Agen Perubahan

Agen Perubahan

Categories:

Bacaan alkitab: Yohanes 8:36; Roma 12:2; Kolose 2:7; Yohanes 15:16a; Matius 28:19-20; Matius 5:13-14

 

Pendahuluan

Kapan kita menyadari bahwa kita mengalami perubahan yang radikal akibat dosa? Kesadaran hati nurani dimiliki oleh semua orang dan kita semua sadar bahwa kita bukanlah orang baik. Hati nurani juga menyadarkan kita bahwa kita bukanlah orang bermoral. Itu juga bisa sampai menyadarkan kita bahwa kita adalah orang berdosa, namun hati nurani tidak dapat memimpin kita kepada pertobatan. Kita bisa menyesal karena hati nurani. Yudas menyesal setelah menjual Yesus. Banyak penjahat pernah menyatakan penyesalan ketika sudah ditangkap, namun apakah mereka berubah total? Tidak. Penyesalan ada di tahap paling bawah ketika seseorang sadar bahwa dirinya sadar ia sudah merugikan orang lain. Ada orang-orang yang meneteskan air mata dan mengaku menyesal namun ternyata air mata tersebut adalah air mata buaya. Ada orang-orang yang menyesal setelah diketahui menipu orang lain, namun itu semua bisa merupakan sandiwara. Sebagai orang Kristen jangan sampai kita mudah tertipu oleh permainan emosi yang tidak suci. Penyesalan Yudas tidak sampai pada pertobatan. Kesadaran iman yang diberikan Roh Kudus itu memampukan kita untuk tidak hanya menyadari dan menyesali dosa-dosa kita tetapi juga membawa kita kepada pertobatan. Yohanes 8:36 menyatakan bahwa Yesus Kristus-lah yang memerdekakan kita. Kita merdeka bukan karena agama, pelajaran moral, pendekatan hati nurani, atau asketisme. Kita hanya bisa mendapatkan pertobatan sejati ketika Yesus dan Firman-Nya ada di hati kita. Indonesia sudah merasakan kemerdekaan selama 73 tahun. Perubahan apakah yang sudah terjadi dalam negara ini? Dunia terus berkembang dan berubah di dalam waktu. Setiap negara menginginkan kemajuan.

Setiap orang yang sudah tidak lagi mendengarkan hati nuraninya akan menjadi orang yang sangat sadis. Orang itu sudah menjadi budak dosa dan kelicikan. Ia bisa menipu banyak orang dan bahkan menipu dirinya sendiri. Orang yang seperti ini sangat mungkin mengalami penyakit kejiwaan. Ia mungkin mengalami split personality. Orang Kristen yang sejati tidak mungkin mengalami split spirituality. Perubahan yang Kristus berikan pada kita merupakan perubahan yang utuh. Di sini kehidupan kita akan sungguh-sungguh berubah. Program Tuhan bukanlah gangguan kejiwaan. Itu adalah program dunia untuk menghancurkan kita. Kita harus waspada terhadap suara Setan dan hati nurani yang belum disucikan karena mereka mau menghancurkan kita. Kapan kita menyadari bahwa kita mengalami perubahan yang radikal karena Kristus? Mungkin kita mengingat tahunnya tetapi bukan bulannya. Mungkin kita mengingat sampai bulan dan bahkan tanggal. Mungkin kita mengingat saat kita mengalami perubahan radikal dalam diri kita seperti paradigma, kebiasaan, dan sikap kita. Perubahan itu merupakan saat dimana Roh Kudus pertama kali bekerja dalam hati kita. Di sana Roh Kudus mengubah konsep pandang kita dan menyucikan hati nurani kita. Roma 12:2 menyatakan tentang perubahan akal budi. Di sini kata nous dipakai. Kita diubah dalam aspek pikiran, kebenaran, dan kesucian kita. Dulu filsuf berkata bahwa kita ada ketika kita berpikir, namun sekarang orang baru merasa ada ketika ia menunjukkan dirinya di media sosial. Di saat itu sebenarnya ada krisis. Di dalam krisis itu, manusia sedang menyombongkan diri. Di zaman ini tidak ada lagi privasi karena semuanya ditampilkan di media sosial. Semua orang memikirkan kepuasan dirinya sendiri. Di sinilah dunia mengalami problem. Ketika kita ada di dalam Tuhan, di sanalah ada perubahan. Anugerah Tuhan itu nyata bagi kita.

Mengapa dua pertanyaan di atas penting? Saat kita merasa tidak perlu berubah, di saat itulah kita sedang mengalami problem citra diri. Di sini kita akan salah dalam menilai diri dan memikirkan tujuan bagi diri. Amsal 20:24 Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya? Pimpinan Tuhan mengandung dinamika iman. Tuhan memimpin bukan dengan cara mendikte langkah kita satu persatu. Rasio kita harus dipimpin iman sehingga di dalam hikmat kita bisa mengerti kehendak Tuhan. Rasio yang disucikan itu memampukan kita untuk menjalankan apa yang menyenangkan hati Tuhan. Rasio kita harus dipimpin oleh kebenaran Tuhan sehingga kita bisa menggenapkan rencana-Nya. Apakah standar citra diri di setiap zaman itu berbeda? Dulu perempuan harus gemuk untuk bisa dinilai cantik, namun sekarang perempuan yang kurus itu yang dinyatakan cantik. Konsep zaman selalu mengalami perubahan karena ada perubahan selera. Kepuasan zaman selalu berubah dan anak-anak kita bisa mengalami krisis identitas di tengah perubahan zaman. Bagaimana agar anak-anak kita bisa kuat di dalam identitasnya di tengah situasi seperti ini? Bagaimana kita bisa kuat di dalam Kristus? Dahulu hidup kita adalah senjata kecemaran dan untuk kepuasan daging namun sekarang hidup kita diserahkan menjadi senjata kebenaran. Anugerah Tuhan menciptakan perubahan di dalam diri kita. Kita diberikan anugerah kekal yang memimpin kita kepada kebenaran yang kekal. Dunia ini tidak bisa diubah hanya melalui pendidikan atau perubahan sosial. Perubahan yang sejati bukanlah dari luar ke dalam tetapi dari dalam ke luar. Siapakah yang dapat melakukan ini? Hanya Yesus Kristus. Pendidikan Kristen bukan hanya transfer pengetahuan tetapi juga nilai hidup yaitu karakter. Murid-murid Kristen harus dibawa untuk memikirkan masa depan yang memuliakan Tuhan dan tidak hanya menerima nasib. Orang-orang dunia rela mencari perubahan bahkan ketika harus melibatkan kuasa gelap, namun ini pun kuasa yang terbatas dan membawa kehancuran. Kuasa Kristus adalah kuasa yang terbesar dan membawa kehidupan. Kita telah diberikan kuasa itu.

Pernahkah kita menjadi agen perubahan seseorang di dalam Kristus? Untuk mengubah menjadi negatif itu sangat mudah. Meracuni orang lain itu sangat mudah. Mungkin kita pernah meracuni orang lain secara sadar maupun tidak sadar. Sekarang kita memiliki identitas yang baru. Pernahkah kita dipakai sebagai agen perubahan sehingga orang-orang di sekitar kita bertobat? Jika ya, maka itulah sukacita yang sejati. Sukacita itu tidak akan terlupakan melainkan akan tertanam dalam ingatan kita. Sukacita itu tidak akan bisa ditukarkan dengan uang berapapun karena sukacita ini bersifat kekal dan akan kita bawa sampai kita bertemu dengan Tuhan. Jika kita selalu menolak kesempatan untuk menginjili, maka kita akan menyesal. Kesempatan tidak akan selalu ada dan suatu waktu kelak waktunya akan habis. Apakah kita masih menggunakan waktu luang kita hanya untuk kepentingan diri sendiri dan tidak memikirkan Tuhan? Jika ya, maka kita akan menyesal nantinya. Penyesalan itu datang ketika kita menunda waktu Tuhan. kita bisa menunda kesempatan yang ada karena ketakutan yang tidak suci.

 

Pembahasan

1) Dipanggil sebagai agen perubahan

            Setiap orang Kristen tidak boleh berdiri di dalam kenikmatan dunia, materi, dan ekonomi sehingga hidupnya tidak efektif bagi Tuhan. Setiap kita tidak boleh puas hanya karena kita sudah diselamatkan. Kebaktian hari Minggu saja tidak cukup. Mengapa demikian? Ke arah dalam, kita diminta untuk berakar, bertumbuh, dan berbuah di dalam Kristus (Kolose 2:7 dan Yohanes 15:16a). Kita harus mengalami ketiga hal ini di dalam iman dan karakter kita. Jika kita dipenuhi Allah Roh Kudus dan dipimpin Yesus Kristus, maka Firman itu akan berakar dengan kuat ke dalam. Akar tunggal sangat kuat dan kita baru memilikinya ketika kita sudah mengalami pertobatan yang sejati di dalam Kristus. Akar itu tidak akan hancur karena penderitaan, kesulitan, dan tantangan karena akar itu kuat dalam Kristus. Ketika akar sudah kuat dan ia bertumbuh, ia akan bertumbuh pada waktunya secara tepat dan berbuah secara tepat. Sudahkah kita menjalankan panggilan ke dalam ini? Sudahkah buah kita manis bagi orang lain? Sebagai agen perubahan, diri kita sendiri harus diubah terlebih dulu. Kita harus menuntut diri terlebih dulu. Perubahan dalam diri itu harus terjadi sebelum kita menjadi agen perubahan.

Panggilan kita ke luar adalah pemuridan (Matius 28:19-20) dan menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-14). Kita harus memberitakan Injil Tuhan dan mengajarkan kepada orang-orang bagaimana hidup bagi Kristus. Buah penginjilan adalah buah sejati yang tidak bisa ditiru oleh Setan. Kesucian pun demikian. Hidup kita harus berfokus pada Kristus. Di sini kita membutuhkan komunitas pemuridan. Kita membutuhkan suatu komunitas dimana kita di dalam kebenaran, kesucian, dan terang Tuhan bersama-sama. Komunitas ini harus menggenapkan kehendak Tuhan bersama-sama. Komunitas rohani ini merupakan wadah bagi kita untuk menolong kita melakukan semua hal itu. Ini merupakan sarana dimana Kristus bisa mengubah kita. Kita harus menjadi garam dan terang. Di Laodikea, ada tempat dimana garam itu sudah kehilangan rasanya. Ini terjadi karena proses alam. Sedangkan di Laut Mati, kandungan garamnya begitu tinggi sampai bisa digunakan sebagai kosmetik. Garam yang tidak lagi asin akan dibuang karena tidak ada fungsinya lagi. Kita sebagai garam harus bisa mencegah perkembangan dosa. Jika kehadiran kita tidak mencegah dosa, itu berarti kita sudah kehilangan fungsi kita. Jangan sampai kita sebagai orang Kristen malah terhisap dalam dosa. Kita harus menjadi terang yang mengusir kegelapan dalam seluruh aspek hidup kita. Tuhan sudah memberikan kita kuasa untuk menjadi agen perubahan. Tugas kita adalah menjalankan panggilan kita. Kita menghadapi peperangan rohani setiap hari di dalam panggilan kita.

2) Tantangan sebagai agen perubahan

Ada banyak tantangan yang harus kita hadapi sebagai agen perubahan. Tantangan di dalam diri adalah indwelling sin. Ini istilah dari John Owen, seorang teolog Puritan. Selama hidup di dunia ini, kita masih memiliki keinginan berdosa dan dunia akan terus memengaruhi kita untuk berdosa. Di saat itu musuh di dalam diri (Galatia 5:13) kita adalah keinginan yang belum disucikan. Keinginan itu harus dilawan dengan keinginan untuk hidup suci dan menyenangkan hati Tuhan. Kesucian tidak mungkin dikalahkan kuasa dunia dan tidak mungkin ditiru oleh dunia. Hati kita harus terarah bukan kepada kemuliaan diri tetapi kepada kemuliaan Tuhan. Di saat itu keinginan kita akan teredam. Namun jika kita terus memikirkan untuk berdosa, kita akan terus menjebak diri dan kita pasti akan kalah. Kita sudah dimerdekakan oleh Kristus, maka kita harus membuktikan dengan mengasihi Tuhan dan orang-orang di sekitar kita. Panggilan kita bukanlah untuk melayani kebebasan kita dan keinginan kita tetapi untuk melayani sesama manusia. Ini berarti berkaitan dengan menyenangkan tuhan. Kita tidak dipanggil untuk mengisi kebebasan kita dengan dosa. Mental kita adalah mental seorang pelayan. Tanpa jiwa pelayan, tidak mungkin kita menjadi agen perubahan. Kita semua paling tahu apa keinginan kita yang belum dikuduskan. Semua itu harus kita kalahkan dalam Yesus Kristus. Semua keinginan kita harus dikaitkan ke atas agar disucikan oleh Tuhan. Para teolog Puritan mengatakan bahwa keinginan itu tidak bisa dimatikan tetapi bisa diredam dan disucikan dengan keinginan untuk hidup suci dan memuliakan Tuhan. Di saat itulah kita menjadi pemenang dan tidak lagi menjadi budak dosa.

Kita juga memiliki musuh di luar diri (1 Petrus 5:8). Ia seperti singa yang mengaum-aum dan siap untuk memangsa kita, namun setelah kita ada di dalam Kristus, singa itu seperti ada di dalam kandang. Kita tidak boleh takut kepada singa ini tetapi kita harus takut dibuang dan tidak dipakai oleh Tuhan. Ketika kita terus bisa mendapatkan kesempatan untuk melayani maka sebenarnya itu adalah anugerah. Semakin kita mau melayani Tuhan maka kita akan semakin terhisap dalam kehendak Tuhan. dengan demikian kita akan semakin menjauh dari dosa. Semakin kita menjauhkan diri dari pelayanan, kita akan semakin terikat dengan dunia. Di saat itu kita akan mudah jatuh ke dalam dosa. Ketika pintu kesucian itu roboh, singa itu akan memangsa kita. Kita akan rentan terhadap segala tawaran dunia, namun kuasa itu sudah dikalahkan oleh singa dari Yehuda yaitu Yesus Kristus. Setan tahu siapa kita dan dia bisa memberikan kekuatan kepada manusia yang bersifat kuasa gelap. Namun kita yang sudah bertobat tahu bahwa kuasa Kristus jauh lebih besar dan kuasa-Nya itu suci adanya. Kuasa gelap itu tidak tahan ketika harus menghadapi kuasa Roh Kudus. Maka dari itu kita tidak perlu takut karena kuasa itu sudah diberikan kepada kita sehingga kita bisa menjadi agen perubahan.

Musuh yang lain adalah dunia atau cosmos (1 Yohanes 2:15). Dunia menunggangi teknologi, hobi, penghiburan dunia, dan lainnya secara negatif. Sebenarnya cosmos itu berarti keteraturan. Istilah itu berarti keteraturan hidup dalam moralitas yang benar. Di sini pemerintah dan rakyat harus harmonis dalam menyatakan keramahan (hospitality) dan keteraturan. Manusia berdosa bisa memberikan keramahan namun bukan dari hati nurani yang tulus. 1 Yohanes 2:15 menyatakan bahwa ketika kita mengasihi dunia, sebenarnya Kristus tidak ada di dalam diri kita. Ketika kasih kita dinyatakan bagi dunia dan bukan Kristus, maka sebenarnya kita tidak punya the power of Christ’s love.

3) Kekuatan sebagai agen perubahan

            Sebaliknya jika kita ada di dalam Kristus, maka kita akan mengalahkan seluruh tawaran dunia. Kita diberikan kuasa Firman (Roma 1:16) dan Firman itu ditanamkan di dalam hati kita. Firman yang kita beritakan itu bisa mengubah orang lain. Ada masa menanam dan ada masa menyiram. Kita diberikan kuasa sebagai anak-anak Allah untuk menabur Firman. Dari sana kita juga memiliki kuasa hidup (Yohanes 1:12). Kuasa kita berasal dari Allah sendiri dan kita mendapat penyertaan tuhan (Ibrani 13:5 dan Matius 28:20b). Allah telah memberikan kita perlengkapan rohani sehingga kita bisa mengalahkan musuh-musuh yang tidak terlihat. Inilah janji kemenangan (Efesus 6:12-18) dari Allah bagi kita. Kita memiliki contoh yang nyata dari Alkitab. Contoh agen perubahan di Perjanjian Lama adalah: Yusuf, Daniel dan kawan-kawannya, Daud, Yefta, dan lainnya. Yefta memiliki latar belakang yang buruk namun Tuhan bisa membuatnya menjadi agen perubahan setelah Tuhan menyucikannya. Di Perjanjian Baru salah satu contohnya adalah Filipus (Kisah Para Rasul 6:1-7 dan 8:4-40). Filipus dipilih untuk pelayanan diakonia, namun kemudian dia menjadi penginjil yang sukses di Samaria. Dia juga menjadi gembala di sana tetapi kemudian Tuhan mengirimnya kepada sida-sida Etiopia. Dia mau meninggalkan zona nyamannya agar bisa menjadi agen perubahan di tempat lain. Tuhan telah membangkitkan banyak dari hamba-Nya untuk menyatakan Injil. Di Indonesia pernah para misionaris Kristen seperti Van de Loosdrecht (Toraja), Friedrich Riedel (Manado), Ernst Ludwig Denninger (Nias), Otto – Geisler (Papua), Nommensen (Sumatera Utara), dan lainnya. Jika kita memiliki anak maka kita harus berdoa agar anak-anak kita dipakai oleh Tuhan. Ada misionaris-misionaris yang meninggal di tempat mereka melayani karena dibunuh namun keluarga mereka tidak kecewa dan membenci orang-orang itu. Sebaliknya mereka bersyukur karena Tuhan sudah mengutus mereka untuk memberitakan Injil di sana. Anak yang diberikan kepada kita harus dipersembahkan untuk Tuhan dan bukan untuk melayani diri kita. Kita memiliki hutang jiwa karena Kristus sudah menebus kita. Maka dari itu kita harus menyerahkan diri kita kepada Tuhan.

 

Kesimpulan

Agen perubahan tidak cukup hanya melalui pendidikan, ilmu, dan moral. Ini bersifat dari luar ke dalam. Agen perubahan yang sejati adalah melalui pendidikan iman dan karakter dalam Yesus Kristus. Setiap kita yang adalah agen perubahan harus mengingat hal ini. Perubahan yang sejati itu muncul dari dalam ke luar. Mari kita semua berkomitmen untuk hidup sebagai agen perubahan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami