Kebaikan yang Tidak Benar (Abraham)

Kebaikan yang Tidak Benar (Abraham)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 12:12-13 dan Kejadian 20:2-3, 11.

Pendahuluan

Setiap kita memerlukan waktu untuk mematangkan kualitas iman kita. Alkitab berkata bahwa orang yang baru bertobat tidak boleh dipercayakan pelayanan penilik jemaat atau diaken (1 Timotius 3:6). Orang yang baru bertobat itu bisa dicobai Iblis dan kemudian mempermalukan nama Tuhan. Ini berarti bahwa kita memerlukan waktu agar kualitas iman kita bertumbuh sampai matang.

Kematangan iman memerlukan pengertian teologi yang benar. Ketika seseorang sudah lahir baru dan ia tidak diberikan atau mendapatkan teolog yang benar maka imannya tidak akan bertumbuh. Iman tanpa kebenaran adalah hanya sekedar perasaan beriman saja. Orang itu mungkin berstatus Kristen tetapi ia bisa pergi ketika mendengarkan pengajaran yang keras. Ia hanya siap menerima susu dan bukan makanan keras (Ibrani 5:12). Ia tidak bertumbuh imannya dan orang seperti ini telah dituliskan dalam Ibrani 6:4-6, yaitu ia murtad. Ini karena ia tidak memiliki fondasi iman. Orang yang memiliki iman yang bersifat rasio saja juga tidak diselamatkan. Dalam Matius 7:22 dinyatakan bahwa ada orang-orang yang seperti sudah banyak bekerja bagi Tuhan namun pada akhirnya Tuhan tidak menerimanya.

Iman tanpa pengujian adalah iman yang kosong atau tidak sejati. Jika kita mendapatkan pergumulan di dalam hidup kita, maka itu adalah hal yang baik. Ibrani 12:7a jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Allah akan memukul anak yang tidak taat karena kita bukan anak gampangan. Ini semua agar kita menghasilkan buah kebenaran. Buah iman kita adalah ketika kita membawa jiwa-jiwa kembali kepada Tuhan. pengujian datang dari Tuhan sedangkan pencobaan datang dari Setan. Tuhan memberikan kita program untuk mempertumbuhkan iman kita dan memakai kita sebagai perkakas yang mulia untuk pekerjaan yang mulia.

Iman sangat penting untuk memimpin pikiran, perasaan dan tindakan kita. Tanpa iman, pada filsuf hanya sampai pada kepuasan berpikir saja tanpa menemukan kebesaran Tuhan dan hatinya tetap kosong. Orang-orang yang memuaskan tubuhnya pada akhirnya tidak akan menemukan kepuasan melainkan kekosongan hati. Orang-orang yang sering bertindak ini dan itu untuk mencapai aktualisasi diri juga pada akhirnya akan merasakan kekosongan hati tanpa Tuhan. Semua membutuhkan iman yang sejati. Kebaikan tanpa iman, kebenaran, dan kesucian adalah kebaikan yang salah.

Pembahasan

1) Perjalanan iman Abraham

Kita akan melihat iman dan kejatuhan dari hidup Abraham. Kita harus belajar dari kelebihan dan kelemahan Abraham. Ini penting agar kita tidak jatuh pada kesalahan yang sama. Dalam Kejadian 12:10-20 Tuhan menguji Abraham. Ia harus mengalami masa kelaparan yang begitu luar biasa. Ketika ia masuk ke Mesir, ia menyadari bahwa istrinya itu sangat cantik dan pasti ada lelaki yang menginginkannya. Abraham takut dibunuh sehingga ia menyuruh Sara berbohong di depan orang-orang di sana. Kita yang beriman sebenarnya tidak boleh takut mati, namun di sini Abraham takut mati. Abraham dijadikan Allah sebagai bapa orang beriman dan Allah terus mengajarnya dan membentuk imannya. Ketika Firaun mengambil Sara untuk dijadikan istri, maka Allah melakukan intervensi. Di sana Abraham menyaksikan Allah bekerja. Setelah itu terjadi perpisahan antara Abraham dengan Lot. Di sana kita dapat melihat bahwa Abraham tidak memilih tempat berdasarkan pertimbangan harta. Lot memilih tempat yang sangat menjanjikan. Tempat itu subur dan banyak air. Jadi Lot membuat pilihan berdasarkan mata dan bukan iman. Namun demikian, Abraham tidak menjadi miskin karena penyertaan Tuhan. Ketika Lot diculik oleh raja-raja di Timur, Abraham bersama dengan tentaranya yang jumlahnya sedikit itu berani menyerang dengan iman dan strategi. Di sini kita bisa melihat peningkatan iman Abraham.

Setelah itu Allah berjanji memberikan anak perjanjian kepadanya. Abraham jatuh dalam hal ini karena tidak sabar. Sara menyatakan bahwa dirinya sudah terlalu tua untuk mengandung anak dan kemudian menawarkan Hagar kepada Abraham. Mengapa Abraham tidak seperti Ayub yang langsung menegur istrinya yang menyuruhnya mengutuk Allah? Abraham bersikap pasif namun Sara aktif. Abraham tidak memakai iman tetapi memakai mata sehingga ia pasif. Sara pun juga tidak memakai iman. Setelah menerima saran Sara, Abraham tidak bertanya kepada Tuhan. Setelah kejadian itu, Tuhan memberikan perjanjian sunat dan setelah itu Abraham menunjukkan belas kasihannya dengan berdoa syafaat untuk Sodom dan Gomora. Abraham melakukan tawar-menawar dengan Tuhan karena ia tahu bahwa Lot dan keluarganya tinggal di sana. Dalam Kejadian 19:24 kita tahu bahwa Sodom dan Gomora tetap dihancurkan. Kemudian masuk ke dalam Kejadian 20, Abraham kembali jatuh dalam dosanya (ayat 2). Ia mengalami ketakutan tanpa iman. Kita melihat perjalanan iman Abraham yang ada jatuh dan bangun. Para murid menyaksikan bahwa Tuhan Yesus telah memberi makan bagi ribuan orang. Di sana mereka seperti belajar beriman, namun ketika perahu mereka diterjang angin badai, mereka semua ketakutan. Mereka mengalami ketakutan tanpa iman yang pada akhirnya membuat mereka memberikan respons yang salah. Ketika Allah melatih Abraham untuk menjadi bapa orang beriman, ada masa jatuh-bangun dari Abraham.

2) Integrasi iman, pengetahuan, dan kebenaran

Jika kita punya banyak pengetahuan umum namun tidak bisa mengaitkan itu dengan Tuhan, maka kita tidak memiliki integrasi dengan iman. Teologi Reformed memiliki kelebihan dalam mengaitkan wahyu umum dengan wahyu khusus. Iman merupakan fondasi dalam mengerti sains. Kebenaran dalam sains harus dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Integrasi iman, pengetahuan, dan kebenaran itu penting untuk menunjukkan kualitas iman kita.

Kebaikan tanpa kejujuran bisa mengakibatkan kesalahan yaitu berbohong. Ketika Abraham menyuruh Sara berbohong karena takut dibunuh, ia sudah menunjukkan ketakutan yang tidak suci. Sara diminta untuk melakukan kebaikan tanpa kejujuran demi Abraham. Sara itu memang sangat cantik. Kejadian 12:14 Sesudah Abraham masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik. Firaun yang mendengar hal itu segera mau menikahi Sara. Kejadian 12:17 tetapi Tuhan menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, istri Abram itu. Akhirnya Firaun mengetahui kebohongan Sara dan Abraham lalu menegur mereka. Di sini kita melihat bahwa kebaikan tanpa kejujuran itu salah. Ada beberapa pohon yang tidak boleh disiram setiap hari agar tidak membusuk akarnya. Ada pula pohon yang harus dipotong ranting-rantingnya agar berbuah. Terkadang kebaikan tanpa pengetahuan menghasilkan kesalahan. Anak bayi yang baru lahir tidak boleh diberikan semua makanan orang dewasa. Maksud baik tanpa pengetahuan akan melahirkan kesalahan.

Kebaikan tanpa kebenaran juga menghasilkan kesalahan. Abraham seharusnya menyatakan dengan jelas bahwa Sara memang istrinya. Kebaikan kita jangan sampai hanya berupa emosi dan belas kasihan tetapi tanpa kebenaran. Kebaikan yang diminta Abraham dari Sara tidak mengandung kebenaran karena objek iman Abraham bukanlah Allah yang sudah memanggil dan memberikan janji. Objek imannya berubah menjadi Sara. Ia mengandalkan adiknya dan ia tahu bahwa jika orang-orang melihat Sara sebagai adiknya maka ia bisa selamat. Objek iman yang benar adalah Kristus dan firman-Nya. Iman kita bertumbuh dari pendengaran akan firman. Salahkah jika kita mengasihi pasangan kita? Tidak salah, namun ketika pasangan sudah dikasihi berlebihan dan telah menjadi objek iman, maka itu kasih yang salah. Terkadang kuasa, harta, atau pasangan bisa menjadi kenyamanan dan objek iman kita sehingga kita tidak lagi bergantung kepada Tuhan. Kelemahan Abraham adalah dalam cinta akan pasangannya. Ketakutannya membuatnya bertindak tanpa iman. Kita harus mengingat bahwa orang-orang dan materi di sekitar kita adalah sementara, maka tidak boleh menjadi objek iman kita. Objek iman kita harus selalu benar dalam situasi apapun juga. Kekuasaan dan kesehatan kita bisa berlalu, namun Tuhan itu kekal selamanya. Abraham dan Sara keduanya bersalah. Abraham menyuruh Sara berbohong dan Sara taat. Di hadapan Firaun, Sara tidak menyatakan kebenaran. Mengapa Sara pasif? Karena ia terlalu taat kepada Abraham. Ketaatan tanpa kebenaran juga adalah salah. Ketika pasangan mengajak kita berdosa maka kita harus marah. Itulah kemarahan yang suci. Itulah pentingnya kita memiliki integrasi iman, pengetahuan, dan kebenaran. Kita harus percaya bahwa Tuhan tidak mungkin gagal dalam menggenapkan rencana-Nya.

Persepsi mereka juga tidak memiliki fondasi teologi yang benar. Ini nampak dalam pembicaraannya dengan Abimelekh. Saat Abimelekh mengambil Sara sebagai istrinya, Tuhan berbicara dalam mimpinya (Kejadian 20:3). Tuhan menyatakan kebenaran kepada Abimelekh agar ia tidak berbuat dosa. Ternyata saat itu Tuhan sudah menutup kandungan dari setiap perempuan di istana Abimelekh (Kejadian 20:18). Abraham memberikan alasan dari kebohongannya: ‘aku berpikir: takut akan Tuhan tidak ada di tempat ini’ (Kejadian 20:11). Seluruh konsep pandang kita tentang apapun harus memiliki dasar Alkitab yang benar. Kita sebagai orang yang sudah bertobat harus melihat kepada Alkitab untuk merubah semua konsep pandang kita yang salah. Teologi yang benar diperlukan agar kita memiliki iman yang benar dan konsep pandang yang benar tentang segala hal supaya kita bisa memuliakan Tuhan. ketika uang dan kekuasaan tidak dikaitkan dengan Tuhan, maka kita belum menjadi anak Tuhan yang baik. Abraham tidak mendemonstrasikan konsep tentang Allah yang maha tahu dan maha hadir dalam bagian ini. Abraham hanya melihat orang-orang yang dipikirnya tidak takut akan Tuhan dan ketakutannya akan kematian. Ketakutannya tanpa iman.

Abraham menjadi orang lemah karena Sara. Ketika ia akan berpisah dengan Lot, di sana Sara tidak ada dan Abraham menunjukkan imannya. Ketika ia memerangi raja-raja timur, Sara juga tidak bersama dengannya dan ia menunjukkan percayanya. Namun ketika ada Sara, ia menjadi lemah. Kelemahan Abraham adalah cinta kepada Sara. Kebaikan harus dikuduskan sehingga mengandung kebenaran dan kesucian. Tuhan tahu bahwa Abimelekh tulus hati ketika mengambil Sara menjadi istrinya, namun hal yang dilakukannya tidaklah benar dan tidak suci, maka dari itu Tuhan mengatakan akan menghukumnya. Ini berarti bahwa kebaikan dan ketulusan harus mengandung kebenaran dan kesucian. Jika tidak demikian, maka kebaikan dan ketulusan itu salah adanya. Ketika ketakutannya adalah tanpa iman, ia melakukan kesalahan karena mau mencari aman. Di sini Abraham tidak mau mengorbankan dirinya dan akhirnya mengorbankan orang lain demi mencari aman bagi diri sendiri. Suatu kali saya pernah berbicara dengan seorang pria yang akan menikah. Ia menemukan bahwa pasangannya menderita leukimia, namun ia tetap pada keputusannya yaitu menikahinya. Orang tuanya pun setuju dengan keputusannya. Ini adalah keputusan dengan iman. Jika ia memutuskan dengan ketakutan, maka pasti ia mundur.

Kita harus diuji dalam hal iman, karakter, mental, dan hal lainnya melalui hal-hal yang menakutkan. Jika kita menghadapi setiap hal dengan iman, maka kita akan menghasilkan buah iman yang sejati. Mencari aman dalam ketakutan bukanlah prioritas hidup kita. Ada orang-orang Kristen yang setia yang menyanyikan pujian ketika akan dibunuh oleh orang-orang yang membenci kekristenan. Ketika Daud menyanyikan pujian dengan kecapinya, roh jahat itu pergi dari Saul (1 Samuel 16:23). Jangan sampai kita dikuasai oleh ketakutan sehingga kita tidak memuliakan Tuhan. Yesus berkata bahwa kita tidak perlu khawatir (Matius 6:25) dan mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Matius 6:33). Ketika kita memprioritaskan Tuhan, maka kita akan melihat bahwa pemeliharaan-Nya itu nyata setiap hari. Puasa dan doa itu baik untuk melatih kita dalam kerohanian. Ketika kita hidup beriman maka kita akan merasakan sukacita dalam penginjilan dan itu akan membuat kita tidak takut akan kematian. Kita akan mengingat Tuhan dan merasa sukacita karena akan bertemu dengan Tuhan. Namun ketika kita dikuasai ketakutan, maka seluruh hidup kita akan bertemakan kekhawatiran. Kita bisa melihat perjalanan iman Abraham dan mengetahui bahwa Allah tidak pernah berubah setia dan meninggalkan umat-Nya. Meskipun ada jatuh-bangun dari perjalanan iman Abraham, Allah tetap menyertai-Nya. Kita harus memiliki integrasi iman, kebenaran, dan pengetahuan untuk bisa mengaitkan segala sesuatu dengan Tuhan.

Kesimpulan

Kelebihan Abraham adalah kasihnya atau kepeduliannya dan kebesaran hatinya, terutama kepada Sara. Cintanya perlu dikuduskan. Kita mengasihi pasangan kita untuk kemuliaan Tuhan. Kelemahan Abraham adalah cintanya kepada Sara. Kehadiran Sara membuatnya lemah. Kita harus mengetahui kelebihan dan kelemahan kita. Kebaikan kita harus mengandung kebenaran dan kesucian. Cinta kita kepada pasangan juga perlu disucikan supaya kesatuan dalam pernikahan adalah untuk melayani Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami