Terjatuh dalam Kenikmatan (Adam dan Hawa)

Terjatuh dalam Kenikmatan (Adam dan Hawa)

Categories:

Bacaan Alkitab: Kejadian 2:18, 21 & 23.

Pendahuluan

Mengapa Allah menciptakan Hawa? Alkitab menyatakan bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Ada ciptaan yang lain yaitu hewan namun itu tidak sepadan. Jadi Hawa diciptakan dan disebut sebagai penolong, bukan perongrong.

Dapatkah Allah menggagalkan rancangan Setan melalui Hawa? Bisa, namun mengapa Allah membiarkan semua proses itu terjadi sampai Hawa tergoda dan pada akhirnya mengambil keputusan untuk melanggar perintah Tuhan? Di sini kita melihat bahwa manusia memiliki kebebasan dan Setan mempunyai kelicikan. Namun semua ini tidak mungkin menggagalkan program Tuhan yang besar bahwa Allah tetap berdaulat. Manusia boleh berencana dan Setan boleh berencana, namun tetap Allah-lah yang berdaulat di dalam rancangan-Nya untuk dunia ini, secara khusus rancangan-Nya untuk umat-Nya.

Adakah batasan dalam menikmati dinamika relasi? Dimanapun kita berada, kita mempunyai relasi dengan Tuhan, I-Thou. Kita berelasi dengan Tuhan dalam peran sebagai seorang pekerja, kepala atau ibu rumah tangga, murid, atau anak. Saat kita menikmati Tuhan, tidak berarti kita tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengerjakan tanggung jawab di rumah. Ketika kita menikmati Allah berarti hidup kita memiliki spiritualitas yang komprehensif. Ketika menikmati Tuhan, kita juga akan menikmati diri yang sejati. Diri kita adalah orang yang ditebus oleh Yesus Kristus dan kita adalah bait Allah. Kita akan menikmati relasi dengan orang lain, benda, dan alam ciptaan Tuhan namun semua tetap dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Ketika kita menikmati segala hal terlepas dari kemuliaan Tuhan, di saat itu kenikmatan kita berpusat pada diri. Segala kenikmatan berpusat pada diri merupakan awal kita jatuh di dalam dosa.

Penolong Sejati

            Mengapa Allah mencipta Hawa? Hawa dicipta untuk menjadi penolong Adam. Penolong itu biasanya lebih pintar, lebih tangguh, dan lebih berpengalaman daripada yang ditolong. Hawa adalah penolong, tetapi pertanyaannya: penolong dalam bagian apa? Kekuatan lelaki itu dalam hal berpikir sedangkan kekuatan perempuan itu dalam hal perasaan. Hawa (perempuan) menjadi penolong bagi lelaki yang kuat dalam berpikir untuk dapat melihat dan menjalani proses. Hawa memiliki kekuatan dalam hal emosi (perasaan) dan afeksi sehingga menjadi penolong bagi Adam dalam melihat dan menjalani proses. Ketika wanita menolong, ia tidak berubah menjadi pemimpin melainkan tetap menjadi yang dipimpin. Mengapa wanita harus mempertajam nilai afeksi pria? Karena pria adalah pemimpin dan jika pemimpin tidak memiliki perasaan dan tidak mengerti orang yang dipimpin maka ia akan menjadi pemimpin yang kejam karena tidak ada kasih dalam prosesnya. Dengan demikian Hawa harus menjadi pendukung yang sejati agar Adam bisa menjadi pemimpin dari seluruh ciptaan Tuhan sehingga bisa dikelola dengan baik.

Ketika Hawa menjadi penolong, Adam harus menjadi imam yang baik supaya seluruh ciptaan dan dirinya pada akhirnya berelasi dengan Tuhan. Jika istri melihat bahwa suaminya sudah tidak rajin dalam pembacaan Alkitab, maka istri tidak boleh mengancam tetapi mengingatkan karena istri adalah penolong. Pria kurang baik dalam berdandan, maka dari itu istri harus menolongnya. Wanita lebih memperhatikan detail (rinci) dan mampu mengerjakan hal-hal yang kecil. Jika ada kancing yang lepas, maka wanita yang biasanya memperbaikinya. Wanita juga memasak dengan bumbu-bumbu yang variatif dan rinci. Wanita memiliki peran dalam memproses. Karena itu pria dan wanita saling melengkapi. Ketika manusia jatuh di dalam dosa, manusia kehilangan identitas sejatinya. Akhirnya wanita tidak mau dipimpin padahal keanggunan seorang wanita adalah ketaatannya. Namun yang terjadi adalah kebalikannya yaitu istri sering melawan suami dan mau memimpin. Dalam bagian ini, dosa menghancurkan keanggunan wanita.

Ketika Hawa disebut sebagai penolong, dia memiliki karakter seorang penolong. Karakter pertama yang harus dimiliki oleh seorang penolong adalah kasih yang aktif. Karakter yang kedua adalah kepedulian, bukan hanya kepada diri sendiri tetapi juga kepada suami. Ia menaruh peduli pada orang di sekitarnya terlebih dulu. Karakter yang ketiga adalah rela berkorban. Nama Hawa di dalam bahasa Ibrani sesungguhnya berarti kehidupan yang memberi kehidupan. Wanita diciptakan dari tulang rusuk yang diambil dari Adam yang dibuat tertidur oleh Tuhan. Ketika Adam bangun, ia memanggil wanita itu ‘tulang dari tulangku dan daging dari dagingku’ (Kejadian 2:23). Wanita diambil dari satu kehidupan untuk melahirkan kehidupan yang lain. Kodrat wanita adalah regenerasi atau melahirkan. Manusia yang baru bukan lahir dari Adam tetapi melalui Hawa. Rahim wanita dipakai untuk mempertumbuhkan seorang bayi. Ketika seorang wanita sedang mengandung, ia rela untuk mengalami kesulitan dalam mengandung bayi. Pengorbanan wanita itu sungguh besar. Kita semua lahir dari ibu kita. Selama 9 bulan 10 hari ibu kita rela memikul beban yang berat. Mereka rela mengalami perubahan hormon yang mengubah penampilan mereka.

Kejatuhan Adam dan Hawa

Setan tahu bahwa perintah Allah yang pertama diberikan kepada Adam, sehingga ia menjadi sumber pertama. Adam memikirkan perintah itu secara mendalam. Setan juga tahu bahwa Hawa adalah sumber kedua. Allah memberi perintah “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16-17). Di sana Adam tahu bahwa hidup yang bebas tetap ada batasannya. Dia punya kehendak bebas tetapi juga batasan dalam hidup. Batasan itu menunjukkan nilai iman kita. Kebebasan dalam anugerah itu menunjukkan nilai tanggung jawab kita dalam menggunakan kebebasan.

Setan tahu titik lemah dari Adam dan Hawa. Ia tahu bahwa yang paling lemah adalah Hawa. Apakah Setan tahu titik kelemahan kita? Ia tahu. Mungkin kelemahan kita adalah dalam hal harta, wanita, atau takhta. Biasanya manusia lemah dalam 3 titik itu. Ada orang yang lemah dalam kesucian seksual, tetapi ada juga yang kuat dalam bagian itu tetapi lemah dalam pergumulan keuangan. Ada juga yang lemah dalam pergumulan kuasa. Setan tahu titik lemah kita, dan Allah yang telah menebus kita dalam Yesus Kristus juga tahu titik lemah kita. 1 Yohanes 5:4 menyatakan “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Sebab, apa pun yang lahir dari Allah mengalahkan dunia; dan inilah kemenangan yang telah mengalahkan dunia: iman kita.” Setelah kita menjadi anak-anak Allah, kita diberikan kuasa untuk berubah dan meninggalkan kelemahan kita. Kita diberikan kekuatan untuk mengalahkan bujukan Setan dan dunia. Hawa memiliki potensi dalam perasaan, namun itu juga merupakan titik kelemahannya. Mengapa demikian? Ia memiliki kasih yang aktif dan relasi yang terbuka terhadap ciptaan yang lain, namun Hawa terlalu open minded. Di dalam bagian ini, Hawa open minded dengan Setan. Setan berdialog dengan janji kosong. Ia berkata “sekali-kali kamu tidak akan mati tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 3:4-5). Semua itu penuh dengan janji yang bersifat instan. Hawa menanggapi Setan dengan komunikasi yang aktif. Mengapa demikian? Karena ia tidak memiliki kecurigaan dan kasihnya begitu tulus. Tuhan memperbolehkan manusia untuk memakan semua buah dari pohon-pohon yang ada di taman itu kecuali buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Namun Setan berkata lain. Tuhan berkata ‘pastilah engkau mati’ (Kejadian 3:17) namun Hawa berkata ‘akan mati’. Kata ‘akan’ merujuk kepada proses. Adam memahami kematian yang bersifat langsung sedangkan Hawa memahaminya sebagai proses. Wanita memiliki kelemahan dalam berpikir. Setelah open minded, Hawa berdialog dan open hearted. Ia percaya kepada janji Setan tentang pengetahuan yang didapatkan dengan instan. Ia melihat kepada buah itu dan merasa buah itu menarik dan kelihatan sedap. Akhirnya dia mengambil buah itu.

Wanita harus berhati-hati. Mungkin engkau memiliki kasih yang terbuka untuk semua orang tetapi kelemahanmu adalah dalam berpikir. Jika engkau sudah open minded secara salah, maka kemudian engkau akan open hearted. Kemudian matamu akan terbuka dan engkau akan masuk ke dalam satu jebakan dosa. Kelemahan pria ada di matanya. Jika engkau ingin menjatuhkan pria, maka jangan mengajak dia berdiskusi atau berdebat melainkan manjakan matanya. Orang marketing dalam penjualan mobil, motor dan rumah biasanya adalah perempuan cantik karena pembelinya adalah laki-laki. Mereka dibayar sampai 1,5 juta Rupiah sehari. Perusahaan-perusahaan tahu bahwa kelemahan lelaki adalah di matanya, maka dari itu mereka mempekerjakan wanita-wanita cantik.

Dari open minded, Hawa open hearted lalu open life. Di dalam bagian ini kita harus memiliki batasan hidup. Jika kita sudah menikah, maka kita jangan berbicara terlalu banyak dengan lawan jenis. Melalui komunikasi yang bersifat biasa, seorang pria bisa menjadi dekat dengan wanita sampai jatuh ke dalam perselingkuhan. Kita yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus memang sudah dilepaskan dari dosa tetapi dosa masih ada di dunia. Maka dari itu kita harus menentukan batasan. Kita tidak boleh open minded dengan bebas kepada semua orang. Setan bisa menjebak kita melalui gadget sehingga kita menghabiskan waktu, kehilangan fokus, dan tidak produktif dalam potensi kita. Setan dapat membawa kita kepada kenikmatan tanpa kualitas.

Hawa mempunyai kepedulian lebih daripada Adam. Ia sangat peduli dengan Adam, begitu pula Adam peduli dengan Hawa. Cinta mereka sungguh mendalam. Kita bisa melihat pujian Adam kepada Hawa ‘tulang dari tulangku dan daging dari dagingku’. Cinta yang benar adalah cinta karena mengenal dan cinta itu dikuduskan Tuhan. Cinta bertumbuh dari pengenalan yang benar akan pasangan kita. Cinta yang muncul bukan dari komunikasi adalah cinta eros. Mungkin kita dulu jatuh cinta karena mata, namun sekarang di dalam Tuhan cinta itu harus disucikan. Kecantikan itu akan pudar seiring bertambahnya umur, maka kita tidak boleh berpatokan pada hal itu. Cinta itu harus karena mengenal. Hawa peduli dengan Adam dan dirinya. Bolehkah kita peduli dengan diri kita sendiri? Boleh, tetapi tidak boleh sangat peduli secara sempit (self-centered). Kita adalah bait Allah, maka kita harus merawat dan menjaga diri. Namun jika kita hanya peduli kepada diri sendiri dan mengabaikan orang lain, maka kita sudah jatuh di dalam dosa. Tuhan mau kita jangan sampai terlalu memelihara diri atau berlebihan memelihara diri. Semuanya harus di dalam kecukupan. Hawa harus peduli dengan kerohanian, kepemimpinan, dan karakter Adam.

Setan begitu licik. Ia menanamkan janji-janji kosong dalam pidatonya kepada Hawa. Akhirnya Hawa terpancing dan mau instan atau cepat. Tuhan memberikan pengajaran secara progresif atau progressive revelation. Jadi Tuhan tidak memberikan pewahyuan secara instan. Setan menawarkan cara instan. Manusia tidak mau proses dan perjuangan tetapi mau instan. Itu bukan program Tuhan. Di dalam hidup ini ada proses dan proses itu indah. Proses itu indah dengan adanya kualitas pengenalan, tetapi menjadi tidak indah jika tidak ada kualitas. Belajar adalah proses yang indah, bukan menyontek. Wanita harus memiliki kepedulian dalam kerohanian dan kepemimpinan pria serta karakter. Kepedulianmu bukanlah untuk dirimu sendiri. Jangan sampai biaya perawatan dirimu melebihi biaya rumah tangga. Ada artis luar negeri yang menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk perawatan dirinya. Ada orang yang sangat peduli dengan kecantikannya sampai tidak mau melayani dan punya anak. Jika engkau sudah menikah dan masih berpikir seperti ini maka engkau harus bertobat.

Wanita juga memiliki potensi dalam rela berkorban. Kita tidak boleh hitung-hitungan ketika berkorban. Ketika berkorban, jangan menganggap diri sudah berkorban. Hawa dalam bagian ini seperti mau berkorban. Di dalam bagian ini, siapakah yang Hawa korbankan dalam mengambil buah itu? Pertama dia mengorbankan anugerah dan kebebasan dari Tuhan. Jika engkau mau berkorban maka semua pengorbanan itu harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Jika semuanya hanya berkaitan dengan dirimu sendiri, maka pada akhirnya engkau akan mengorbankan orang lain dan hati Tuhan. Adam saat itu terlalu percaya dengan apa yang diberikan oleh Hawa. Saat Hawa mengambil buah itu, Adam berada di dekatnya. Adam tidak berpikir kritis dan tidak bertanya melainkan langsung memakan buah itu. Mengapa? Karena cinta. Cinta itu kuat bagaikan maut (Kidung Agung 8:6). Cinta Adam membuatnya percaya sepenuhnya kepada Hawa. Hawa terlalu cepat mengambil keputusan. Hawa ingin mengambil jalan pintas dan Adam karena cintanya tidak mau berpikir kritis sehingga keduanya jatuh di dalam dosa. Mereka kemudian tahu apa yang disebut malu dan rasa bersalah. Ketika Tuhan bertanya kepada mereka, Adam menyalahkan Hawa (Kejadian 3:12). Setelah kejatuhan, manusia suka mencari kambing hitam atau saling menyalahkan. Meskipun Hawa sudah mengecewakannya, Adam tidak menceraikannya atau marah secara berlebihan kepadanya. Malaikat pada akhirnya mengusir mereka dari taman Eden setelah Tuhan memberikam pakaian kulit kepada mereka. Inilah pengorbanan yang pertama: Tuhan mengorbankan hewan dan memberikan kulitnya kepada Adam dan Hawa. Mereka pergi dengan rasa bersalah dan perjuangan karena mereka harus bersusah payah dalam hidup mereka. Hawa harus melahirkan dengan mencurahkan darah dan rasa sakit. Itu semua akibat dosa.

Kenikmatan Yang Berpusat Pada Allah

Manusia boleh menikmati ciptaan Tuhan, tetapi ada batasnya (cukup). Relasi kita dengan Tuhan harus menjadi yang utama, baru kemudian relasi horizontal. Kenikmatan di dalam hidup kita harus berpusat pada Allah. Kita harus mencukupkan diri (Ibrani 13:5). Kita bisa memakan babi, menikmati televisi, meminum anggur, dan menikmati hobi namun ada batasannya dan semuanya harus dikaitkan dengan Tuhan, bukan berpusat pada diri. Semua kenikmatan harus dikaitkan dengan anugerah. Ini bukan berarti kita menikmati dengan sembarangan tetapi menikmati dengan batasan. Kita mendapatkan anugerah sehingga kita boleh menikmati semua pemberian Tuhan tetapi tetap ada pengendalian diri.

Segala kenikmatan dan kepuasan harus dikaitkan dengan anugerah dan kemuliaan Tuhan. Kepuasan kita pun juga harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Di dalam pernikahan, pria yang sudah berusia cukup lanjut bisa tetap meinginkan seks namun wanita yang akan memasuki masa menopause sudah tidak lagi memiliki gairah seks. Ini merupakan masalah, namun bisa tidak menjadi masalah jika sebelumnya sudah ada pendekatan medis. Setelah itu harus ada pendekatan iman. Ada istri yang bersyukur ketika suaminya mengalami darah tinggi karena itu membuat libidonya turun. Jika Tuhan masih memberikan kita anugerah untuk menikmati banyak hal, maka jangan lupa untuk mengaitkan semua itu untuk kemuliaan Tuhan. Seluruh potensi harus diserahkan kepada Tuhan. Titik kelemahan kita harus diwaspadai dan dibawa dalam nilai peperangan supaya hidup kita saling melengkapi, menguatkan, dan membangun sehingga hidup kita semakin efektif dan semakin berkarakter Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini sudah dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami