sendiri demi kemuliaan diri. Akhirnya kita akan berakar pada ekonomi dan saat ekonomi kita gagal kita akan lari dari Tuhan. Jika kita berakar pada hal yang salah, maka kita hidup kita akan merana di masa sulit. Yeremia 17:5, Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Inilah orang yang tidak mengandalkan kuasa Tuhan. Jika kita tidak mengandalkan Tuhan, maka kita akan dibuang oleh Tuhan. Saat kita berakar dalam pengenalan sejati akan Kristus, hal ini akan menjadi penopang yang kokoh agar kita dapat berdiri teguh melawan teologi sesat, budaya fasik, dan semangat yang tidak memuliakan Tuhan.

Mengapa kita mudah tidak setia kepada Tuhan? Mengapa kita kurang tekun dalam pelayanan? Mengapa komitmen kita tidak meningkat untuk Tuhan? Karena kualitas akar kita dalam firman belum baik dan firman itu belum menjadi yang paling utama dalam hidup kita sehingga Kristus belum dengan sungguh-sungguh kita pandang sebagai Tuan (Lordship of Christ) atas hidup kita. Di saat itu kita menjadi orang Kristen yang tidak berbentuk, tidak berbuah, dan tidak meninggalkan jejak kaki Tuhan. Penginjilan seharusnya menjadi beban hati, komitmen, dan gaya hidup kita sehingga kita tidak hidup untuk diri sendiri. Jika kita terus menerus hanya berfokus pada diri sendiri, saat itulah kita hanya melayani diri sendiri dan berdosa. Orang yang berpusat pada diri akan jatuh pada dosa kesombongan. 1 Timotius 4:8, latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Memerhatikan kesehatan fisik itu baik, namun memerhatikan kesehatan rohani itu jauh lebih baik. Ada orang yang ketika sakit sedikit langsung mempertanyakan Tuhan, namun ada orang yang sakit keras malahan membesarkan Tuhan. Ini karena iman. Paulus sudah berdoa meminta agar duri dalam dagingnya diambil oleh Tuhan namun Tuhan tidak mengabulkan doanya (1 Korintus 12:7-9). Paulus menerima semua itu dan melayani Tuhan dengan lebih semangat dan lebih berjuang lagi. Iman mencerdaskan Paulus dalam membaca situasinya sehingga ia bisa melakukan terobosan iman. Ketika kita tidak beriman dalam menghadapi masalah, pada akhirnya kita akan dikalahkan oleh masalah. Setelah itu kita akan seperti dihantui oleh masalah dan pada akhirnya kita akan kehilangan sukacita dan semangat melayani Tuhan. Namun kita harus mengingat 1 Korintus 10:13, pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Orang yang berakar di dalam Tuhan itu harus memiliki terobosan iman meskipun berada di dalam kesulitan. Ada pohon-pohon tertentu yang akarnya terus bertumbuh dan menjalar ke bawah untuk menguatkan fondasinya sehingga pohon itu bisa berdiri kuat. Kita sebagai orang Kristen harus memiliki akar iman yang kuat dan tidak cepat mengeluh. Energi firman sudah diberikan untuk kita, maka kita harus membangun akar yang menerobos. Jika kita berdiri teguh, maka kita tidak akan dijatuhkan oleh badai kehidupan. Batang pohon mengalirkan nutrisi dari akar ke setiap daun. Ada yang disebut sebagai batang utama dan anak batang. Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Pohon anggur jika salah satu batangnya dipotong maka seluruh pohon akan kesakitan dan tidak mau berbuah lebat. Namun jika semua rantingnya dipotong, maka pohon itu akan berbuah lebat. Setiap tumbuhan memiliki karakternya sendiri. Ketika kita bertumbuh, batang utama itu harus diarahkan untuk kemuliaan Tuhan. Batang utama itu adalah panggilan kita yaitu bagaimana kita memuliakan Tuhan di muka bumi ini. Ketika kita bertumbuh, kita akan semakin berkarakter Kristus. Dari karakter ini kita akan mendapatkan identitas sebagai anak Tuhan.

Galatia 6:8, barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Hal yang rohani itu selalu berkaitan dengan Kerajaan Allah. Bagaimana dengan kualitas kasih kita kepada Tuhan dan sesama? Bagaimana dengan kualitas sukacita kita untuk hal-hal surgawi selama kita hidup? Sukacita yang terbesar adalah sukacita surgawi ketika kita menjangkau jiwa untuk kembali kepada Tuhan. Sukacita itu melebihi kenikmatan duniawi apa pun. Bagaimana dengan kualitas damai sejahtera kita? Damai sejahtera kita bukan diikat oleh situasi dan bersifat dari atas ke bawah (from above). Ketika kita sudah berdamai dengan Tuhan dan diri, kita juga harus berdamai dengan orang-orang di sekitar. Kita hadir sebagai pembawa damai (Matius 5:9). Bagaimana dengan kualitas kesabaran kita? Jika kesabaran kita adalah untuk jiwa-jiwa, maka itu kesabaran yang baik. Namun jika kesabaran kita berkaitan dengan kompromi terhadap dosa, maka itu tidak baik. Itu adalah kesabaran yang tidak memiliki nilai keadilan dan kemuliaan Tuhan. Akhirnya kita akan menjadi perusak. Kita tidak boleh sabar terhadap dosa. Tuhan kita sungguh pemurah namun Ia juga bisa marah. Nahum 1:3a TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah.

Yoel 2:12-32 mengajarkan kita tentang 3 jenis pertobatan: pertobatan individual, pertobatan komunal, dan pertobatan dengan hasil karena mendapatkan kemurahan dan janji Tuhan. Kita tidak hanya mengaku dosa secara individul tetapi juga komunal. Niniwe melakukan pertobatan komunal (Yunus 3:5-10). Ester berdoa secara pribadi bagi bangsa Israel (Ester 4:16). Mari kita mengoreksi diri. Saat kita bertumbuh, apakah karakter Kristus itu nyata dalam damai kita? Apakah kualitas kesabaran kita sudah mengandung damai dan memenuhi hidup kita? Apakah kualitas kemurahan dan pengorbanan kita sudah baik? Bagaimana dengan kualitas kebaikan dan kesetiaan kita? Sudahkah kita setia dalam menjalankan setiap perintah Tuhan? Bagaimana dengan kelemahlembutan kita? Orang yang lembah lembut itu adalah orang yang demi Tuhan ia cepat berubah, banyak meresapi firman, mau dibentuk dan dikoreksi. Bagaimana dengan pengendalian diri kita? Kita harus bertumbuh dan berkarakter Kristus serta meluaskan Kerajaan Allah di dunia ini serta mementingkan ajaran yang sehat. Jika kita melakukan ini maka kita sesungguhnya adalah gereja yang sehat. Dalam buku “9 Tanda Gereja yang Sehat” oleh Mark Dever menyatakan 4 dari 9 itu berkenaan dengan kebangkitan atau kebangunan iman. Jemaat harus mencintai kebenaran, jiwa-jiwa, bermandat budaya dan meneladani Kristus di dalam segala hal. Kita bisa bersusah payah membentuk karakter anak dengan baik di rumah namun karakternya bisa dengan mudah dirusak oleh lingkungan buruk di luar. Saat kita bertumbuh, gereja yang sehat adalah tempat yang baik untuk kita berakar, bertumbuh dan berbuah.

Apakah kita bertumbuh seperti pohon yang mendatangkan kenyamanan? Pohon yang rindang dapat menjadi perteduhan bagi orang-orang dari panas terik matahari. Karakter kita harus seperti karakter Tuhan yaitu mendatangkan kebaikan dan kemurahan. Jika ini kita miliki maka orang yang mendekat kepada kita akan merasakan kenyamanan dan damai. Pohon yang baik memberikan oksigen bagi kita. Kita harus menjadi seperti pohon yang menjadi berkat bagi orang lain. Jika akar dan pertumbuhan kita beres, maka buah kita akan beres. (1) Kita mempunyai buah perubahan karakter. Tuhan akan mengubah karakter kita yang buruk dan hasilnya akan bisa diukur. Perubahan yang sejati adalah karena firman Tuhan dan bukan karena kekuatan diri. Setelah kita berubah, kita akan menjadi agen perubahan dimanapun kita berada. (2) Kita mempunyai buah hidup yang berkaitan dengan studi, pekerjaan, dan lainnya. Kita sebagai orang Kristen harus menjadi orang yang bisa diandalkan. Jika ada orang yang mengaku Kristen namun tidak berbobot, maka ada yang salah. Ada orang yang tidak beriman namun berbobot. Ada pula yang tidak beriman dan tidak berbobot. Kita harus menjadi orang Kristen yang beriman, berbobot, dan berhikmat. Buah hidup kita harus bisa dinikmati oleh orang lain. Jika kita ingin seperti ini, maka kita harus melekat pada pokok anggur itu yaitu Kristus. Ketika kita tidak berbuah, kita akan dipotong, dan jika kita masih tidak mau berbuah maka kita akan dibuang. Sumber kekuatan perubahan kita adalah Kristus dan firman-Nya. (3) Kita mempunyai buah iman. Ini adalah buah yang kekal. Buah iman ini adalah penginjilan. Doa kita yang diperkenan oleh Tuhan bukanlah doa meminta hal fisik tetapi doa untuk perubahan diri agar menghasilkan buah yang kekal. Itulah doa yang pasti dikabulkan oleh Tuhan. Mari kita berdoa untuk gereja kita agar terus berbuah dalam karakter, hidup, dan iman untuk menjangkau jiwa. Jika kita mau senantiasa meneteskan air mata rohani bagi jiwa-jiwa, maka Tuhan bisa memberikan kita banyak jiwa di gereja ini. Gereja yang sehat adalah gereja yang tidak hanya memelihara tetapi juga menjangkau jiwa. Mari kita kobarkan semangat mau berkorban demi gereja Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami