Panggilan dan Janji Allah (Abraham)

Panggilan dan Janji Allah (Abraham)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 12:2-3, 7; Kisah Para Rasul 3:25; dan Galatia 3:26-29.

Pendahuluan

Apa itu perjanjian? Ada berbagai macam perjanjian di dunia ini. Setiap perjanjian memiliki ikatan. Di dalam percintaan pun ada perjanjian, jika tidak ada maka itu cinta yang bersifat misteri. Tuhan memanggil Abraham, dan setelah Abraham mengerti bahwa Allah memanggilnya, Tuhan membuat janji. Kelemahan wanita adalah pendengaran dan perasaannya sedangkan kekuatan pria adalah mulutnya, walaupun itu juga merupakan kelemahannya. Kelemahan pria terletak pada mata dan hidung. Jadi setiap orang memiliki titik-titik kelemahan masing-masing. Mengapa perlu ada perjanjian? Di dalam pernikahan ada perjanjian-perjanjian. Perjanjian itu memberikan ikatan dan melatih nilai disiplin serta komitmen.

Mengapa Allah berjanji kepada Abraham? Allah sebagai Pribadi yang kekal dan maha kuasa mau mengikat perjanjian dengan Abraham yang terbatas dan mungkin bisa tidak taat dan mempermalukan Tuhan. Allah mengambil risiko yang luar biasa. Tuhan bisa saja menggenapkan janji-Nya tanpa melalui Abraham, namun mengapa Tuhan memilih Abraham? Di sini kita bisa melihat keindahan dari nilai konsisten Tuhan. Tuhan sudah berjanji bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular dan ular akan meremukkan tumitnya (Kejadian 3:15). Tuhan sudah menyatakan bahwa akan terjadi pertempuran di antara dua keturunan ini. Tuhan akan menyatakan kemenangan melalui kita sebagai gambar rupa Allah yang diberikan anugerah. Tuhan menganggap kita berarti.

Apakah perjanjian Allah kepada Abraham bersifat kekal atau sementara? Kekal. Janji Allah tidak hanya untuk di masa Abraham saja tetapi sampai Musa dan Yosua dimana tanah Kanaan itu dikuasai oleh bangsa Israel. Adakah karakteristik sebuah perjanjian? Ada, yaitu terkondisi dan tidak terkondisi. Mengapa Allah berani memberikan janji yang tidak terkondisi atau tidak bersyarat? Biasanya kita ketika membuat perjanjian dengan orang lain, selalu membicarakan mengenai syarat-syarat. Di dalam pernikahan, pasangan mengucapkan janji di hadapan Allah dan jemaat. Ketika Tuhan memberikan keselamatan, di dalamnya terdapat nilai perjanjian. Saat kita beribadah, di dalamnya juga ada perjanjian. Di saat kita beribadah, kita mengikuti perintah Tuhan yaitu menguduskan hari Sabat sesuai dengan perjanjian yang Tuhan berikan. Di dalam ibadah kita mengutamakan Tuhan dan tubuh Kristus serta kita siap diutus untuk menjadi garam dan terang. Mungkinkah Allah menggagalkan perjanjian-Nya dengan Abraham? Abraham jatuh-bangun dalam perjalanan imannya, namun Allah itu sempurna dan rencana-Nya tidak mungkin gagal oleh kuasa apapun. Panggilan Allah bagi Abraham adalah suatu anugerah. Kita akan mendalami bagian ini.

 

Pembahasan

Abraham dipanggil untuk menjadi bapa orang beriman. Hidup kita mengandung panggilan. Kita sudah dipanggil untuk bertobat, lahir baru, status baru, cara pandang baru, dan memiliki sikap yang baru. Kekristenan yang tidak mengandung nilai pertobatan bukanlah kekristenan yang berisi, berkarakter, dan berbuah. Tanpa pertobatan, hidup kita tidak akan dipakai oleh Tuhan. Banyak orang Kristen di daerah-daerah Kristen hancur karena dosa dan kemerosotan moral. Sudah banyak terjadi pernikahan sesama jenis dan pernikahan beda iman di tempat-tempat tersebut. Banyak gereja bahkan sudah menyetujui pernikahan beda iman dan pernikahan LGBT. Di sini kita melihat bahwa standar kesucian sudah begitu merosot. Pertobatan dan pimpinan Tuhan di segala aspek dalam hidup kita harus jelas kita mengerti dan dapatkan. Ketika panggilan kita sudah jelas, Tuhan akan menyatakan janji-Nya. Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa ia akan dijadikan bangsa yang besar. Tuhan juga melindunginya sehingga bangsa lain yang mengutuknya pasti akan kena kutuk. Ia dipanggil untuk menjadi berkat. Abraham juga menerima janji tanah bagi keturunannya.

Bagaimana dengan prosesnya? Allah memberikan anak perjanjian melalui rahim Sara. Anak itu adalah anak iman yang kemudian dari garis keturunannya akan muncul Juruselamat. Kenapa membutuhkan 25 tahun? Tuhan memanggil Abraham di Ur-Kasdim saat berumur 75 tahun. Ia menerima anak perjanjian itu pada umur 100 tahun. Tuhan memberikan janji dalam Kejadian 12 kemudian dikonfirmasi dalam Kejadian 15 dan 17. Perjanjian sunat diberikan oleh Tuhan bagi Abraham dan keturunannya. Setiap laki-laki pada hari ke-8 harus disunat sebagai tanda bahwa anak itu diserahkan ke dalam perjanjian Tuhan. Sunat itu tidak menyelamatkan. Dalam konsep Reformed, sunat itu seperti baptisan anak. Baptisan anak tidak menyelamatkan. Di dalam baptisan anak, orang tua menyerahkan anaknya kepada Tuhan. Baptisan anak itu adalah tindakan iman dimana orang tua berjanji akan mendidik anak di dalam Tuhan dan menyerahkannya bagi Tuhan. Tuhan memberikan proses dan proses itu indah. Maka dari itu saya tidak percaya dengan cinta kilat, tapi mungkinkah itu bisa dikuduskan Tuhan? Mungkin, contohnya adalah Daud dan Betsyeba. Cinta harus mengandung pengenalan yang bertumbuh akan pasangan. Sebelum dipersatukan oleh Tuhan dalam pernikahan, cinta itu harus bersyarat. Setelah menikah, cinta itu harus tanpa syarat. Secara fisik, manusia akan semakin lemah, maka dari itu kita tidak bisa berjanji kepada pasangan bahwa kita akan selalu cantik atau tampan. Kita harus memikirkan yang esensi dan penting.

Tuhan melalui proses melatih iman Abraham. Anak perjanjian itu bukan anak murahan dan anak kedagingan. Di dalam kitab Ibrani dikatakan bahwa anak itu adalah anak karena iman dan mukjizat Tuhan (Ibrani 11:11). Anak kedagingan bisa disucikan. Ia harus percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Doa seorang istri bisa menyucikan suami menurut Paulus (1 Korintus 7:13-14). Itulah mengapa orang yang sudah bertobat jika memiliki pasangan yang belum percaya tidak boleh menceraikan. Istri yang sudah percaya harus berjuang agar suaminya juga menjadi percaya. Ia harus mengikuti program Tuhan dan tidak boleh seenaknya mengambil keputusan bercerai. Sara sangat menginginkan anak namun ia berpikir bahwa umurnya sudah terlalu tua sehingga tidak mungkin memberikan anak melalui rahimnya. Ia kemudian berpikir bahwa anak itu mungkin akan lahir lewat gundiknya yaitu Hagar. Abraham seharusnya menolak usulan tersebut karena Allah sudah berjanji akan memberikannya keturunan, tetapi ia malah pasrah. Di saat itu ia tidak bertanya dan melibatkan Tuhan tetapi langsung tunduk pada usulan Sara. Di sini kita harus berhati-hati. Ketika sedang menjalani program Tuhan, jangan sampai kita melihat kelemahan diri sehingga kita gagal. Kita seharusnya melihat Tuhan yang memanggil dan memberikan program itu. Tugas kita adalah menerima panggilan Tuhan dan taat serta sabar menunggu waktu Tuhan. Jangan sampai kita mendahului waktu Tuhan seperti yang Sara lakukan. Ia memberikan Hagar kepada Abraham sehingga lahirlah Ismael. Keputusan yang salah ini akhirnya mengakibatkan kekacauan sampai hari ini. Jadi, ketika waktu Tuhan belum sampai, janganlah kita mendahului dengan pembenaran rasio tetapi tetap sabar dan taat kepada Tuhan. Jika kita ingin mendahului waktu Tuhan, maka pada akhirnya kita sendirilah yang menyesal. Saya mengajarkan kepada para pemuda dan remaja agar mereka tidak mendahului waktu Tuhan dalam hal cinta. Pacaran dan pernikahan hanya boleh dijalani oleh mereka yang sudah memiliki kematangan iman dan karakter. Kita harus berhati-hati terhadap cinta karena Alkitab sudah menyatakan bahwa cinta itu kuat bagaikan maut (Kidung Agung 8:6). Ada anak yang mau membunuh diri karena orang tuanya menyuruhnya berpisah dari pacarnya. Cinta itu mengikat dan kuasanya seperti api yang menghanguskan. Hanya iman yang bisa mengontrol cinta dan mengarahkan kita untuk mengambil keputusan yang tepat. Bukan perasaan dan rasio yang mengontrol cinta.

Mengapa Abraham dan Sara lemah? Karena mereka melihat kelemahan diri. Abraham sudah menerima janji Tuhan namun ia tidak melihat itu di dalam kesabaran dan ketaatan. Anak yang paling indah adalah anak karena iman: dibesarkan dalam iman, dibentuk dalam iman, dan dipersembahkan untuk menghasilkan buah-buah iman. Keluarga yang seperti ini pasti memuliakan Tuhan. Namun jika kita memiliki anak karena kedagingan, maka kita harus meminta penyucian dari Tuhan karena apa yang dilahirkan karena kedagingan akan menghasilkan kedagingan. Mengapa anak Daud dan Betsyeba mengalami kematian? Itu hukuman Tuhan. Saya tidak mengatakan bahwa setiap bayi yang mati itu adalah hukuman Tuhan. Di sini kita belajar bahwa kita harus memiliki anak karena iman. Bagaimana jika ada pasangan yang tidak diberikan anak? Pasangan tersebut bisa belajar untuk mengadopsi anak dengan iman. Ada banyak anak adopsi yang berhasil dibesarkan dengan iman dan mereka memuliakan Tuhan. Seluruh keputusan kita haruslah karena iman. Kita sebagai orang tua juga memberikan nama kepada anak dengan iman. Kalaupun di masa lalu ada kekelaman dan keterpaksaan, kita bisa berdoa dan meminta pengudusan dari Tuhan.

Tuhan sudah berjanji akan melindungi Abraham. Dalam Kejadian 12:10 dinyatakan bahwa ada bencana kelaparan saat itu. Abraham dan Sara kemudian ke Mesir untuk mendapatkan makanan. Ketika mereka tinggal di Mesir, Abraham mengakui Sara hanya sebagai adiknya di hadapan orang-orang karena takut mati. Di sini ada proses, ternyata Abraham pada saat itu bukan bergantung kepada Tuhan tetapi memakai siasat manusia untuk melindungi diri. Firaun mendengar bahwa Sara itu sangat cantik lalu kemudian mengundangnya. Abraham tidak berbuat apa-apa mengenai hal ini. Saat itu Abraham belum memiliki keberanian yang suci. Tuhan kemudian ikut campur dalam perkara ini dan memberikan tulah. Firaun kemudian diberitahu bahwa tulah ini datang karena ia telah mengambil Sara. Setelah itu, Firaun memanggil Abraham, bertanya kepadanya, dan mengembalikan Sara kepadanya. Di sini Tuhan melindungi kesucian rahim Sara. Ketika Firaun mengambil Sara, Tuhan turut campur, namun ketika Abraham mengambil Hagar, Tuhan mengizinkan atau membiarkan, mengapa demikian? Ada penafsir yang mengatakan bahwa Tuhan menjaga kesucian rahim Sara. Anak yang akan dilahirkannya itu adalah dari Abraham. Ketika Abraham ditetapkan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain, ternyata termasuk bangsa-bangsa keturunan Ismael. Ini adalah kedaulatan Tuhan yang hidup. Di dalam setiap pengambilan keputusan di dalam hidup kita, iman harus memimpin dan bukan ketakutan. Abraham mengalami jatuh-bangun dalam sekolah imannya. Kapan janji tentang tanah digenapi? Abraham diberikan janji tersebut namun penggenapannya baru terjadi pada masa Yosua. Kira-kira jaraknya adalah 500 tahun. Di sini kita melihat ada proses waktu, bukan instan. Kita harus melihat waktu Tuhan, tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat dari itu. Tuhan memberikan janji dan penggenapan yang kekal kepada Abraham. Janji yang Tuhan berikan itu ternyata sampai kepada janji keselamatan yang digenapi melalui keturunan Daud yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Ketika Tuhan menganugerahkan anak bagi kita, kita harus memikirkan visi dan masa depan bagi anak ini dengan iman. Setidaknya anak harus kita targetkan agar menjadi garam dan terang. Ketika anak-anak kita berhasil dibentuk menjadi orang-orang yang setia kepada Tuhan, kita sebagai orang tua akan meninggalkan dunia ini dengan tenang. Rasul Petrus di Serambi Salomo menyatakan bahwa janji Allah kepada Abraham itu dinyatakan juga kepada kita, yaitu bahwa kita yang percaya sudah menjadi milik Kristus. Abraham adalah bapa rohani kita dan kita adalah umat pilihan Tuhan. Kita sudah menjadi anak-anak Allah karena kita adalah milik Kristus. Galatia 3:28 dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Di sini kita belajar untuk tidak sembarangan memilih pasangan. Pernikahan itu karena iman, juga dalam mendidik anak. Setiap kita yang sudah menjadi milik Kristus mendapatkan kepastian yang kekal. Tidak ada kuasa manapun yang dapat merebut kita dari tangan Yesus (Yohanes 10:18). Tidak ada kuasa manapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Roma 8:38-39). Inilah jaminan keselamatan yang kekal dan pasti dari Tuhan. Maka dari itu keselamatan kita tidak akan hilang karena kelemahan diri. Janji Allah tidak mungkin gagal karena kelemahan Abraham dan Allah terus melatih Abraham sampai selesai. Kita yang diselamatkan memiliki Roh Kudus yang terus menyucikan kita dan mengingatkan kita akan kebenaran. Ibrani 12 menyatakan bahwa kita harus memiliki iman yang memimpin kepada iman, jika tidak maka Tuhan akan menghajar kita agar kita hidup dalam kebenaran dan menghasilkan buah kebenaran. Jika ada anggota keluarga kita yang sedang dipukul oleh Tuhan, maka kita hendaknya tidak ikut campur karena Allah mendidik orang-orang yang dikasihi-Nya. Tugas kita adalah memberikan kekuatan dan penghiburan seperti tertulis dalam Galatia 6:1. Ini agar orang itu bisa menikmati hal yang tepat dalam kehendak Tuhan. Kita sebenarnya tidak perlu dipukul jika kita segera taat.

Tuhan itu setia dan panggilan-Nya tidak mungkin gagal untuk keselamatan kita. Panggilan Tuhan untuk membentuk kita dan membuat kita memuliakan Tuhan sampai Kristus datang untuk kedua kalinya juga tidak mungkin gagal karena Dia adalah Allah maha kuasa. Tanah Kanaan kita saat ini tidak lagi bersifat lahiriah tetapi bersifat surgawi yang berkenaan dengan hidup yang kekal. Hidup yang indah adalah hidup yang beriman dan berbuah iman sampai Tuhan datang kembali. Kita semua akan menghadap takhta pengadilan Allah. Di sana buah iman kita akan menjadi saksi. Buah iman yang sejati adalah penginjilan yang kita lakukan. Kebanggaan kita adalah ketika Tuhan bekerja melalui penginjilan yang kita lakukan. Hidup kita indah karena memegang janji Kristus yang tidak mungkin gagal itu. Harta, kuasa, dan kebanggaan dunia akan sirna seiring waktu, namun milik kita yang kekal adalah iman, buah iman, dan kesaksian iman. Hal yang membahagiakan adalah ketika orang-orang di sekitar kita bisa bersaksi bahwa kita ini sungguh-sungguh anak Tuhan. Tuhan selalu memelihara umat-Nya. Suatu kali ada pasangan yang pernikahannya hampir digagalkan oleh orang tuanya. Bertahun-tahun ayahnya tidak mengizinkan karena lebih percaya dukun yang berkata bahwa calon menantunya itu akan membawa sial. Pasangan tersebut terus setia dan menunggu waktu Tuhan. Tuhan menyatakan waktu-Nya ketika ayahnya tersebut meninggal. Ibunya kemudian meminta maaf kepada anaknya di depan jenazah ayahnya. Tuhan mengasihi umat-Nya dan selalu memberikan rancangan yang terindah. Ada kejadian yang sudah terjadi beberapa kali dimana orang-orang yang mau menggagalkan gereja Reformed itu satu persatu meninggal. Program Tuhan tidak mungkin gagal, maka dari itu mari kita memegang milik kita yang kekal yaitu iman, buah iman, dan kesaksian iman. Tuhan yang sudah memberikan panggilan bagi kita juga adalah Tuhan yang sudah memberikan janji-Nya dan terus memelihara kita.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami