Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 2)

Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 2)

Categories:

Khotbah Minggu 21 Juni 2020

Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 2)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita masuk ke dalam pembahasan Pengharapan dalam Perjuangan bagian kedua. Fokus kita adalah mengenai pengharapan yang hidup. Kita akan melihat peristiwa Abraham yang mengharapkan anak perjanjian di tengah usia tuanya bersama dengan Sara. Kita akan belajar dari perjuangan iman dan mata rohani mereka yang melihat pengharapan itu. pertama-tama kita akan membaca Yeremia 29:11 dan Roma 4:18-21.

 

 

PENDAHULUAN

 

Salah satu keunikan kehidupan orang Kristen dalam situasi yang sulit ini yaitu selalu memiliki pengharapan yang hidup. Pengharapan yang hidup itu sifatnya terus baru. Pengharapan yang mati hanya mendatangkan keputusasaan. Kita tidak berharap secara pasif dan apatis. Kita tidak menghadapi situasi ini dengan ketakutan yang berlebihan. Apa arti pengharapan yang hidup? Kita akan mempelajari ini. Apa akibatnya jika seseorang kehilangan pengharapan dalam situasi pandemi Covid-19 ini? Apakah ia akan putus asa? Apakah ia pada akhirnya hanya akan membuat masalah? Apakah ia akan menerima diri dan meminta belas kasihan orang lain? Banyak hal bisa terjadi. Apakah Tuhan mau kita pasif saja? Tentu tidak. Salah satu hal yang memampukan kita melalui kesulitan ini adalah pengharapan di dalam Tuhan. Dari mana datangnya sumber pengharapan yang sejati? Bisakah kita pada masa ini hanya berharap pada manusia? Kita akan mempelajari ini lebih dalam.

 

 

PEMBAHASAN

 

a) Pengharapan yang Hidup 1

            Dalam Roma 4:18-21 Paulus membahas seluruh peristiwa tentang Abraham yang mengharapkan anak perjanjian. Di sana dikatakan bahwa Abraham berharap dan percaya. Di sini kita melihat bahwa pengharapan yang hidup bukan bergantung dari apa yang kita lihat. Alkitab mengatakan bahwa Abraham tahu dirinya semakin lemah secara fisik karena usianya yang semakin tua. Abraham tahu bahwa rahim Sara sudah tertutup. Ia tidak lagi datang bulan. Pengharapan yang hidup dibangun bukan berdasarkan apa yang dilihat. Pengharapan yang hidup itu bukan diukur dari kuantitas umur. Pengharapan yang hidup tidak pernah bergantung pada rasio. Rasio kita sudah tercemar dan sangat terbatas. WHO memprediksi bahwa sepertiga penduduk Indonesia bisa terjangkit Covid-19. Dari mana mereka mengukur bagian ini? Metode apa yang mereka pakai? Apa variabel yang mereka pakai? Apakah ada unsur permainan politik atau ekonomi untuk menekan Asia? Ini mungkin saja, namun berita ini tidak membangun. Ini berita menakutkan, namun ini baru pengukuran secara rasio. Dalam realitasnya belum tentu demikian. Pengalaman manusia bukanlah patokan untuk mengerti hari depan manusia. Pengalaman bisa menjadi guru tetapi tidak bisa menjadi patokan yang memastikan masa depan. Ini karena dunia selalu berubah. Jadi pengharapan tidak bergantung pada rasio dan pengalaman.

 

Salomo menceritakan dalam Amsal 14:12, seperti Yeremia, bahwa manusia bisa merancang apapun juga yang kelihatannya baik namun ternyata ujungnya adalah maut. Melalui rasio dan pengalaman kita, kita bisa saja merancangkan hal yang baik, namun bisa saja itu berujung bukan pada kebaikan. Kita di sini diingatkan bahwa kita tidak membangun pengharapan berdasarkan kepintaran dan pengalaman kita. Semua itu bisa gagal. Jadi dalam bagian ini pengharapan yang hidup bukanlah berdasarkan apa yang hati kita mau. Salomo bisa memiliki banyak istri, banyak pencapaian, dan banyak kenikmatan, namun ternyata semua itu tidak memberikan kepenuhan bagi jiwanya. Di sana ia tidak merasakan kenikmatan relasi dengan Tuhan. Akhirnya ia merasa kosong. Mengapa demikian? Ia berpikir bahwa hikmatnya dan pengalamannya bisa membuatnya mencapai suatu keutuhan. Namun di saat itulah ia sedang menuhankan keinginannya sampai ia terpisah dari Tuhan. Akhirnya semua terasa kurang dan tidak memuaskan. Jadi pengharapan yang hidup hanya bergantung pada iman di dalam Tuhan. Abraham melihat dirinya dan istrinya sudah tua. Jika Abraham membangun pengharapan berdasarkan penglihatannya atau umurnya, maka ia akan gagal. Abraham semakin percaya kepada Tuhan. Ia bukan membangun pengharapan berdasarkan indranya tetapi berdasarkan iman di mana ia mengikat janji Tuhan yang membuatnya menjadi bapa dari suatu bangsa yang besar, umat pilihan Tuhan.

 

Ketika kita sedang melewati pandemi ini, harapan kita bukanlah didasarkan pada angka pasien yang menurun. Kita tidak menunggu sampai semuanya menjadi nol baru kemudian melakukan aktivitas. Di sana pengharapan kita bergantung pada apa yang terjadi di luar. Di masa peperangan dunia kedua, terjadi wabah flu Spanyol. Pada saat itu negara-negara di Eropa dan Amerika merasa dirinya hebat dan mereka saling berperang. Di sana Tuhan meredam konflik itu dengan memberikan flu Spanyol. Banyak tentara yang meninggal karena demam yang begitu tinggi. Saat itu banyak yang meninggal bukan karena senjata perang tetapi karena penyakit. 50 juta orang lebih terjangkit penyakit ini. 5-7 juta orang meninggal karena ini. setelah itu semua mereda. Dari flu Spanyol itu Tuhan menyatakan diri-Nya yang kuat. Tuhan menunjukkan betapa lemahnya manusia. Di sana kita belajar bahwa Tuhan terkadang melakukan intervensi dalam sejarah dunia. Tuhan mengizinkan flu ini dan kematian jutaan orang. Pendekatan medis membutuhkan waktu 2 tahun lebih untuk bisa menyembuhkan flu Spanyol. Bagaimana sikap Gereja dan masyarakat dalam situasi sulit itu? Tuhan mengizinkan obat itu baru ditemukan setelah 2 tahun.

 

Kita belajar bahwa pengharapan selalu ada dalam diri kita di situasi apapun juga. Namun seperti apakah pengharapan yang hidup? Pengharapan yang hidup berdasar pada iman yang bergantung pada janji Tuhan yang hidup. Kita sudah ditebus oleh Kristus untuk menjadi semakin serupa Kristus sehingga kita menjadi alat di tangan Tuhan untuk memuliakan-Nya di manapun juga. Jadi pengharapan itu selalu berkait dengan program Tuhan dan bukan diri. Pengharapan ini diukur bukan dari hal-hal di luar tetapi hal-hal di dalam yaitu iman yang terus bergairah untuk Tuhan. Inilah yang dilakukan Abraham. Abraham pernah salah yaitu mengikuti saran Sara untuk mengambil Hagar. Ia berpikir bahwa anak perjanjian itu lahir dari rahim seorang perempuan muda. Ini karena ia mengukur secara fisik. Itulah kesalahannya. Ini menjadi pelajaran yang penting. Setelah Paulus melihat itu, ia tidak mau salah dalam membangun pengharapan. Anak perjanjian bukanlah Ismael tetapi Ishak. Jadi jelas dikatakan bahwa Abraham berharap dan percaya. Kata ‘dan’ itu mengaitkan antara tujuan yang mau dicapai (menjadi bapa banyak bangsa) dengan sikap yang benar: memuliakan Tuhan, sukacita, dan damai sejahtera (Roma 4:18, 20, bandingkan 1 Petrus 1:24-25, Ibrani 13:14-15). Abraham mengerjakan itu selangkah demi selangkah. Ia mengerjakan apa yang ia bisa. Ia melaksanakan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh. Ia benar di mata Tuhan. Masalah yang terjadi adalah ia bersikap salah ketika disarankan untuk mengambil Hagar.

 

Pengharapan yang baik dalam Tuhan, untuk diwujudkan, terkadang memerlukan perjuangan, konsistensi, tanggung jawab, dan usaha kita. Itu menunjukkan sikap yang benar. Terkadang kita mengharapkan keluarga kita menjadi baik, namun apakah kita sendiri sudah bersikap baik? Ketika dikatakan bahwa ada hari bapa sedunia, apa maknanya? Intinya adalah kita harus evaluasi diri. Allah Bapa begitu sempurna dan siap menggembalakan kita. Ia selalu memerhatikan dan memberikan kita semangat selalu agar kita berjalan dalam kehendak-Nya. Ia setia mendengar doa kita dan memberikan solusi kepada kita. Bapa yang baik itu sudah merancang agar kita hidup dalam damai sejahtera, bukan kecelakaan. Rancangan Tuhan adalah agar kita meraih masa depan yang penuh pengharapan. Tuhan juga turut campur dan memperlengkapi kita agar kita mencapai pengharapan itu. Apa tugas dan tanggung jawab kita? Kita belajar dari Abraham. Ia memiliki pengharapan yang hidup di depan. Ia mengaitkan semua itu dengan program Tuhan. Ia menyikapi semua itu dengan benar. Sikap yang benar itulah yang mendatangkan penyertaan Tuhan, yaitu sikap yang memuliakan Tuhan. Abraham penuh dengan ucapan syukur. Pada masa tuanya pun ia tidak mempertanyakan Tuhan. Ia tidak menyalahkan situasi. Dalam situasi yang sulit apapun juga, kita harus mengingat bahwa ibadah yang hidup tidak perlu ditunggu pada hari Minggu. Ibadah yang hidup adalah relasi kita setiap detik, menit, jam, dan hari bersama dengan Tuhan. Di dalam relasi itu kita menghidupi Firman Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Itulah hidup yang memuliakan Tuhan.

 

Tidak sampai di sana saja, Abraham memiliki sukacita. Ia percaya pada Tuhan dan imannya selalu membara. Sukacita bukan bergantung pada kuantitas kita tetapi kualitas iman kita. Sukacita itu dari dalam ke luar, bukan dari luar. Jumlah pasien Covid-19 terus bertambah, tetapi itu tidak boleh mengurangi sukacita kita. Sukacita kita bukan bergantung pada situasi di luar tetapi pada janji penyertaan Tuhan. Ia menjalankan semuanya dengan damai sejahtera. Setelah itu tidak ada konflik dengan Sara atau lingkungannya. Imannya semakin kuat dalam menantikan pengharapan itu. Rasul Petrus mengajarkan jemaat di Asia Kecil agar tidak membangun pengharapan duniawi. Ia menyatakan bahwa pengharapan dunia itu seperti bunga rumput yang sebentar ada namun cepat layu. Semua itu bersifat fana. Jadi dalam situasi ini kita bukan berpikir untuk mencari keuntungan. Seluruh kemuliaan dunia akan sirna.

 

Banyak perusahaan dan negara begitu kesulitan dalam masa pandemi ini. Jadi Covid-19 menunjukkan kekuatan semua negara secara nyata. Covid-19 menguji setiap perusahaan dan bisnis dan membongkar hawa nafsu manusia yang rakus akan uang. Semua perusahaan yang mendapatkan keuntungan dari cara yang tidak benar di masa pandemi ini seharusnya memberikan semua keuntungan itu untuk membantu orang-orang yang terkena dampak. Zakheus tidak hanya memberikan perpuluhan tetapi juga membantu banyak orang karena ia telah mengambil banyak uang dari masyarakat. Sebagai pengusaha Kristen, kita memiliki etika bisnis dan standar kebenaran. Semua kemuliaan dunia bersifat fana. Perjuangan kita bukanlah untuk hal-hal lahiriah. Hasrat kita harus dikaitkan dengan nilai kemuliaan Tuhan yang abadi. Kemuliaan kita bukanlah dari apa yang kita miliki tetapi dari relasi kita dengan Tuhan. Rumah kita bukanlah di bumi ini tetapi di kota masa depan yaitu surga. Kita tinggal di dunia ini hanya untuk sementara waktu. Segala hal yang dicapai di dunia ini harus dikaitkan untuk kemuliaan Tuhan. Tubuh kita sekarang ini juga sementara. Kelak kita akan mendapatkan mahkota dari Tuhan jika kita terus setia kepada-Nya. Itulah yang kita kejar selama hidup ini.

 

Pengharapan yang hidup tidak akan mati hanya karena situasi yang sulit. Itu akan terus diuji di dalam kesulitan di sepanjang perjalanan kita mengikut Tuhan. Semua pengharapan kita harus dikaitkan dengan tujuan Tuhan Yesus menebus kita, memelihara kita, memperlengkapi kita, dan menjadikan kita tubuh Kristus. Dalam semua itu kita harus menunjukkan sikap yang benar agar tidak ada kesenjangan. Melalui pandemi ini, para guru kesulitan mengajar secara online. Para orang tua juga mengalami kesulitan karena tidak semuanya bisa mendampingi anak dan mengarahkan dalam pelajaran. Mereka yang tidak siap menghadapi ini bisa stres. Ini mengakibatkan banyak konflik di rumah sampai menimbulkan perceraian. Jadi pandemi ini membongkar sifat asli manusia. Covid-19 memperlihatkan kelemahan-kelemahan kita dan mengajarkan kita untuk bekerja sama. Jadi kita harus terus rendah hati dan mau belajar.

 

Kita harus berharap dan percaya. Percaya kepada siapa? Bukan manusia dan bukan dunia ini. Kita percaya pada janji-janji Allah yang setia sebagai sumber pengharapan (Roma 4:20 bandingkan Ibrani 11:1). Dunia bisa berubah dan Covid-19 bisa memaksa untuk berubah, tetapi Allah tidak pernah berubah. Tuhan menunjukkan bahwa negara-negara yang katanya begitu kuat bisa lumpuh di bawah penyakit yang Tuhan izinkan. Semua teknologi medis tidak bisa menyelamatkan manusia dari Covid-19 saat ini. Kita membangun kepercayaan kita kepada janji Tuhan. Abraham mengaitkan seluruh kepercayaannya kepada Tuhan yang sudah memberikan janji itu. Kita mengharapkan agar anak-anak kita tidak terus bergantung pada kita. Kita pun tidak bergantung pada manusia. Kita tidak boleh juga bergantung pada negara ini dan para ilmuwan. Secara pribadi kita harus bergantung pada Tuhan yang sempurna, yang tidak mungkin gagal program-Nya dalam masa pandemi ini. itulah penghiburan kita. Iman adalah dasar dari pengharapan kita dan bukti dari apa yang kita tidak lihat namun percaya. Jadi kita percaya bahwa sumber pengharapan kita tidak bergantung pada apa yang di luar. Sumber pengharapan kita bukanlah pada vaksin atau obat atau situasi yang semakin membaik. Kita tidak mencobai diri tetapi memiliki terobosan iman. Dalam masa flu Spanyol, negara bisa tertidur namun Gereja tidak tertidur. Jemaat Tuhan terus melayani. Negara-negara harus introspeksi diri karena mereka hanya memikirkan peperangan dan kesombongan diri. Tuhan meredakan semua ini dengan memberikan flu Spanyol. Jadi Gereja tidak boleh tertidur. Kita harus selalu menjadi garam dan terang dalam situasi yang sulit seperti ini. dalam waktu 2 tahun, 5-7 orang meninggal karena flu Spanyol.

 

Ketika kita membangun kepercayaan kita berdasarkan apa yang ada di luar, maka kita bukanlah orang Kristen. Kita boleh mengandalkan pengetahuan, namun itu bukanlah pengharapan yang paling utama. Ketika suatu obat dianjurkan oleh pemerintah, banyak orang langsung membelinya, padahal itu bukanlah obat yang menyembuhkan Covid-19. Kita tidak ketakutan dan mengandalkan obat sampai sebesar itu. Harapan kita yang utama adalah Tuhan. Kita harus belajar berharap dan percaya kepada Tuhan yang adalah sumber pengharapan kita yang setia. Ketika Tuhan memberikan obat Covid-19, itu adalah bonus. Di dalam diri kita, Tuhan sudah memberikan antibodi. Di masa wabah flu Spanyol, ada orang-orang yang tidak sakit karena memiliki antibodi. Itulah keajaiban yang Tuhan berikan dalam tubuh kita. Tuhan memberikan hal yang baik di dalam tubuh kita. Pengharapan yang hidup di dalam Tuhan mendorong kita untuk terus maju.

 

b) Pengharapan yang Hidup 2

            Pengharapan itu membuat kita berani menyongsong masa depan. Ini adalah Yeremia 29:11 bagian yang terakhir. Abraham menyongsong masa depan untuk menjadi bapa dari bangsa yang besar. Pengharapan di dalam Tuhan itu begitu cerah karena kita diubahkan agar semakin serupa dengan Kristus. Keluarga kita adalah unit Gereja yang terkecil yang menjadi saksi Tuhan. Jika keluarga itu sehat, maka Gereja itu sehat. Jika rumah tangga itu kuat, maka Gereja itu akan kuat. Jika semua yang terkecil berharap pada Tuhan, maka semuanya akan berharap pada Tuhan. Untuk bisa berani menyongsong masa depan, kita membutuhkan dinamika hidup dan siap berubah ke arah Kristus. Abraham memiliki dinamika dalam menghadapi tubuhnya yang semakin lemah. Ia mengerjakan apa yang ia bisa kerjakan dan ia tetap bergantung pada Tuhan. Dinamika hidup itu berkaitan dengan pengharapan yang hidup. Di dalam surat Efesus ditekankan tentang dinamika hidup dalam pimpinan Allah Roh Kudus. Di dalam Yohanes dikatakan bahwa dinamika iman itulah yang mengarahkan kita. Jadi kedua hal ini bisa menjadi hal yang sangat indah. Surat Roma juga menjelaskan tentang dinamika yang memimpin kehidupan kita. Surat 1 Yohanes juga menyatakan dinamika di mana kita bukan lagi pelaku dosa karena ada kuasa Kristus yang tinggal dalam diri kita. Orang yang sudah ada dalam Kristus tidak lagi menjadi pelaku dosa. Kita masih bisa berdosa tetapi kita tidak mengembangkan dosa.

 

Dinamika iman itu harus kita alami. Di masa pandemi ini kita perlu belajar tentang pembaruan iman dan kekuatan yang dihasilkan iman. Dinamika itu berarti suatu kekuatan atau ledakan. Kita harus memiliki dinamika iman untuk menangkap pimpinan Tuhan dalam situasi yang sulit ini. Di sana Tuhan menuntut iman kita terus bertumbuh dan terus bergerak. Jadi iman kita tidak pasif tetapi iman yang terus berjalan. Kita tidak duduk diam tetapi harus melangkah dalam iman. Jadi dinamika iman mendorong kita menjadi pelaku Firman di masa sulit ini. Dinamika iman mendorong kita untuk menggenapkan apa kata Tuhan berkaitan dengan hal-hal yang bisa membuat orang lain melihat kepada Tuhan. Itulah fleksibilitas yang kita miliki. Dari dalam kita mengalami perubahan dan menangkap kehendak Tuhan untuk apa yang kita harus kerjaan saat ini. Dinamika iman itu membuat kita tidak mati dalam kesulitan. Itu membuat kita tidak putus asa dan berdiam dalam kepasifan. Pengharapan yang hidup dalam dinamika iman itu akan menghasilkan suatu ledakan agar kita terus menangkap pimpinan Tuhan dalam masa sulit ini.

 

Kita juga melihat dinamika pimpinan Allah Roh Kudus. Kita menerobos situasi ini bukan dengan rasio atau pengalaman. Kita butuh pimpinan Allah Roh Kudus yang tidak pernah salah dalam mengerjakan segala sesuatu baik itu di rumah, tempat kerja, tempat studi, dan masyarakat. Pimpinan Allah Roh Kudus itu melampaui akal dan pikiran kita. Pimpinan-Nya akan melengkapi fungsi kita sebagai garam dan terang. Jadi dinamika pimpinan Allah Roh Kudus akan membuat kita berjalan dalam kesucian Tuhan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak boleh mengambil keuntungan dari situasi orang lain yang sedang sulit, meskipun itu merupakan keuntungan yang sah di mata hukum. Kita tidak boleh mempersulit orang lain. Kita harus berpikir untuk memberi agar menjadi berkat. Kita harus memiliki standar yang baik. Allah Roh Kudus memimpin hati nurani kita sehingga kita diingatkan untuk melakukan hal yang baik. Dinamika pimpinan Allah Roh Kudus selalu menegur dan membarui kita serta menuntun kita dalam situasi yang sulit ini sehingga kita bisa berbuat yang baik untuk kemuliaan Tuhan. Itu penting untuk kita bisa menyongsong masa depan.

 

Kita juga melihat dinamika perubahan dalam diri kita. Kita bergaul dengan Firman Tuhan. Kita adalah agen perubahan, namun sebelumnya kita harus diubahkan terlebih dahulu oleh Firman Tuhan. Kita tidak mungkin mengubah dunia kalau kita tidak dipakai oleh Tuhan. Jadi dinamika yang ketiga adalah hidup kita harus berubah dalam Firman Tuhan. Ada orang-orang yang mau rendah hati mengakui kesalahan dan berubah menjadi orang yang lebih baik, namun ada orang-orang yang malah berfokus mencari pembenaran atas kesalahan atau dosanya sendiri. Konflik terus muncul ketika pasangan terus menerus membenarkan diri dan tidak memiliki kerendahan hati. Suami-istri harus bisa melihat program Tuhan dalam pernikahan. Jadi kita harus berubah. Kita tidak bergantung pada perubahan di luar tetapi kita harus berubah berdasarkan Firman Tuhan yang mengubah kita. Ketika kita mau berubah, Covid-19 bisa dipakai oleh Tuhan untuk membangun relasi kita dengan Tuhan, dengan tanggung jawab kita, dengan keluarga kita, dengan orang lain, dan lainnya. Covid-19 bisa mengubah kebiasaan kita dalam memakai masker dan mencuci tangan. Perubahan ini mengingatkan kita bahwa manusia tidak boleh menonjolkan diri tetapi harus tahu diri. Waktu keluarga yang semakin banyak bisa kita pakai untuk bonding time. Jadi dengan pengharapan yang hidup itu kita berani menyongsong masa depan dalam dinamika hidup, dinamika iman, dan dinamika pimpinan Allah Roh Kudus.

 

Kita harus siap berubah ke arah Kristus, baik secara pribadi maupun keluarga. Masa pandemi ini menunjukkan betapa lemahnya dan terbatasnya diri kita. Di dalam masa ini kita harus melakukan evaluasi dan melihat sampai sejauh mana kita sudah berubah ke arah Kristus dalam hal karakter, sikap, dan perbuatan. Kita harus bertanya apakah diri kita sudah mengutamakan Kristus atau belum. Kita bisa memerhatikan kesehatan kita, namun yang terpenting adalah energi rohani dari Tuhan. Kita harus siap berubah dan Tuhan bisa memakai Covid-19 ini untuk mendatangkan hal yang indah. Kita harus berani berubah ketika menyongsong masa depan. Ketika hidup kita tidak memuliakan Tuhan, semuanya menjadi tidak bernilai. Segala hal yang kita raih tanpa kemuliaan Tuhan itu kosong adanya. Kita membutuhkan dinamika hidup untuk mencapai itu. Jadi kita harus berubah ke arah Kristus untuk kita mencapai masa depan yang baru, berkat yang baru, dan penyertaan Tuhan yang baru.

 

 

KESIMPULAN

 

Pengharapan yang hidup harus senantiasa diarahkan pada kemuliaan Tuhan. Kita tidak menjalankan hidup demi ekonomi saja. Hidup kita harus senantiasa dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Sikap yang benar sangat menentukan pencapaian akan pengharapan itu sendiri. Terkadang kita menganggap remeh sikap, padahal Tuhan menuntut sikap. Sampai sejauh mana pengenalan kita akan Tuhan itu bisa diukur dari sampai sejauh mana sikap kita itu benar di hadapan Tuhan di dalam kita menghidupi Firman Tuhan. Sikap yang salah menunjukkan pengenalan akan Tuhan yang salah. Setelah Zakheus bertemu dengan Tuhan, hatinya, sikapnya, dan cara pandangnya langsung berubah. Saat itu juga ia mau memberikan hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan. Ini karena pengenalan akan Tuhan itu pasti mengubah sikap kita. Pengharapan yang hidup sangat tergantung pada iman dalam janji Allah sebagai sumber pengharapan. Kita tidak berharap dari dunia, manusia, tim medis, dan obat. Kita harus berharap dari janji Tuhan. Pengharapan memerlukan dinamika dan keberanian untuk berubah ke arah Kristus. Jika kita ingin menjadi agen perubahan, maka pertama-tama kita harus berubah terlebih dahulu di dalam Tuhan. Kita harus berani berubah ke arah Kristus karena kita adalah orang-orang yang tidak sempurna. Di dalam setiap kesedihan, kita harus juga memikirkan apa solusinya. Kita membangun pengharapan dalam perjuangan dan pengharapan yang hidup. Ini mengingatkan kita bahwa kita ini lebih dari pemenang, juga dalam menghadapi Covid-19.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah -TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami