Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Tuhan (3): Tidak Taat pada Perintah Allah (1 Samuel 15:1-23)

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Tuhan (3): Tidak Taat pada Perintah Allah (1 Samuel 15:1-23)

Categories:

Khotbah Minggu 19 Juli 2020

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Allah (3):

Tidak Taat pada Perintah Allah

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

Kita akan melihat bagian Alkitab dari 1 Samuel 15:1-23. Salah satu penyebab kejatuhan seorang pemimpin adalah kompromi dan tidak berani menegakkan kebenaran. Sebelumnya kita membahas bahwa salah satu penyebab kejatuhan yang lain adalah mental yang tidak kuat dan emosi yang tidak stabil. Apa yang menyebabkan Saul melanggar perintah Tuhan? Mengapa Saul berusaha membenarkan diri dan menyalahkan rakyatnya? Apakah penyesalan Saul atas kesalahannya benar-benar tulus? Mengapa Allah menyesal terhadap Saul? Saul juga dikatakan menyesal. Apakah penyesalan keduanya itu sama atau berbeda?

 

Sebelumnya kita sudah membahas dosa Saul yang pertama dan kedua. Dosa yang pertama adalah dia mempersembahkan korban tanpa menunggu Samuel (1 Samuel 13:11-14). Dosa yang kedua adalah dalam keadaan terdesak Saul memerintahkan prajuritnya bersumpah dan berpuasa tanpa meminta pimpinan Tuhan (1 Samuel 14:24-39). Ia mengambil kebijakan tidak sesuai dengan hati Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Saul tidak taat pada perintah Tuhan

Kita akan masuk ke dalam bagian yang ketiga yaitu tidak taat pada perintah Tuhan. Tuhan sudah memerintahkan dia untuk menumpas bangsa Amalek termasuk semua hewannya. Bangsa Amalek menghalangi bangsa Israel pergi ke tanah perjanjian ketika keluar dari Mesir. Saul tidak taat dalam bagian ini. Mengapa Saul tidak taat pada perintah Tuhan? Mengapa ia lebih menaati rakyat? Saul salah karena tidak mengerti konsep keadilan Allah (ayat 3) dan kekudusan dalam ibadah (ayat 21, 22, bandingkan Roma 12:1). Tuhan sudah memberikan perintah untuk menumpas bangsa Amalek. Kita bisa saja berpikir untuk bernegosiasi dengan Tuhan dalam hal ini, namun keadilan Tuhan itu suci dalam setiap keputusan-Nya. Keadilan-Nya mengandung kebebasan yang sempurna. Amalek sudah menyakiti hati Tuhan. Ia berdaulat dalam keadilan-Nya. Mengapa Tuhan mau menumpas bangsa Amalek dengan tangan manusia? Bisakah Tuhan menghentikan dosa dan memakai kuasa-Nya, misalnya untuk memakai alam dalam menumpas bangsa Amalek? Bisa. Tuhan bisa memakai angin topan, banjir, atau gempa. Namun mengapa Tuhan memakai Saul dan bangsa Israel? Tuhan mau menguji ketaatan mereka. Allah tidak kejam karena alasan-Nya selalu benar. Bangsa Amalek begitu keras dan menghalangi pekerjaan Tuhan.

 

Dalam Kejadian 6 Tuhan menyatakan kepada Nuh soal air bah. Tuhan menggunakan itu untuk menghukum orang-orang yang tidak takut akan Tuhan. Nuh dan keluarganya diselamatkan. Allah membunuh semua orang kecuali mereka. Tuhan menyesal melihat kejahatan manusia sehingga Ia membunuh dengan air bah. Dalam Kejadian 18 dan 19 tercatat peristiwa Sodom dan Gomora. Abraham memiliki hati seorang hamba. Ia mengetahui bahwa Lot ada di sana. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan. Di sana ia berdiskusi dan memohon belas kasihan Tuhan. Tuhan hanya menyelamatkan Lot dan keluarganya. Jadi Tuhan tidak segan dalam keadilan-Nya. Ia membunuh dengan alasan yang benar. Jadi ketika orang Amalek harus dibunuh karena perintah Tuhan, maka hal itu tidak boleh dilalaikan. Saul tidak melaksanakan tugasnya karena tidak mengerti konsep keadilan dan kedaulatan Tuhan.

 

Alasan ketidaktaatan yang kedua adalah Saul mengambil hewan atas nama Tuhan. Saul tidak mengerti konsep kekudusan dalam ibadah. Ia berpikir bahwa semua hewan terbaik itu dibiarkan hidup untuk kemudian dipersembahkan kepada Tuhan. Rakyat juga mengambil hewan-hewan itu seolah untuk diberikan kepada Tuhan. Samuel berkata dalam 1 Samuel 15:22b Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Jadi Saul seharusnya mendengar dan mengerti lalu menjalankan perintah Tuhan. Saul tidak mengerti tentang ibadah yang hidup. Roma 12:1 menyatakan tentang ibadah yang sejati yaitu persembahan hidup kita. Tuhan melihat hati yang dipersembahkan kepada-Nya. Jadi Saul dipilih sebagai raja namun ia tidak memiliki iman yang benar meskipun secara lahiriah ia tampak baik.

 

Saul salah karena meletakkan rasa takutnya pada rakyat (ayat 24) dan bukan kepada Tuhan (bandingkan Yohanes 14:15). Ketika ditanya mengapa ia mengambil jarahan, Saul menjawab: karena rakyat mau. Seharusnya Saul lebih mendengarkan Tuhan daripada rakyat. Jadi Saul tidak mengerti konsep yang benar tentang Tuhan. Teologi akan memengaruhi sikap dan keputusan kita. Ia berpikir bahwa mengambil jarahan itu bisa menyenangkan Tuhan serta rakyat. Namun itu tidak menyenangkan Tuhan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang mengasihi Allah pasti menuruti perintah-Nya. Jadi Saul lebih mengasihi rakyat daripada Tuhan. Ini terbalik. Seharusnya kita mengutamakan kasih kepada Tuhan. Saul menaati rakyat sehingga ia berkompromi dengan dosa. Teologi akan membangun kasih kepada Tuhan jika teologi itu dimengerti. Kalau teologi itu berhenti di otak saja, maka kita tidak akan mengasihi Tuhan. Kasih itu terpancar dalam kepedulian kita terhadap siapa/apa yang kita kasihi. Jadi kita harus tahu bagaimana membangun prioritas hidup.

 

2) Mengapa Allah menyesal dan Saul juga menyesal?

Allah menyesal dalam nilai antropomorfis karena menjadikan Saul sebagai raja dan bukan karena tindakan Saul. Dalam konsep Reformed, Allah tidak pernah menyesal setelah melihat tindakan manusia. Allah membunuh semua manusia dalam zaman Nuh karena Allah menyesal telah menciptakan mereka. Allah membunuh orang-orang Sodom dan Gomora karena kejahatan mereka yang luar biasa. Dalam hal ini, Allah menyesal karena Saul menjadi raja dan bukan karena tindakan Saul. Kita sebagai manusia bisa menyesal karena kita tidak tahu akan masa depan. Jika Allah menyesal karena tindakan Saul berarti Allah itu tidak maha tahu. Jadi seolah-olah Allah sudah salah memilih Saul. Kata ‘menyesal’ itu adalah ungkapan hati Tuhan yang kita bisa mengerti. Saat dikatakan bahwa Allah itu melihat, apakah itu berarti Allah punya mata? Tidak. Ini karena Ia adalah Roh. Jadi ini adalah ungkapan bahasa manusia. Jadi kata ‘menyesal’ itu sedang menyatakan kesedihan Tuhan. Ini memang tidak mudah untuk dipahami. Allah itu melampaui seluruh pikiran kita. Namun Allah mengirim Anak-Nya ke dunia sehingga kita bisa lebih mengenal siapa Allah. jadi penyesalan Allah bukan karena Ia tidak maha tahu atau karena emosi-Nya tidak stabil.

 

Saul menyesal karena tidak tahu akibat perbuatannya. Ini namanya penyesalan yang terlambat (bandingkan dengan Yudas). Samuel menyatakan bahwa jabatan rajanya akan dicabut. Di sana Saul menyesal dan meminta Samuel tidak meninggalkannya. Setelah itu Samuel meninggalkannya dan menyuruh untuk membawa raja Agag. Awalnya ia merasa senang karena berpikir bahwa ia akan mendapatkan belas kasihan. Namun ternyata ia dicincang di sana. Tindakan ini mewakili keadilan dan murka Tuhan atas Agag yang begitu sombong. Keputusan Tuhan itu suci, benar, dan sempurna. Saul menyesal namun bukan karena iman atau mengerti hati Tuhan. Ia menyesal karena jabatan rajanya akan dicabut. Pertobatan yang sejati itu didorong oleh kasih Tuhan karena kita mengenal Tuhan. Pertobatan itu karena iman yang mendorong kita untuk berhenti berdosa. Pertobatan Saul adalah pertobatan yang manusiawi, bukan di dalam Tuhan. Ia menyesal setelah tahu akibat perbuatannya. Yudas juga menyesal namun tanpa pembaruan iman. Ia tidak berkomitmen di hadapan Tuhan dan ia membunuh diri. Banyak orang menyatakan penyesalan setelah tertangkap dalam kejahatannya. Ini adalah hal yang wajar. Hal ini tidak berkaitan dengan iman, pengenalan akan Tuhan, atau komitmen pembaruan hati. Jadi penyesalan Saul itu terlambat dan tanpa pertobatan. Ini sama dengan Yudas.

 

Jadi Saul gagal karena ketidakmampuannya mengerti Firman Tuhan. Ia mendengar namun tidak mengerti. Ia tidak menaati Firman Tuhan secara penuh. Kita harus taat 100%. Nuh disebut sebagai pemberita kebenaran dan ia hidup benar. Ia dianggap benar karena memberitakan kebenaran. Sebelum Tuhan menenggelamkan bumi, Nuh dipakai oleh Tuhan untuk memperingatkan mereka. Namun mereka tidak mendengarkan Nuh. Nuh dianggap orang gila karena ia memakai waktu begitu lama untuk membangun bahtera. Saat itu orang-orang berdosa hanya tahu memuaskan diri, namun Nuh hidup untuk memuaskan hati Tuhan. Jadi kita pasti sulit berdebat dengan orang yang tidak mengerti Firman Tuhan. Ini karena pemikirannya berbeda. Jadi perdebatan teologi tidak membuat orang lain mengerti teologi. Tidak akan ada titik temu dengan orang-orang seperti itu. Jadi Saul menyesal namun tanpa ada titik temu untuk mengerti Firman Tuhan. Dalam setiap penyesalan, kita harus melihat apakah alasan di belakangnya itu sungguh-sungguh atau tidak. Tuhan menyesal karena sudah menjadikan Saul raja, bukan karena perbuatan Saul. Jika karena perbuatan Saul, maka itu berarti Allah tidak maha tahu.

 

 

KESIMPULAN

 

Mengapa ketaatan kepada Allah, orang tua, pimpinan (atasan), pemerintah yang benar itu sangat penting? Ketaatan kita tidak boleh bersifat parsial. Kalau kita taat kepada Allah, maka kita akan taat kepada perkataan orang tua kita yang berdasark pada Firman Tuhan. Surat Efesus dan Kolose mengajarkan tentang ketaatan kepada pimpinan. Alkitab juga mengajarkan tentang ketaatan kepada pemerintah. Ketaatan berkaitan dengan kasih kepada Allah dan iman seseorang. Ketaatan adalah bukti kualitas imannya di hadapan Tuhan dan sesamanya, di dalam kebebasannya (baca Filipi 2:8 dan 1 Petrus 1:18-19). Ketaatan kita kepada orang yang ditetapkan untuk menjadi pemimpin kita itu berkaitan dengan kasih kita kepada Tuhan. Jadi kasih dan ketaatan itu selalu berkaitan. Ketaatan itu berkaitan dengan iman. Jadi kalau Saul beriman, ia pasti menyuruh rakyat untuk memusnhakan semua hewan jarahan. Ketaatan itu berkaitan dengan nilai masa depan kita yaitu apa yang kita mau raih.

 

Ketaatan seseorang bisa diuji ketika ia diberikan kebebasan. Adam diberikan seluruh pohon yang buahnya boleh dimakan, namun ia dilarang untuk memakan buah dari pohon yang terlarang. Jadi ia bebas namun terbatas. Di dalam mendidik anak, ketaatannya bisa diuji dalam kebebasannya. Jadi anak boleh diberikan batasan namun jangan sampai diikat ketat dalam sistem. Kita harus berhati-hati dalam kebebasan. Setan bisa memberikan kebebasan dalam pola berpikir (free thinker). Tuhan itu maha tahu, maha hadir, dan maha kuasa. Kita tidak boleh bermain-main dengan perintah-Nya. Di dalam kebebasan kita, kita berperang dengan iman. Kristus taat sampai mati dan kita juga harus demikian. Ketaatan kita bukanlah karena ketaatan orang lain. Ketaatan kita harus total dalam seluruh aspek. Di sana kualitas kita sebagai anak Tuhan terpancar. Ketaatan kita bukanlah ketaatan karena uang atau karena orang lain menyenangkan kita. Itu adalah ketaatan yang murahan. Ketaatan kita itu menunjukkan karakter kita. Kita sudah ditebus oleh Kristus, maka dari itu ketaatan kita adalah ketaatan sampai mati. Kristus menebus kita dalam ketaatan-Nya supaya kita menjadi taat. Jadi kita yang taat tidak akan berpotensi dosa. Ini karena kuasa Kristus ada dalam hati kita.

 

Apa upah untuk yang menaati Kristus dengan total? Saul tidak diberkati karena melanggar perintah Tuhan. Tuhan memberkati umat-Nya yang taat kepada-Nya dan menjalankan perintah-Nya (Lukas 11:28). Jadi kita yang membaca Firman Tuhan setiap hari pasti disertai dan diberkati oleh Tuhan. Kita membaca untuk mengerti dan menjalankan. Dari sini kita akan diberkati dalam segala aspek. Jadi ketaatan itu selalu mendatangkan berkat. Kita harus taat tidak hanya kepada Tuhan tetapi juga orang tua, pimpinan, dan pemerintah. Ketidaktaatan membuat kasih dan iman itu dipertanyakan. Masa pandemi ini membatasi kebebasan kita, namun di sini Tuhan memberikan pelajaran. Ancaman yang berbahaya adalah ancaman yang berbahaya namun tidak kelihatan. Virus Covid-19 itu tidak bisa dilihat mata namun dampaknya itu sangat besar. Melalui pandemi itu Tuhan mempermalukan para peneliti. Mereka belum diizinkan untuk menemukan obat bagi pandemi ini. Di sini keahlian manusia itu menjadi begitu kecil di hadapan Tuhan. Kita didorong untuk memiliki kebiasaan yang baru. Kita juga belajar untuk rendah hati. Tuhan memanggil kita bukan untuk memuliakan diri tetapi memuliakan Tuhan. Tuhan-lah pengharapan kita. Kita diperintahkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Kasih kita menjadi kesaksian bagi orang lain.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami