Daud: Berani bagi Tuhan (1 Samuel 17:12-39)

Daud: Berani bagi Tuhan (1 Samuel 17:12-39)

Categories:

Khotbah Minggu 9 Agustus 2020

Daud: Berani bagi Tuhan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan membahas tentang Daud yang berani bagi Tuhan. Kita pasti sudah sering mendengar kisah tentang Daud dan pada kesempatan ini kita akan mengupas sisi yang berbeda dari cerita ini. Ayat yang mendasari pembahasan kita adalah 1 Samuel 17:12-39.

 

 

PENDAHULUAN

 

Apakah setiap manusia memiliki sifat berani? Setiap manusia pasti memiliki sifat berani. Namun keberanian itu bisa berpusat pada diri karena dosa. Apa yang menyebabkan keberanian manusia menjadi rusak? Karena dosa, manusia tidak mau kembali menjadi utuh seperti apa yang Tuhan mau. Dosa membuat pola pikir dan pola sikap menjadi rusak dan perlu diperbarui oleh Tuhan. Mengapa Saul membuat sayembara untuk mengalahkan Goliat? Saul adalah satu-satunya raja di dalam sejarah Israel yang berperang selama 40 hari dan membuat sayembara. Dia yang bisa mengalahkan Goliat dijanjikan kekayaan, pernikahan dengan putri raja, dan pembebasan dari pajak. Saul pun tidak berani menghadapi Goliat. Tidak ada tentara yang berani. Goliat itu sungguh teruji dan dia sanggup mengalahkan banyak tentara. Mungkin saja ada tentara-tentara Israel yang sudah dikalahkan oleh Goliat dengan begitu mudahnya. Ini membuat tentara Israel ketakutan. Jadi bagaimana Saul bisa memotivasi tentara Israel? Ia menjanjikan hadiah. Inilah cara duniawi. Orang-orang bisa menjadi berani karena ada hadiah. Hadiah itu menjadi gairah dan dorongan untuk mencapai kepuasannya. Saul tidak sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan untuk mendapatkan orang yang sungguh-sungguh berani bagi Tuhan.

 

Di dalam kompetisi dan perlombaan atlet selalu ada hadiah yang disiapkan sehingga para pesertanya termotivasi untuk mengembangkan diri. Apakah cara seperti ini baik untuk diterapkan dalam pendidikan keluarga? Ini cara yang tidak benar. Cara ini membuat anak-anak belajar atau melakukan kebaikan demi upah dan bukan karena kesadaran. Jadi orang tua bisa meracuni anak-anak dengan cara ini. Ketika melatih hewan, cara ini baik karena hewan bertindak berdasarkan insting dan bukan kesadaran. Namun manusia harus memiliki kesadaran, terutama untuk taat karena iman. Jadi Saul bukan pendidik dan pemimpin yang baik. Cara duniawi yang dipakainya itu menyedihkan hati Tuhan. Dari mana asal keberanian Daud bagi Allah? Tiba-tiba anak Isai yang paling kecil yaitu anak ke-8 muncul. Ada tiga kakaknya yang ikut berperang, namun mengapa Daud yang berani dan bukan kakak-kakaknya? Di sini pasti ada suatu anugerah khusus dan ia pasti spesial di mata Tuhan. Keberanian Daud yang keberanian karena iman dan bukan hanya karena pengalaman. Daud belum pernah punya pengalaman berperang. Ia pernah menghadapi singa dan beruang. Jadi Goliat adalah orang pertama yang pernah dihadapinya. Iman membuatnya berani menghadapi Goliat. Imannya adalah dari Tuhan.

 

Sampai sejauh mana pengaruh iman terhadap keberanian seseorang bagi Tuhan? Mengapa ada orang-orang Kristen yang mengaku berencana dan bertindak berdasarkan iman namun gagal? Sampai sejauh mana iman memimpin rasio kita dan keputusan kita?

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Bagaimana kita tahu bahwa keberanian Daud adalah bagi Tuhan?

Keseluruhan bagian yang kita baca menjelaskan hal ini. Keberanian Daud bagi Tuhan itu sangat tampak dari hasratnya yang mau melawan dan mengalahkan Goliat. Daud itu begitu kecil tubuhnya dan tidak punya pengalaman berperang. Ia tidak dilatih untuk berperang. Apakah hasrat itu cukup untuk meyakinkan kemenangan seseorang? Kita pasti punya hasrat, keinginan, dan gairah. Namun semua itu, tanpa keputusan dan peneguhan iman, tidak akan cukup. Hasrat Daud itu sudah dibentuk Tuhan dari sejak kecilnya. Ia belajar dari kecil saat menjadi gembala. Daud adalah anak yang taat dan bertanggung jawab kepada perintah orang tua yaitu Isai (ayat 15,17, dan 20). Isai memerintahkan Daud untuk membawakan makanan kepada kakak-kakaknya. Daud bisa saja menolak dan membuat alasan namun ia taat. Ia tidak meminta saudaranya yang lain untuk melakukan itu. jadi Daud adalah anak yang taat. Ia mendengarkan suara ayahnya dan menjalankan itu. Daud bangun pagi-pagi dan langsung melaksanakan tugasnya. Jadi Daud adalah anak yang bisa diandalkan orang tua. Di mana kakak-kakaknya yang lain? Ini menyatakan kepada kita bahwa memang Daud bisa diandalkan. Isai tahu bahwa Daud bisa dipercaya. Daud adalah anak penghiburan dalam keluarga itu. Apakah ini karena Daud sungguh mengenal Tuhan? Ya. Daud adalah orang yang bertanggung jawab atas waktunya. Jadi sebagai orang tua atau anak kita bisa belajari dari bagian ini. Ketaatan kita harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Di sana pasti Tuhan akan menyertai.

 

Kedua, Daud memiliki keingintahuan yang baru (sense of belonging): iman memimpin rasio. Daud melakukan survei dan menganalisa lapangan untuk semua rencananya (ayat 29 dan 30). Kakaknya menyatakan bahwa Daud memiliki motivasi yang jahat. Kakaknya berpikir bahwa Daud ingin menyaksikan peperangan. Di saat itu tidak ada televisi atau gadget, jadi hiburan itu terbatas sekali. Daud memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu, yang dikaitkan dengan Tuhan. Jadi kakaknya salah menganalisa Daud. Keingintahuan itu wajar. Namun kalau itu mendorong kita untuk menghalakan segala cara, maka itu tidak wajar. Kita bisa mempelajari keingingtahuan Daud dalam bagian ini. imam memimpin rasio Daud. Ia melihat situasi yang baru di mana tentara Israel ketakutan namun ia sendiri tidak takut. Ini karena imannya memimpin. Ia kemudian menganalisa situasi lapangan dan bertanya kepada orang-orang apa yang akan diberikan kepada orang yang mengalahkan Goliat. Jadi di sana kita tahu bahwa Daud ingin mengerti seluruh konteks di lapangan. Ia juga mau tahu mengapa orang-orang ketakutan meskipun dijanjikan hadiah yang besar. Jadi keinginan itu tidak cukup jika kita tidak menguasai konteks. Hasrat itu tidak cukup jika kita tidak mengetahui keseluruhan yang terjadi. Kita perlu kekudusan dalam hal ini. kepintaran seseorang itu dimulai dari hasrat yang dikaitkan dengan Tuhan. Orang pintar bagi dunia itu banyak namun orang yang pintar bagi Tuhan itu sedikit. Jumlah orang yang menyatakan kemuliaan Tuhan dalam kesuksesannya itu sedikit. Orang yang pintar bagi dunia akan dilupakan dalam waktu, namun mereka yang menyenangkan Tuhan itu memiliki jejak kaki kekal. Jadi saat mendidik anak-anak kita, kepintaran saja tidak cukup. Anak-anak juga harus memiliki hikmat dan takut akan Tuhan. Jadi semuanya itu dari Tuhan dan harus dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Hasrat kita harus dikuduskan untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Daud pasti mendapatkan pendidikan itu dari Isai. Ternyata dari semua anak, Daud yang bungsu-lah yang sungguh-sungguh belajar.

 

Ketiga, Daud mengalami kegelisahan yang suci karena cemooh orang Filistin terhadap Allah yang hidup (ayat 26 dan 36). Kegelisahan Daud menghebohkan. Daud bertanya-tanya mengapa Goliat itu mencemooh barisan tentara Allah yang hidup. Ini membuatnya gelisah karena tidak ada yang berani menghentikan cemoohan itu. Dalam zaman itu ada etika perang. Saat itu peperangan bisa diwakili oleh satu lawan satu. Di dalam hal itu tidak boleh ada yang menyerang dengan diam-diam dan licik. Ada moralitas dalam bagian itu. Ketika sudah ada kesepakatan untuk satu lawan satu, maka tidak boleh ada yang mengganggu. Namun tidak ada satupun yang berani untuk menghadapi Goliat. Daud merasa gelisah karena hal itu dan terus bertanya-tanya sampai kabar tentang dirinya didengar oleh Saul. Mengapa hanya Daud yang gelisah? Mengapa ini bisa disebut sebagai kegelisahan yang suci? Kita bisa mengalami itu ketika menolak pimpinan Tuhan, ketika dosa masih berdiam dalam diri kita, ketika kita akan memberitakan kebenaran, dan ketika dosa berkembang namun tidak ada yang menghentikan itu. Saat afeksi kita sudah dikuduskan, di sana akan ada kegelisahan yang suci. Tentara Israel takut karena apa yang dilihat, namun Daud tidak takut. Ia gelisah karena nama Allah dihina. Jadi tentara Israel memang mendapatkan pelatihan perang, namun mereka tidak bermental perang untuk Tuhan. Daud menjadi gembala namun ia bisa mengalahkan singa dan beruang. Ia melakukan tugasnya dengan tanggung jawab. Jadi kita harus melihat sampai sejauh mana iman memengaruhi keberanian kita. Keberanian karena pengalaman atau tekad itu bisa jadi merupakan keberanian yang berpusat pada diri. Kita bisa dengan mudah menunjukkan keberanian dan hasrat, namun keberanian untuk memuaskan diri dan aktualisasi diri itu sangat dekat dengan dosa. Saat kita berani, bukan untuk hadiah, bahkan sampai berani mengorbankan nyawa kita, demi kemuliaan Tuhan, maka keberanian kita itu mengandung iman. Itulah yang dimiliki Daud.

 

Keempat, hasrat Daud diuji oleh Eliab dan Saul: diragukan namun tetap pada hasratnya bagi Tuhan (ayat 28, 31-33). Eliab, kakaknya yang paling tua itu, menghalangi dan mencurigai Daud. Saul juga meragukan Daud. Namun Daud tidak mau mundur hanya karena tubuh Goliat yang besar. Hasrat dari Tuhan tidak mungkin dihentikan atau ditunda oleh manusia. Hasrat itu paling dimengerti hanya oleh orang yang memiliki hasrat itu. iman Daud tidak bisa diragukan lagi. Ia berkali-kali melayani Saul. Ketika ia bermain musik, damai itu dirasakan oleh Saul. Keberadaan Daud membuat masalah itu beres. Jadi iman Daud sudah teruji. Setiap hasrat kita harus diuji. Kita harus mengetahui sejauh apa komitmen dan keteguhan hati kita. Setiap keinginan kita harus diuji. Keinginan Daud itu jelas yaitu ia ingin menyatakan kebesaran nama Tuhan. Ia tidak memikirkan hal-hal yang lain. Ia hanya mau nama Tuhan dinyatakan. Ketika Goliat melihat Daud, ia begitu meremehkannya. Jadi tentara Israel dan Goliat sama-sama menilai berdasarkan fenomena. Di dalam pertandingan atau peperangan, sifat meremehkan itu adalah awal dari kekalahan. Kita harus menyadari kelebihan dan kelemahan diri serta lawan. Kesiapan itu akan membuat kita punya fokus dan kewaspadaan. Kelemahan Goliat adalah meremehkan Daud. Ia tidak tahu bahwa senjata Daud, meskipun begitu kecil, bisa begitu mematikan. Ia mungkin tidak pernah menghadapi senjata umban sebelumnya. Daud diuji dan ia berhasil melewati itu semua.

 

Kelima, hasrat Daud yang mau melawan Goliat itu suci dan bukan karena tertarik pada sayembara dari Saul (ayat 25). Ia marah karena Goliat sudah menghina tentara Allah yang hidup. Jadi ia ingin menyatakan kebesaran Allah. Ini adalah keinginan yang murni. Keinginan yang murni itu mendorong kita untuk memikirkan kepentingan Allah dan bukan kepentingan diri. Keinginan yang tidak murni bisa membawa kita kepada dosa. Maka kita harus berhati-hati. Kita harus menganalisa setiap keputusan kita agar kita tahu apakah itu memang kehendak Tuhan atau tidak. Ada anak-anak Tuhan yang sengaja menolak tawaran untuk korupsi alat-alat kesehatan di masa pandemi ini. Ini adalah respons iman yang benar. Namun ada juga orang-orang yang mengaku Kristen namun berani korupsi. Pertanyaannya adalah: apakah mereka merasa gelisah karena dosa? Namun ada pula anak-anak Tuhan yang mengambil suatu proyek karena ketidaktahuan. Setelah mereka tahu bahwa mereka tidak seharusnya mengambil proyek itu, mereka meninggalkannya. Di masa-masa sulit yang dialami oleh negara, sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya bukan mementingkan keuntungan diri. Kalau hasrat kita selalu berkaitan dengan uang, maka itu mungkin menunjukkan bahwa kita tidak memiliki iman. Apakah kekayaan, kebebasan, dan kenikmatan merupakan sumber kebahagiaan kita? Tidak. Kebahagiaan kita adalah ketika Tuhan menopang dan menyertai kita. Gerakan iman Daud itu mengalahkan semua hasrat untuk melihat kepada hadiah yang ditawarkan Saul. Ia tidak tertarik pada sayembara itu. ia juga tidak mencoba tawar-menawar dengan Saul. Jadi apa yang dikerjakan oleh Daud itu murni karena iman dan karena ia mau menyatakan Allah yang hidup. Jadi fokus hidup kita adalah untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Jika ada kenikmatan dan hadiah setelah kita melakukan hal itu, maka itu kita anggap sebagai bonus dan bukan prioritas. Semua itu pun harus kita kembalikan untuk kemuliaan Tuhan.

 

 

2) Dari mana asal keberanian Daud bagi Tuhan?

Anak kecil bisa berani karena ingin tahu dan ingin mencoba. Jadi anak kecil bisa melakukan eksplorasi. Kalau anak kita punya keinginan itu maka sebagai orang tua kita tidak boleh menakut-nakuti agar ia tidak berkembang dengan ketakutan. Ini tidak boleh dilakukan apalagi jika kita mengaitkan ketakutan itu dengan mistisisme. Ini adalah pendidikan yang salah. Kita harus mengajarkan anak untuk berani terlebih dahulu. Setelah itu sebagai orang tua kita mengarahkan mereka. Ketika kita melatih keberanian, di sana pun ada proses. Tuhan melatih kita melalui proses. Jadi proses latihan dari Tuhan untuk Daud adalah ketika ia menjadi gembala dan pelayan Saul. Di sana dia juga diuji dan kualitasnya itu terbukti. Hasil pembentukan karakter dan sikap hati Daud sangat terlihat melalui kesaksian Daud yang mengalahkan singa dan beruang hanya dengan umban dan Daud juga pandai bermain kecapi. Manusia memiliki wibawa khusus sehingga hewan bisa ditaklukkan oleh manusia. Daud begitu berani dan bertanggung jawab atas semua domba yang digembalakannya. Ia tidak mau satupun terluka karena singa atau beruang. Singa dan beruang itu adalah pelatihan dari Tuhan. Di sana ia berlatih memakai senjata. Jadi Daud sudah dilatih di lapangan oleh Tuhan sendiri. Semua yang dikerjakan Daud itu adalah murni karena tanggung jawab. Setelah mengalahkan singa dan beruang, tidak ada yang bersorak sorai baginya. Ia berhasil menjadi anak yang bisa diandalkan. Daud setia dalam perkara kecil sampai ia setia dalam perkara besar. Kita menunggu waktu Tuhan untuk setiap perkara yang dipersiapkan-Nya. Tugas kita adalah mempersiapkan diri dari sejak dini. Dalam masa pandemi ini setiap pelaku bisnis diuji. Pemimpin bisnis yang baik tidak akan menganggap pegawai sebagai barang yang boleh dibuang ketika tidak menguntungkan.

 

Ketika Daud diizinkan menjadi pelayan Saul, ia tidak menjadi sombong. Bertambahnya tanggung jawab Daud tidak membuat Daud lari dari tanggung jawab yang lain. Ini berarti Daud sangat bisa diandalkan sebagai anak dan pelayan Saul (16:21-23). Sebelum ia pergi melayani Saul, ia sudah mengurus kambing domba dan menitipkan kepada gembala-gembala yang lain. Setelah ia pulang, ia kembali melakukan tanggung jawab di rumah. Ia mengerjakan semua yang ia bisa kerjakan. Ini karena ia memiliki komitmen. Di sini kita belajar untuk tidak cepat puas diri. Daud adalah seorang gembala yang kemudian menjadi pelayan raja. Ia tidak meninggalkan tugas penggembalaannya. Semuanya dikerjakan dengan fokus dan tanggung jawab. Keberanian Daud bagi Tuhan adalah proses pelatihan dari Tuhan. Tuhan melihat hati dan mutiara iman Daud. Ia setia dalam perkara kecil. Di mana Daud berlatih bermain kecapi? Saat menjaga kambing domba. Ia bisa mengembangkan diri melampaui standar dan menemukan hal-hal baru. Iman yang benar itu mencerdaskan kita. Jadi kita harus mengoptimalkan setiap anugerah yang kita miliki.

 

 

KESIMPULAN

 

Iman Daud dilatih oleh Tuhan melalui nilai kerjanya atau tanggung jawabnya sebagai gembala dan pelayan Saul. Semua dikerjakan Daud dengan begitu baik sampai Saul sangat mengasihi dia pada mulanya. Keberanian Daud adalah keberanian yang suci karena berperang untuk menyatakan bahwa Allah itu hidup. Ia tidak berperang demi harta, wanita, dan kebebasan. Kita tidak boleh mudah tertipu oleh pendekatan fenomenologi karena iman yang memimpin rasio dan bukan sebaliknya. Iman harus memimpin hidup kita. Inilah yang terjadi dalam hidup Daud. Kita harus menganalisa secara mendalam dan meluas namun semua itu tetap dalam pimpinan iman. Kita harus berani bagi Tuhan namun tidak sampai nekat. Kita berani karena iman yang benar.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami