Keberanian dan Kemurahan Hati (Abraham – 2)

Keberanian dan Kemurahan Hati (Abraham – 2)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 14:1-24; Ulangan 20:12-14.

Pendahuluan

Bolehkah orang Kristen berperang atau membunuh (pacifism / just war theory)? Setiap kita boleh membela diri. Kita boleh berperang tetapi bukan untuk harta, kepuasan, kedudukan, atau ambisi yang tidak suci. Dalam etika Kristen terdapat beberapa pemikiran tentang perang. Pasifsime Kristen yang menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh memakai kekerasan dan melawan tetapi hanya boleh berdoa dan memuji Tuhan. Mereka berpandangan demikian berdasarkan pada tafsiran terhadap Matius 5:39 …siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Ini bukan berbicara tentang kepasifan tetapi tentang pengampunan. Kita boleh melakukan perlawanan selama hal itu tidak berlawanan dengan kehendak Allah atas hidup kita. Selain itu ada pandangan just war bahwa kita boleh berperang atau melawan orang-orang yang mau mencelakakan kita atau memerangi negara kita. Kita boleh berperang untuk menegakkan keadilan, kebenaran, dan kemuliaan Tuhan, bukan untuk harta, kepuasan, dan ambisi yang tidak suci.

Apakah semua tindakan peperangan pasti mengandung dosa? Tidak. Abraham berperang dengan 4 kerajaan timur yang sangat kuat. Ia mengalahkan mereka dengan orang-orang yang lahir dari rumahnya sendiri. Ketika pulang, mereka disambut oleh Melkisedek yaitu seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Ternyata ia tidak menegur Abraham melainkan menyambutnya. Ini menunjukkan bahwa peperangan yang dimenangkan Abraham adalah peperangan yang suci. Bagaimana dengan perang salib? Itu adalah kesalahan gereja. Pihak kekristenan banyak mengalami kekalahan dalam perang itu. Demi satu tempat, harta, dan gengsi mereka berperang. Akhirnya Tuhan memberikan kegagalan karena tidak ada motivasi untuk kemuliaan Tuhan.

Mengapa Abraham, Moderkhai, Daud, dan lainnya diizinkan Allah berperang? Kitab Ester mencatat peperangan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi dan ini diizinkan Allah. Bolehkah orang Kristen berperang demi agama? Tidak boleh. Allah kita adalah Allah yang hidup dan berdaulat dalam kemahakuasaan-Nya. Alkitab mencatat bahwa Allah bisa menggugurkan bangsa-bangsa yang besar seperti Asyur, Babel, Persia, Yunani, dan Romawi. Allah kita tidak perlu dibela karena ia maha kuasa. Alkitab juga tidak perlu kita bela sampai harus membuat hukum penistaan Alkitab. Alkitab memiliki kebenaran secara esensi. Orang-orang di luar bisa merobek dan menghina Alkitab dan kita tidak perlu membela. Pendeta juga tidak perlu dijaga dan dibela karena Allah yang menjaga para pendeta. Allah bisa mengirim malaikat-Nya untuk melindungi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Ketika kita harus mati karena iman kita, itu pun adalah kematian dalam kemuliaan karena memuliakan nama Tuhan. Allah merancangkan damai sejahtera (Yeremia 29:11) tetapi Setan mendatangkan kekacauan dan kejahatan. Kita tidak perlu membuat pasukan-pasukan khusus demi membela iman kita.

Bisakah melalui peperangan Tuhan dipermuliakan? Bisa. Peperangan zaman sekarang tidak selalu bersifat fisik tetapi bisa berupa peperangan terhadap dosa untuk menjaga kesucian baik itu di dalam keluarga, pekerjaan, studi, dan semua hal lainnya. Kita memiliki musuh dalam diri yaitu keinginan yang belum disucikan. Setan dan dunia selalu ingin menjebak orang Kristen dengan tawaran-tawaran yang menggoda.

Mengapa Tuhan Yesus tidak memakai kekuatan militer untuk mengalahkan musuh-musuh-Nya (bandingkan Matius 5:38-42)? Mengapa yesus merelakan diri-Nya ditangkap, disiksa, dan disalib? Tuhan sanggup menggunakan tentara malaikat untuk menghancurkan semua musuh-Nya, namun di sini Tuhan bukan mengalah tanpa nilai kemenangan. Tuhan tidak memakai kuasa militer tetapi memerangi secara kasih. Tuhan mau merebut jiwa-jiwa melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Ia menyatakan kemenangan-Nya ketika Ia bangkit. Untuk sementara waktu Tuhan seolah kalah dan dipermalukan, namun sebenarnya Tuhan melakukan peperangan dengan kasih. Ia berperang dengan kasih yang mengarah pada misi penebusan. Di sana Ia tidak perlu bantuan militer. Ia adalah Tuhan yang maha kuasa dan berdaulat atas segala hal secara sempurna. Tuhan mengajarkan kepada kita tentang pengampunan total. Konteks Matius 5:38-42 adalah pengampunan sampai melupakan. Pengampuan yang sempurna itu berarti kita tidak lagi mengingat atau mengungkit kesalahan orang lain. Saat Tuhan mengampuni kita, Ia melupakan semua dosa kita dan menerima kita sepenuhnya.

Pembahasan

1) Kekuatan yang terbatas tetapi berkualitas (ayat 14)

Ketika Abraham mendengar bahwa Lot ditawan oleh musuh, ia langsung mengerahkan 318 orang yang lahir dari rumahnya dan sudah dilatih. Mengapa Abraham cepat bertindak? Tidakkah ia memikirkan bahwa jumlah tentaranya hanya 318 dan ini terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah tentara musuh? Saat Abraham meninggalkan Ur Kasdim, ia sudah melatih orang-orang di rumahnya agar selalu siap menghadapi musuh. Dalam terjemahan yang lebih tepat, orang-orang itu memiliki mutu. Mereka siap mati dan taat total kepada Abraham tanpa sedikitpun mempertanyakan keputusannya. Itulah mental tentara. Abraham memiliki wibawa dan ia adalah pemimpin yang dihargai. Ia menjadi pemimpin yang memerangi 4 kerajaan Timur yang kuat. Mereka adalah musuh yang berpengalaman, maka dari itu bisa mengalahkan 5 kerajaan yang dipimpin oleh Bera, raja Sodom (Kejadian 14:9). Tentara Abraham mungkin bukanlah orang-orang yang berpengalaman seperti musuh. Mengapa Abraham berani? Karena ia tahu bahwa tentaranya berkualitas. Sebuah perusahan bisa memiliki hanya 30 pegawai dan omsetnya lebih besar daripada perusahaan dengan 100 pegawai. Ini karena ada perbedaan kualitas dari sumber daya manusianya. 318 orang Abraham ini memiliki kualitas sehingga tidak kalah dari tentara 4 raja Timur. Hal yang terpenting bukanlah jumlah orangnya tetapi kualitasnya dalam motivasi yang benar. Abraham berperang demi Lot dan menyatakan kebesaran Allah. Keberanian ini harus kita miliki. Kekayaan hidup kita adalah iman, karakter, hikmat, dan perjuangan. Maka dari itu kita tidak perlu rendah diri. Semua modal itu tidak terlihat namun sangat berharga. Kekayaan harta dan fasilitas tidak menjamin keberhasilan. Dalam zaman ini banyak orang memprioritaskan harta bahkan menjadikan politik sebagai ladang bisnis. Itulah mengapa banyak terjadi korupsi. Ada orang-orang yang mau bekerja di bidang hukum dan penegak hukum namun memanfaatkan jabatan untuk mendapatkan uang. Inilah yang menyebabkan kekacauan. Kita berperang untuk menegakkan keadilan Tuhan.

2) Kekuatan yang terbatas tetapi berstrategi (ayat 15)

318 orang Abraham mengejar musuh sampai Dan (ayat 14). Mereka berhenti di sana untuk melakukan pengamatan. Di sana mereka membuat satu strategi untuk melakukan perang malam. Mereka sadar bahwa mereka tidak bisa menghadapi musuh secara langsung karena tentara musuh sangat terlatih. Mereka butuh siasat. Peperangan di siang hari dapat membuat mereka dikalahkan, maka dari itu mereka melakukan perang malam. Mereka menunggu sampai musuh tertidur. Di sini musuh tidak waspada karena mereka berpikir bahwa mereka sudah menang dan kemudian tidur dengan nyenyak. 318 orang ini dibagi menjadi kelompok-kelompok. Ini berarti mereka melakukan perang teritorial. Mereka membunuh tanpa suara atau melakukan perang senyap. Pada akhirnya mereka mendapatkan kemenangan gilang gemilang (ayat 16). Lot, orang-orangnya, dan semua hartanya berhasil direbut kembali. Kenapa disebut kemenangan gilang gemilang? Karena tidak ada satupun prajurit Abraham yang mati. Ini karena Tuhan bekerja dan menjaga mereka. Mereka berperang dengan keberanian yang suci. Motivasi mereka benar. Napoleon Bonaparte dulunya adalah seorang tentara biasa namun kemudian berjuang dan naik sampai menjadi kaisar. Namun dia kalah ketika menyerang Rusia pada tahun 1812. Setelah itu ia terus turun dan dikalahkan oleh Inggris dan kemudian dipenjara. Ambisi Napoleon begitu besar namun tidak suci. Ia pada akhirnya mati dalam keadaan yang memalukan. Di dalam sejarah ada orang-orang yang berperang dengan tujuan yang benar yaitu untuk menegakkan keadilan dan menyelamatkan rakyat, namun tidak sedikit pula orang-orang yang berperang demi ambisi pribadi yang tidak suci. Di Indonesia dulu sering terjadi peperangan dimana orang-orangnya melibatkan kuasa gelap agar bisa menang. Abraham berperang dengan kuasa Tuhan dan bukan kuasa Setan.

 

3) Pulang dengan kerendahan hati (ayat 17-24)

Mereka pulang dengan kerendahan hati. Mereka bisa saja menjadi sombong setelah berhasil mengalahkan 4 raja yang begitu hebat, namun mereka tidak bersikap demikian. Abraham pulang dan disambut sebagai pahlawan perang. Bera, raja Sodom, adalah salah satu orang yang menyambutnya, namun ia tidak menyambut dengan motivasi yang murni. Ia ingin membeli pasukan Abraham dengan uang. Orang yang memuji dan menyambut kita belum tentu adalah orang-orang yang murni hatinya. Bisa saja ada maksud tertentu. Abraham disambut Bera namun ia tidak tertipu. Sebelum itu ia juga disambut sebagai pahlawan rohani oleh Melkisedek. Menurut teologi Reformed, ia adalah tipologi kehadiran Kristus di Perjanjian Lama. Ia memberkati Abraham dan Abraham menanggapi dengan rendah hati. Ia melakukan ibadah dan memberikan sepersepuluh dari semua yang ia dapat kepada Tuhan. Setiap kita mesti tahu diri dan sadar bahwa semua keberhasilan kita adalah anugerah Tuhan. Jangan sampai kita menjadi sombong seperti raja-raja Babel yang pada akhirnya direndahkan oleh Tuhan. Di dalam kerendahan hatinya, Abraham memberikan apa yang menjadi hak Tuhan. Kita tidak boleh perhitungan dengan Tuhan. Bagian yang terbaik harus kita berikan bagi Tuhan. Ketika raja Sodom ingin membeli orang-orang Abraham, ia menjawab aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasut pun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya (Kejadian 14:23). Abraham bisa saja menjadi lebih kaya ketika ia mau menjual semua tentaranya, namun Abraham menolak karena ia bukan orang yang tamak. Ia tidak hidup untuk uang melainkan ia memakai harta untuk kemuliaan Tuhan. ketika mati, kita tidak akan membawa harta kita. Kepemilikan harta tidak akan memengaruhi penebusan yang Kristus sudah lakukan bagi kita. Kita harus memiliki konsep kecukupan. Abraham juga baik kepada tentaranya karena ia membiarkan mereka mengambil bagian yang menjadi hak mereka. Di sini kerendahan hati Abraham dapat dilihat. Penyertaan Tuhan merupakan yang terpenting bagi Abraham.

Banyak teori perang diajarkan oleh dunia ini untuk mendapatkan kemenangan: kekuasaan, ekonomi, gengsi, materi, teritorial, agama, dan lainnya. Contohnya adalah teori: Carl von Clausewitz (On War) dan Sun Tzu (The Art of War), dan lainnya. Teori Sun Tzu terus dipakai bahkan sampai saat ini di dalam dunia ekonomi dan perdagangan. Banyak orang menginginkan kekuasaan demi ambisi diri, namun bagi kita yang penting adalah peperangan rohani (Efesus 6). Kerajaan Allah sudah ditegakkan dan tugas kita adalah berperang untuk Kerajaan-Nya. Musuh kita ada di dalam diri kita yaitu keinginan yang liar. Walau kuasa dosa sudah dikalahkan, kita masih memiliki keinginan yang harus disucikan. Itulah yang harus kita kalahkan. Tawaran dunia dan strategi Setan akan terus menganggu kita, keluarga, pekerjaan, dan studi kita. Kita mengalahkan semua itu dengan senjata-senjata rohani. Kita harus berikatpinggangkan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil, berperisai iman, berketopong keselamatan, dan memegang pedang Roh yaitu firman Tuhan (Efesus 6:14-17). Kita berperang bukan secara fisik tetapi secara rohani. Ketaatan kita harus berada di depan. Kita harus terus berdoa karena kita mau mengerti kehendak Tuhan. jangan sampai kita dipakai lagi sebagai senjata kecemaran. Kita harus membuktikan kemenangan kita dalam menjalankan peperangan rohani dan menggenapkan kehendak Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami