Be Anxious for Nothing

Be Anxious for Nothing

Categories:

Bacaan alkitab: Filipi 4:6-7; Mazmur 42:5

 

Pendahuluan

            Tidak ada orang yang tidak pernah khawatir. Mungkin ada di antara kita yang penuh dengan kekhawatiran. Tema yang akan dibahas adalah ‘be anxious for nothing’. Kita akan melihat apa kata Alkitab mengenai kekhawatiran. Setiap orang mempunyai kekhawatiran masing-masing yang berbeda-beda. Anak muda bisa khawatir mengenai pasangan hidup dan orang yang lanjut usia memiliki kekhawatirannya sendiri. Bagaimana orang Kristen seharusnya bersikap ketika menghadapi kekhawatiran sesuai dengan perkataan Allah?

 

Pembahasan

            Filipi 4 adalah pasal terakhir dari surat Filipi. Paulus mengakhiri surat Filipi dengan sebuah dorongan agar mereka tidak khawatir (NIV: be anxious for nothing). Sebenarnya kalimat ini bukanlah hanya dorongan tetapi juga perintah. Dalam versi bahasa Indonesia kalimat ini terlihat seperti dorongan, namun dalam bahasa Yunani jelas bahwa ini adalah kalimat perintah. Paulus menulis kalimat ini dalam bentuk present tense prohibition. Bentuk kalimat seperti ini dipakai untuk menyuruh pembaca agar berhenti melakukan apa yang sedang dilakukannya. Kepada orang yang sedang berjalan-jalan, kalimat ini bisa berbunyi ‘janganlah berjalan-jalan’. Bentuk kalimat ini bukanlah kalimat spekulatif, abstrak, atau imajinatif. Jadi Paulus bukan tidak tahu bahwa jemaat sedang khawatir lalu menulis kalimat larangan itu. Present tense berarti sesuatu sedang terjadi di depan mata kita dan prohibition berarti kita menyuruh orang itu untuk berhenti melakukannya. Jika seorang anak sedang berjalan-jalan di jam sekolah, kita bisa menggunakan bentuk ini dengan berkata ‘jangan berjalan-jalan’. Ketika seorang guru menegur para siswanya ‘jangan ribut’, ini juga adalah kalimat present tense prohibition. Ketika Paulus berkata agar jemaat Filipi jangan khawatir, sebenarnya itu berarti jemaat Filipi sedang khawatir. Paulus bisa membaca kondisi jemaat tersebut yang sedang khawatir. Ini seolah-olah Paulus sedang berdiri di hadapan mereka, menatap mata mereka, dan menyuruh mereka agar berhenti khawatir.

 

Kekhawatiran jemaat itu begitu nyata. Apa yang mereka sedang khawatirkan? Kekhawatiran pasti berhubungan dengan suatu hal atau sebab. Tidak ada orang yang tiba-tiba khawatir tanpa ada alasan apapun. Orang yang tiba-tiba khawatir tanpa alasan yang jelas mungkin saja sedang kelaparan atau mulas. Dari ayat ke-6 kita tidak bisa langsung mengetahui jawabannya, namun dari ayat ini kita bisa mengetahui bahwa jemaat Filipi sedang mengkhawatirkan banyak hal. Dalam ayat itu, kata ‘apapun’ itu merujuk kepada bentuk jamak, bukan tunggal. Kekhawatiran mereka mencakup berbagai hal. Jika hanya 1 hal, maka Paulus akan menulis ‘jangan khawatir akan hal itu’. Dari berbagai hal ini, setidaknya ada 3 hal yang mereka khawatirkan. Kita bisa melihat 3 hal ini dalam bagian lain surat Filipi yaitu pada pasal-pasal sebelumnya. Hal pertama adalah keadaan Paulus. Paulus menulis surat ini ketika ia sedang berada di dalam penjara. Jemaat Filipi adalah jemaat pertama yang didirikan oleh Paulus. Mereka memiliki relasi yang khusus dengan Paulus. Hanya dalam surat inilah Paulus menyatakan kerinduannya dengan kasih mesra (1:8). Tidak ada surat Paulus yang lain yang memiliki pesan seperti ini. Kasih mesra dalam terjemahan lain bisa berarti holy affection. Jika dibandingkan dengan surat Korintus, maka surat Korintus penuh dengan teguran dan kemarahan Paulus. Surat Efesus yang dituliskan dengan begitu indah pun tidak mengandung kalimat mesra seperti dalam surat Filipi. Di dalam penjara, jemaat pertama yang dirindukan Paulus adalah jemaat Filipi. Ini karena jemaat Filipi adalah yang pertama yang didirikan oleh Paulus. Dalam Kisah Para Rasul 16:13-40, ketika Paulus dipanggil untuk melayani orang non-Yahudi, kota pertama yang dilayaninya adalah kota Filipi. Di sana ia bertemu dengan Lydia, seorang penjual kain ungu dari Tiatira. Rumah Lydia kemudian menjadi tempat berbakti mula-mula. Itulah cikal bakal gereja Filipi.

 

Dari Filipi, Paulus kemudian melayani di Tesalonika (Kisah Para Rasul 17:1-9). Dalam bagian akhir surat Filipi (4:16), kita mengetahui bahwa jemaat Filipi-lah yang membiayai pelayanan Paulus di Tesalonika. Paulus mengucap syukur atas hal itu. Jemaat Filipi juga sempat mendengar bahwa Paulus ditangkap di Yerusalem. ‘Mendengar’ pada zaman itu tidaklah seperti pada zaman sekarang. Pada saat itu setelah mereka mendengar, mereka harus memeriksa sendiri kebenarannya. Mungkin saat itu mereka mendengar bahwa penginjil yang ditangkap adalah seorang yang berbadan pendek dan berkepala botak sehingga mereka berpikir bahwa itu Paulus. Para arkeolog menyatakan bahwa Paulus itu berbadan pendek dan berkepala botak. Ada yang dengan bercanda menyatakan kebotakan Paulus itu disebabkan oleh kerajinannya dalam berpikir. Agripa berkata bahwa Paulus itu gila karena banyak ilmunya (Kisah Para Rasul 26:24). Ketika mereka mendengar rumor bahwa Paulus ditangkap, jemaat Filipi merasa khawatir. Saat itu Paulus sedang sakit ketika ia menyatakan ‘duri dalam daging’. Hal ini diketahui oleh jemaat Filipi dan mereka khawatir. Paulus tidak hanya dipenjara, ia juga sedang sakit. Di dalam penjara Paulus tidak mendapatkan perawatan. Ini membuat jemaat filipi semakin khawatir. Paulus mengetahui kekhawatiran mereka, maka ia menulis pembukaan surat Filipi dengan tema sukacita untuk menenangkan mereka agar tidak khawatir lagi. Paulus menyatakan bahwa dirinya sedang bersukacita dan sedang tidak khawatir dengan dirinya sendiri agar jemaat tidak khawatir. Ada pesan-pesan penting lainnya yang Paulus ingin tuliskan kepada mereka, namun ia menyatakan sukacitanya terlebih dahulu. Paulus menyatakan dirinya bukan hanya senang tetapi bersukacita (joyful). Meskipun sedang dipenjara, Paulus tetap merasa bersukacita.

 

Kedua, mereka mengkhawatirkan kondisi Epafroditus. Ketika jemaat mendengar bahwa Paulus dipenjara, jemaat Filipi mengirimkan seseorang yang bisa menjadi perawat bagi Paulus di penjara yaitu Epafroditus. Sebelum Paulus dipenjara, mereka sering mengirimkan uang untuk mendukung pelayanan Paulus. Setelah ia dipenjara, ia berhenti bergerak dari kota ke kota dan Paulus membutuhkan perawat di penjara. Orang yang dipenjara di zaman itu boleh meminta perawat namun harus membayarnya sendiri. Ia juga boleh meminta ruang tahanan sendiri tetapi harus membayarnya. Namun Paulus bukanlah seorang pengusaha yang memiliki uang, jadi ia tidak mungkin membayar semua itu sendiri. Maka dari itulah jemaat Filipi mengutus Epafroditus untuk merawat Paulus. Syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa menjadi perawat pribadi adalah orang itu harus menjadi budak bagi orang yang dirawatnya. Jadi Epafroditus menyatakan diri sebagai budak Paulus di hadapan penjaga penjara. Bisa saja ia merupakan orang merdeka namun demi Paulus ia rela disebut sebagai budaknya. Namun Epafroditus jatuh sakit di penjara itu seperti tertulis dalam Filipi 2:25-27. Epafroditus sudah sampai di penjara dan merawat Paulus, namun kemudian ia sakit dan hampir meninggal. Jadi orang yang diutus untuk merawat Paulus malah jatuh sakit dan bahkan nyaris meninggal. Kondisi penjara saat itu memang cukup berat sehingga ia tidak tahan. Paulus bisa menahannya namun Epafroditus tidak. Jemaat Filipi mendengar kabar ini dan mereka mengkhawatirkan Epafroditus yang nyaris meninggal. Mungkin penyakit yang dideritanya adalah paru-paru basah karena kondisi penjara yang lembap atau penyakit pes karena di dalam penjara ada banyak tikus. Kebersihan di dalam penjara pasti kurang diperhatikan. Ini adalah penyakit yang mematikan pada saat itu karena belum ada pengetahuan yang cukup dan obat yang tepat. Ini adalah penyakit yang sering ada di dalam penjara.

 

Ketiga, mereka mengkhawatirkan diri mereka sendiri. Pada zaman itu mereka menghadapi perlawanan dari orang-orang Filipi yang belum percaya. Jemaat Filipi adalah minoritas di dalam kota itu. Sebelum menjadi Kristen, mereka tenggelam dalam kehidupan masyarakat Filipi. Namun setelah menerima Injil, mereka hidup secara berbeda dan tidak ikut dengan masyarakat pada umumnya yang belum percaya. Hidup mereka begitu berbeda dengan hidup masyarakat sekitar. Jadi orang-orang yang dahulu dekat dengan mereka menjadi jauh bahkan anti sejak iman mereka berubah. Mungkin saat itu belum terjadi penganiayaan secara fisik, namun mereka dikucilkan, diejek, dan didiskriminasi. Filipi adalah kota yang berisi banyak orang kaya. Kota ini bisa disejajarkan dengan kota New York di Amerika. Sebagian besar penduduk Filipi adalah pedagang. Hanya orang kaya yang tinggal di Filipi. Jemaat pertama di Filipi, yaitu penjual kain ungu, adalah orang yang kaya. Kain ungu pada zaman dahulu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya atau berstatus tinggi seperti raja. Jadi ketika seseorang berjalan dengan kain ungu, maka masyarakat akan tahu bahwa itu adalah orang kaya. Pewarna ungu pada zaman dahulu sangat terbatas dan sulit didapatkan. Warna ungu pada saat itu hanya bisa dihasilkan dari sejenis siput. Jadi dalam masyarakat Filipi itu ada banyak orang yang kaya dan berposisi misalnya pedagang, pejabat, dan birokrat. Hanya merekalah yang bisa tinggal di Filipi. Saking kayanya, kaisar Roma memberikan penduduk Filipi kewarganegaraan Romawi. Mereka bukan orang Romawi asli, namun mereka mendapatkan itu dari Kaisar karena kekayaan mereka. Mereka menjadi aset kaisar. Ini mirip seperti orang Yahudi kaya yang tinggal di Amerika. Orang Yahudi kaya yang pergi ke Amerika akan langsung diberikan hak untuk menjadi warga negara. Mereka menjadi aset Amerika. Sebagian profesor di Harvard dan orang penting di Wall Street adalah orang Yahudi. Ini berbeda dengan kondisi orang miskin dari kebangsaan lain yang ingin pergi ke Amerika. Mereka sulit sekali mendapatkan visa, apalagi jika mereka beragama tertentu atau memiliki nama yang mirip dengan orang dari suku atau kebangsaan tertentu. Jadi orang Filipi itu sangat kaya, memiliki kewarganegaraan Romawi, dan sangat mudah mendapatkan posisi di pemerintahan. Namun orang Filipi yang telah menerima Kristus mengalami penghinaan dan diskriminasi. Inilah 3 kekhawatiran jemaat Filipi.

 

Setiap orang pasti mengalami kekhawatiran. Apakah yang kita sedang khawatirkan saat ini? Tidak mungkin ada orang yang tidak pernah khawatir. Kekhawatiran tidak memandang jenis kelamin, suku, dan status sosial dan ekonomi. Semua orang bisa khawatir atau mengalami kekhawatiran. Apakah salah jika seseorang khawatir? Ada yang mengkhawatirkan hasil pertandingan bola karena hasilnya belum dinyatakan. Kekhawatirannya baru hilang setelah hasilnya dinyatakan, namun kemudian ketakutan bisa muncul. Orang Kristen pun bisa khawatir. Apa yang sedang kita khawatirkan? Kita masing-masing mengetahuinya. Apakah kekhawatiran itu adalah hal yang salah? Jika semua orang bisa khawatir, maka bukankah kekhawatiran itu adalah hal yang manusiawi? Jika demikian maka mengapa Paulus berkata: jangan khawatir? Apakah Paulus tidak manusiawi? Yesus juga berkata jangan khawatir akan apapun. Bukankah ini sebuah tuntutan yang berat untuk dijalani? Manakah yang kita ikuti: Firman Tuhan atau mayoritas orang yang khawatir? Saking banyaknya jumlah orang yang khawatir sampai kekhawatiran itu dianggap sebagai tanda kehidupan seseorang. Kita mengetahui Firman Tuhan yang telah berkata bahwa kita tidak boleh khawatir akan apapun juga. Tuhan tidak menyatakan bahwa kita tidak boleh khawatir akan suatu hal yang spesifik tetapi akan apapun juga. Apakah Alkitab berpikir bahwa kita adalah malaikat? Apakah Alkitab kurang mengerti akan manusia yang bisa khawatir? Apakah kekhawatiran itu memang salah?

 

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita harus membedakan antara concern (peduli) dan anxious (khawatir). Seorang ibu yang melihat bahwa anaknya tidak pulang selama berhari-hari pasti akan khawatir. Apakah ibu ini tidak taat kepada Firman Tuhan? Ketika kita mendengar hal ini, kita pasti memuji ibu ini karena memang seharusnya seorang ibu bersikap seperti itu. Seorang ibu harus peduli kepada anaknya. Jika pasangan kita tidak pulang selama 1 bulan, lalu ketika kita ditanya kita menjawab tidak khawatir, maka ini adalah hal yang aneh atau tidak wajar. Sudah sepantasnya seorang suami peduli pada istrinya yang tidak pulang. Seorang siswa yang peduli pada masa depannya pasti akan belajar dengan rajin agar nilainya baik. Jika ia tidak peduli akan nilainya, maka pasti orang tuanya dan gurunya akan kebingungan. Kita harus membedakan antara peduli dan khawatir. Kita harus peduli pada masa depan dan keluarga kita. Itu bukanlah kekhawatiran (anxious) tetapi peduli (concern). Dalam bahasa Yunani, kata ‘peduli’ dan ‘khawatir’ menggunakan kata yang sama yaitu ‘merimnate’. Ketika Yesus berkata jangan khawatir, istilah yang dipakai adalah merimnate. Paulus memikirkan atau peduli (merimnate) dengan jemaat Filipi, namun ia meminta agar jemaat tidak khawatir (merimnate). Kata Yunani yang dipakai itu sama. Apa maksudnya ini? Apakah Paulus tidak konsisten? Kata ini bisa berarti peduli dan juga bisa berarti khawatir. Jadi Paulus peduli dan bukan khawatir. Paulus menulis: dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat (2 Korintus 11:28). Dalam NIV ditulis: Besides everything else, I face daily the pressure of my concern for all the churches. Ada kata concern yang diterjemahkan LAI sebagai ‘urusan’. Dalam bahasa Yunani, kata ini adalah merimnate. Paulus peduli kepada semua jemaat.

 

Jadi, sebelum menjawab pertanyaan apakah khawatir itu salah, kita harus membedakan antara peduli dengan khawatir. Kepedulian adalah hal yang baik karena itu mendorong kita untuk mempersiapkan diri dan menunjukkan bahwa kita mengasihi orang lain. Jika kita mengasihi maka kita pasti peduli. Jika kita peduli maka kita pasti memikirkan kondisi orang yang kita pedulikan. Di dalam relasi kasih harus ada kepedulian dan itu adalah hal yang baik. Alkitab tidak melarang kita untuk peduli tetapi melarang kita untuk khawatir. Kekhawatiran adalah kepedulian yang berlebihan. Jemaat Filipi mengalami ini. Seorang penafsir Perjanjian Baru bernama Walter Hansen mengatakan: from genuine concern, to being overly concerned, and distressed by their concern. Inilah gambaran jemaat Filipi menurutnya. Kepeduliaan adalah pintu masuk bagi kekhawatiran. Jika kita tidak pernah peduli maka kita tidak akan pernah khawatir. Jika kita peduli maka kekhawatiran itu tidak bisa dihindari. Kita tidak mungkin tidak peduli akan apapun dan siapapun juga. Kita harus peduli meskipun kepedulian itu juga merupakan pintu masuk bagi kekhawatiran. Semua dimulai dari genuine concern, lalu itu bisa berubah menjadi overly concerned, dan pada akhirnya menjadi distressed by their concern. Ketika kepedulian itu menekan kita, maka sebenarnya kepedulian itu sudah berubah menjadi kekhawatiran. Kita bisa peduli pada cuaca, namun jika kita sampai tidak mau keluar kemanapun karena takut hujan, maka kepedulian itu sudah berubah menjadi kekhawatiran. Kita bisa peduli pada kesehatan sehingga kita mengontrol makanan kita, namun jika kita pada akhirnya tidak berani memakan apapun juga, maka kita sebenarnya sudah khawatir. Kita bisa peduli dengan kandungan pengawet pada suatu makanan, namun orang yang khawatir pasti akan ketakutan dan berpikir bahwa bisa saja penjual itu berbohong tentang kandungan pengawet itu sehingga akhirnya ia tidak membeli makanan apapun juga. Orang yang peduli pada masalah pasangan hidup bisa menjadi khawatir ketika ia menjadi takut untuk menjalin relasi dengan siapapun juga.

 

Kepedulian membuat kita bersiap-siap namun kekhawatiran membuat kita lumpuh. Seorang ibu yang dinyatakan menderita penyakit yang berat pasti akan bersiap-siap jika ia peduli. Namun jika ia khawatir maka ia pasti berpikir ‘saya pasti mati’ dan tidak mau melakukan apapun juga. Alkitab melarang kekhawatiran karena kekhawatiran mencekik kerohanian seseorang dan membuatnya sulit bertumbuh. Jangan sampai kita menganggap kekhawatiran sebagai hal yang normal atau manusiawi. Salah satu alasan seseorang tidak bisa bertumbuh adalah karena kerohaniannya dicekik oleh kekhawatiran. Kerohanian kita tidak bisa bernafas karena kekhawatiran mencekiknya. Dalam perumpamaan seorang penabur (Matius 13:22), benih ketiga jatuh di tengah semak duri. Orang itu mendengar Firman Tuhan namun kekhawatiran dan tipu daya kekayaan menghimpit (choke/mencekik) benih Firman Tuhan itu sehingga orang itu tidak berbuah. Ada orang Kristen yang tidak bertumbuh dalam waktu yang lama karena ia tidak bisa menghadapi kekhawatirannya. Beberapa tahun yang lalu, WHO menetapkan kekhawatiran yang berlebih (anxiety disorder) sebagai penyakit mental atau jiwa. Pengguna antidepresan terbanyak adalah penduduk Amerika. Orang-orang berkata bahwa kehidupan di Amerika itu lebih baik daripada banyak negara lain, namun hasil suvei mengatakan bahwa pengguna antidepresan terbanyak adalah penduduk Amerika. Negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi adalah Amerika. Negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi adalah Indonesia menurut survei PBB. Jadi ada paradoks di sini. Kehidupan memang sulit di Indoensia namun penduduknya mengalami kebahagiaan. Kekhawatiran tidak hanya berbicara mengenai mental tetapi juga spiritual. Kekhawatiran mencekik kerohanian kita. Kekhawatiran itu membuat kerohanian kita seperti masuk ke dalam ruangan sempit yang seiring waktu menjadi semakin sempit namun kita tidak bisa keluar dari sana. Ini karena kita tidak menghadapi kekhawatiran itu dengan benar. Oleh karena itu Yesus dan Paulus mengajarkan agar kita tidak khawatir.

 

Bagaimana kita dapat mengatasi kekhawatiran? Perintah ini mudah untuk dikatakan namun sulit untuk dijalankan jika kita tidak tahu solusinya. Solusinya adalah berdoa. Dalam ayat ke-6 dituliskan ‘be anxious for nothing, but in every situation, by prayer and petition, with thanksgiving, present your requests to God’ (NIV). Jadi kita tidak boleh khawatir akan apapun juga tetapi kita harus berdoa untuk apapun juga. Doa adalah obat bagi kekhawatiran. Seorang penafsir Perjanjian Baru bernama Maxie Dunnam berkata: the way to be anxious of nothing is to be prayerful about everything. Jika kita memiliki waktu untuk khawatir, maka kita seharusnya memiliki waktu untuk berdoa. Seringkali daftar kekhawatiran kita itu lebih panjang daripada daftar doa kita. Kita tidak perlu bingung dengan apa yang seharusnya kita doakan karena segala hal yang kita khawatirkan bisa menjadi pokok doa. Jadi kita harus berdoa sebanyak atau bahkan lebih banyak daripada kekhawatiran kita. Oleh karena itu kita harus rajin berdoa dan rajin bersekutu bersama-sama dalam persekutuan doa gereja. Orang yang penuh kekhawatiran akan sulit tidur. Daripada tetap khawatir, seharusnya kita berdoa.

 

Kekhawatiran itu terjadi karena kita berpikir bahwa kita adalah tempat terakhir untuk bersandar ketika menghadapi masalah. Kita sering berpikir ‘jika bukan saya yang menghadapi masalah ini, maka siapa lagi yang bisa menghadapinya?’ Kita seringkali bisa khawatir karena hal kecil. Kita berpikir bahwa ketika diri kita tidak sanggup, maka tidak ada lagi jalan keluar bagi kita. Ini adalah cara berpikir yang salah. Kekhawatiran itu muncul karena keegoisan kita. Ketika kita tidak bisa menghadapi kekhawatiran itu, kita tidak mencari solusi dari Allah karena keegoisan kita. Jadi solusi bagi kekhawatiran adalah menjadikan Allah tempat bersandar kita dengan sikap jujur dan rendah hati. Kita bisa membawa kekhawatiran itu kepada Tuhan melalui doa karena kita adalah makhluk yang lemah. Kekuatan orang Kristen sebenarnya adalah lututnya. Kita tidak dituntut untuk menghadapi masalah dengan berdiri tetapi dengan berlutut. Di sana kita menyatakan bahwa diri kita tidak mampu dan bahwa Tuhan mampu. Namun seringkali kita lebih memakai waktu kita untuk khawatir daripada berdoa.

 

Ucapan syukur kita juga seringkali jauh lebih pendek daripada doa permohonan kita. Kita sering berdoa ‘terima kasih untuk semuanya’ namun kita menaikkan permohonan kita secara detail yaitu menyebutkan permohonan kita satu persatu. Seharusnya kita mengucap syukur atas segala hal satu persatu. Paulus menulis ‘dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur’. Apa kaitan antara kekhawatiran dengan ucapan syukur? Dalam pengucapan syukur kita mengingat kembali kebaikan Tuhan kepada kita. Di sana kita mengingat bahwa bukan sekali ini saja Tuhan sudah menyatakan kebaikan-Nya kepada kita tetapi bahwa Tuhan itu baik dari awal sampai saat ini. Kita akan sadar bahwa persoalan yang kita alami saat ini tidak akan bisa meniadakan seluruh kebaikan Tuhan dari awal sampai sekarang. Kita seharusnya berkata ‘Tuhan sudah bertahun-tahun baik kepada saya, maka akan memalukan jika saya khawatir karena 1 masalah ini’. Doa membuat kita melihat kepada Tuhan dan melupakan kekhawatiran kita. Allah menjawab kekhawatiran kita dengan memberikan damai sejahtera. Doa akan menghasilkan damai sejahtera (NIV, Filipi 4:6-7). Damai sejahtera itu bagaikan angin sepoi di dalam kekeringan. Saat kekhawatiran mencekik kita, Tuhan memberikan angin sepoi-Nya yaitu damai sejahtera. Allah menjawab kekhawatiran kita bukan dengan menyelesaikan masalah-masalah kita tetapi dengan memberikan damai sejahtera bagi hati dan pikiran kita. itulah janji Tuhan. Tuhan tidak pernah berjanji untuk menyelesaikan semua masalah kita.

 

Kita akan bisa menemukan solusi ketika kita berpikir dengan jernih. Setajamnya manusia berpikir pasti tidak akan bisa berpikir jernih ketika sedang khawatir. Mengapa banyak orang pintar pernah mengambil jalan yang salah? Banyak orang pintar tidak bisa berpikir jernih karena kekhawatiran. Kita tidak bisa beradu pintar dengan kekhawatiran karena kekhawatiran melumpuhkan kepintaran kita. Kelumpuhan itu diatasi dengan angin segar dari Allah, yaitu damai sejahtera-Nya yang membuat kita bisa bernafas kembali. Tidak ada kepintaran yang bisa mengalahkan kekhawatiran. Kekhawatiran itu menunggangi pikiran kita sehingga pikiran kita tidak bisa mengalahkan kekhawatiran itu. Ada seorang muda yang dahulu begitu aktif dalam pelayanan namun pada akhirnya menikah dengan seorang yang berbeda imannya. Adik-adik kelasnya yang Kristen menjadi bingung karena hal ini. Ternyata saat itu dia sedang khawatir akan pasangan hidup sampai ia bersedia untuk menikahi orang yang berbeda iman. Ia berpikir bahwa pasangan yang berbeda iman itu adalah kesempatan terakhir baginya. Kekhawatiran adalah pintu masuk bagi dosa. Ketika anak muda itu khawatir tidak bisa menemukan pasangan hidup, ia akhirnya menikah dengan orang yang berbeda iman. Orang yang takut tidak bisa kaya akhirnya jatuh pada dosa korupsi. Orang yang takut tidak bisa masuk ke surga pada akhirnya akan menjadi teroris. Seseorang yang miskin dan tidak memiliki pengharapan di dunia bisa menjadi teroris ketika ia dijanjikan kepastian untuk masuk surga. Masihkah kita berkata bahwa kekhawatiran itu hal yang normal atau wajar? Kekhawatiran adalah pintu masuk dosa. Kita sendiri mungkin pernah mengalaminya. Semakin besar kekhawatiran kita, semakin lebar pula pintu masuk dosa itu. Kita menghadapi kekhawatiran bukan dengan positive thinking tetapi dengan doa.

 

Penutup

Apakah yang harus kita lakukan saat khawatir? Do not worry but worship, do not panic but pray. Time of worry is time to worship. Itulah sebabnya dalam Mazmur 42:5 dikatakan: Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. Saat pemazmur ini khawatir, hal pertama yang diingatnya adalah rumah Allah. Ini adalah solusi yang begitu sederhana dan praktis. Saat kita khawatir, itu adalah alasan yang tepat untuk bergereja, bukan sebaliknya. Justru saat kita mengalami kekhawatiran, kita harus mencari Tuhan. Kita selalu membutuhkan Tuhan. Yesus berkata: Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (Matius 18:20). Ada orang yang berpikir untuk menyelesaikan semua permasalahannya terlebih dahulu sebelum ke gereja. Ini adalah konsep yang salah karena hanya Tuhan yang bisa membawa kita melewati semua pergumulan. Banyak pemimpin ibadah dalam persekutuan kampus sering berkata bahwa kita harus menanggalkan semua masalah dan beban kita sebelum menghadap Tuhan. Ini berbeda dengan perkataan Tuhan: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan (Matius 11:28-30). Banyak orang berpikir bahwa jemaat yang tidak bernyanyi di dalam ibadah itu berarti sedang berbeban berat dan tidak boleh menghadap Tuhan. Ini juga adalah pikiran yang salah. Sebenarnya kita tidak bisa meletakkan beban kita sendiri, oleh karena itu kita membutuhkan Tuhan. Ada orang-orang yang tidak bisa berdoa dan bernyanyi karena bebannya begitu berat. Mereka hanya bisa menangis. Ada waktu untuk itu di hadapan Tuhan. Mari kita menghadapi kekhawatiran bukan dengan kekuatan kita tetapi dengan mengandalkan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Bitnami