12 Batu Peringatan

12 Batu Peringatan

Categories:

Bacaan Alkitab: Yosua 4:1-24.

Pendahuluan

Setelah kita mencapai cita-cita atau tujuan hidup kita, apa yang kita perbuat? Seluruh respons kita menunjukkan kualitas iman kita. Ada yang berpesta pora setelah meraih cita-citanya. Ada yang berpikir ‘akhirnya’ sehingga ia tidak lagi bergerak maju tetapi hanya menikmati hidup. Ini karena seluruh keberhasilannya hanya berbicara tentang hal-hal lahiriah. Di saat itulah orang itu tidak ada lagi perjuangan hidup karena semua yang mau dicapainya hanyalah bersifat lahiriah. Dia tidak melihat apa nilai pencapaian yang sesungguhnya di dalam Tuhan. Mengapa Allah meminta ditegakkan 12 batu peringatan? Mengapa harus 12 suku Israel yang mengangkat dan menyusunnya? Apa arti 12 batu peringatan ini bagi 12 suku Israel dan bagi kita saat ini? Manusia butuh peringatan. Kita semua pernah mendapat peringatan ketika masih kecil, baik itu oleh guru atau orang tua. Peringatan bisa datang dari luar maupun dalam. Tuhan bisa memakai penyakit untuk memperingatkan kita. Penyakit bisa mengingatkan kita bahwa kita tidak menjalankan pola hidup sehat. Peringatan bisa datang melalui Allah Roh Kudus yang bekerja dalam hati nurani kita jika kita tidak bertobat dan berbalik kepada Tuhan. 12 batu peringatan itu sama jumlahnya dengan 12 suku Israel. Kita mengetahui bahwa 10 suku di dalam proses sejarah telah terhilang. Hanya ada 2 suku yang tersisa yaitu Yehuda dan Benyamin. Mengapa mereka terhilang? Mengapa setelah pemerintahan Salomo, Israel terpecah menjadi 2 yaitu Israel Utara dan Israel Selatan? Setelah pembuangan, yang pulang hanyalah sisa dari Yehuda dan Benyamin.

Di sini kita melihat betapa pentingnya peringatan Tuhan bagi Israel, supaya di dalam perjalanan waktu mereka tidak melupakan Tuhan. Peringatan itu penting agar kita tidak meremehkan perintah Tuhan tetapi agar kita mengingat seluruh ajaran Tuhan sehingga kita tidak bermain-main dengan dosa. Peringatan itu penting agar kita selalu berjalan dalam kehendak Tuhan dan agar kita tidak dihukum oleh Tuhan. Mengapa Ulangan 6:6-7Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” selalu mengingatkan kita agar orang tua mengulang-ulang pengajaran Firman Tuhan di depan anak? Di sini Tuhan tahu bahwa Israel bisa mengalami kesombongan rohani yaitu mereka mengaku sebagai orang-orang pilihan Tuhan namun tidak hidup bagi Tuhan. Mereka merasa seperti bangsa yang khusus namun tidak pernah mengkhususkan Tuhan. Mereka merasa berharga namun tidak menghargai Tuhan. Kesombongan rohani itu membuat mereka tidak hidup rohani karena mereka hanya berbangga pada hal-hal lahiriah. Israel Utara (10 suku) telah melupakan Tuhan dan Tuhan mengizinkan bangsa Asyur menghancurkan mereka dan membawa mereka ke dalam pembuangan. Israel Selatan (2 suku) juga pada akhirnya tidak mengutamakan Tuhan sehingga Tuhan mengizinkan mereka dibuang ke Babel pada zaman pemerintahan Nebukadnezar. Pada pemerintahan Koresh mereka diizinkan pulang dan mereka membangun kembali Yehuda yang baru. 10 suku telah terhilang, namun suku yang diizinkan kembali adalah suku yang bertobat. Di sini kita melihat bahwa harus ada pertobatan. Tuhan memberikan tabut perjanjian sebagai tanda penyertaan Tuhan, namun ketika umat-Nya memberontak, Tuhan tidak segan untuk membuang mereka. Maka dari itu setiap kita butuh diperingatkan karena kita adalah orang-orang berdosa yang sering lupa dan lalai.

Pembahasan

Salah satu tema hidup Israel adalah exodus (keluar dari perbudakan). Selama 40 tahun mereka berjalan di padang gurun menuju ke tanah Kanaan (Ulangan 29:5-6; Yosua 5:6). Sebenarnya perjalanan itu tidak membutuhkan 40 tahun, namun dalam waktu 40 tahun itu Tuhan mau mendidik mereka. Pada akhir dari 40 tahun itu Tuhan membangkitkan Yosua dan memberikan masa retret 3 hari sebelum mereka menyeberangi sungai Yordan. Waktu 40 tahun merupakan kuantitas waktu. Di sana ada generasi baru yang lahir dan merekalah bersama dengan Kaleb dan Yosua yang boleh masuk ke tanah Kanaan. Mereka yang berumur 20 tahun ke atas yang telah memberontak semuanya mati di padang gurun dalam keberdosaan. Ketika mereka menyeberangi sungai Yordan, mereka harus memiliki nilai pembaruan iman, ketaatan, dan paradigma baru untuk melihat Tuhan dalam segala kebesaran-Nya. Retret 3 hari merupakan kunci keberhasilan mereka dapat menyeberang. Jadi mereka selamat bukan karena usaha manusia tetapi iman dan ketaatan. Di sini kita belajar tentang pentingnya memiliki exodus hidup. Ada suatu waktu dimana anak-anak kita akan berpisah dari kita dan hidup mandiri. Mereka pun akan mengalami exodus hidup. Kita berharap agar anak-anak kita itu bisa seperti yang tertulis dalam Mazmur 127:4, “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda”. Orang tua adalah pahlawannya, maka dari itu tugas dari orang tua adalah mempersiapkan anak-anaknya sehingga mereka siap dalam menghadapi exodus hidup. Kita harus punya exodus hidup yaitu keluar dari kenyamanan kita yang bisa membuat kita tidak lagi hidup bagi Tuhan. Jadi exodus hidup penting agar kita dapat menggenapkan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dan lebih berkarya bagi Tuhan, tidak hanya menikmati hidup.

Apa penyakit manusia secara umum berkaitan dengan pikiran dan perasaan, jika sudah berhasil? Pada umumnya, manusia cenderung melupakan jasa orang-orang yang telah menolongnya di masa lampau. Kita bisa melupakan pengorbanan orang tua, guru, dan dosen kita. Kita juga bisa melupakan pertolongan Tuhan. Inilah mengapa kita perlu diingatkan. Jika kita melupakan pengorbanan orang tua dan orang-orang di sekitar kita maka kita ini sebenarnya kurang ajar. Jika kita melupakan pertolongan Tuhan, maka kita sebenarnya adalah bidat atau sesat. Di sini Tuhan memerintahkan Yosua untuk membuat 12 batu peringatan. Ternyata setelah ada 12 batu peringatan pun, Israel masih terpecah dan melupakan Tuhan. Mereka cepat lupa. Salah satu bagian dari pertobatan adalah pengudusan pikiran sehingga pikiran kita akan lebih peka dalam menangkap pikiran Tuhan. salah satu tugas kita adalah menaklukkan segala pikiran di bawah pikiran Kristus (2 Korintus 10:5). Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Manusia juga cenderung cepat puas. Ketika sudah mendapatkan begitu banyak pencapaian, manusia cepat puas dan membanggakan diri. Di sini mereka menjadi orang yang sombong. 12 batu peringatan itu adalah agar bangsa Israel tidak menjadi sombong. Melalui itu mereka mengingat pertolongan Tuhan dalam menyeberangi sungai Yordan. Di sana mereka mengetahui bahwa ada tabut yang mewakili kehadiran Tuhan yang membuat sungai itu kering. Peringatan itu membuat kita sadar kembali akan peran anugerah Tuhan dalam hidup kita.

Kanaan bukan tujuan akhir. Setelah bangsa Israel berhasil menyeberang, mereka diminta untuk mengambil 12 batu dari sungai Yordan untuk disusun dan dijadikan batu peringatan untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa karya Tuhan-lah yang membuat mereka bisa menyeberang. Setelah selesai menyeberang, mereka bisa mengalami euforia rohani (kegembiraan berlebihan namun sesaat secara rohani) sehingga melupakan Tuhan. Ini bisa terjadi pada siapapun. Orang Kristen pun bisa mengalami hal yang demikian karena lebih melihat kepada manusia daripada Tuhan. Pencapaian tujuan itu bukan keberhasilan dan bukan akhir. Penyeberangan sungai Yordan itu bukan akhir tetapi merupakan awal. Mereka tidak bisa berbangga karena hal ini. Ini adalah awal perjuangan iman mereka. Dari sini mereka harus terus berjuang dan berperkara demi Tuhan. Jika mereka cepat puas diri dan tidak mempersiapkan diri, maka mereka bisa dengan mudah dikalahkan oleh penduduk di tempat itu. Dalam konsep Reformed, selama kita hidup kita tidak boleh memikirkan omega point tetapi alpha point. Kita harus membawa semangat mula-mula dan tidak boleh berpikir ‘akhirnya’. Jika tidak demikian maka kita akan berhenti dan menikmati hidup saja sampai akhirnya kita tidak lagi berkarya bagi Tuhan. segala pencapaian kita adalah awal dari keberhasilan dan bukan titik akhir. Itu merupakan awal dari keberhasilan untuk bekerja lebih lagi bagi Tuhan. Jika kita berpikir bahwa setelah memiliki segala materi yang kita inginkan kita boleh berhenti, maka sebenarnya kita ini orang yang hedonis dan materialistik. Alkitab sering menyatakan bahwa segala kekayaan dunia itu akan berlalu dalam waktu (Matius 6:19  Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya). Banyak gereja di Eropa begitu megah bangunannya namun tidak lagi ada isi sehingga yang tersisa hanyalah kemegahan bangunannya. Ketika generasi penerus tidak lagi dapat membayar pajak gedungnya, mereka menjualnya. Di dalam sejarah dunia, tidak selamanya seseorang terus menjadi kaya atau berkuasa tetapi selalu ada perputaran dalam waktu.

Kanaan fisik itu bukanlah tujuan akhir melainkan kanaan rohani. Kanaan itu menjadi tanda janji penyertaan Tuhan bahwa Tuhan akan memberikan kelimpahan susu dan madu. Mereka harus merebutnya dengan perjuangan. Kanaan rohani kita adalah dimana kita berjuang untuk menyatakan kehadiran dan pemerintahan Tuhan. Ketika Musa memimpin, Tuhan memberikan tongkat sebagai simbol. Di dalam tabut itu ada 2 loh batu dan tongkat Harun yang berbunga (Ibrani 9:4). Saat Yosua memimpin, Tuhan memimpin dengan menggunakan tabut. Cara Tuhan memimpin bisa berbeda namun esensinya tetap sama. Maka dari itu kita harus berpikir alpha point dan bukan ‘akhirnya’. Jika kita tidak lagi mau berjuang, belajar, berkorban, dan tidak mau lagi melakukan perkara-perkara besar, maka sebenarnya kita sudah tua. Kita harus terus menyerahkan diri kita untuk dipakai oleh Tuhan. Tuhan sudah berjanji kepada Israel bahwa bangsa Israel akan menjadi besar dan berkuasa atas bangsa-bangsa lain jika terus taat kepada Tuhan, namun ternyata mereka memberontak dan Tuhan membuang mereka. Saat bangsa Israel diizinkan pulang ke tanah mereka, hanya ada suku Yehuda dan Benyamin yang sudah bertobat. Kita sebagai orang Kristen harus terus memuliakan nama Tuhan. Jika tidak demikian maka kita harus siap menghadapi hajaran dari Tuhan. Kita harus waspada terhadap segala kemungkinan yang membuat kita menjadi bercacat dan cela serta hal-hal yang membuat orang lain menghina kita.

Amsal 13:22 Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar. Pimpinan Tuhan itu begitu berkuasa sehingga hal ini bisa terjadi. Orang tua yang baik mengutamakan warisan iman untuk anak-anaknya. Warisan iman itu adalah karakter buah Roh dan ajaran Yesus di bukit (Galatia 5:22-23 dan Matius 5-7). Anak-anak harus diwariskan sifat takut akan Tuhan. keluarga yang berhasil adalah keluarga yang menjaga integritas hidup. Tidak memiliki uang itu bukan masalah yang besar, karena yang lebih penting adalah kejujuran dan integritas. Orang tua bisa tidak mampu memberikan warisan harta, namun orang tua Kristen harus memberikan warisan iman dan karakter. Musa menulis dalam Ulangan 6:6-7 agar seluruh bangsa Israel mengajarkan Firman Tuhan berulang-ulang kepada semua anak-anak mereka. Yosua juga berbuat demikian dengan cara yang berbeda yaitu dengan membangun 12 batu peringatan. Seluruh generasi selanjutnya akan bisa melihat 12 batu itu dan mereka akan belajar bahwa Tuhan-lah yang mengeringkan sungai Yordan sehingga bangsa Israel bisa masuk ke tanah Kanaan. Di sini mereka diajarkan untuk tidak melupakan Allah yang hidup dan semua perintah-Nya. 12 batu peringatan itu menjadi pendidikan iman untuk generasi yang baru. Ketika kita memasang salib di rumah kita dan anak-anak bertanya, itu merupakan kesempatan bagi kita orang tua untuk menjelaskan bahwa Yesus adalah Raja di dalam keluarga.

Pendidikan iman diberikan untuk generasi baru melalui 12 batu peringatan (ay 20-23). Ini agar generasi yang baru bisa menceritakan tentang Allah yg perkasa (ay 24a). Allah berkuasa melampaui dari alam semesta. Saat para imam yang membawa tabut itu melangkah ke dalam sungai, air sungai menjadi tertahan sehingga tempat mereka berpijak menjadi kering. Bukan tangan manusia atau malaikat yang menghentikan air itu tetapi tangan Tuhan sendiri. Kita pada kesempatan berikutnya akan membahas rahasia kemenangan atas Yerikho. Ada perdebatan teologis dalam tema ini: hal yang merobohkan tembok Yeriko itu doa dan sangkakala atau Tuhan? Ada yang mengatakan bahwa tembok itu roboh ke dalam, namun hasil arkeologi menyatakan tembok itu roboh ke luar. Tembok Yerikho terdiri dari 2 lapis. Lapisan pertama memiliki ketebalan 1,8 meter dan tinggi 9 meter. Lapisan kedua memiliki ketebalan 3,6 – 3,7 meter dengan tinggi 9 meter. Maka dari itu Yerikho disebut sebagai kota benteng. Senjata apakah yang bisa menembus ketebalan 1,8 meter? Tidak ada. Ketika bangsa Israel sudah selesai menyeberang, mereka tinggal menutup pintu dan merasa aman di dalam kota itu. Selama 7 hari bangsa Israel berjalan mengelilingi kota Yerikho. Kota itu kira-kira sebesar 4 hektar dan mereka harus berjalan kira-kira 4-7 km untuk mengelilinginya. Ketika anak-anak mereka bertanya, mereka bisa memberikan pendidikan iman. Allah yang setia itu tidak mungkin meninggalkan Israel. Ketika umat Tuhan taat, hal yang besar itu terjadi. Allah sudah berjanji untuk memberikan tempat dimana kaki Yosua berpijak. Ini semua terjadi ketika ada iman dan ketaatan. Iman itu mendorong untuk taat secara aktif. Kita akan membahas iman dan ketaatan Israel dalam mengelilingi tembok Yerikho. Selama 6 hari mereka tidak boleh bersuara, jadi mereka tidak boleh malas dan bersungut-sungut. Mereka harus berjalan sambil berdoa dalam hati. Pada hari ke-7 mereka boleh bersuara setelah mendengar sangkakala. Ketaatan itu penting untuk menyenangkan Tuhan. Di sini mereka menunjukkan iman, ketaatan, dan ketekunan.

12 batu peringatan itu mengajarkan untuk takut akan Allah (ay 24b). Semua bangsa di sekitar Israel terkejut dan menjadi takut karena mendengar kabar tentang Allah yang mengeringkan laut Teberau dan sungai Yordan. Dari sana bangsa Israel juga belajar untuk takut akan Allah. Salomo melalui kitab Pengkhotbah mengajarkan bahwa semua hal itu sia-sia jika kita tidak takut akan Tuhan (Pengkotbah 12:13, takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang). Namun ketika kita takut akan Tuhan, mengaitkan segala hal yang kita kerjakan untuk kemuliaan Tuhan, memiliki takut yang suci dan takut ditinggalkan Tuhan, maka kita akan berusaha sungguh-sungguh untuk Tuhan. Semua sikap yang benar itu berawal dari rasa takut akan Allah. Kita tidak takut terhadap hukuman ataupun manusia tetapi kita takut berdosa karena Kristus sudah mati untuk kita dan kita tidak mau mendukakan Roh Kudus. Inilah mengapa Yosua diminta untuk membuat 12 batu peringatan yang bisa mengajarkan tentang takut akan Tuhan. Dalam konteks kita, mulut dan bibir dapat dipakai memberitakan Firman untuk menjadi peringatan. Tindakan kita juga menjadi teladan untuk menyatakan kebesaran Tuhan kepada generasi selanjutnya. Di sana generasi penerus belajar untuk takut akan Tuhan. Jika kita sungguh takut akan Tuhan, maka penyertaan Tuhan itu akan secara nyata kita rasakan. Tuhan akan melindungi kita. Mazmur 1:1-3 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Kita juga memiliki Allah Roh Kudus yang mengingatkan kita akan Firman Tuhan (Yohanes 14:26).

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa tujuan 12 batu peringatan yaitu bangsa yang beriman dan beribadah serta taat dalam menyaksikan Tuhan yang hidup. 1 Timotius 4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. 12 batu itu mengingatkan agar bangsa Israel terus beriman dan beribadah. Ketika Musa sudah menyeberangi laut Merah, ia beribadah kepada Tuhan. Yosua pun juga demikian. Mengetahui Allah yang maha kuasa adalah bagian knowing. Takut akan Allah adalah bagian being. Beriman dan beribadah adalah bagian doing. Pada akhirnya, orang Kristen harus serving. Ketika ini diabaikan, maka kita bisa menjadi bangsa Israel yang dibuang. Setiap peringatan yang kita terima harus kita dengarkan dan renungkan supaya kita tidak salah jalan. Kita tidak boleh bergantung kepada manusia dan harus selalu bergantung kepada Tuhan. Di dalam masa kesulitan kita diajarkan untuk mencari pertolongan Tuhan. Kita harus selalu mengingat karya Tuhan atas sejarah dunia dan sejarah hidup kita. Ini adalah penerang jalan hidup kita untuk setia dan hidup bagi Dia. Ingatlah karya Tuhan yang sudah menebus kita dan ingatlah bahwa Israel pernah dibuang karena terus menerus memberontak terhadap Tuhan. Kita yang terus mengingat Tuhan akan terus mendapatkan penyertaan Tuhan seperti Yosua (Yosua 1:5). Ketika Tuhan beserta, maka jalan hidup kita akan terang. Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Kita belajar untuk believing and trust kepada Tuhan sepanjang hidup kita.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami