Allah Memilih dan Memanggil dalam Kasih

Allah Memilih dan Memanggil dalam Kasih

Categories:

Bacaan alkitab: Efesus 1:3-5, Yohanes 3:16, dan 1 Yohanes 4:8-9.

 

1) Latar Belakang Masalah

 

            Seluruh dunia ini diciptakan oleh Tuhan dan penciptaan yang dilakukan-Nya itu sempurna. Manusia sebagai peta dan teladan Allah adalah puncak ciptaan. Saat itu dikatakan semuanya sungguh baik (Kejadian 1:31). Allah berada di atas manusia dan ordo itu tidak boleh diganti. Alam tidak berada di atas kita. Kita tidak tunduk pada kekuatan alam. Orang-orang yang menempatkan alam di atas dirinya akan menganut totemisme, animisme, dan dinamisme. Mereka akan takut terhadap segala bencana alam sehingga mereka menyembah gunung, laut, air, pohon dan lainnya. Mengapa semua ini terjadi? Karena ada konsep yang salah. Seharusnya ordo yang kita anut adalah Allah-manusia-alam. Kita diciptakan setelah seluruh alam semesta itu sempurna. Kita ditugaskan untuk mengelola alam dan mengatur seluruh ciptaan. Adam memberi nama kepada hewan-hewan.

 

            Namun apa yang terjadi? Alkitab menyatakan bahwa Allah memiliki program agar seluruh ciptaan-Nya memuliakan Allah. Namun Setan juga punya suatu program. Setan adalah malaikat yang memberontak dan ia mau menjatuhkan Hawa. Hawa digoda, pikirannya dikacaukan serta diracuni sehingga ia mendengarkan suara Iblis. Adam ada di dekatnya namun atas nama cinta ia percaya apa yang diberikan istrinya sehingga keduanya jatuh ke dalam dosa. Kita mengetahui akibatnya sesuai yang dikatakan Yesaya 59:2 tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. Dosa itu tidak terlihat namun berdampak dan membuat jiwa kita kosong sehingga kita mengalami kesepian, tidak bersemangat hidup, tidak puas, dan tidak berpengharapan. Di sana kita tidak lagi bisa berelasi dengan Tuhan karena hubungan kita dengan Tuhan terputus oleh sebab dosa. Kita berjalan secara mandiri dalam dosa. Karena dosa pikiran, emosi, dan seluruh perbuatan kita menjadi berpusat pada diri yaitu kesombongan dan kepuasan diri sehingga pada akhirnya kita menghancurkan diri sendiri.

 

            Apa jalan keluarnya? Perbuatan baik diri kita sendiri tidak mungkin menyelesaikan masalah ini. pikiran yang baik dan jalan agama tidak bisa menjadi solusi. Hanya ada satu jalan yaitu Tuhan Yesus Kristus. Pekerjaan Kristus di atas kayu salib adalah untuk penebusan kita. penebusan itu bersifat redemption by substitution. Yesus Kristus menggantikan kita yang berdosa. Sang penebus itu harus suci dan sempurna. Yesus Kristus adalah Allah yang kekal yang menjadi manusia untuk menggantikan kita. Yesus adalah manusia yang suci dan sempurna dalam inkarnasi-Nya. Kita dahulu mulia dan berharga di mata Tuhan, namun dosa menghancurkan kita. Saat dosa kita sudah dihapus oleh Tuhan Yesus Kristus, apakah kita sekarang sudah memiliki hati yang sama seperti hati Tuhan? Belum.

 

            Mengapa kita dipilih, dipanggil, dan kembali diutus? Untuk menggenapkan kasih Tuhan kepada orang-orang pilihan Tuhan. Dunia ini diciptakan oleh Tuhan dan berasal dari Tuhan. Kolose 1:15-16 menjelaskan bahwa Kristus adalah Pencipta dan berada di atas semua ciptaan yang lain. Banyak pengikut Saksi Yehova bertanya apakah Kristus itu Tuhan atau manusia. Kita mengatakan bahwa Kristus adalah Allah 100%. Pada waktu Ia menjadi serupa dengan kita untuk menyelamatkan kita, Ia juga adalah 100% manusia. Pada bagian itu ada kekacauan berpikir dari pihak Saksi Yehova. Mereka salah menafsir Perjanjian Lama dan salah mengerti kemanusiaan Yesus sehingga mereka salah mengenal Yesus. Mereka berpikir bahwa Allah tidak mungkin memiliki wujud, tidak mungkin mengalami waktu, dan tidak mungkin memiliki batasan fisik seperti manusia. Di sana mereka lupa bahwa manusia hanya bisa ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus karena Ia adalah Allah yang kekal yang memberikan kekekalan kepada kita. Jika Allah tidak menjadi manusia, maka tidak ada penebusan. Surat Kolose ditulis kepada kita untuk mengingatkan bahwa Kristus berada di atas manusia dan malaikat karena Ia adalah Pencipta. Dia mengatasi semua ciptaan karena Ia adalah Allah yang berdaulat.

 

2) CFRC (Creation, Fall, Redemption, Consummation)

 

            Pada saat penciptaan, Tuhan memberi kita anugerah yaitu waktu, ruang, materi, dan cahaya. Ini adalah dunia ciptaan. Setelah Tuhan menciptakan dunia dengan begitu indahnya, manusia jatuh ke dalam dosa. Kejatuhan manusia dalam dosa akhirnya merusak manusia dalam waktu, ruang, dan materi. Akhirnya keteraturan berubah menjadi kekacauan. Apakah Tuhan membiarkan semua ini? Tidak. Tuhan memprogram dan memberikan raja, imam, dan nabi. Sekitar 4500 tahun yang lalu ada peristiwa air bah. Setelah peristiwa itu ada generasi yang baru. Setelah kejatuhan dalam dosa, manusia menjadi begitu rusak. Di dalam generasi yang baru itu ada perkembangan teknologi. Di sana ada teknologi kapal, pengaturan hewan, dan pertanian. Setelah air bah itu memenuhi bumi dan surut, ada titik yang baru. Para hewan juga memulai generasi yang baru. Semua anak-anak Nuh juga memulai hidup yang baru. Mereka memulai pertanian dengan bibit yang baru. Apakah dengan semua kebaruan ini membuat manusia bertobat? Tidak.

 

Akhirnya kita tahu satu jalan agar manusia dapat mengalami pembaruan yaitu Kristus yang adalah Tuhan harus datang ke dunia. Allah mengutus-Nya karena kasih-Nya kepada kita. Di sana kita mengetahui bahwa Perjanjian Lama menjadi satu kenangan yang indah dan Allah memberikan Perjanjian Baru. Allah mengambil rupa manusia dan turun ke dunia. kita mengenal-Nya dengan nama Yesus Kristus. Rahasia inkarnasi ini menyatakan kerelaan Allah menjadi manusia. Ketika Yesus Kristus hidup sebagai manusia seperti kita, ia bisa kehausan, kelaparan, kelelahan, dan bisa dihina. Kita mengerti mengapa Kristus harus menjadi manusia: supaya kita memiliki jembatan dari kronos menuju kairos. Kita berada di dunia yang sementara. Untuk bisa menerobos yang kekal, kita membutuhkan Sang kekal itu sebagai jembatan kita. Kristus adalah imam di atas segala imam (Ibrani 4:14), nabi di atas segala nabi, dan raja di atas segala raja (1 Timotius 6:14-16). Masalah dunia yang terbesar adalah dosa. Dosa membuat kekacauan hidup, pemberontakan, dan lainnya.

 

Kira-kira 164 tahun yang lalu Otto dan Geisler sudah menanamkan Injil di tanah Papua. Apa tugas para hamba Tuhan, pengajar, dan gereja di sana? Apa tugas para orang Kristen? Mengapa dalam 164 tahun itu tidak ada perubahan yang signifikan? Mengapa banyak orang di sana masih belum mengerti cara pandang yang baru dan belum mengerti jiwa mandat budaya? Emosi yang mudah meledak mempersulit hal ini. seorang pemuka agama lain dengan bermodalkan hanya sabun, sampo, dan odol bisa memengaruhi 3000 orang di Papua. Jadi mereka mudah sekali berpindah iman. Apa yang sedang terjadi? Gereja sudah tidak lagi mengutamakan Kristus. Banyak hamba Tuhan mungkin hanya menumpang hidup dan tidak mengerti panggilan serta visi misi Tuhan. Oleh karena itu perlu ada hamba-hamba Tuhan yang sejati yang diutus ke daerah-daerh Kristen. Pembaruan yang sejati dimulai dari hati. Jadi pembaruan itu bukan dari luar ke dalam tetapi dari dalam ke luar. Tuhan Yesus Kristus adalah sumber pembaruan yang sejati. Tanpa Kristus, gereja, hamba Tuhan, dan orang Kristen pasti menjadi kacau. Kita perlu berdoa untuk hal ini. Injil sudah ditanamkan di berbagai daerah, namun di manakah pengaruh Injil itu? Perayaan untuk mengingat Injil masuk ke suatu daerah bisa ada namun adakah pembaruan di sana? Kita harus terus mengingat bahwa Tuhan Yesus Kristus sudah datang ke dunia. Kita memiliki hutang jiwa karena Ia sudah menyelamatkan jiwa kita. Kita memiliki hutang kasih kepada Kristus yang rela menjadi manusia dan menyelamatkan kita. Kita memiliki hutang kekekalan karena Ia memberikan kekekalan itu kepada kita. Melalui salib kita mendapatkan penebusan. Di salib itu Yesus menggantikan kita. Dosa kita membawa maut dan neraka namun semua itu dihapus oleh Yesus Kristus. Kita dipilih, dipanggil, diperbarui, dan diutus dalam kasih. Ketika kita diutus, kita harus sadar bahwa kita memiliki hutang Injil, kasih, dan kekekalan.

 

Kita menikmati kekekalan itu. Kristus akan datang kembali. Pada saat Ia datang, Ia akan menyempurnakan kita. kita akan diangkat dan mendapatkan hidup yang kekal bersama dengan Kristus. Di dalam waktu ada poin alfa dan poin omega. Di dalam itu ada titik penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan konsumasi. Jika Kristus sudah ada di dalam hati kita, maka kita harus menaati seluruh perintah Tuhan. warisan yang Tuhan berikan kepada kita bukanlah rumah, harta, dan kenikmatan tetapi warisan ketaatan untuk memberitakan Injil.

 

3) Apa Karya Allah Terbesar bagi Manusia?

 

            Karya terbesar bukanlah kekayaan, kesuksesan, dan lainnya. Karya terbesar Allah adalah apa yang tidak bisa dikerjakan oleh Iblis dan dunia. Allah memilih kita, memanggil kita, melahirbarukan-menebus kita, mengangkat kita menjadi anak Allah, menguduskan kita, melengkapi kita dengan senjata-senjata Allah, mengutus kita untuk menginjili dan menjadikan kita garam dan terang, serta menyiapkan tempat bagi kita di surga. Kita diutus untuk menginjili. Paulus menulis (Roma 10:14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Tuhan bertanya kepada Yesaya (6:8): Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Yesaya kemudian menjawab: ini aku, utulah aku! Pemberitaan Injil bukan hanya tugas pendeta tetapi tugas kita semua. Kita memiliki hutang Injil, kasih, dan kekekalan. Injil itu memberikan jaminan hidup yang kekal bagi kita yang percaya. Kita diutus juga dengan kepastian dan jaminan. Kita hanya menempati tempat tinggal di dunia untuk sementara waktu. Rumah kita di dunia bisa hancur dan perlu keamanan. Namun rumah kita di surga itu kekal dan menyukakan hati kita. Tidak ada pencuri dan karat yang bisa merusaknya. Rumah itu adalah rumah yang paling sejati untuk jiwa kita. Tuhan sendirilah yang menyiapkannya untuk kita.

 

            Bagaimana untuk tahu apakah kita adalah anak Tuhan yang sejati atau bukan? Salah satu tandanya adalah kita mau memenangkan banyak jiwa untuk Tuhan. Berapa banyak dari kita yang ikut memberitakan Injil? Anak Tuhan yang sejati pasti hidup selaras dengan kehendak Tuhan. kehendak Tuhan yang terbesar adalah amanat agung yaitu penginjilan dan pemuridan. Maka dari itu gereja kita bernama Reformed Injili. Reformed berarti kita harus memiliki semangat reformasi yaitu kembali kepada Alkitab. Injili berarti kita memiliki api penginjilan baik secara pribadi maupun secara global. Kita bersyukur bahwa Tuhan memakai gereja kita untuk memberitakan Injil. Tuhan sudah memilih, memanggil, dan menebus kita, lalu mengapa kita masih ada di dunia? Kita semua pasti ingin langsung ke surga karena ingin menikmati surga. Kalau kita masih hidup, masih ada di dunia ini, dan masih tinggal bersama dengan keluarga kita, itu berarti Tuhan masih mau kita menjadi terang bagi dunia ini.

4) Untuk apa kita dipilih, dipanggil, dan ditebus?

 

Tuhan memakai Efesus 1:3-5 melalui Paulus serta memakai Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 4:8-9 untuk menjelaskan kepada kita mengapa kita dipillih, dipanggil, dan ditebus. Allah ingin kita dikuduskan, disempurnakan menjadi seperti kristus, menjadi anak allah, dan memperoleh hidup kekal. Kita masih hidup karena anugerah Tuhan. kita masih memiliki nafas kehidupan dan umur karena kita masih berada dalam proses pengudusan dan penyempurnaan. Sebagai anak-anak Allah, kita harus menunjukkan bahwa kita menghasilkan buah Injil dan buah iman. Ketika kita meninggal, kita akan tinggal bersama dengan Tuhan di surga. Tuhan sedang mengutus kita. Kita sedang dipakai untuk menjadi garam dan terang. Kita tidak boleh individualis tetapi harus bergaul dan menyatakan diri kita sebagai teladan bagi orang-orang di sekitar kita. Kita bisa menginjili melalui karya hidup lalu kemudian menginjili melalui perkataan kita. Kita harus menunjukkan kualitas hidup kita melalui relasi kita. Minimal kita harus menunjukkan diri kita sebagai agen moral di tengah komunitas kita. Kita semua harus siap diutus karena kita adalah tentara-tentara Tuhan. Surat Yudas mengingatkan kita bahwa kita adalah utusan Tuhan untuk menegakkan kebenaran dan melawan guru-guru palsu. Kita adalah utusan Tuhan untuk memenangkan jiwa. Kita dipanggil dan kemudian diutus.

 

Yesus meneteskan air mata-Nya sebelum Lazarus dibangkitkan (Yohanes 11:32-36). Ia juga menangisi Yerusalem yang masih hidup dalam dosa (Lukas 19:41-42). Ketika Ia berdoa di taman Getsemani, Ia pun menangis (Ibrani 5:7). Yesus menangis karena orang-orang tidak mau percaya kepada-Nya. Ia juga menangis karena orang-orang yang mengaku beragama tidak menerima-Nya. Dunia yang hancur dalam dosa juga membuat-Nya berduka. Kita harus memiliki air mata Yesus untuk kita mau dipakai oleh Tuhan. Belas kasihan kita harus muncul di dalam kerohanian kita untuk jiwa-jiwa yang masih terhilang. Kita tidak mungkin memiliki belas kasihan Tuhan jika kita hanya berpusat pada pekerjaan kita, uang kita, kenikmatan kita, dan materi kita. Kita membutuhkan semua itu tetapi hidup kita bukanlah untuk semua hal itu. Semua itu bukan sumber hidup tetapi hanya pelengkap hidup. Semua hal ini bisa dipakai Iblis sehingga kita lupa mengapa kita dipilih dan dipanggil. Kita harus mengingat bahwa Tuhan mengutus kita dalam misi-Nya. Orientasi kita adalah visi Kerajaan Allah. visi Kerajaan Allah adalah jiwa-jiwa yang terhilang dalam dosa di sekitar kita. kita harus membangun relasi dan memberikan pengaruh supaya Injil bisa disampaikan. Kita harus rela dan siap untuk diutus kepada mereka yang sudah Tuhan persiapkan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami