Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Allah (5): Berelasi dengan Paganisme

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Allah (5): Berelasi dengan Paganisme

Categories:

Khotbah Minggu 2 Agustus 2020

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Allah (Bagian 5)

Berelasi dengan Paganisme

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Bagian yang akan kita bahas merupakan bagian penghujung dari masa kepemimpinan Saul. Ia mengalami kegagalan demi kegagalan sampai ia frustrasi. Kemudian ia berelasi dengan dukun di En-Dor. Di sana ia memakai paganisme, spiritisme, dan okultisme. Kita akan membahas dari 1 Samuel 28:8-26 dan Imamat 19:26b, 31; 20:6, 7. Saul menyembah di hadapan Samuel. Ini adalah ibadah namun tanpa Tuhan. Paganisme, spiritisme, dan okultisme merupakan perzinahan rohani.

 

 

PENDAHULUAN

 

Mengapa Saul mengalami kefrustrasian hidup? Kita pasti pernah mengalami kegagalan dan putus asa. Kita mungkin juga pernah frustrasi. Mungkin frustrasi itu membuat rasio dan hati kita tidak lagi berjalan dengan benar seperti Saul. Mengapa Saul berelasi dengan dukun di En-Dor untuk memanggil arwah Samuel? Ia mengalami frustrasi dan ia tidak tahu akan dibawa ke mana kepemimpinannya di masa depan. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi tentara Filistin dan orang-orang Israel yang sudah meninggalkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan hal yang fatal. Apakah Saul sadar bahwa tindakan itu sangat dibenci oleh Tuhan? Ia tahu. Ia tahu bahwa ada konsekuensi kematian. Ia melakukan itu karena sudah frustrasi. Mengapa Allah membiarkan Saul melakukan itu? Sampai sejauh mana Tuhan membentengi anak-anak-Nya sehingga mereka tidak menyakiti hati-Nya? Di mana peran Roh Kudus untuk menopang hati dan pikiran Saul? Mengapa Saul dibiarkan seperti ini? Saul memang bukan pilihan Tuhan. Ia secara lahiriah tampak baik namun tidak memiliki iman yang sungguh-sungguh. Apakah yang dilihat oleh dukun itu benar-benar roh Samuel atau jelmaan Iblis? Kita bisa melihat dua sisi: ini bisa merupakan izin Tuhan atau ini adalah jelmaan Iblis. Di dalam kalangan Reformed ada dua pandangan mengenai hal ini. Iblis sebagai bapa segala dusta pasti bisa melakukan ini semua.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Berelasi dengan paganisme/spiritisme/okultisme (1 Samuel 28:9-26)

Dosa ini ada di dalam semua bangsa. Di Indonesia, ada suku-suku yang menciptakan agama sendiri. Spiritisme di dalam beberapa suku itu sangat kuat. Di sana mereka percaya akan kekuatan benda gaib dan dukun-dukun. Manusia bisa takut akan kematian karena alam sehingga manusia menyembah alam. Akhirnya manusia memberikan persembahan di gunung, laut, dan tempat-tempat yang dianggap sakral. Kekhawatiran manusia berdosa mendorongnya untuk berelasi dengan arwah-arwah dan kuasa yang tidak terlihat. Itulah yang membentuk paganisme. Kita mungkin pernah dipengaruhi hal itu. Mungkin saja ada orang-orang di sekitar kita yang memengaruhi kita dengan hal-hal demikian karena mereka masih menganut itu. Apakah orang modern sudah terbebas dari hal ini? Belum tentu. Setan bisa berkarya dalam bentuk yang lain. Sekarang kita mungkin tidak membawa benda-benda gaib, namun kita bisa menuhankan gadget. Apapun yang mengikat diri kita dan apapun yang menjadi sandaran hidup kita itu membuat kita menganut paganisme. Teknologi itu tidak jahat, namun bisa disalahgunakan sehingga kita tidak lagi berelasi dengan Tuhan. Jadi orang Kristen bukan anti-teknologi. Teknologi adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena itu kita harus memenangkan arus dan mengisi teknologi dengan muatan-muatan yang baik yang membawa orang-orang kepada Tuhan.

 

Saul pernah melakukan hal yang baik yaitu membunuh para peramal dan pemanggil arwah di awal kepemimpinannya. Namun mengapa di masa-masa akhir kepemimpinannya ia melakukan dosa ini? Ini menunjukkan bahwa Saul tidak dipimpin oleh Tuhan dan ia tidak beriman. Saul sudah sungguh-sungguh dilepaskan oleh Tuhan untuk mati dalam dosa. Hidupnya tidak lagi disertai Tuhan. Akibatnya ia mengalami kekosongan jiwa (tidak ada damai dan sukacita ilahi). Saat Saul mulai iri hati dan benci terhadap Daud, hatinya mengalami kekosongan. Maka dari itu ia membutuhkan penghiburan. Ia kemudian mencari pemain musik yang baik. Jadi Daud dipanggil dan memainkan musik untuknya. Saat Daud bermain musik, roh jahat itu pergi. Jadi musik bisa mengusir roh jahat, namun musik yang seperti apa? Ini bukan karena kekuatan musik itu sendiri tetapi karena orang yang memainkannya itu beriman. Jadi kita bisa memainkan musik secara benar dan kudus. Kita tidak mengharamkan musik karena itu adalah anugerah Tuhan bagi kita. Tidak semua orang bisa bermain musik seperti Daud. Para pemain musik di Gereja harus mengingat bahwa talenta musik yang mereka miliki adalah anugerah Tuhan untuk memuliakan Tuhan, bukan memuliakan diri. Jadi ada orang-orang yang bisa memainkan musik dengan begitu pandai, namun mereka belum tentu bermain untuk Tuhan. Ketika kita memainkan musik dengan iman, itulah kekhususan kita.

 

Saul mengalami kekosongan jiwa begitu lama. Karena itulah ia selalu mencari penghiburan dari luar. Ia tidak mau menyelesaikan semua masalahnya secara pribadi di hadapan Tuhan. Jadi Saul tidak mengerti bahwa dia sedang dihukum oleh Tuhan. Ia melarikan diri dan terus mencari penghiburan dari luar. Namun penghiburan itu hanya memberikan kelegaan sementara. Setelah penghiburan itu selesai, jiwanya menjadi kosong lagi. Ini adalah pelarian yang bukan menyelesaikan tetapi menambah masalah. Ada artis-artis yang akhirnya mencari narkoba karena merasa jiwanya sepi. Tuhan beserta dengan kita jadi seharusnya kita tidak merasa kesepian. Kesepian adalah satu perasaan di mana kita tidak merasakan kepenuhan diri di dalam Tuhan yang menciptakan dan menebus kita. Saul mengalami kesepian dan iman yang merosot sehingga akhirnya ia membiarkan dosa berdiam dalam dirinya. Ini membuatnya frustrasi.

 

Jadi Saul mengalami kefrustrasian hidup. Secara psikologis, orang yang sedang frustrasi itu selalu memandang dengan kacamata abu-abu. Ia tidak bisa membedakan antara gelap dan terang. Imamat 20:6 jelas menyatakan bahwa Tuhan sangat membenci pemanggil arwah. Namun mengapa ia bisa melakukan itu? Apakah benar bahwa orang mati bisa dipanggil kembali? Apakah rohnya gentayangan di atas bumi? Apakah roh itu selalu muncul dari bawah? Orang mati dan orang hidup itu terpisah. Orang mati berada dalam hades. Mereka tidak bisa lagi dipanggil. Jadi rohnya tidak melayang-layang. Orang yang frustrasi dengan hidupnya dan masa depannya akan mengalami kematian hati nurani. Jadi kita akan sulit berdiskusi dengan orang seperti ini. ini karena masalah psikologinya. Jiwanya tidak lagi sehat. Saul tidak sehat imannya karena sudah ditinggalkan oleh Tuhan. Jiwa Saul sudah hancur. Orang yang mengalami kefrustrasian hidup akan lebih mementingkan tujuan daripada cara. Mengapa Saul memanggil arwah Samuel melalui dukun itu? Karena ia mencari petunjuk mengenai apa yang ia harus perbuat. Ia mementingkan tujuan namun tidak peduli bagaimana caranya. Di sini kita semakin melihat masalah jiwanya. Ia tidak lagi bisa seperti orang normal. Dukun itu menjadi laku ketika orang-orang mencari kepastian atau jaminan. Itu juga yang terjadi pada Saul dan dukun itu. jadi orang-orang yang mencari dukun itu sebenarnya sedang frustrasi dengan dirinya sendiri. Apapun dihalalkan demi tujuannya.

 

Mengapa Saul melakukan okultisme? Hidup Saul tidak dipimpin oleh iman melainkan oleh keinginannya sendiri untuk mengetahui hari depannya. Salahkah jika kita mau mengetahui hari depan sebelum waktunya (nekromansi)? Orang yang beriman percaya bahwa hari depannya ada di tangan Tuhan. Masa depan anak-anak orang beriman ada di tangan Tuhan. Tugas orang beriman adalah percaya kepada Tuhan. Jadi iman itu mendorong kita untuk percaya dan bertindak untuk kemuliaan Tuhan. Jadi iman bersifat aktif. Ketika iman tidak lagi mencerahkan hati dan pikiran Saul, ia mencari arwah Samuel. Namun orang beriman itu tidak pernah takut akan hari depannya. Ini karena ia percaya akan penyertaan Tuhan. Pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya. Kita memiliki harapan dalam perjuangan, harapan yang hidup, harapan yang disucikan, dan harapan yang mentransformasi. Jadi orang yang benar, suci, dan takut akan Tuhan memiliki masa depan di tangan Tuhan yang tidak mungkin salah. Saul tidak lagi melihat hari depan. Ia kemudian ingin melampaui Tuhan dan ingin segera mengetahui hari depannya. Ia memakai nekromansi untuk mengetahui hari depannya. Saul sudah ditinggalkan oleh Tuhan sehingga ia tidak tahu bagaimana membawa hari depannya. Ia merasakan tekanan yang begitu luar biasa. Ini karena ia membiarkan dosa mengusai dirinya. Ia tidak memakai cara Tuhan tetapi memakai caranya sendiri yang mengandung dosa demi tujuannya.

 

2) Apakah Saul menyadari bahwa perbuatannya sangat dibenci oleh Allah?

Saul sangat menyadari seluruh perbuatannya dan konsekuensinya (bandingkan 2 Raja-Raja 23:24). Saul menipu dukun perempuan itu. Ia menyamar pada malam hari dan meminta agar roh Samuel dipanggil. Saul kemudian memberikan jaminan bahwa dukun itu tidak akan dihukum. Jadi Saul sebenarnya tahu apa yang sedang dilakukannya dan konsekuensinya. Namun mengapa ia tetap melakukan hal itu? ini menunjukkan bahwa ia sudah dibuang oleh Tuhan. Ia sudah dibiarkan untuk mati di dalam dosa. Ini hal yang paling kita takutkan. Kalau kita sudah dibuang oleh Tuhan, maka kita tidak lagi punya hati yang takut akan Tuhan dan tidak lagi punya hati nurani yang bisa membedakan antara gelap dan terang. Kegagalan Saul adalah ketika ia tidak mau rendah hati untuk diperbaiki kelakuannya oleh Tuhan. Setelah ia dibuang oleh Tuhan, karakter aslinya muncul. Ia menjadi raja yang menyakiti hati Raja di atas segala raja. Ini berbeda dengan raja Yosia. Ia berani melakukan reformasi yaitu ia menghancurkan tempat penyembahan berhala dan ia membunuh orang-orang yang melakukannya. Saul tidak lagi peduli apakah Tuhan berkenan atau benci kepadanya. Ia hanya mau tahu akan masa depannya.

 

Jika Saul menyadari perbuatannya dan konsekuensinya, mengapa ia sangat terkaget dengan finalisasi keseluruhan hidupnya? Kita bisa kaget ketika mendapatkan sesuatu yang berbeda dari apa yang kita harapkan. Ia berpikir bahwa dengan sujud menyembah kepada Samuel ia bisa mendapatkan hari depan yang cerah. Ia mengharapkan belas kasihan Samuel namun tidak mengharapkan belas kasihan Tuhan. Ia hanya mengandalkan Samuel dan bukan Tuhan. Jadi kegagalan Saul adalah ia lebih mengandalkan manusia. Ia tidak datang kepada Tuhan karena ia tidak memiliki karakter rohani. Ia kaget karena hari depannya begitu buruk. Hal itu tidak diharapkan olehnya. Maka dari itu kita tidak boleh mengikuti apa yang Saul lakukan. Setan itu ada di sekitar kita dan terus menggoda kita untuk tidak bergantung pada Tuhan. Setan menggoda kita untuk terus berelasi dengannya. Ujung dari relasi ini adalah maut. Orang yang menjadi kaya atau sukses karena cara-cara Setan pasti pada akhirnya harus mengorbankan sesuatu yang baik. Saul melakukan spekulasi jiwa dalam bagian ini. Apa yang dikatakan oleh roh yang berwujud Samuel itu ada bagian yang benar dan ada bagian yang salah. Bagian yang benar itu adalah pengulangan dari apa yang pernah dikatakan dan bagian yang salah itu adalah ketika ia berkata bahwa Saul pada hari esoknya langsung meninggal.

 

3) Benarkah Allah bisa bekerja sama dengan perbuatan kejahatan yang dilarang oleh-Nya sendiri?

Apakah benar bahwa dukun itu punya kuasa untuk memanggil Samuel? Bagaimana dengan catatan dalam Alkitab yang menyatakan bahwa orang yang sudah mati dalam Tuhan itu sudah damai bersama dengan Tuhan? Ada yang menyatakan bahwa roh orang yang sudah meninggal itu gentayangan. Itu bukan konsep Reformed. Allah tidak mungkin kompromi dengan dosa dan melanggar perintah-Nya sendiri. Ia tidak mau kita mengikuti paganisme/okultisme/spiritisme. Mengapa dukun itu bisa memanggil roh yang tampak seperti Samuel? Mungkinkah orang yang hidup bisa memanggil orang yang sudah mati? Kalaupun ini diizinkan oleh Tuhan, mengapa penampakannya seperti ini? Bagaimana dengan kejadian transfigurasi di mana Elia dan Musa itu hadir? Alkitab mencatat bahwa yang dari Tuhan itu selalu datang dari atas ke bawah, bukan sebaliknya. Allah Roh Kudus turun dari atas ke bawah. Kitab Wahyu menyatakan bahwa ada penyesatan yang datang dari laut dan bumi. Ini adalah kuasa yang menganiaya dan menyesatkan. Kuasa itu berjubahkan hamba Tuhan atau Rasul palsu.

 

Mengapa dukun itu kaget dan takut? Ada penafsir yang mengatakan bahwa dukun itu selama ini bermain dengan kuasa Setan dan pada kali itu benar-benar ada yang keluar dari bumi. Ini adalah petunjuk pertama bahwa roh itu bukan Samuel. Dukun itu tidak begitu yakin bahwa itu adalah Samuel. Saul menyatakan bahwa itu adalah Samuel karena ia memang menginginkan Samuel. Ini berbeda dengan transfigurasi (Matius 17:1-13). Di sana ada damai dan pemandangan ilahi. Orang yang mati sudah memiliki tempatnya sendiri di hades. Dalam kisah tentang Lazarus dan orang kaya (Lukas 16:19-31), ada pemisahan antara orang yang mati dengan orang yang hidup. Jadi yang dipanggil dukun itu belum tentu roh Samuel. Itu bisa merupakan tipuan Setan karena memang Setan adalah bapa pendusta (Yohanes 8:44). Kedatangan Tuhan itu tidak mungkin menghilangkan damai sejahtera. Kedatangan-Nya menyerukan pertobatan.

 

Kedua, roh itu berkata “mengapa engkau mengganggu aku?” (bandingkan Yesaya 57:1-2 dan Wahyu 14:13). Orang yang sudah mati itu sudah mengalami ketenangan jiwa. Ia tidak bisa lagi mendengar dan berinteraksi. Bagaimana mungkin Samuel bisa berkata bahwa dirinya diganggu? Alkitab menyatakan bahwa orang yang hidup tidak bisa mengganggu orang yang sudah mati. Bagian ini seolah mau menyatakan bahwa kita bisa memanggil roh nenek moyang kita. Namun kita tidak bisa melakukan itu. Setan melakukan penipuan sehingga banyak orang berpikir bahwa roh nenek moyang itu bisa dipanggil. Ketika Iblis menggoda kita untuk memakai caranya, maka kita harus seperti Tuhan Yesus yang memenangkan pencobaan dengan Firman Tuhan. Ia tidak berkompromi dengan Setan. Kuasa Tuhan itu begitu besar dan mengalahkan kuasa kegelapan.

 

Ketiga, apa yang dikatakan roh itu sifatnya hanya pengulangan dan ada yang tidak terjadi. Ketika roh itu berkata bahwa Saul akan segera meninggal hari esoknya, hal itu tidak terjadi. Jadi itu bukan dari Tuhan. Semua yang Tuhan katakan itu sempurna. Kehadiran Tuhan itu pasti mendatangkan damai, bukan ketakutan.

 

Orang yang sudah mati dan yang masih hidup mengalami keterpisahan (Lukas 16:19-31, Ayub 14:10-12; 7:9-10, Pengkhotbah 9:5-6, Ibrani 4:10). Ayat-ayat ini menyatakan keterpisahan antara orang hidup dan orang mati. Mereka tidak bisa saling mengganggu. Jadi orang hidup tahu tentang kematian, tetapi orang yang sudah mati tidak tahu lagi tentang orang yang hidup. Kita tahu bahwa kita akan mati namun orang mati tidak tahu tentang orang hidup.

 

 

KESIMPULAN

 

Apa yang terjadi pada Saul? 1 Tawarikh 10:13-14 menjelaskan kepada kita. Saul dikatakan tidak setia karena tidak berpegang pada Firman Tuhan. Tuhan membunuh Saul dan menyerahkan jabatan raja kepada Daud. Kita bisa menarik beberapa kesimpulan.

 

Pertama, Allah sangat membenci dosa paganisme/okultime/spiritisme. Kedua, kegagalan Saul sebagai pemimpin adalah karena dosa-dosanya sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan orang lain. Ketiga, Saul adalah contoh seorang pemimpin yang tidak menghargai anugerah Tuhan dan kedaulatan Tuhan. Ia kurang rendah hati. Keempat, Saul menjadi raja Israel karena keinginan rakyat Israel dan izin Tuhan. Jadi ia bukan raja yang berkenan kepada Tuhan. Daud-lah raja yang berkenan di hadapan Tuhan. Jadi kita belajar dari kisah ini agar kita tidak jatuh ke dalam dosa yang sama.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami