Antara Kesempurnaan dan Kebaikan (Adam)

Antara Kesempurnaan dan Kebaikan (Adam)

Categories:

Kita akan mempelajari setiap mutiara iman dari perjalanan mereka dalam mengikuti Tuhan. Kita akan melihat bagaimana mereka menghadapi tantangan dan bergumul bersama dengan Tuhan. Tokoh yang pertama yang akan kita bahas adalah Adam.

Pendahuluan

Mari kita membaca Kejadian 2:7, 15-17. Siapakah manusia yg pertama diciptakan oleh Tuhan? Alkitab mencatat: Adam. Apakah para teolog Liberal setuju? Tidak. Mereka percaya bahwa manusia diciptakan melalui proses evolusi Darwin. Namun Tuhan menyatakan bahwa manusia diciptakan dari debu menjadi manusia yang utuh secara langsung tanpa melalui proses evolusi Darwin. Tuhan berkuasa maka Ia bisa menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Ia tidak perlu memakai big bang atau evolusi Darwin. Maka bagi kita manusia yang pertama adalah Adam dan bukan kera.

Mengapa Allah mencipta manusia menurut gambar-Nya? Apakah ini berarti Allah memiliki tubuh? Tidak. Dikatakan bahwa manusia itu adalah gambar-Nya (bahasa Ibrani: tselem). Ini tidak berarti bahwa Allah bertubuh. Kita diberikan kemampuan untuk berpikir tentang kebenaran, mengerti keadilan (righteousness) dan kehendak Tuhan, dan kesucian (holiness) serta hati nurani untuk mengetahui apa yang benar dan salah.

Mengapa manusia diberikan kebebasan? Bisakah di dalam kesempurnaan penciptaan itu manusia tidak diberikan kebebasan tetapi diberikan batasan? Manusia diberikan kebebasan yang bersifat terbatas. Kita bukan robot tetapi manusia yang bisa berpikir, memiliki emosi, dan memiliki kehendak. Kita disebut manusia ketika memiliki tiga hal ini. Sebelum jatuh ke dalam dosa, Adam memiliki kebebasan yang netral. Jika tidak netral, maka ia tidak akan jatuh ke dalam dosa karena akan selalu berpihak pada Tuhan dan bukan Iblis. Karena kebebasannya netral, Adam dan Hawa memiliki potensi untuk memilih Tuhan atau Iblis. Bisakah Allah mencipakan manusia dengan kebebasan tidak netral? Bisa, namun di sana tidak terdapat keindahan dari makhluk yang beribadah. Di dalam kebebasan kita bisa mendemonstrasikan ketaatan kita dalam beribadah kepada Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kita seperi robot. Tuhan menciptakan Adam sebagai manusia yang bisa berinteraksi dengan Allah sebagai Pencipta dan alam ciptaan dalam tanggung jawabnya. Ia juga berelasi dengan dirinya sendiri dalam kebebasan.

Pembahasan

Di sini kita akan mempelajari tema ‘Adam: Antara Kesempurnaan dan Kebaikan’. Adam diciptakan “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Ia memiliki satu kebaikan yang luar biasa dan ia berelasi dengan semua ciptaan dalam keadaan yang harmonis. Ia mewakili karakter Tuhan sebagai satu peta dan teladan Allah yang sempurna. Lawan kata dari kesempurnaan adalah kekurangan dan lawan kata dari kebaikan adalah keburukan. Apakah keberadaan diri kita sekarang ini sempurna? Jika sempurna berarti tidak ada kekurangan, maka diri kita tidak sempurna. Kesempurnaan yang sesungguhnya adalah milik Tuhan. Ketika kita menjadi orang yang mulia di hadapan Tuhan, itu bukan karena kita cantik atau tampan. Kita disebut sempurna karena kita memiliki peta dan teladan Allah yang sempurna, namun kita masih memiliki kekurangan dan masih bisa jatuh dalam kebebasan kita. Ketika Tuhan menciptakan Adam dan memberikan nafas kehidupan, di saat itulah terdapat satu risiko. Adam memiliki kemungkinkan untuk mempermalukan Tuhan. Mengapa Tuhan berani mengambil risiko ini? Karena Allah tidak pernah gagal. Mungkin pada awalnya terlihat gagal, namun dalam proses waktu Tuhan akan menyempurnakan Adam yang pertama melalui Yesus sebagai Adam yang kedua. Ini berarti Tuhan tidak takut akan kegagalan karena diri-Nya adalah sempurna dan Dia-lah yang menggenapkan kesempurnaan. 

Adam sebagai gambar dan rupa Allah bisa memberikan yang terbaik karena ia mewakili karakter Tuhan. Kita memiliki knowledge, righteousness, dan holiness yang adalah karakter Tuhan. Adam telah diciptakan dengan sangat amat baik (Kejadian 1:31). Binatang tidak memiliki respons ibadah kepada Tuhan dan rasio untuk bisa mengetahui kebenaran. Manusia memiliki pikiran dan potensi untuk mengerti kebenaran. Manusia memiliki aspek righteousness sehingga bisa mengetahui mana yang adil dan tidak adil. Kita memiliki aspek holiness untuk mengerti standar kesucian karena kita pada mulanya diciptakan sebagai makhluk yang beribadah. Kita sebagai peta dan teladan Allah juga memiliki karakter Allah. Kita memiliki alis agar air yang turun tidak masuk ke dalam mata. Bulu mata melindungi mata kita dari debu. Semua sudah dirancang Tuhan dengan baik. Dalam pandangan Tuhan, kita ini sempurna karena kita adalah peta dan teladan Tuhan. Saat jatuh dalam dosa, kita tidak lagi sempurna karena kita memiliki natur berdosa. Namun setelah diperdamaikan oleh Kristus, kita mencapai standar manusia sempurna karena gambar Allah dipulihkan kembali. Maka jangan mencari pasangan berdasarkan apa yang kita lihat. Penilaian yang berdasarkan apa yang dilihat itu bisa salah. Apa yang dilihat itu bisa menipu. Kecantikan bisa dipalsukan. Maka pertanyaannya: mengenal dulu atau cinta dulu? Mengenal dulu. Namun sekarang banyak cinta yang bertumbuh hanya karena melihat. Kita mungkin memulai cinta dengan alasan yang berbeda-beda namun cinta harus dikuduskan oleh Tuhan. Adam dan Hawa memiliki kesempurnaan sebagai peta dan teladan Allah. Kebaikan adalah ketika kita bisa mewakili Tuhan dan ciptaan lain bisa melihat Tuhan melalui kita. Kebaikan bukanlah ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain supaya kita dinilai baik. Adam diminta untuk mengusahakan bumi dan segala isinya (Kejadian 2:15). Ia diminta untuk memberikan nama bagi setiap hewan (Kejadian 2:19). Semua nama yang diberikannya disetujui oleh Tuhan. Ini menyatakan bahwa sebelum kejatuhan di dalam dosa, akal budi dan keseluruhan diri Adam bisa mewakili Tuhan dalam mengatur alam. Kesempurnaan Adam adalah kesempurnaan yang luar biasa sebelum ia jatuh ke dalam dosa.

Apa kaitan antara kesempurnaan dan kebaikan? Saya percaya saat itu Adam tidak bisa berdebat dengan Tuhan ketika melihat-Nya sebagai Pencipta. Adam saat itu tidak perlu berdebat dengan Tuhan untuk mengetahui kebenaran. Tugas Adam adalah percaya. Ketika Adam diberitahu tentang pengetahuan alam agar ia bisa mengatur alam, saat itu tugas Adam adalah believe. Setelah itu dia mendapatkan wahyu progresif dari Tuhan. Di antara kebenaran (truth) dan kepercayaan (belief) kita ada pengetahuan (knowledge). Tuhan senantiasa membagikan pengetahuan kepada Adam di dalam proses dan bukan secara instan. Setelah kejatuhan dalam dosa, banyak orang menuntut pengertian terlebih dahulu agar dapat percaya kepada Yesus. Apakah ini salah? Tidak. Kita sedang ada di dalam dosa. Orang berdosa merasa dirinya punya otonomi dalam berpikir dan kehendak bebas. Maka ketika ia ditantang untuk percaya Yesus, ia bisa bertanya mengapa ia harus percaya. Orang berdosa merasa dirinya tidak perlu diselamatkan. Ia bisa menuhankan pengetahuan. Saat Adam jatuh ke dalam dosa, aspek rasio Adam itu pun anugerah Tuhan. Maka Adam sebagai makhluk yang beribadah dan taat, ia percaya dahulu lalu setelah itu mendapatkan pengetahuan secara perlahan. Mungkinkah Adam bertanya kepada Tuhan tentang alam? Mungkin, karena sebelum kejatuhan Adam bisa berdialog dengan Tuhan. Di dalam kebebasan itu ia bisa banyak bertanya.

Kita sebagai orang Kristen percaya dahulu atau menuntut pengetahuan terlebih dahulu? Ada yang menyatakan bahwa ia baru mau percaya setelah mengerti tentang Allah Tritunggal. Mungkinkah ada dari kita yang percaya setelah Tuhan memukul kita? Yesus mengatakan “berbahagialah mereka yang tidak melihat tetapi percaya” (Yohanes 20:29). Kita bisa lahir baru bukan karena kita pintar tetapi karena Tuhan menanamkan benih iman di dalam hati kita. Tanpa karya Roh Kudus, kita tidak mungkin bisa berespons terhadap firman. Kita diselamatkan bukan karena rasio tetapi karena iman. Melalui iman itulah kita bisa menanggapi setiap panggilan Tuhan. Setelah itu pikiran kita baru terbuka dan dapat mengerti Alkitab. Dulu kita tidak mengerti karena tidak ada konektivitas. Adam sebagai makhluk yang berpikir juga bisa beribadah. Setelah kejatuhannya, kita membutuhkan justification untuk belief dan truth. Kita perlu konfirmasi dan validasi untuk informasi yang kita dapatkan agar dapat memastikan kebenarannya. Kita juga perlu menguji apakah suara yang kita dengar itu berasal dari Roh Kudus, Setan, atau lainnya. Adam pada mulanya tidak perlu justification. Adam sebelum kejatuhan bisa mendengar suara Tuhan dan suara itu asli. Namun setelah kejatuhan, kita harus menguji setiap suara termasuk bahkan suara dari hamba Tuhan yang mengaku mewakili Tuhan.

Michelangelo melukis tentang Kejadian 1:27-28 yang diberi judul “The Creation of Adam” selama empat tahun (1508-1512). Dia mencoba untuk memahami dan menggali arti dari penciptaan Adam. Alkitab menyatakan bahwa Adam diciptakan dari debu tanah (Kejadian 2:7). Inilah karya seni yang pertama. Inilah satu model yang terindah dan yang terbaik yang Tuhan telah berikan bagi manusia. Michelangelo memberikan kita satu gambaran bagaimana Adam diciptakan dalam kesempurnaan. Adam diciptakan sebagai seorang yang muda. Adam dalam bahasa Ibrani berarti kemerahan. Alkitab menggunakan istilah bara, yaitu dicipta baru oleh Tuhan dari tidak ada. Dalam lukisan ini, Allah digambarkan sebagai lelaki tua yang berwibawa dan berinisiatif dalam memberikan tangan-Nya kepada Adam. Apakah Michelangelo tahu bahwa Allah itu roh? Ia tahu. Manusia diciptakan dengan satu wujud yang bertubuh, berakal budi, beremosi, dan memiliki kebebasan dalam bertindak—itulah human being. Bukankah Allah itu roh? Benar (Yohanes 4:24). Jika demikian, mengapa Allah digambarkan sebagai lelaki tua? Lukisan ini hanya menggambarkan substansi dan keberadaan Tuhan. Michelangelo juga menyadari bahwa Allah itu suci. Ada pemisahan di antara jari Allah dengan jari Adam, namun Allah tetap bisa memberikan kekuatan kepada Adam. Tuhan digambarkan aktif dan siap memberikan bimbingan, arahan, dan kekuatan kepada Adam. Posisi Adam di lukisan itu seperti orang yang lemas dan tidak percaya pertolongan Tuhan. Ia terlihat ragu dan tidak antusias maupun optimis bahwa sentuhan Tuhan bisa memberikan kekuatan yang luar biasa. Tangan Adam terlihat turun posisinya, tidak seperti orang yang sedang antusias meminta tolong. Michelangelo ingin menggambarkan tentang Allah yang maha tahu, maha hadir, dan maha kuasa yang senantiasa memberikan kekuatan bagi manusia. Manusia berada dalam posisi tidak bisa berbuat apa-apa jika Tuhan tidak menolong. Tuhanlah yang membuat manusia bisa melakukan sesuatu (Ibrani 1:3). Lukisan ini bisa mewakilkan suatu bentuk kesempurnaan dimana Allah menciptakan Adam dari debu tanah. Allah memberikannya nafas kehidupan (Kejadian 2:7). Namun ternyata kesempurnaan juga membutuhkan sentuhan dan penyertaan Tuhan. Lukisan ini adalah yang terbaik dalam memberitahu kepada kita bahwa kita diciptakan oleh Tuhan dalam kesempurnaan peta dan teladan Allah. Kita diciptakan untuk mewakili kesempurnaan Tuhan dalam sikap ibadah kita. Lukisan ini baik untuk kita pasang di rumah kita agar kita ingat bahwa diri kita memerlukan kekuatan dari Tuhan.

Adam dilihat sungguh amat baik tetapi tidak sempurna. Dimanakah ketidaksempurnaan Adam? Kesendiriannya. Tuhan kemudian memberikannya penolong yang sepadan (Kejadian 2:18). Adam adalah makhluk yang beribadah, bekerja, dan harus berelasi dengan yang sepadan. Adam tidak menemukan yang sepadan dari hewan-hewan yang ada, maka dari itu Allah memberikan yang sepadan baginya. Sebelum kejatuhan, Adam dan Hawa belum memiliki nama. Setelah kejatuhan, baru disebut nama mereka yaitu Adam dan Hawa. Jadi Adam itu sangat amat baik tetapi tidak sempurna dalam nilai relasi. Manusia harus mengalami timbal-balik dalam relasi. Ini karena Adam diciptakan dengan potensi nilai afeksi. Manusia punya rasio dan emosi. Emosi yang paling dalam itu adalah afeksi. Afeksi merupakan respons emosi. Respons emosi yang terdalam adalah respons cinta. Manusia disebut sebagai manusia karena ia bisa mencintai dan dicintai. Ini berarti manusia harus hidup dengan cinta. Tuhan berinisiatif memberikan penolong yang sepadan bagi Adam. Rancangan Tuhan bagi manusia sesungguhnya adalah pernikahan. Memang kita melihat bahwa Tuhan memberikan panggilan selibat bagi orang-orang tertentu, namun pada mulanya Tuhan menciptakan manusia dengan potensi bisa dicintai dan mencintai.

 

Tuhan mengambil tulang rusuk Adam saat ia tertidur. Tuhan membentuk wanita itu dari tulang rusuknya dan wanita ini disebut sebagai penolong dan bukan perongrong. Keindahan wanita adalah statusnya sebagai penolong. Ketika Adam bangun dari tidurnya, ia menemukan Hawa yang memiliki kesempurnaan. Di saat itulah ia jatuh cinta. Kita harus mengalami momen cinta ilahi. Ketika kita sudah ada di dalam Tuhan, kita harus menangkap cinta ilahi dimana kita sadar bahwa pasangan kita adalah yang terbaik dari Tuhan. Jika kita masih melirik yang lain setelah menikah, maka di saat itulah kita bisa jatuh dalam dosa perselingkuhan. Adam jatuh cinta karena ia tahu bahwa Allah telah memberikan kepadanya seorang wanita. Itulah lembaga pernikahan yang disahkan Allah. Cinta adalah pertemuan antara laki-laki dan perempuan di dalam waktu Tuhan. Pengudusan itu terjadi ketika pernikahan itu disahkan dalam nama Allah Tritunggal. Kita harus menguduskan cinta kita setiap hari karena kita dan pasangan kita belum sempurna dalam banyak aspek tetapi kita tetap harus bisa mencintai pasangan. Sangat mudah bagi kita untuk mengasihi Tuhan yang sempurna, tidak mengecewakan, dan tidak pernah gagal namun sulit bagi kita untuk mengasihi pasangan yang bisa menjengkelkan kita. Pasangan kita bisa menjadi seperti salib bagi kita, bahkan mungkin menjadi salib yang terbesar dalam kehidupan kita. Kita tetap harus mencintai pasangan kita yang tidak sempurna karena ia sempurna dalam peta dan teladan Allah. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Adam tidak menceraikan Hawa. Ini menyatakan tentang kesetiaan Adam.

Penutup

Adam adalah makhluk yang beribadah karena ia diberikan potensi untuk mengerti standar kesucian Tuhan. Adam disebut makhluk yang berpikir, maka ia memberikan nama yang tepat bagi setiap hewan. Dia mengusahakan segala hal dengan baik. Adam adalah makhluk yang bekerja dan dia mengerjakan apa yang dipercayakan kepadanya. Adam adalah makhluk sosial maka dia diberikan Hawa oleh Tuhan. Kita juga adalah makhluk yang beribadah, maka setiap hari Minggu kita harus beribadah serta setiap hari kita harus beribadah secara pribadi kepada Tuhan. Yesus di dalam Perjanjian Baru disebut sebagai Adam yang kedua (1 Korintus 15:45). Ia adalah Adam yang sempurna yang menyempurnakan Adam yang pertama yang telah jatuh dalam dosa. Kejatuhannya membuat kita semua menjadi manusia berdosa saat ini. Namun Adam yang kedua datang di dalam dunia untuk menyatakan ketaatan dan kesucian yang sempurna. Inilah mengapa Yesus disebut sebagai peta dan teladan yang sempurna. Kita harus mengikut teladan Yesus. Kita harus bisa mengoptimalkan seluruh cara berpikir kita sebagai makhluk yang berpikir sehingga kita tidak mudah ditipu. Kita harus menguji segala hal sampai mendapatkan validasinya. Kita harus senantiasa bekerja dan mau dipakai oleh Tuhan. Studi adalah perlengkapan agar kita bisa bekerja lebih baik lagi untuk Tuhan. Kita sebagai makhluk sosial perlu berelasi dan menyatakan siapa Tuhan. Kebaikan yang tertinggi adalah ketika kita mengekspresikan seluruh kebaikan kita agar orang lain melihat Tuhan. Itu membuktikan bahwa kita memiliki karakter yang baik. Jika kebaikan kita bukan untuk memuliakan Tuhan maka kita belum memiliki karakter yang baik. Kita harus menjadi manusia seperti yang Tuhan kehendaki.  

(Ringkasan khotbah ini sudah dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami