Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 4)

Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 4)

Categories:

Khotbah Minggu 5 Juli 2020

Pengharapan dalam Perjuangan Bagian 4

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan membahas dari Yeremia 29:11 sebagai ayat utama. Kita juga akan melihat 1 Tesalonika 5:8, Ayub 17:15, dan Ayub 19:10. Ayat-ayat dari kitab Ayub ini menyatakan bahwa Ayub sudah putus asa menghadapi semua penderitaannya.

 

 

PENDAHULUAN

 

Pernahkah Allah mengecewakan kita? Kita mungkin pernah memasuki lembah kekelaman dan bayang-bayang kematian. Ketika kita mengalami proses itu, kita bisa merasa bahwa Allah itu kejam. Di saat itu mungkin kita kehilangan orang yang kita kasihi. Kita bisa terus mempertanyakan kasih dan keadilan Tuhan ketika kita masuk ke dalam kesulitan. Jadi kita bisa menyalahkan Tuhan dalam situasi ini. Ketika menyalahkan Tuhan, kita sedang membenarkan diri. Kita melihat contohnya dalam kitab Ayub. Ayub begitu spesial. Ia dipuji Tuhan di hadapan Iblis. Alkitab hanya mencatat satu kali tentang pujian Allah di hadapan Iblis. Iblis merasa bahwa Ayub itu saleh karena ia memiliki berkat-berkat jasmani. Namun Tuhan tidak merasa demikian. Tuhan tahu sungguh iman Ayub seperti apa. Kemudian Tuhan mengizinkan Iblis untuk menyakiti Ayub dan mengambil hartanya. Namun Tuhan tidak mengizinkan nyawa Ayub diambil. Jadi jiwa manusia itu di tangan Tuhan.

 

Mengapa Ayub menyalahkan Tuhan dalam hal malatepetaka dan penderitaan yang dialaminya? Ayub harus kehilangan anak-anaknya dan seluruh hartanya. Istrinya tidak mendukungnya dan penyakit menyiksanya. Ketiga kawannya menyalahkan dia. Jadi Ayub mengalami kesulitan dari berbagai sisi. Baginya seperti tidak ada hari esok dan tidak ada jaminan. Ia menjadi miskin dan tidak terlihat harapan untuk bangkit dan pulih lagi. Ia belum tentu bisa memiliki anak-anak lagi dalam situasi itu. Di sana Ayub membenarkan diri. Ia merasa Tuhan menekan dia dengan sangat kuat. Di balik itu semua ia menyalahkan Tuhan. Mengapa ketiga kawannya menyalahkannya? Apakah semua penderitaan itu karena dosa? Apakah penderitaan itu karena ada kesalahan teologi? Apakah kurangnya kesalehan bisa menyebabkan penderitaan?

 

Mengapa Rasul Paulus memakai istilah ‘berketopongkan pengharapan keselamatan’? Adakah kaitan dengan Efesus 6:14-18? Ada kaitan dan juga perbedaan. Apa artinya pengharapan yang memperbarui? Kita bisa berpikir tentang pengharapan untuk meraih hal-hal materi dan status diri. Namun Alkitab menyatakan suatu rahasia tentang pengharapan yang membarui cara pandang kita dan iman kita. Inilah pengharapan kita di dalam Tuhan.

 

 

 

PEMBAHASAN

 

 

1) Benarkah bahwa Allah itu sumber malapetaka dan penderitaan yang Ayub alami?

 

Allah itu berdaulat. Namun itu bukan berarti bahwa Allah merupakan sumber penderitaan. Dalam Yakobus 1:12-13 dinyatakan bahwa mereka yang diizinkan Tuhan untuk masuk ke dalam pencobaan itu berbahagia. Kita bahagia karena bisa bertahan dalam pencobaan itu. Setelah menang atas itu, kita diberikan mahkota kehidupan karena kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Dikatakan bahwa Allah tidak mencobai kita, maka kita tidak boleh melihat Allah sebagai sumber pencobaan. Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat. Allah mengizinkan kita dicobai, namun Allah tahu seberapa kuat iman kita dalam menghadapi itu. Mereka yang bertahan itu berbahagia. Di sana tampak kekuatan iman dan ketekunan kita.

 

Dalam bagian ini kesalahan teman-teman Ayub adalah menganggap ada kesalahan dari kesalehan Ayub yang menyebabkan seluruh malapetaka itu. Mereka melihat Ayub memiliki dosa tertentu yang mengakibatkan semua itu. Apakah mungkin Ayub itu baik dalam relasinya dengan Allah namun buruk dalam praktik sehari-harinya? Kita mungkin hidup dengan standar ganda seperti itu. Namun jika kita mengerti siapa Allah yang mahatahu, mahahadir, dan mahakuasa, maka kita seharusnya tidak berstandar ganda seperti itu. Apakah Ayub seperti itu? Ketika Elihu menegur teman-teman Ayub, kita mengetahui bahwa Ayub itu saleh dalam kehidupannya sehari-hari. Ayub diizinkan mengalami semua itu agar kita semua yang membaca tahu bahwa kita ini dikasihi oleh Tuhan dan iman kita dipegang oleh Tuhan ketika Iblis mencobai kita. Tuhan tidak berdiam ketika Ayub mengalami semua itu. Justru Tuhan sedang menopang iman Ayub.

 

Setelah semua itu Ayub mendapatkan pengenalan yang benar akan Tuhan dan kemenangan iman dalam Ayub 42. Ada pembaruan cara pandang yaitu Tuhan bukanlah sumber malapetaka. Tuhan bukanlah penyebab hal-hal yang negatif. Tuhan berdaulat, namun dunia ini dimiliki oleh Allah dan Setan. Jika kita milik Setan, maka jiwa kita bisa diambil oleh Setan. Namun kalau kita milik Tuhan, maka tidak ada kuasa manapun yang bisa merebut kita. Jadi Tuhan bukan sumber malapetaka dan sumber penderitaan. Kalau penderitaan itu diizinkan untuk kemuliaan Tuhan, itu ada dalam nilai kedaulatan Tuhan.

 

Di dalam hidup ini ada misteri Tuhan. Terkadang kita tidak bisa mengerti dengan logika kita. Tidak ada yang menyangka bahwa Covid-19 itu cepat bermutasi. Di dalam bagian ini ada misteri Tuhan. Pendekatan empiris maupun rasional tidak bisa mengerti hal itu. Tuhan menyatakan bahwa kepintaran dan rasio itu datang dari-Nya. Sampai saat ini vaksin Covid-19 belum ditemukan karena Tuhan belum mengizinkan. Apa tugas kita? Taat dan terus berharap pada Tuhan. Tugas Ayub adalah menghadapi kesulitan itu bersama dengan Tuhan. Pengenalan Ayub akan Tuhan dibongkar melalui diskusi teologi dengan ketiga temannya. Ayub mengalami kesakitan dan ia harus berdiskusi teologi. Jadi Ayub punya pengendalian diri yang begitu luar biasa. Ia mengalami sakit di seluruh tubuhnya sambil berdiskusi teologi. Mereka berbicara mengenai kemahakuasaan, kemurahan, dan kedaulatan Tuhan.

 

Ketiga temannya menekan Ayub dalam situasi yang sulit. Di sini kita belajar dari contoh yang salah. Ketika kita membesuk orang lain, tugas kita adalah memberikan empati, bukan menghakimi. Elihu paling baik karena dia berdiam, berhikmat, dan mengkaji terlebih dahulu sebelum berbicara. Saat berkata-kata, semuanya tepat dalam pimpinan Allah Roh Kudus.

 

Iblis sebagai sumber pencobaan, namun tidak memiliki kuasa atas kita sebagai anak-anak Tuhan. Iblis bisa mencobai Ayub namun ia tidak berkuasa atas jiwa Ayub. Jadi dalam hidup ini Tuhan berkuasa. Iblis memiliki kebebasan namun Tuhan membatasinya. Jadi kita bersyukur kepada Tuhan yang adalah Gembala Agung kita. Mazmur 23 menyatakan bahwa sekalipun kita harus berjalan dalam lembah kekelaman, tangan Tuhan tidak pernah melepas kita. Pimpinan Tuhan membuat kita menikmati hidangan di hadapan musuh-musuh kita. Apa artinya? Tuhan selalu mau memberikan yang terbaik di kala kita mengalami kesulitan. Masalahnya adalah kita berpikir bahwa yang terbaik itu ketika misalnya Covid-19 langsung hilang. Kita memikirkan yang terbaik menurut standar kita sendiri.

 

Ada hamba-hamba Tuhan yang mengaku mendapatkan kuasa untuk menghardik Covid-19, namun nubuatan mereka tidak terjadi. Mereka terus mengaku mendapatkan nubuat dari Tuhan karena mereka kehabisan bahan untuk berkhotbah. Apa kurangnya Paulus dalam penginjilan dan berkorban bagi nama Tuhan? Namun Tuhan mengizinkan Paulus mendapatkan penyakit karena Iblis. Paulus berdoa agar duri dalam daging itu dicabut, namun Tuhan berkata bahwa anugerah-Nya itu cukup baginya. Di dalam kelemahan itu ada kuasa Tuhan. Di sana kita belajar untuk bersandar pada Tuhan. Kalau kita berpikir bahwa dengan beriman itu kita menjadi terlepas dari kesulitan, maka mengapa Yesus harus mati di atas kayu salib? Mengapa para murid dalam perjuangan imannya tidak menjadi orang-orang kaya? Dalam bagian ini kita tidak boleh mengaitkan hal yang rohani dengan yang lahiriah. Kerohanian tidak menjamin kesuksesan materi dan popularitas. Iman tidak menjamin kita akan meninggal secara baik-baik seperti orang-orang pada umumnya. Banyak saksi Tuhan meninggal sebagai martir. Mereka dibunuh dan disiksa sebelumnya. Terkadang kita berpikir secara duniawi ketika mau mengerti rancangan Tuhan. Itu adalah kesalahan yang fatal.

 

Tuhan mengizinkan Iblis mencobai Ayub karena Iblis berpikir bahwa Ayub itu saleh karena Tuhan memberikan kekayaan, kemakmuran, dan keluarga yang baik. Namun ada kekayaan yang tidak dilihat oleh Iblis yaitu iman. Jadi Iblis pun bisa salah ketika berteologi dengan Tuhan. Iblis bisa salah mengkaji kita karena ia tidak mengerti tentang rahasia pemeliharaan Tuhan yang begitu luar biasa menopang setiap anak Tuhan.

 

Bagaimana cara Iblis menjatuhkan iman Ayub? Ia membunuh anak-anak Ayub dan mengambil semua hartanya. Ia memberikan penyakit yang begitu parah pada tubuh Ayub. Namun dalam semua itu Ayub tetap kuat. Apa siasat lain Iblis untuk menjatuhkan Ayub? Iblis menghancurkan pengharapannya. Ayub menyatakan bahwa ia sudah tidak ada pengharapan lagi. Ia merasa seperti pohon yang dicabut sampai ke akarnya. Jika pohon itu ditebang dan akarnya masih ada di dalam tanah, maka pohon itu masih ada pengharapan karena bisa bertumbuh lagi. Namun Ayub merasa bahwa dirinya lebih malang dari pohon itu karena ‘dicabut sampai ke akarnya’. Jadi dalam masa pandemi ini Iblis juga bekerja dalam hal menghancurkan pengharapan kita. Namun di sisi yang lain kita diajarkan untuk tidak berharap pada dunia ini maupun manusia. Kita diajarkan untuk berharap pada Tuhan karena Tuhan tidak pernah mengecewakan. Di dalam pengharapan rohani itu selalu ada nilai kebahagiaan.

 

Saat Ayub dipulihkan, kebahagiaannya itu luar biasa. Ia kembali memiliki 10 anak dan memiliki harta yang jauh lebih banyak. Namun hal yang terpenting adalah dia bisa mengenal Tuhan dalam dimensi yang baru. Jadi ada pembaruan dalam iman dan cara pandangnya berkenaan dengan keselamatan. Iblis bisa menjatuhkan iman kita dengan menghancurkan pengharapan kita. Pengharapan adalah energi untuk kita meraih masa depan bersama dengan Tuhan. Kalau kita sudah kehilangan pengharapan, maka kita akan putus asa seperti Ayub. Kita tidak akan bisa menyongsong masa depan. Di sana tidak ada lagi perjuangan iman. Ketika Tuhan menampilkan Elihu, di sana seperti ada sinar pengharapan yang baru. Tuhan memakai anak muda itu supaya Ayub melihat Tuhan dalam pimpinan-Nya yang baru.

 

Dalam Efesus 6:14-18 Paulus mengatakan bahwa ada peperangan rohani. Ia menyebutkan tentang perlengkapan senjata Allah; ketopong keselamatan, baju zirah keadilan, ikat pinggang kebenaran, perisai iman, kasut kerelaan pemberitaan Injil, dan pedang Roh. Dalam 1 Tesalonika 5:8 disebutkan tentang baju zirah, namun bukan keadilan tetapi iman dan kasih. Dalam Efesus 6 disebutkan tentang perisai iman. Dalam 1 Tesalonika 5 disebutkan tentang penginjilan karena kasih.

 

 

 

2) Apa artinya berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan?

 

Mengapa dikatakan berbajuzirahkan iman dan kasih? Mengapa ketopong keselamatan diganti dengan ketopong pengharapan yang mengandung keselamatan? Efesus 6 berbicara mengenai peperangan rohani dan 1 Tesalonika 5 berbicara mengenai perjuangan iman kita. Jadi dalam peperangan melawan Iblis, kita membaca Efesus 6:14-18. Dalam perjuangan iman, kita memakai ketopong pengharapan keselamatan dan baju zirah iman dan kasih.

 

Jadi dalam penderitaan kita tidak langsung menyalahkan Iblis. Mungkin Tuhan sedang mempersiapkan kita dalam perjuangan iman di masa pandemi ini. Kita percaya bahwa hidup ini adalah peperangan iman dan peperangan rohani. Peperangan iman menuntut kita untuk punya perjuangan iman. Kesulitan dan penderitaan belum tentu datang dari Setan. Itu semua bisa datang dari keinginan kita dan ambisi kita yang belum disucikan. Jadi kita harus memerangi setiap keinginan diri dan keinginan dunia. Kita harus menolak setiap bujuk rayu Setan yang mau menjatuhkan kita.

 

Apa arti semua itu? Di dalam peperangan rohani dan perjuangan iman, kita menyatakan iman dan kasih. Dalam kitab Wahyu, Tuhan menegur jemaat Efesus. Jemaat di sana begitu hebat dalam perjuangan menghadapi penderitaan dan menganalisa doktrin. Namun Tuhan mau mereka bertobat karena mereka sudah kehilangan kasih yang mula-mula. Apa artinya? Seharusnya jemaat Efesus ketika menegur ajaran yang salah memakai pendekatan kasih untuk menjangkau jiwa-jiwa yang sesat. Mereka seharusnya tidak hanya memakai pendekatan keadilan. Peperangan yang mereka hadapi bukanlah untuk menghasilkan kekalahan atau kemenangan dalam debat.

 

Alkitab jelas menyatakan bahwa iman itu kunci untuk mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4). Ketika kita sudah menjadi milik Tuhan dan kita diizinkan mengalami pencobaan dan penderitaan, maka kita harus maju dengan mental pemenang. Mengapa memakai baju zirah iman dan kasih? Itu merupakan simbol bahwa kita adalah pemenang. Itulah baju kebanggaan kita yang berperang dalam nama Tuhan. Jadi sebelum berperang kita sudah menyatakan kemenangan kita. Baju itu penting untuk menyatakan identitas. Kita sudah ditebus oleh Tuhan Yesus. Dia-lah pemenang yang sejati. Ia tidak menang karena senjata, dengan membunuh, dan dengan tipu muslihat. Ia menang dengan mengorbankan diri-Nya sendiri. Itulah kemenangan yang gilang gemilang dan sempurna. Ia tidak mengorbankan orang lain tetapi mengorbankan diri-Nya. Melalui pengorbanan itu Ia menyatakan kemenangan-Nya. Semuanya Ia kerjakan demi menyelamatkan kita.

 

Di sini kita belajar bahwa ketika kita diminta untuk berbajuzirahkan iman dan kasih dan ketika kita ingin memiliki satu pengharapan yang memperbarui, maka kita harus ingat bahwa kita adalah pemenang bagi Tuhan. Jadi pengharapan kita tidak boleh hilang. Tuhan mengizinkan pandemi ini selama berbulan-bulan. Bisa saja ini akan bertahan bertahun-tahun. Namun dalam semua itu kualitas iman kita sedang diuji dalam pengharapan kita di hadapan Tuhan.

 

Apa artinya pengharapan yang hidup? Pengharapan dalam Tuhan itu mulia dan tidak mungkin mengecewakan. Kita memiliki pengharapan yang kekal dalam perspektif eskatologi. Dalam konteks ini Paulus ingin mengingatkan bahwa ketika kita berketopongkan pengharapan keselamatan, maka itu artinya kita berperang sampai mati. Kita berperang dalam pengharapan yang hidup untuk menyatakan bahwa Allah itu hidup. Kalaupun Allah mengizinkan nyawa kita berakhir, maka kita akan memiliki hidup yang baru di surga. Jadi kematian bukanlah akhir bagi kita. Kesembuhan yang paling abadi adalah kematian. Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang meninggal dalam Tuhan itu berbahagia. Mereka sudah terlepas dari penderitaan dan penyakit. Kematian itu membawa kita kepada Tuhan dan di sana kita hidup kekal. Jika ada orang-orang percaya yang meninggal, maka kita melihat hal itu sebagai kebahagiaan. Itulah kesembuhan yang paling abadi.

 

Kalau kita diizinkan hidup dan menjadi saksi atas pandemi ini, maka kita adalah orang-orang yang berbahagia. Kita melihat bagaimana Tuhan mengubah sejarah dalam intervensi-Nya. Jadi kita harus memiliki ketopong pengharapan keselamatan. Kita sudah diselamatkan, maka dari itu pengharapan kita harus hidup dan kita hidup untuk menyatakan pengharapan yang menyelamatkan itu. Jadi kita tidak boleh kalah oleh ketakutan karena kita sudah dimiliki oleh Tuhan. Pengharapan kita harus terus berisi nilai keselamatan. Mungkinkah ada orang-orang Kristen yang memiliki pengharapan seperti orang-orang yang tidak diselamatkan? Mungkin saja. Ini bisa terjadi karena iman dan kasih orang itu tidak kuat. Kalau kita harus seperti mengalami kekalahan, apakah itu rancangan Tuhan? Bukan. Itu bisa jadi program Setan untuk menjatuhkan kita melalui pandemi ini. Kita bisa bangkit dengan cara melihat kepada Tuhan yang sudah menebus kita. Kebangkitan itu muncul dari dalam. Kita maju berperang sebagai pemenang karena kita memiliki pengharapan yang menyelamatkan di dalam janji penyertaan Tuhan. Jadi kita harus terus evaluasi diri. kita tidak memiliki pengharapan yang konyol. Pengharapan kita tidak spekulatif dan tidak berbau mistik.

 

 

3) Pengharapan yang memperbarui

 

Jadi apa artinya pengharapan yang memperbarui? Pengharapan itu memperbarui cara pandang kita. Kita melihat 2 Petrus 3:10-18. Jemaat di Asia Kecil menghadapi banyak penderitaan. Mereka dihukum dan ada yang mengalami kematian karena ada persekusi. Dalam ayat di atas kita diajarkan bahwa pengharapan itu selalu punya nilai yang memperbarui mindset kita. Apapun yang ada di dunia ini bisa berubah sewaktu-waktu. Apa yang tadinya berharga di dunia, bisa berubah seketika menjadi tidak berharga. Kebanggaan di dunia bisa hilang lenyap begitu saja. Jadi kita tidak boleh bergantung pada sesuatu yang mudah lenyap termasuk kesehatan kita.

 

Hal yang harus kita banggakan dan pertahankan adalah kesalehan kita dan kesucian kita. Itulah yang mempersiapkan kita ketika Tuhan datang kembali. Jadi cara pandang yang diubahkan pertama-tama adalah konsep nilai kita, yaitu apa yang penting dan apa yang tidak penting bagi kita. Harta dan kedudukan itu bukan yang terpenting. Kedua hal itu bisa Tuhan anugerahkan kepada kita dan itu kita lihat sebagai bonus. Hal yang lebih penting adalah kesucian dan kesalehan. Itulah yang utama.

 

Dunia ini akan segera berlalu. Kenikmatan kita bukanlah dalam dunia ini. Kenikmatan kita adalah langit dan bumi yang baru. Bumi dan langit inilah yang diperbarui. Itulah kerinduan kita. Kita memiliki cara pandang bahwa kerinduan kita adalah bumi dan langit yang baru. Kita harus selalu menghormati Tuhan Yesus Kristus sebagai Penebus kita. Kita menghormati-Nya sebagai Kepala bagi Gereja dan rumah tangga kita. Jadi seluruh anggota keluarga harus melihat kepada Kristus. Kita tidak boleh menyedihkan hati Tuhan karena salah memandang Covid-19 dan salah melangkah dalam ketaatan. Jadi mindset kita harus diperbarui.

 

Mungkinkah kita salah dalam pengharapan dan cara pandang kita sehingga kita akhirnya menyalahkan pemerintah dan orang-orang lain serta menjadi orang yang paranoid? Mungkin saja. Di sana kita harus berhati-hati. Pada puncaknya, Tuhan ingin kita bertumbuh. Jadi mindset kita harus berubah. Dalam kesulitan dan penderitaan ini iman kita harus bertumbuh, tidak boleh stagnan atau mundur.

 

Kedua, pengharapan itu memperbarui iman kita. Apa yang berubah dari iman Ayub? Ia berkata: Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (Ayub 42:5). Jadi Ayub memiliki pengalaman rohani secara pribadi melalui semua malapetaka itu. Setelah itu Ayub mengucapkan syukur dan merasa bahagia karena bisa mengenal Tuhan secara pribadi. Kita juga mengharapkan hal yang demikian. Melalui kesulitan ini, ketika Tuhan mengizinkan kita tetap hidup, Tuhan mau kita memiliki pengalaman rohani yang baru bersama dengan-Nya. Ini bukan berarti kita boleh mencobai diri dan mengabaikan semua protokol kesehatan. Dari pengalaman ini kita bisa mengucapkan syukur dan semakin mengenal-Nya. Di sana kita semakin mau bergantung kepada-Nya. Setelah Ayub melewati semua itu, kondisinya dipulihkan. Ia mengalami pemulihan yang tidak dapat dipikirkan manusia. Namun kuncinya adalah: iman terlebih dahulu harus dipulihkan.

 

Di sini kita melihat mengapa nama Yakub diubah menjadi Israel. Ia harus mengalami pergumulan terlebih dahulu sampai pincang salah satu kakinya. Tuhan tidak mau Yakub terus menerus berperang bagi dirinya sendiri dengan cara kabur, lari dari masalah, dan menipu orang lain. Tuhan mau Yakub berperang bagi Tuhan. Tuhan mau Yakub membesarkan nama Tuhan. Di sana namanya diubah. Imannya mengalami pembaruan. Di sana hidupnya mengalami pembaruan. Ia menjadi pemenang bagi Tuhan. Ia tidak lagi lari dari masalahnya tetapi menghadapi setiap masalah. Imannya harus berjalan di depan, bukan ketakutannya.

 

Ketiga, pengharapan itu memperbarui perjuangan hidup kita. Ayub dipulihkan karena ada penyertaan Tuhan. Alkitab mencatat bahwa Yusuf adalah orang yang kuat. Ia memiliki perjuangan hidup. Kita bisa melihat satu kesamaan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Alkitab yang beriman, yaitu mereka semua memiliki perjuangan hidup. Mereka selalu siap diperbarui oleh Tuhan dalam hal gaya hidup. Perjuangan hidup mereka memiliki nilai pembaruan dalam gaya hidup mereka.

 

Pengharapan selalu punya nilai pembaruan. Pengharapan yang memperbarui itu pertama-tama memperbarui hal-hal yang ada di dalam diri kita. Cara pandang, iman, dan perjuangan hidup serta gaya hidup kita diperbarui. Kita juga disebut sebagai agen pembaruan. Kita adalah garam dan terang dunia. Namun dunia ini sudah menjadi milik Setan. Orang-orang bisa melihat Tuhan melalui diri kita. Kita adalah surat yang terbuka. Jemaat di Asia Kecil disiksa. Hidup mereka sulit namun mereka tetap dituntut untuk menjadi berkat bagi orang-orang yang menyiksa mereka. Yesus berkata: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga (Matius 5:10). Mengapa demikian? Karena kita adalah agen pembaruan.

 

Kita harus memberikan pengaruh yang positif. Pengaruh itu adalah agar orang-orang melihat kepada Tuhan, bukan diri kita. Banyak orang hidup tanpa tanggung jawab sehingga akhirnya terjangkit Covid-19 karena kelalaian mereka sendiri. Mereka bukan agen pembaruan. Mereka merasa diri mereka bebas melakukan apapun juga sehingga akhirnya mereka sekarang sakit. Apakah pengharapan yang memperbarui ini sudah memperbarui diri kita? Pemulihan Ayub dimulai dari perubahan cara pandangnya melihat Tuhan. Imannya mulai melihat kepada Tuhan. Ia bangkit dan berjuang, setelah itu pembaruan itu terjadi. Jadi program Tuhan itu begitu tepat. Kita dipanggil menjadi agen pembaruan, maka kita harus sering memengaruhi orang lain supaya mereka melihat Tuhan dan bukan diri kita. Melalui studi maupun pekerjaan kita, orang-orang harus bisa melihat Tuhan.

 

Di zaman ini, melalui media sosial banyak orang mau agar dirinya yang dilihat oleh dunia. Mereka bisa menampilkan hal-hal yang kelihatan baik, padahal hidup mereka tidak beres. Mereka tergila-gila oleh diri mereka sendiri dan memakai segala cara agar mendapatkan foto yang terbaik untuk ditampilkan. Mereka rela membayar pengedit foto sampai puluhan juta Rupiah agar foto-foto mereka terlihat bagus. Hal yang seharusnya kita lakukanlah adalah menyatakan Tuhan, bukan menyatakan diri. Ketika kita menyatakan diri kita, kita akan digeser. Pada masa ini hal yang paling terkenal bukanlah diri kita tetapi Covid-19. Manusia sudah lupa diri. Maka dari itu Tuhan mengizinkan Covid-19 untuk mengingatkan kita. Kita adalah agen pembaruan. Tuhan mau kita kembali kepada-Nya agar kita punya pengharapan yang memperbarui cara pandang, iman, dan perjuangan kita.

 

 

KESIMPULAN

 

Pengharapan yang pasti hanya ada dalam Yesus Kristus. Pengharapan ini membahagiakan karena pasti mengandung kabar baik. Jemaat di Asia Kecil menjadi teladan dan mutiara iman. Perjalanan rohani mereka dalam kesulitan menjadi pembelajaran iman bagi kita orang Kristen masa kini. Pengharapan yang memperbarui itu adalah sinar penyertaan Tuhan sebagai sarana pembentukan dan latihan iman kita. Jadi kita tidak menolak kesulitan dan penderitaan kalau Tuhan mengizinkan. Membangun pengharapan dalam Tuhan pasti tidak mengecewakan. Harapan pada manusia pasti bisa mengecewakan. Jadi iman, pengharapan, dan kasih adalah trilogi perjuangan hidup kita. Kasih-lah yang tidak akan hilang. Masa ini merupakan kesempatan bagi kita untuk mendemonstrasikan kualitas trilogi hidup kita ini bersama dengan Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami