Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Tuhan: Mengambil Kebijakan Tanpa Pimpinan Tuhan

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Tuhan: Mengambil Kebijakan Tanpa Pimpinan Tuhan

Categories:

Khotbah Minggu 12 Juli 2020

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Tuhan (2)

Mengambil Kebijakan Tanpa Pimpinan Tuhan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Sebelumnya kita sudah membahas tentang dosa Saul dalam melanggar otoritas Tuhan. Ia memberikan korban bakaran dan korban keselamatan namun tanpa menunggu Samuel tiba. Ia merasa terdesak dan tidak sabar menunggu sehingga ia melanggar perintah Tuhan. Itu membuat Tuhan murka. Kita akan melihat dosa Saul yang kedua yaitu ia mengambil kebijakan tanpa meminta petunjuk Tuhan. Ini adalah kejatuhan seorang pemimpin. Dasar ayat pembahasan kita adalah 1 Samuel 14:24-46.

 

 

PENDAHULUAN

 

Salah satu penyebab kejatuhan seorang pemimpin adalah mental yang rapuh dan perasaan yang tidak stabil. Mental rohani itu dibutuhkan dalam hidup kita untuk memegang satu komitmen dalam kebersandaran pada Tuhan. Mental duniawi itu berbicara mengenai bagaimana seseorang bertahan di tengah kesulitan dengan tetap konsisten melangkah maju. Di tengah tantangan ia tetap fokus dan maju. Perasaan yang tidak stabil mengakibatkan kejatuhan seorang pemimpin. Saul dipilih tanpa ia mengerti bagaimana menghadapi kesulitan dan mengandalkan Tuhan. Jadi perasaannya tidak stabil. Mengapa Saul menyuruh prajuritnya bersumpah dan berpuasa tanpa pimpinan Tuhan dalam keadaan terdesak? Ia mau meminta belas kasihan Tuhan melalui cara agama namun tanpa hati yang takut akan Tuhan. Di sini ada manipulasi spiritualitas. Banyak orang memakai nama Tuhan demi kemenangan namun di dalam kepalsuan rohani. Apakah sikap ini sungguh-sungguh sebagai petunjuk kerendahan hati Saul? Secara lahirih, Saul terlihat mengandalkan Tuhan. Ia menyuruh semua orang berpuasa namun hatinya jauh dari Tuhan. Jadi ada pemalsuan rohani di sini. Terkadang cara agama itu dipakai tanpa esensi. Apakah Saul sedang memainkan peran orang saleh tanpa pimpinan Tuhan? Ya. Ia hanya terlihat saleh. Ia terlihat mengandalkan Tuhan namun tidak benar-benar percaya akan kuasa Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Dosa Saul yang pertama: mempersembahkan korban tanpa menunggu Samuel (1 Samuel 13:11-14).

Dalam keadaan terdesak ia mempersembahkan korban tanpa menunggu Samuel. Saul melanggar ketetapan Tuhan dan otoritas Tuhan. Seharusnya yang mempersembahkan korban adalah imam yang dipilih oleh Tuhan. Seberapa besar pun kuasa seorang pemimpin, jika ia bukan imam, maka ia tidak boleh mempersembahkan korban. Saul berani melanggar otoritas dan ketetapan Tuhan karena ia sombong. Ia lupa diri membuat alasan karena terdesak. Ia tidak sabar menunggu waktu Tuhan selama 7 hari. 7 hari itu bisa terasa lama ketika mata memandang tentara Filistin yang begitu banyak. Jadi ia merasa tidak sabar. Di sana ia tidak bisa menguasai diri. Orang yang sabar membutuhkan penguasaan diri untuk menantikan waktu Tuhan. Pikiran dan perasaannya harus suci selama menunggu waktu Tuhan. Mungkin musuh di depan mata bisa membuat kekhawatiran, namun iman harus mendorong penguasaan diri. Di sana Saul seharusnya berserah kepada Tuhan namun ia tidak melakukan itu. Ia sebagai raja merasa bisa melanggar ketetapan Tuhan. Banyak orang menganggap diri hebat dan berkuasa sehingga melawan otoritas Tuhan. Ini adalah dosa.

           

Saul melakukan semua ini karena mengalami kepanikan karena para prajurit terpencar dalam ketakutan. Mereka bersembunyi karena tidak memiliki mental sebagai pemenang. Mereka memiliki mental kalah karena tertipu panca indra. Tuhan itu berkuasa. Kalaupun jumlah mereka sedikit, mereka akan bisa mengalahkan bangsa yang besar karena Tuhan-lah yang berperang. Mereka tidak memiliki mental ini. Jadi Saul berperang dengan mengandalkan jumlah prajurit. Ia tidak mengandalkan Tuhan yang besar. Mental dan imannya tidak seperti itu. Karena Saul tidak menaati Tuhan, Samuel menegur bahwa takhtanya akan berlalu. Mengapa Saul disebut bodoh oleh Samuel? Karena melanggar ketetapan Tuhan. Ia sombong karena jabatannya. Iman dan ketaatan seseorang diuji dalam kesuksesan. Secara negatif ini bisa diuji dalam situasi yang mengancam, genting, atau mencekam seperti Saul. Seorang pemimpin harus berani berdiri di depan menjadi contoh iman yang sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan. Para pemimpin Gereja harus menjadi contoh dalam kualitas iman, kesucian, kesetiaan, dan karakter di hadapan Tuhan.

 

 

2) Dosa Saul yang kedua: mengambil kebijakan tanpa pimpinan Tuhan

Pemimpin itu penentu kebijakan. Pelaksana kebijakan bukanlah pemimpin yang tertinggi. Jabatan seseorang bisa berupa manajer atau direktur, namun ia hanya pelaksana. Pemimpin yang tertinggi itu pengambil kebijakan yang bisa memengaruhi banyak orang. Saul adalah pemimpin yang tertinggi. Ia memimpin bangsa Israel menghadapi orang Amalek, Filistin, dan bangsa-bangsa asing lainnya. Dalam kontek yang kita baca, Saul sedang terdesak. Saat itu ia tidak langsung berdoa. Ia tidak langsung bertanya kepada imam. Ia memakai kekuasaan dirinya dan mengikat para prajurit dengan sumpah. Saul memakai pendekatan keagamaan yaitu berpuasa dan menyiksa diri tanpa pimpinan Tuhan. Ini adalah dosa. Puasa tanpa melibatkan Tuhan namun mengaku melibatkan Tuhan itu palsu adanya. Di sini ada permainan jiwa manusia. Kita terkadang bisa merayu Tuhan dengan janji-janji dalam keadaan terdesak. Di sana kita bisa mempermainkan Tuhan. Jadi seorang pemimpin butuh penguasaan diri dan sikap berserah di hadapan Tuhan. Ia harus tunduk dan ikut pimpinan Tuhan. Seharusnya Saul menyerahkan tugas imam kepada imam. Ia seharusnya mempertimbangkan cara Tuhan, bukan memakai otoritas pribadi. Di dalam ketidaksuciannya ia memalsukan kehendak Tuhan dan di sana rakyat tersiksa. mereka dipaksa berperang tanpa energi. Hal yang luar biasa adalah rakyat tetap taat. Mereka lemas dan letih namun taat.

 

Saul ingin meraih kemenangan namun dengan cara yang salah. Saul tidak bertanya kepada Tuhan untuk strategi meraih kemenangan dalam keadaan terdesak. Kita tidak boleh memakai cara keagamaan yang bersifat instan yang seolah meminta belas kasihan Tuhan namun sebenarnya sedang menyedihkan hati Tuhan. Saul melakukan hal itu dan menyiksa rakyatnya. Saul melakukan ini karena dia tidak pernah terlatih hidup dalam kesulitan. Ia tidak pernah menghadapi tantangan yang besar sebelumnya. Kalau Tuhan mengizinkan kita mengalami kesulitan dan kita harus merangkak dari bawah ke atas, maka kita harus bersyukur. Ketika kita sampai di atas pun kita tidak boleh melupakan penyertaan Tuhan. Jadi Tuhan bisa memeras diri kita ketika mendidik kita. Saat Tuhan mendidik kita, kita harus taat. Proses itu adalah pembelajaran iman. Tuhan tidak pernah tinggal diam ketika anak-anak-Nya mengalami ujian dan pencobaan. Saul tidak kuat mentalnya dan lemah perasaannya sehingga ia mempermainkan pendekatan agama. Ia berpuasa namun sebenarnya tidak takut akan Tuhan dan tidak melihat kebesaran Tuhan. Ini adalah pemalsuan rohani. Strategi kemenangan bukanlah jalan instan yang mengandalkan dunia.

 

Strategi kemenangan pertama-tama adalah kita berani bersekutu dengan Tuhan. Di dalam keadaan terdesak kita diajarkan untuk melihat kepada Tuhan yang besar, bukan kepada manusia. Mata seorang pemimpin adalah mata visioner rohani untuk melihat Tuhan. Matanya bukanlah mata duniawi. Mata visioner itu melihat janji dan penyertaan Tuhan bahkan dalam keadaan terdesak. Itulah yang harus dimiliki setiap pemimpin. Tuhan memakai pria menjadi pemimpin karena pria diberikan rasio yang kuat untuk memikirkan masa depan. Namun Saul lebih kuat perasaannya. Ia tidak punya jiwa visioner yang melihat penyertaan Tuhan. Ia lebih bergantung pada apa yang dilihatnya di depan mata. Memakai panca indra itu tidak salah namun itu nilainya relatif atau subjektif. Kita harus bisa melihat esensi rancangan Tuhan di balik hal-hal itu. wanita bisa memiliki visi dan memikirkan masa depan, namun pada umumnya memang pria ditetapkan menjadi pemimpin dalam rumah tangga.

 

Saul tidak memiliki pengkajian yang kuat dalam peperangan. Ia tidak bisa membangun strategi kemenangan yang komprehensif karena ia tidak pernah terlatih. Ia hanya memakai otoritas pemimpin dan keagamaan dalam hati yang jauh dari Tuhan. Saul memakai pendekatan berpuasa namun hatinya jauh dari Tuhan. Ia memberikan ancaman kepada rakyat. Bolehkah kita menyuruh dengan mengancam? Ketika pemimpin mengambil kebijakan dengan nama Tuhan, ia tidak boleh memakai ancaman. Hukuman dan penghakiman itu milik Tuhan. Di dalam rumah tangga, kita sebagai orang tua bisa menetapkan disiplin bagi anak-anak kita. Hukuman itu diberikan ketika ada pelanggaran sampai tiga kali atau lebih. Hukuman itu bukanlah untuk memuaskan dendam orang tua. Itu untuk menyadarkan anak-anak akan kesalahan mereka. Batas hukumannya pun harus wajar. Hukuman yang besar, yang menyangkut keseluruhan hidup seseorang itu milik Tuhan. Ia adalah Hakim yang terbesar dan sejati. Mengapa ada disiplin Gereja? Itu adalah ajaran Gereja. Gereja itu suci dan tidak boleh sembarangan dinodai. Disiplin itu diperlukan untuk menjaga kesucian Gereja. Di dalam disiplin itu ada penggembalaan, bukan sekadar hukuman. Jadi kita harus memiliki hati yang mengerti hati Tuhan, termasuk dalam keadaan mendesak.

 

Ketika Yonatan merasakan kelelahan, ia mengambil madu tanah yang ada di hutan. Kemudian matanya terasa terang. Seorang dari rakyat kemudian memberitahukan kepadanya sumpah yang dinyatakan oleh ayahnya. Yonatan kemudian mengatakan bahwa ayahnya telah mencelakakan negeri. Jadi anak Saul bisa mengkaji keputusannya. Yonatan ternyata lebih peka akan pimpinan Tuhan. Namun setelah Yonatan mengambil madu itu, tidak ada satupun dari rakyat yang mengutukinya. Meskipun demikian, rakyat tetap tidak berani mengambil madu itu karena taat kepada Saul. Mereka tetap berperang karena taat. Namun mereka tidak melihat Yonatan telah berdosa. Seharusnya Yonatan dibunuh sesuai sumpah Saul, namun tidak ada yang mau membunuhnya. Setelah kejadian itu, rakyat memukul kalah orang Filistin dari Mikhmas sampai ke Ayalon. Di sini ada pimpinan Tuhan. Namun setelah itu rakyat yang sudah sangat lapar langsung memakan kambing domba dan lembu dengan darahnya. Hal ini dilaporkan kepada Saul sehingga ia menjadi marah. Setelah itu Saul menyuruh agar lembu dan domba itu dibawa kepadanya untuk dimakan bersama-sama.

 

Saul kemudian mendirikan mezbah bagi Tuhan. Ini merupakan suatu langkah kemajuan. Setelah itu melalui imam Saul bertanya kepada Allah mengenai rencana berikutnya. Ternyata Tuhan tidak menjawab pertanyaannya. Kemudian Saul mencari tahu apa dosa yang telah terjadi. Siapakah yang berdosa? Apakah Yonatan atau Saul? Saul-lah yang berdosa. Di sini ada suatu masalah: seorang pemimpin membuat suatu keputusan namun tidak tahu bahwa keputusannya itu berdosa. Ada kebutaan rohani pada Saul. Ia tidak sungguh-sungguh memiliki kesalehan. Ia bertanya apa dosa yang terjadi, namun sebenarnya dosa itu dilakukan oleh dirinya sendiri. Setelah itu Saul memakai Urim dan Tumim untuk mencari tahu siapa yang berdosa. Di sana diketahui bahwa ada sesuatu yang Yonatan lakukan. Ia menceritakan apa yang ia lakukan dan ia bersedia untuk dihukum mati. Namun rakyat membela Yonatan “Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambutpun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi! Sebab dengan pertolongan Allah juga dilakukannya hal itu pada hari ini” (1 Samuel 14:45). Keputusan rakyat tidak bisa dilawan oleh Saul. Jadi Saul bersumpah palsu karena tdk menghukum Yonatan yang memakan madu pada saat prajurit yang lain berpuasa (bandingkan Matius 5:33-37). Alkitab mengatakan bahwa kita tidak boleh mengucapkan janji atau sumpah palsu. Seharusnya kita berkata-kata apa adanya dengan jelas dan jujur. Saul adalah pemimpin yang situasional. Apapun yang dia buat itu semuanya tergantung situasi. Ia mudah kompromi. Saat itu ia tidak jadi membunuh Yonatan. Jadi yang berdosa adalah Saul, namun ia tidak sadar bahwa dirinya berdosa. Setelah kejadian itu ia tidak mengaku dosa dan meminta pengampunan. Semuanya berlalu begitu saja. Kita tidak bisa melihat kerendahan hati Saul dalam bagian ini. Jadi Saul bukanlah pemimpin yang rohani. Saul hanya memiliki kelebihan dalam paras dan tinggi badan. Meskipun sudah diketahui bahwa Saul berdosa, Saul tidak mengakuinya. Jadi ia tinggi hati.

 

 

3) Apa yang menyebabkan Saul tidak jadi menghukum Yonatan?

Alasan pertama adalah pimpinan Tuhan untuk Yonatan nyata di dalam peperangan yaitu menang atas bangsa Filistin (1 Samuel 14:31-32) – sumpah vs bukti kemenangan. Saul dipermalukan oleh anaknya sendiri. Namun anaknya tidak menjadi sombong. Ia tetap menghormati ayahnya. Ia bersedia mati namun rakyat membelanya. Di sini kita belajar untuk tidak sembarangan membuat sumpah atau nazar. Kita tidak perlu selalu membuat janji atau sumpah. Sebagai anak Tuhan yang sejati, apapun yang kita katakan atau kerjakan harus selalu memiliki tanggung jawab. Orang yang sudah menjadi anak Tuhan tidak perlu diikat dengan sumpah untuk ketaatannya. Ini karena ketaatan Kristen sudah diikat dengan janji kepada Tuhan untuk integritas. Saul dipermalukan oleh anaknya sendiri. Ia membuat sumpah yang palsu namun Yonatan mendapatkan bukti kemenangan.

 

Kedua, Rakyat Israel melihat Yonatan sebagai pahlawan dan bukan sebagai sumber dosa atau kekalahan (1 Samuel 14:45, bandingkan Yosua 7:1-26 “dosa Akhan”). Ini berbeda dengan kasus penyerangan terhadap kota Ai. Yerikho yang besar berhasil dikalahkan, namun Ai yang kecil tidak bisa dikalahkan karena ada dosa Akhan. Ia mengambil barang yang seharusnya dipersembahkan untuk Tuhan. Ini membuat Israel kehilangan penyertaan Tuhan. Dosa yang terjadi bersifat solidaritas. Dosa satu orang menyebabkan Tuhan tidak menyertai seluruh tentara Israel. Seluruh Israel sudah berkomitmen di hadapan Tuhan untuk berperang hanya bagi Tuhan. Saat satu orang melanggar, semuanya merasakan akibatnya. Inilah yang kita harus takuti. Maka dari itu Gereja harus memberikan disiplin rohani. Ini agar kesucian Gereja tidak dinodai oleh satu atau dua orang yang hidup dalam dosa. Alkitab mengajarkan agar pelayanan tidak langsung dipercayakan kepada orang yang baru bertobat (1 Timotius 3:6). Ia bisa mudah dipermainkan dan dijatuhkan oleh Iblis sehingga yang dikorbankan adalah kesucian Gereja. Kita melihat bahwa Saul-lah yang berdosa, namun mengapa dia tidak mengaku dosa? Mengapa imam tidak menegurnya? Dosa Akhan membuat satu keluarganya dihukum. Namun mengapa Saul tidak ditegur? Ini karena Saul tidak mau bertobat. Kalau Tuhan masih mau memakai orang-orang di sekitar kita untuk menegur kita, maka sebenarnya Tuhan masih mengasihi kita. Mengapa Yudas tidak diminta bertobat oleh Tuhan Yesus? Yudas tidak mau bertobat. Kasih yang sejati itu adalah kasih yang menegur. Jadi teguran itu baik untuk kita. Tuhan membiarkan Saul terus memimpin. Di sini Tuhan mau menyatakan siapa diri Saul sebagai raja dan nanti Tuhan akan menyatakan raja yang dipilih-Nya yaitu Daud. Jadi kita tidak boleh bermain-main dengan pelayanan, tugas, dan tanggung jawab kita. Semuanya diperhatikan oleh Tuhan.

 

 

PENUTUP

 

Berikutnya pembahasan kita adalah mengenai dosa Saul yang ketiga seperti tercatat dalam 1 Samuel 15:19. Tuhan sudah memerintahkan agar semua jarahan dimusnahkan namun Saul tetap mengambil jarahan itu. Inilah dosanya yang ketiga. Ia tidak taat pada perintah Tuhan. Ia tidak berperang untuk menyatakan kemuliaan Tuhan tetapi untuk menghimpun kekayaan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami