Latest Post

Sikap Seorang Tuan atau Atasan kepada Bawahan Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M. Th

Categories: Uncategorized

Efesus 6:9 ; Kolose 4:1 ; Roma 2:1

Seorang bekerja harus berpusat pada Kristus. Dia mementingkan suatu kewajiban dengan nilai untuk mempermuliakan Kristus, maka pekerjaannya akan baik. Ini berarti ketika kita bekerja dan menjadi pekerja yang handal, berkualitas, itu bukanlah karena kita melainkan karena anugerah Tuhan. Seorang pekerja kristiani harus memiliki satu nilai ketaatan dalam nilai kerja untuk memuliakan Tuhan. Dia harus punya motivasi bagaimana waktu dia bekerja untuk menggenapkan rencana Allah. Mereka juga mempunyai sikap kerelaan sehingga tidak bersunggut-sunggut. Pekerja Kristiani mempunyai satu tujuan bahwa bagaimana nilai kerja kita semua bias menghasilkan yang terbaik dan mempermuliakan Tuhan.

Kita melihat bagaimana Yusuf yang tidak memiliki latar belakang pendidikan, dijual oleh keluarga ke Potifar dan bekerja sebagai pembantu, tapi akhirnya dia bisa menjadi kepala / manager rumah tangga yang mengelola seluruh usaha Potifar. Alkitab pun mencatat apapun yang dikerjakan Yusuf itu berhasil. Ini menunjukan kepada kita bahwa keberhasilan Yusuf karena Tuhan menyertai. Bahkan ketika di penjara dia bisa menjadi kepercayaan kepala penjara dan semua yang dilakukannya berhasil. Dari sini kita percaya bahwa nilai dari sekolah kita hanyalah alat, title kita hanyalah alat, yang membuat kita berhasil adalah aspek X dari anugerah Tuhan.

Orang yang berkerja untuk Tuhan akan memiliki sikap merendahkan diri. Jadi seorang pekerja kristiani mungkinkah sombong karena jabatan tinggi? Mungkin saja kalau ia hidup jauh dari Tuhan. Mungkin juga dia jatuh karena bergaji besar atau fasilitasnya besar, juga bisa karena dia merasa diri masih muda tapi karirnya sudah baik. Dalam Alkitab ada kisah anak Nebukadnezar, yaitu Beltsazar yang sombong. Ketika Babel mengepung Media Persia dibawah pemerintahan Darius, Beltsazar bukannya membuat strategi perang tapi justru mengadakan pesta. Dia mengundang semua orang pentingnya untuk menikmati hidup, dia ingin menunjukan bahwa dewa Belt yang mereka sembah jauh lebih besar dari dewa-dewa bangsa lain. Beltsazar memakai perkakas Bait Suci orang Yehuda, gelas anggur dipakai minum, kaki dian dipakai untuk penerang. Dia terus menyombongkan diri, yakin bahwa media Persia tidak mungkin mengalahkannya. Saat itulah dia melihat sebuah punggung tangan yang menulis sesuatu di tembok, dia meminta semua orang pintar dan cendikiawannya untuk mengartikan tapi tidak ada yang tahu. Baru ketika Daniel dipanggil, Daniel yang mampu untuk membaca dan menerjemahkan arti tulisan kuno ibrani (akad) tersebut. Mene Mene Tekel ufarsin (Daniel 5:25-28), dan inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia. Malam itu juga tentara-tentara Darius masuk lewat lubang air dan menyerang mereka, Beltsazar pun mati dibunuh. Jadi, jangan kita menjadi sombong. Perhatikan empat hal yang membuat kita menjadi sombong dalam bekerja : jabatan tinggi, bergaji tinggi, fasilitas besar dan merasa umur masih produktif untuk mencapai karir yang lebih tinggi.

Kita akan melihat empat hal prinsip alkitab khususnya bagi para atasan (Efesus 6:9 ; Kolose 4:1; Roma 2:11) :

  1. Karateristik Keteladanan

Seorang atasan / pimpinan harus memiliki nilai keteladanan. Dalam satu buku yang saya baca tentang sejarah tiongkok, dikatakan bahwa nilai kerja yang membuktikan adalah pimpinan. Di dalam perjuangan, keteladanan, kerja keras yang membuktikan adalah pemimpin. Semangat kerja orang Tiongkok dulu mempengaruhi jepang, tapi mereka belum punya banyak pengetahuan dan menguasai teknologi maka akhirnya Asia ketinggalan Eropa dan Amerika karena merekalah yang punya pengetahuan dan teknologi. Tapi setelah Eropa dan Amerika terlalu mentuhankan pengetahuan dan teknologi, mereka lupa menjadi pekerja keras, akhirnya sekarang semua terbalik. Asia bangkit dalam ekonomi karena mereka punya mental pekerja keras dan selalu bersungguh-sungguh, bahkan sampai 10 jam efektif bekerja. Sebagai orang Kristen kalau kita diminta masuk jam 8, maka kita harus sudah tiba di kantor minimal jam setengah 8. Seorang pemimpin dihormati karena nilai kerjanya. Seorang pemimpin harus punya teladan sehingga waktu dia berhadapan dengan bawahannya dan rekan kerjanya. Setiap bos biasanya minta dihormati dan dilayani tapi Firman Tuhan (Efesus 6:5) mengingatkan kita sebelum kita minta dihormati / dilayani kita harus melakukan itu lebih dulu. Ini menunjukan bahwa rekan kerja / bawahan kita adalah tim sehingga kita tidak menghina atau memperalat mereka. Menghormati / melayani anak buah ini ditunjukan dengan etos kerja yang baik, bukan berarti ketika anak buah kita datang kita menyambut mereka dengan minuman. Kita melayani mereka yaitu ketika mereka membutuhkan saran / strategi / pengetahuan kita, kita mau melayani mereka.  Dalam buku Maxwell, dikatakan bahwa manager handal adalah mereka yang bisa menerjemahkan ide atasannya. Kalau seorang direktur punya ide, tapi managernya tidak bisa menerjemahkan ide tersebut menjadi sebuah system ekonomi yang kuat yang menguntungkan, maka dia bukanlah manager. Setiap kita harus belajar untuk punya nilai penghormatan dan melayani supaya bisa mengerti apa yang mau kita capai, apa yang mau kita kerjakan, strateginya apa. Tapi semua ini ada batasannya. Paradigmanya, pada waktu kita mempunyai keteladanan yaitu karena melalui nilai jabatan dan nilai kerja kita, kita sedang menyaksikan Kristus, bukan menyaksikan diri kita atau pengalaman hebat kita.

  • Karateristik Pendidik

“Jauhkanlah ancaman” (Efesus 6:9), dalam bahasa aslinya juga mengandung arti jangan menggunakan bahasa yang mengandung ancaman/hukuman. Ini mengajarkan kepada kita, menjadi seorang atasan karateristiknya adalah pendidik. Bagaimana kita sebagai atasan menjadikan orang yang ada di bawah kita itu lebih pintar dan lebih pintar lagi. Kalau bawahan kita menjadi lebih pintar, semua nilai kerja akan menjadi lebih cepat pergerakannya karena mereka sudah mengerti dan karena kita sudah berhasil menerjemahkan perintah dengan nilai yang mendidik mereka. Maka sikap kita dengan penuh kasih selalu mau mengajari mereka, bagaimana supaya mereka mengerti apa strategi yang tepat untuk menjalankan dan menyelesaikan dengan tepat. Maka disitu dibutuhkan bahasa penebusan bukan bahasa ancaman. Ketika kita mendapat kesempatan untuk training, pimpin rapat, dsb kita memakai bahasa-bahasa penebusan yang ujung-ujungnya memperkenalkan nama Yesus. Ketika kita mendapat kesempatan untuk berbicara berarti itu adalah kesempatan untuk kita mendemonstrasikan siapa Yesus. Seharusnya kita bisa membuktikan bahwa ketika kita diberkati menjadi seorang pengusaha, kita membuat orang semakin sejahtera. Kita jangan segan untuk mengajarkan ilmu yang kita miliki karena kita memang dipanggil untuk menjadi pendidik.

  • Karakteristik Sahabat

Karateristik sebagai seorang sahabat harus mempunyai nilai kejujuran. Dalam hal apa? Dalam nilai kerja. Kerjamu apa, kerjaku apa. Harus jelas, jangan ada kongkalikong. Dalam perusahaan ada tim audit, tim audit tidak boleh kenal dan tidak boleh banyak ngomong dengan semua orang. Tugasnya audit, tidak boleh tukar kartu nama dan tidak boleh banyak kenal orang di perusahaan itu. Dia seperti polisi di perusahaan. Kalau ada data yang tidak lengkap, dia harus kejar sampai dapat. Tugas auditor itu mengurangi spekulasi orang-orang yang curang dalam perusahaan. Dibayar untuk menemukan orang yang tidak jujur. Jujur untuk nilai kerja itu mahal, maka orang jujur itu diberkati Tuhan. Jujur aspek yang kedua adalah, berkata jujur kalau rekan kerja tidak beres. Kejujuran itu mahal. Kita dituntut untuk jujur dalam nilai kerja kita dan berani mengevaluasi nilai kerja anak buah untuk memperbaiki kualitas kerjanya lebih baik lagi. Kita jujur supaya orang yang kita didik itu memperbaiki diri. Kalau kita sebagai seorang pemimpin Kristen tidak berani jujur untuk nilai kerja, evaluasi kerja, nilai masukan–masukan yang terbaik untuk orang itu berubah, berarti kita gagal. Karena kita adalah kawan sekerja di dalam Kerajaan Surga. Kita harus punya nilai kejujuran. Orang yang terlalu blak-blakan dan tidak ada seni bicara (terlalu to the point) kadang-kadang bisa baik kadang bisa tidak baik. Jujur perlu diatur dan tunggu waktunya. Kalau orang tidak mau dididik, dievaluasi, kita biarkan saja kita sudah habis kata-kata. Seperti apa yang dikatakan Tuhan Yesus kepada Yudas, lakukan saja apa yang mau engkau lakukan. Itu langsung menunjukan kepada kita pembiaran. Kita harus berdoa ketika mendapat rekan kerja seiman, jujurlah untuk mengakui nilai kerjanya, jujurlah untuk evaluasinya, jujurlah untuk memberikan masukan kepada mereka. Banyak para pengusaha Kristen yang saya kenal, memilih orang Kristen untuk posisi-posisi yang kunci, pemimpin-pemimpin strategisnya orang Kristen. Ketika saya diundang untuk berbicara juga enak karena mereka semua orang Kristen, jadi bisa pakai bahasa Firman. Mereka punya standart yang sama. Ketika kita diberi kesempatan untuk punya usaha, jangan lupa untuk merekrut orang-orang Kristen yang benar-benar takut Tuhan, punya kapasitas dan integritas.

  • Karakteristik Takut Tuhan

Kita diajarkan untuk punya nilai takut akan Tuhan. Imamat 25:43, dalam bagian ini Musa mengingatkan bahwa orang Israel tidak boleh menjadi batu sandungan ketika mereka memperlakukan orang yang bekerja kepada mereka, melainkan dikatakan kita harus memerintah dengan takut akan Allah. Sikap kita sebagai seorang atasan/pemimpin harus punya keadilan dan kasih. Mungkinkah seorang pemimpin Kristen kejam? Mungkin. Kenapa menjadi atasan yang kejam, karena kita tidak mengerti konsep keadilan dan kasih. Dalam bagian ini konteksnya jelas, rasul Paulus melihat sendiri, orang-orang Romawi memakai kekerasan untuk menaklukan budak-budaknya. Itulah senjata mereka. Tapi bagian ini rasul Paulus mengingatkan supaya orang Kristen tidak seperti mereka. Kita harus punya hati yang takut akan Tuhan, karena Allah tidak memandang bulu (Roma 2:11) untuk menghukum setiap orang. Setiap kita harus punya nilai keadilan. Jangan kaget bahwa Tuhan bisa membangkitkan pemimpin-pemimpin yang bukan orang Kristen. Ini menunjukan kepada kita bahwa Tuhan punya keadilan, dan Tuhan memberikan anugerah umum kepada mereka. Pemimpin di Indonesia, presiden tidak pernah orang Kristen. Berarti Tuhan memberi mereka anugerah umum. Orang yang diberi anugerah umum belum tentu dapat anugerah khusus, yaitu keselamatan. Inilah keadilan Tuhan. Dulu pemimpin bank Indonesia selalu orang Kristen, menteri keuangan itu orang Kristen, menteri perdagangan pun orang kristen. Itulah yang diinginkan Negara eropa-amerika, bahwa transaksi perdagangan itu selalu diminta kalau bisa orang Kristen. Tapi pertanyaannya, kenapa sekarang orang Kristen tidak dipercaya lagi? Yaitu karena anugerah umumnya saja sudah tidak ada. Maka pada bagian ini seolah-olah kaki dian sudah dicabut untuk orang Kristen menduduki satu jabatan dengan kejujuran yang tinggi, yaitu bidang keuangan. Lihat Ulangan 10:17, Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.” Di sini menunjukan kepada kita bahwa Allah akan menunjukan bahwa Ia adalah Allah yang sejati. Orang yang bermain dengan suap akan mendapat balasannya. Dalam Alkitab dikatakan, orang yang mendapat anugerah umum adalah mereka menjadi berkat untuk mensejahterakan manusia. Tapi kalau kita sudah mendapat anugerah khusus, yaitu keselamatan. Lalu kita diberi anugerah untuk memberkati orang dengan pekerjaan kita, maka kita bisa membawa orang untuk bertobat kepada Tuhan. Melalui uang / jabatan kita, kita bisa membawa orang bertobat. Tapi orang yang mendapat anugerah umum, belum bisa sampai kepada level ini. Orang hanya bisa lihat hebatnya orang itu saja. Setelah itu tidak tercatat di surga. Tapi kita yang sudah sungguh-sungguh diselamatkan, melalui pekerjaan / jabatan kita, fasilitas, produktifitas, akhirnya kita bisa membawa jiwa satu per satu kembali kepada Tuhan. Kita membuat mereka melihat kemuliaan Tuhan.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – L.S

Author: gracelia Christanti

Bitnami