Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 1)

Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 1) [14 Juni 2020]

Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 1)

Categories:

Khotbah Minggu 14 Juni 2020

Pengharapan dalam Perjuangan (Bagian 1)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan membahas Firman Tuhan dengan tema Pengharapan dalam Perjuangan. Pembahasan kita didasarkan pada ayat Yeremia 29:11. Kita percaya bahwa program Tuhan tidak mungkin dikalahkan Covid-19. Kita akan membahas lebih jauh bagian ini. Ayat yang kita lihat juga adalah Yesaya 41:10. Konteks ayat ini adalah bagi Israel sebagai bangsa yang khusus di mata Tuhan supaya mereka bisa terus bertahan dalam menghadapi tantangan dunia pada saat itu. Jadi ayat ini memberikan janji penyertaan Tuhan. Kita juga melihat Yeremia 17:7 dan Ibrani 6:19. Kita tahu bahwa Tuhan telah membelah tabir Bait Suci. Ini menandakan era baru dalam ibadah dan kerohanian. Sekarang kita mengalami new normal. Ini juga merupakan era yang baru. Kita harus bisa melihat ini dalam kacamata Tuhan.

 

 

PENDAHULUAN

 

Covid-19 menghancurkan kesombongan manusia dan dunia. Ada negara yang menganggap ini penyakit Asia. Ternyata negara itupun juga kesulitan karena Covid-19. Banyak anak muda di New York melakukan pesta pantai dan akhirnya banyak dari mereka positif Covid-19. Beberapa negara yang dianggap paling bersih dan memiliki teknologi medis yang tertinggi ternyata juga kena. Jadi Covid-19 mengingatkan kita bahwa hidup adalah anugerah. Covid-19 mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh menganggap ini sebagai hal yang remeh karena ini adalah rancangan Tuhan. Covid-19 juga membuka kedok-kedok kemunafikan manusia. Banyak manusia merasa dirinya hebat, kuat, dan punya semua hal, namun ternyata mereka pun bisa menderita karena Covid-19. Segala golongan umur bisa menderita karena Covid-19. Orang kaya maupun miskin juga bisa sakit karena Covid-19. Jadi kita tidak boleh merasa hebat dan tidak mungkin sakit. Covid-19 membongkar kepalsuan sifat manusia. Siapa yang dalam masa pandemi ini justru melayani orang lain? Siapa yang justru mau memberi yang terbaik bagi orang lain dalam masa ini? Siapa saja yang mau memberikan bantuan medis, sembako, dan lainnya? Melalui masa pandemi ini, sifat asli manusia muncul. Banyak orang ketakutan berlebihan dan itu kelihatan. Tidak sedikit pula orang yang egois dan membeli semua barang di toko. Namun akhirnya ternyata pemerintah masih mengizinkan toko-toko dibuka agar masyarakat dapat membeli keperluan mereka. Jadi melalui Covid-19 ini sifat asli manusia terbongkar.

 

Manusia dipaksa untuk berubah, kondisi dunia sedang tidak pasti dan penuh dengan bahaya. Sekarang cuci tangan itu diwajibkan. Kebersihan lebih diperhatikan saat ini. Kita dipaksa untuk memerhatikan kebersihan fisik dari yang terkecil sampai yang terbesar. Kondisi dunia termasuk ekonomi sedang tidak pasti. Ketegangan-ketegangan antar negara itu terjadi. Beberapa perusahaan sudah memecat banyak pegawai. Orang-orang yang baru lulus juga sulit mencari pekerjaan. Banyak hal yang tidak pasti, namun janji Tuhan itu pasti. Bagaimana kita bisa menerobos ini? Di sinilah kita membutuhkan pengharapan dalam perjuangan. Dunia juga penuh dengan bahaya. Selain Covid-19, ada ancaman-ancaman yang lain di mana manusia saling tidak percaya. Ada pula orang-orang yang memanfaatkan situasi ini untuk berperang secara politik dan mencari uang. Para mafia memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan besar. Di sini manusia bisa menjadi seperti binatang liar yang mau mencari keuntungan sebesar-besarnya dari orang lain. Jadi bahaya ada di mana pun juga. Ancaman selalu ada di sekitar kita. Di sini kita percaya bahwa ini semua adalah akibat dosa. Bagaimana kita bisa tetap waspada dan mawas diri? Kita harus tetap berhati-hati, namun jangan ketakutan secara berlebihan. Ada orang-orang yang terlalu ketakutan sampai memakai alat pelindung diri berlebihan. Ada orang yang kehabisan nafas gara-gara menggunakan masker berlebihan. Jadi bahaya ada di mana-mana. Orang yang sedang berolahraga pun bisa meninggal. Ada hal-hal yang Tuhan izinkan terjadi. Namun kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah merancang agar hidup kita kehilangan damai sejahtera. Kita tidak boleh mencobai Tuhan dalam situasi seperti ini.

 

Manusia sedang diajar untuk menghargai kehidupan dan makna hidup yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Kalau semuanya lancar dan beres, maka semua hanya akan melihat diri sendiri demi kepuasan dan kebutuhan diri. Tuhan melihat dosa sudah berkembang dengan begitu luar biasa. LGBT berkembang luar biasa. Setiap artis bisa memamerkan kehidupan amoral dengan bebasnya. Ini menyedihkan hati Tuhan. Dosa manusia menyebabkan kemarahan Tuhan. Ini adalah model Sodom dan Gomora yang baru. Tuhan pada kali ini bukan memberikan belerang tetapi menggunakan Covid-19 supaya manusia tidak melihat diri sendiri lagi. Penderitaan ini mengajarkan kita untuk melihat Tuhan. Akhirnya kita introspeksi diri dan menyadari bahwa kita ini lemah, terbatas, dan mudah sakit. Dalam bagian ini Tuhan sedang mengajarkan kita untuk memaknai hidup berkaitan dengan anugerah Tuhan sehingga kita bisa bersyukur. Di dalam kesulitan yang ada, sedikit makanan yang biasanya kurang enak pun bisa membuat kita puas. Seringkali kita melupakan anugerah Tuhan sehingga kita tidak mengucap syukur. Pandemi ini mengingatkan kita bahwa ketika kita bisa bangun di pagi hari pun itu adalah anugerah Tuhan. Keberadaan kita pada hari ini adalah anugerah Tuhan. Kita sedang diajar bagaimana menghargai hidup dan mengaitkan makna dari Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

a) Pengharapan dalam Perjuangan 1

Alkitab mengatakan bahwa ada pengharapan yang hidup. Ini karena sumbernya adalah Tuhan yang hidup dan kekal. Pengharapan itu mulia karena berasal dari Allah yang mulia, yang tidak punya kelemahan dan kesalahan. Ia sempurna dan kemuliaan-Nya tidak pernah berkurang dan tidak pernah mundur. Ada pengharapan yang suci karena sumbernya adalah Allah yang suci. Di dalam semua pengharapan ini, kita tidak bersikap apatis dan pasif. Kita tidak hidup seperti air yang mengalir. Kita tidak hanya bermimpi lalu tidak mau mengerjakan apapun juga. Pengharapan yang Tuhan tanamkan dan ajarkan adalah pengharapan yang pasti di dalam Tuhan. Di dalam situasi sulit ini kita harus memiliki pengharapan yang mengalahkan kekhawatiran dalam diri (Matius 6:25-33). Ada yang khawatir karena trauma dan karena informasi-informasi yang menakutkan. Setiap kita pasti memiliki kekhawatiran dalam menghadapi Covid-19, itu wajar. Namun jika kita tidak mengaitkan dengan iman dan Tuhan yang sudah mati untuk menebus dan memelihara kita serta ketakutan itu menjadi lebih besar daripada pengharapan iman kita, maka di saat itulah kekhawatiran kita menjadi di dalam dosa. Matius 6:25-33 mengingatkan kita bahwa ada orang-orang yang khawatir karena makanan, minuman, dan pakaian. Tuhan mengatakan bahwa hidup itu lebih berarti daripada semua itu. ia mengajak kita untuk melihat burung pipit dan bunga bakung. Semuanya menjadi indah karena Tuhan bisa membuat semuanya menjadi indah.

 

Ada orang yang khawatir karena perkara lahiriah. Ia khawatir karena ia melihat bahwa itu adalah standar kebahagiaannya dan kepuasannya. Ada orang-orang yang khawatir karena tidak ada pakaian baru, namun sebenarnya kita tidak perlu demikian. Jadi kita bisa khawatir berlebihan dan curiga terhadap semua orang. Kita boleh menjaga kesehatan, namun kita tidak boleh bertindak berlebihan. Kita harus memiliki iman, pengharapan, dan hati yang melihat kepada Tuhan. Jangan sampai kita menyimpan ketakutan yang tidak masuk akal di masa ini. kekhawatiran itu menguji ketahanan mental dan iman kita. Kekhawatiran yang tidak mengandung iman itu dosa. Iman menolong kita untuk mengalahkan dunia. Pengharapan memampukan kita untuk mengalahkan kekhawatiran. Bagaimana mengalahkan kekhawatiran? Kita harus punya langkah-langkah iman (Matius 6:33-34). Ayat ini mengajarkan kita untuk mencari dahulu Kerajaan Allah. Ada orang-orang yang dalam masa seperti ini berani mencari uang namun tidak berani bersekutu. Jadi ada standar ganda. Kata ‘carilah’ menunjukkan bahwa kita ini adalah makhluk yang memiliki rasio dan kita bisa berjuang. Setelah kejatuhan dalam dosa, manusia harus bertahan melawan ancaman alam dan dunia. Sekarang dalam pandemi Covid-19 ini kita diingatkan kembali untuk berjuang. Kita harus bertahan hidup dalam Tuhan. Jadi dalam bagian ini kita mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kerajaan Allah terdiri dari Firman Tuhan, damai sejahtera, dan sukacita Roh Kudus. Itu harus kita kejar. Jadi pengharapan kita tidak bersifat pasif dan statis. Kita harus aktif berkaitan dengan Kerajaan Allah.

 

Di sini juga dikatakan bahwa semua itu akan ditambahkan kepada kita. Apa yang ditambahkan? Pemeliharaan Tuhan atas kita. Tuhan mengajar kita dan kita tidak diperlakukan sebagai anak-anak gampangan. Tuhan tidak membuat semuanya menjadi sangat mudah. Tuhan mau kita berjuang. Jadi prinsipnya adalah mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu. Tuhan kemudian akan memberikan hikmat agar kita mengerti bagaimana mengatur hidup dan menghadapi tantangan. Tuhan juga akan menambahkan iman dan nilai perjuangan kita. Di sini kita belajar mengalahkan ketakutan dengan keaktifan di dalam Tuhan. Ayat ke-34 mengajarkan kita untuk tidak mengkhawatirkan hari esok. Hari esok memiliki kesulitannya, masalahnya, dan ancamannya tersendiri. Mengapa kita tidak boleh khawatir? Karena setiap hari adalah milik Tuhan. Setiap hari kita dibimbing dan disertai Tuhan untuk memaknai hidup dalam anugerah dan perlindungan Tuhan. Ketika kita hanya melihat orang-orang yang meninggal karena Covid-19 dan melupakan orang-orang yang meninggal karena penyakit-penyakit lain, maka kita akan merasa bahwa Covid-19 telah menjadi ancaman yang sangat besar. Dalam tiga bulan lebih, lebih dari 2000 orang di Indonesia meninggal. Namun jumlah orang yang meninggal karena penyakit-penyakit lain itu jauh lebih besar. Jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, maka Indonesia masih lebih baik kondisinya. Namun itu tidak boleh membuat kita sombong. Kita harus belajar memiliki iman yang berkemenangan dalam situasi ini. kita tidak boleh khawatir dan harus tetap produktif dalam nilai kebergantungan pada Tuhan. Pengharapan dalam perjuangan adalah pengharapan yang bisa membuat kita mengalahkan ketakutan kita. Ada orang-orang yang berani untuk menikah di masa pandemi ini. Kita tidak boleh terlalu cepat curiga dan menghakimi orang-orang seperti ini. Jangan sampai kita terlalu berbelas kasihan pada diri sendiri sehingga kita tidak mau melayani.

 

Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Apa artinya? Kita harus melalui setiap hari dengan makna dan kebergantungan pada Tuhan. Anugerah itu selalu cukup untuk kita setiap hari. Pertolongan Tuhan itu cukup dalam setiap langkah kita. Kita diminta hidup berdasarkan iman. Tuhan akan memberikan kekuatan bagi kita setiap hari. Setiap orang bisa diserang oleh Covid-19, namun tubuh bisa menghasilkan antibodi untuk bertahan. Mungkin saja di dalam tubuh kita semua sudah ada antibodi terhadap Covid-19. Dalam masa flu Spanyol juga pernah terjadi hal yang sama. Orang-orang pada saat itu kembali ke alam. Mereka menjaga agar tubuh mereka tetap hangat. Mereka mengubah gaya hidup dengan sering meminum minuman hangat misalnya cokelat panas. Mereka memakan biji-bijian untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi Tuhan mengembalikan mereka untuk melihat kepada alam. Kita terkadang terlalu mengandalkan kimia-kimia namun melupakan ciptaan Tuhan. Vietnam berhasil melawan Covid-19 karena kebiasaan mereka mengonsumsi daun-daun dan produk alam. Tuhan telah memberikan Indonesia begitu banyak anugerah di alam dan kita harus bersyukur atas semua itu. Kita harus belajar bukan melihat diri tetapi melihat Tuhan dan ciptaan-Nya. Kita memang diciptakan untuk mengelola alam. Melalui Covid-19 ini Tuhan juga memulihkan alam. Tuhan mau kita menikmati alam ciptaan-Nya dan bersyukur.

 

b) Pengharapan dalam Perjuangan 2

Kita mengalahkan kekhawatiran bersama dengan Tuhan. Iman harus memimpin kita. Kita harus melihat Tuhan itu besar dan kekhawatiran itu kecil. Langkah-langkah iman kita harus jelas dalam pimpinan Tuhan. Pengharapan itu mengalahkan ketakutan. Tadi kita sudah melihat Yesaya 41:10. Israel itu biji mata Tuhan. Mereka dekat dengan Tuhan. Mereka dipelihara dan dijaga karena mereka dipanggil untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Israel mendapatkan tanah perjanjian untuk menyatakan kebesaran Allah. Dalam konteks inilah Tuhan melalui nabi Yesaya memberikan janji kepada bangsa Israel supaya mereka berdiri teguh di tengah tantangan. Janji itu menguatkan mereka di tengah segala ancaman. Jadi mereka diajarkan untuk mengalahkan ketakutan. Walaupun ada tantangan dan ancaman, kita diajarkan untuk mengalahkan semua itu dengan melihat kepada Tuhan yang sudah menciptakan, menebus, dan memelihara kita. Ketakutan tidak menguasai kita. Tuhan mau melihat perjalanan iman kita di tengah kesulitan itu. Di dalam hal itulah kita butuh perjuangan. Di dalam perjuangan itu kita mengambil langkah-langkah strategis (Roma 12:11-12). Kita harus melangkah secara produktif dan inovatif, baik sebagai siswa, ibu rumah tangga, atau suami yang bekerja. Ayat itu mengingatkan kita untuk tidak kendor dalam kerajinan kita untuk melayani Tuhan. Di dalam masa pandemi ini, kita harus tetap rajin sesuai kata Alkitab. Latihan tubuh itu terbatas gunanya namun latihan rohani itu untuk kekekalan.

 

Di masa retret global ini kita dengan keluarga bisa belajar untuk meningkatkan kerajinan kita untuk melayani. Di masa pandemi ini ada banyak kesempatan untuk mendengarkan Firman Tuhan melalui internet. Namun tanpa hasrat untuk belajar, semua ini akan berlalu begitu saja. Ada begitu banyak kesempatan untuk membaca buku rohani, namun semua itu akan terlewat kalau kita tidak memakai waktu dengan baik. Meskipun ada banyak sarana pelayanan, semua akan terlewat kalau kita tidak memakainya. Jadi langkah strategis kita adalah tetap konsisten dan tetap rajin. Roh kita harus menyala-nyala untuk melayani Tuhan. Ketakutan itu bisa membuat kita malas melayani, maka kita harus berhati-hati. Kita diingatkan untuk tetap rajin namun tetap tidak mencobai diri. Dalam masa pandemi ini kita tetap bisa berkomunikasi dan menyatakan Tuhan kepada orang lain. Kita mungkin tidak bisa melayani seperti dahulu sebelum Covid-19, namun kita diberikan hikmat untuk bagaimana tetap produktif dengan cara-cara yang baru. Di masa ini juga ada lebih banyak kasus konflik rumah tangga dan perceraian. Keluarga yang terus berkumpul di rumah akan bisa melihat sifat asli satu sama lain. Ego suami lebih jelas terlihat dan ternyata istri yang selama ini mengandalkan pembantu ketahuan tidak bisa membersihkan rumah. Ini menciptakan banyak konflik. Dalam masa ini orang tua juga dipaksa untuk membimbing anak sendiri di rumah. Di sini kita melihat bahwa Covid-19 bisa menggerogoti iman dan kesatuan keluarga. Maka dari itu kita harus tetap fokus dalam Tuhan sehingga kita bisa menyikapi setiap masalah dengan baik. Kita harus bersukacita dalam pengharapan. Tuhan berdaulat mengizinkan pandemi ini. imunitas tubuh kita timbul karena sukacita. Amsal 17:22a hati yang gembira adalah obat yang manjur. Para peneliti menemukan bahwa sukacita itu bisa meningkatkan ketahanan tubuh. Para peneliti sudah menemukan ini, namun Alkitab sudah mengatakannya dari dahulu kala. Kita tidak bisa bernyanyi dengan bersuara karena prokotol, namun hati kita bisa bernyanyi dengan sukacita. Masa ini akan lewat dan Tuhan akan mengizinkan obat untuk Covid-19 ditemukan. Namun dalam masa ini kita harus tetap menikmati di dalam Tuhan.

 

Kita harus bersabar dalam kesesakan. Kita bisa merasa sesak karena ditinggalkan orang-orang yang kita kasihi, karena masalah ekonomi, dan karena kita tidak bisa produktif lagi. Namun kita diajarkan untuk bersabar dalam nilai perjuangan. Kita tidak boleh mempercepat waktu karena itu bisa berbahaya. Di sana kita harus bersabar. Orang yang bersabar pasti dikasihi Tuhan. Di masa pandemi ini ada pengusaha-pengusaha yang mau mencari keuntungan pribadi. Namun orang Kristen harus berbeda. Para pemilik perusahaan Kristen harus tetap memerhatikan kesehatan dan kesejahteraan pegawai. Jika tidak, maka mereka sedang melanggar Firman Tuhan. Kita diberikan panggilan untuk mendatangkan damai sejahtera di mana pun kita ditempatkan. Ketika kita mengalami kesulitan, di sanalah kita sedang diuji. Jika kita terjebak dalam hedonisme dan materialisme, maka kita akan mengorbankan orang lain. Itu bukanlah cara orang Kristen. Kita seharusnya berpikir tentang kesejahteraan orang lain walaupun itu mengurangi keuntungan kita atau bahkan membuat kita rugi. Di sana iman kita diuji. Di sini kita harus tetap sabar dan bertekun dalam doa. Paling sedikit dalam situasi ini kita bisa berdoa. Kita berdoa dalam usaha dan perjuangan. Itu adalah langkah yang sangat strategis. Kita dipanggil untuk berdoa dan menjadi pelaku doa-doa kita. Kita menghidupi kehendak Tuhan bersama dengan saudara-saudari seiman kita. Ini adalah langkah-langkah yang mengandung solusi dan terukur. Di dalamnya kita tetap efektif dan efisien serta meminimalkan setiap risiko. Kita harus memiliki pengharapan dalam perjuangan. Pengharapan itu mengalahkan ketakutan. Ketika Nehemia akan membangun tembok Yerusalem, tantangan dari Sanbalat itu begitu mengancam. Ia memfitnah dan menebarkan ketakutan. Namun pengharapan itu mendorong Nehemia untuk terus berjuang. Bangsa Israel membangun tembok sambil memegang senjata. Mereka berjaga-jaga terhadap serangan musuh. Di dalam proses waktu akhirnya pembangunan tembok itu selesai. Semua kesulitan itu bisa dilewati karena mereka bersandar pada Tuhan. Jadi semua ini kita harus kerjakan dengan baik dalam pertolongan Tuhan.

 

 

KESIMPULAN

 

Dunia sedang diarahkan untuk melihat Tuhan di masa pandemi Covid-19 ini. Kalau semua lancar dan tidak ada masalah, manusia akan tetap bersikap egois. Namun dalam masa pandemi ini, manusia dipaksa untuk memandang Tuhan. Kita baru tahu bahwa kita ini kecil, terbatas, dan rapuh. Di dalam masa sulit itu orang-orang melihat kepada Tuhan. Ada orang kaya yang berpikir akan aman jika pergi ke luar negeri. Namun ternyata di sana ia sakit karena Covid-19 lalu meninggal. Kekayaan tidak bisa membeli kesehatan. Uang tidak bisa diandalkan dalam masa ini. Kita hanya bisa melihat kepada Tuhan yang menciptakan dan menebus kita. Rasul Petrus mengatakan bahwa kita adalah bangsa yang kudus, imamat yang rajani, milik kepunyaan Tuhan (1 Petrus 2:9). Jadi kita harus memandang kepada Tuhan.

 

Dunia sedang berubah tatanannya karena Allah dalam kedaulatan-Nya mengizinkan Covid-19 ini. Ini adalah suatu era yang baru. Ketika terjadi masa krisis karena flu Spanyol, ada suatu studi yang dilakukan dan ditemukan bahwa ada orang-orang yang menghasilkan antibodi terhadap flu Spanyol. Tubuh kita diciptakan untuk bisa bertahan melawan penyakit-penyakit ini. Ini terjadi sebelum obat untuk flu Spanyol ditemukan. Jadi dunia sedang berubah karena Allah memaksa dunia berubah. Kita percaya bahwa kita berubah dalam konteks iman kita. Kita berubah dalam hal semakin melihat dan bergantung pada Tuhan. Jadi perubahan dunia tidak boleh mengubah iman kita. Perubahan dunia tidak boleh mengubah mindset kita yang sudah benar. Perubahan dunia ini mengingatkan kita untuk mengelola dunia dengan baik.

 

Apa yang perlu disiapkan atau dikerjakan? Yaitu mengerjakan pengharapan dalam perjuangan iman. Bersama Tuhan kita bisa karena Allah itu setia. Allah tidak akan meninggalkan kita dan Allah tidak akan membiarkan kita. Program Tuhan adalah damai sejahtera untuk kita mendapatkan pengharapan yang punya nilai masa depan. Kalau kita bisa melewati semua ini, maka kita adalah orang yang berbahagia dan spesial. Kekuatan kita harus kembali kepada Tuhan. Tuhan memberkati dan menyertai kita. Kita harus tetap produktif, rajin, dan bersemangat melayani Tuhan. Kita harus mengambil langkah strategis dan memiliki sukacita, kesabaran, dan ketekunan. Kita mengerjakan apa yang kita bisa kerjakan dengan waktu dan talenta yang kita punya. Tuhan juga bekerja dalam memelihara setiap dari kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami