Allah Merendahkan Hati Umat-Nya

Allah Merendahkan Hati Umat-Nya

Categories:

Bacaan alkitab: Ulangan 8:1-6

 

Bagian ini menceritakan kisah ketika bangsa Israel sedang mengembara di padang gurun. Tuhan memimpin bangsa Israel seperti ini untuk memberikan suatu pelajaran rohani bagi mereka dan bagi kita pada saat ini. Dari kitab Bilangan, kita mengetahui bahwa bangsa Israel sudah dipimpin oleh Tuhan keluar dari Mesir. Mereka berjalan menuju gunung Sinai dan dipimpin oleh Tuhan sampai menuju tanah Kanaan. Ketika mereka akan menyerang penduduk Kanaan, mereka mengirim 12 pengintai (Bilangan 13-14). 10 pengintai menyatakan bahwa penduduk Kanaan itu besar dan kuat sehingga mereka yakin bahwa mereka pasti akan kalah. Secara fisik, bangsa Israel lebih kecil badannya dan tidak memiliki senjata perang secanggih orang-orang Kanaan. Di sana 10 pengintai dan bangsa Israel menjadi pesimis terhadap Tuhan dan Musa. Mereka berpikir bahwa Tuhan dan Musa hanya ingin membunuh mereka di tanah Kanaan. Mereka mempertanyakan motivasi Tuhan dan Musa. Namun 2 pengintai, yaitu Yosua dan Kaleb, berpendapat lain. Mereka tahu bahwa Tuhan sudah memberikan janji kemenangan atas Kanaan sehingga mereka tetap optimis. Namun bangsa Israel lebih percaya kepada berita dari 10 pengintai itu. Mereka berpikir bahwa lebih baik mereka menjadi budak di Mesir daripada dibunuh di Kanaan. Tuhan marah dan menghukum mereka sehingga mereka harus berjalan di padang gurun selama 40 tahun. Tuhan mau generasi pada saat itu tidak masuk ke tanaah Kanaan, namun Tuhan mau generasi selanjutnya masuk dan menduduki tanah Kanaan. Musa kemudian juga melawan perintah Tuhan dan tidak diizinkan masuk ke Kanaan. Yosua-lah yang kemudian menjadi pemimpin yang membawa Israel masuk dan memerangi Kanaan.

 

Pemberontakan terhadap Tuhan itu begitu keji di mata Tuhan sampai mereka harus berjalan di padang gurun selama 40 tahun. Namun ada hal lain selain hukuman yang kita bisa lihat dari 40 tahun perjalanan di padang gurun itu. Di satu sisi, memang itu adalah hukuman, namun di sisi lain ada suatu pesan atau pelajaran yang Tuhan mau berikan kepada umat-Nya saat itu dan kepada kita pembaca Alkitab hari ini. Dalam ayat pertama dinyatakan bahwa bangsa Israel harus setia menjalankan perintah Tuhan. Dalam ayat ini kita bisa melihat bahwa Tuhan masih setia dengan perjanjian-Nya. Hukum Taurat menyatakan janji berkat bagi ketaatan dan janji kutuk bagi ketidaktaatan. Dalam Ulangan 8:1 janji tersebut dinyatakan kembali. Di sini kita melihat kesetiaan Tuhan terhadap perjanjian-Nya. Dalam bahasa Ibrani ada istilah hesed yang berarti covenant faithfulness (kesetiaan terhadap perjanjian). LAI menerjemahkan kata ini sebagai ‘kasih setia’. Kata ini sulit diterjemahkan karena tidak ada pengertian ini dalam kamus bahasa Indonesia, maka LAI memakai kata ‘kasih setia’. Pada prinsipnya menyatakan bahwa ketika Tuhan sudah berjanji maka Tuhan pasti akan menepati janji-Nya. Masalahnya adalah kita percaya kepada-Nya atau tidak. Tuhan sebelumnya sudah membuat Israel menyaksikan kekuasaan Tuhan ketika ia menyatakan 10 tulah atas Mesir (Keluaran 7-12). Ketika bangsa Israel mengingat peristiwa ini, seharusnya mereka tetap optimis ketika Tuhan akan memimpin mereka masuk ke tanah Kanaan. Dari 10 tulah itu mereka sudah belajar tentang kuasa Tuhan yang begitu besar, yang tidak bisa ditandingi siapapun juga. Mereka seharusnya yakin bahwa orang-orang Kanaan pasti akan kalah seperti Firaun dan penduduk Mesir. Namun bangsa Israel telah melupakan apa yang Tuhan pernah kerjakan dan melupakan kesetiaan Tuhan sehingga mereka menjadi tidak setia. Musa mengajarkan bahwa Tuhan pasti setia menepati janji-Nya seperti Ia sudah menepati janji-Nya di masa lampau. Jadi sebagai orang percaya, kita harus melihat kepada kesetiaan Tuhan. Apa dasar bagi kita untuk kita bisa setia dalam hal apapun (keluarga, pekerjaan, studi, dan lainnya)? Dasar kita adalah Tuhan yang senantiasa setia kepada kita. Kita harus menjadikan kesetiaan Tuhan sebagai teladan di dalam hidup kita.

 

Dalam bagian kedua Musa menyatakan bahwa mereka harus mengingat perjalanan di padang gurun yang mereka lakukan selama 40 tahun. Apa yang mereka bisa lakukan di padang gurun selama 40 tahun? Di sana tidak ada mal, taman, tempat hiburan, atau apapun juga. Mereka hanya bisa melihat debu, batu, dan pasir serta sedikit tanaman. Kendati demikian, perjalanan itu begitu berharga dan Tuhan mau mereka mengingat perjalanan itu. Ada pekerjaan Tuhan di padang gurun itu selama 40 tahun untuk membangun identitas Israel. Kita bisa saja melihat perjalanan itu sebagai hukuman yang harus bangsa Israel terima. Seringkali ketika kita sedang menjalani hukuman, hati kita bisa merasa tawar dan pasrah. Namun kita harus bisa menangkap suatu makna yang besar yang Tuhan berikan dalam perjalanan itu. Kita sering berpikir tentang tujuan namun melupakan dan tidak mengindahkan prosesnya. Kita sering berpikir bahwa tujuan atau target itu adalah berkat Tuhan sedangkan proses atau perjalanan itu tidak demikian. Baik target maupun proses, keduanya adalah berharga di mata Tuhan yang memberikan kita kedua hal itu. Di dalam proses itu kita belajar dan menemukan kehendak Tuhan. Setelah kita mencapai tujuan itu, kita tidak boleh melupakan proses di belakang kita dan apa yang kita pelajari dari proses itu. Tuhan bekerja baik dalam tujuan maupun proses. Ketika mereka sudah menguasai tanah Kanaan, mereka harus menceritakan perjalanan tersebut kepada anak-anak mereka yang tidak mengalami perjalanan itu. Kalau mereka lupa akan hal ini, maka anak-anak mereka akan berpikir bahwa mereka bisa menempati tanah Kanaan itu dengan begitu mudah tanpa pertolongan Tuhan. Mereka juga akan kemudian melupakan pelajaran-pelajaran berharga dari perjalanan selama 40 tahun itu.

 

Mungkin kita pernah memiliki suatu harapan dan berdoa kepada Tuhan untuk meminta sesuatu bagi diri kita. Ketika kita sudah mendapatkan hal yang kita doakan itu, seharusnya kita mengucap syukur bukan atas apa yang Tuhan sudah berikan saja tetapi juga proses, pergumulan, dan doa selama kita belum menerima hal yang kita minta tersebut. Di era digital ini, semakin banyak orang yang menuntut agar segala sesuatu bisa didapatkan dengan sangat cepat. Dengan kecepatan internet hari ini, kaum milenial bisa mengakses berbagai website tanpa harus menunggu. Ketika kecepatan internet sedang turun, maka pengguna internet harus menunggu beberapa detik lebih lama agar bisa mendapatkan halaman yang dicari. Karena kebiasaan ingin serba cepat, menunggu beberapa detik rasanya bisa menjadi seperti menunggu bertahun-tahun. Hal ini membuat mayoritas kaum milenial memiliki kesabaran yang sangat pendek. Ketika halaman yang ingin diakses sedang loading, biasanya hanya halaman putih bersih-lah yang terlihat. Tidak ada hal yang bisa didapat dari halaman loading putih itu. Namun di dalam hidup kita, masa proses atau “loading” tersebut juga merupakan rencana Tuhan bagi hidup kita. Dalam masa itu pun Tuhan juga memberikan kita pelajaran rohani. Masa-masa penantian kita adalah bagian dari rencana Tuhan dan itu juga masa-masa yang berharga. Berjalan-jalan di padang gurun selama beberapa jam mungkin bisa menjadi hal yang sangat membosankan bagi kita, namun bangsa Israel harus menjalani itu selama 40 tahun karena ada pelajaran yang ingin Tuhan berikan. Jika kita membayangkan hal ini, maka kita bisa berkesimpulan bahwa perjalanan 40 tahun di padang gurun itu tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi bangsa Israel untuk bisa produktif. Apa yang bisa mereka kerjakan di padang gurun? Mereka tidak mungkin menanam tanaman, tidak mungkin belanja ke pasar, dan tidak bisa melakukan banyak hal di padang gurun. Pdt. Edward Oei pernah dengan bercanda menyatakan bahwa pekerjaan bangsa Israel di padang gurun adalah mengintip. Mereka harus mengintip ke luar kemah mereka setiap waktu untuk melihat apakah awan Tuhan sudah memimpin mereka untuk bergerak atau belum. Jadi selama di padang gurun, produktivitas bangsa Israel itu begitu minim. Seringkali Tuhan menempatkan kita dalam situasi yang di mana kita tidak bisa produktif atau tidak bisa berbuat apapun. Mungkin di dalam situasi itu kita pernah bertanya mengapa Tuhan menempatkan kita dalam posisi demikian. Mungkin kita juga pernah menyatakan bahwa seandainya Tuhan menempatkan kita dalam posisi yang berbeda maka kita bisa lebih produktif dalam pelayanan dan kesaksian kita bagi Tuhan. Di dalam kondisi demikian, kita pertama-tama harus bertanya kepada Tuhan mengenai kehendak-Nya bagi hidup kita di saat itu. seringkali Tuhan mau menyatakan bahwa kita ini sebenarnya bukan siapa-siapa atau kita ini nothing tanpa Tuhan. Produktivitas adalah hal yang sangat baik. Namun kita harus melihat bahwa produktivitas hanyalah satu dari sekian banyak aspek yang Tuhan perhatikan dalam hidup kita. Tuhan itu mahatahu dan Ia bisa melihat semua sisi dalam kehidupan kita.

 

Tuhan juga terkadang membawa kita ke dalam situasi-situasi yang mengejutkan kita, namun di dalam hal itu kita harus menemukan terlebih dahulu kehendak Tuhan dan apa yang Tuhan mau ajarkan kepada kita. Kita tidak boleh sampai gagal mendapatkan pelajaran yang Tuhan berikan agar kita semakin dibentuk sesuai dengan perkenanan Tuhan. Tuhan-lah yang paling mengerti bagaimana kita harus dibentuk agar kita bisa menjadi semakin serupa Kristus. Oleh karena itu kita harus tetap bersyukur dan peka ketika kita dibawa ke dalam masa-masa padang gurun itu. Mungkin kita pernah mengalami masa-masa itu dan berpikir bahwa itu terjadi karena Tuhan sedang menghukum kita. Meskipun benar bahwa Tuhan sedang menghukum kita, kita tidak boleh tawar hati karena di dalam masa hukuman pun Tuhan memberikan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Tuhan itu setia dan di dalam hukuman pun Tuhan tidak memandang kita dengan sinis. Di dalam masa hukuman 40 tahun itu pun ternyata bangsa Israel masih diberikan hal-hal yang baik oleh Tuhan. Mereka mendapatkan pelajaran kekal yang kita bisa juga pelajari pada hari ini. Di dalam hukuman-Nya pun masih ada kasih setia Tuhan. Kita seringkali memahami kata hukuman secara negatif. Kita juga seringkali mengaitkan kata ‘hukuman’ dengan ‘kebencian’ di dalam konsep kita. Itu adalah konsep yang salah dan tidak sesuai dengan Alkitab. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan menghukum juga di dalam kasih setia-Nya.

 

Apa pelajaran yang Tuhan ingin berikan? Tuhan ingin merendahkan hati umat-Nya dan menguji mereka. Jadi ada pelajaran kerendahan hati dalam waktu 40 tahun itu. Ini adalah waktu yang sangat lama. Manusia di dalam keberdosaannya memang sangat sulit untuk rendah hati. Musa menjadi rendah hati setelah menjadi gembala selama 40 tahun. Tuhan menguras hati Musa sebelum Tuhan memanggilnya menjadi pemimpin. Ini bukan berarti orang berumur 40 tahun ke atas pasti rendah hati. Banyak orang yang sudah menjadi tua tetap bersikap sombong. Padang gurun merupakan tempat yang tepat untuk pelajaran ini. Seorang teolog pernah menjelaskan tentang puasa. Saat kita berpuasa, kita merasa lapar. Di dalam kelaparan, biasanya suasana hati kita menjadi sangat labil dan mudah mengeluarkan emosi negatif. Puasa itu membantu untuk menyatakan apa sebenarnya isi hati kita. Ketika kita sedang kelaparan karena puasa, lalu kita menjadi mudah marah. Kita tidak bisa menyalahkan puasa atau rasa lapar kita ketika kita marah. Teolog itu menyatakan bahwa justru dalam puasa itu, tubuh kita masuk ke dalam kondisi yang paling lemah sehingga kita lebih mudah mengeluarkan emosi. Di saat itulah kita benar-benar diuji. Ketika emosi yang tidak suci muncul di masa puasa kita, di sana kita menyadari bahwa emosi kita perlu dikuduskan. Dalam kondisi yang begitu baik dan nyaman, suasana hati kita lebih terjaga, namun di sana hati kita tidak teruji. Ketika Israel dibawa ke padang gurun, mereka merasakan masa puasa itu. Mereka tidak bisa menemukan hiburan apapun di padang gurun. Di sana sifat asli mereka dinyatakan. Kita tidak boleh terlalu cepat menghina Israel yang memberontak terhadap Tuhan di padang gurun. Jika kita ditempatkan dalam situasi yang sama dengan mereka, mungkin respons kita bisa lebih parah daripada respons mereka. Kita tidak boleh dengan sombong menyatakan bahwa kita ini lebih rohani daripada mereka di padang gurun. Pemberontakan Israel di padang gurun merupakan cerminan atau gambaran dari manusia berdosa secara luas. Orang-orang yang sudah diselamatkan Tuhan tetap bisa melupakan karya Tuhan di masa lampau, tetap bisa sulit mengucap syukur, tetap bisa bersungut-sungut, dan tetap sulit melihat pimpinan Tuhan. Di sini kita seharusnya belajar rendah hati. Di dalam masa padang gurun kita, kita bisa melihat sifat asli kita. Di sana kita belajar bahwa kita tidak sebaik yang kita pernah bayangkan. Anak-anak kecil bisa terlihat begitu diam dan penurut karena asyik dengan gadget-nya. Kita bisa salah menilai dan berpikir bahwa mereka semua adalah anak-anak baik. Namun ketika gadget mereka diambil, mereka bisa berteriak-teriak meminta dengan paksa agar gadget mereka dikembalikan. Di sanalah sifat asli mereka dinyatakan. Itulah masa padang gurun atau masa puasa. Di sana kesenangan kita diambil dan sifat asli kita ditampilkan. Kita boleh coba membayangkan apa reaksi kita ketika hal yang paling membuat kita senang di dunia ini diambil oleh Tuhan. Apakah kita akan berteriak-teriak seperti anak kecil itu? Atau di sana kita menjadi sadar bahwa kita bukanlah apa-apa tanpa Tuhan?

 

Kerendahan hati itu begitu penting dan harus kita miliki. Orang sombong tidak bisa taat kepada siapapun juga. Orang sombong justru ingin orang lain taat kepadanya karena ia merasa dirinya paling besar, paling tahu, dan paling berkuasa. Bahkan Tuhan pun dianggap kecil olehnya. Ia merasa bahwa Tuhan harus mendengarkan doanya dan harus mengabulkannya. Jadi orang sombong tidak mungkin bisa taat kepada Tuhan. Orang sombong berpikir bahwa dirinya adalah pusat dari segala sesuatu, bukan Tuhan. Hanya orang yang rendah hati-lah yang bisa taat kepada Tuhan. Oleh karena ituTuhan membawa mereka ke padang gurun. Tuhan mau mereka dilatih untuk menjadi rendah hati sampai mereka mau taat sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika kita dimasukkan ke dalam situasi itu, di mana kita tidak bisa menggunakan talenta kita, kemampuan kita, dan kekuatan kita, sangat mungkin Tuhan sedang mengajarkan kerendahan hati kepada kita. Di sana kita belajar untuk rendah hati dan taat kepada Tuhan. Setelah Musa dilembutkan hatinya selama 40 tahun di padang gurun sebagai gembala, Tuhan baru memanggilnya dan menjadikannya pemimpin. Tanpa kerendahan hati, Musa tidak akan bisa menjadi pemimpin. Jika tidak rendah hati, maka Musa tidak mungkin memimpin Israel untuk melihat Tuhan. Ia akan memimpin Israel untuk melihat dirinya saja. Saat Musa masih menjadi orang penting di istana Firaun, ia melihat saudaranya sedang disiksa oleh orang Mesir. Di sana ia kemudian mengambil tindakan dengan kekuatannya sendiri sehingga ia membunuh orang Mesir itu. Ia berpikir bahwa rencana dan usahanya itu baik dan tidak ketahuan, namun ketika perkara itu telah ketahuan, Musa langsung pergi kabur. Di sana ia baru sadar bahwa dirinya adalah orang gagal. Ketika kita mengalami kegagalan demi kegagalan, maka kita harus refleksi diri sangat mungkin itu terjadi karena ada kesombongan yang harus kita tinggalkan agar kita bisa menjadi lebih taat kepada Tuhan.

 

Kita bisa menjadi orang Kristen selama puluhan tahun, namun kita harus mengukur diri dari apakah kita sudah rendah hati atau belum. Kerendahan hati kita diukur dari seberapa taat diri kita kepada Tuhan dan dari bagaimana kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita. Ketika Saul mendengar bahwa ia hanya mengalahkan beribu-ribu dan Daud sudah mengalahkan berlaksa-laksa, ia tidak mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah memercayakan kepadanya ribuan musuh untuk ditaklukkan dan tidak bersyukur karena Tuhan sudah memakai Daud dengan begitu besarnya. Ia malah iri hati dan ingin membunuh Daud. Ia merasa bahwa dirinya harus lebih hebat dari siapapun juga. Inilah kesombongan Saul. Namun kemudian Tuhan merendahkan Saul dan meninggikan Daud. Ketika Tuhan masih memberikan kita kesempatan dalam kegagalan kita, maka sebenarnya Tuhan masih baik kepada kita. Di sana Tuhan memberikan kita kesempatan untuk belajar menjadi lebih rendah hati lagi. Masa padang gurun itu menjadi sarana untuk menguji hati orang Israel. Tuhan memberikan begitu banyak kesempatan namun bangsa Israel membuang itu semua. Oleh karena itukita tidak boleh berpikir bahwa Tuhan pasti selalu akan memberikan kesempatan tanpa henti. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan refleki diri, maka kita harus segera mengambil kesempatan itu. Pdt. Jimmy Pardede bertobat ketika ia mendengar ibunya yang berkata bahwa Tuhan bisa saja tidak memberikan kesempatan lagi kepadanya. Di sana ia sadar dan tidak lagi membuang kesempatan dari Tuhan. Jika hari ini adalah hari terakhir kita dan kita membuang kesempatan-kesempatan itu, maka bagaimana kita bisa menghadap Tuhan?

 

Di dalam bagian berikutnya dinyatakan bahwa Tuhan membiarkan bangsa Israel lapar dan memberikan mereka manna untuk merendahkan hati mereka. Tuhan bukan tidak setia, tidak mampu, atau lupa ketika Israel dibiarkan kelaparan. Ternyata ketika Tuhan membiarkan mereka lapar, itu juga merupakan bagian dari pelajaran Tuhan bagi mereka supaya mereka rendah hati. Terkadang Tuhan memberikan rasa lapar, bukan secara fisik, tetapi rasa lapar dalam hati kita. Di dalam rasa lapar itu kita bisa mencari-cari hal di dunia ini yang kita pikir bisa mengisi kelaparan hati kita, namun semua itu gagal. Di sana Tuhan mau menyatakan bahwa hanya Tuhan-lah yang bisa mengenyangkan rasa lapar dalam hati kita. Ketika mereka merasa lapar, Tuhan memberikan mereka manna yang tidak mereka kenal dan tidak dikenal oleh nenek moyang mereka. Mereka mendapatkan hal baru yang benar-benar asing bagi mereka. Abraham, Ishak, dan Yakub tidak pernah mengetahui manna. Manna berarti “apa ini?” seperti pertanyaan mereka ketika melihat manna untuk pertama kalinya. Ini adalah makanan yang asing namun sangat penting bagi mereka. Tuhan membuat manna yang memiliki ketahanan selama satu hari dan setelah itu kedaluwarsa kecuali pada hari Sabat. Tuhan tidak membuat manna bisa bertahan selama bertahun-tahun. Ini bukan karena Tuhan tidak mampu tetapi karena ada pelajaran yang Tuhan ingin sampaikan. Mereka harus mengumpulkan manna setiap hari kecuali pada hari Sabat. Di sana mereka belajar untuk bergantung pada Tuhan setiap hari. Seandainya manna bertahan sampai puluhan tahun, maka setelah mengumpulkan banyak manna mereka tidak akan bergantung pada Tuhan. Setiap hari mereka harus keluar dari kemah dan melihat pemeliharaan Tuhan. Mereka diajak untuk melihat kesetiaan Tuhan setiap hari. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tidak khawatir akan hidup kita karena Tuhan selalu memelihara kita (Matius 6:25-34). Kesusahan sehari itu untuk sehari (ayat 34). Di padang gurun itu bangsa Israel diajarkan bahwa kehidupan mereka sepenuhnya bergantung pada Tuhan dan bukan kekuatan mereka sendiri. Kita pun diajarkan hal yang sama. Dalam setiap hal, termasuk hal-hal kecil, Tuhan bekerja dan memelihara kita. Sudahkah kita memaknai pemeliharaan Tuhan setiap hari? Apakah setiap kali kita berdoa sebelum makan, kita benar-benar memaknainya? Kita tidak perlu berdoa terlalu lama sebelum makan untuk memaknai hal ini, tetapi kita harus punya kesadaran penuh bahwa hidup kita benar-benar ada di dalam tangan pemeliharaan Tuhan.

 

Tuhan mengajarkan bahwa mereka hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap perkataan Allah. bagian ini dikutip oleh Tuhan Yesus ketika Ia sedang dicobai oleh Iblis di padang gurun (Matius 4). Yesus dicobai di padang gurun seperti bangsa Israel harus berjalan di padang gurun. Israel berjalan selama 40 tahun di padang gurun dan menunjukkan ketidaksetiaan, namun Yesus berpuasa 40 hari di padang gurun dan menunjukkan kesetiaan. Iblis baru mencobai Yesus ketika Yesus merasa lapar. Iblis tahu kapan Yesus masuk ke dalam titik yang paling lemah secara fisik. Di sana Iblis mengajak Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Di saat itu Yesus menyatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap perkataan Allah. Manna itu asing bagi Israel. Hukum Tuhan itu begitu asing di mata Israel. Israel tidak pernah mendengar hukum Tuhan selama tinggal di Mesir dan bangsa-bangsa di sekitar mereka pun tidak memiliki hukum yang seperti itu. Bangsa Israel mendapatkan manna yang asing dan hukum Taurat yang asing bagi mereka setelah keluar dari Mesir. Semua itu asing bagi mereka namun Tuhan mengajarkan kepada mereka bahwa manna dan hukum Taurat yang asing itulah hidup mereka. Apakah sampai hari ini Firman Tuhan itu begitu asing bagi kita? Banyak orang yang sudah menjadi Kristen selama puluhan tahun namun masih merasa asing terhadap Firman Tuhan. Bagaimana kita bisa mengenal dan menaati Tuhan jika kita masih merasa asing terhadap Firman-Nya? Di bagian lain Yesus menjelaskan bahwa diri-Nya adalah Roti Hidup (Yohanes 6:35). Jadi manna tidak hanya berbicara tentang makanan yang mengenyangkan perut manusia. Manna kemudian menunjuk kepada Yesus Kristus yang adalah Roti Hidup. Yesus membandingkan diri-Nya dengan manna Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati (Yohanes 6:48-50). Yesus datang dan memberikan hidup kekal. Ia adalah penggenapan Perjanjian Lama, termasuk bagian ini.

 

Dalam ayat selanjutnya, Tuhan menyatakan pemeliharaan-Nya atas Israel dalam hal pakaian dan kaki mereka. Dari sana mereka belajar tentang penyertaan Tuhan yang tidak habis-habis. Pakaian mereka pun Tuhan perhatikan. Kaki mereka pun juga diperhatikan oleh Tuhan. Mereka harus berjalan selama 40 tahun namun Tuhan memelihara kaki mereka. Kita harus mengingat bahwa di padang gurun tidak ada jalan yang mulus. Semuanya penuh dengan batu, debu, dan pasir. Mereka tidak memakai sepatu sebaik yang kita miliki saat ini. Namun semua itu tidak membuat kaki mereka menjadi bengkak karena Tuhan memelihara mereka. Jadi Tuhan tetap memberikan kasih setia-Nya di tengah hukuman yang sedang dijalani oleh Israel. Namun setelah semua ini, apakah Israel setia kepada Tuhan? Tidak. Ketika Israel tidak setia, Tuhan tetap setia. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya (2 Timotius 2:13). Kesetiaan Tuhan merupakan hal yang besar bagi kita. Kita belajar dari kesetian Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Di bagian berikutnya Tuhan menyatakan bahwa Ia mengajarkan umat-Nya seperti seseorang mengajarkan anaknya. Kata ‘mengajarkan’ adalah yasar dalam bahasa Ibrani. Yasar lebih tepat diterjemahkan sebagai ‘mendisiplin’ atau ‘memukul/menghukum’. Tuhan memberikan disiplin bagi umat-Nya. Tuhan tidak hanya memberikan pengajaran verbal tetapi juga mengajarkan melalui tindakan disiplin. Ini dilakukan oleh Tuhan agar umat-Nya berjalan dalam jalan yang benar. Ada seorang anak kecil yang pernah dihukum ayahnya karena berbuat salah. Anak itu menangis setelah dihukum, namun kemudian anak itu memeluk ayahnya. Jadi anak tersebut tidak lari dari ayahnya yang menghukumnya. Demikian pula ketika kita sedang dihukum oleh Tuhan, kita seharusnya tidak lari dan memusuhi Tuhan tetapi seharusnya kita mendekat kepada Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya. Jadi di dalam bagian ini keadilan itu berjalan sekaligus kasih itu tetap ada. Konsep Allah sebagai ayah dan umat-Nya sebagai anak tidaklah asing dalam Perjanjian Lama. Relasi itu begitu dekat dan harus ada rasa hormat. Apa reaksi kita ketika Tuhan menghukum kita?

 

Dalam ayat ke-6 kita mengetahui bahwa seluruh pelajaran itu adalah agar umat-Nya berpegang pada perintah-Nya. Jika kita sungguh-sungguh memiliki rasa takut akan Tuhan, maka kita pasti akan rendah hati. Jika kita takut dan hormat kepada seseorang, maka kita akan mau tunduk dan merendahkan diri di hadapan orang itu. namun ketika orang itu pergi, sikap kita bisa berubah. Jika kita takut akan Tuhan dan kita sadar bahwa Tuhan itu maha hadir, maka kita akan selalu tunduk dan rendah hati di hadapan-Nya. Orang yang sadar bahwa ia selalu hidup di hadapan Tuhan yang ia takut tidak akan berani bertindak melawan Tuhan. Jadi takut akan Tuhan itu membawa kita menjadi rendah hati dan dari kerendahan hati kita akan menjadi orang yang taat. Jadi kita harus merenungkan: apakah kita sudah memiliki rasa takut akan Tuhan itu? kita belajar untuk takut akan Tuhan dari Firman Tuhan. Ketika kita mengerti Firman Tuhan kita akan sadar bahwa Tuhan itu begitu besar sehingga kita menjadi takut akan Dia dan kita merendahkan diri kita di hadapan-Nya. Lewat Firman Tuhan kita diajarkan untuk takut akan Tuhan. Namun jika masih tidak mau takut akan Tuhan, maka Tuhan bisa memakai cara lain yaitu memukul kita. Itu dilakukan oleh Tuhan demi kebaikan kita oleh karena kasih-Nya. Sudahkah kita takut akan Tuhan? Sudahkah kita rendah hati? Seberapa taatkah diri kita kepada Tuhan?

 

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Bitnami