Daud: Berani bagi Tuhan (2)

Daud: Berani bagi Tuhan (2)

Categories:

Khotbah Minggu 16 Agustus 2020

Daud: Berani bagi Tuhan (2)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kemerdekaan kita yang sejati adalah kemerdekaan di dalam Kristus. Itulah yang kita hidupi. Terkadang yang membuat diri kita tidak merdeka adalah diri kita sendiri. Kalau kita memelihara hewan, kita bisa membuatnya tidak merdeka dengan mengurungnya dalam kandang atau mengikatnya dengan tali. Namun di zaman ini, manusia bisa mengikat dirinya sendiri dengan kabel charger. Kita bisa mengurung diri kita sendiri di kamar karena kita menikmati kesendirian atau permainan dan media sosial di gadget kita. Jadi kita tetap tidak merdeka. Kita harus merenungkan sampai sejauh mana kemerdekaan dalam Kristus membuat hidup kita menjadi lebih bermakna di tengah pandemi ini.

 

Kita akan membahas tentang keberanian Daud bagi Tuhan bagian yang kedua. Daud berani mengandalkan Tuhan dalam situasi yang sulit. Ia berani menghadapi Goliat. Keberaniannya muncul karena iman. Ia tidak mencari kepuasan atau pujian untuk diri. kita akan melihat 1 Samuel 17:45, 2 Samuel 2:7, 1 Samuel 26:10. Daud berani karena nama Tuhan. Ia melihat Allah yang beserta dengan tentara Israel. Daud harus menunggu waktu yang cukup lama dari waktu dia diurapi sampai ia benar-benar memiliki status raja. Keberanian Daud tidak membuatnya mau membunuh Saul meskipun ia mendapatkan kesempatan sampai dua kali.

 

 

PENDAHULUAN

 

Mengapa Daud berani dan sabar dalam menunggu waktu Tuhan untuk menjadi raja? Ia diurapi oleh Samuel dalam 1 Samuel 16. Namun ia harus menunggu bertahun-tahun sampai ia dijadikan raja oleh kaum Yehuda. Keberanian dan kesabaran Daud itu menyatu di dalam Tuhan. Ia tidak mau mempercepat atau mendahului waktu Tuhan. Bagaimana kita tahu jika seorang pemimpin itu rendah hati? Daud vs Nabal dan Daud vs Natan. Nabal adalah suami Abigail yang begitu sombong. Ia mudah menghina orang lain dan suka hidup dalam pesta pora. Kita bisa membandingkannya dengan Daud ketika ditegur oleh Natan ketika ia jatuh dalam dosa. Apa perbedaan kualitas antara Daud dan Saul dalam mengenal diri dan Tuhan? Kita akan membahas tentang jati diri yang terhilang. Dalam pandemi Covid-19 ini orang Kristen bisa dengan tidak sadar sudah kehilangan identitas dalam aspek iman, keberanian, tanggung jawab, dan karakter. Masa Covid-19 ini juga bisa membuat jati diri kita tertidur dan terhilang. Kita mungkin saja malah menemukan jati diri di tengah masa pandemi ini. Tuhan bisa membangun kita menjadi pribadi yang utuh melalui masa sulit ini.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Berani dan sabar dalam menanti waktu Tuhan untuk menjadi raja.

Masalah kita yang terbesar berkaitan dengan progres hidup adalah kita sulit membedakan antara waktu Tuhan dan yang bukan waktu Tuhan. Kita terkadang sulit menilai apa yang menjadi tanggung jawab kita dan terobosan iman kita. Waktu bisa melindas hidup kita dan meredam potensi kita. Waktu bisa mematikan faedah kita karena kita terlena oleh waktu yang dikuasai oleh Setan. Kita bisa tidak menggunakan kesempatan-kesempatan yang baik dalam waktu karena kita dibodohi oleh Setan, dunia, dan keinginan kita sehingga akhirnya waktu itu menunjukkan siapa diri kita. Bagaimana kita bisa mengerti waktu Tuhan berkaitan dengan ketetapan-Nya, keinginan kita, dan apa yang harus kita genapkan? Ada ketetapan, izin, dan pembiaran Tuhan. Kita tahu bahwa Tuhan tidak mungkin membiarkan kita tergeletak sehingga dihisap oleh waktu dan dunia. Kita tidak mungkin dibiarkan tenggelam dalam dosa.

 

Setelah Daud diurapi oleh Samuel dalam 1 Samuel 16, ternyata Daud tidak langsung buru-buru mau menjadi raja. Ia baru menjadi raja dalam 2 Samuel 2:7. Dalam hal ini ada perbedaan antara Daud dan Saul perihal mengenal Tuhan. Pada mulanya Saul tidak memiliki potensi untuk menjadi raja. Ia tidak mau dan tidak mampu. Ia kemudian menjadi mau karena diurapi oleh Samuel dan menjadi mampu karena didukung oleh Israel serta karena ada pertolongan Tuhan. Daud mampu menjadi raja namun ia tidak mau sedangkan Saul mau tetapi tidak mampu. Inilah perbedaannya. Melalui peperangan melawan Goliat, kemampuan Daud itu menjadi terlihat. Ia sudah diurapi namun tidak menampilkan ambisi menjadi raja. Ia diurapi lalu menyatakan kemenangan karena Tuhan. Daud mampu namun tidak mau mendahului waktu Tuhan. Orang yang ambisius itu mau tetapi tidak mampu. Orang penakut adalah orang yang mampu dan mau namun akhirnya tidak menjalankan. Daud mampu namun tidak mau buru-buru dalam waktunya sendiri.

 

Dua kali ia mendapatkan kesempatan untuk membunuh Saul namun ia tidak melakukannya (1 Samuel 24 dan 26). Kalau ia membunuh Saul, ia bisa lebih cepat menjadi raja. Saul bersama 3000 tentaranya mencari Daud namun tidak menemukannya. Namun Daud menemukan Saul. Ketika kesempatan itu datang, ia menolaknya. Ia tidak mau membunuh orang yang diurapi Tuhan. Kesempatan itu datang ketika Saul mau membuang air besar. Bagian jubah Saul dipotong oleh Daud. Daud begitu berhati-hati sehingga kehadirannya tidak diketahui oleh Saul. Semua ini ada dalam pertolongan Tuhan. Tujuan Daud bukanlah untuk membunuh tetapi untuk menyatakan bahwa ia bisa membunuh Saul tetapi tidak melakukannya. Di sana Daud mau meyakinkan Saul bahwa ia tidak berniat mengambil takhtanya. Saul kelihatannya bertobat dan mengaku salah namun itu hanya untuk sementara waktu. Saul mudah sekali berubah perasaannya. Setelah beberapa waktu, Saul kembali mengincar nyawa Daud. Saat itu sudah malam dan Saul sudah tidur di kemahnya. Ia dijaga oleh Abner dan tentara di sekitarnya sebanyak 3000 orang. Daud mengendap-endap masuk ke kemah Saul bersama dengan Abisai. Di sana ia mendapatkan kesempatan untuk membunuh Saul sekali lagi namun Daud tetap tidak mau membunuh orang yang diurapi Tuhan. Daud hanya mengambil tombak dan kendi, setelah itu ia pergi. Dari kejauhan ia berteriak kepada tentara Saul dan Abner. Saul mengetahui bahwa itu adalah suara Daud dan kemudian ia memanggilnya. Di sana kembali Daud menyatakan bahwa ia tidak mau membunuh Saul. Saul juga kembali mengakui kesalahannya. Jadi 1 Samuel 24 dan 26 itu mengajarkan keberanian dan kesabaran Daud. Ia mau menantikan waktu Tuhan.

 

Terkadang kita terlalu berani mendahului waktu Tuhan, misalnya dalam berpacaran. Terkadang keinginan kita membuat kita terlalu cepat mengambil keputusan yang kita pikir baik namun sebenarnya tidak baik. Tidak selalu mudah untuk mengerti kehendak Tuhan yang harus kita jalankan dan genapkan berkaitan dengan tanggung jawab individu, keluarga, pekerjaan, dan usaha. Namun Alkitab mengajarkan bahwa kita harus siap dibentuk oleh Tuhan salah satunya dalam aspek akal budi kita (Roma 12:2). Akal budi kita harus dipertajam agar kita bisa memahami kehendak Tuhan yang baik, berkenan kepada Tuhan, dan sempurna. Jadi kita harus mengerti kehendak Tuhan yang tertulis dahulu dalam Alkitab. Kita harus membaca Firman Tuhan setiap hari. Dalam hal itu kita membiarkan Firman Tuhan membaca diri kita dan memimpin kita sehingga kita melihat pimpinan Tuhan. Jadi Firman Tuhan adalah Guru bagi kita. Kebenaran Firman Tuhan melengkapi kita agar kita bisa menjadi pelita dalam zaman ini. Firman Tuhan membuat iman kita mantap dan teguh berdiri serta bisa menerobos setiap tantangan. Kunci kemenangan iman Daud dalam kesabarannya menanti waktu Tuhan serta keberaniannya adalah pengenalannya akan Tuhan. Daud selalu bergaul akrab dengan Tuhan. Ini membangun iman Daud. Jadi ia mengerti waktu Tuhan. Daud tidak diperbudak oleh keinginan yang tidak suci. Maka dari itu ia tidak memiliki ambisi yang jahat. Ia tahu bahwa waktu Tuhan itu jauh lebih indah. Jadi keberanian Daud itu terkait dengan pengenalannya akan Tuhan. Ini berbeda dengan Saul. Saul iri hati terhadap Daud. Ia menghalalkan berbagai cara agar Daud tidak naik takhta. Ini karena Saul tidak mengenal Tuhan dan tidak takut akan Tuhan.

 

2) Berani terbuka dan mendengar masukan dari Abigail, istri Nabal (1 Samuel 25)

Setelah cukup lama Daud dan pengikutnya menjaga ternak Nabal, ia mengirim salah seorang pengikutnya untuk meminta makanan dari Nabal dengan cara yang hormat. Daud bermaksud baik, namun Nabal malah menghina Daud. Penghinaan itu didengar oleh Abigail. Maka secara diam-diam Abigail mencari Daud untuk memohon belas kasihannya. Di sana Daud memuji Tuhan dan menerima kebaikan Abigail sehingga akhirnya Daud tidak jadi membunuh Nabal yang sombong dan yang telah menghina Daud serta para pengikutnya. Saat Abigail pulang, ia melihat Nabal sedang berpesta pora sampai mabuk. Setelah ia sadar, Abigail menceritakan pertemuannya dengan Daud. Seandainya Daud benar-benar menyerang Nabal, maka Nabal pasti kalah karena ia sedang mabuk. Setelah mendengar cerita Abigail, jantung Nabal berhenti. Ia menderita strok. Badannya menjadi kaku dan setelah 10 hari ia meninggal. Jadi Nabal meninggal karena serangan jantung (1 Samuel 25:37-39) setelah mendengar kabar Abigail. Apakah ini kesalahan Abigail? Bukan. Nabal menderita strok karena ia kaget. Semua itu terjadi karena keadilan Tuhan. Nabal itu begitu sombong. Ia tidak mau mendengar masukan istrinya yang bijaksana. Daud sudah sewajarnya marah ketika Nabal menghinanya. Namun Daud rendah hati karena ia mau mendengarkan Abigail. Sebaliknya Nabal itu tinggi hati. Masukan istrinya yang begitu baik selalu ditolak. Daud yang tidak pernah mengenal Abigail mau mendengarkan nasihatnya. Di sini kita belajar tentang kerendahan hati.

 

Daud sangat mampu mengalahkan Nabal meskipun ia tidak mabuk. Namun ternyata Daud menang tanpa memakai senjata dan tanpa mencurahkan darah. Terkadang kita berpikir untuk mengalahkan musuh dengan cara kita sendiri namun ternyata Tuhan bisa memberikan cara yang lain. Tuhan memakai Abigail untuk mencegah Daud membunuh karena dorongan emosi yang tidak suci. Jadi kita harus berhati-hati dengan keinginan kita karena itu belum tentu sesuai kehendak Tuhan. Daud mau mendengarkan Abigail dan setelah itu ternyata Nabal mati. Jadi kemenangan Daud dalam bagian ini adalah kemenangan karena Tuhan sendiri yang berperang. Jadi sebagai anak Tuhan kita harus belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam menyelesaikan masalah. Kita harus membiarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya. Ketika orang-orang di sekitar kita memberikan nasihat, maka kita harus mendengarkan dan menganalisa terlebih dahulu. Abigail adalah utusan Tuhan yang mencegah Daud sehingga ia tidak mengotori tangannya. Tuhan itu hidup dan berkuasa. Orang sombong yang mau menghalangi rencana Tuhan bisa dengan mudah disingkirkan oleh Tuhan. Dalam bagian ini Tuhan memakai penyakit untuk membunuh Nabal.

 

3) Berani menerima konsekuensi akibat keberdosaannya (2 Samuel 11 dan 12)

Daud berzinah dengan Betsyeba namun tidak ada yang berani menegurnya. Mengapa bisa demikian? Ini karena pada saat itu raja boleh menghukum mati orang-orang yang memberikan teguran yang menyinggung raja. Orang-orang tahu bahwa Daud sudah berdosa namun tidak ada yang berani menegurnya. Tuhan akhirnya menggerakkan nabi Natan. Teguran Natan kepada Daud didahului dengan prolog cerita tentang sikap orang kaya yang merugikan orang miskin. Setelah Natan menceritakan itu, Daud menjadi begitu marah dan menyatakan bahwa orang kaya itu harus dihukum mati. Di saat itu Natan langsung menyatakan bahwa orang itu adalah Daud. Respons Daud adalah segera bertobat. Ia menyatakan seluruh penyesalannya dan meminta pengampunan Tuhan. Tuhan akhirnya menyatakan bahwa anaknya dengan Betsyeba itu harus mati. Daud kemudian berdoa, berpuasa, dan memohon kepada Tuhan agar anak itu diperbolehkan hidup oleh Tuhan. Akan tetapi Tuhan tidak mendengarkan doanya. Di sana Daud menerima kematian anaknya (2 Samuel 12:20-23).

 

Setelah anak itu meninggal, Daud berhenti berpuasa dan bersedih. Ketika para pegawainya bertanya, Daud menjawab “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.” Bagian ini ada kaitan dengan perkataan Tuhan Yesus “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 19:14). Anak yang terlahir dari keluarga yang beriman, ketika meninggal di usia bayi, pasti mendapatkan jaminan keselamatan. Kepada orang yang menjadi Kristen, Paulus memerintahkan agar orang itu tidak menceraikan pasangannya yang belum menjadi Kristen (1 Korintus 7:12-14). Orang yang percaya itu bisa menyucikan pasangannya. Daud menerima teguran Natan. Natan pasti bergumul sebelum menegur Daud dan ia pasti meminta hikmat Tuhan. Ketika anak itu mati di dalam kedaulatan Tuhan, Daud rela menerima. Inilah keberanian menerima konsekuensi. Biasanya maling langsung memohon ampun ketika tertangkap. Jadi ia tidak berani menerima konsekuensi. Daud jatuh dalam dosa ketika ia sendirian dan menikmati situasi. Ia tidak menghalangi matanya untuk melihat Betsyeba. Bukannya berhenti, ia malah membuat rancangan untuk menyingkirkan Uria. Bagian ini mengajarkan bahwa sehebat-hebatnya diri kita, kita harus selalu waspada dalam peperangan rohani. Saat itu seharusnya Daud berperang namun ia tidak berperang. Ia mempercayakan semuanya kepada prajuritnya. Ketika kita tidak menjalankan tanggung jawab kita dan menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang lain padahal kita bisa mengerjakannya, di saat itulah kita terjatuh karena memanjakan diri.

 

Hewan peliharaan bisa menjadi tidak merdeka karena kita mengikatnya atau mengurungnya, namun kita manusia bisa menjadi tidak merdeka karena kita asyik dengan gadget kita di kamar. Di sana kita sebenarnya sedang terikat walaupun kita merasa bebas. Jadi diri kita sendiri yang mengikat diri kita. Waktu yang dipakai untuk bermain media sosial itu sebenarnya bisa dipakai untuk hal-hal yang membangun. Setan itu penipu. Ia bisa memberikan kenyamanan yang palsu. Jadi kita harus peka akan hal ini. Ada konsekuensi jika kita tidak peka dan tidak waspada. Di dalam hal ini Daud berani menerima konsekuensi. Ia tidak membela dirinya di hadapan Natan atau orang-orang di istana. Ia tidak menyalahkan dokter atau tabib karena kematian anaknya. Ia sadar bahwa Tuhan sedang menyatakan hukuman.

 

 

KESIMPULAN

 

Keberanian yang suci terbangun karena iman yang terus mengandalkan Tuhan. Kita harus berhati-hati kalau tidak memandang Tuhan. Di sana bisa muncul keberanian yang tidak suci. Di sana kita juga akan membela diri dan mencari kepuasan diri. Keberanian bagi Tuhan membuat kita tidak berani mendahului waktu Tuhan dengan menghalalkan berbagai cara demi memuaskan ambisi yang tidak suci. Orang yang berani bagi Tuhan akan siap dikritik dan ditegur kelemahannya/dosanya. Daud mau mendengarkan Natan dan Abigail. Orang yang berani bagi Tuhan tidak akan mengotot membela diri. Daud tidak membela dirinya di hadapan Natan. Ketika para pegawainya bertanya, ia tidak membela diri. Ia menerima semuanya dan menyerahkannya kepada Tuhan. Ibrani 11 menyatakan bahwa Daud adalah salah satu tokoh iman. Ia sungguh-sungguh melihat segala hal dari kacamata Tuhan. Setelah meneriman teguran itu, Daud tidak mengulangi dosa yang sama. Ia terus menang secara iman. Ketika Saul mati, ia menghibur Israel. Ia tidak memaksa atau memakai tangan besi agar semua orang mendukungnya. Kita harus terus membangun diri kita agar berani bagi Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami