Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Tuhan (4): Iri Hati dan Benci terhadap Daud

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Tuhan (4): Iri Hati dan Benci terhadap Daud

Categories:

Khotbah Minggu 26 Juli 2020

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Tuhan (4)

Iri Hati dan Benci terhadap Daud

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan melanjutkan pembahasan tentang lima dosa Saul. Kita akan membahas tentang iri hati dan benci Saul terhadap Daud. Pembahasan kita diambil dari 1 Samuel 18:5-9.

 

 

PENDAHULUAN

 

Setiap manusia memiliki kelemahan emosi/afeksi dan pikiran etelah jatuh dalam dosa. Apa yang menyebabkan Saul iri hati, marah, dan benci kepada Daud? Saul bahkan sampai mau membunuh Daud. Apakah ini karena situasi di luar? Apakah ini karena ia takut kehilangan takhta? Layakkah Saul iri dan marah kepada Daud? Sebenarnya Saul tidak layak untuk iri hati. Kita akan membahas bagian ini lebih dalam. Apakah Saul menyadari bahwa kebencian terhadap Daud adalah dosa? Banyak orang melakukan kesalahan namun tidak menyadari bahwa mereka telah berdosa. Saul begitu baik perawakannya namun hati, karakter, dan imannya tidak mencerminkan identitas hamba Tuhan yang sungguh-sungguh dipakai untuk kemuliaan Tuhan. Ia tidak menyadari bahwa kebencian terhadap Daud adalah dosa. Apa akibatnya terhadap diri, orang lain, dan Tuhan, jika seseorang dikuasai oleh kemarahannya (bandingkan Kejadian 4:1-16)? Pasti ada dampaknya. Ketika Kain dipenuhi iri hati dan kebencian, ia akhirnya membunuh Habel. Jadi kita harus berhati-hati terhadap virus iri hati, dendam, dan kemarahan. Ini bisa membutakan mata hati dan hati nurani kita. Di sana kita menjadi budak dosa.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Iri hati dan benci terhadap Daud (1 Samuel 18:5-9)

Mengapa Saul iri dan benci kepada Daud? Layakkah sebagai seorang pemimpin Saul benci dan iri kepada Daud? Tidak. Saul tidak memiliki kualitas iman dan karakter. Ia tidak memiliki ketulusan dan kerohanian yang baik. Saat Samuel mengurapinya, responsnya begitu baik. Tuhan memberikan pengalaman rohani seperti para nabi. Namun kesejatian itu diuji dalam kesulitan, tekanan, dan masalah. Semuanya terlihat baik pada awalnya, namun setelah ada ancaman dan kesulitan, isi hati Saul terbongkar. Ia tidak layak untuk iri karena jabatannya itu adalah anugerah Tuhan. Ia tidak layak untuk marah karena ia sudah berdosa. Hal yang memicu kemarahan Saul adalah ketika para wanita menyanyi dan memuji Daud yang lebih hebat dari Saul (ayat 8). Di sana balon seperti terpecah dan iri hati serta kemarahan Saul terungkap di sana. Para wanita itu seperti sudah dipersiapkan dengan baik. Rakyat mengetahui bagaimana Daud, yang adalah salah satu anak paling kecil di keluarganya, mengalahkan Goliat. Daud terus menerus menang dalam peperangan ketika Saul mengutusnya. Saat itu Daud menjadi terkenal di tengah Israel. Para wanita juga mengetahui bahwa Daud masih bujangan saat itu. Daud juga tampan. Saat itu para wanita begitu suka pada Daud. Ketika Daud pulang dari peperangan, mereka sudah mempersiapkan sambutan untuk Daud. Ternyata nyanyian mereka membandingkan antara Daud dan Saul. Semua itu membuat Saul panas hati. Apakah para wanita itu memang bermaksud membandingkan? Dari segi kuantitas, pasti Saul memiliki lebih banyak pengalaman berperang daripada Daud. Namun dari segi kualitas, Daud telah mengalahkan Goliat. Itu menyatakan kekhususan Daud di hadapan Tuhan.

 

Mengapa nyanyian para wanita itu memanaskah hati Saul? Apakah kita suka kalau dibanding-bandingkan? Kita pasti tidak suka. Para wanita tidak bermaksud membandingkan. Mengapa Saul begitu sensitif? Ini karena Saul tahu bahwa akan ada yang menggantikan dia sebagai raja. Penyakit iri Saul dimulai karena ia tidak siap menerima dirinya sendiri. Jadi semua masalah itu bukan datang dari luar. Semua penyakit hati dimulai karena hati kita tidak rela menerima keberadaan diri sendiri. Siapapun yang tidak bisa menerima diri dan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang dimiliki, maka orang itu akan menjadi masalah dalam aspek apapun juga. Jadi sebenarnya Saul sudah punya masalah dalam dirinya. Pemicunya adalah nyanyian para wanita. Biasanya wanita itu lebih baik dalam mempromosikan sesuatu atau seseorang. Segala sesuatunya sudah Tuhan atur untuk membongkar keburukan hati seseorang. Saul belum pernah mendapatkan sambutan seperti itu. namun inti masalahnya ada di dalam hati.

 

Saul takut atau khawatir kedudukannya sebagai raja akan diambil. Samuel sudah menyatakan ini sebelumnya. Ketika kita tidak rela melihat diri dalam ketetapan Tuhan dan kita mau ketetapan kita sendiri yang berlaku, maka di saat itu kita sedang melawan kodrat Tuhan. Di sana kita bisa disebut tinggi hati. Tinggi hati tidak selalu kelihatan dari penampilan. Tinggi hati itu dimulai dari dalam hati. Ia tidak rela menerima ketetapan Tuhan. Mengapa ada penyakit post-power syndrome? Orang itu mungkin sudah waktunya pensiun namun ia tidak bisa menerima diri. Ia mau menunjukkan dirinya masih hebat. Setiap manusia memiliki aktualisasi diri, namun jika aktualisasi diri itu adalah untuk menunjukkan kehebatan diri, maka itu adalah dosa. Saul itu sangat tinggi hati. Ia tidak mau menerima ketetapan Tuhan. Segala sesuatu ada dalam waktu Tuhan. Ia tidak menerima rancangan ini dalam ucapan syukur. Ketika Saul muali dibandingkan dengan Daud, di sana ia mulai khawatir. Di balik semua itu, ia adalah orang yang sombong. Jadi tinggi hati itu karena tidak mau menerima ketetapan Tuhan. Orang-orang yang sudah turun namun tidak bisa menerimanya akan mengeluarkan hal-hal negatif. Sejarah mengajarkan bahwa seseorang yang hebat pada waktunya akan digantikan oleh orang lain. Jadi ada perputaran dalam dinamika yang inovatif. Orang yang saat ini kuat pada akhirnya tidak akan selamanya menjadi kuat. Ia akan digantikan oleh orang kuat yang lain. Ini adalah kedaulatan Tuhan.

 

Di dalam bagian ini Saul tidak memiliki konsep kedaulatan Tuhan. Ini berbeda yang Yusuf. Ia tidak takut saat dijual, dijadikan budak, dan dipenjara. Ini karena ia percaya pada kedaulatan Tuhan. Langkah dari Tuhan dan pemeliharaan Tuhan itu selalu baik dan benar. Jadi Saul sudah bersalah namun bersikap semakin salah. Namun sikap iman Yusuf itu benar. Ini karena dari dalam hatinya sudah ada kebenaran. Alkitab mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam melihara hati. Hati kita itu penting dan harus dijaga karena itulah yang mengarahkan hidup kita. Jadi masalahnya ada pada Saul. Ditinjau dari segi psikologi, Saul tidak pernah terlatih dari sejak kecilnya. Ia tidak pernah terlatih untuk menerima diri dalam kekalahan dan bersyukur dalam kemenangan. Ini biasanya terjadi pada anak tunggal atau anak yang tidak memiliki kompetisi. Pada waktu menjadi dewasa, ia adalah orang yang rentan. Mentalnya tidak kuat ketika ada tekanan atau ada perbandingan. Ketika kita terlalu sering membanding-bandingkan anak, maka anak bisa bersikap secara negatif. Dari segi pendidikan anak, membanding-bandingkan itu tidak baik. Pada kasus tertentu perbandingan itu boleh sebagai studi kasus. Jika iman dan karakter tidak siap, maka perbandingan itu bisa menyakitkan hati. Mungkin saja Saul tidak pernah terlatih dari sejak kecilnya. Namun semua ini akhirnya adalah karena dosa.

 

Mengapa Saul iri dan benci kepada Daud? Benteng kematangan emosi dan pikiran Saul sudah bermasalah dari awalnya. Bagaimana kita bisa melihat ini? Alkitab tidak pernah mencatat Saul menyatakan kasihnya kepada Tuhan. Kerohanian Saul yang baik tidak tercatat. Ia bukan orang saleh. Jadi Saul memang tidak punya kualifikasi rohani sebagai raja. Ia tidak memiliki karakter pemimpin yang handal. Ia baik namun tidak benar dan tidak memiliki karakter yang matang. Tidak semua orang baik bisa menjadi pemimpin. Yefta memiliki latar belakang keluarga yang buruk. Ibunya bukanlah seorang yang baik. Ia dibesarkan dalam kehidupan preman. Namun mengapa ia bisa menjadi pemimpin? Tuhan memakainya dan memunculkan karakternya sebagai pemimpin. Jadi ada misteri yang hanya diketahui oleh Tuhan. Orang yang latar belakangnya baik belum tentu cocok menjadi pemimpin. Namun orang yang berlatar belakang buruk bisa dipakai oleh Tuhan menjadi pemimpin yang suci. Jadi kita harus merelakan diri kita digarap oleh Tuhan. Kita mungkin pernah melihat diri kita begitu buruk. Kita mungkin pernah merasa tidak layak melayani Tuhan. Namun semua itu penting agar kita merasa tidak layak. Orang yang belum pernah menangis karena dosa namun selalu percaya akan dirinya pasti akan menjadi masalah dalam pelayanan. Dalam Mazmur 38:20-21 pemazmur mengungkapkan bahwa ada banyak orang yang membenci dirinya namun ia tidak pernah membenci orang lain. Ini berarti Daud sudah beres di dalam dirinya. Ini karena ia sudah beres relasinya dengan Tuhan. Ia sudah benar dalam melihat Tuhan dan diri sehingga ia benar dalam melihat orang lain.

 

Saul dari awalnya sudah tidak matang iman dan karakter. 1 Korintus 13:4 menyatakan tentang supremasi kasih. Dikatakan bahwa kasih itu sabar. Kasih tidak menyimpan kebencian dan tidak cemburu. Satu bagian ini saja jelas menyatakan bahwa jika kita bisa sungguh-sungguh mengasihi Tuhan maka kasih Tuhan akan kita nyatakan kepada orang lain. Jadi orang yang mengasihi Tuhan tidak mungkin ada iri dan benci. Tuhan Yesus berkata: Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu (Matius 5:23-24). Kita bisa terlihat saleh karena beribadah pada hari Minggu, namun hati kita bisa tetap menyimpan kefasikan. Jadi ada kepalsuan rohani. Tuhan mau kita membereskan hati kita dahulu. Daud tidak membenci tetapi dibenci. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Pemazmur tidak pernah mengajarkan balas dendam. Orang yang sudah mengasihi Tuhan seharusnya memberikan respons kebaikan. Alkitab mengajarkan bahwa orang baik itu menerima teguran namun orang fasik akan menanggapi teguran dengan kebencian. Jadi kematangan iman itu penting untuk kematangan emosi. Tanpa kasih kepada Tuhan dan sesama, kita akan menjadi orang yang rapuh. Saul terpancing ketika ia mendengar nyanyian itu. Ini menunjukkan bahwa memang hubungannya dengan Tuhan tidak beres.

 

Ketiga, mengapa Saul iri dan benci kepada Daud? Saul membiarkan dirinya dikuasai kebencian terhadap Daud. Ia sampai mau membunuh Daud berkali-kali (1 Samuel 19, bandingkan Ayub 5:2). Orang bodoh itu akan terbunuh oleh karena iri hatinya. Orang bebal akan dimatikan oleh iri hatinya. Jadi kita harus berhati-hati terhadap virus iri hati. Iri hati sedikit yang dibiarkan akan bisa bertumbuh sampai membuat orang itu rela membunuh. Apakah anak Tuhan bisa iri hati? Bisa. Namun bisakah iri hati itu memperbudaknya terus menerus? Tidak. Anak Tuhan yang sejati akan diperbarui oleh Allah Roh Kudus dan hatinya tidak akan diperbudak dosa. Anak Tuhan tidak mungkin dikuasai oleh roh jahat. Saul dikuasai oleh roh jahat. Itu terjadi sejak ia membiarkan dirinya dikuasai amarah. Jadi Tuhan memang tidak menopang Saul. Iri hati anak Tuhan sifatnya hanya sebentar. Kita tidak memiliki iri, marah, dan dendam karena kita sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Iri hati itu bukanlah keinginan Tuhan. Itu adalah nafsu duniawi. Tugas kita adalah mematikan iri hati itu. Saul membiarkan dirinya dikuasai kebencian. Ia seolah dilepas oleh Tuhan. Iri hati itu bisa mendatangkan kematian. Itulah mengapa iri hati masuk dalam kategori tujuh dosa maut. Buah Roh itu berlawanan dengan iri hati. Iri hati itu membuat kita tidak bisa menerima kemajuan dan keberhasilan orang lain.

 

2) Bagaimana kita tahu bahwa kita sudah bebas dari virus iri hati?

Siapa yang paling tahu peta hati kita? Kita perlu diuji dalam hal ini. kriteria pertama ciri iri hati adalah kita tidak bisa mendukung di dalam doa untuk kemajuan atau keberhasilan seseorang. Orang yang iri hati itu bersyukur ketika orang lain mendapatkan musibah. Di sana kita menjadi orang yang membenci. Itu bukan ucapan syukur rohani. Siapapun orang yang berhasil itu, kita harus mendoakannya. Kehadiran kita harus memberikan kesejahteraan. Kita dipanggil untuk menghasilkan, bukan sekadar menikmati. Jadi kita harus terus mendoakan orang lain. Ini semua bisa dilakukan kalau hati kita sudah beres secara rohani. Itu akan membuat kita beres dalam berelasi dan mendoakan orang lain. Kriteria kedua adalah kita tidak bisa mendukung dengan rela hati untuk kemajuan dan keberhasilan seseorang. Orang yang iri hati tidak akan rela memberikan dukungan dalam bentuk apapun untuk kemajuan orang lain. Ketika kita melihat seorang saudara seiman yang membutuhkan dukungan untuk bisa maju, maka kita harus menggumulkan untuk mendukungnya. Kita tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga kita. Anugerah Tuhan bukanlah milik kita pribadi tetapi harus kita pakai untuk pertumbuhan tubuh Kristus. Kebesaran hati seperti itu akan membuat kita maju. Orang yang hatinya sempit tidak akan maju. Setiap masalah harus kita lihat secara rohani dari kacamata Tuhan. Kita harus memandang Tuhan lebih besar daripada masalah yang dihadapi. Di dalam menyelesaikan masalah pun kita mau nama Tuhan yang dibesarkan. Jadi kita harus membuang virus iri hati agar kita bisa maju. Orang yang memiliki kebesaran hati itu mau berpikir luas dan memikirkan orang lain. Semua talenta kita harus dipersembahkan kepada Tuhan. Apapun yang kita miliki itu datang dari Tuhan. Orang yang iri hati dan dendam itu juga bisa memiliki ciri suka membicarakan keburukan orang lain di luar (bergosip).

 

Kriteria ketiga adalah kita tidak bisa bersyukur ketika orang lain menjadi lebih sukses atau lebih maju dari kita. Seandainya saat Daud dipuji oleh para wanita Saul malah mengucap syukur, apakah rakyat akan berpikir bahwa Saul itu sedang mencari muka? Pasti tidak. Rakyat justru akan memuji Saul karena kebesaran hatinya. Ketika kita dijadikan pemimpin, maka kita juga harus siap untuk turun pada waktunya dan digantikan oleh orang lain. Kita tidak boleh menyimpan penyakit hati atau ego. Senyuman yang kita berikan bukanlah senyuman palsu tetapi senyuman tulus dalam ucapan syukur. Kita tidak boleh iri pada orang yang tiba-tiba menjadi lebih maju daripada kita. Di dalam segala hal kita melihat anugerah Tuhan. Orang-orang di Perjanjian Lama tidak mendapatkan sekolah formal seperti saat ini, namun kita melihat tokoh-tokoh Alkitab yang mendapatkan sekolah iman dari Tuhan. Itulah sekolah yang terpenting. Virus iri hari itu harus kita waspadai. Itu bisa muncul karena kita tidak bisa menerima diri karena relasi kita tidak beres dengan Tuhan. Adanya iri hati itu menunjukkan bahwa kita belum dipenuhi oleh buah Roh. Kasih itu membuat kita tidak diperbudak oleh iri.

 

3) Apa yang membuat Daud selalu berhasil dalam peperangan?

Sekolah peperangan Daud adalah ketika ia mengalahkan singa dan beruang. Ia dididik oleh Tuhan saat ia menjadi gembala. Jadi kunci pertama adalah Daud selalu meminta penyertaan Tuhan (ayat 14, 30). Saul hanya mengandalkan pikiran dan pengalaman. Jadi kita harus meminta penyertaan Tuhan. Itu lebih besar dari apapun juga. Kedua, Daud berperang dengan iman di hadapan Tuhan (1 Samuel 17:34-37). Ia tidak berperang untuk diri sendiri. Ia memenuhi tanggung jawabnya karena iman. Jadi kita harus menghadapi setiap permasalahan dengan iman. Dalam masa pandemi ini kita juga harus beriman. Ketiga, Daud selalu menjaga kesucian hati. Ia tidak dendam pada Saul (1 Samuel 24, 26). Ia memiliki kesempatan untuk membunuh Saul namun ia tidak memakainya. Ia selalu menjaga kesucian hati. Jadi kita harus meminta penyertaan Tuhan, menghadapi segala hal dengan iman, dan menjaga kesucian hati.

 

 

KESIMPULAN

 

Amsal 23:17-18 Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. Kenapa kita tidak maju dan pengharapan kita gagal? Bukan karena hal-hal di luar tetapi terutama karena iri hati. Yakobus 3:14-18 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. Jadi orang yang dipenuhi kasih akan menabur damai. Kasih yang memenuhi kita tidak mungkin menciptakan kekacauan. Iri hati sedikit saja bisa menyebabkan kekacauan. Damai itu adalah program Tuhan bagi kita. Pada kesempatan berikutnya kita akan membahas dosa Saul yang kelima. Ketika kesulitan itu datang, Saul bukan mencari belas kasihan Tuhan tetapi mencari pemanggil roh Samuel. Di sini ada penyembahan berhala. Ini sama seperti kecanduan gadget pada masa kini. Kita harus bebas dari hal ini.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami