Iman dan Keberanian (Abraham)

Iman dan Keberanian (Abraham)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 12:1 dan Ibrani 11:18.

Pendahuluan

Pernahkah kita mengalami dilema dalam mengambil keputusan? Mungkin kita pernah berada di dalam situasi dimana kita harus mengambil keputusan yang sulit. Ketika kita mulai membuat pertimbangan yang berkaitan dengan diri dan martabat kita, kita dianggap mulai dewasa. Anak-anak tidak pernah membuat pertimbangan yang dalam dan penting karena mereka masih anak-anak. Saat pemuda sudah lulus SMA, ia harus membuat keputusan tentang tempat berkuliah dan jurusan kuliah. Setelah lulus kuliah, ia harus memilih tempat kerja. Memilih pasangan hidup juga bukanlah suatu hal yang mudah. Kondisi-kondisi ini bisa menciptakan dilema.

Mungkinkah kita pernah salah mengambil keputusan? Kita pasti pernah mengambil keputusan yang salah di dalam hidup. Namun mungkinkah keputusan yang salah itu akhirnya diperbaiki dan dikuduskan oleh Tuhan? Mungkin, karena Allah bisa melakukan intervensi dalam seluruh hidup kita.

Apa perbedaan dari keputusan rasio dan keputusan iman? Manakah yang lebih dulu? Terkadang kita memakai rasio tanpa iman, namun terkadang juga sebaliknya.

Apakah setiap kita memiliki panggilan yang harus kita genapkan secara pribadi, di dalam keluarga, dan di dalam tempat bekerja? Ya. Istilah Yunani-nya adalah kalein. Kalein itu berarti bahwa setiap kita memiliki panggilan. Kita harus menggenapkan seluruh panggilan kita. Bolehkah kita menikmati kenyamanan? Boleh tetapi tidak boleh sampai membuat kita melupakan panggilan kita. Ada orang yang sudah nyaman secara ekonomi namun ia tidak lagi bertumbuh dan berbuah iman.

Pembahasan

Alkitab mencatat dalam Kejadian 11:27-12:4 bahwa Abram dipanggil oleh Tuhan di Haran. Namun Kejadian 15:7 mencatat bahwa ia dipanggil di Ur-Kasdim di wilayah Mesopotamia. Adakah yang salah dalam bagian ini? Pasti tidak, mengapa demikian? Dikatakan bahwa Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan tanah kelahirannya yang dimana ada sanak saudaranya. Ia lahir di Ur-Kasdim. Mengapa bagian sebelumnya mencatat Haran? Terah memiliki 3 anak: Abraham, Nahor, dan Haran. Haran juga adalah nama sebuah kota, namun di sana tidak terjadi eksodus. Mengapa Terah pergi dari Ur-Kasdim ke Haran? Haran meninggal di Ur-Kasdim dan anak Haran adalah Lot. Terah, setelah berhasil mengumpulkan kekayaan, pindah ke Haran. Di sanalah akhirnya Terah meninggal. Di sana Tuhan mengingatkan kembali panggilan Abram. Tuhan mau memimpinnya sehingga menjadi bangsa yang besar. Kita tidak pernah mempermasalahkan kitab Kejadian karena penulisannya tidak sistematis dan kronologis. Kejadian 1 menceritakan penciptaan dan Kejadian 2 kembali menceritakan penciptaan. Kejadian 5-6 menceritakan tentang Nuh yang memiliki 3 anak. Hal itu diulang kembali di pasal ke-8 dan 9. Kita harus membaca substansinya dan bukan kronologisnya. Jadi Abraham dipanggil di Mesopotamia tepatnya di Ur-Kasdim. Konfirmasi panggilannya adalah di Haran. Abraham sebagai anak yang paling besar mengikuti Terah ke Haran sampai Terah mati lalu kemudian Tuhan mengingatkan kembali panggilan itu. Tuhan memimpin Abram ke tempat yang ia tidak ketahui. Di sana Abram harus membuat pilihan dan pilihan untuk mengikut Tuhan itu membutuhkan iman dan keberanian. Setiap kita jangan sampai salah membuat pilihan agar tidak sedih dan menyesal. Kita mungkin salah menangkap tentang hidup, ekonomi, bisnis, dan hal lainnya. Kita juga bisa misprediksi, miskalkulasi, dan mistarget sehingga pada akhirnya kita sedih.

Tuhan memimpin Abram kepada bangsa yang besar itu dan saya percaya bahwa di dalam prosesnya Abram mengalami dilema, bimbang, dan ragu. Abram pasti dilema saat ia harus memikirkan tentang mengikuti panggilan Tuhan dan mengikuti ayahnya dan adiknya. Saya percaya bahwa Abram memiliki kejujuran dan tanggung jawab untuk mengerti kehendak Tuhan lebih jelas dan lebih tepat lagi sampai Haran dan Terah meninggal. Ini terjadi sekitar tahun 2000 SM. Abram dari Haran dipimpin ke tempat yang ia tidak tahu, di sini perlu iman dan keberanian. Pada akhirnya Abram pergi. Ini adalah hal yang sulit. Abram harus meninggalkan usaha keluarga yang sudah sukses dan adiknya. Jika Abram memikirkan harta, maka pasti ia akan tetap di Haran. Kita harus berani meninggalkan harta demi mengikuti pimpinan Tuhan karena mengikuti perintah Tuhan itu jauh lebih baik dan penting daripada mempertahankan harta. Ada banyak orang Kristen bertikai karena warisan dan tidak beriman. Ada banyak orang berani kompromi dan menjual diri demi harta. Namun Abram berani meninggalkan semua kenyamanan itu karena ia tahu jelas pimpinan Tuhan untuk eksodus. Perpisahan itu pasti menyedihkan. Ia membawa Lot bersamanya dan tidak menitipkannya pada Nahor.

Kita mempelajari beberapa hal di sini. Pertama, ketika mengambil keputusan, kita tidak boleh berfokus pada diri, kuasa, dan kekayaan kita tetapi berfokus pada iman akan pimpinan Tuhan. Yeremia 9:23 Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya. Jika kita mengandalkan diri, maka kita tidak akan bisa mengikuti pimpinan Tuhan. Tuhan tahu semua yang terbaik untuk diri kita. Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Abram pergi dengan iman dan keberanian karena ia tahu bahwa pimpinan Tuhan tidak mungkin salah, walaupun ia harus memulai lagi dari nol. Ketika Abram dan Lot akan berpisah, Lot memilih tempat yang lebih baik, namun Abram merasa tidak apa-apa karena ia tahu bahwa Tuhan menyertainya dan memeliharanya. Ia tidak takut kekurangan uang tetapi ia takut tidak ada pimpinan Tuhan. Ketika kita memilih tempat kerja, pertimbangan kita seharusnya bukan uang atau fasilitas tetapi penyertaan Tuhan. jangan sampai kita mispersepsi akan kehendak Tuhan. Ketika kita sudah salah memilih dalam bagian ini, maka kita sendirilah yang akan rugi. Saat Terah masih hidup, Abram pasti mengambil keputusan dengan bimbingan Terah. Setelah Terah meninggal, Abram dilatih oleh Tuhan untuk membuat keputusan sendiri dengan tepat. Nama Abram berarti bapa yang terpuji. Ketika Allah akan menjadikan ia bapa dari banyak bangsa, namanya diubah menjadi Abraham. Ia juga menjadi bapa orang beriman. Tuhan melatih Abram untuk berani mengambil keputusan dengan iman dan bukan rasio dan pengalaman. Ketika kita menjadi dewasa, kita harus membuat pertimbangan dengan iman untuk kemuliaan Tuhan.

Selanjutnya, Abram juga dilatih untuk taat mengikuti pimpinan Tuhan. Abram berani meninggalkan zona nyamannya dan pergi ke negeri yang dia belum tahu. Tugas Abram adalah taat karena ia tahu bahwa Tuhan pasti tidak salah. Jika kita belum mengerti kehendak Tuhan, maka itu karena kita belum melewati tahap Roma 12:1-2 sampai akhirnya kita dapat mengerti kehendak Tuhan yang sempurna. Kita harus peka dan jangan terbawa emosi. Semuanya harus diuji dalam ruang dan waktu. Ketika Abram meninggalkan Haran untuk mengikuti Tuhan, pasti ada kedamaian dalam hatinya. Ia menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan.

Seperti Abram, kita harus membuat pertimbangan dengan iman. Kedua, pertimbangan sesuai prinsip alkitab. 1 Yohanes 5:3a sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Mengasihi Tuhan juga berarti mengasihi kebenaran. Keputusan kita harus berdasarkan apakah ada dukungan Alkitab atau tidak. Pekerjaan yang harus kita pilih tidak hanya berdasarkan kriteria baik saja tetapi juga benar. Ketiga, pertimbangan berdasarkan hati nurani. Roh Kudus bekerja salah satunya dengan cara memberikan rasa tidak damai atau resah di dalam hati kita ketika kita mengambil keputusan yang salah. Ketika kita menjadi orang tua maka kita harus mendidik anak-anak dengan baik sejak dini sehingga ia dibentuk dengan baik untuk kemuliaan Tuhan. Ketika kita mulai rasa tidak damai atau resah, maka kita harus segera bertobat. Gaji besar dan fasilitas melimpah tetapi jika tidak ada damai, maka apa gunanya? Kita harus jujur dan bersih dalam hati nurani di hadapan Tuhan. Abram punya damai sejahtera dalam mengikuti pimpinan Tuhan. Keempat, kita harus menganalisa diri. Kita harus mengerti potensi kita. Apakah Abram punya kelemahan? Ia adalah orang yang mudah takut atau kuatir. Kita harus bisa menganalisa kekuatan dan kelemahan kita. Kita harus memikirkan bagaimana agar tidak jatuh dalam kelemahan kita dan berjalan dalam kekuatan kita yang diberikan oleh Tuhan. Terkadang kita lemah dalam menganalisa diri. Kita harus mengenal Tuhan, mengenal diri, dan mengenal zaman ini. Dari mengenal zaman, kita bisa tahu apa tantangan dan godaan yang kita harus hadapi dan kemudian kita bisa mencari tahu bagaiman menghadapi semua itu. Kita sebagai orang tua harus mengajarkan hal-hal ini kepada anak-anak. Kelima, semua keputusan kita untuk kemuliaan Tuhan. Abram mengerti bahwa tujuannya bukanlah untuk harta tetapi untuk menjadi bangsa yang besar sesuai dengan visi Tuhan. jika tujuan kita hanya untuk diri sendiri, maka jelas itu salah. Keenam, memikirkan dampak dari keputusan kita. Jika Abram memilih untuk meninggalkan Terah di Ur-Kasdim, maka ayahnya pasti kecewa. Semua ada waktunya dan Abram memilih untuk tidak menjadi batu sandungan bagi Terah. Jika kita sebagai orang Kristen tidak peduli akan dampak dari keputusan kita, maka kita bukanlah orang Kristen yang baik. Ketujuh, kita harus membuat skala prioritas. First things first. Jika kita sudah mengetahui prioritas yang benar, maka kita akan bisa membuat strategi untuk mencapai yang terbaik dalam segala aspek untuk Tuhan.

Yakobus 4:13-14 jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung” sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Jangan sampai kita mengandalkan rasio dan pengalaman kita tapi melupakan Allah yang berdaulat atas hidup kita. Ketika bangsa Israel pulang dari Babel, butuh waktu 20 tahun sampai mereka dapat pulih secara sejati, mengapa demikian? Karena mereka saat awal sampai di Israel, mereka sibuk mengurus urusan mereka sendiri dan melupakan panggilan Tuhan. Pada akhirnya mereka hanya menggali lubang dan menutup lubang. Ketika Kain berdosa, Tuhan mengutuk tanah sehingga Kain tidak bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Namun melalui kehidupan Nuh, tanah yang tidak subur bisa dibuat menjadi subur karena terobosan hikmat dari Tuhan. Ia bisa membangun bahtera dengan ukuran yang tepat, mengatur konsumsi selama di bahtera, dan mengatur kehidupan semua hewan. Itu semua karena sekolah dari Tuhan. Survei atau penelitian yang manusia lakukan bisa salah, namun pimpinan Tuhan tidak pernah salah.

Kita juga tidak boleh mengambil keputusan secara subjektif hanya karena kita suka atau tidak suka. Ada banyak orang yang berpikir terlalu sempit sehingga hanya mau memilih yang mereka suka tetapi tidak menantang mereka untuk berkembang dan membuat penerobosan. Pola berpikir suka/tidak suka itu kekanak-kanakan. Penilaian dengan standar suka/tidak suka cenderung menciptakan mispersepsi yang pada akhirnya membuat kita salah dalam mengambil keputusan. Jika Abram mengambil keputusan berdasarkan untung/rugi, maka ia tidak akan meninggalkan Haran dan tidak akan membiarkan Lot memilih lembah dekat sungai Yordan. Abram lebih memilih pimpinan Tuhan. ia memiliki jiwa pengorbanan yang luar biasa. Kita harus memiliki jiwa yang seperti ini. Seberapa sering kita lebih memikirkan orang lain daripada diri sendiri? Apakah kita lebih memikirkan kepuasan kita daripada kepuasan Tuhan? Abram memutuskan dengan iman dan keberanian yang suci. Inilah yang harus kita tiru dan terapkan dalam hidup kita.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami