Keberanian dan Kemurahan Hati (Abraham – 1)

Keberanian dan Kemurahan Hati (Abraham – 1)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 13:1-18.

Pendahuluan

Apakah setiap manusia memiliki keberanian tersendiri dan ketakutannya tersendiri? Setiap orang pasti punya kedua hal ini. Kita harus mengenal tentang diri kita dalam aspek keberanian dan ketakutan yang paling menonjol dan manakah yang paling dominan. Apakah kita akan berani mati bagi Tuhan ketika ancaman itu ada di depan mata? Polikarpus adalah seorang murid Yohanes yang dibakar hidup-hidup ketika mempertahankan imannya. Ia diminta untuk menyangkal Tuhan namun ia sudah bertekad untuk tidak mengkhianati Tuhan yang setia sepenuhnya kepada dirinya. Ketika jerami di bawahnya dibakar, ia malah bernyanyi dan berdoa. Ia tidak menjerit kesakitan tetapi malah bernyanyi dengan merdu sampai semuanya habis karena ia beriman. Iman memampukan kita melewati penderitaan. Keberanian yang suci selalu berkait dengan iman yang melihat Tuhan sebagai sumber kekuatan.

Apakah setiap orang yang pemberani tidak memiliki ketakutan lagi dalam dirinya? Pasti tetap ada ketakutan. Abraham adalah salah satu contoh. Ia sungguh pemberani namun takut karena Sara. Kelemahannya adalah pada cinta kepada pasangannya. Kelemahan Sara juga sama. Jika ada pasangan yang terlalu mengasihi satu sama lain, maka cinta mereka sebenarnya antroposentris dan perlu dikuduskan. Cinta kepada Tuhan harus melebihi cinta kepada pasangan.

Adakah pengaruh antara rasa percaya diri dengan keberanian seseorang? Ada. Para pakar pendidikan melakukan penelitian dan menemukan bahwa seorang murid memiliki keberanian untuk bertanya dan berdebat dengan murid lainnya atau dosen serta menunjukkan kepintarannya karena pertama-tama faktor lingkungan keluarga. Jika lingkungan keluarga dan sekolah sama-sama mendukung, maka itu juga akan mendukung nantinya ketika anak itu berada di masyarakat. Keberanian seorang murid dilatih dari lingkungan keluarganya. Semua kepercayaan diri kita harus dikaitkan dengan karena Tuhan sudah memanggil dan menebus kita. Ketika seorang anak hanya bergantung kepada orang tuanya saja, maka sewaktu-waktu ia akan bisa terjatuh karena orang tua bukanlah sumber kekuatan yang sesungguhnya. Jika kita mau kuat, maka kita harus meletakkan kepercayaan diri kita pada Allah yang sudah menebus dan memanggil kita. Ketika kita bersandar pada Allah, maka Roh Kudus akan memampukan kita untuk melewati setiap tantangan.

Mungkinkah keberanian seorang Kristen terpisah dengan imannya? Mungkin. Tetapi setiap keberanian kita harus memiliki dasar iman. Dari iman itu, kita harus mengarah kepada kemuliaan Tuhan (from faith to faith). Mana lebih dahulu: iman atau keberanian? Imanlah yang seharusnya diposisikan terlebih dahulu. segala keberanian yang tidak dikaitkan dengan iman bukan keberanian yang benar.

Pembahasan

1) Perjalanan Iman Abraham

Perjalanan iman Abraham mengandung jatuh-bangunnya. Itulah proses yang alami yang dimana kita bisa melihat bahwa Abraham bangkit setelah jatuh. Di dalam perjalanannya ia semakin mengenal Tuhan yang memanggilnya. Abraham mengalami ketakutan tanpa iman ketika ia masuk ke Mesir dan takut dibunuh (Kejadian 12:10-20). Saat itu objek imannya adalah Sara. Sara diminta untuk berbohong agar dirinya selamat. Setelah itu Abraham jatuh lagi ketika Sara menyarankan untuk mengambil Hagar (Kejadian 16:1-16). Di sana Abraham tidak menegur Sara dan tidak bertanya kepada Tuhan sehingga ia jatuh. Ia terlalu cinta kepada Sara dan tidak mau mengecewakan Sara. Ia jatuh lagi ketika berhadapan dengan Abimelekh, raja Gerar (Kejadian 20:1-18). Di sana sekali lagi ia takut mati dan menyuruh Sara berbohong. Inilah gambaran perjalanan iman Abraham secara umum. Iman kita tidak sempurna namun Sang Pemberi iman itu, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus, penebus kita, itu sempurna. Ketika iman itu mau bertumbuh, maka harus ada perjalanan iman (from faith to faith). Iman itu tidak terlepas dari kebenaran firman Tuhan yang harus dibaca dan dihidupi. Ini karena iman bertumbuh dari pendengaran akan firman (Roma 10:17).

2) Faktor-faktor yang memengaruhi keberanian

Apa yang membuat kita berani? Pertama, berani karena kemampuan. Jika kita diminta untuk mengerjakan suatu hal yang kita mampu untuk kerjakan, maka kita akan berani menerima permintaan itu. Tetapi jika kita diminta untuk melakukan hal yang kita tidak mampu, misalnya mengerjakan ujian yang bukan merupakan bidang kita, maka kita bisa menjadi minder. Dari mana datangnya kemampuan itu? Dari bakat dan naluri yang diberikan oleh orang tua kita menurut perspektif biologis. Kemampuan kita juga bisa merupakan karunia dari Tuhan setelah kita percaya kepada-Nya. Kemampuan itu harus disucikan dan diarahkan untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk kemuliaan diri. Kita harus berhati-hati terhadap percaya diri yang berlebihan karena itu akan menyebabkan kejatuhan kita. Itu membuat kita kurang berhati-hati sehingga melakukan kesalahan.

Kedua, berani karena pengalaman. Pengalaman keberhasilan kita membuat kita berani. Namun pengalaman bisa menjadi tuhan yang salah bagi seseorang. Yakobus 4:13-14 jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Banyak orang yang memiliki pengalaman kesuksesan berpikir bahwa dirinya akan terus sukses lalu menuhankan uang dan keberhasilan. Ia berpikir bahwa hidupnya akan berumur panjang namun ternyata Tuhan bisa membatasi umurnya menjadi pendek. Kita harus berhati-hati dengan kesombongan karena pengalaman. Itulah mengapa doktrin Kristen tidak dibangun di atas dasar pengalaman rohani. Pengalaman rohani adalah 100% dari kedaulatan Roh Kudus dan tidak mungkin kita bisa mengulang-ulang sendiri. Sebaliknya, pengalaman pahit dalam menciptakan ketakutan. Ada orang tua yang mengajarkan anaknya agar tidak berkawan dengan suku tertentu karena orang tuanya pernah konflik dengan orang dari suku itu. Ketakutan seperti ini akan mempersempit pikiran. Kita bisa memiliki banyak pengalaman, namun semua itu tidak bisa menjadi modal paling utama untuk keberanian kita.

Ketiga, berani karena keinginan. Ada orang-orang yang begitu gigih dan berani mengorbankan hartanya demi bisa mencapai sesuatu. Ini semua karena dorongan keinginannya. Setiap manusia memiliki keinginan, namun kita sebagai anak-anak Tuhan harus mengaitkan keinginan Tuhan dengan keinginan kita sehingga kita hidup memuliakan Tuhan. ini hal yang penting untuk kita pegang. Banyak orang sudah jatuh dalam dosa karena keinginannya yang tidak suci. Kita harus bisa membedakan antara keinginan dengan kebutuhan serta mana yang memuliakan Tuhan dan mana yang tidak.

Keempat, berani karena tekad. Ada orang-orang yang tidak memiliki kemampuan, pengalaman, dan keinginan namun memiliki tekad. Tekad bisa mendorong seseorang untuk melakukan hal yang paling sulit sekalipun. Tekad itu baik dan banyak orang telah berhasil karena memiliki tekad yang kemudian di dalam waktu mereka mendapatkan pengalaman, kemampuan, dan keinginan. Ada orang-orang yang bukan memiliki tekad tetapi nekat. Mereka langsung bertindak tanpa memiliki kedalaman berpikir dalam menentukan pilihannya. Tuhan bisa menguduskan pilihan kita yang kita ambil secara nekat. Kenekatan itu bisa membuat kita terjatuh, kecewa, dan putus asa karena kenekatan itu kita tujukan untuk kemuliaan diri.

3) Faktor-faktor yang memengaruhi keberanian dan kemurahan hati Abraham

Ketika Perjanjian Baru berbicara mengenai keberanian dan kemurahan hati, semua itu selalu dikaitkan dengan perjuangan iman. Perjanjian Baru jarang memakai kata keberanian tetapi lebih sering menggunakan kata perjuangan. Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi keberanian dan kemurahan hati Abraham? Dalam Kejadian 13:1-18, ayat 1 menyatakan bahwa Abraham pergi ke Tanah Negeb dari Mesir bersama dengan istrinya, Lot, dan harta miliknya. Abraham sayang kepada keluarganya termasuk Lot dan keluarganya bergantung kepada Abraham. Ketika orang lain bergantung pada kita, kita pasti merasakan beban, apalagi jika penghasilan kita tidak terlalu tinggi. Abraham tidak takut ketika ia harus menampung Lot. Dalam ayat 4 dikatakan bahwa Abraham beribadah kepada Tuhan. dalam ayat 5 dinyatakan bahwa Lot juga memanggil nama Allah Yahweh. Abraham dibesarkan dalam lingkungan yang percaya kepada banyak allah, namun sekarang ia mendemonstrasikan imannya yang hanya tertuju kepada 1 Allah yang sejati. Di sini kita melihat bahwa Abraham dan Lot adalah keluarga yang beribadah kepada Tuhan. Ketika kita sayang kepada keluarga kita, itu adalah hal yang baik, namun lebih baik lagi jika kita membawa keluarga kita beribadah kepada Tuhan karena itulah yang terbaik. Abraham mengaitkan keluarganya dengan ibadah. Kita bisa mengalami krisis kasih jika kita berasal dari keluarga yang berantakan. Anak perempuan yang berasal dari keluarga yang hancur bisa menyukai pria yang jauh lebih tua daripada dirinya karena ia merindukan figur ayah. Cinta mereka bisa timbul karena saling melengkapi, tetapi mungkin ada agenda-agenda tersembunyi yang harus dikuduskan. Maka dari itu kita harus menguji dan mengevaluasi diri.

Abraham berusaha memberikan cintanya secara penuh kepada Sara dan Lot. Ia sayang kepada keluarganya. Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang sudah menikah harus meninggalkan orang tuanya (Kejadian 2:24). Perpisahan yang dimaksudkan bukanlah perpisahan total sampai tidak ada lagi komunikasi melainkan perpisahan karena sudah menjadi keluarga mandiri. Dalam ayat ke-8 Abraham menyatakan jalan keluar agar ia dan Lot tidak berkelahi, yaitu dengan berpisah. Abraham memiliki belas kasihan. Ia tidak mau berkelahi hanya karena harta. Ia berbelas kasihan pada Lot dan orang-orang yang mengikutinya. Kita harus meneladani hal ini. Banyak keluarga bertikai karena harta, namun di sini Abraham memberikan solusi dan bukan membesarkan masalah. Abraham bisa saja memakai otoritasnya sebagai paman dan menegur Lot serta para gembalanya. Ini adalah tindakan tanpa belas kasihan namun Abraham tidak memilih cara ini. Ia tidak mengancam tetapi memakai pendekatan kekeluargaan. Dalam ayat 9 ada kebesaran hati Abraham. Abraham menawarkan kesempatan bagi Lot untuk memilih tempat yang ia mau tuju terlebih dulu. Lot memilih Lembah Yordan yang banyak airnya dan dikatakan seperti taman Tuhan, namun sebenarnya di sana adalah lembah dosa karena dekat Sodom dan Gomora. Tempat itu adalah tempat yang baik untuk menggembalakan ternak. Tempat itu juga dekat dengan kota sehingga ia bisa berbelanja di sana. Penilaian Lot baik secara ekonomi, namun buruk secara sosial. Sodom adalah pusat dosa. Mengapa Lot tidak mempertimbangkan secara sosial? Karena Lot masih muda dan hanya mempertimbangkan uang dan kemudahan. Lot mendapatkan tanah yang datar namun Abraham mendapatkan tanah yang miring atau terjal. Kendati demikian, Abraham tidak gagal dalam memelihara ternaknya. Ini menunjukkan bahwa hikmat Abraham membuatnya bisa mengusahakan dengan baik. Abraham tidak kecewa pada Lot yang memilih tempat yang lebih baik secara ekonomi. Dalam ayat 4 kita mengetahui bahwa Abraham melihat penyertaan Tuhan sebagai hal yang lebih penting daripada hasil kajian manusia. Banyak orang berpikir bahwa dirinya akan sukses jika mengambil peluang yang sangat baik, namun kita tidak mungkin berhasil tanpa penyertaan Tuhan. Kita harus peka akan suara Tuhan dan mengikutinya. Di sini motivasi Abraham baik yaitu untuk menyelesaikan masalah. Ia adalah problem solver. Ini menunjukkan kebesaran hati dan kematangan dirinya.

Dalam ayat 14-18 Tuhan memberikan konfirmasi janji-Nya dan penyertaan-Nya. Tuhan menyatakan bahwa semua tempat yang dilihat Abraham di semua mata angin akan diberikan kepadanya. Lot melihat hal yang kecil karena imannya kecil, namun Abraham mau merelakan tempat yang kelihatannya lebih baik dan kemudian Tuhan memberikan yang jauh lebih besar. Lot memilih lembah, maka dari itu ia tidak bisa melihat secara luas, namun mendapatkan tempat yang tinggi dan dari sana ia bisa melihat semuanya dengan luas. Abraham diajarkan untuk hidup dengan iman dan janji Tuhan akan tanah itu. Dalam ayat 18 Abraham mengakhiri dengan ibadah yaitu mendirikan mezbah bagi Tuhan. Kita melihat saat ia sampai di tanah Negeb, ia beribadah. Setelah ia berpisah dengan Lot, ia pun juga beribadah. Kita juga harus demikian. Kita melihat proses hidup Abraham sebagai bapa dari orang beriman. Ketika kita sudah ada di dalam Tuhan dan Roh Kudus ada di dalam hati kita, maka keberanian kita haruslah karena iman. Iman itu harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan lalu kasih kepada keluarga, belas kasihan, dan kebesaran hati menyusul di bawahnya.

Hidup kita tidak boleh terlepas dari iman dan perjuangan iman. Abraham menunjukkan kasih sayang, belas kasihan, dan kebesaran hatinya lalu Tuhan menunjukkan janji-Nya karena iman. Hidup kita tidak terlepas dari iman dan perjuangan iman dalam segala aspek hidup. Iman tanpa perjuangan iman tidaklah cukup. Filipi 1:27-29 Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. Di sini kita belajar bahwa keberanian dan kemurahan hati kita harus berdasarkan pada iman, prosesnya juga karena iman, dan semuanya dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. kita harus memiliki keberanian yang suci dan perjuangan iman. Keberanian yang suci itu berkaitan dengan kemuliaan Tuhan dan bukan diri. Kita membesarkan nama Tuhan dan membiarkan diri kita menjadi lebih kecil. Keinginan, tekad, kemampuan, dan pengalaman kita harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Di situ kita akan merasakan penyertaan Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami